Sep 182016
 

WASHINGTON – Boeing EA-18G Growler merupakan pesawat tempur elektronik berbasis kapal induk milik Angkatan Udara Amerika Serikat, versi khusus dari pesawat tempur dua kursi F/A-18F Super Hornet.

EA-18G Green Growler telah menyelesaikan pengujian penerbangan menggunakan bahan bakar 100 persen biofuel canggih di Naval Air Station Patuxent River, Maryland. Apa yang kita lihat adalah bahwa bahan bakar 100 persen bio-JP-5 yang pada dasarnya transparan.

“Bahan bakar ini terlihat sama seperti JP-5 yang umum digunakan pada pesawat. Sejauh ini, semuanya terlihat baik dan belum terlihat perbedaannya”, kata insinyur uji terbang Mary Picard.

Katalitis hidrotermal diproses untuk konversi ke 100 persen bahan bakar alternatif jet telah dilakukan seperti yang kita harapkan pada uji terbang pertama, insinyur Komando Naval Air Systems, Rick Kamin mengatakan kepada US Naval Institute.

Sumber: Sputnik News

Peminat manga, anime, gadget, sains & teknologi, sosial-politik dan militer
Link medsos ada dibawah
– Facebook
– Google Plus
– Twitter

  32 Responses to “Biofuel Berhasil Terbangkan Pesawat Pengintai EA-18 Super Hornet”

  1. ??? ??????????

    • Kenapa bung patih ??

      • iseng nyoba komen pake huruf sirilik, setelah di-posting kok yang muncul cuman tanda tanya
        ??? ??????????

      • Sayang kita tidak fokus pd bidang riset , tolok ukur selalu dari neg lain
        Potensi luar biasa dari ITB , ITS , ITN yg para mahasiswanya di manfaatkan neg asing
        Tehnologi rekayasa harus lebih di perhatikan oleh pemerintah

        • Bung Kuasa.
          Untuk topik ini sebenarnya 3-4 tahun pernah diusulkan ke kementrian kelautan oleh salah satu ilmuwan kita. Tapi yachh ditolak krn dianggap mahal.
          Mungkin waktu itu masih trauma kasus “blue energy”.
          Pada prinsipnya teknik ini masuk akal dan tersedia di negara kita.

    • ko artikelnya ga ditulis satuan kecepatan mach.??? kasihan si Rini Koplak ga bisa comen mach.

  2. pagi

  3. Borong..

    • apa yang diborong nih?

      klo biofuel kita sudah produksi sendiri bahkan ekspor ke US lho, pabriknya ada di Dumai, Riau dan Gresik, Jatim.

      klo untuk EA-18 Growl πŸ˜€ kan kita blm punya kapal induk untuk angkut tuh pesawat πŸ˜›

  4. Kerennnnnn biangettttttttt,
    Tumben sputnik beritanya gini…

    Mantep tenan ini, setelah air laut jadi “hydro fuell” kaprang, sekarang barang ginian… salut

  5. Aku yakin teknologi sumber energi baru ataupun bahkan free energy sudah banyak dipakai di negara maju…
    Cuma gak di explode..supaya politik minyak dan dollar tidak musnah dg tiba tiba..

    Kalo anda tau sawitt..itu adl salah satu produk nasional yg utama..jika diproses lanjut akan menghasilkan macam macam produk bukan hanya makanan tapi bisa sampe nitroglycerine (salah satu bahan peledak), FAME (fathy acid methyl ester atau biodiesel), bahkan bisa jadi bioaftur..kalo mau..

    Jadi sawit sebenarnya punya potensi juga sebagai bahan alutsista..

    Waooo kan..??

    • Biofuell kali ini bukan dari sawit bung seto.
      Biofuell dari sawit sebenarnya ada risiko yaitu “kompetisi konsumsi vs energy” sehingga harga akan naik. Harga minyak goreng juga akan naik dan berimbas pada masyarakat kecil dan industri.
      Biofuell ini jauh lebih berlimpah drpd sawit dan usa berhasil mewujudkan dari teori menjadi produk apalagi utk pespur. Keren

      • Bung senopati, iya memang di artikel ini bukan dari sawit krn australi amerika gak punya, maksud saya potensi indonesia..sawitpun bisa dibuat bioaftur bung…
        Penggunaan bioenergi faktanya memang tidak 100 persen contoh saja biodiesel cuma 5 sd 10 persen saja..
        Disamping politik dagang juga masalah teknis yaitu kendaraan mesin diesel di indonesia belum disetup 100% biodiesel..
        Masalah consumsi vs energi itu masalah proporsi yg bisa dihitung..
        Atau kondisinya gini..taruhlah..harga cpo turun dg harga 2500 sdgkan harga bbm naik manjadi 6000 misalnya..pengusaha sawit mau hajar ke minyak cpo..?? Ya rugi..

