Jan 282015
 

Saudara para pembaca, kali ini akan kita bahas topik yang lagi hangat, yaitu Gripen vs Su-35, melalui beberapa skenario. Lokasi dipilih area Laut China Selatan (LCS) yang antisipasinya sebentar lagi juga akan menghangat. Namun SURPRISE kali ini Indonesia yang pegang Gripen NG melawan Su-35 China!

Gambar 1 Aksi radius J-11 (kuning) dan Su-35 (merah)

Gambar 1 Aksi radius J-11 (kuning) dan Su-35 (merah)

Lihat Gambar 1 – Bagi China, Su-35, bahkan pada bahan bakar internal saja, menawarkan keuntungan yang signifikan atas J-11 Shenyang (Su-27), yang terbatas hanya dapat terbang cepat ke tempat masalah seperti Reed Bank (lile tan) atau Scarborough Shoal (dao Huangyan) tetapi tidak punya kemampuan tinggal lama disitu. Sedangkan Su-35, mampu mencapai Natuna, dengan ekstra waktu (loiter time) di pos tersebut sangat penting bagi keinginan China untuk menghalangi tindakan Filipina atau aktor regional lainnya (Indonesia). Pesawat jarak jauh tersebut akan mampu “menunjukkan bendera” lebih lama, atau cepat mencegat pesawat Filipina (atau Indonesia) di wilayah tersebut.

Su-35 China, dengan combat radius 1700 km, tanpa drop tank dari lanud Lingshui Hainan dapat mencapai posnya di p. Natuna sembari membawa rudal BVR & WVR, atau kombinasi dengan rudal anti kapal permukaan, akan mengancam kedaulatan Indonesia. Dalam skenario ini, Su-35 juga membawa satu drop tank untuk menambah CAP loiter time menjadi 2 jam, tanpa mengurangi jumlah senjata yang dibawa.

Asumsinya, Indonesia sudah membeli Gripen NG dan menempatkannya di lanud Natuna untuk menjaga kedaulatan wilayah ZEE. Dapatkah Gripen NG ini menaklukan Su-35?

Perbandingan

(informasi disini diperoleh dari berbagai sumber: http://defence.pk/threads/comparison-among-f-22a-f-16-j-f-17-su-35-ef-2000-and-rafale-c.182172/, http://www.russiadefence.net/t1621p45-meteor-versus-rvv-bd-long-range-a2a-missile).

Aksi radius sebenarnya

Gripen NG – Menurut data dari brosur Gripen NG for the Netherlands, kapasitas Gripen NG untuk misi penghadangan adalah sejauh 460 km dan 50 menit CAP membawa load out/ external stores 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons. Artinya, bila membawa lebih banyak rudal akan mengurangi aksi radius dan loiter time di posisi CAP.

Su-35 – Tidak mempunyai batasan sepeti itu. Inilah kelebihan Su-35 sebagai heavy fighter dibandingkan dengan pesawat lainnya, disebut sebagai dominasi combat persistence karena punya excellent fuel fraction. Dengan aksi radius 1700 km, tanpa drop tank, Su-35 dapat membawa kombinasi rudal dan atau ECM pod, di 12 hardpoints-nya. Bila dikehendaki lebih besar waktu loiter time di posisi CAP, maka barulah membawa drop tank.

Radar dan Rudal BVR

Radar – Irbis-E punya Su-35 dapat mendeteksi RCS 3 m2 dari jarak 350-400 km. Bila disumsikan bahwa RCS Gripen NG kira-kira sama dengan Rafale, maka secara teoritis Su-35 dapat mendeteksi Gripen NG pada jarak 150 s.d. 203 km; sebaliknya Gripen NG dapat mendeteksi Su-35 pada jarak 87 s.d. 130 km.

Rudal BVRDalam sales presentation-nya, Saab selalu menampilkan rudal Meteor + Gripen NG sebagai kombinasi yang dijagokan. Dalam sejarahnya rudal Meteor dikembangkan untuk menangkal rudal Rusia RVV AE PD long range yang menggunakan ramjet. Ironisnya sebelumnya dalam urusan rudal BVR Rusia selalu mengekor USA, terlihat dalam seri RVV yang biasa disebut “Amraamski”.

Rudal Meteor berat 185 kg, panjang 3,65 m dan diameter 0,178 m, jarak jangkau brosur 100+ km. Ada yang menulis bahwa 100+ km itu artinya 180-200 km, akan tetapi mengingat berat dan dimensinya, rasanya paling hanya 150 km, atau kira-kira sama dengan AMRAAM AIM-120 D. No escape zone (NEZ) yang selalu ditonjolkan, secara teoritis adalah 40% jangkauan, jadi sekitar 60 km. Selain itu karena menggunakan ramjet, maka efisiensinya akan berkurang dengan ketinggian; ramjet menghisap oksigen yang berkurang dengan ketinggian.

Gambar 2 Meteor

Gambar 2 Meteor

Di pihak Rusia, tampaknya telah menghentikan program rudal ramjet (karena kelemahan di atas) dan menggantinya dengan program rudal baru RVV BD dan Kh-58UShE (diperkenalkan pada MAKS 2011), yang nampaknya khusus untuk PAK FA dan tapi juga dapat diusung oleh pesawat tempur lain seperti seri Flanker atau MiG :

  • Rudal udara-udara RVV BD mempunyai jangkauan 200 km. Propulsi, berat dan dimensinya yang tepat belum ada informasinya. Karena merupakan pengembangan dari R-37 maka diperkirakan berat 510 kg, panjang 4,20 m dan diameter 0,38 m. Jarak jangkaunya adalah 200 km, kecepatan Mach 4-5. Ini versi ekspor, kalau aslinya akan lebih jauh lagi jangkauannya.
  • Rudal udara-udara RVV SD, mungkin sebagai pengganti RVV AE, mempunyai jangkauan sampai dengan 110 km.
  • Sedangkan Kh-58UshE adalah rudal anti radiasi / anti AWACS, kecepatan Mach 4 dengan jangkauan sampai dengan 240 km.
Gambar 3 RVV BD

Gambar 3 RVV BD

Skenario 1

Baik China maupun Indonesia mempunyai kelemahan di pangkalan aju. Bagi China jaraknya terlalu jauh, sedangkan bagi Indonesia, lanud Ranai di p. Natuna mempunyai keterbatasan pra-sarana dan sarana. Oleh karena itu, skenario yang realistik adalah 4 lawan 4.

Su-35 China mendekati daerah ZEE Natuna dan dideteksi oleh Satrad 212 Ranai pada jarak 440 km. Gripen NG di-scramble dengan konfigurasi dilengkapi 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons, terbang 26 menit supercruise ke posisi dan 50 menit CAP. Apakah akan terjadi saling menembak dengan rudal BVR? Dalam skenario ini, ada 2 alternatif :

  1. China masih kuatir dengan kinerja Meteor, maka dengan cerdik 1 elemen (2 Su-35) China memanfaatkan radar Irbis E dan excellent fuel fraction-nya untuk menjaga pada jarak 200 km, sedangkan 1 elemen lainnya diperintahkan melambung pada radius 200 km. Semacam kucing-kucingan. Kalau ini dilakukan pada jarak >440 km maka Satrad 212 Ranai tidak bisa membantu situational awareness Gripen NG. Dengan taktik ini Su-35 memaksa Gripen NG menunggu lebih kurang 50 menit sudah “bingo” dan harus kembali ke Natuna. Pada saat yang tidak menguntungkan bagi Gripen Indonesia ini, semua Su-35 China maju dengan supercruise dan menembakkan rudal BVR RVV SD.
  2. Kalau Su-35 China misalnya sudah membawa RVV BD, maka tunggu sampai jarak 200 km luncurkan RVV BD. Gripen NG Indonesia tidak bisa membalas dengan Meteor karena jaraknya masih terlalu jauh, dan karena repot menghindari RVV BD, Su-35 China dengan leluasa dapat meneruskan dengan merge WVR, first look first kill.

Mau bagaimana lagi, skor 0 – 1 untuk China.

Gambar 4

Gambar 4

Gambar 5

Gambar 5

Skenario 2

Indonesia berpikir keras bagaimana mengalahkan Su-35 China. Mau beli F-22 tidak mungkin, beli PAK FA masih 4 – 5 tahun lagi. Ada yang mengusulkan coba lihat di blog JKGR, oh iya kenapa tidak beli Su-35 saja. Meskipun menggunakan pesawat yang sama, tapi Indonesia punya keuntungan yaitu teater operasinya masih di atas wilayah kita Natuna, sedangkan bagi Cina sangat jauh pada batas luar combat radius Su-35. Faktor ini ditambah penggunaan taktik yang tepat dapat mengungguli China.

Namun pada akhirnya setelah tahu kita beli Su-35, politik China di LCS berubah haluan. Dia setuju Code of conduct yang diusulkan oleh Indonesia/ ASEAN. Damai di dunia!

Kesimpulan

Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Keduanya Su-35 dan Gripen NG adalah pesawat yang bagus sesuai tupoksinya masing-masing.
  2. Keunggulan Su-35 terhadap pesawat lain terutama adalah pada (a) combat persistense (fuel fraction, combat radius dan loiter time), (b) radar Irbis E dengan power aperture kira-kira sama dengan F-22, dan (c) kinematika (TVC 3D). Kalau ECM-nya kira-kira sama.
  3. Dengan munculnya RVV BD, RVV SD dan rudal lain yang khusus dikembangkan untuk PAK FA/ FGFA (yang juga dapat dibawa oleh seri Flanker dan MiG), maka nampaknya telah muncul kembali krisis missile gap di pihak Barat.
  4. Pembelian alutsista yang tepat dapat berpotensi meredam krisis regional, bukan sebaliknya.

Penutup

Semua di atas dapat dianggap sebagai khayalan imho penulis, meskipun juga sebagian berdasarkan pada fakta geografis, spesifikasi masing-masing pesawat dan rudal.

Terima kasih telah membaca. (by Antonov).

  338 Responses to “Gripen vs Su-35”

    • Pamit menyimak dulu

    • karungi z dua-duanya kan beda clas.

      gripen-NG sbg pengganti f-5 tiger sekalian jumlahnya ditambah 3 skuadron dgn cara lisensi bwt memburu pesawat2 sipil yg bekeliaran kan rugi sukhoi digunakan bwt memaksa turun pesawat capung.

      dan sukhoi su-35 sbg fighter besar lapis pertama 2 skuad untk menghalau f-18 malaysia,f-15 eagle dan f-35 singapur dan ausis.

      tpi mengenai jumladnya sich “tergantung anggaran” yg turun dan persetujuan DPR.

      • setuju gan…itu baru betul….

      • Gripen-NG Buat apaan bang di beli ?
        Buang2 duit rakyat aza.
        dari performance nya aza:
        Nggak sanggup juga lawan Su-35 ,JF-17 dan J-11 dari utara.
        Nggak sanggup juga lawan F15 dan F16Blok60 Sing.
        Nggak sanggup juga lawan F35,F18E/F dari selatan.
        yg terjadi bisa2 The “Flying Coffin” si pengganti “Flying Coffin”.

        Kalau niatnya untuk ToT, yg paling realistis Ya dari “TYPHOON”.
        krn apa?.. , krn kedepan indonesia bisa menyederhanakan jenis Mesin pesawat.
        Base nya, kemungkinan besar Pemenang Bidding mesin pesawat untuk KFX/IFX chance nya ke EJ200. Krn AIRBUS menawarkan 100% ToT engine EJ200, dibanding GE yg tidak diperbolehkannya ToT hingga 100% by FMS oleh DoD usa. makanya GE tidak akan bisa menyaingi EUROJET dalam tawaran ini.
        Jadi tawaran Gripen yg ToT 100% adalah Palsu, di karenakan GE tidak diperkenankan ToT hingga 100%.
        Cost Maintenace dan Operasional pesawat itu lebih besar dibandingkan biaya akuisisi pesawat tsb selama lifetimenya, Jadi Pemerintah sgt memperhatihan hal ini. Krn Rencana pemerintah kedepan, akan menyederhanakan Jenis pesawat, yaitu IF-X untuk medium fighter dan Heavy Fighter( Mungkin Pakfa/Su-35 ).
        sedangkan Typhoon Untuk Stopgap dan ToT development.

        FYI, BOEING diberitakan menarik diri dari program KF-X
        (konsep super hornet “is gone”) dan AIRBUS tetap mengikuti Tender KF-X tsb, termasuk Tender Mesin pesawat(menawarkan EJ200).
        http://aviationweek.com/defense/price-factor-seen-favoring-korean-airlines-south-korea-s-kf-x-fighter
        http://aviationweek.com/commercial-aviation/new-civil-engine-tempo-outstrips-military-developments

        • Ane setuju kalo pilihannya Typhoon tapi ga setuju kalau bilang kalah sama F-16

        • Mantap dah,,pokoknya SU-35 “TITIK”

        • masalahnya klo “TYPHOON” kita trauma sama embaro negara barat pembuatnya sekutu amerika,tau sendirikan amerika gmn,mw masuk lobang yg sama kuda z g’ mw.

          klo memang gripen meragukan tdk bs melawan pesawat gen 4 lainnya kenapa swedia dan bebrapa negara eropa memilih gripen sbg tulang punggung au mrk ?

          yang jelas pihak gripen sudah menyatakan adanya TOT kita bs melihat brazil sama thailad klo TOT yg ditawarkan gripen klo memang omong kosong atau tdk. sedangkan typon sampai skrng negara mana yg bs dijadikan contoh pembuktian TOT typhon??

          apalagi rafale ma’ g’ usah diharap contohnya india sj membeli 126 unit masih blm jelas karena india menginginkan tot , parah klo kita harap TOT dgn beli 16 ketengan.

          yg jelas rafale,f-16 bin rawan embargo udah out dri list pembelian pespur kita. secanggih-canggihnya pespur amerika pasti downgrade dan dilarang digunakan melawan sekutu mrk singapura dan ausis.

        • ane cuman setuju yg engine 100% tot,.. ini baru mantap. apa bisa ??

      • Kalau hanya Bertujuan “memburu pesawat2 sipil yg bekeliaran”…
        Beli saja FA50 lebih murah dan Handal,
        malah bisa beli 4 unit dgn harga yg sama dg gripen.
        Fungsinya sama, Operasional cost nya malah lebih murah dgn gripen.
        70% part korea punya(30%nya mesin, pnya GE korea).

        Minta ToT FA50? di kasih Bgt .. lsg segambreng dikasih. 🙂
        kecuali Mesinnya F404, minta sma GE korea, sukur2 dikasih 80% part dah bagus kok..
        ada special relationship katanya dgn pihak RI ( KAI dan ROKAF lho yg blg)

        • T-50i Golden Eagle? gak kuat mesinnya buat intercept bung…Sukhoi aja tahun lalu itu kewalahan…dari perannya bahkan sudah jelas si Elang Emas hanya sebatas untuk latihan dan misi tempur ringan, bukan pencegat…mending pakai F-16

          • T-50i Golden Eagle? gak kuat mesinnya buat intercept bung
            —————-
            Ohh Gitu.. Berarti gripen juga nggak mampu.
            Kan Gripen kan mesinnya Sepantaran Sma FA50.
            RM12 atau F414 itu turunan nya mesin F404.
            Berarti Gripen nggak kuat juga ya Ngejar Jet Gulfstream gitu kan?.. krn Accelerasi nya mungkin.
            speed gulfstream kan sampai 950Km/h.
            blom lagi Jet Fighter tetangga yg nyelonong, 1 mach lebih deh.

    • Dari karakteristik pesawat saja sudah beda SU 35 heavy fighter.
      Gripen e pesawat pencegat

      Daya jangkau SU 35 jauh lebih unggul
      radar SU 35 dengan irbis E jauh lebih unggul

      SU 35 harus nya vs f 35 lighting 2 .

      Kalo g salah sudah di bahas. Dan SU 35 bisa memenangkan skenario itu.

      Apapun nanti yg diakuisisi pemeerintah

      Sy berharap 2 2 nya bisa jas gripen E untk riset dan program kemandirian bangsa karna ditawarkan TOT

      SU 35 untuk daya gentar dan penjaga langit NKRI walaupun rusia siap memberikan tot di artikel sebelumnya paling hanya TOT sekedar pemeliharaan dan suku cadang

      Salam warjagers

      • Bettul bung … Lama lama eneg juga lihat skenario sesuai refernsi di blog2 tentang su 35 vs gripen .. Lha wong pesawatnya belum ada semua di indonesia .. Bayangin kalo yg diambil pemerintah kita F16 blok 60 misalnya apa ga pada kuciwa .. Salam tengah malam

        • Semoga saja bung majapahit .
          Semoga pemerintah kita tidak keliru dlm membeli pespur kedepan. Menurut pandangan sy sangat fatal jika pemerintah memilih F 16 block 60.

          Disamping sudah ketinggalan zaman mau di upgrade secanggih apapun tetep saja ketinggalan zaman..

          Dan tdk ada efek deternt daya gentar selain itu tidak akan ada program TOT dr pihak US.
          Menghambat kemandirian bangsa..

          Salam NKRI bung majapahit

          • Jangan salah bung, F-16 akan keluar block 70 lho.
            dengan avionik lebih canggih, radar AESA lebih kuat.

            kan Freeport sudah bisa ekspor lagi, bisa dong kita minta F-16 yg mantep.

          • kalau saya pribadi lebih suka yg ToT nya (terserah berapa %) yg penting ada ilmu dan teknologi yg bisa diserap saya dukung…daripada beli pakai buang seperti F-16 atau Sukhoi lagi…mungkin Sukhoi masih mending krna kita dapat efek gentarnya, tapi kalau F-16…selain dari teknologi yg tertinggal efek politik jg jd tidak seimbang.

    • mampu kah gripen hadapi su-35. jika kamu beli gripen dan jika kamu gak ada membeli pesawat radar awacs dan kamu kamu fikir sendiri ? .

      keupayan gripen berkongsi data ling pesawat awacs dan data ling pesawat gripen lain. Jika gripen mahu melaku tembak rudal Meteor dan rbs15 jarak lebih jauh gripen perlu pesawat awacs untuk lakukan tembakan rudal

      Indonesia terpaksa beli pesawat awacs jika indonesia beli pesawat gripen ini akan lebih menbebenkan indonesia
      Cuba lihat thailand kenapa ia terpaksa menbeli pesawat gripen dan pesawat awacs untuk menjaya misi nya? Cuba perhati video ini bapa

      Indian PHALCON AWACS (Israel) Vs. Pakistan’s ERIEYE AWACS (Sweden) – Whi…: http://youtu.be/RQgeoDzWyc4

      • kl + awacs jangkauan penglihatanya bisa lebih jauh otomatis su-35 jg bisa di liat.

      • tinggal samperin deh AWACS nya, di eropa inggris, prancis bahkan amerika sekalipun sudah mengurangi armada AWACS karena perubahan strategi militer .. kalau lawan pemberontak masih aman pakai AWACS, klo melawan negara pikir 10x deh

        • atikal ini perang laut china selatan bapa ,jika gripen pakai pada gerila dan di sekitar indonesia ia cocok pada gripen kerana kos murah, jika mahu kuasai lautan china selatan ,peluang untuk memang adalah kecil aje jika gripen tidak serta ia pesawat AWACS dan pesawat tangki untuk isi minyak maka kalah indonesia itu . Cuba kamu lihat tentara thailand sudah Sudah cukup, thailand terpaksa membeli pesawat saab erieye 2000 awacs untuk perang lautan india

        • Cuba bayang kan gripen terpaksa jatuh tanki minyak untuk dogfight dengan su 35 china jika gripen jika memang pun mahu pulang ke pakalan aje sudah kurang minyak pesawat jatuh akibat kurang minyak . Mampu ia pulang dengan selamat bapa

        • masalah AEWACS ini bukannya sudah masuk dalam pertimbangan TNI AU usai latihan bersama Pitchblack 2012? yg katanya Sukhoi Indonesia akan diperkuat AEWACS krna kalah dari segi radar dibanding F-18 Super Hornet Australia…

      • atikal ini perang laut china selatan bapa ,jika gripen pakai pada gerila dan di sekitar indonesia ia cocok pada gripen kerana kos murah, jika mahu kuasai lautan china selatan ,peluang untuk memang adalah kecil aje jika gripen tidak serta ia pesawat AWACS dan pesawat tangki untuk isi minyak maka kalah indonesia itu . Cuba kamu lihat tentara thailand sudah Sudah cukup, thailand terpaksa membeli pesawat saab erieye 2000 awacs untuk perang lautan india

    • Skenario ini mempunyai beberapa kekurangan:

      ## Pertama-tama, perhitungan jarak deteksi IRBIS-E

      Karena @bung Antonov tentu memakai Ausairpower sebagai referensi untuk jarak deteksi, (dengan berat hati) mari kita mengunjungi link ini:

      http://www.ausairpower.net/APA-Flanker-Radars.html

      Kemampuan IRBIS-E untuk mendeteksi target yang ukurannya lebih kecil daripada 1m2, menurut perhitungan kedua pakar Sukhoi asal Australia ini, adalah kurang dari 150 km, bukan 200 km seperti dituliskan.

      RCS untuk Gripen-C saja sudah lebih kecil daripada F-16C yang mempunyai RCS 1m2. Inilah sebabnya Hungaria melaporkan kalau Gripen mereka “tidak terlihat” di radar F-16 MLU NATO.

      Berita baiknya, RCS untuk Gripen-E sudah disengaja untuk lebih kecil lagi.

      http://aviationweek.com/awin/new-gripen-aims-low-cost-high-capability

      The JAS 39E is not a classically stealthy aircraft, but the development contract stipulates a significantly lower radar cross-section (RCS) than the JAS 39C. In conjunction with the all-new Saab-developed electronic warfare system, which uses gallium nitride antenna technology and is described as an intelligence, surveillance and reconnaissance sensor in its own right, and the new Selex-ES Brite Cloud expendable active decoy, the reduced RCS is expected to allow the fighter to survive against advanced threats, including the Sukhoi T-50 fighter and “double-digit” surface-to-air missiles, while avoiding the cost and risk of an F-35-type stealth configuration.”

