Dec 052016
 

EDISI 2: Pilihan untuk Akuisisi

Program peremajaan dan peningkatan kapal perang TNI AL terus berlanjut.  Setelah sukses dengan akuisisi  dan TOT kapal korvet Sigma, Diponegoro Class, kini Departemen Pertahanan mencari pengganti frigat Van Speijk Class (produksi belanda tahun 1967). Program pengadaan frigatakan ditenderkan awal tahun 2017 ini.Saat ini TNI AL mengoperasikan 6 frigat Van Speijk Class (salah satunya KRI OWA yang berhasil diinstal rudal Yakhont/P-800 Oniks).

Tekat pemerintah untuk membeli alutsista baru lengkap dengan persenjataan dan berdasarkan kebutuhan user beberapa kali disampaikan Presiden. Amanat undang-undang mengharuskan TOT dan atau offset mencapai 35%, memberikan tantangan bagi Departemen Pertahanan untuk menyeleksi alutsita yang akan dibeli. Dalam artikel ini, penulis mencoba untuk menyajikan beberapa tipe frigat yang kemungkinan salah satunya akan diakuisisi TNI AL.

Setiap produk pasti ada kelebihan dan kekurangannya.Pilihan frigat yang penulis tampilkan didasarkan pada efek penggentar dan kemungkinan akuisisi dikarenakan sudah adanya tawaran dari pihak produsen ataupun adanya hubungan baik antara NKRI dengan negara produsen. Sehingga fungsi imbangan kekuatan dengan negara-negara di kawasan dan proyek kemandirian alutsista dalam hal ini frigat akan tercapai.

I. Iver Huitfeld Class (Denmark)

image001

Frigat ini paling banyak divaforitkan untuk diakuisisi TNI AL. Kemampuannya yang disebut –sebut sebagai Light Destroyer ini diakui sebagai peringkat keempat frigat paling mematikan versi Defencecyclopedia. Fleksibilitas untuk melakukan TOT mulai dari perancangan hingga produksi di galangan kapal dalam negeri memberi nilai plus. Plug & Play persenjataan dan sensor dibangun melalui modul-modul dengan “isi” sesuai keinginan TNI AL. Plug & Play modul juga mempersingkat waktu perbaikan. Perkiraan harganya 325 juta USD kapal saja dan diperkirakan 650 juta USD  full armament.

Diproduksi oleh galangan kapal Odense Staalskibsvaert Baltija Shipbuilding Yard, Denmark, memiliki bobot 6.645 ton, panjang 138,7 m, lebar 19,75 m. Mengandalkan 4 mesin diesel MTU 800 20V M70, masing-masing berkekuatan 8,2 MW mampu melaju hingga 30 knot, jelajah hingga 9.000 mil (17.000 km) pada kecepatan 18 knot. Dilengkapi hangar dan dek untuk helicopter hingga 20 ton (dek Sigma class hanya 10 ton).

Sensor dan processing system yang digunakan:

  1. Radar permukaan dan udara jarak jauh Thales Nederland Smart-L
  2. Radar penjejak dan pengarah permukaan dan udara Thales Nederland APAR (L band).
  3. Radar survailans dan pengarah helicopter Terma SCANTER 6000.
  4. Atlas ASO 94 hull mounted sonar.
  5. SAAB CEROS 200 fire control radar`
  6. ES-3701 Tactical Radar ESM.

Pertempuran Elektronic dan Pengecoh (decoy):

  1. 4×12 barreled Terma DL-12T 130 mm decoy launchers.
  2. 2×6 barreled Terma DL-6T 130mm decoy launchers
  3. Seagnat Mark 36 SRBOC.

Persenjataan

  1. 4x Mk41 VLS dengan lebih dari 32 SM-2 IIIA SAM (rudal anti pesawat).
  2. 2x Mk56 VLS dengan lebih dari 24 RIM-162 ESSM.
  3. 8-16 Harpoon Block II SSM.
  4. 1 Oerlikon Millenium 35 mm Naval Revolver Gun System CIWS.
  5. 2 OTO Melara 76 mm.
  6. 2x dual MU90 Impact ASW (anti kapal selam) torpedo launchers.

II. Gowind Class atau Aquitaine Class (DCNS Perancis).

Perusahaan DCNS, Perancis sudah menyatakan akan mengikuti tender dengan menawarkan Gowind Class. Belum ada informasi tentang frigat yang akan ditawarkan, apakah memiliki spek yang mirip dengan yang dipesan Malaysia atau lebih tinggi speknya. Untuk spek Gowind yang dipesan Malaysia, bisa dilihat di tulisan edisi 1. Untuk TOT, DCNS sanggup membangun kapal di galangan Indonesia.