        Makanya pengusaha pengolahan minyak sawit pasti varian produknya banyak..hajarr kanan hajarr kiri lihat harga yg bagus..itulah enaknya sawit bisa dikonversi ke produk yg macam macam..
        Sabun yg anda pakaipun adl dari pfad, soap noddle yg asalnya juga dari sawit..

        Indonesia itu waoo harusnya

        • Masalah biosolar dari cpo/ sawit pada konteks lain mirip rekayasa pangan di afrika.
          Saya sebenarnya kyrang setuju, bahan makanan dikonversi menjadi biosolar, kecualu bahan nya dari limbah misal limbah tebu di brasil menjadi etanol, tapi pohon racun jarak jadi bio solar.
          Terinspurasi dari perang pangan eropa, dimana dalam waktu 10 tahun negara donor pbb berhasil menconversi bahan makan gandum menjadi beras di afruka. Menyebabkan harga dan suplai beras dunia menjadi kurang dan mahal.

        • Dampak dr penanaman pohon sawit jg hrs diperhitungkan bung. Tanaman sawit sangat memerlukan banyak air. Sehingga banyak menyerap cadangan air tanah. Oleh sebab itu jika kita berada disekitar pepohonan sawit tdk terasa sekali sejuknya udara melainkan kering dan panas.
          Sawit jg banyak menyerap unsur2 hara dr tanah. Oleh sebab itu sangat sulit utk menjadikan lahannya sebagai tanaman tumpang sari layaknya tanaman palawija.
          Itu sebabnya bekas lahan sawit susah utk dijadikan lahan pertanian kembali kecuali ditanami saeit kembali
          Saat ini di beberapa propinsi, penduduknya banyak menolak pembukaan lahan sawit oleh perusahaan, terlepas dr konflik lahan.
          Namun disatu sisi perkebunan sawit sangat menjanjikan, baik dari sisi hasil maupun penyerapan tenaga kerja. Dari buah sampai ke jangkosnya bisa jd duit.

          • Bung ruaky, Yah memang selain rakus air rakus hara.. Suatu saat mungkin aren yg menggantikan..kwakk kwakk jadilah legend toak..aren hahaha..

    • sudah pasti bung, contohnya biosolar πŸ˜€ yang penting skrg bagaimana caranya supaya biaya produksi biosolar, biofuel atau produk bahan bakar lain yang berasal dari sawit bisa ditekan serendah mungkin tanpa mengorbankan petani sehingga harganya bisa lebih bersaing dibandingkan hasil olahan minyak bumi.

      namun sayang saat ini harga produk olahan minyak bumi jauh lebih rendah dari hasil olahan “sawit” yang mungkin “ada sesuatu” kenapa biaya produksinya lebih mahal πŸ˜€

      • Biosolar tantangannya 4 bung Libgkar
        1. Raw material dari cpo harganya bagus di market sehingga pilihannya adalah langsung jual sbg cpo atau refine ke olein.
        2. Subsidi bbm menyebabkan harga bbm lebih murah dari sewajarnya
        3. Eropa sebagai market terbesar “proteksi” dengan berbagai aturan yg ketat seperti RSPO
        4. Investasi kilang biosolar super duper mahal dan raw materal tidak

        • Bung senopati,
          Untuk 1 memang pengusaha sawit pasti cari yg lebih menguntungkan sehingga bisa konvert ke produk yg lagi hot price..krn turunan produk sangatlah banyak sekali..

          Untuk 2 memang bung, tapi ada kebijakan pemerintah memakai bio cuma berapa persen dulu 5 sekarang mungkin lo ya 10 %.

          Untuk 3 pasar sawit luas tapi eropa pasarnya besar juga..sertifikasi sustainability resource atau green company memang wajibb saya setuju..biar gak bakar hutan dan merambah hutan lindung untuk jadi kebun sawit..

          Untuk 4 di indonesia sudah banyak yg berani invest bung..saya gak sebutkan krn gak etis..

          Tambahan lagi depo depo blending biosolarpertamina sudah banyak…
          Depo camplong madura
          Depo malang
          Depo maos
          Depo semarang
          Depo jogja
          Depo tuban
          Dll masih banyak..

          Salah satu produsen biodiesel terbesar di dunia adl indonesia..

          • Haha, iya bung
            kilang biosolar mereka on off on off tergantung harga cpo dan suplainya.
            Kembali ke topik biosolar utk kaprang dan pespur amerika ini. Mereka memanfaatkan sumber “bio fat” yg tiada habisnya , melimpah dan mudah didapatkan dan berkembang biak yaotu PLANKTON

            ada cara lain yaitu menembak dengan “microwave” sehingga hidrogen terurai tetapi tetap saja membutuhkan energy besar sebagai pembangkit “microwave”.

            Cukup terkejut ternyata ekstraksi plankton dengan cepat dapat diaplikasikan bahkan untuk pespur.