      Jadi jangan khawatir, SAAB sebenarnya sudah mendesain Gripen untuk melawan pesawat2 yg justru lebih berat, dan lebih hebat, bahkan sampai di kelas PAK-FA.

      Apa artinya Su-35S China?

      Kemampuan deteksi Su-35S terhadap Gripen-E, dengan RCS yg lebih rendah, dipadu dengan Gallium-Niitride EW Suite, dan Selex ES Brite Cloud decoy, tentu saja akan turun sampai kurang dari 100 km —- masuk jauh didalam jarak jangkau Meteor BVRAAM.

      Dengan kata lain, Gripen-E tidak akan terlihat oleh Sukhoi Su-35S sampai jaraknya turun ke kurang dari 100 km.

      • alah mas bro, gripen pun akan tetep kalah ama su 35, mau gimana pun,
        gwe pilih gripen karena totnya, minimal negara kita tau gimana cara buat pesawat fighter and programnya, itu yang penting…
        kalo sukhoi menyodorkan proposal yang sama dengan saab gwe pun juga bakal pilih sukhoi…

        • Sayangnya belum ada Angkatan Udara yg sepikiran dengan anda,
          mereka tahu benar resiko besar yang mengikuti pembelian tipe baru ini,
          makanya Su-35 belum mendapat customer.

          Brazil saja sudah menyatakan:

          http://www.defenseindustrydaily.com/brazil-embarking-upon-f-x2-fighter-program-04179/

          Reporter Tania Monteiro of the Brazilian newspaper O Estado de Sao Paulo quotes influential Workers’ Party Deputy (PT is Lula’s party, Deputy = MP or Congressman) Jose Genoino as saying:

          “….Concerning Russia, everyone knows the difficulties and we don’t know what is going to happen in ten years so that we will be able to guarantee our spare parts….”

          • kan saya sudah bilang, kalo sukhoi menyodorkan proposal yang sama dengan saab, ya saya pilih su 35, kalo ngak sama ataupun ngak ada tot ya pilih gripen masbro… 🙂

          • Sebenarnya percuma juga kalo Russia ToT, bung bowo silet…

            India sudah mendapat ToT 100% untuk Su-30MKI — avionics buatan Perancis, counter-measure Israel, ada bbrp perlengkapan made in India.

            Tetap saja tidak mempengaruhi reliability factor-nya.

            Availability rate Su-30MKI hanya 50%.
            Mereka tetap kesulitan spare part, dan harus terus ngejer2 Russia untuk supply.

            Jadi ToT untuk Sukhoi tidak akan menjamin kemandirian.

          • gmana jk tot su35 hanya utk kemandirian sparepartnya aja. jk kita produksi sendiri partnya,
            apakah ada mimpi buruk utk sukhoi.

          • Sparepart sukro susah sptny jadi inget pelayanan kantor pemda yg lelet dan berbelit2… spt itu kali kelas supportnya sukhoi

          • Betul, belajar dari pengalaman India dengan order 200 SU-30 MKI nya

            Bayangkan beli 200 sukhoi… dapat lisensi… tetapi tetap saja masih order spare part ke Rusia…

            Lha TNI hanya beli belasan… apa iya dapat TOT… TOT untuk maintenance iya, spare part bakal tetep impor…

          • Kekuatan SU-35 selain pada jangkauan adalah kemampuan menggotong rudal, kecepatan di ketinggian dan jammer yng kuat.

            The podded wingtip mounted KNIRTI SPS-171 / L005S Sorbtsiya-S H/I band defensive jammer has been reported, this system being an evolution of a jammer developed for the Backfire C

          • bisa jadi dengan jamer ini radar Gripen dibikin bingung juga.

        • ung bowo silet harapan anda itu spt memang udah terjawab, Kamis 15 Jan 2015 yg lalu Dubes Rusia utk Indonesia bertemu dgn Menhan & sepakat memberi T.o.T , Joint Production serta service center alutsista Rusia di Indonesia, spt Su-35, proyek kapal selam Kilo, Helikopter, Panser, Tank dll..

          jadi apalagi ?…tinggal pemerintah membuat anggaran & menyiapkan SDMnya, jebrettt !…

      • Bung GI
        Ternyata anda memang tidak tahu/ kurang mengerti tentang RCS dan radar. Semua RCS yg ada di website atau diukur di kondisi lab atau dihitung secara matematis itu adalah kondisi “clean” tanpa cantelan apapun, baik senjata atau drop tank. Kalau siap tempur, tentunya dicanteli macam2 dan akibatnya RCS-nya melonjak beberapa orde log 10. Itulah sebabnya pesawat siluman mempunyai internal bay untuk memuat senjatanya disembunyikan di dalam badannya untuk mempertahankan RCS-nya dalam kondisi “clean”.

        Berapa besar lonjakannya, wallahualam, untuk Gripen diperkirakan bisa sampai 3 – 5 m2, yg bisa dideteksi oleh Irbis E dari jarak >300 km!! Dalam posting saya terdahulu “Serangan udara ke Jakarta” ada tampilan tabel RCS vs Deteksi Irbis E berdasarkan classical radar equation, saya sarankan dibaca lagi.

        Anda selalu memojokkan APA + lainnya, ‘struth its very annoying to me. Cukup anda bilang tidak percaya selesai. Akan tetapi apakah kompetensi kerja anda dibanding CK dan PG ? Banyak, banyak sekali informasi berguna yang dijelaskan secara teknis dan lengkap berikut data, tabel, grafik, gambar (bukan asal opini). Kita yang awam banyak belajar dari situ, saya sarankan anda juga. .

        • 3 m2 itu adalah patokan untuk jarak deteksi IRBIS-E — karena inilah estimasi RCS dari pesawat di kelas MiG-21.

          Silahkan cek sendiri daftar RCS disini.

          http://www.globalsecurity.org/military/world/stealth-aircraft-rcs.htm

          “The radar cross section (RCS) of a target is defined as the effective area intercepting an amount of incident power which, when scattered isotropically, produces a level of reflected power at the radar equal to that from the target. RCS calculations require broad and extensive technical knowledge, thus many scientists and scholars find the subject challenging and intellectually motivating. This is a very complex field that defies simple explanation, and any short treatment is only a very rough approximation.

          The units of radar cross section are square meters; however, the radar cross section is NOT the same as the area of the target. Because of the wide range of amplitudes typically encountered on a target, RCS is frequently expressed in dBsm, or decibels relative to one square meter. The RCS is the projected area of a metal sphere that is large compared with the wavelength and that, if substituted for the object, would scatter identically the same power back to the radar. However, the RCS of all but the simplest scatterers fluctuates greatly with the orientation of the object, so the notion of an equivalent sphere is not very useful.”

          ————————————-
          Dari link ini, kita bisa melihat:

          F-16C saja yang RCS-nya saja sudah dihitung hanya 1,2 m2 — dihitung kemajuan banyak dari RCS F-16A yang 5 m2.

          Rafale mempunyai RCS = 1 m2

          Typhoon RCS-nya sudah mencapai 0,5 m2

          Gripen tidak pernah di-publish resmi, tapi kemungkinan lebih mendekati angka 0,1 m2.

          Ada satu percakapan di F16.net forum (forum bukanlah sumber referensi yang benar2 valid). Disini saja menunjukkan kalau RCS untuk Gripen-C bahkan lebih kecil lagi (<0,1 m2.)

          http://www.f-16.net/forum/viewtopic.php?f=30&t=1029&start=255

          Untuk pesawat2 dengan RCS di atas 10 m2, seperti F-15 dan Flanker, Gripen-NG dengan Selex Raven ES-05 AESA radar akan dapat mendeteksi keduanya dari jarak maksimum kemampuan deteksi radar

          Sebaliknya, tidak mungkin IRBIS-E, atau bahkan APG-63v3 yang jauh lebih modern dapat mendeteksi Gripen dari jarak 300m.

          Seperti yang sudah sy tulis ulang dalam skenario anda di bawah,
          dalam hal ini Su-35S China akan seperti berhadapan dengan F-35.

          Perbedaan utamanya, tentu saja Gripen akan jauh lebih mengigit dibanding F-35 di skenario APA.
          Manueverable air superiority fighter, highly equipped, and armed with Meteors.

          • kalau jarak jauh kan Gripen NG tetep bawa tanki eksternal bung. plus 2 Meteor, plus 2 Sidewinder/phyton.
            apa RCS nggak bakalan melonjak juga.

          • Jawabannya: Tidak.

            Kalau misalnya pesawat RCS = 3 m2, terus ditambah 6 pylon + missile masing2 0,5m2

            Ini bukan berarti RCS total = 3 + (0,5 x 6) = 6 m2

            Untuk pesawat non-stealth, object terbesar tetap adalah pesawat induk, jadi pylon hanya akan menambah 5 – 15% tambahan RCS saja.

            ## Kalau dari contoh di atas, RCS total paling hanya akan menambah ke 3,3 m2.

            ## Untuk pesawat stealth yg RCS = 0,001m2 seperti F-35, menambah senjata di pylon justru jauh lebih runyam, karena skrg RCS-nya akan terlihat sekitar 0,02 – 0,05m2 di radar lawan (puluhan kali lebih besar drpd sebelumnya).

            ## Ketiga Eurocanards, dan Super Hornet sudah terbukti dalam latihan2 NATO — mempunyai RCS yg jauh lebih rendah dari F-16 C (1m2 – 1,4 m2).

            Dan, dalam latihan NATO, pesawat2 ini tidak terbang “kosong”, atau “tanpa pylon”.

            Biasanya semua pesawat akan membawa apa yang disebut “Captive Air Training Missile” (CATM), dan tergantung misinya, mungkin juga membawa external tanks (tapi tidak selalu).

            CATM — missile tiruan berbentuk aslinya — tanpa mesin, atau live warhead, tapi dengan active guidance system.
            Ini memungkinkan pesawat2 melakukan simulasi pertempuran udara dalam latihan.

            Referensi tambahan:
            —————————
            ATAC — perusahaan sipil yg melakukan kerja kontrak untuk latihan pilot sipil dan militer, memberikan penjelasan terbaik mengenai penggunaan CATM

            http://www.atacusa.com/press_releases/press_release_18.html

      • Gini deh .. yang menang gatotkaca aja gimana > otot kawat tulang besi .. bisa terbang ra iso mudun

        sama sekali gak relevan membandingkan Gripen dan SU35 ..

        mau sampai berbusa juga gak bakalan..

        ni forum bukan anak TK yang bisa diboongin ma permen..

    • ## Jarak jangkau kebanyakan AESA radar Barat masih dirahasiakan

      Tapi kalau kita mengambil patokan dari APG-68v9 saja, jarak jangkau maksimumnya mencapai 300 km untuk target yang RCS-nya besar.

      Sukhoi Su-35S dikabarkan mempunyai RCS yang lebih rendah dibandingkan Su-27S, tapi para ahli Sukhoi tidak akan dapat melakukan banyak hal untuk mengurangi desain dasar yang dibuat di-tahun 1970an.

      Tidak seperti F-15SE yang mempunyai “internal weapon carriage”, tentu saja Sukhoi Su-35 masih menenteng semua senjata di sayap, membuyarkan RCS yang sudah besar ini.

      Dengan RCS lebih besar dari 10 m2, secara teori, Selex Raven ES-05 akan dapat melihat Su-35 dalam jarak lebih dari 200 km.

      Ini artinya, Gripen-E akan dapat melihat Su-35 terlebih dahulu dibanding sebaliknya.

      Mungkin malah lebih awal lagi, karena signal dari IRBIS-E yang besar, akan tertangkap terlebih dahulu oleh RWR dan EW defense suite Gripen, bahkan sebelum Selex Raven ES-05 mendeteksi Su-35S

      Berita buruk untuk Sukhoi China: 200 km — anda sudah memasuki jarak jangkau Meteor BVRAAM (!)

      • Sekarang skenario-nya jadi terbalik.
        Gripen-E dapat bermain stealth fighter melawan Su-35S yang besar.

        Sekarang Kohudnas mengkontak “Su-35S China” dan memperingatkan mereka untuk menjauhi wilayah Indonesia, atau mereka akan ditembak jatuh.

        Sementara itu, formasi Gripen-E sudah menyebar, untuk menjauhi arah deteksi radar IRBIS-E, dan memperkecil kemungkinan mereka dapat terlihat.

        Mereka mengontrol penuh “situational awareness” dan mulai mengatur strategi lewat sistem TIDLS mereka bagaimana caranya menaklukkan keempat Su-35S China yg nakal ini.

        Sistem network TIDLS Gripen dapat bekerja “tanpa bisa di-jamming” sampai jarak 500 km. Jadi Gripen dapat mengambil posisi untuk “outflanking” — menjepit Su-35S dari dua arah, dan menunggu signal selanjutnya (tanpa terlihat).

        Masing-masing Gripen menyiapkan 2 Meteor untuk “menggoreng” Su-35S dari sisi kanan dan kiri. Cukup 1 atau 2 Gripen saja yg bergantian maintain radar contact ke Su-35S. Ini agar menyulitkan RWR di Su-35 untuk dapat meng-alokasi dimana letaknya Gripen Indonesia.

        Sementara, Gripen yg lain dapat terus maintain passive targetting untuk Meteor BVRAAM mereka. Pilot2 Indonesia jari telunjuknya sudah siap untuk menekan tombol merah itu, kalau perintah menembak diberikan lewat network dari Jakarta langsung.

        Catatan: Meteor menurut hearsay, jarak jangkaunya melebihi 200 km, apalagi kalau targetnya besar dan gemuk seperti Sukhoi.

        Sekarang pilot2 China dapat berpikir keras.

        Dimanakah Gripen Indonesia?
        Seharusnya mereka tidak meremehkan pesawat tempur bermesin tunggal Indonesia ini.
        Beranikah mereka mengambil resiko melawan Meteor BVRAAM?

        Mereka lalu berpikir keras, kalau mereka berhasil menghindari Meteor, apakah mereka mampu menandingi Gripen-E Indonesia dalam jarak dekat?

        Pantat Su-35S, dengan 2 mesin afterburner yg besar, cukup menarik untuk di-targetkan dengan IRIS-T, atau mungkin Phyton-4 yg dibawa Gripen.

        Salah seorang pilot China pernah membaca flightglobal.com dan memberi-tahukan ke rekan2nya tentang hal ini:

        http://www.flightglobal.com/news/articles/saab-flies-new-countermeasures-pod-on-gripen-400546/

        ESTL is a self-protection system available for any fixed-wing aircraft that can be installed on a mission-to-mission basis, and configured for different threat scenarios, says Saab.

        The system provides “covert sustainable pre-emptive dispensing”, missile warning and forward firing of flares.

        “ESTL offers enhanced survivability in combat and conflict situations,” Bergholm says. Traditional countermeasures may encounter difficulties with the latest generation of air-to-air and surface-to-air missiles, but the ESTL concept includes a module of forward-firing flares, he adds. “This, together with the missile approach warning sensors and an optional chaff capability, makes ESTL a powerful shield against the latest missile developments.”

        “Ugh, gawat!” kata pilot China yang lain.

        “Kalau BVR combat sudah selesai, apakah kita bisa menang melawan Gripen dalam jarak dekat?” tanya yang lain lagi.

        “Hm, sebaiknya jangan mengambil resiko! Mari berputar balik 180 derajat!” Colonel Hu, sang pimpinan squadron memutuskan.

        Capten Dewanto di Gripen Flight-2, yang sedang mengambil giliran untuk mengawasi keempat Su-35S di radarnya, melihat perubahan arah Su-35S China mulai melaju ke arah utara.

        “Mereka sudah berbalik!” sang kapten mengumumkan.

        “Perintah dari Jakarta untuk terus mengawasi mereka, sampai mereka mundur dua puluh kilometer dari perbatasan Indonesia!” perintah Letnan Kolonel Halim, pemimpin formasi.

        Malam hari itu, pemerintah Indonesia mengajukan protes resmi ke pemerintah China atas pelanggaran wilayah Indonesia di atas Natuna. Pemerintah US, Australia, Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan, Filipina serempak mengecam keras “ulah” China.

        Sementara itu, Kohudnas mulai berbicara dengan rekan-rekan TUDM Malaysia, AU Thailand untuk sama-sama membentuk integrated radar network di sepanjang wilayah LCS yang di-klaim China. Jangka panjang, Vietnam, dan Filipina diturut-sertakan untuk memperkuat pertahanan ASEAN.

        Beberapa hari kemudian, presiden Republik Indonesia mengumumkan bahwa melalui kerja-sama dengan SAAB, PT DI akan memproduksi 28 Gripen-E dan 4 Gripen-F untuk pembentukan dua skuadron baru yang akan masuk ke dalam “Satuan pertahanan udara bersama ASEAN”.

        • lha itu yang saya tungggu, di paragraf terakhir

        • Kuncinya disini, memangnya kenapa kalau jarak jangkau dan loitter time Su-35 lebih hebat dibanding Gripen?

          Gripen mempunyai banyak keunggulan lain di atas Su-35S.

          Pihak yg memakai Gripen tentu saja harus memanfaatkan semua keunggulannya, dan jangan mencoba untuk menandingi Su-35 di permainan dimana dia lebih sakti.

          Sama dengan menghadapi F-35.
          F-35 atau F-15 SE mempunyai RCS depan yg lebih kecil, jangan mencoba mengadu dari depan!
          Mereka lebih ahli dalam permainan ini.

          Strategi yang bagus (memanfaatkan keunggulan pihak sendiri, dan kelemahan lawan) + latihan yg bagus + situational awareness = pemenang di setiap konflik.

          • saya juga setuju komentar anda, tapi apakah sudah dipertimbangkan, jika su 35 + be 50 awacs copy’an milik china, tu awacs jangkauanya jauh lo dan bisa mengkover 360 derajat, mohon jawabanya?

          • saya tunggu jawabanya!…

          • Ini AWACS China?

            http://en.wikipedia.org/wiki/KJ-2000

            Pertama, sulit untuk mengetahui reliability AWACS buatan China ini — apakah dia akan bekerja 100% tanpa problem?

            Kalau melihat dari pespur2 buatan China yg lain, sepertinya mereka belum benar2 dapat membuat radar yg betul2 bagus kualitasnya.

            Menurut wikipedia, dapat mendeteksi “fighter-sized target” sampai 470 km.Kemungkinan besar target disini adalah ukuran MiG-21 atau Chengdu J-7 yang 3 m2.

            Skenario paling bagus, jarak deteksi KJ-2000 hanya sedikit lebih baik dibanding IRBIS-E di moncong Su-35.

            Lagipula, dalam BVR combat, sy rasa China tidak akan mengirimkan pesawat ini ke garis depan, pasti bbrp puluh kilometer di belakang barisan Sukhoi. Jadi kecil kemungkinannya, KJ-2000 ini dapat mempengaruhi outcome BVR combat vs Gripen-E, yang RCS-nya memang sangat kecil.. (diantara 0,1m2 dan 1 m2)

          • ok terima kasih

          • Kalau china pk AWACS ya SU35 id juga kerepotan

        • jika su35 membawa rudal ground yang mematikan untuk melumpuhkan pertahanan udara ranai n pangkalannya secara bvr, dan segeta melarikan diri, disambut gel2 yg siap dog fight menghadapi gripen yg keletihan baik secara bvr ato wvr, sekaligus kehilangan pangkaln ajunya, n disambut gel3 su34 utk menghabisi war ship yg ada d natuna. tinggal gel4 dgn pembom strategisnya tu22 menghabisi kekuatan darat.
          apa yg bs dlakukan grippen.

          • Ingat, Gripen hanya membutuhkan logistic foot-print yg kecil, dan dapat dioperasikan di “landasan darurat”, jalan lurus yg panjangnya 800 meter.

            Di saat konflik terbuka, tentu saja semua pangkalan udara TNI-AU akan menjadi target hari pertama, kemungkinan dihantam dengan puluhan cruise missile.

            Tentu saja, fleksibilitas Gripen berarti Gripen dapat disembunyikan terlebih dahulu di pangkalan2 darurat yg sudah ditentukan.

            Akibatnya, walaupun lawan menghancurkan pangkalan udara TNI-AU, dan mereka mungkin menyangka sudah menang — mereka tetap akan dikejutkan nanti oleh interception tiba2 dari Gripen, yang sama sekali tidak tersentuh di serangan gelombang pertama.

            Pespur ini adalah tipe yang cocok untuk “perang Gerilya” tempo doeloe.

            Melawan musuh yg lebih kuat, pesawat ini dapat disembunyikan, jauh dari mana2. Begitu dapat signal, langsung mengudara, intercept, dan menembak jatuh 1 – 2 musuh, lalu balik ke pangkalan darurat yang berbeda lagi; dan kalau dibutuhkan, dapat mengisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali dalam 10 menit, kemudian lepas landas lagi untuk mencari musuh.

            Melawan pesawat tempur yg bisa “perang gerilya” seperti ini, lawan manapun akan kelabakan.

            Sekarang semuanya tergantung kreativas dan strategi bangsa Indonesia!

            Gripen bisa beroperasi dengan baik dari mana saja. Mau taruh dimana tinggal diatur!

          • ok, grippen masuk… su35 masuk juga… ada strategi lain bagi kedua fungsi pespur yg berbeda.

          • wow, ada begitu banyak jalan yg bisa dijadikan landasan diindonesia. ngeri banget…

          • Dan TNI terkenal sebagai salah satu peletak dasar Strategi Gerilya Modern….

        • Suatu Hari, Disebuah Pangkalan Udara paling utara di indonesia.

