Jan 142017
 

Industri perfilman di tanah air mulai menggeliat dengan hadirnya sejumlah judul film yang menggangkat sosok aktivis di era pergerakan 98, yang sarat kritik sosial terhadap pemerintah pada jaman itu. Salah satu judul film yang menarik dan dalam waktu dekat akan diputar yakni berjudul “Istirahatlah Kata-Kata”.

Film Istirahatlah kata-kata yang mengangkat sosok profil aktivis sekaligus penyair Wiji Thukul, dinilai banyak kalangan kritikus film maupun pemerhati sosial sebagai dibukanya kembali kran demokrasi yang telah lama tidak memutar film senafas.

film Instirahatlah Kata kata, dibuka dengan latar belakang sejarah tahun 1996, Di bawah rezim Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto, ada sejumlah aktivis yang memperjuangkan demokrasi. Saat itu, demokrasi masih sebuah ilusi dan sebatas gagasan karena dikungkung oleh berbagai aturan. Wiji Thukul merupakan salah satu dari aktivis tersebut. Dia dikenal juga sebagai penyair yang kerap menyuarakan ketertindasan lewat puisi dan kata-katanya.

Menurut sang sutradara film, Yosep Anggi Noen,Wiji masuk dalam daftar 14 aktivis yang disebut sebagai pemicu kericuhan itu, karenanya ia pun melarikan diri ke Pontianak selama delapan bulan dan berpindah-pindah. Hingga kini, dirinya tak pernah ditemukan keberadaannya. Banyak rumor yang berkembang bahwa ia diculik dan kemudian mati dibunuh, tapi hingga kini jasadnya pun tak jua diketahui kalau benar telah mati.

Kisah yang dialami Wiji itulah yang menjadi dasar pijakan Yosep Anggi Noen dalam menggarap film yang kemudian ia beri judul Istirahatlah Kata-kata.”Wiji Tukul sosok orang biasa, tapi dia sangat setia dan percaya bahwa puisi dan kata-kata mampu melawan ketertindasan,” ungkap Anggi. Menurut Anggi, tak banyak generasi muda saat ini yang mengetahui sosok seperti Wiji Thukul, yang pernah berjuang untuk demokrasi, dan dibungkam.

“Anak-anak muda tidak tahu siapa Wiji Thukul, atau dapat dikatakan hanya sedikit yang tahu. Menariknya, mereka sangat mengenal kata-kata, seperti ‘Hanya ada satu kata: Lawan!’, tapi tidak tahu siapa yang menciptakan,” katanya. Anggi menambahkan, masyarakat mestinya melihat kembali sejarah, khususnya akan keberadaan sosok Wiji Thukul yang selalu menyuarakan perlawanan, dan memihak pada kemanusiaan.

“Saat ini lebih banyak orang berteriak dan kosong. Dampaknya malah impulsif destruktif,” ucap Pria kelahiran 26 Agustus 1963 ini. Anggi menambahkan Orang-orang masa kini harus belajar dari cara seperti Wiji Thukul dalam memanfaatkan kata-kata. “untuk menyuarakan ketertindasan, dengan kata-kata lugas, bermakna, dan juga dilatarbelakangi kekuatan intelektualitas yang tinggi. Tidak asal ‘njeplak,'” tambah dia.

Dalam proses pembuatan film yang dalam versi bahasa Inggris berjudul Solo, Solitude itu, Anggi mengaku melakukan riset. Ia kemudian memutuskan untuk memfokuskan film pada periode saat Wiji melarikan diri ke Pontianak selama delapan bulan. “Itu periode paling krusial dari hidupnya, ketika itu pertama kali ia disebutkan sebagai tersangka. Dia memang demonstran, aktivis, dipanggil ke Kodim, tapi tidak pernah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dianggap sebagai pemicu kerusuhan yang sebenarnya bukan gerakan dia,” ujar Anggi.

