Jan 012017
 

Pasukan Prancis patroli di sekitar Menara Eiffel. (Reuters)

Jakarta – Kelompok militan ISIS telah merangsek masuk dan memberikan ingatan buruk bagi sejumlah negara di kawasan Uni Eropa pada tahun 2016.

Negara anggota Uni Eropa yang mengalami serangan mematikan militan radikal tersebut salah satunya adalah Belgia. Kota Brussel di Belgia, menjadi target serangan ISIS pada tanggal 22 Maret 2016 dengan setidaknya 30 orang terbunuh dalam ledakan bom di bandara dan di dalam kereta bawah tanah metro.

Salah satu ledakan adalah serangan bunuh diri. Media Belgia menerbitkan gambar tiga orang pria dari kamera pengaman yang dicurigai melakukan peledakan bom di Bandara Brussels.

Satu hari kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Maret 2016, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri tersebut.

Serangan kembar terkoordinasi ini memicu peringatan keamanan di sepanjang Eropa dan mendorong simpati global, 4 hari setelah polisi Brussels menangkap tersangka utama serangan ISIS ke Paris pada bulan November 2015, Salah Abdeslam.

Pihak berwajib Belgia masih memeriksa apakah kedua serangan itu berkaitan dengan penangkapan Salah Abdeslam. Namun, AS yakin serangan itu sudah direncanakan lama.

Sebagai respons, Belgia, markas besar Uni Eropa dan NATO, turut mengirimkan pesawat tempur-pesawat tempurnya untuk ambil bagian dalam operasi melawan ISIS di Timur Tengah.

Sementara itu, polisi mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada seorang pemuda yang mengenakan topi yang tertangkap kamera CCTV tengah mendorong troli berisi koper di Bandara Zaventem bersama dua orang lainnya yang disebut penyidik, kemudian meledakkan diri di dalam terminal itu hingga menewaskan paling sedikit 10 orang.

Sementara itu, Perdana Menteri Belgia Charles Michel berikrar negara-negara Barat pada akhirnya akan bisa mengalahkan kelompok “teroris” ISIS. Pernyataan tersebut disampaikan saat keluarga kerajaan menggelar acara peringatan 2 bulan setelah serangan bom mematikan di Brussels, Minggu (22/5).

Berbicara di hadapan 500 hadirin di istana raja di Brussels, Raja Philippe berterima kasih kepada para dokter, polisi, dan petugas layanan darurat lain yang membantu saat tragedi 22 Maret ketika sekitar 30 orang tewas di Bandara Zaventem dan stasiun metro Maalbeek.

“Kami berada di istana ini untuk menyampaikan dukungan dan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Belgia,” kata Raja yang bersama istrinya Ratu Mathilde mengunjungi korban cedera di rumah sakit sehari setelah serangan.

Perdana Menteri Michel berikrar Belgia dan negara-negara lain yang memerangi ISIS pada akhirnya akan menang.

“Ini bukan perang antara Barat dan Islam. Kami akan melakukan segala cara untuk menghentikan teroris-teroris ini. Ini pertempuran yang sulit. Pertempuran yang akan memakan waktu,” katanya.

“Kami mungkin akan menghadapi kemunduran. Akan tetapi, saya yakin kami akan menang,” katanya seperti dilansir kantor berita AFP.

Serangan Gaya Baru

Belum usai kesedihan akibat serangan bom bunuh diri yang menewaskan sekitar 130 orang dan melukai lebih dari 350 orang di Paris pada bulan November 2015, Prancis kembali diserang oleh ISIS pada bulan Juli 2016.

Setidaknya 80 orang tewas saat sebuah truk menyeruduk kerumunan orang di Nice, Prancis Selatan.

Pada pukul 22.30, Kamis waktu setempat, truk yang dikemudikan dengan kecepatan tinggi menyeruduk kerumunan orang yang berkumpul untuk menyaksikan kembang api untuk memperingati 14 Juli yang diperingati sebagai Hari Nasional Prancis.

Serangan tersebut diklaim menjadi sebuah gaya baru dalam teror yang disebarkan ISIS di kawasan Eropa.

“Kami telah berpindah ke era baru. Prancis terpaksa harus hidup dengan terorisme,” kata Perdana Menteri Prancis Manuel Valls.

Dalam peristiwa tersebut, sejumlah saksi mengatakan bahwa pengemudi menyetir secara zig-zag sehingga dia bisa menabrak sebanyak mungkin orang. Dilaporkan, dia mengemudi ke arah kerumunan sepanjang 2 kilometer dengan kecepatan 50 kilometer per jam.

Pengendara truk, yang diketahui bernama Mohamed Lahouaiej Bouhlel, ditembak mati di tempat oleh petugas.