          Let.Udin Melapor : “Lapor Ndan, Skuad Gripen kita yg mengejar Sukhoi PLA di utara semuanya menghilang dari pantauan Radar Ndan !”.
          – – –
          Kol.Jono : “Apa?”, “Coba Di cek lagi, mungkin mereka menggunakan ECM jamming nya atau sudah berubah menjadi stealth skr !.
          – – –
          Let.Udin : “Siap, maaf Bukan Karena Stealth Ndan, dan mungkin 10 kali lebaran haji pun Gripen tidak akan bisa Stealth Ndan.”
          – – –
          Kol.Jono : “Lho, Lalu kenapa?, mungkin radar kita yg bermasalah?, coba sana di cek Lagi!”
          – – –
          Let.Udin : “Siap, Anu Ndan, Sebenarnya , Mereka jatuh Kecemplung di laut semua Ndan, mereka gagal return to Base”.
          – – –
          Kol.Jono : “HAH? , Lho kenapa bisa? kan Tanker kita kan ready standby?”
          – – –
          Kol.Jono : “Siap, Benar Ndan, mereka sudah coba approach, tapi Terlambat Ndan, mereka Terlalu jauh tuk dikejar tanker, karena Pilot2 kita terbiasa menggunakan Flanker Ndan, mungkin lupa dg combat radiusnya gripen, hingga keluar daerah Range operasi dan mungkin terlalu semangat untuk mengejar musuh, Ndan.”
          – – –
          Kol.Jono : “Grrr…6@8%$K#^$$$&zz!!! Cepat lakukan Misi SAR, Jgn Sampai pilot2 kita habis dimakan Hiu2 utara”.
          – – –
          Let.Udin : “Siap Ndan!”

        • “Kohudnas mulai berbicara dengan rekan-rekan TUDM Malaysia”
          sepertinya ada kesalahan ketik, TUDM bukan rekan2
          ~dari berbagai sumber~

        • Pret
          😀

      • Kurang yakin kalau Selex Raven ES-05 akan dapat melihat Su-35 dalam jarak lebih dari 200 km.

        lha wong IRBIS-E next gen sudah mendeteksi Gripen dari jarak 300 km. karena radar Gripen lebih kecil dan powernya rendah. Kecuali ditambah genset dan parabola.

        tapi untuk patroli jarak dekat saya tetep milih Gripen, untuk lawan F-35 / F-15 ya harus SU-35

      • menurut saya strategi yang paling bagus adalah bertahan dulu mengingat jumlah pesawat andalan kita yang terbatas, yaitu dengan memasang rudal Buk , pantsir, S300 dan S400 yang diposisikan di perbatasan untuk melakukan antisipasi serangan pertama / pendadakan dan menghindarkan serangan pendadakan baik oleh rudal cruise ataupun serangan pesawat siluman pada lanud – lanud pesawat andalan kita. Sedangkan pesawat andalan kita berada kurang lebih 200 km dari perbatasan sehingga ada waktu respon dengan cepat…..( mengingat ketika sukhoi mencegat pesawat asing ternyata membutuhkan waktu 20 menit ) untuk mengatasi yang lolos dari jebakan batman rudal – rudal kita.

    • Kesalahan terakhir, RVV-BD atau R-37M, kemungkinan besar belum di-integrasikan ke Sukhoi Flanker.

      http://sputniknews.com/russia/20120124/170929008.html

      Berita Russia menunjuk kalau Su-31BM adalah satu2nya tipe utama yg membawa missile anti-AWACS ini.

      RVV-BD bahkan tidak masuk ke daftar missile yang dijual Russia untuk eksport:
      http://eng.ktrv.ru/production_eng/323/503/505/

      Lagipula, walaupun jarak jangkau R-37M ini sangat jauh (400 km lebih), tidak seperti Meteor yang memakai sistem ramjet, R-37M juga masih memasih sistem solid-boost rocket.

      Kalaupun missile ini ditembakkan ke arah Gripen dari jarak 400 km — tidak mungkin ada mid-course update, karena tidak mungkin ada radar pesawat Russia yg dapat melihat sejauh itu, ke target yang sekecil Gripen.

      Sedangkan kalau Su-35S memakai “AMRAAM-ski” RVV-AE, ini tidak akan ada bedanya dengan AMRAAM. Sistem defensive suite untuk Gripen sudah di-desain dengan sangat bagus, hingga kemungkinan mengena sudah sangat kecil.

      Artinya 105% kemungkinan, BVR missile Russia, tidak akan berhasil menyentuh Gripen, yang dipiloti pilot yang sangat terlatih.

      • Bung Gripen. sebaiknya anda yg beli Gripen terus anda yg pakai sesuka hati.
        andai saja anda menjadi sales rokok keluaran terbaru sya yakin akan laku keras

      • Wew, Pakai dibalik lagi kata2nya …! Lucu si GI neeh 😀
        Kan Di artikel Sudah Di Katakan Bahwa:
        ——————–
        karena menggunakan ramjet, maka efisiensinya akan berkurang dengan ketinggian; ramjet menghisap oksigen yang berkurang dengan ketinggian
        ——————-
        makanya….
        sistem ramjet propulsion punya kelemahan tsb , makanya Ramjet untuk future development dan saat ini digunakannya hanya untuk Antiship, tuh contohnya YAKHONT, krn tidak memerlukan climbing rate yg tinggi,
        Untuk High performance AA missile, tetap menggunakan Solid propelant krn membutuhkan thrust /dorongan yg stabil dan climbing rate yg tinggi untuk mengejar pesawat.

        BTW…
        asumsi si GI ini cuma sebatas MIMPI BASAH dan angan2 belaka…
        kalau udah orgasme bilang ya?… wkakaka 😀

      • jgn lupa bung gi, utk indonesia bg rusia apapun diberikan, bahkan rudal nuke atau sekelas iskanderpun bisa diberikan, kirov ,yassen maupun pakfa pun ok.
        kalo negara kita terjepit, alutsista gahar om putin bs nyampe dimari.
        ingat tahun 60 kmarin, dari tu16 hingga sverdlo cruiser pun ada.

      • SU-35 memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri , begitu pula dengan Gripen yang”Katanya STRONG” , USER sendiri lebih memilih SU-35 dari pada Gripen apakah kita lebih tau dari USER itu sendiri ?? , saya berharap pengambil keputusan dinegeri ini dapat mengambil keputusan yang pas dengan kondisi geografis di Indonesia yang begitu luas , saya juga setuju kalau soal TOT demi kemandirian bangsa kita!

        • satu lagi bung buat pengganti F-5 saya lebih ke gripen soalnya gak mungkin kan buat gantiin F-5 adalah S-35 secara F-5 menurut saya adalah pesawar ringan ya kemungkinan besar di ganti sama yang pesawat ringan juga hehehe…

      • Bung gripen emaang sales sejati..
        Ak mlah ra donk ngomong opo.. haha

      • 105% bvr rusia bisa dihindari ? bombastis sekali anda bung GI. sekiranya sebegitu mudahnya armada rusia bisa dikecoh, sejak perang di donetsk otomatis nato akan membormbardir itu daratan rusia. sam atau armada penghadang dengan mudah bisa dilalui dan langsung dilumpuhkan. bayangkan jika armada nato digabung habis tuh rusia. gripen dengan radar yang tidak terlalu istimewa dan ew yang tidak dedicated saja bisa mengecoh apalagi f-15+armada growler+awacs+tangki bensin. rata tanah tuh moskwa. jangan takut dengan icbm mereka karena pasti hancur sebelum bisa meluncurkan sebiji misilpun. superioritas udara habis otomatis pembom berat ngelayap kemana2.

        • Memang sy melebihkan.

          Tapi kenyataannya BVR missile tradisional itu sebenarnya pK-nya sangat kecil kalau melawan pesawat yg diperlengkapi fasilitas EW modern, RWR, dan kemampuan manuever yang handal.

          Jangan salah tangkap disini!
          Russia tidak mungkin bisa dikalahkan NATO!

          Sejarah sudah menunjukkan dua-tiga kali terjadi serangan besar ke Russia dari Eropa, dan ketiganya tumpur (Napoleon, PD I, dan PD II)…

          Tetapi pelajaran terpenting dari sistem pertahanan Russia itu, kita harus memetiknya dari PD II.

          Senjata2 Russia yang mengalahkan Jerman; Il-2 Sturmovik, dan T-34 tank adalah senjata2 yang sifatnya “mass production” dan “sekali pakai buang”.

          Sepertinya Russia belum benar2 dapat berubah banyak dari fundamental dasar yang membuatnya memenangkan Perang Dunia II.
          Inilah sebabnya, masalah utama senjata buatan Russia ini adalah keawetan.

          Kita hanya melihat kenyataan disini.

          Kalau memang Indonesia dapat mengadopsi sistem masal seperti Russia, mass production, dan sekali pakai-buang (high waste system), tentu senjata buatan Russia cocok untuk Indonesia.

          • Kalau Tank atau bedil mungkin masuk akal ya bung Rusia masih pakai sistem “sekali pakai buang”…

            Tapi pesawat tempur sampai kapal selam yang harganya jutaan dollar masa dari jaman Hitler punya kumis sampai Jokowi sisiran klimis Rusia masih tidak punya setelan “jangka panjang” bung?

            Wah… kok saya tidak percaya ya 😮

          • hei jangan salah bung, senapan mosin nagant tua masih bisa dipakai lho.

          • Betul.

            Tentu ada bbrp pengecualian:
            AK-47 Kalashinov rifle itu juga kan sudah terbukti ketangguhannya — digiles tank aja masih tetap bekerja kok.

          • Untuk konsep “sekali pakai buang” pesawat tempur buatan Russia, kita tidak perlu melihat jauh2.

            Contoh pertama:
            Lihat saja bagaimana mereka memperlakukan MiG-29.

            MiG-29 mulai diperkenalkan kira-kira pada waktu yg bersamaan dengan F-16, yakni sekitar awal tahun 1980-an.

            Hampir semua angkatan udara yang membeli MiG-29 (terutama di Eropa Timur), sudah mempensiunkan, atau dalam tahap mempensiunkan MiG-29 mereka.

            Pengalaman Malaysia bahkan lebih parah. Membeli MiG-29N di tahun 1995, sekarang sudah mau pensiun!

            Kenapa begitu?

            Russia tidak pernah pusing masalah upgrade package atau sistem perawatan yang baik, seperti di keluarga F-16.

            MiG-29 yang dipakai AU Russia saja, kebanyakan adalah “dinosaurus tahun 1980-an”, masih memakai sistem analog yg sama, dan sudah tinggal menunggu menggali kubur.

            Sebaliknya, coba saja melirik kembali F-16 Indonesia:

            F-16 Block-52ID TNI-AU adalah produksi tahun 1985 — lebih tua dibandingkan F-16 Block-15OCU yang sudah kita punya (produksi tahun 1989).

            Tapi krn Block-52ID sudah di-upgrade secara menyeluruh, dan menjalani SLEP (Service Life Extension Program), kita tidak perlu khawatir.. pesawat ini akan terbang terus sampai tahun 2030-an.

            Sebentar lagi F-16 Block-15OCU kita akan menjalani program SLEP yang sama — memperpanjang umurnya sampai tahun 2030-an juga.

            Belgia, Belanda, Norwegia, dan Denmark — negara2 pembeli pertama F-16 Block-1/5/10 juga masih terus memakai F-16A/B mereka. Sudah semakin menua, tentu saja, tapi sudah di-upgrade ke taraf MLU, dan tetap siap tempur.

            Sebaliknya, semua MiG-29 yang ada sekarang, kemungkinan besar sudah lenyap semua di tahun 2030.

          • Ya kalau begitu lebih baik ke F-16 dong bung, barangnya ribuan. spare part KW-1 sampai 5 mungkin ada di pasaran.
            dari block 15 sekarang sudah sampai block 60.

        • Su-35 masalah utamanya adalah ini adalah model tanggung.

          Sukhoi sudah mengatakan sendiri bahwa ini adalah variant terakhir dari keluarga Flanker (dengan kata lain, mereka berikutnya mau konsentrasi ke PAK-FA). Sudah tidak akan ada lagi upgrade untuk Su-35S.

          Kapan Su-35 akan mendapat radar AESA?

          (Russia punya kok, Tikhomarov NIIP radar, kapan masuk ke moncong Sukhoi? — Siapa yg mau bayar?)

          Apakah akan ada versi mesin yang lebih baru, yang mungkin lebih mudah maintenance drpd AL-41F1 yg ada skrng?

          (F-16 saja dalam 30 tahun mesinnya sudah di-upgrade 3 – 4 kali, dan ada 2 pilihan dari PW atau GE).

          Apakah semua sistem “wah” yang ada di Su-35 sekarang ini, sebagaimana dilukiskan dengan begitu indah oleh Ausairpower (APA),

          L-band radar, tail radar, ECM, dll — apakah semuanya akan di-upgrade bertahap supaya kemampuannya terus bertambah??

          Kemungkinan besar, Sukhoi akan cuci tangan untuk masalah upgrade untuk Su-35S. Apalagi, jumlah produksi juga cuman sedikit (48 unit) Ngapain pusing?

          Sekarang perekonomian Russia juga lagi semakin ambruk, akibatnya, anggaran pertahanan Russia dipotong — jadi semakin kecil kemungkinan hidup Su-35 bisa berlangsung lama (lebih murah utk mereka membeli Su-30M2 atau Su-30SM).

          http://www.defensenews.com/apps/pbcs.dll/article?AID=2014312180038

          Konsekuensinya jelas, di tahun 2030, bahkan F-16 Block-80 mungkin dapat mengalahkan Sukhoi Su-35S, yang tidak akan banyak berbeda dengan model sekarang 2015.

    • Pingin di segani negara tetangga, pilih aja SU 35

      • …. yang kemungkinan bakal ngendok di hanggar karena tidak ada spare part.

        ## Skenario masa depan dengan Su-35 Indonesia:

        “Wah, Indonesia pertahanan udaranya bolong,” kata agressor #1. “AEW&C juga masih belum punya! S-300/S-400 missile juga kagak ada!”

        “AEW&C aja kok nggak ada? Gimana bisa?”

        “Duit mereka abis buat biaya operasional Sukhoi!” Agressor #1 tertawa terbahak-bahak.

        “Loh, bukannya mereka punya Sukhoi yang tipe Su-35?” Agressor #2 bertanya. “Kita perlu khawatir nggak?”

        “Ah, jangan takut! Mereka lagi mendekam di Makassar tuh utk maintenance. Beberapa pesawat mesinnya lagi ancurr. Mereka butuh seminggu lebih tuh buat ganti mesin. Udah gitu mesin baru dari Russia belum datang! Denger2 sih, Rosoboronexport baru bisa ngantar mesin baru minggu depan!”

        “Jadi ada berapa pesawat Su-35 yang siap terbang?”

        “Sedikitlah, paling cuman 5 atau 6 pesawat doang! Itu juga persiapan mengudaranya agak lama. Kalau kita bisa serang cepat, kita bisa membom mereka di pangkalan!”

        “Kok bisa gitu? Kacau juga ya? Kok Russia nggak kasih komitmen ke negara Client-nya supaya semua 16 pesawat mereka siap terbang?”

        “Yah, Indonesia kan anggaran militernya kecil! Russia itu kan lebih melayanin orang2 yg bisa beli lebih banyak senjata dari mereka — Kayak India atau China yang sekali beli $10 milyar. Jadinya yah, pelayanan service-nya dikasih kelas-3 dong!”

        “Wah, asyik juga ya kalo gitu,” Agressor #2 memanggut-manggutkan kepalanya. “Ayo, mari kita bom ramai2 saja semua pangkalan TNI-AU! Tidak akan ada perlawanan!”

        “Ha-ha-ha!” Agressor #1 tertawa terbahak-bahak. “Untung bener di tahun 2016 itu Indonesia kagak beli Gripen-E, tapi malah beli pesawat yg nggak bisa terbang!! Ha-ha-ha!”

        “Memang bener tuh! Denger2 di Eropa dan di Brazil, huebat tuh Gripen. Mengganti mesin cuman butuh 1 jam , dan cuman butuh 2,5 jam maintenance setiap 1 jam terbang. Nggak kayak mesin Sukhoi sering rusak, mesin F414G kan tahan 7,000 jam lebih — cuman perlu servis 2 kali lagi setiap 1000 jam. Lagian, kalau sudah mengudara sekali, cukup mendarat 10-menitan, udah bisa terbang lagi.”

        “Ha-ha-ha! Nggak kayak Su-35 ya, suka mendekam di hanggar?”

        “Gripen bisa supercruise dan membawa Meteor dan IRIS-T lagi! Kayak mesti menghadapin Eurofighter aja!”

        “Kalau ada Meteor memang gawat tuh, jarak jangkaunya lebih jauh dibanding BVR missile kita, mungkin sebanding dengan Phoenix missile di F-14A dahulu kala. Mana lagi lebih sulit dihindari dibanding semua missile jenis lain!”

        “Bukan cuman itu, boss! Gripen kan pesawatnya kecil, RCS-nya juga luar biasa kecil. Dalam latihan NATO saja, agak susah dilihat di radar. Bisa-bisa mereka nembak Meteor lebih dulu daripada kita nembakin BVR missile.

        “Dan, kalau jaraknya udah dekat, wah, malah lebih gawat lagi! Waktu latihan NATO, kalau Gripen2 itu sudah mulai bermanuver, pilot2 F-16 sukar ngikutin gerakan mereka! Gripen itu suka nggak keliatan! Eh, tiba2 aja pesawat2 F-16 itu udah pada ketembak jatuh!”

        “Ha-ha-ha! Ayo deh, kalau gitu! Ayo kita mulai menghancurkan Indonesia secepat mungkin! Besok juga tidak akan ada 1 juga pesawat mereka yg masih bisa mengudara!”

        “Siip, boss!”

        • novel yang sangat lucu bung GI. ayo ditunggu follow up masalah di atas para sales rusia.

        • Iya yah..? kok akhir akhir ini gak pernah ada penampakan 4 Suhoi pertama kita zaman Mega ? Brkli teman2 ada yg bisa kasih tau ? Bagaimana nasibnya ?

          • Sukhoi jaman bu Mega karena beli second, mungkin masih di upgrade biar setara dengan SU-30 Mk2 nya bung.

            dan sepertinya barisan pesawat block barat sudah cukup banyak. mulai dari F-16, T/A-50, Hawk, Supertucano.
            sepertinya untuk penyeimbang non block yg perlu ditambah adalah Sukhoi series.

            Gripen NG untuk ganti Hawk kalau pensiun saja, order sekarang juga kemungkinan gripen baru dikirim 2019 an. karena antrian Brazil, swiss, swedia masih banyak.

          • Setahu sy, biaya upgrade untuk semua pesawat “made in Ruski” sangat mahal.

            Supaya lompat dari versi Su-27SK ke versi Su-27SKM, biayanya sudah seperti beli baru.

            Perhatikan saja foto2 lama,
            TS-2701, dan TS-2702, sebenarnya tidak mempunyai “drogue” (letaknya di moncong, sebelah kiri, di depan cockpit) untuk mengisi bahan bakar di udara, tidak seperti semua Sukhoi Indonesia yang lain.

            Ini saja membutuhkan modifikasi besar ke airframe dasar. Belum lagi semua komputer dan avonics di dalam cockpit juga harus diganti.

            Hasilnya:
            Asal tahu saja, Su-27 SKM, dan Su-30MK2 itu cockpitnya saja, sebenarnya sudah agak ketinggalan jaman jika dibandingkan F-16 Block-50+ atau 52+.

        • hhihi monolog..

        • Lucu

    • walau Cina sangat jauh pada batas luar combat radius Su-35 tapi cina punya kapal induk ya tetep aja nyampe

      • J-15 (Su-33 copy) dan Liaoning….??

        Sebenarnya Russia sendiri sudah menarik mundur Su-33, dan menggantinya dengan MiG-29K. Masalah utama: Su-33 itu sebenarnya terlalu berat untuk beroperasi dari kapal induk, spt Admiral Kuznetzov (sama dgn Liaoning), yang memakai “sky-jump ramp”.

        Kembali ke masalah China:
        J-15, seperti Su-33, menghadapi masalah yg sama. Untuk take-off dari “sky jump ramp” kapal induk Liaoning, J-15 harus menggunakan “full afterburner”.

        Karena sudah terlalu overweight, J-15 tidak pernah dapat membawa cukup bahan bakar untuk terbang jauh, atau membawa cukup persenjataan untuk bertempur. Menurut Sina-Military-Network (China) sendiri, jarak jangkau J-15 hanya 120 km.

        http://www.defensenews.com/article/20130928/DEFREG/309280009/

        What sounded more like a rant than analysis, Sina-Military-Network (SMN), on Sept. 23, reported the new J-15 was incapable of flying from the Liaoning with heavy weapons, “effectively crippling its attack range and firepower.”

        The fighter can take off and land on the carrier with two YJ-83K anti-ship missiles, two PL-8 air-to-air missiles, and four 500-kilogram bombs. But a weapons “load exceeding 12 tons will not get it off the carrier’s ski jump ramp.” This might prohibit it from carrying heavier munitions such as PL-12 medium-range air-to-air missiles.

        To further complicate things, the J-15 can carry only two tons of weapons while fully fueled. “This would equip it with no more than two YJ-83K and two PL-8 missiles,” thus the “range of the YJ-83K prepared for the fighter will be shorter than comparable YJ-83K missiles launched from larger PLAN [People’s Liberation Army Navy] vessels. The J-15 will be boxed into less than 120 [kilometers] of attack range.”

        —————————–
        Artinya Liaoning + J-15 China = macan kertas di laut.

        Ini justru memberi contoh, pembelian senjata itu justru tidak boleh berdasarkan gengsi, dalam hal ini “menginginkan kapal induk pertama”,
        tapi melihat kebutuhan negara yg mendasar.

  1. ambil apa aja

    • no 2 nya jauh kali…….