Dia pun menambahkan, “Wiji itu sebenarnya antara takut dan tidak takut. Takut saat naik motor bertemu ada mobil polisi, tapi di tempat kopi dia naik ke panggung dan berpuisi.” “Di zaman dia jadi buron, itu kan ironi yang kita tidak tahu,” tambah sutradara yang pernah membuat Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) ini.

Untuk menjajaki sosok Wiji, Anggi lalu pergi bertemu para sahabat, musuh ideologi, teman satu organisasi, juga pedalaman Kalimantan, serta keluarga dekat sang aktivis. “Saya bertemu juga dengan teman bicara Wiji, Halim Hade untuk menemukan sosoknya,” kata Anggi. Wiji Thukul yang menikah dengan Siti Dyah Sujirah atau Sipon, dikarunia dua orang anak, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.

Anggi lalu menjadikan Fajar sebagai panduan bagi aktor dalam menghidupkan karakter Wiji Thukul. Menurutnya, Fajar yang juga seorang seniman, kerap menyuarakan ide soal kebebasan demokrasi, ketertindasan, tentu saja mengenai cinta keluarga dan romantisme manusia. “Fajar ini jadi role model sosok Wiji Thukul yang tengil, bersuara keras, berkemauan keras, tahan berdiskusi berjam-jam, dan berwacana luas,” ujar Anggi.

Untuk makin melengkapi risetnya, sutradara berusia 33 tahun itu juga mengumpulkan sejarah tertulis yang ada di Ohio State University, dan Belanda.Di film ini, kata Anggi, ia juga menghadirkan semua puisi-puisi Wiji Thukul, termasuk tulisan dan wawancaranya, bahkan wawancara dengan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang saat Wiji mengamen di sana.

Bagi Anggi, puisi-puisi adalah kunci yang membuat ia dapat merasakan situasi yang dialami sang penyair yang dibungkam. “Puisinya Wiji Thukul seperti buku harian yang mengupas tentang roti yang tak terbeli, tetangga yang tiba-tiba ditangkap Satpol PP, dan lainnya yang dekat dengan keseharian.”

Sementara bagi adik Wiji Thukul, Wahyu Susilo dalam sebuah kesempatan di Jakarta, berharap Presiden Jokowi bisa menonton film ini. Menurutnya, sosok Wiji Thukul bukanlah sosok yang asing bagi Presiden Joko Widodo. Wahyu Susilo, mengaku mantan Gubernur DKI Jakarta itu adalah pengagum Widji Tukhul. Puisi favoritnya adalah “Peringatan”.

“Saat menjadi Wali Kota Solo, Jokowi juga menjadi pejabat pertama yang mendatangi istri Wiji Thukul, yaitu Sipon,” kata Wahyu. Tidak hanya itu, Jokowi pun saat menjabat sebagai Walikota Solo memfasilitasi acara pembacaan puisi untuk mengenang Wiji Thukul. Dia berharap dengan hadirnya Presiden untuk menonton film tersebut, menjadi pengingat bagi pemerintah untuk menyelesaikan kasus HAM lainnya.

Film Istirahatlah Kata-kata yang dibintangi Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul, dan Marissa Anita sebagai Sipon, telah diputar di sejumlah festival film internasional, salah satunya adalah Locarno International Film Festival ke-69, di Swiss.

Film yang mengambil kisah hidup Wiji Thukul selama masa pelarian pada tahun 1996 setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 hingga kemudian Wiji Thukul dikabarkan hilang tanpa jejak pada 1998. Film Istirahatlah Kata Kata, diputar di delapan kota di Indonesia pada 19 Januari 2017.

  One Response to “Film Wiji Thukul “Istirahatlah Kata-Kata”, Misteri Hilangnya Aktivis Kritikus Pemerintah”

  1. wiji thukul masuk dalam list 24 orang yang mengganggu pemerintahan pada saat itu, siapa yang menculiknya, silakan tanya pada rumput yang bergoyang..

 Leave a Reply