Teror besar kedua yang dialami Prancis, serta makin meningkatnya serangan ISIS di Eropa, memaksa para menteri luar negeri Uni Eropa mengagendakan pembahasan memerangi terorisme dalam pembicaraan di Brussel.

“Atas permintaan Prancis, para menteri UE akan menambah perang melawan terorisme dalam agenda pembahasan mereka pada Senin,” kata para pemimpin Dewan Eropa dari 28 negara UE.

Kedutaan Besar Prancis untuk Eropa melalui Twitter membenarkan pihaknya mengajukan permintaan perang melawan terorisme.

UE makin cemas dengan ancaman yang ditebarkan kelompok yang menyebut diri ISIS di Suriah dan Irak.

Duka Natal Berlin

Sementara negara-negara Barat, termasuk Amerika, masih bergelut dengan upaya menekan ISIS di Libya, Irak, dan Suriah melalui pertempuran berat, kelompok militan radikal tersebut melancarkan kembali serangannya di penghujung tahun 2016.

Serangan kali ini menggunakan metode serupa yang terjadi di Nice, Prancis pada Juli 2016.

Sebuah truk menyeruduk sebuah pasar Natal di pusat kota Berlin, Jerman, Senin malam (19/12) waktu setempat, yang menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya.

Kejadian tersebut diklaim menjadi salah satu serangan paling maut di Jerman dalam beberapa dekade terakhir.

Lewat Twitter, polisi menyatakan telah menahan seorang tersangka, sedangkan seorang penumpang truk itu ikut tewas ketika truk menabrakan orang-orang yang mengelilingi pondok kayu tengah minum anggur dan makan sosis di kaki gereja memorial Kaiser Wilhelm di jantung Berlin barat.

Insiden ini jelas mengingatkan kepada serangan yang diklaim dilakukan oleh ISIS di Nice, Prancis, Juli lalu ketika seorang pria kelahiran Tunisia memacu truk berbobot 19 ton di sepanjang jalan di pepantaian, lalu ditabrakkan kepada orang-orang yang tengah berkumpul menyaksikan kembang api pada Hari Bastille sehingga menewaskan 86 orang.

Polisi mengakui bahwa insiden itu adalah serangan yang disengaja.

Truk itu menyeruduk pasar yang saat itu tengah ramai-ramainya ketika orang tua dan anak-anak berkumpul di pondok kayu tradisional yang menjual makanan dan bingkisan Natal pada perayaan tahunan yang umum berlangsung di seluruh Jerman dan sebagian besar Eropa Tengah, demikian Reuters.

Satu hari setelah kejadian tersebut, atau pada hari Selasa (20/12), ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

“Seorang tentara ISIS melancarkan operasi di Berlin guna menanggapi permintaan untuk menyasar warga negara koalisi,” kata kantor berita terkait dengan ISIS Amaq, tanpa menyebutkan identitas pelaku.

Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen menilai kelompok ISIS tidak dapat dikalahkan hanya di medan perang. Namun, dengan mengajarkan toleransi dan menciptakan peluang ekonomi.

“Kita harus melengkapi koalisi melawan terorisme dengan sebuah koalisi untuk pendidikan,” kata Ursula von der Leyen di konferensi keamanan Teluk.

Para anggota koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS), kata dia, harus melawan “kebohongan brutal” ISIS dengan sebuah pesan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

“Google, Facebook, YouTube, Instagram, dan lebih banyak platform lain telah diubah menjadi senjata,” katanya kepada Dialog Manana.

Ia mengatakan, “Orang-orang tanpa prospek lebih mudah percaya dengan janji-janji palsu dan kebohongan brutal tersebut.” “Untuk memenangkan perang kita harus mendominasi Internet. Namun, untuk memenangkan perdamaian kita harus menawarkan harapan dan prospek,” ujarnya.

Meskipun pelaku teror yang diketahui bernama Anis Amri, warga Tunisia berusia 24 tahun, telah tewas dalam sebuah penggerebekan di Kota Milan, Italia, Jumat (23/12), pemerintah Jerman mengaku tidak akan berhenti dalam upaya melawan terorisme.

Hal tersebut senada dengan upaya negara-negara lain dalam memerangi ISIS di fron Timur Tengah dan Afrika yang menjadi sarang kelompok radikal tersebut.

Antara

Artikel Terkait :

  4 Responses to “Aksi ISIS Hantui Eropa Selama 2016”

  1. udah hampir 1,5 jam blum ada yg masuk…
    ya udah…

    sijih….!

  2. Happy new year mbut

  3. Indonesia jg harus hati-hati dengan adanya jaringan isis di negeri ini