    • Artikel yang menarik bung @Antonov, tapi cocoknya untuk label PG (PARENT GUIDE)

      Banyak sekali keunggulan Gripen-NG yang tidak anda sebutkan.
      Contohnya :

      Gripen tidak perlu Lapangan Terbang, Cukup Jalan Raya lurus sepanjang 600 meter, karena sudah didisain begitu
      AESA jangkauannya masih misteri karena merupakan teknologi baru, berbeda dengan PESA yang Oldies
      AESA Gripen-NG bisa Rotary, sehingga menambah pandangan ke arah samping kiri-kanan
      Gripen-NG jangkauan Combat Radius lebih dari 1.000 km (seri C/D saja 800km) tanpa Drop-Tank
      Gripen-NG mampu Reloaded Amunisi/missil dan Refuel sangat cepat, dan dapat dimana saja, selama ada Jalan Raya lurus sepanjang 600 meter
      Gripen-NG mempunyai Networking yang amat canggih, sehingga bisa sharing target data/lock antar pesawat
      Rudal Meteor bisa diluncurkan dulu, tanpa locking, sedangkan yang melock target bisa dilakukan oleh pesawat lain.

      Badan TAMBUN Su-35 menjadi keuntungan sendiri, meski sudah di cat RAM

      Irbis-E mempunyai panas berlebih, meskipun sdh dilengkapi liquid cooler, sehingga tidak bisa dihidupkan lama-lama dalam mode long-range, berbeda dengan AESA yang terdiri banyak modul Rx-Tx, sehingga bisa bergantian antar modul untuk meneliminir panas, sehingga bisa dihidupkan seharian.

      Jarak jangkau Irbis-E kemungkinan hanya optimal di bawah 200km, contohnya Radar N001VEP pada Su-27SKM/Su-30MK2 yang katanya bisa mencapai 200km, nyatanya prakteknya hanya 87km

      China sangat tidak gegabah menyerang jarak sangat jauh negara lain, kecuali untuk untuk bunuh diri. apalagi hanya bergantung dengan Sukhoi saja

      To Be Continued………………….

      • tidak ada yang misteri untuk raven aesa. produk selex terbaik (CAESAR = radar typhoon) saja diberikan datanya. dibandingkan dengan radar typhoon saja lebih kecil. dengan algoritma yang sama otomatis powernya lebih kecil. jika power lebih kecil otomatis daya jangkau lebih pendek. misterinya itu mengapa disebut versi ekonomis dengan jangkauan memadai.

      • Lucu sekali…. bung SS sebagai salesman kloningan Gripen malah tidak percaya brosur radius Gripen sendiri dan malah melebih2kan. Awas bisa dituntut client-nya lho.

      • @@Sarjana_Seksi:

        Alasan yang valid — mengenai kemampuan IRBIS-E
        Kita tidak akan pernah tahu sebenarnya, seberapa reliable-kah IRBIS-E?

        Masalah utama — Russia sendiri bukanlah negara yg demokratis.
        Sensor dan propaganda itu normal disana.

        Seberapa besar kita dapat percaya dengan apa yg ditulis di brosur mereka?

      • Maaf Bung Sarjana-seksi anda menggampangkan masalah ,”Gripen tidak perlu lapangan terbang…..dst” Nggak segampang itu .Bagaimanapun pesawat tempur tetap butuh dukungan ground support.Taroklah pesawat bisa mendarat,pesawat tetap butuh bahan bakar,loading missile ,butuh auxiliary power unit untuk terbang.Tanpa APU pesawat tempur tidak bisa terbang. Jadi adalah percuma bisa mendarat tapi tidak bisa terbang lagi karena ketiadaan ground support seperti diatas.

        • @komerat
          Silahkan anda cari di google saja bung, banyak kok
          Gripen memang didisain gitu, Gripen A/B/C/D sudah mendukung
          Build-in APU dan universal, sehingga tidak perlu APU dari luar

    • Jadi mangkin binun dua”nya hebat bung antonov hebat…bung gi juga hebat…

      saya pilih:
      2 skuadron bung antonov untuk siap”lari marathon.
      4 skuadron bung gi untuk sergap..

      tapi saya mesti cek dulu ada duitnya tdk..!

  2. Dari class nya saja udah beda bung “sepengetahuan saya” , kalau menurut pendapat saya SU-35 akan di akuisisi oleh Indonesia “diluar” dari pengganti F-5

    bagaimana kalau menurut bung Antonov ?

  3. “Gripen vs SU35” ibarat kata “marmut vs harimau”

    mana yang bakal menang??? mari sama” kita saksikan…

  4. Karungin smua,..

  5. Kombinasi SU35 dan SU34 lebih yahud. heheheee

  6. syerem euy…

  7. 2.2 nya okee, tapii lebih ok su-35 soal nya griprn ga bisa terbang jauh dan jangkauan radar nya kalah ma su-35, meski sebener nya ta’ bisa di pungkiri gripen juga pesawat bagus

  8. BELI BELI BELI

  9. jokowi ga akan mau beli…karena ada amerika & sekutunya yg akan menghalangi untuk membelinya

  10. Perbandingan ga seimbang harimau vs curut , kenapa harus gripen utk ngelawan su 35 cina tdk smart.

  11. http://koran-jakarta.com/?27717-kpk-jadi-pahlawan-jika-sukses-eksekusi-hak-tagih-blbi

    tambah-tambah info, lumayan Rp 800 T >>sekian puluh milyard $ bisa ToT icebm, beli saham sukoi, dll

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai pahlawan jika mampu melaksanakan hak tagih terhadap obligor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang belum melunasi utangnya. Oleh karena itu, selagi masih memiliki waktu dan kekuasaan, lembaga antikorupsi tersebut diharapkan fokus menyelamatkan harta negara terbesar yang dirampok obligor nakal.

    Berdasarkan penghitungan, pemerintah memiliki hak tagih sedikitnya 800 triliun rupiah yang bisa digunakan untuk menambah dana pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan 250 juta rakyat Indonesia. Hal itu dikemukakan ekonom Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Suharto, saat dihubungi, Selasa (27/1).

  12. nggu tanggapan bung GI aj ahhhh
    mang su35 paling mantap anjrit

  13. Pasti ada yang gak terima dan bentar lg muncul

  14. Ditunggu argumen dr bung antonov+gripen indonesia.
    sy nyimak aja biar tambah wawasan.

  15. Mantap..! kembali kita disuguhi artikel menarik. 😉
    Terlepas dari apa yg akan di akuisisi pemerintah utk pengganti F5EF. artikel yg dibuat bung Gripen Indonesia sangat menarik dan bisa menambah wawasan kita bersama. beginilah sebenarnya roh warjag dahulu semoga ttp kedepannya. Welcome bung GI kehadiran anda disini sangat menambah bobot warjag akhir2 ini. ttp semangat menulis.. jangan hiraukan suara2 sumbang.. toh semuanya utk kebaikan Indonesia kedepan.

    Salam hangat utk semua..

    • Ups.. salah baca saya.. saya pikir seperti yg sdh2 yakni tulisan bung GI. :mrgreen:
      keep posting bung antonov. nice artikel.. 😉

    • Tentu skenario Su-35 vs Gripen-E (part-2) juga boleh 😀
      Sy sudah tuliskan diatas, sbnrnya sy mau menulis vs F-15SG… tapi kedua tipe ini tidak banyak berbeda jauh.

      Dalam skenario sy, tentu saja Indonesia sebagai pengguna Gripen tidak boleh terpancing untuk mengadu jarak dan loitter time vs Su-35 atau F-15SG,
      sebaliknya memanfaatkan keunggulan2 Gripen yang lain, dan mengubahnya menjadi kemenangan!

      Sama spt Gripen vs F-35!
      Kalau mau melawan F-35, tapi mengadu RCS depan sih, ya pasti kalah!

      • salut atas kegigihan bung G? untuk grippen nya, pikiran kami sedikit tergugah dengan sedikit penjelasan dr bung, tapi fungsi su35 jg sangat diperlukan sebagai interceptor utama, dan grippen pun dibutuhkan sbg intercpt gerilya, tp kekurangannya adalah tdk siluman, seandainya tot grippen pd bangsa kami bs berjalan mulus, tdk menutup kemungkinan design grippen kami berubah dgn bahan dan fitur yg siluman jg selain pangkalannya jg siluman. hehehe……

      • Bung GI,

        Quote : “Dalam skenario sy, tentu saja Indonesia sebagai pengguna Gripen tidak boleh terpancing untuk mengadu jarak dan loitter time vs Su-35 atau F-15SG,
        sebaliknya memanfaatkan keunggulan2 Gripen yang lain, dan mengubahnya menjadi kemenangan!”

        Bisa anda skenariokan apa yang harus dilakukan Gripen untuk memenangkan pertempuran ini? Kami yang awam ingin tau juga. Trims

  16. Yg pihak Gripen single engine,biaya operasional murah,biaya perawatan murah, ToT, spare part gampang, tapi kombat radius pendek, persenjataan hrus beli lagi,efek deteren masih kurang
    Yg pihak SU-35 dual engine, kombat radius jauh, persenjataan pake stock yg ada bisa, efek deteren kuat, tapi biaya operasional mahal,biaya perawatan juga mahal,spare part sulit
    Mo beli ke-2nya duitnya gak cukup

    • Prioritas bung, kan multi years

      • Lha prioritasnya yg mana ? Untuk kemandirian industri nasional atau ancaman potensial dari negara2 tetangga atau china yg harus melewati armada ke 7 USA dulu sebelum sampai menyerang natuna .. Wamenhan usa udah bilang kami siap mengerahkan armada ke 7 .. Su35 hebat dan kita harus punya tapi harus lengkap bukan kosongan .. Tanpa rudal , karena itu pilihan 1 TNI . Gripen jg bagus dengan skema tawaran tot nya .. Dilihat aja nanti mana yg akan datang .. Dan itu pilihan terbaik sesuai anggaran yg tersedia .. Amien

    • Salam bung Klo soal prioritas ini harus kembali ke doktrin nya TNI khususnya TNI-AU mo yg mana dulu, mantan KSAU Bpk Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menyatakan bahwa kita mengakusisi F-16 blok 25 hibah krn TNI-AU fokus mengejar kuantitas Alutsista, nah setelah ini apa Fokusnya TNI-AU krn ternyata kuantitas Alutsistanya juga blum mencapai jumlah minimal utk bisa mengcover luas wilayah NKRI padahal disaat yg sama “Ancaman” dri segala penjuru dri batas udara NKRI sudah semakin nyata padahal uang kita mepet…klo luas wilayah kita seperti negara2 di eropa gak perlu pusing pesawat sekelas F-16 cukup krn cakupan wilayah udara nya sempit, sedangkan NKRI luas wilayah udaranya sebesar Eropa

  17. salut buat bung Antonov … hebattt … ane terus dukung beli sukhoi 35

  18. Panas..hot..hot..hot..
    Kalo pilot su35 tiongkok yg tingginya 180cm..gempal berotot serta kejam dan bawa gada takut nembak trus balik kandang bs dikejar gk ama gripen??

  19. beli 2 2 nya..siapa tahu dapet TOT ke 2 2 nya jga…lumayan biar bsa mandiri

  20. mbah kmna neh, mbah…mbah bowo muncul….hehehe

  21. Kesimpulan: Untuk skenario diatas gripen bukan pilihan yang tepat.

  22. He he he …
    Langsung ada artikel dari Bung Antonov, trims nambah ilmu neh …
    Ditunggu artikelnya bung Gripen Indonesia ….
    Ane nyimak aja …

  23. realistis,, and masuk logika bung antonov,, keren artikel nya,,

  24. Ingin usul aja…

    1 skd SU-35
    1 skd SU-34
    2 ato 3 skd Gripen NG

    Sy yakin semua akan setuju

  25. lanjutkan…
    aku yakin kpk bisa…
    uang nya buat beli su35.pakfa.ks amur.kilo.destroyer.s400/500 dsbg..

  26. gmna kabar KFX~IFX ??? itu koq ada masalah kacang segala bung….

    gmna kabar Changbogo Class Indonesia ???
    gmna kabar PKR fregat nya dah sampai mna ya???

  27. RUSSIAN STRONG…..

  28. nunggu komentar bung gripen indonesia

  29. berdasarkan jangkauan pesawat & radar… sebaik’a gripen tidak d pasang pd lapis pertama.
    opsi yg ada saat ini hanya SU vs SU.
    jika pespur cina lolos jg (kemungkinan’a sangat besar), barulah mereka berhadapan dngn gripen + SAM.
    so… lapis pertama SU-35 & lapis k2 gripen…

  30. Su 35 stroooooonggg

  31. Artikel di jawab artikel….
    bungkus keduanya…
    gripen untuk intercept…
    su 35 untuk tukang gebug

  32. Saya pikir adalah yang terbaik memiliki SU-35 dan Gripen NG untuk pertahanan udara Indonesia karena role dari dua jenis fighter jet disebutkan adalah berbeda. Untuk tugas LCS harus ada SU-35 digunakan sebagai pemukul dan di kombinasikan dengan Gripen NG untuk arms scouting disekitar area konflik. Kalau primary role untuk routine patrol dan defence wilayah udara Indonesia ditugaskan kepada Gripen NG yang operational cost yang jauh lebih kecil dari SU-35.

  33. GRIPEN kelauuuttt…

  34. Coba bung antonov ato gripen indonesia bikin skenario f 35 ausie+f35 singapore+su 27/30 malaysia vs gripen/su27/30/f16 indonesia, kalo kt bisa unggul berarti emang su 35 gak dibutuhkan, tp kalo msh kedodoran jg mungkin gripen pilihan yg kurang tepat

  35. Kalau kita kembali kebelakang pertentangan pesawat apa yang bakal di pilih Indonesia untuk mengantikan F5 di mulai saat TNI menyebut ada 3 pilihan yaitu SU 35 ,GRIPEN NG dan F16. Padahal kalau dimaksud untuk mengantikan F5 tentu pesawat masuk kategori light weight fighter juga penggantinya.Berat kosong F5 lebih kurang 4 ton .Sementara Su 35 berat kosong 18,4 ton dan F16 adalah 8,5 ton berat kosong sementara Gripen 6,6 berat kosong. Tentu yang tepat adalah Gripen sama sama kategori berat lightweight. Jadi pilihan yang pas adalah Gripen apalagi konon di tambah ToT seratus persen ?.Terus apakah kita tidak butuh SU 35 untuk mengejar keseimbangan kawasan ? jawabannya HARUS kalau negara ini tak mau di lecehkan kawasan.Sangat harus dipahami keseimbangan adalah sebab tidak terjadi perang total.Contoh India vs Pakistan.Amerika vs Russia.

    • Bung Komerat.. skuadron 11 TNI-AU yang sekarang diisi heavy fighter SU-27/30 dulunya diisi pesawat spesialis ground attack ringan A-4 skyhawk. Jadi jangan dilihat calon penggantinya berdasar bobot atau role saja.

      • Saya sangat setuju dengan Bung EA. Latar belakang kita beli SU-27/30 memang untuk mengejar keseimbangan kawasan,antaranya kasus saat pasca jejak pendapat Timtim,kasus Bawean. Kita beli MBT juga didorong oleh keseimbangan kawasan.Walau langkah ini banyak di kritisi.,karena keefektifitasannya di alam Indonesia diragukan.Pilihan pespur yang tepat tentu SU 35 untuk mengimbangi Aussie dan lainnya .Kelemahan yang di gembar gemborkan tentang Su 35 adalah servise after sale,time between oferhold mesin yang singkat,tidak nyambung dengan datalink alutsista lain.Pemerintah sudah merintis usaha mengatasi kelemahan alutsista Rusia dengan Indonesia dengan rencana mendirikan pusat perawatan alutsista rusia di Indonesia.Pembelian mesin cadangan satupaket dengan pesawat untuk flankers yang ada.Kemudian masalah datalink kan bisa di bicarakan dengan Russia kita kalo beli maunya dilengkapi ini itu.Kita pernah di jaman orba mau beli Su 30 Russia dengan persaratan tertentu,pilihan apa saja yang disematkan pada pesawat,sayang kena krismon dan ahirnya pesawat itu dibeli India jadilah pesawat generasi flankers yang paling modern bahkan di banding punya Russia sekalipun.Kembali ke masalah tawaran Gripen ,tawarannya begitu menggoda sayang untuk di lewatkan bukan karena lebih hebat dari Su 35 tapi sesuai dengan cita cita kita untuk mandiri.Ekonomi kita kedepan diproyeksikan akan semakin maju. Tidak sampai satu dekade lagi diprediksi masuk 10 besar kekuatan ekonomi dunia.Kita pasti mampu mengakuisasi beberapa SU 35 dan juga menerima tawaran SAAB.Jadi masuk akal bila kita akuisasi keduanya.

  36. 1. SUKHOI 1 SKA (10 SU35 + 6 SU34)
    – Menambah Sukhoi Family yg sdh ada
    – Katanya ada TOT jg
    – Bisa ditempatkan di Makassar atau Skuadron baru

    2. THYPON 2 SKA
    – Typhon mengganti Hawk 100/200 jika sdh dipensiunkan (satu asal negara pembuatnya)
    – Akan ada kerja sama dgn PT.DI
    – Bisa ditempatkan di Pontianak dan atau Polonia (ex. Bandara Sipil)

    3. Grippen 2 SKA
    – Pengganti F-5
    – Memanfaatkan penawaran TOT
    – Perawatan murah

    – Kesampingkan dulu Rafale, F-16, dll.
    – Pemerintah harus mendorong PT.DI/Lapan meracik dari TOT yg didapatkan dr pembelian
    Pespur diatas untuk KFX/IFX/LFX kedepan.

  37. Rasanya tidak sepadan membandingkan sukhoi 35 dan gripen. Dari filosofi pembuatannya saja sudah berbeda. Sukhoi flanker sedari awal sudah didedikasikan sebagai penempur kompleks. Itu yang kemudian membedakannya dengan penempur lansiran mig. Dari airframenya sudah nyata menunjukkan tuntutan tersebut. Ada kesejajarannya dalam filosofi mengenai perancangan pesawat multi fungsi baik itu typhoon maupun rafale.
    Filosofi tersebut diterapkan untuk mengantisipasi patronase pespur tersebut melampaui masa produksinya, misal perancangan sukhoi sendiri sekitar 3 dekade masa lalu (cmiiw).. Biro perancang sukhoi sendiri pastilah memiliki taksiran bagaimana kemudian terapan pesawat tersebut. Bandingkan bagaimana filosofi ini juga menjadi dasar pembuatan pespur rafale dan typhoon. Bagaimana lini produksi tercipta dan pergeseran pasar kemudian sudah dirancang sedemikian mula sehingga pada akhirnya pesawat ini tidak bernasib sebagai sampah saja karena selama masa pengembangannya sudah banyak teknologi yang diterapkan. Sukhoi dalam hal memiliki keluarga yang cukup “berwarna”. Kasus yang paling mencolok ialah varian donor dari su 27 sm (cmiiw) yang menjadi patron varian su 35.
    Bila pemerintah mengakuisisi gripen (dan tidak mengherankan terdapat kasuistika atau bisa dikatakan latah ya?) sebagaimana negara lain mengakuisisinya juga, ini mengulang kasus pengadaan tank scorpion, helikopter fennec, ranpur cadillac, dan banyak hal lain. Patut dilihat pengadaan gripen ini akankah melengkapi estafet pespur gen 5 atau semata mengejar kesepakatan lain…imho…salam tabik bung Antonov..bung GI…

    • Perbedaan kelas tidak menjadi soal.

      Gripen-NG sudah di-desain justru untuk menghadapi pesawat tempur stealth, bahkan sampai di kelas PAK-FA sekalipun.

      Kalau menilik sejarah, dalam latihan2 udara internasional saja, tidak pernah ada bukti yang kuat kalau F-15 itu jauh lebih mengungguli F-16, hanya karena bermesin ganda, dapat terbang lebih cepat, dan lebih tinggi. Payload dan range jelas lebih ungugl — tapi hasil akhir pertempuran, belum tentu.

      Sebenarnya sy sudah memikirkan skenario Su-35 vs Gripen-NG ini agak lama.

      Malah sebenarnya sy membandingkan dengan lawan yg lebih tangguh dibandingkan Su-35S:

      F-15SG yang mempunyai APG-63v3 AESA radar — radar AESA terbesar di dunia. F-15SG ini juga kabarnya diperlengkapi ECM dan defense suite buatan Israel — yg sudah terbukti performanya melawan Syria.

      Catatan:
      F-15I dan F-16I Israel dapat membom sasaran2 di Syria di siang hari bolong, menghadapi jaringan pertahanan udara Syria buatan Russia — yg sebenarnya salah satu yg terbaik di dunia.

      • grippen siluman ini yg bakal menjadi pespur hasil tot utk pertahann antar pulau, yg dpt bergerak scr gerilya dn sgt mematikan, namun fungsi su35 atau thypon utk pre-emtive strike ke luar pulau atau perbatasan.

  38. Sudahlah.. gripen nyerah aja, mau teori apapun, tapi TNI-AU sudah me nomer satu kan SU35.
    gripen & F16 hanya untuk syarat tender (peserta harus lebih dari satu) & bargaining harga saja..

  39. Untuk pespur klas medium qt sdh punx f16,kt pak moel,yg qt utamkn adlh efek detteren d kwasan,dn jwbx cm 1(su35) krn memiliki jangkaun radr dn combat sngt jauh,memungkinkan su35 memainkn peranx sbagai fighter penyerng,qt tdk mw membeli gripen yg hnxa akn d gunkn mlwan china,krn china bukn musuh utama,mush utama qt adlh aliansi antek inggris dn pangakaln us yg sdh mndominasi kawasan.gripen tdk mungkin d gunakan untk menyerng daratan cina,australia atau bhkan malaysia skalipun,pswt ni hnx akn membuat maintanance cost lbh bsar,krn trlalu bnxk variant,lbh baik su35 dn su34 dperbanxk.smbil menunggu ifx berhasil.komentar dr pembuat tusuk sate.