DCNS sebenarnya memiliki frigat multi misi FREMM Aquitaine Class yang dikembangkan bersama Italia (Carlo Bergamini Class).Perbedaannya, versi Perancis lebih kuat pada serangan misil balistik untuk serangan darat (jarak hingga lebih dari 1.000 km), sedangkan versi Italia kuat di anti kapal selam. Menurut penulis, pilihan DCNS menawarkan Gowind kurang menarik, karena negara tetangga juga mengakusisi dan mendapat tawaran untuk produksi lokal.

image002

Angkatan Laut Perancis memesan 11 kapal Aquitaine Class ini hingga tahun 2020.9 kapal dengan spek multi misi dan 2 kapal dengan spek lebih kuat pertahanan udara dengan mengurangi kemampuan serang darat.Memiliki bobot 6.000 ton dengan panjang 142 m dan lebar 20 m.Propulsi menggunakan kombinasi diesel-elektrik dan turbin gas (CODLOG) yang mutakhir. 2×2,5 MW motor elektrik yang senyap untuk anti deteksi kapal selam dan 1×32 MW turbin gas LM2500 mampu melaju dengan kecepatan 27 knot dan mampu berlayar hungga 6.000 nm (11.000 km).

Sistem radar dan sensor:

  1. Thales Herakles passive array yang beroperasi pada S band dengan jangkauan 250 km untuk deteksi udara dan permukaan serta control penembakan rudal SAM Aster.
  2. Vigy MM electro optic untuk control penembakan kanon 76 mm.

Sistem persenjataan:

  1. 16 VLS A43 untuk rudal medium SAM Aster-15.
  2. 16 VLS A70 untuk rudal jelajah Scalp untuk serangan darat dengan jangkauan lebih dari 1.000 km.
  3. 8 Exocet Blok 3 rudal anti kapal dengan jangkauan lebih dari 200 km.
  4. 2 tabung kembar untuk torpedo MU90.
  5. 1 kanon Oto Melara SRGM 76 mm untuk tembakan permukaan dan udara dengan jangkauan 15 km.
  6. 3 Nexter Narwhal 20B 20 mm RWS untuk tembakan jarak dekat.

Selain kemampuannya membawa rudal balistik, Aquitaine dan Carlo Bergamini Class memiliki radar tunggal yang di fregat lain memerlukan minimal 2 radar untuk operasional pelacakan dan mengarahkan rudal ke target. Mungkinkah TNI AL mengakuisisinya mengingat harganya yang 745 juta USDdan merupakan senjata terbaru NATO.

 

III. Admiral Gorshkov Class (Severnoye Design Bureau, Rusia).

image003

Admiral Gorshkov Class (Project 22350) disebut-sebut sebagai kapal perang paling seimbang antara persenjataan dan sensor dan merupakan contoh yang sempurna dari Multi Role Frigat modern. Mempunyai kelebihan pada tiga matra sekaligus yaitu anti serangan udara, anti kapal selam dan pertempuran kapal perang serta kemampuannya meluncurkan rudal balistik. Rusia berencana membangun 15 kapal untuk armadanya, 1 unit selesai dibangun dan 3 unit masa konstruksi. Untuk versi ekspor, kemungkinan masih menunggu beberapa tahun kedepan. Informasi harga tanpa persenjataan adalah 320-400 juta USD.

Berat sekitar 5.000 ton, panjang 135 m, lebar 15 m. Mengandalkan kombinasi disel dan turbin gas terdiri dari 2 mesin disel yang masing-masing menghasilkan 3,9 MW dan 2 turbin gas M90FR masing-masing menghasilkan 20,5 MW. Total tenaga yang dihasilkan 49 MW, melaju dengan kecepatan max 29,5 knot dan jelajah hingga 8.980 km.

Sensor dan processing yang digunakan:

  1. Poliment 5P-20K, radar AESA multi fungsi (S-band) untuk mencari target udara dan permukaan sekaligus mengarahkan rudal SAM.
  2. Furke-4 radar yang ditempatkan pada bagian atas radar utama untuk mengetahui volume target.
  3. Monolit 34K1 radar pencari target permukaan dan mengarahkan rudal anti kapal.
  4. Puma radar pengontrol tembakan untuk kanon 130 mm dan Palash CIWS.
  5. Zarya M dan Vinyekta mounted array sonar yang terintegrasi dengan helicopter Ka-27 untuk pencarian kapal selam.