          • Hahaa otak mereka dan kemauan berkreasi memang patut ditiru bung senopati..

    • selain sawit jg dicoba budi daya aren bung, menurut info dr teman saya yg kerja di pertamina sudah dibuat kebun percontohan untuk membuat bahan bakar dari legen/tuak
      sedang dihitung jg pola produksinya dr kebun percontohan

  6. si Rini bisa stres gara artikelnya ga ditulis satuan kecepatan mach. padahal si Rini Koplak mau comen mach.

  7. Malayshit memang jaguh… mantab

    • @malaysia mantap @gorgom

      emang super hornet malon udah wujud apa?? paling juga macam heli tiger hihihhihihi

      malon dan besar kelakar pisah tiada

  8. Sebenarnya biofuel adalah salah satu alternatif bahan bakar yang tergantikan secara cepat, karena bahan dasarnya seperti singkong, pohon jarak dan lainnya…
    Indonesia sendiri sekitar tahun 2000 telah melakukan riset, hanya saja tidak jelas kelanjutannya.
    Mungkin dudah saatnya pemerintah, perhutani, pertamina (BUMN) dan lembaga lainnya mencari dan meriset biofeul untuk keperluan bahan bakar.
    Negara subur seperti kita sudah saatnya ekspansi menggali potensi sumber daya alam tanpa ekplorasi yang berlebihan, tentu dengan catatan harus belajar dari kasus Freport, Nowmont, Exxon dan lainnya.
    Negara kita kaya…!
    Negara kita luas…!
    Negara kita banyak orang pintar…!
    Negara kita…???

    Negara kita masih di jajah :'(

  9. Untuk biofuel mungkin Indonesia harus kembali membuka referensi…
    Pada majalah TRUBUS edisi (saya lup) kalau tidak salah tahun 2005 – 2009 mengulas tentang bahan bakar minyak (BBM) yang nilai oktannya tinggi (kalau tidak salah di atas petramax) hanya dengan bahan dasar singkong asal Sukabumi – Jawa Barat.
    Lalu perhutani mempunyai lahan pohon jarak di daerah Parungkuda – Sukabumi (Jawa Barat) untuk kepentingan riset BBM.
    Mungkin sudah saatnya kita dapat membantu dumbangsih kepada pemerintah dengan cara apapun, meskipun hanya sekedar mengingatkan…

  10. Biofuel bisa dihasilkan dari singkong dan sawit. Namun untuk menghasilkan sawit dan singkong perlu lahan. Singkong perlu waktu beberapa bulan untuk panen. Sawit perlu beberapa tahun untuk panen. Selain itu harus ada biaya jaga supaya tidak dicuri babi hutan dan maling. Juga perlu pupuk dan perawatan.

    Belum lagi ada biaya ekstraksi singkong dan sawit.

    Ada sumber bahan bakar yang lebih murah dan mudah didapat di sekitar kita daripada singkong dan sawit.

    Itu adalah biometana. Sumbernya dari e’ek atau tinja. Di Inggris biometana yang dikumpulkan selama 1 tahun dari 5 orang bisa mengisi tangki bus dan bus dapat jalan sampai 300 km.

    Di Indonesia ada 120 juta orang dewasa usia produktif. Jika e’eknya dikumpulkan maka biometana yang dihasilkan selama 1 tahun bisa untuk mengisi :

    120 juta / 5 = 24 juta tangki bus.

    1 tangki bisa 300 km.

    Jika 1 bus antar kota dalam sehari bisa 900 km ( 3 tangki).

    1 tahun = 365 hari

    5 hari untuk servis

    365 – 5 = 360 hari kerja bus.

    360 hari x 3 tangki = 1080 tangki.

    24 juta tangki / 1080 tangki = 22.222 bus atau dibulatkan menjadi 22.200 (dua puluh dua ribu dua ratus) unit bus.

    Jadi e’ek (tinja) yang dikumpulkan dari 120 juta orang Indonesia selama setahun bisa untuk menjalankan 22.200 armada bus selama 1 tahun.

    Bayangkan betapa hematnya potensi e’ek kita, betapa menakjubkannya e’ek kita.

    Hidup e’ek !!!!

    Xixixixixi wah kok ada bau nih, hayo siapa yang belum cebok ?

  11. Jika harus memakai pohon sawit untuk biofuel, saya mohon Indonesia mempertimbangkan kembali, karena ada efek negatifnya yaitu :
    Untuk 1 batang pohon sawit dibutuhkan -+ 8kg pupuk kimia selama setahun.
    Sekedar catatan, usia pohon sawit -+ 25 tahun.
    Bayangkan dalam setahun -+ 8 kg pupuk kimia di kalikan berapa hektar lalu di kali 25 tahun…
    Pemerintah wajib menjawab pertanyaan seperti ini…!

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)