  40. pemuja gripen jga sukhoi, sumbang tni au unit pespurnya dunk, biar d buktikan secara nyata smua teorinya, bkan hanya dari sumber2 berita luar ja, piisss.. hidup NUSANTARA KU

  41. Su 35 lebihh pasti ..

  42. nah mari kita dukung pembelian shukoi su 35 untuk indonesia jaya jangan sampai ada kepentingan asing untuk memperlemah pertahanan kita

    nkri harga mati…

  43. KRLvs sinkatsen

  44. He….he….he….he…..Aku Paling seneng Artikel Beginian ……Menjelaskan Secara Teori Tapi masuk akal …..Mudah – mudahan Yg SU-35 Jadi di Akuisisi oleh Pemerintah Indonesia….Aamiinn…

  45. jk su35 min kt dapat tot utk bag2 komponennya shg sparepart nightmare nya dapat dihilangkan, kl bs tot semua sparepartnya, dan dapat diakal utk dicangkokkan ke pespur eropa, jk pespur2 itu di embargo.
    ingat kasel kilo jerman kita. ato jg borong tank armata utk tot sparepart tank agar bs dicangkokkan ke leopard.

  46. Hm…Gripen buat gerilya udara kah? jadi teringat pedang khatulistiwa …. ngebayangin di tengah kota jauh dari lapangan terbang tiba-tiba si gripen muncul….

  47. Jd teringat komen bung frans yg klo gk salah kutip bunyinya..bgmn seandainya diam-diam Amrik memang mengkondisikan agar Indonesia membeli SU35 krn sbnrnya kekuatan pespur ini sdh diketahui titik lemahnya..

    Maaf bung frans umpama sy slh kutip..

    Gimana nih kutipan diatas menurut bung Antonov..bung Grippen..bung alugoro..bung MJ..bung pedro baretta..bung Wehrmacht..bung blackhawkdown..bung Andri Cahyadi..bung diego..

    Trimakasih semua..mohon dibabar..

    • maka dari itu bung, kita hadirkan su35 untuk mengetahui kelemahannya yang akan ditutup oleh pespur eropa sekelas rafale/thypon/grippen. seaidainya kita tidak mencoba dan terbiasa, maka kita tidak mengetahui kelemahannya, kita tau kelemahannya f22/f35 hanya bisa ditangkal oleh su35, namun kelemahan su35?…. jawabannya kita harus mencoba sendiri.
      ——–
      satu lagi kelemahan sukhoi family adalah tipis suku cadang, gmana jika tot 100% sparepartnya, sehingga kita bisa produksi dan membantu rusia untuk memperbanya pespur tsb.

    • kalau indonesia punya su-35 otomatis tinggal diajak latihan pitch black saja biar mudah diintip kebenarannya. sukhoi yang dimiliki oleh indonesia kurang lebih mirip dengan punya china dan rusia. dipitch black su-35 kalah di bvr category. karena f-18 di support growler dan aset aew. aset aew/awacs bisa merepresentasikan kemampuan radar2 terbaru/aesa radar. jika kita punya aset aew otomatis lain lagi ceritanya. sukhoi yang jadul itupun memukau pilot2 raaf.

      • Gripen cd thailand utk pitchblack kemarin gmna laporannya bung kagak nongol dingin2 saja ? Beda dengan pas TNI AU yg sangat banyak diperbincangakan media . Bung GI hanya menyinggung kepuasan hungaria sebagai user gripen dalam latihan saja , istilahnya hanya teori , tolong bung GI saya request hasil pitchblack gripen thailand di share,, soalnya menurut saya anda hanya berimajinasi seolah2 gripen paling hebat dan jaguh , tp kenapa usernya negara2 yg ekonominya pas pasan , kenapa jepang , singapore , australia , korea , inggris, arab saudi , dan negara2 timteng yg kaya gak pake gripen kalau memang gripen superior atas seluruh pesawat ,, hahaha bung GI ngelawak apa gimana ?

        • karena bung GI menempatkan kita diposisi budget constraint alias dompetnya tongpes. padahal kita sudah masuk trillion class economic. kalau budget pertahanan ditetapkan 1.5% dari GDP lewat undang2 otomatis vendor2 akan berdatangan ke indonesia. apalagi subsidi bbm sudah bisa dikendalikan tentunya lebih mudah untuk mengalokasikan dananya untuk pembaruan alutsista. bayangkan saja dulunya subsidi 300T sekarang turun menjadi kira2 90T. Bisa hemat 210T asumsi dialokasikan untuk pembelian alutsista 30% saja sudah didapat 63T setiap tahun. bayangkan alutsista apasaja yang bisa dibeli diluar budget apbn. tentunya sepanjang dialokasikan anggarannya dan disetujui oleh anggota dewan yang terhormat. dengan kata lain kita adalah “OKB”.

          • Hahaha.. masih ttp kismin masbro.. lha.. trus utang yg kabarnya sdh tembus 3000T itu kagak dibayar bunga dgn pokoknya. Wong indonesia ini hidup jg dari pinjaman utang. alias gali lobang tutup lobang. msh jauhlah kalau disebut negara okb, liat aja di perempatan lampu merah, cermin sesungguhnya rakyat kebanyakan.

            Salam..

  48. Beli Sukhoi 35 nya paling nanti kalau sudah ganti Presiden.

    Presiden sekarang kan seorang pengusaha,bukan seorang Berjiwa NKRI HARGA MATI.

    Sekarang mah NKRI HARGA DAMAI…………!!!!!

    • JGN sembarangan. justru Presiden skrg paling berjiwa NKRI. Analisa lah sendiri.

      1. Narkoba (hukum mati. Banyak org Indonesia mati gara gara narkoba. kalau dulu cuek loe mati urusan loe. mana harga matinya?? sekarang ga da ampun! ayo siapa lebih berjiwa NKRI? ayo jawab !!

      2. Tenggelamkan kapal asing. Nelayan NKRI panen ikan. Pencuri asing Ngabrit. ( kalau dulu cuek amat, presiden sekarang sikattt. ) ayo siapa lebih cinta NKRI? ayo jawab !!

      3. Berantas Korupsi. ( President sekarang lebih berjiwa NKRI dari pada berjiwa DUIT ) sebelumnya cuek, mau negara ini melarat juga cuek amat. ayo yg mana lebih berjiwa NKRI??

      4. Roda ekonomi di putar supaya mencapai 7% dalam 5 thn. Kalau dulu ” AUTO PILOT “. ayo siapa kerja lebih keras?? siapa yg lebih peduli NKRI??

      5. Infrastruktur. Tol laut tol darat. supaya ongkir keluar pulau murah dan harga sembako di luar jawa murah. pikirin rakya di luar jawa. kalo dulu cueekkk. macet ya macet, mahl ya mahal. emang gua pikirin. Siapa yg lebih berjiwa NKRI??

      • yang berjiwa NKRI ya seluruh presiden to bung, semua presiden bagus.
        dari pak Karno sampai pak Joko.
        kalau mau dibanding-bandingin ya semua ada kurang lebihnya.

  49. Tdk mungkin asu menginginkan it,su35 adlh pesawat yg akn jd mimpi buruk bgi F35 ausi dn singpor,jangkauan radar irbis e,dn kemampuan manuverx tdk bs d tandingi oleh ayam kalkun dr barat itu,klo seandainx indonesia jd mengakusisi su35,qt akn buktikn sejauh mana kemampuan su35 vs F35 krn cm it lwn tnding yg msuk akal.gripen memang bagus,tp untk klas pncegat.klo mw menguasai udara hrus SU35 pilihanx.NKRI HARGA MATI.komentr pembuat tusuk sate.slm hangat.

  50. Setuju Bung sopir bajaj, bahwa pilihan user no.satu adalah SU35, yg lain adalah utk memenuhi syarat UU.
    Yang paling cocok dng Indonesia dng wilayah seluas Eropa, hanyalah Su family. Sebagai senjata penggentar, SU cukup dapat diandalkan utk membikin musuh gentar dan membikin teman segan. Beli mahal kalau tidak punya efek gentar tapi malah bikin geli ya percuma.

    Kalau bicara TOT, UU mengamanatkan kepada PT.DI, dan telah mengajukan Typoon sebagai usulannya, mungkin berlanjut kepada IFX yg akan menggunakan mesin EJ200. Kerjasama dengan Airbus telah terbukti lancar dan menguntungkan. Ancaman embargo dan persyaratan tetekbengek jauh lebih kecil dibandingkan dng produk USA.

    Utk patroli dan ngejar pesawat sipil yg slonong boy serta utk latih lanjut serahkan saja kepada TA/FA50 bikinan Korsel. Penggunaan mesin dan komponen dari USA dipertimbangkan utk jadi pesawat lapis 3.

    Maaf hanya pendapat oot dari pedagang ayam di pasar.

  51. baca komen bung GI memang sgt menarik dg tutur bahasa yg teratur …

    ane salut dg kemampuan gripen take off & landing di jln tol, cuma … bung GI lupa kondisi tol di negeri kita, coba ingat pswt tempur punya air intake yg rendah, apapun mereknya ! ane hampir tiap hari pake jln tol … byk sekali sampah berbahaya, dari pasir, tanah, batu split, balok kayu, onderdil, sampe potongan besar ban vulkanisir !!! … tambah lg kondisi fisik jln tol yg tdk rata alias bergelombang plus jejeran rambu penunjuk plus lampu jalan.

    apa musti kerahkan ratusan pasukan cleaning service dulu … buat bersihkan semuanya ??? dlm situasi darurat … gripen tdk kayak turun di jln tol !!!

    • Monggo ente perhatikan air intake si gripen dibanding pespur2 yg lain? apakah air intake si gripen lbh rendah dibanding yg lain? coba lihat air intake SU series pada dibawah semua, mirip vacuum cleaner sangat berbeda dgn gripen yg berada disamping bkn dibawah frame. itu menandakan design gripen mmg dirancang utk mengantisipasi hal yg demikian termasuk rentang sayap yg relatif lbh kecil dibanding pespur sekelasnya sprt F16.

      Salam..

      • salam jg bung … memang bagus gripen bisa turun di tol, sdg kondisi tol di kita sangat beda kebersihannya, kita perhatikan lanud & airport selalu hrs steril dari partikel … berlaku utk semua jenis pswt

    • Jangan karena ketidak sukaan anda akan sesuatu lalu membuat pikiran kita tertutupi diakibatkan krn ketidak sukaan kita tsb. padahal otak kita jika digunakan luasnya melebihi luasnya samudera bung? dan itu baru 10% yg masih dimaksimalkan.. move on bung..! lupakan ketidak sukaan..! maksimalkan pikiran kita utk masa depan yg masih sangat panjang utk dijalani.

      Salam..

  52. Kalo begitu bungkus Gripen NG sebagai pengganti f-5 dan SU-35S sebagai heavy fighter nya, ditambah SU-34 fullback ( semuanya full armament ) !!!
    …………………… gitu aja kok repot !!!

  53. benar benar artikel yang matoh…

    makasih Bung Antonov dan Maksih Bung Gripen Indonesia…. anda sudah berusaha membeberkan gambaran masing masing teknologi yang dibawa masing masing pespur andalan anda, dan anda juga saling beradu argumen dengan menampilkan beberapa data yang anda miliki.. salut buat anda berdua.. ijin nyimak aja..

    • sayang kita kekurangan Sales Typhoon dan Rafale. untuk sales f-16 pregi sono jauh jauh

      • Waduhh..! bawa koper yg ada rodanya ya bung..? :mrgreen:

        • sales F-16 block 60 / 70 ndak perlu ada dimari bung.
          lha wong tinggal main dari kedubes US di Merdeka selatan ke Merdeka utara saja.
          Kemarin pas ultah kanjeng mami juga banyak perwakilan US yang hadir. siapa tahu deal eksport Freeport yg tdk jadi dibekukan dibalas dengan F-16 block 60 / 70. ya tau-tau nongol saja di list belanja.
          alasan unit sudah familiar dengan pilot2 kita. unit betebaran di seluruh dunia, nanti PT DI diberi offset buat suku cadang, mekanik TNI AU sudah biasa ngakalin F-16 yang lama dll..dll

      • Lho salesnya F16 kan baru saja pulang setelah ketemu dng P.Luhut,P.RR dan P.MOL. Sayang Om David tidak sempat mampir di forum JKGR. xixixixixi.

    • betul bung.. sayang dari pihak sales Pespur Typhoon dan Rafale belum ikut nimbrung menjelaskan gambaran teknologi yang dibawa masing masing pespurnya disini..
      apakah memang sales kedua pespur ini sudah gagal dan tereliminasi dalam merayu petinggi TNI/ Pemerintah kita untuk mengakuisinya sehingga kedua jenis pespur tersebut tidak menampilkan fitur fitur kelebihan pada teknologinya di JKGR ini seperti yang sudah dilakukan oleh bung GI dan oleh bung Antonov ( maaf bung Antonov dan bung GI saya bukan bermasud menganggap anda sebagai salesman produk2 tsb., he.he.. )..
      atau jangan jangan malah para petinggi kita telah mengakuisi kedua jenis pespur Rafale dan typhoon ini??
      sungguh benar benar misteri strategi yang belum terkuak sampai saat ini akan pilihan pespur pengganti f5 tiger..

  54. kalau emang tujuannya untuk menggantikan f 5 ya lebih baik gripen NG saja karena emang satu fungsi sama f 5 dan yang lebih penting gripen menawarkan TOT nyaaaaa jugaaa, nah kalau masalah SU 35 penting jugaaaaa karena untuk menghadapi pesawat pesawat tempur tetangga kita yang katanya lebih super power dari pesawat tempur kita yang sekarang dan SU 35 bikin squadron baru ajaaa sekalian untun melengkapi flankers family. JANGANLAH kita ribut ribut masalah gripen dan SU 35 karena sayaaa yakin seyakin yakinnya pemerintah kita bakal beli dua duanyaaa dan bahkan saya yakin jugaaa yang namanya cocor bebek (su34) sudah ada di NKRI

    salam hangat untuk para warjager. sekali lagi jangan meributkan masalah gripen dan SU35 karena perintah danTNI lebih tau segalanyaaa

    wassalam.

  55. GRIPEN KAKINYA PENDEK.
    Semua brosur Saab/ Gripen menyebut aksi radiusnya 460 km dan 50 menit CAP membawa load out/ external stores 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons. Artinya, bila membawa lebih banyak rudal akan mengurangi aksi radius dan loiter time di posisi CAP.

    Bila untuk misi air-to-ground hi-lo-hi selain membawa bom harus juga bawa rudal untuk pertahanan jadi kira2 sama. Kalau lo-lo-hi (menghindari ground radar) pasti lebih pendek lagi.

    Perhatikan jarak2 ini :
    Pakanbaru – Singapur 300 km
    Medan – Singapur 650 km
    Pontianak – Singapur 630 km
    Batam, T. Pinang – praktis di pekarangan Singapur
    Jakarta – Singapur 860 km
    Kupang – Darwin 840 km
    Kupang – West Coast Australia 620 – 1900 km.

    Silahkan ambil kesimpulan sendiri.

      • Ok Bung GI
        Ini saya kutip verbatim dari sumber anda ternyata hanya ada 2 paragraf yg relevan :

        “The maximum combat radius for Gripen NG on an air-to-surface configuration is approximately 800 nm (1,500 km). This is defined as flying to a target, releasing air-to-surface weapons, and then returning to home base. The actual combat radius depends on the configuration of the aircraft’s external stores, its profiles and the availability of reserve fuel tanks. Gripen NG’s combat radius meets the needs of air forces around the world, but at a much lower cost than its competitors.”

        “The aircraft’s maximum time on station in a mission depends on the stores carried and the distance from the home base to the combat air patrol station. In a typical air-to-air configuration for example, Gripen NG can patrol for over two hours.”

        Paragraf pertama menunjuk kepada air-to-surface mission, yg cuma didefinisikan terbang ke sasaran, meluncurkan senjata air-to-surface, dan kembali ke pangkalan. Informasi yg pelit TIDAK menyimpulkan apa2 selain bisa ngebom, TIDAK memberikan angka perbandingan. Pertanyaan yg krusial menentukan combat radius sebenarnya : jumlah senjata yg dibawa? Apa harus bawa drop tank? Bagaimana profil misinya, hi-lo-hi, atau lo-lo-hi?

        Paragraf kedua menunjuk kepada air-to-air mission sama saja bunyinya.

        Jadi Saab mengerti betul kelemahan Gripen dan menyamarkan di brosurnya yang untuk konsumsi umum.

        Saya penasaran jadi saya cari link lain http://jsfnieuws.nl/wp-content/DutchAirForceAssociation_Gripen_2009.pdf, agak lebih jelas, meskipun minim sekali disebutkan : “2xRAMJET BVR + 2xWVR Mach 1.1 26 min to station 50 min CAP”. Ini yang saya tulis di artikel saya dan dasar saya komen Gripen kakinya pendek.

      • Sy tidak perlu berdebat mengenai jarak jangkau Gripen — memang jarak jangkaunya terbatas, tapi kira2 seimbang dengan F-16.

        ###Sebenarnya utk Indonesia, Gripen lebih menguntungkan, sebab tidak spt F-16 yg hanya bisa diisi bahan bakar-nya lewat flying-boom, Gripen sudah compatible ke sistem “probe & drogue” yang ada di KC-130B TNI-AU.

        Untuk kebanyakan negara di dunia, keterbatasan payload / range yg menyertai pembelian pesawat tempur ringan ini sudah cukup.

        Inilah sebab utama, kebanyakan negara di dunia lebih memilih untuk membeli F-16 dibandingkan F-15.

        Pesawat bermesin ganda yang besar dan perkasa tentu punya keunggulan jarak jangkau, tapi biar bagaimanapun, akan membawa logistical footprint yang lebih besar, dan tentu biaya op yg lebih mahal.

        Ini semua hanyalah trade-off yang normal.

        Tidak mungkin mendapatkan kedua2nya.

        Semua pihak tentu tahu keunggulan F-15 dalam payload & range, tapi apakah pembeli sanggup membayar harganya?

        Disinilah pertanyaannya.

        Artikel ini cukup sederhana utk membandingkan F-15 vs F-16 (heavy fighter vs light fighter)
        http://www.diffen.com/difference/F-15_vs_F-16_Fighting_Falcon

        • OK bung GI,
          bagus kalau anda akui “memang jarak jangkaunya terbatas” trims jadi artikel saya benar dong.

          • Gripen jarak jangkau-nya pendek, ini bukan berarti artikel anda benar….

            Tapi seperti sy sudah tulis diatas: Skenario anda salah total.

            ## Tidak mungkin Su-35 dapat mendeteksi Gripen dari 300 km — bahkan dari jarak 200km-pun cukup optimistik.
            Palingan 100 – 150 km, kalau beruntung.

            ## Sebaliknya, Gripen akan dapat melihat Sukhoi dari jarak lebih dari 400 km, berkat RCS tahun 1970-an yg segede gajah.

            ## Terakhir, sudah saatnya anda mengakui.
            Tidak ada missile yg lebih baik dibandingkan Meteor BVRAAM.

            ## RVV-BD ini dibuat untuk menembak jatuh target besar spt AWACS, dan sorry, untuk mengalahkan Gripen, missile spt ini hampir mustahil bisa berhasil. RVV-AE masih lebih mending, oh, tapi jarak jangkaunya hanya 100 km. Jauh dibawah Meteor.

            Lapipula anda lupa, Su-35 tidak dapat membawa RVV-BD. Ini adalah senjata utama untuk MiG-31 Foxhound.

            ## Dengan keunggulan deteksi, dan RCS, kenapa Gripen harus bermain menurut aturan Sukhoi?

            ## Faktor terakhir, tentu saja, pilot Gripen Indonesia akan jauh lebih terlatih dibandingkan pilot Su-35S China.

            Biaya operasional murah = jumlah jam terbang mengikuti standar NATO. Indonesia juga sudah mulai lebih rajin mengikuti latihan2 seperti Pitch Black, bahkan untuk pertama kalinya akan hadir sebagai tamu di latihan Red Flag yang terkenal!

            Pilot Indonesia dengan Gripen, bukanlah tandingannya pilot China dengan Su-35S, yg jumlah latihannya akan sangat kurang.

            ## Dengan sistem TIDLS, dan dengan strategi yang bagus, berkat semua keunggulan diatas, Gripen dapat menyebar dari arah kiri-dan-kanan formasi Flanker, dan mengaktifkan Meteor.

            Hanya perlu satu Gripen yang meng-iluminasi keempat Su-35S. Pilot Gripen yang lain tinggal siap menekan tombol.

            Kohudnas bisa langsung mengancam: “Pesawat tak dikenal! Harap meninggalkan wilayah udara Indonesia! Pesawat anda sudah di-lock-on dan akan ditembak jatuh kalau anda tidak mematuhi! Ini peringatan terakhir!”

            Skenario selesai.

          • Gripen melihat sukhoi dari jarak 400 km, yakiinn bung. mungkin sukhoi super jet-100.

        • Hampir semua pernyataan yg anda tulis tidak disertai konfirmasi bukti data (dari mana saja). Harus jelas, kalau tidak bisa debat kusir yg tidak bermanfaat.

          ## Tidak mungkin Su-35 dapat mendeteksi Gripen dari 300 km — bahkan dari jarak 200km-pun cukup optimistik.
          Palingan 100 – 150 km, kalau beruntung

          Saya minta bukti dari anda. Sebaliknya, saya sudah buktikan di komen no. 57.

          ## Sebaliknya, Gripen akan dapat melihat Sukhoi dari jarak lebih dari 400 km, berkat RCS tahun 1970-an yg segede gajah.

          Saya minta bukti dari anda. Sebaliknya, juga sudah saya buktikan di komen no. 57.

          ## Terakhir, sudah saatnya anda mengakui.
          Tidak ada missile yg lebih baik dibandingkan Meteor BVRAAM.
          ## RVV-BD ini dibuat untuk menembak jatuh target besar spt AWACS, dan sorry, untuk mengalahkan Gripen, missile spt ini hampir mustahil bisa berhasil. RVV-AE masih lebih mending, oh, tapi jarak jangkaunya hanya 100 km. Jauh dibawah Meteor.
          ##Lapipula anda lupa, Su-35 tidak dapat membawa RVV-BD. Ini adalah senjata utama untuk MiG-31 Foxhound.