Sistem Persenjataan:

  1. 1 buah kanon A-192M 130mm
  2. 16 VLS sel multi fungsi yang dapat diisi dengan rudal anti kapal P-800 Oniks (jangkauan 300-500 km), rudal Kalibr-Nk rudal permukaan ke darat (jangkauan 2.500 km), rudal anti kapal selam 91RTE2 (jangkauan lebih dari 50 km),
  3. Pertahanan udara jarak jauh dengan 32 Redut VLS sel untuk 32 rudal 9M96E dengan jangkauan 40-120 km.
  4. 2 Palash CIWS dengan Gatling gun 30 mm yang terintegrasi dengan system pengontrol tembakan elektro-optik dan 8 rudal SAM jarak pendek,
  5. 2 senjata otomatis 14,5 mm.
  6. 2×4 tabung torpedo anti kapal selam Paket-NK.

 

IV. De Zeven Provincien (Belanda)

image004

Frigat yang sangat kuat untuk pertahanan udara ini pernah didemonstrasikan oleh NATO untuk mencegat rudal balistik yang ditembakkan oleh kapal perang USA dari jarak lebih dari 500 km. Dengan berat 6.000 ton, panjang 144,24 m, lebar 18,8 m mengandalkan tenaga dari kombinasi disel dan turbin gas. 2 buah diesel Wartsila masing-masing menghasilkan 4,2 MW dan 2 buah turbin gas Rolls Royce Spey masing-masing menghasilkan 18,5 MW. Totalnya meghasilkan 45,4 MW.Mampu melaju dengan 30 knot dan jelajah hingga 4.000 nm (7.400 km).Harganya diperkirakan 532 juta USD belum termasuk persenjataan dan sekitar 825 juta USD dengan persenjataan. Dilengkapi dengan 1 buah helicopter NH-90.

Sensor dan Procesing

  1. Sensor utama 4 muka APAR. Radar AESA multifungsi (X -band) mampu melakukan deteksi 360 ?.
  2. Thales SMART-L, radar AESA L-band untuk mendeteksi dan mencari obyek diudara serta rudal balistik dangan jangkauan lebih dari 400 km (versi terbaru hingga 2.000 km) mampu menjejak hingga 1.500 target bersamaan.
  3. Atlas Elektronik DSQS-24C hull mounted sonar untuk deteksi kapal selam.

Persenjataan

  1. 40 sel Mk41 VLS berisi 32 SM-2 IIIA rudal SAM (1 rudal setiap sel) dan 32 rudal anti kapal Sea Sparrow (4 rudal setiap sel).
  2. 1 kanon Oto Melara 127 mm.
  3. 2 buah Goalkeeper CIWS dengan Gatling gun 30 mm mampu menembak 3000 rpm.
  4. 2×4 peluncur untuk 8 Harpoon anti kapal.
  5. 2x peluncur torpedo kembar MK46 anti kapal selam.

 

V. Sachsen Class (Thyssen Krupp Marine, Jerman)

Pertama kali dibangun oleh Blohm and Voss Shipyard di Hamburg November 2004, kapal kedua oleh Howardwelke-Deutsche Werft dan kapal ketiga dibuat oleh Thyssen Nordseewerke.Frigat ini dibangun dengan perjanjian trilateral untuk pengerjaan di masing-masing negara. Royal Schelde, Belanda berupa De Zeven Provincien Class dan Navantia, Spanyol yaitu  Alvaro de Bazan Class. Sachsen Class harganya mencapai 1,06 milyard USD.

Sachsen Class memiliki berat 5.800 ton, panjang 143 m, lebar 17,4 m. Sistem propulsi menggunakan kombinasi diesel dan turbin gas (CODAG). Mampu melaju hingga 29 knot dan jelajah hingga 4.000 nm.

 

image005

Sensor :

  1. Thales SMART-L (L/D band) radar udara permukaan 3D jangkauan lebih dari 400 km mampu melacak 1.000   target   udara dan 100 target permukaan.
  2. Thales APAR I/X-band mengcover area pertahanan hingga 150 km dengan ICWI memandu 32 rudal sekaligus saat menyerang lawan.
  3. Rheinmetall Multi Sensor Platform MSP 500 radar dan pemandu tembakan siang dan malam, jangkauan hingga 40 km.
  4. STN Atlas Marine Elektronik 9600 M radar navigasi dan sensor elektronik terkoordinasi dengan CIWS untuk control penembakan perang asimetrik hingga 40 target.

