Jan 052017
 

Kapal Perang China di Laut China Selatan

Manila – Keputusan sidang arbitrase, yang menolak gugatan China atas kedaulatan di Laut China Selatan dan membuat tegang hubungan China-Filipina, tidak akan masuk dalam agenda Temu Puncak Asia Tenggara, kata pejabat tinggi Filipina, Kamis.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada bulan lalu menegaskan bahwa dia menghindari sengketa dengan China dan memandang tidak perlu menekan Beijing untuk mematuhi keputusan pada Juli itu, yang menguntungkan Filipina.

“Keputusan Denhaag tidak akan masuk dalam agenda karena sudah menjadi bagian dari hukum internasional,” kata Menteri Muda Urusan Luar Negeri Enrique Manalo kepada wartawan menjelang pertemuan puncak ASEAN pada April dengan tuan rumah Filipina.

“Maka, kami tdak bisa membahas keputusan, yang sudah ada,” katanya.

Keputusan pada Juli 2016 itu menolak gugatan China atas wilayah di Laut China Selatan.

Beijing mengumumkan bahwa keputusan itu “Tidak ada dan hampa”, serta menyerukan kepada negara-negara yang terlibat dalam sengketa untuk memulai perundingan kembali guna mencari penyelesaian damai atas masalah tersebut.

Apa yang akan diutamakan oleh 10 negara ASEAN adalah penyelesaian kerangka kerja kode etik untuk menghentikan ketegangan dalam sengketa perairan, kata Manalo.

“Kami berharap mampu memberikan skenario yang baik selama kepemimpinan kami. Kita akan berbicara dengan China dalam satu cara dan menempatkan kepentingan kami di depan seperti kami juga berharap China mengemukakan kepentingannya di depan,” kata Manalo.

Sejak 2010, China dan ASEAN membahas aturan-aturan untuk menghindari konflik.

China mengakui sebagian besar wilayah perairan Laut China selatan yang kaya sumber energi dan menjadi jalur pelayaran dagang dengan angkutan bernilai 5 triliun dolar AS/tahun, seperti juga pengakuan dari sejumlah negara tetangga yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN tahun lalu, Kamboja, sekutu dekat China di ASEAN, menghindari semua penyebutan mengenai keputusan sidang internasional yang menentang Beijing dalam pernyataan bersama.

Duterte membuat banyak orang terperangah dengan kebijakan luar negerinya, yang membuat putaran balik, beberapa bulan lalu ketika membuat penawaran kepada China dan mencaci-maki Amerika Serikat, yang selama ini menjadi sekutunya.

Antara/Reuters

Artikel Terkait :

  5 Responses to “Filipina : Masalah Laut China Selatan Tidak Dibahas KTT Asean”

  1. test

    • Duterte jiper ayam sayur…walau ada usa dan barat tapi dia lihai dari pada hancur lebur negaranya dijadikan medan perang usa vs cina,…duterte melihat,membaca mengamati pola”adu domba

  2. Lho kok? Tiba2 nyali pinoy ciut, mentang2 udah pro tiongkok skr…jadi bagi pinoy drpd lawan raksasa, mending kekayaan di pulau2 lcs bagi hasil aja, xixixxiii drpd kafak dpt sama sekali, mending tiongkok dirangkul, dasar duterte penjilat!!!!

  3. hanya Duterte dan ring 1 politiknya yang tau.
    strategi yg tidak mudah dibaca.
    tapi keyakinan saya.. pasti baik bagi negaranya.