          Saya minta bukti dari anda. Sebaliknya, dari saya datanya adalah :

          http://defence.pk/threads/new-missile-for-pakfa-rvv-bd.125594/
          http://www.russiadefence.net/t1621p45-meteor-versus-rvv-bd-long-range-a2a-missile
          http://en.wikipedia.org/wiki/K-100_(missile)
          http://indiandefence.com/threads/novator-k-100-awacs-killer.4165/

          Meteor adalah rudal yang bagus, tetapi pernyataan anda “Tidak ada missile yg lebih baik dibandingkan Meteor BVRAAM” masih perlu pembuktian lebih lanjut : jarak, efisiensi pada ketinggian , manuver (Meteor dengan aerodynamic fin yg juga tergantung ketinggian, sedangkan roket dengan skid (throtle exhaust control) + fin. Bisa dilihat di diskusi dalam thread di atas).

          Rudal RVV BD adalah pengembangan rudal udara-udara Rusia untuk PAK FA namun bisa juga diusung oleh seri Flanker lain termasuk Su-35, sebagai rudal jarak jauh 200 km anti pesawat tempur. Meskipun bisa juga untuk menjatuhkan AWACS, namun Rusia punya rudal lain spesialis anti radiasi yang baru yaitu Kh-58UshE jarak jangkaunya 240 km. Selain itu Rusia masih punya rudal Novator K-100 (AWACS killer). Semuanya bisa diusung baik oleh PAK FA (RVV BD dan Kh-58UshE dalam internal weapons bay) maupun seri Flanker lain. Seri RVV adalah untuk ekspor, rudal aslinya lebih jauh lagi jangkauannya.

          ## Dengan keunggulan deteksi, dan RCS, kenapa Gripen harus bermain menurut aturan Sukhoi?

          Tidak ada yg memaksa begitu, kalau tidak terima buat artikel tandingan. Buktikan keunggulan deteksi, dan RCS Gripen, Sebaliknya, juga sudah saya buktikan di komen no. 57.

          ## Faktor terakhir, tentu saja, pilot Gripen Indonesia akan jauh lebih terlatih dibandingkan pilot Su-35S China.

          Saya minta bukti dari anda. Anda terlalu gampang meremehkan pihak lain, pilot China itu sudah satu dekade lebih mengoperasikan Flanker/ J-11.

          ## Pilot Indonesia dengan Gripen, bukanlah tandingannya pilot China dengan Su-35S, yg jumlah latihannya akan sangat kurang.

          Ini jelas asumsi wong Gripen belum dioperasikan Indonesia he he.

          ## Dengan sistem TIDLS, dan dengan strategi yang bagus, berkat semua keunggulan diatas, Gripen dapat menyebar dari arah kiri-dan-kanan formasi Flanker, dan mengaktifkan Meteor.

          Saya minta bukti dari anda, apa saja ok, sumber data, skenario dll.

          • @GI menulis :
            # Sy tidak perlu berdebat mengenai jarak jangkau Gripen — memang jarak jangkaunya terbatas, tapi kira2 seimbang dengan F-16.
            # Gripen jarak jangkau-nya pendek, ini bukan berarti artikel anda benar….Tapi seperti sy sudah tulis diatas: Skenario anda salah total.

            Bagaimana bisa salah total, wong anda sudah akui jarak jangkaunya terbatas seperti disebut dalam artikel? Kontradiktif!! He he

          • Sy juga lupa mencantumkan ini:

            Kontrol source code berarti Gripen Indonesia akan dapat membawa missile jenis apapun juga.

            Improvisasi lokal akan memastikan pylon yg tepat utk membawa missile jenis baru manapun.

            Anda memang pro-buatan Russia. Ini tidak apa2. Perdebatan “missile yg mana?” untuk Gripen sebenarnya sama sekali tidak penting.

            Seandainya memang Russia membuat missile Air-to-Air jenis baru apapun juga, jangan pernah melupakan, kalau Gripen-E/F Indonesia akan dapat membawa missile ini juga.

            Tentu saja, Gripen belum pernah benar2 di tes untuk mengoperasikan missile buatan Russia.
            Tapi kalau memang kualitasnya bagus, Indonesia bisa menjadi yang pertama mencoba.

            Modifikasi source code / pylon yg dilakukan para ahli Indonesia untuk mencapai hal ini, tentu saja bahkan dapat ditawarkan sebagai bagian dari ekspor senjata Indonesia.

            Atau siapa tahu, malah Indonesia mendapat kerjasama lain untuk membuat missile yg lebih hebat?

            Gripen platform tetap akan menjadi pra-sarana yg paling bagus untuk menunjang hal ini.

          • @GI
            Anda masih belum jawab permintaan saya Pembuktian yg saya minta tersebut di atas.
            Anda selalu ngeles sehingga diskusi menuju ke debat kusir.

            Baiklah diskusi dianggap selesai saja.

      • Dadar sales , mengunggulkan keunggulan barangnya dgn menjatuhkan produk lain ,,

        Gripen lawan f15sg menang , lawan f35 menang , lawan f16 block 60 menang hebat kali yaa gripen ini , bodoh sekali korea, arabsaudi, australia, singapore, india gak memilih gripen …
        iyakan bung GI

    • minta pertamina buat SPBU … diatas Awan … Xixixi !

      • Ha ha bung GI masih ngeyel ya. Lihat sumber data dibawah :
        http://www.globalsecurity.org/military/world/russia/su-35bm-design.htm tentang RCS Su-35.
        http://defence.pk/threads/su-30-family.19170/page-4#post486554 tentang RCS pespur.
        http://www.niip.ru/index.php?option=com_content&view=article&id=7:-q-q-35&catid=8:2011-07-06-06-33-26&Itemid=8 brosur pabrikan Irbis E.

        Dengan menggunakan classical radar equation, dimana disebutkan jarak radar berbanding lurus dengan akar 4 dari RCS, pakai spreadsheet dapat dihitung secara teoritis jangkauan radar Irbis E terhadap masing2 RCS :

        RCS (m2) Pesawat Akar 4 RCS Deteksi Irbis E (km)
        0,00018 F-22 0,12 27
        0,00143 F-35 0,19 52
        0,1 0,56 150
        0,5 0,84 224
        1 1,00 266
        2 1,19 316
        3 1,32 350

        Tinggal pilih RCS Gripen mau dimana. Anda sudah tulis 0,1 (tapi tidak bisa memberikan sumber datanya) pastinya kondisi “clean” , kalau dicanteli macam2 senjata, ECM pod, drop tank pasti melonjak. Tinggal pilih saja lonjakannya sampai berapa. Hasilnya tetap saja Irbis E dapat mendeteksi Gripen dari 224 – 350 km. Dan F-22 pada 27 km, F-35 pada 52 km. Itu semuanya “head on”, kalau dari samping kiri-kanan, atas-bawah, tentunya lebih jauh lagi.

        Semua hitungan di atas dapat dibuat grafiknya dan bisa dicocokkan dengan grafik Irbis E di APA. Hasilnya cocok (beda2 tipis-lah). Ha ha ha.

        • MANTAB !

        • Wah tabelnya kacau. Maksudnya begini :

          (1) RCS (m2) (2)Pesawat (3)Akar 4 RCS (4)Deteksi Irbis E (km)
          (1) = 0,00018; (2) =F-22; (3)= 0,12; (4)= 27
          (1) =0,00143; (2)= F-35; (3)= 0,19; (4) 52
          (1) =0,1; (2) – ; (3)= 0,56; (4)=150
          (1) =0,5; (2) – ; (3)= 0,84; (4) 224
          (1) =1; (2) – ; (3)= 1,00; (4) 266
          (1) =2; (2) – ; (3)= 1,19; (4) 316
          (1) =3; (2) – ; (3) 1,32; (4) 350

          • http://www.globalsecurity.org/military/world/russia/su-35bm-design.htm

            Untuk RCS Su-35 ini sangat menarik kalau memang sekitar 1 m2.

            Memang pengurangan RCS yg paling besar itu di inlet mesin — kipas dari mesin harus disembunyikan agar tidak memantulkan gelombang radar. Desain Su-35S sendiri memang lebih bersih untuk pengurangan RCS dibanding MKI atau Su-27.

            Tetapi mengurangi RCS dari aslinya yg 15m2 ke 1m2 ?

            Setahu sy, kecuali memang pesawat di-desain dari awalnya untuk low RCS, atau low observability, seperti Eurocanards dan Super Hornet (4 model baru terakhir), lebih sulit untuk pesawat2 legacy tahun 1970-an untuk mengurangi RCS sampai sebanyak itu.

            Sy sudah menghubungi globalsecurity.org untuk meminta konfirmasi kebenaran angka ini.

            Halaman ini saja masih menuliskan nama yg salah — Su-35BM sbnrnya adalah nama yg salah untuk model ini.
            Nama resminya selalu Su-35S, atau Su-35-1 — jadi kemungkinan halaman ini sendiri sebenarnya sudah outdated.

            Terakhir, website ini juga masih menunjuk development R-77-PD atau versi ramjet dari R-77. Ini juga menunjuk kepada info yg outdated (ketinggalan).

            Menurut laporan dari Defence Technical Information Centre (DTIC) dari Amerika Serikat (mereka bekerja untuk Pentagon) — ttg rancangan desain missile ramjet.

            PDF yg sudah di-release resmi ke umum, menyebutkan kalau missile RVV-AE-PD, atau R-77PD sendiri sebenarnya development-nya hanya terbatas di tahun 1999, dan sepertinya sudah dihentikan.

            http://dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/p013518.pdf

            Website resmi: http://www.dtic.mil/dtic/

            Tapi laporan2 ttg Su-35S memang juga agak berlawanan satu sama lain.

            Bbrp website melaporkan tipe ini bisa supercruise, tapi Sukhoi sendiri tidak mengkonfirmasi, dan kebanyakan website yang lain juga tidak menuliskan kemampuan ini di Su-35.

            PAK-FA yang memakai subvariant mesin 117S dari Su-35 sudah dinyatakan “underpowered”.

            Jadi tunggu saja berita selanjutnya.

        • Research ttg RCS ini cukup sulit, dan banyak gombalisasi di forum2.

          Sedangkan pembuat2 pesawat biasanya tutup mulut — kecuali F-22 dan F-35 yang memang RCS-nya dipublikasikan.

          Tapi sumber informasi dari thread ini sendiri cukup membantu. Ada bbrp referensi pdf (matematik habis2an) dari bbrp sumber dalam thread ini, untuk konfirmasi teori mereka.

          http://defence.pk/threads/external-load-rcs-%C2%85is-it-that-bad-why.117976/

          Post pertama juga sudah menunjukkan kalau Eurocanards rata2 akan mempunyai RCS <1 m2. Ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum.

          External load spt pod, missile, dsb, memang menambah RCS.

          Tapi ini bukan berarti RCS berarti ditambah = 1 + 1 +1 m2 = 3 m2.

          Karena mother-ship-nya sendiri saja sbnrnya RCS-nya lebih besar daripada pylon + missile yg dibawanya.

          Sekali lagi sy ulangi, RCS Gripen ada di level 0,1 m2, dan menambah pylon, & missile tidak akan menambahnya jadi banyak.

          Forum South African Air Force juga sudah menkonfirmasi ini (berita unofficial, tapi jadilah!) — ingat, mereka mempunyai sekitar 26 Gripen-C/D.

          http://www.saairforce.co.za/forum/viewtopic.php?f=2&t=1552

          Jadi sekali lagi saya mengulang, terlalu optimis kalau mengambil asumsi IRBIS-E dapat melihat Gripen pada jarak 200 – 300 km .

          • 0,1 m2 hanya untuk versi Gripen-C — dan spt sy sudah tulis di atas, SAAB sudah menurunkan RCS ini ke level yg lebih rendah lagi.

            Ke angka berapa? Mrk memang sengaja tidak memberi tahu.

          • @GI
            Kita lihat tabel saya di atas, kita ambil start angka RCS 0,1 m2 kondisi “clean” seperti yg anda tulis. Bila kondisi operasional maka RCS akan melonjak mulai ke 0,5 sd 3 m2. Itulah dasar saya bahwa Irbis E dapat mendeteksi Gripen dari dari 224 – 350 km.

            Sebaliknya, secara teoritis dapat pula diperkirakan kapan Gripen bisa mendeteksi Su-35. Untuk ini kita perlu data radar Selex nya : estimasi range vs RCS.

            Sayang saya tidak dapat menampilkan rumus lengkapnya disini. Karena perhitungan berdasarkan rumus matematis, maka tidak dapat di-deny lagi. Ingat bahwa fitur terpenting rumus adalah ketergantungan terhadap akar 4 RCS. Variabel lainnya rumus adalah konstan dan tergantung radarnya , kecuali RCS sasaran.Selain transmit power radar, dapat diasumsikan semua faktor lainnya adalah konstan.

          • @GI
            “Menambah pylon, & missile tidak akan menambahnya jadi banyak.”.
            Tapi tetap ada lonjakan. Dalam profil misi pada artikel saya tambahannya adalah : load out/ external stores 2 rudal Ramjet (Meteor) BVR dan 2 rudal WVR serta satu drop tank 450 gallons. Cukup banyak. Apalagi rudal Meteor bentuknya tidak streamline, punya tonjolan air intake ram jetnya yang berpengaruh besar pada lonjakan RCS.

          • Postcript:

            Ingat, Su-35 tidak akan pernah dicoba dalam latihan bersama NATO, sama seperti sekarang ini Gripen-C sudah aktif dicoba oleh AU Checzh dan Hunggaria.

            Kabar di Internet memang menyebut RCS Su-35 antara 1 – 3 m2. Tapi kapan angka ini akan benar2 teruji. Russia skrg sudah dimusuhi banyak orang, dan dari segi sejarah, mereka memang tidak pernah mengorganisasi latihan udara mancanegara seperti Amerika, Australia, dan negara2 NATO.

            ———————-

            Gripen-C sudah di-desain dari awal untuk “all-aspect low observability”, dan mempunyai RCS dasar yg 0,1 m2 — dengan menambah senjata + pylon, bukan berarti RCS bisa melonjak ke 1 m2 atau 3 m2.

            Gripen-C yang dipakai dalam latihan NATO bukannya terbang “kosong”, atau “tanpa pylon” — tetapi mereka pasti membawa CATM (Captive-Air-Training Missile) — missile tiruan tanpa mesin, atau live warhead, tapi dengan active guidance system untuk membuat simulasi tembak-menembak air-to-air dengan pesawat lain.

            Paling banyak, RCS untuk Gripen-C yang bersenjata lengkap hanya akan naik ke 0,15 m2.

            Untuk Gripen-E tentu saja bukan mainan di level yang sama.

            Ini belum menghitung efek dari sistem jammer modern yg akan memperlengkapi Gripen-E — mungkin malah yang paling modern di dunia. Kita tunggu saja berita lebih lanjut ttg hal ini.

            Kalau melihat sistem Thales Spectra di Rafale — rumornya mengatakan sistem EW / Jammer Perancis ini saja dapat membuat Rafale tidak terlihat di radar.

            Hal ini tentu saja sukar dikonfirmasi. Faktanya, kompetitor terdekat (mngkn Eurofighter) SAAB sudah memuji mereka, sistem jammer / EW Gallium Niitride di Gripen-E akan 5 – 6 tahun lebih maju dalam development dibandingkan semua pilihan lain.

          • @GI = kalo anda nulis rcs disertai angka, tulis juga sumber nya , atau ditulis menurut saya.dari kemarin anda koar2 0,1 ane desak .ternyata sumber dari anda sendiri.lagi2 0,1 di umbar2 terus.cari sumber data yang valid, baru koar2 ..jangan ngeles mulu.kalo di desak ente ngeles, rcs rahasia lha kenapa anda koar2 0,1 klo itu rahasia.

            sekiranya bukan dari sumber resmi bilang donk…. ini namanya kriminalisasi informasi (hiperbola dikit)

          • Diskusi yg menarik, sayang dikotori ketidaksepakatan RCS. Pembaca gagal mendapat kesimpulan…

  56. makin seru aja, yah menurut saya mana aja yang dipilih. yang palimg penting mesti DIBELI.

  57. gripen pasti kalah lawan super tukin0

  58. Setelah debat begitu panjang, kita tau kalau pengganti F-5 kemungkinan besar SU35, Gripen NG, F-16 b60 dan Typhoon dan Rafale.

    Ane pilih:

    1. Typhoon Trance 3 berikut Captor E ( karena harga sama Gripen NG, tapi ini bermesin ganda, kemungkinanan dapat TOT mesin dan radar dan terbukti dpt mengalahkan F22. Source code pun mungkin dapat. dan kemungkinan besar jadi distributor typhoon asia pasifik, sayang operation cost lumayan mahal dan bisa saja di embargo. tapi ini konsorsium negara eropa )

    2. Gripen NG ( sayang harga sama typhoon sama dan mesin hanya 1, Aesanya kalah sama Typhoon. TOT tidak 100% karena mesin dari USA dan yg lain lagi dari UK. Tapi mempunyai keunggulan di maintanance cost yg murah dan free source code. RC S yg rendah dan gesit .senjata bisa dari USA dan Eropa.)

    3. SU35 ( Harga murah $85Jt, Efek deter bagus, tdk usah takut di embargo, sayang Spare partnya susah dan ready ratenya rendah, sekali tarik Rp400jt/jam. depresiasi barang tinggi. contoh 2701, 2702, 3001,3002 baru 6 thn di kandang sekarat.)

    4. Rafale ( Harga MAHAL, TOT pelit, Tetapi teruji dalam peperangan dan kemungkinan di embargo sangat kecil. Seandainya Rafale kasih TOT 100% dan Radar AESAnya ready ini kemungkinan saya taro di urutan 1.)

    5. F-16 B60 ( SAMPAH ! jgn deh jgn pokoknya jgn !!, Takuuuuut Embargo. sampai sekarang Amraam belum kenjung datang, Airframe retak sana retak sini, Wong empunya saja sudah kaga beli. Israel saja sudah liatnya ke F-35. AESAnya hanya 1000 module. kalah sama upil yg F-15nya punya 1500 module apalagi kalau di bandingkan dengan Captor E jauuuhhhh.) Harganya? Loe kira murah?? Blok 60 $120m. cuma beda $20m sama F-15SE dan $30m sama F35. Dikadalin Ente!!!

    • rcs terendah di antara 5 pilihan teratas adalah typhoon dan rafale di kisaran 0.1sqm dalam keadaan kosongan. gripen ng otomatis di atas kedua pesawat yang saya sebutkan. hal tersebut di dapat dari penggunaan material komposit terkini sehingga membuat harganya membengkak. jika saja kita punya kemampuan membuat komponen komposit se kualitas yang digunakan di typhoon atau rafale otomatis masa depan ifx sudah ada di tangan. malaysia bisa supply komposit untuk airbas karena mereka punya perusahaan sekelas ctrm.

      • Wah bahaya dong. masa malaysia bisa buat Indonesia belom bisa.

        Setuju kalau pilih Typhoon. asalkan radarnya sudah Captor E. bisa di bilang ON par sama F15 singapura bahkan mungkin lbh hebat.

        Bisa bayangkan kalau Typhoon bagi TOT buat Captor Enya. mungkin kah?

        masih 50:50 saya rasa. Seandainya kalau memang di kasih . pasti minimal pengambilan 32 unit.

        Bisa bayangkan kalau Indonesia bisa bikin radar AESA?? luar biasa.

        AESA Bisa di instalasi ke semua kapal tempur TNI AL. bahkan untuk arhanud.

        Bahkan di bisa di instalasi ke tank. Ada yg bisa buat radar yg bisa deteksi pergerakan benda dan binatang di lapangngan. jadi kelinci bergerak bisa ketauan di mana apa lagi manusia?

        Siapa yg buat? hehehe kalian tau lah siapa.

        • “Typhoon as an airframe is particularly well adapted to mounting an AESA radar due to the comparatively wide nose cross section which allows the mounting of a larger AESA array than many competing aircraft such as the Rafale, F-35 or F/A-18E/F. This is important because the capability of an AESA radar corresponds closely with the total number of TR modules that are incorporated within the array. Therefore, a larger nose section can mount a wider AESA with more TR modules. ‘Captor-E’ incorporates around 20% more TR modules than the AESA radars mounted on the F/A-18E/F and F-35 and up to 40% more than the Rafale’s RBE2-AA, giving greater range and resolution over those systems. In addition, the Captor-E will also be mechanically gimballed so that it can be slewed within the nose of the Typhoon, increasing the coverage of the radar from around 90° to 120°. (See Figure 1)”

          Lebih hebat dari Aesa si rafale

      • Gripen RCS-nya lebih rendah dibanding Typhoon (0,5 m2).

        Kemungkinan besar untuk versi Gripen-E, RCS-nya kurang dari 0,1 m2.
        Ini justru pesawat non-stealth yg RCS-nya paling mendekati steatlh — krn memang sudah di-desain seperti itu dari awal.

        • tolong diberikan data rcs gripen ng-nya. mungkin google saya lemot jadi belum ketemu2.

          • Ya persis Bung Alugoro
            Saya juga pingin tahu data dari mana (supaya semua clear dan hindari asal nulis).

          • Memang RCS Gripen memang sengaja tidak pernah diberitahukan.
            Yang pasti, pesawat ini sudah di-desain dari awal untuk low-observable, tapi menjauhi konsep murni “stealth”.

            “First of all, we don’t really believe in the total stealth value, especially if you consider the current stealth fighters in service, their technical problems and unbalanced cost-benefit. If you look at the spectrum(¹), stealth means as maybe couple of millimeters of the Wide Spectrum Combat, which is about a half of a meter if you go on infrared, radar, high frequency (…). What we try to achieve is a balanced design that let us stealthy enough over the all the spectrum, not as others being stealth in a very, very narrow spectrum. It’s really hard to go in details on this; what we’ve done, what kind of methods we’ve using, because it is not only a company secret but a national secret as well”, finish the VP, Head of Gripen Export.

