Aug 242016
 

HUNTSVILLE, Ala -. Sebuah perusahaan pertahanan yang berbasis Huntsville mencari celah untuk mengisi persediaan amunisi Angkatan Darat AS dengan Amunisi Luncur Kecil (SGM) sementara mempersiapkan senjata dilapangan yang mirip dengan operator khusus AS. (17/08/2016)

Dynetics SGM adalah sebuah amunisi taktis 60-lb yang memiliki – seperti namanya – kemampuan untuk meluncur melalui sayap yang tersedia telah terungkap setelah peluncuran melalui Tabung Luncur Umum (CLT). Desainnya modular sehingga amunisi bisa muat di berbagai platform, menurut manajer program untuk SGM di Dynetics, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya sebungan masalah keamanan.

Amunisi juga bungkus dengan hulu ledak 35-lb, yang berarti itu lebih kecil dari rudal Hellfire tapi efeknya pada sasaran yang jauh lebih besar walaupun menggunakan amunisi kecil. Misalnya, Griffin, amunisi kecil presisi berpemandu yang dibuat oleh Raytheon, memiliki hulu ledak 13-lb.

“Komponen kunci dapat diganti dan ditingkatkan, terutama berkaitan dengan hulu ledak dan pencari”, kata pejabat perusahaan.

Dan karena sistem ini tak memerlukan tenaga, memungkinkan Dynetics untuk menempatkan volume lebih banyak di hulu ledak dan itulah mengapa ia memiliki payload mematikan dan lebih besar dari yang diharapkan pada sebuah amunisi seukurannya, tambah pejabat itu.

US dynetics assemby

Bulan lalu, Dynetics mendapatkan kontrak senilai US $11,6 juta untuk melakukan pekerjaan SGM dari USSOCOM, yang dimaksudkan untuk dibawa pada pesawat tempur AC-130 atau sistem pesawat nirawak. Kontrak tersebut akan mendukung integrasi, kualifikasi dan pengujian amunisi sebelum diterapkan dilapangan pada 2017.

 

SGM baru-baru ini ditunjuk oleh Angkatan Udara AS sebagai GBU-69/B.

Dynetics menguji amunisi di Pangkalan Angkatan Udara Eglin. Menurut dokumen – berlabel “Hanya Penggunaan Resmi” – yang diperlukan untuk memastikan kontrak Dynetics untuk Pusat Manajemen Daur Hidup Angkatan Udara di Eglin, amunisi tersebut adalah satu-satunya senjata luncur di rentang kelas 50-lb yang dapat diluncurkan dari CLT dengan “tingkat mematikan yang tinggi”. SGM ini juga memiliki hulu ledak modular yang “dapat dilepas dan diganti tanpa perlu modifikasi komponen lainnya di lingkungan non-pabrik, menurut yang tertulis dalam dokumen.

Saat ini SGM sedang dipertimbangkan oleh Angkatan Darat untuk kontrak Amunisi Kecil Berpemandu.

“Jika Anda melihat pada RFI Anda akan mengetahui ukuran yang diperlukan adalah sebuah amunisi 60-lb,” kata pejabat itu. “Itu cukup kebetulan bagi saya, tapi, pada dasarnya saya pikir jika Anda membacanya, mereka sedang mencari sesuatu yang lebih kecil, tapi lebih terjangkau dibandingkan Hellfire”, untuk platform seperti Gray Eagle yang memiliki kendala pada beratnya, pejabat itu menambahkan.

Dan dia menambahkan, “Tidak ada teknologi baru yang terlibat, itu adalah inovasi teknologi ke dalam sebuah paket yang bisa melakukan misi tertentu dan melakukannya dengan cepat. Kami harus menyiapkannya apabila mereka meminta untuk pengiriman cepat”.

Amunisi itu misalnya, menggunakan BAE Systems Distributed Aperture Semi-Active Laser Seeker (DASALS) yang diambil dari Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) sebagai terminal pemandunya. Menurut Ronnie Chronister, direktur Dynetics bidang pertahanan udara dan rudal, sirip kendali yang memungkinkan amunisi untuk meluncur, diambil langsung dari desain Rusia.

Uji peluncuran Raytheon Griffin C

Sambil membangun sebuah amunisi 60-lb untuk SOCOM atau Angkatan Darat mungkin tidak menarik bagi kontraktor besar karena dari jumlah yang terkait dengan persyaratan, pasar itu tepat bagi Dynetics untuk berinvestasi, menurut catatan resmi.

Mencari solusi untuk kebutuhan tersebut bagi Dynetics bukanlah hal baru. Namun, celah amunisi yang akan diisi sebenarnya jauh melenceng dari yang dikembangkan perusahaan dan lebih mengarah kepada SGM, kata pejabat itu. Bom, yang menghasilkan ledakan 11 ton, pertama kali dibangun untuk C-130. “Itu mengukuhkan kami sebagai penyedia peledak,” tambah pejabat itu.

Selain melirik peluang lain yang memungkinkan bagi SGM diantara layanan lain seperti V-22 Osprey Tiltrotor milik Korps Marinir, perusahaan juga merancang amunisi untuk menjadi fleksibel agar dapat dimuat pada pesawat asing juga.

“Dalam hal ekspor kita telah berhati-hati untuk tidak melakukan apa pun yang akan menghadirkan hambatan dalam memberikan ini kepada pelanggan internasional,” kata pejabat itu.

Sekutu yang mengoperasikan pesawat serang ringan seperti Brazil akan menjadi kandidat menarik, menurut catatan resmi.

Sumber: Defense News

Artikel Terkait :

  7 Responses to “Dynetics Terlihat Cocok dengan Amunisi Luncur Kecil (SGM)”

  1. pertamax jah

    • Malonsial minta ASU tidak bebaskan teroris pejuang Budaya dan Bahasa Arab Hambali asal Cianjur, Jawa Barat, Indonesia.
      Dendam amat ama orang Indonesia si Malon kayanya???
      Gitu2 itu juga saudara kami Malon anak tiri Mom Eli…

  2. gmna ya perkembangan roket lapan….

  3. Sayap kendalinya diadopsi dari rudal RUSIA, katanya peralatan militer AMERIKA canggih tapi kok mengadopsi dari peralatan militer RUSIA? he..he..he..

  4. Siripnya teknologi rudal R 77 vympel

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)