Sep 272016
 

China memiliki Angkatan Udara terbesar ketiga di dunia dan mungkin akan melampaui Amerika Serikat dalam 15 tahun ke depan. Namun dalam pertempuran di udara dengan Angkatan Udara AS, Beijing akan membutuhkan lebih dari pesawat – tapi pilot pesawat tempur dengan kemampuan terasah agar mampu menghadapi pertempuran melawan beberapa joki terbaik di dunia.

Tapi saat ini pilot China sedang berjuang. Dibawah pengembangan taktik dan pelatihan resimen yang mencegah inisiatif, artinya adalah secara keseluruhan, pilot pesawat tempur utama China kurang mahir daripada seharusnya.

Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) juga menyadari hal ini dan mengubah cara melatih para pilotnya, menurut laporan terbaru RAND Corporation. Perubahan ini dari waktu ke waktu bisa berbuat banyak untuk mengurangi kesenjangan keterampilan antara Angkatan Udara China dan Amerika.

Pengalaman traumatis dari Perang Dunia II, ketika 14 juta penduduk China kehilangan nyawa dalam invasi dan pendudukan Jepang, berbagai berbentuk strategi telah diterapkan China untuk mendukung pasukan darat.

Yang pasti, China telah melakukan reformasi militer besar-besaran sejak 1980-an yang bertujuan untuk memperluas kehadiran ke Laut China Selatan dan China Timur Laut, sehingga memaksa Angkatan Laut dan Angkatan Udara dari lawan – yaitu Amerika Serikat – untuk beroperasi dari jauh. China juga mengurangi Angkatan Daratnya tetapi memperbanyak Angkatan Udara dan Angkatan Laut, serta memikirkan kembali bagaimana berperang pada istilah yang berbeda.

Tetapi struktur yang sangat terpusat, hierarki PLA tetap di tempat dan menghambat keterampilan pilot tempur. Rencana realistis dan aturan resimen pelatihan tidak diterjemahkan dengan baik dalam pertempuran, seketika strategi tersebut buyar saat mereka bertemu dan kontak musuh.

Para pilot berlatih untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi dan untuk membuat keputusan di tempat, namun manuver taktis mereka didikte oleh komandan satuan PLAAF yang ada di menara kontrol.

Misalnya, pesawat yang paling penting dalam formasi tempur – pesawat yang memimpin – pada dasarnya, pesawat berada di depan, diawaki oleh pilot berpengalaman yang bertanggung jawab untuk memerintah pembentukan formasi dan memimpin dogfights.

Pemimpin pilot China sering tidak memiliki keterampilan taktis, manuver udara ataupun merubah rencana penerbangan tanpa ada instruksi dari darat. Dan yang membuat keadaan menjadi lebih buruk, mereka sering menunggu untuk mendapatkan “perintah dari darat dan bimbingan personil selama konfrontasi”, menurut Kongjun Bao.

“Dengan demikian, ada banyak faktor yang tidak menguntungkan selama pertempuran udara [pelatihan]. Misalnya, komando darat seringkali tidak mampu bersaing dengan situasi udara yang kompleks dan berubah-ubah”, tambah Kongjun Bao.

“Pilot terlalu banyak mengandalkan perintah dan bimbingan dari darat, yang tidak kondusif untuk meningkatkan antusiasme dan inisiatif dari kombatan udara”.

Masalah yang sama muncul selama serangan tiruan dari target darat. Dalam suatu latihan, komandan menguji pilot dengan mengubah basis sasaran mereka secara acak, namun sang pilot malah gugup, terbang terlalu rendah dan tidak mengenai sasaran.

Tentu saja, hal itu terjadi karena China sengaja mendorong pilot ke dalam wilayah yang asing, dan dalam terminologi PLAAF, memaksa mereka untuk “berjuang dan menang” dalam “kondisi pertarungan yang sebenarnya”.

Masih ada beberapa lagi lainnya, tapi RAND mencatat bahwa Angkatan Udara China telah membuat pilot mengembangkan rencana penerbangan mereka sendiri sementara memberi mereka otonomi penuh atas serangan mendadak, mulai dari menyalakan mesin hingga mengubah rute navigasi dan taktik terbang di udara.

Beijing bahkan mengacak pilot dari pangkalan udara yang berbeda untuk turut dalam latihan. Selama pertempuran udara tiruan, komandan telah membatasi jumlah informasi yang dibagi diantara formasi sebelum mereka melancarkan simulasi duel. Akhir-akhir ini PLAAF bahkan sering menghapus pembatasan keamanan dalam simulasi pertempuran.

Memang lebih baik pilot tidak mengetahui permasalahan terlalu banyak. Beijing mengantisipasi potensi konflik dengan Amerika Serikat di Pasifik Barat, di mana China menikmati keuntungan numerik.

Atas Taiwan, keunggulan Angkatan Udara China bisa 3: 1, mungkin akan lebih buruk bagi Pentagon jika China bisa berhasil melumpuhkan pangkalan udara terdekat Amerika dengan sebuah serangan rudal balistik, seperti yang ada di Kadena Jepang.

Robert Beckhusen National Interest

Vegassus © JakartaGreater.com

Artikel Terkait :

  14 Responses to “Angkatan Udara China Mengejar Ketertinggalan dari AS”

  1. Lanjut Coy

  2. BAKAR BAKAR… BAKAR UDUD LAN KOPI E SOB,,, HHAAAA…..

  3. Hayyaaaa…

  4. Selain faktor teknologi, ujung2nya The Man Behind The Gun. Secara individual, emang kurang nyalinya dibanding org Jepang apalagi Bule (Who Dares Win).

  5. Pespurnya tanpa radar kyknya krn hrs dpt bimbingan dr darat shg sering telat bereaksi

  6. SDM Cina itu ibarat mesin cetak.. Bisanya Copy paste, g punya kreatifitas.. beda lah sama USA, Jepang, dan Rusia..

    Salah didikan, kayak pendidikan kita jaman sekarang, cara belajar hafalan.. ga akan munculin ide2 baru.. apalagi kreatifitas..

  7. wah…… anda ketahuan ga pernah buka jkgr bung……………..

    udah dimuat…………

  8. cina tak pernah menang dalam perang apapun.
    krn mereka memang tak punya mental petarung
    jepang, mongolia, dan negara2 barat prnh menginvasi negara panda ini.
    jd, tdk usah takut dgn negara serakah ini.. satu2nya yg perlu diwaspadai dari cina hanyalah kemampuan nuklirnya, lainnya tak ada

    • artinya merka ttp mnjadi negara yg wajib diperhitungkan, betul?
      atinya kita tau dia g pernah menang tonjok2an, tapi dia bw klewang ngeladenin anda.

      so, tak perlu ngeremhin lawan..yg penting mawas diri dan rendah hati.
      hargai org lain jika ingin dihargai.
      vietcong aja sanggup meladeni majikan nya carin, rakyat indonesia saja sanggup ngusir belanda dan jepang apa lagi cina yg ekonomi&teknologinya sdh maju bukan mustahil dpt membalikan keadaan.
      slm,

  9. Iki opo to? PEMBODOHAN LAGI???
    Judul si TS kok maknanya lain dari tulisan aslinya si Robert???

    Judul aslinye: China’s Air Force Suffers from One Shocking Flaw…
    http://nationalinterest.org/blog/the-buzz/chinas-air-force-suffers-one-shocking-flaw-17834

    Dodol ah ..Hehehe… 🙂

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)