            Sumber:
            http://www.defesanet.com.br/gripen/noticia/7669/GRIPEN—A-ticket-to-the-future/

            RCS — itu sebenarnya sifatnya rahasia.

            Saya memang cuma bisa mereka-reka, dari berita simpang-siur di Internet.

            Semua sumber mengenai RCS kebanyakan berdasarkan dari berita simpang-siur, dan belum tentu dapat dipercaya.

            Yang pasti, pesawat tempur berat di kelas F-15 / Sukhoi, produksi tahun 1970-an, boleh dibilang adalah rahasia umum == RCS akan melebihi 10 m2.

            Dan untuk pesawat stealth === kurang dari 0,01m2,

            Tapi angka persisnya berapa, untuk setiap model baru sekarang, kecuali untuk promotional material, kebanyakan pembuat pesawat tidak akan mau menjawab.

            Sy hanya melihat hasil yang paling real adalah dari latihan AU Hungaria — yg menyatakan Gripen-C mereka “tidak terlihat” di radar pesawat NATO yg lain.

            APG-66-upgrade di F-16MLU sebagai referensi — kira2 sebanding dengan APG-68v5 atau v7.

            Dari sini, bisa membuat estimasi kira2 seberapa.

        • @bung Gripen-Indonesia = sumber resmi mana bung?jangan2 anda ngambil dari forum luar?

          tomcat21 wrote:
          Oh really?
          Have you ever read what I wrote before? The Gripens had their… muzzles kicked 4:0 by Polish F-16 Block 52+ on Loyal Arrow – mainly due to be detected first.

          Yes, I read it and I responded to it looooooong ago.

          Because there is no way a simple F-16 could ever best the mighty Gripen without the Gripen having 101 handicaps placed on it, I am right…… 🙄 😆

          I guess nothing is impossible.

          But, considering that the Gripen beats the F-16 in:

          Maneuverability: Gripen better at all speeds, especially when supersonic.

          ITR: F-16 26 deg/sec. Gripen >30 deg/sec.

          STR: F-16(C) 18 deg/sec. Gripen 20 deg/sec.

          Wing loading: Gripen has MUCH lower wingloading.

          Drag: Gripen has much lower drag. Even though the Gripen has a lower TWR, it can still outclimb the F-16 at certain speeds. It is also faster, especially on dry thrust.

          Radar range: F-16 90-105km. Gripen 120km.

          RCS: F-16 1.2m2. Gripen <0.1m2 "

          sumber = http://www.f-16.net/forum/viewtopic.php?f=30&t=1029&start=255

          dari situ ya?ada yang resmi dari saab atau yang lain?
          kalau ga ada jangan di post sama aja pembohongan public.ingat bung indonesia di kelilingi negara dengan alutista canggih semua, mau di taruh dimana gripen?selatan VS F35 Ausi ?sonoara ..ketemu F15, F18? LCS ketemu SU35? apakah untuk ngejar pasawat sipil selonongan…(yg ini masuk akal)

          hemat saya , SU35 wajib agar kedaulatan Negara ngga di obok2 asing, diplomasi juga punya taring.

          • Seperti sudah sy tuliskan, forum bukanlah sumber berita yang bagus untuk di-quote.

            Yang pasti adalah RCS untuk Gripen akan lebih rendah dibandingkan RCS Typhoon yang 0,5 m2

            Quote:
            “SU35 wajib agar kedaulatan Negara ngga di obok2 asing, diplomasi juga punya taring.”

            Terserah pendapat anda — tapi pembelian Su-35 berarti kita akan diobok2 asing, dalam hal ini Russia.

            Silahkan menulis e-mail atau menelepon langsung agen KNAAPO atau Rosoboronexport, dan menanyakan langsung, apakah mereka dapat memberi garansi supply spare part ke Sukhoi?

            Pastikan supaya kita tidak diperlakukan sama dengan India, yg adalah customer terbesar mereka!

            http://timesofindia.indiatimes.com/india/India-looks-to-other-countries-for-spares-of-Russian-military-equipment/articleshow/8173419.cms

            Tanyakan juga langsung, apakah Su-35 yang sudah dibeli akan terus di-upgrade, sama seperti F-16 atau Gripen?

            Kalau tidak, Su-35 di tahun 2030 hanya akan menjadi macan ompong dihadapan F-16 Block-90 dengan AESA-2, rail-gun, dan cloaking device (!!)

            Nah, nanti, kalau sudah dapat jawaban yg memuaskan, silahkan post disini.

          • pertanyaan belum terjawab anda kan punya statement gripen RCS < 0,1 m2 , dpt angka 0,1 darimana?

          • Sy copy dari jawaban sy di atas:

            Memang RCS Gripen memang sengaja tidak pernah diberitahukan.
            Yang pasti, pesawat ini sudah di-desain dari awal untuk low-observable, tapi menjauhi konsep murni “stealth”.

            “First of all, we don’t really believe in the total stealth value, especially if you consider the current stealth fighters in service, their technical problems and unbalanced cost-benefit. If you look at the spectrum(¹), stealth means as maybe couple of millimeters of the Wide Spectrum Combat, which is about a half of a meter if you go on infrared, radar, high frequency (…). What we try to achieve is a balanced design that let us stealthy enough over the all the spectrum, not as others being stealth in a very, very narrow spectrum. It’s really hard to go in details on this; what we’ve done, what kind of methods we’ve using, because it is not only a company secret but a national secret as well”, finish the VP, Head of Gripen Export.

            Sumber:
            http://www.defesanet.com.br/gripen/noticia/7669/GRIPEN—A-ticket-to-the-future/

            RCS — itu sebenarnya sifatnya rahasia.

            Saya memang cuma bisa mereka-reka, dari berita simpang-siur di Internet.

            Semua sumber mengenai RCS kebanyakan berdasarkan dari berita simpang-siur, dan belum tentu dapat dipercaya.

            Yang pasti, pesawat tempur berat di kelas F-15 / Sukhoi, produksi tahun 1970-an, boleh dibilang adalah rahasia umum == RCS akan melebihi 10 m2.

            Dan untuk pesawat stealth === kurang dari 0,01m2,

            Tapi angka persisnya berapa, untuk setiap model baru sekarang, kecuali untuk promotional material, kebanyakan pembuat pesawat tidak akan mau menjawab.

            Sy hanya melihat hasil yang paling real adalah dari latihan AU Hungaria — yg menyatakan Gripen-C mereka “tidak terlihat” di radar pesawat NATO yg lain.

            APG-66-upgrade di F-16MLU sebagai referensi — kira2 sebanding dengan APG-68v5 atau v7.

            Dari sini, bisa membuat estimasi kira2 seberapa.

          • “(Sy) copy dari jawaban (sy) di atas:” <— anda sendiri yang bilang.

            berarti boleh dikatakan RCS gripen < 0,1 itu statement anda.
            (ini dijawab dulu)

            untuk masalah india saya kira banyak faktor bung, beda cerita kalau cina juga mengalami hal yang sama (jelaskan juga dengan china jangan dipakai india terus sbg acuan flanky troble terus)… dan kenapa tuh kalau india bermasalah kerjasama Pak Fa Lanjut terus.
            masalah diupgrade apa ngga siapa yang tau bung , "saya suruh nanya ke rusia?" mustahil. siapa gw…?

            intinya gambaran diatas menjelaskan (seandainya indonesia jadi beli gripen) Gripen NG INA vs SU 35 China sudah tepat, seandainya yang di pakai bukan china , tp upil dan sonotan , sudah keliatan hasilnya.

            Maaf kalo ada salah kata, cuma ingin meluruskan pro dan kontra Gripen NG , di tunggu artikel nya yang berimbang bung, ada kelebihan pasti ada kekurangan

          • Quote:
            [gambaran diatas menjelaskan (seandainya indonesia jadi beli gripen) Gripen NG INA vs SU 35 China sudah tepat, ]

            Itu terserah pendapat anda.

            Dimana strateginya untuk Gripen TNI-AU dalam skenario di atas?

            Gripen-E mempunyai keunggulan perlengkapan, RCS yang lebih rendah, persenjataan yang lebih baik, dan sistem network terbaik di dunia.

            Dengan biaya operasional Gripen yg murah, jumlah jam terbang latihan pilot Indonesia dengan Gripen-E tentu jauh lebih banyak dibanding pilot China dengan Su-35S — jadi pilot kita sendiri dalam skenario di atas tentu akan jauh lebih mahir.

            Karena itu, kemampuan pilot kita jauh lebih handal — mereka akan mengetahui persis kelebihan, dan kekurangan pesawat mereka, dan tentu mereka akan tahu benar bagaimana caranya mengalahkan F-15SG atau Sukhoi Flanker.

            Mengapa Indonesia malah mengambil strategi yg sedemikian bodoh hingga dapat dipercundangi Su-35… (berbuat persis yg akan diharapkan pengguna Su-35) dan bukannya memanfaatkan semua keunggulan platform Gripen mereka untuk mengalahkan lawan?

            Yah, begitu saja.

          • @pensilajib

            Untuk China vs India

            Ada perbedaan yang jelas disini.

            India paling tidak mentaati kontrak mereka dengan Sukhoi, tapi mereka mendapat perlakuan yg begitu jelek.

            Tentu saja krn India (lebih demokratis), mereka juga lebih transparan mengenai masalah2 dengan supplier Russia — dan skrg ini menjadi rahasia umum

            Sebaliknya untuk China,
            tentu saja mereka sudah termasyur, tukang foto-kopi. Disini, justru Russianya yg complain, krn J-11B dan J-15 itu adalah illegal copy.

            Ditambah karena negara ini cukup authoritarian, apakah kalau mereka ada problem dengan senjata buatan Russia, apakah mereka akan menuliskan di media massa?

            Tidak, mereka tentu akan menyiapkan solusi praktis (diam2), tapi belum tentu hasilnya bagus.

            Contoh penyelesaian masalah ala China;
            Agar susu bayi kelihatan dapat mengandung lebih banyak protein, apa salahnya kalau dicampur dengan melamine?

            http://en.wikipedia.org/wiki/2008_Chinese_milk_scandal

            Mereka tidak patut dilirik, apalagi dicontoh.

            Mana mungkin Indonesia dapat dihargai dalam kerja-sama internasional, kalau perlakuannya seperti China?

            Kalau mau menyorot masalah2 spesifik soal China, coba saja cari kata “Liaoning” di halaman ini.

          • masih belum dijawab point penting tulisan saya =

            “(Sy) copy dari jawaban (sy) di atas:” <— anda sendiri yang bilang.

            berarti boleh dikatakan RCS gripen < 0,1 itu statement anda.
            (ini dijawab dulu)
            ???????????

          • Itu sudah terjawab.

            Angka 0,1 m2 itu adalah angka estimasi sy dari bbrp pernyataan di forum, dan dari pengalaman AU Hungaria.

            Ingat — angka ini mungkin tidak reliable — krn forum-source (sama dengan semua referensi dari artikel di atas )

            Kedua — angka yg dicelotehkan di forum2 hanyalah estimasi untuk Gripen-C.

            Untuk Gripen-E, SAAB sudah menyatakan kalau RCS-nya lebih rendah lagi. Sistem EW di versi -E juga sudah jauh lebih modern, dan dapat mengurangi kemampuan lawan untuk mendeteksi.

            Jadi, angka 0,1m2 untuk Gripen-E boleh dibilang hanyalah angka rasional. Kemungkinan malah dapat lebih rendah lagi.

            SAAB tentu saja tidak akan mau buka rahasia.
            Inilah justru kuncinya.
            “Gripen willl not stop to surprise you!”

            Kalau mau beri estimasi yg lebih besar, anda boleh taruh angka 0,5 m2, yang sebanding dengan Typhoon. Ini juga sudah sulit bukan main untuk dilawan.

            Dalam skenario diatas, equasinya akan tetap sama:
            Su-35 justru terlalu optimistik kalau dapat melihat Gripen dari jarak 200 km.

          • Ada yg punya sumber kalau RCS Gripen bukan 0,1? Klo nggak ada kita terpaksa setuju dg asumsi Bung GI.

  59. @ Bung Antonov & Bung Gripen Indonesia, brilliant-perfect-sophisticated presentasion. Tapi bung Gripen Indonesia, nickname bung seperti “REAL SALES GRIPEN” mengingat tulisan/analisa Gripen tidak menyebutkan kekurangan/kelemahan gripen itu sendiri. Tapi gimana pun Gripen & Sukhoi 27/30/35/PakFa beda kelas. Gripen mungkin sebaiknya disandingkan dengan F16/Hawk/Typhoon?(2 engine)/Rafale (2 engine). Kalau utk menandingi ancaman F35/F22, rasanya cocok Su 35. Untuk sekedar mengganti skuadron F5, mungkin Gripen. Tapi gripen engine nya produk USA juga…(bingung). Mungkin Rafale saja kali yang pake engine nya made in Prancis sendiri…….(Mei Bi Yes/Mei Bi No)

  60. Perhatikan jarak2 ini :
    Pakanbaru – Singapur 300 km
    Medan – Singapur 650 km
    Pontianak – Singapur 630 km
    Batam, T. Pinang – praktis di pekarangan Singapur
    Jakarta – Singapur 860 km
    Kupang – Darwin 840 km
    Kupang – West Coast Australia 620 – 1900 km (ibid Bung Antonov)
    Seandainya luas kita seluas Malay or Thailand, mungkin pilihan selain SU fam is ok. Dan kemungkinan datangnya ancaman dari ujung Utara dan Selatan, dua ujung. Like Bung Antonov

  61. Yg blg sukhoi tni mangkrak siapa?mana buktinx?jgn asal ngomong deh,,klau tni tw sukhoi cpt rusak gak mungkin mnemptkan sukhoi 35 BM jd pilihan utama.mikiiiirr!!!gripen psawat bagus,tp untk negara sbesar singapur,untk indonesia memang qt lbh btuh su35,jgn blg dana gak ad,bwt ap qt bayar pajak tiap tahun klo cm bwt d korupsi??

  62. WES mau SU 35 atau Gripen Atua Dua2nya

    Sekpenteng Gek Ndang Dituku

  63. “As matters stand, Typhoon production lines will close by 2018 without further foreign orders. Even worse, the production lines for certain sub-assemblies and components may shut as soon as 2015. For the sake of defence industrial resilience, as well as safeguarding the sustainability of current partner nation fleets, the Typhoon consortium needs new export success, and soon.”

    Mudah mudahan Indonesia mengambil kesempatan ini untuk meminta TOT 100% termasuk mesin dan AESA.

  64. Ayo dipilih dipilih mumpung belum diambil keputusan beli yang mana? Jangan2 akhirnya malah jf 17 yang dibeli…? He…he…

  65. buat semua temen2 yg berpartisipasi di Jktgr ini, mengutip dari MILITER INDONESIA (MI), Kamis 15 Jan 2015 yg lalu Dubes Rusia utk Indonesia telah bertemu dgn Pak Menhan RI, inti pembicraannya, RUSIA SIAP MENJALANKAN PROSES T.O.T, JOINT PRODUCTION UTK MENGHASILKAN BERSAMA SUKU CADANG BERBAGAI ALUTSISTA, MENGEMBANGKAN SKEMA OFFSET TERMASUK JUGA DIDIRIKANNYA SERVICE CENTER.

    jadi bila ada kekhawatiran selama ini sulitnya memperoleh suku cadang alutsista Rusia, maka itu bisa diatasi dgn Joint Production & service center di Indonesia

  66. asyik nambah ilmu bwt ane biar gk mumet,,,,meskipun gak jadi dibeli tuh gripen ama su- 35……he 3x

  67. Pesawat apapun jika membawa lebih banyak external payload akan mengalami penurunan range dan combat radius, karena gaya hambat aerodinamik akan bertambah. Sederhananya, cross section total pesawat bertambah, gaya hambat akibat interferensi pesawat dan rudal, dan gaya hambat akibat nozzle rudal yang tidak mengeluarkan jet saat masih terpasang.

  68. Nubi umpang nanya para sesepuh,

    Klo kita beli SU-35 dan dikasih cara perawatannya komplit special pake telor.
    tetapi TOT-nya kita dapet SU-27 ato SU-30 komplit bisa g ya?? (Dan mau atau tidak?)

    Kita kan juga pakai SU-27 & SU-30 jg. Dan sudah tahu kelebihan dan kekurangan.

    Maaf jika ada salah kata.

    • ToT dari Sukhoi hanya akan membawa banyak masalah.

      India mendapat 100% ToT untuk Su-30MKI, dan lihat saja pengalaman mereka:
      http://www.defenseindustrydaily.com/india-ordering-modernizing-su-30mkis-05852/

      — Kesiapan mengudara untuk Sukhoi mereka hanya 48% (2013) sampai 55% (2014)

      — Terlalu banyak Sukhoi mereka mesinnya bisa mati satu di udara.

      — Kesulitan spare part.

      — Contoh kasus spesifik: masalah supply dari Russia.

      “This means that, of the 43,000 items that go into the Sukhoi-30MKI, some 5,800 consist of large metal plates, castings and forgings that must contractually be provided by Russia. HAL then transforms the raw material into aircraft components, using the manufacturing technology transferred by Sukhoi.

      That results in massive wastage of metal. For example, a 486 kg titanium bar supplied by Russia is whittled down to a 15.9 kg tail component. The titanium shaved off is wasted. Similarly a wing bracket that weighs just 3.1 kg has to be fashioned from a titanium forging that weighs 27 kg.

      Furthermore, the contract stipulates that standard components like nuts, bolts, screws and rivets – a total of 7,146 items – must all be sourced from Russia.”

      http://www.business-standard.com/article/current-affairs/air-force-likely-to-get-entire-sukhoi-30mki-fleet-by-2019-114042200138_1.html

      Dengan kata lain, India harus membayar untuk 486 kg titanium untuk component seberat 15,9 kg
      27 kg titanium, untuk komponen seberat 3,1 kg

      Tentu saja + biaya delivery, dan komisi.

      Mau membayangkan Indonesia mendapat deal ToT yang sama dari Russia?

      Inilah kenapa Sukhoi ToT = Nightmare

      • Satu alasan kenapa Brazil tidak memilih Su-35: “Siapa yang menjamin supply spare parts 10 tahun ke depan”.

      • Pertantaannya Bung Gripen Indonesia apakah Russia mengalami masalah yang sama dengan India ? Kalau jawabannya sama .Adalah kebodohan bila terus menginginkan SU 35. Justru kita harus mengambil pelajaran dari India.Jangan sampai seperti mereka .Walau dapat Tot seratus persen tapi kenyataan readiness pesawatnya rendah.Apa yang salah dengan itu,temukan solusinya terapkan dalam nego jangan samapi seperi India tsb.Pesawat yang di impikan kan belum di buat ,ayo fikirkan spesifikasi yang kita mau.Misal bisa di isi ulang oleh pesawat tanker yang kita punya,minta datalinknya nyambung dengan alutsista lain.Jangan suda di beli baru kepikiran mau di oprex pakai ini itu.tentu saja susah.Salam.

        • Saya rasa Russia sendiri sudah terbiasa dengan sistem supply chain Russia sendiri yang memang bukan main berantakan dan tidak efesien.
          Ini adalah kesulitan yang sangat mendasar, fundamental, bukan sesuatu yang dapat diperbaiki dalam semalam.

          Butuh puluhan tahun reformasi untuk memperbaiki sistem yang sudah rusak parah seperti ini.

          Selama tahun 1990-an, dengan rontoknya Uni Soviet, seluruh industri persenjataan disana sudah berantakan — tidak uang untuk upgrade atau melalukan sesuatu yg berarti. Armada udara, tank, dan kapal2 mereka juga dipangkas habis2an karena kelangkaan spare part.

          Jadi boleh dibilang, tidak seperti orang India yg memprioritaskan readiness, orang Russia sendiri mungkin sudah maklum.

          Baru-baru ini, Presiden Putin melakukan modernisasi militer dan industri pertahanan Russia untuk mencoba memperbaiki kesulitan2 diatas.

          http://www.economist.com/news/europe/21602743-money-and-reform-have-given-russia-armed-forces-it-can-use-putins-new-model-army

          Quote dari artikel ini:
          One reason is that the defence industry remains quasi-Soviet, inefficient and riddled with corruption. Much of its output is updated late-Soviet-era stuff. Until the T-50 stealth fighter appears in small numbers towards the end of the decade, the mainstay of the air force will remain upgraded SU-27s and MiG-29s that first flew in the 1970s. The navy is getting new corvettes and frigates, but the industry cannot produce bigger vessels: hence the order of two Mistral ships from France. The army is to replace Soviet armour with the Armata family of tracked vehicles, but not yet.”

          Skrng masalah lain — 20% uang dari APBN Russia adalah anggaran militer.

          Nah, apa yang akan terjadi 10 tahun kedepan, karena sekarang perekonomian Russia diambang keambrukan?

          Artinya reformasi industri pertahanan Russia, dan militernya sendiri, akan masih tertunda lebih lama lagi.

          Jangka menengah – panjang-pun, kita belum dapat mengharap kalau Russia dapat menjadi supplier senjata yang solid.

          Tentu saja ini, berbeda jauh dibanding dulu di tahun 1950 – 1970-an, sewaktu Uni Soviet masih berdiri.

      • klo udah mendapat 100% ToT maka masalah

        — Kesiapan mengudara Sukhoi

        — Kesulitan spare part.

        ada di pihak India sendiri…

  69. Whoaaa… Error 404 Not found..

    ada link yg lain bung..?

  70. Pertama, kita harus mengupas satu mitos dulu disini:

    Karena kita sudah punya Su-27/30, ini bukan berarti langkah logis selanjutnya adalah membeli Su-35 untuk “melengkapi keluarga Flanker”.

    Masalah utamanya begini, sekarang ini Sukhoi mempunyai tiga versi Flanker yang berbeda (tidak mempunyai kesamaan kecuali kemiripan bentuk), dan setiap versi tidak dapat di-upgrade ke versi yang lain.