Pertempuran elektronik:

  1. FL 1800S-II EADS System & Defence Electronic.
  2. SAM Electronics DSQS-24B bow-mounted sonar.

Combat Management System:

  1. Thales TACTICOS AAW cluster yang mengkombinasikan SMART-L, APAR, SIRIUS, peluncur Mk41 untuk ESSM dan SM-2 serta CIWS.

Persenjataan:

  1. 3×8 VLS Raytheon Mk41 diisi 24 SM-2 Block IIIA SAM (RIM-66M-2) dengan jangkauan 167 km dan kecepatan Mach 3,5.
  2. 1×8 VLS Raytheon Mk41 diisi 4×8 Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM) jangkauan 50 km kecepatan mach 4 untuk mencegat rudal anti kapal lawan.
  3. 2×21 Mk49 Guided Missile Launching System (GMLS) dengan misil RIM 116 RAM untuk anti pesawat dan rudal jangkauan mencapai 9 km dan kecepatan mach 2.
  4. 2×4 peluncur Mk141 untuk rudal anti kapal Harpoon RGM-84D jangkauan 120 km, kecepatan sub sonic mach 0,9.
  5. 2×3 peluncur torpedo Eurotorp B515 324 mm untuk torpedo MU90 anti kapal selam konvensional maupun nuklir dengan kecepatan 29-50 knots jangkauan 12-25 km, kedalaman 1.000 m.
  6. 1 kanon Oto Melara Compatto 3in 76,2 mm jangkauan hingga 16 km kecepatan hingga 100 tembakan per menit. Tipe terbaru menggunakan Oto Melara 12764 LW- Vulcano.
  7. 2 senapan Rheinmetall MLG 27 RWS (remote weapon system) 27 mm kecepatan hingga 1.700 tembakan per menit jarak efektif 2.500 nm.
  8. 1 unit senapan berat M2HB 12,7 mm jarak efektif 1.830 nm dan kecepatan tembakan 600 per menit.
  9. 1 unit senapan ringan Rheinmetall MG3 7,62 mm jarak efektif 1 km dan kecepatan 1.000-1,300 tembakan per menit.

Pengecoh (decoy):

10. 4 peluncur Mk137 dengan BAE System Mk36 SRBOC.

11. Hangar dan deck untuk  helicopter Sea Lynx Mk 88A atau 2 helikopter NH90. Helikopter dapat dilengkapi dengan torpedo MU90 atau rudal ASM Sea Skua dengan jangkauan tembakan 25 km.

Dari lima frigat di atas, apabila persenjataan sesuai standart Admiral Gorshkov adalah pilihan utama. Kemampuannya menyerang daratan hingga 1.500 km, memberikan alternative serangan balik apabila ada ancaman dari negara lain. Persenjataan lengkap dan seimbang, mobilitas bagus, harga kompetitif dan hubungan baik antar dua negara dan keinginan Rusia meningkatkan eksport alutsista merupakan pilihan rasional untuk akuisisi. Namun, periode ini belum ada pembelian alutsita yang signifikan dari Rusia menimbulkan tanda tanya hambatan apa yang terjadi. Apakah syarat TOT ataukah hal lain.

Pilihan kedua adalah De Zeven Provincien, Belanda atau Sachsen, Jerman. Alasan logisnya adalah frigat yang sangat “berotot” apabila konfigurasinya standart dan hubungan baik dua negara. Dengan Belanda, sudah ada TOT Sigma Class, sedangkan dengan Jerman beberapa kali terjadi transaksi alutsista kelas berat. Namun harganya relatif mahal dan kemungkinan protes oleh NATO. Parlemen Belanda juga pernah menentang pembelian Leopard MBT dengan alasan HAM.

Pilihan ketiga adalah Iver Huitfeld. Tidak “sekekar” frigat yang lain, namun kemudahan proses akuisisi dan TOT baik dari pabrikan maupun pemerintah Denmark memberikan nilai positif. Harganyapun relatif kompetitif. Hanya saja “isinya” yang merupakan produk negara lain bisa menghambat akuisisi. Jalan keluarnya tentu kemampuan mencangkok persenjataan dari negara alternatif.

Penulis tidak memilih Aquitaine karena kabarnya DCNS hanya menawarkan Gowind untuk fregat. Perlu juga diperhatikan produk China, India dan Korea Selatan yang bisa juga menjadi alternatif. Produk China terkenal karena murah. Korea Selatan hubungan yang sangat baik untuk TOT alutsista kelas berat. Shivalik Class India yang sudah diinstal Brahmos.

Jadi, Frigat apa yang menurut anda akan diakusisi Indonesia ? Mari kita diskusikan di forum ini.

Penulis : Pak Dhe

(Dikutip dari b