    Ketiga versi Sukhoi Flanker:

    ## Su-27SK/SKM atau Su-30MK / MK2 — ini versi yang paling basic, produksi KNAAPO —- hanyalah modernisasi sedikit dari Su-27 bertehnologi tahun 1980-an..

    ## Su-30MKI / MKM / SM — ini adalah keluarga Su-30 dengan front-canard, berbasiskan tehnology-demonstrator Su-35 / Su-37 di pertengahan tahun 1990-an. Diproduksi Irkutsk berbasiskan permintaan India, dan sejak itu sudah dijual ke Malaysia, Algeria, dan akhirnya dibeli Russia sendiri.

    ## Su-35S — tidak ada persamaannya dengan tehnology-demonstrator di tahun 1990-an, tapi model yg sama sekali baru. Produksi KNAAPO. Airframe baru, mesin baru, komputer baru, dan semua sistem baru.

    Ini artinya, kalau Indonesia membeli Su-35S, ini adalah pesawat yang sama sekali baru. Hampir tidak ada persamaan dengan Su-27/30 yang sudah kita miliki.
    Hal ini tentu saja akan memusingkan masalah training, dan maintenance

    Indonesia harus membuat daftar spare-part baru khusus untuk Su-35, dan sudah dibahas disini, masalah spare part dari Russia itu nightmare….

    Biaya operasional untuk Su-35S, tentu saja akan dengan mudah menembus Rp 500 juta / jam karena kesulitan2 ini….
    dan belum tentu pesawat akan selalu siap terbang setelah bbrp bulan (krn belum tentu Russia mau kasih spare-partnya)…

    Masalah lain: Apakah semua sistem di Su-35S yang sama sekali baru akan terjamin bekerja 100%??

    Russia, Sukhoi, dan KNAAPO tidak akan dapat memberikan jaminan.
    Karena tipe ini belum teruji cukup lama di lapangan, dan mengumpulkan cukup banyak jam terbang dibandingkan kedua versi Flanker yang lain.

    Kalau memang Indonesia mau membeli Flanker lagi (dan sebaiknya jangan!), Su-30 SM / MKI akan menjadi pilihan yang lebih terjamin.
    India sudah memproduksi 200 pesawat, Algeria dan Malaysia sekitar 50 pesawat lagi, sedangkan Russia sendiri sudah memesan 75 pesawat.

    (walaupun tipe ini-pun sudah mempunyai segudang masalah.)

    • http://www.flightglobal.com/blogs/the-dewline/2011/08/su-35s-inferior-to-usaf-jets-s/

      Russian AF chief: US fighters superior to Su-35S

      by Stephen Trimble on 9 August, 2011 in Uncategorised

      Russian Air Force chief Gen Alexander Zemin Zelin briefed reporters today on the eve of the MAKS air show next week. Zelin covered a wide variety of topics, but we’ll try to summarise the most interesting.

      1. The Su-35S avionics and integrated defence system is inferior to “American fighters of the same type”, Zelin said. Depending on how you interpret that phrase, Zelin is either implicitly endorsing Boeing’s F-15 and F/A-18E/F, or perhaps Lockheed Martin’s F-35 and F-22. My money is on the latter. Sadly, due to the “slow pace” of progress by Sukhoi, the Su-35?s appearance at MAKS has been scratched. No word on the status of two PAK-FA prototypes — T-50-1 and T-50-2.

      😀

  71. Bung GI spertinx sngt membenci kluarga flanker khususx SU35,ini keinginan kmi sbagai rkyat untk pemerinth menetapkan pilihanx pd SU35,klo mw tot gripen bkin skuadron bru d el tari atau biak,,ini adlh jeritan hati pemuda indonesia.

    • Bukan membenci Su-35, tapi pro-Indonesia.

      Sebenarnya cuman sangat kasihan kalau Indonesia beli Su-35, nanti cuman dibodohin doang.
      5 – 10 tahun lagi juga udah nggak bakal bisa terbang lagi.
      20 tahun lagi, sudah sangat ketinggalan jaman, bahkan dibandingkan F-16.

      Semua uang anggaran bakal habis dihisap 2 skuadron Sukhoi.
      Nggak ada duit deh buat beli yang lain….
      Mana tanker baru? AEW&C?

      Jangankan begitu,
      Bbrp triliun yang akan dihabiskan percuma untuk biaya operasional tahunan,
      bukankah lebih baik dipakai untuk menjawab jeritan hati rakyat jelata?

      Mana lagi pilot Singapore dan Australia jam latihannya pasti tetap lebih banyak dari Indonesia?
      (hanya karena biaya operasional pesawat mrk lebih murah, dan anggaran mereka lebih tinggi)

      Oh, Indonesia..
      Nasibmu yg malang..

      • Rasa bangga menjadi anak bangsa di formil itu mudah naik atau turun tergantung dari alutsista apa yang dibeli oleh negara, & itu melebihi bangga menang sepak bola antar negara.

        Contoh :

        1) pada saat pengumuman pembelian 10 ks kilo, terjadi ephoria yang belum pernah terjadi dalam sejarah di semua blog militer. (walau kecele :mrgreen: )

        2) Pada saat pembelian CBG, hanya disambut dingin & ledekan khas formil.

        3) Pada saat pembelian tank Leopard 2 semua merasa bangga & gembira berminggu-minggu.

        Dan rasa bangga & ephoria itu yang sedang di tunggu2 atas rencana penggantian F5 dengan SU35.
        gak perduli nantinya akan susah service pespurnya.

        Semoga engkau mengerti bung GI 😎

        salam

      • janganlah mengeneralisir dan melakukan pembenaran asumsi anda itu. kalau hanya murah dan perawatan yang mudah lebih baik kita akuisisi fa-50. kita minta sk untuk pasang itu raven aesa radar yang mungil. karena penggunaan single engine dan bentuk yang lebih kecil otomatis rcsnya akan lebih kecil dari gripen ng. karena asumsi sebelumnya gripen ng rcs lebih kecil dari typhoon, otomatis rcs fa-50 menjadi susah dilihat radar musuh. berasumsi 2sq gripen yang dibeli dengan catatan agar dapat tot, otomatis kita bisa mengakuisisi fa-50 sebanyak 8 sq. jika 8sq yang diakuisisi otomatis itu akan menjadi succeed story buat sk. tinggal kita minta sk melalui thales korea untuk mewujudkan impian agar fa-50 bisa menggunakan semua jenis misil aam yang tersedia dari mica, mbda, amraam dan amraamsky. selanjutnya terkait akuisisi yang luar biasa tersebut, kita ajak sk untuk membuka joint pengembangan aam versi fa-50 dan ashm buat fa-50. saya rasa tidak perlu gembar gemborpun black flight akan menurun drastis karena hansipnya bejibun yang jaga. keamanan dapat dan kemandirianpun dapat diraih.
        “Adakah yang lebih baik dari skenario tersebut ?”

        sekali lagi lm bukanlah pemilik segala-galanya di fa-50 tetapi korea lah pemegang desain tersebut. bahkan fa-50 p-noy pun berencana menggunakan radar ex rafael yang terkenal tukang oprek pespur nato dan rusia. mulai dari trainer sampai light fighter dari jenis yang sama. kesiapan tempur yang tinggi, mudah dimaintenance, kemudahan mencetak pilot yang handal dan dalam jumlah besar, maintenance mudah karena sudah terbiasa dan pintu gapura terbuka lebar untuk berkembang dan upgrade di masa depan.

        A-50 / FA-50 Light Combat Aircraft
        The FA-50 is a new version of light combat aircraft manufactured by Korea Aerospace Industries (KAI). The development of the FA-50 began in 1997 and since then six new prototypes were built. The planes have an advanced radar system equipped witha night vision imaging system. The FA-50 is armed with 20mm cannon and air-to-air missiles.

        The A-50 is the Light Combat Aircraft variant of T-50. Integrating advanced tactical radar with conventional and precision guided munitions, A-50 is designed to perform multi-role, air-to-air and air-to-ground missions. Its air-to-air capability employs advanced digital avionics for close and aerial combat using gunnery algorithms for pin point accuracy. The aircraft is also designed to operate with multiple short range and within visual range missiles. The A-50 performs its air-to-ground mission with equally effective results. The aircraft can deliver free fall munitions with superb accuracy using advanced ranging navigation systems. It can also destroy high value targets using precision munitions such as the AGM-65 Maverick.

        The A-50, a T-50 derivative, comes with the most advanced radar and stores management systems and is capable of light air-to-air and air-to-surface engagement. The A-50 possesses all the features of a modern light-combat aircraft: integrated cockpit for tactical information fusion; digital flight control for precise aircraft handling; high-performance engine and aerodynamic design for maneuverability; and advanced weaponry for lethality.

        A variant of T-50 is the Fighter Lead-in aircraft version, TA-50. Integrating advanced tactical radar with conventional and precision guided munitions, TA-50 is designed to perform multi-role, air-to-air and air-to-ground missions. Its air-to-air capability employs advanced digital avionics for close and aerial combat using gunnery algorithms for pin point accuracy. The aircraft is also designed to operate with multiple short range and within visual range missiles. TA-50 performs its air-to-ground mission with equally effective results. The aircraft can deliver free fall munitions with superb accuracy using advanced range navigation systems. It can also destroy high value targets using precision munitions such as the AGM-65 Maverick.

        The FA-50, based on the TA-50, will be developed for substitution of ROKAF’s A-37, F-5 E/F with enhanced survivabilities(RWR, CMDS) and additional mission capabilities(Precision Bombing, Tactical Datalink).

        In 2007 South Korea decided to extend its development of the T-50 Golden Eagle advanced jet trainer to include variants dedicated to electronic attack and reconnaissance duties. The new variants, dubbed the EA-50 and RA-50, are to be developed from the South Korean air force’s future FA-50 light attack development of the T-50 and TA-50.

        In late December 2008 the Defense Acquisition Program Administration (DAPA) signed a contract with Korea Aerospace Industries (KAI) to develop a light attack jet by 2012, officials said Tuesday. The deal on systems integration and research-and-development is worth about 400 billion won ($317 million). Initially, KAI will modify and upgrade the four prototypes of the T-50 Golden Eagle trainer to advanced light attack aircraft designated FA-50.

        The FA-50 will be equipped with the EL/M-2032 radar from Israel’s Elta Systems. DAPA originally wanted to equip the FA-50 with the lightweight Vixen-500E active electronically scanned array (AESA) radar developed by UK firm Selex Sensors and Airborne Systems. Lockheed had been pushing Seoul to select its own AN/APG-67(V)4 radar. Under the agreement with then-General Dynamics signed in the 1990s, the FA-50’s combat capability had to remain below that of the F-16, to avoid competition.

        DAPA intended to buy about 60 FA-50s to start service in 2013, the same year mass production for export will begin. Once mass production starts by 2013, FA-50 fighters will replace A-37 attack jets and F-4/F-5 fighters in the low-tier backup to the Air Force’s high-end KF-16s and F-15Ks, and fifth-generation aircraft to be procured in the future. The Air Force wanted to introduce up to 150 FA-50s to replace its older fighters. As of late 2011 50 T-50s and 10 T-50Bs have been delivered to the Republic of Korea Air Force (ROKAF), and KAI was starting to deliver the T/A-50 variant to ROKAF.

        April 2011 marked a milestone in the history of Korea Aerospace Industries (KAI), when Jakarta named KAI as the preferred bidder for its advanced jet trainer competition. This paved the way for a $400 million order for 16 T-50 Golden Eagle aircraft, securing the first overseas customer for the indigenous type.

        South Korean President Park Geun-hye praised the deployment of South Korea’s FA-50 aircraft on 30 October 2014, while ordering the country’s military to remain at full readiness. “Now, our security situation is very grave”, Park said in a ceremony, marking the deployment of the fighter jets. Park said the deployment of the FA-50 aircrafts marked “a historic day”. South Korea deployed 20 fighter jets in September 2014 and there were plans to deploy another 40 new planes in future.

        http://www.globalsecurity.org/military/world/rok/a-50.htm

        • Source code FA-50 ini dipegang Lockheeed-Martin.
          Jadi tidak mungkin boleh memasang senjata lain, tanpa persetujuan…. pemerintah US.

          http://tacticalmashup.com/koreas-t-50-family-of-trainersfighters/

          ————————————
          There is a small catch. The FA-50 is a joint KAI/ Lockheed Martin project, and the associated co-operation agreements reportedly included a number of restrictive terms.

          One is that Lockheed Martin won’t transfer aircraft source code to other nations, leaving Lockheed as the sole integrator for key capabilities.

          A 2nd provision is that the T-50’s capabilities cannot exceed Korea’s F-16s.

          A 3rd provision reportedly banned South Korea from integrating T-50 variants with non-U.S. technology that the United States doesn’t have.
          —————————————–

          Seperti anda lihat, kalau perusahaan asing dapat mendikte apa yg boleh dipasangkan di pesawat “buatan sendiri”, itu artinya pesawat itu tidak pernah milik sendiri.

          T-50 / FA-50 adalah produk Lockheed-Martin (dengan tak langsung US), yg biaya development-nya justru ditanggung pemerintah Korea.
          T-50 / FA-50 dilindungi sistem FMS pemerintah US. Korea tidak diijinkan mengutak-ngatik, tanpa persetujuan US.

          Artikel Korea Times, juga mengkonfirmasi hal2 di atas:

          http://www.koreatimes.co.kr/www/common/printpreview.asp?categoryCode=205&newsIdx=37021

          • sama2 belum ada aka sebatas di atas kertas. korea dan indonesia bisa membuat pesawat sekelas gripen berdasarkan pengalaman t/fa-50 series. apalagi desain single engine pun kajian di sk juga dilakukan. jika semua itu susah dilakukan di sk, bisa saja kajian itu dilakukan di indonesia dengan pendanaan mayoritas dilakukan oleh kita. jika terwujud kemandirian itu sudah ada didepan mata.

          • Menulis source code tidak segampang itu, dan ini adalah kunci utama setiap pesawat tempur.

            Source code itu adalah jutaan programming line yang mengatur semua apect dari pesawat tempur modern.

            Kalau tidak perlu source code, yah, kita harus membeli A-4 Skyhawk atau MiG-21.

            Sy sudah menuliskan di artikel sy:
            http://jakartagreater.com/apakah-sudah-saatnya-indonesia-keluar-dari-proyek-kf-x-2/

            Kalau untuk T-50 saja, Korea tidak bisa menulis source-code-nya, apalagi untuk pesawat yang seharusnya “melebihi F-16”.

            Lockheed-Martin pasti akan menjadi penulis tunggal source code di KF-X.

            ## Kalau dari KF-X kita hanya mau membuat pesawat yang sebanding dengan Gripen (yang sudah dicampuri LM dan FMS US), kenapa tidak membeli Gripen saja sekarang?

            Gripen-NG justru akan menjadi kunci utama pertahanan Indonesia yang mandiri.

            Tidak perlu lagi mengambil resiko dalam program yang kemungkinan gagal-nya (menurut sy) melebihi 90%.

    • Bung Gripen-Indonesia
      Klo liat tabel RCS dari paralay.com, menurut anda gimana ?

      • Terus terang, angka paralay agak meragukan.

        Darimana dia mendapat angka RCS untuk J-20?

        Sedangkan untuk F-22 sendiri sudah jelas. Dalam latihan Red Flag, hampir semua pesawat NATO tidak dapat melihat F-22 di radar.

        RCS F-22 sesuai yg diberitakan = 0,0001m2.

  72. SU 35 untuk penyeimbang dan efek penggentar kawasan.

    F5 untuk proses menuju kemandirian industri pespur dalam negeri.

    Bungkus dah!

  73. tambah seru aja perbincangannya, inilah yang saya suka dan rindukan dari warjag. untuk masalah alutsista saya mendukung apapun yang terbaik untuk tni, tetapi saya lebih menitikberatkan pada penguasaan teknologi dan kemandirian alutsista buatan dalam negri agar suatu saat kita juga bisa menjadi negara hebat dan maju.

    artikel yang sangat bermanfaat bung antonov dan bung gripen indonesia, terima kasih… keep up the good work, btw kubu lainnya mana nih? saya menantikan ulasan tentang rafale dan thypoon. 🙂

  74. Satu pertanyaan,moga ada yang mau menjawab
    Kenapa beberapa negara tetangga justru membeli pespur selain gripen untuk menghadapi krisis yang mungkin kelak terjadi di LCS, kenapa tidak membeli gripen kalo memang lebih unggul menurut paparan bung GI,
    Pinoy malah beli pespur korea yang sedikit lebih murah drpd gripen tanpa tot, padahal calon lawan utama pengguna flangker..

  75. Pada ribut adu kualitas daganganya pdhl pemerintah skrg apa peduli kualitas..rasanya kok lebih peduli faktor kedekatan politik.

  76. Numpang nyimak aja …, debat kls berat negh… biar tambah pinteer

  77. Radar kita gado2,pespur campuran,kaprang juga.lalu gimana nyatuin (dirigent) .ini sih sama aja makanan gado gado kurang garam kalo satelit militer aja punya/tidak?.(pemandu)
    ibarat hurup dari A – Z bisa bisa dirangkai&singkron (padu).
    cepat,tepat,akurat&taktis.kalo cuma meributkan satu bagian ja tanpa melihat bisa saling mendukung dgn alutsista yg udah ada apa nanti tdk merepotkan.
    secara politis scuad F5 (pesawat pemburu=ujung tombak=terbaik) dimasa itu. Utk skrng tentu seharusnya scuad pemburu harus di isi pesawat tebaik juga di masa skrng (yg bisa di dpt).minimal yg bisa ngimbangin pespur kawasan.
    dgn kemampuan negara kita beli ketenagan+bayar kredit+luas wil sabang sampai merouke mana yg paling memungkinkan.
    militer&pertahanan harus kuat,tapi memerlukan simbol2 yg bisa di banggakan.(superiorr).
    baik dimata user/masyarakatnya (ada kebanggaan tersendiri utk kepercayaan diri).
    soal teknis yg lain ? (ahli di bidangnya yg tahu)
    sebagai orang awam (yg penting ada rasa bangga/kepercayaan penuh pada TNI dgn peralatan yg memadai&cangih)
    harapan…( ane sbgai orang awam)
    salam.

  78. Kemungkinan besar Gripen yang dibeli Indonesia, dimana Typhoon ada kemungkinan menyalip ditikungan akhir. Lupakan Su-35 ataupun Su – Su lainnya, tidak akan ada pembelian ataupun penambahan dari varian tersebut. Petunjuknya sederhana, dari daftar belanja renstra 2015-2020 TNI AU yang telah dipublish Indonesia berencana melakukan pembelian 2 pesawat AWACS. Dimana model yang diminati salah satunya adalah SAAB Erieye yang diintegrasikan dengan pesawat C295. Dari sini sudah mulai terlihat kemana arah pembelian pesawat pengganti F-5, dan yang pasti bukan dari Rusia.

    Sukhoi dan kawan-kawannya tidak dapat diintegrasikan dengan jaringan radar kohanudnas yang notabene sebagian besar buatan barat dan sudah pasti tidak akan bisa di integrasikan dengan AWACS barat. Komunikasi diantara keduanya hanya sebatas radio, menghadapi tantangan pertempuran udara masa depan hanya bermodal radio itu sama saja dengan bunuh diri. Tanpa sistem yang terintegrasi darat-laut-udara akan menjadikan setiap penempur seperti “lone wolf” yang bertempur sendiri-sendiri, hanya tinggal menunggu detik jatuhnya saja. Lain halnya dengan pesawat yang memiliki sistem terintegrasi, walaupun terbang sendirian tapi seperti keroyokan, because he’s not fly alone.

    Kemenangan besar Vietnam di udara melawan Amerika salah satunya karena taktik gerilya udara yang mereka terapkan. Mig-21 dan Mig-17 Vietnam seolah – olah dapat hadir dimana saja dan menyergap kapan saja, sehingga walaupun secara teknologi keduanya kalah namun mereka tetap dapat menguasai udara (hanya bermodal pelor tanpa rudal!). Dengan kemampuan Gripen yang mampu lepas landas pada jarak yang sangat pendek dikombinasikan dengan ribuan pulau-pulau Indonesia yang dapat berfungsi sebagai kapal induk dan pangkalan aju + sistem yang terintegrasi di ketiga matra. Akan menghasilkan kesiapan dan kemampuan tempur strategis yang sangat luar biasa. Mau itu Su-35, Pakfa atau F-22 dan adik tirinya F-35 sekalipun, monggo silahkan datang, kohanudnas SIAP menyambut!

    Kehadiran Sukhoi di Indonesia pada esensinya adalah sebentuk respon (baca:ngambek) Indonesia atas embargo AS dan ulah mereka yang sering melanggar kedaulatan RI. Indonesia secara mendesak membutuhkan pelindung udara yang dapat dijadikan pemukul “sesaat”, perumpamaannya seperti “anda boleh menyerang tapi anda tidak akan keluar tanpa berdarah-darah”. Sukhoi dipilih karena Rusia secara nyata merupakan kontra barat. Langkah pembelian ini kemudian menjadi sinyal yang jelas bagi AS, “Jika anda terus mengusik kami, kami akan pindah haluan!” Keputusan Indonesia untuk membeli Sukhoi inilah yang kemudian memicu insiden pulau Bawean. Dengan dalih kesasar, AS mengirim kapal induknya masuk kedalam wilayah Indonesia untuk menguji dan mengejek pertahanan laut dan udara Indonesia. Sebentuk simbol gertakan dan pesan yang dengan jelas mengatakan “kami mampu melakukan apa yang ingin kami lakukan, walaupun anda berkawan dengan Rusia”. Pada intinya, kehadiran Sukhoi di Indonesia adalah karena kepepet dan bukan bagian dari perencanaan pertahanan strategis nasional.

    Kebangkitan China dan ambisi mereka di LCS disatu sisi membawa keberuntungan bagi Indonesia. Secara politik tekanan barat serta merta menjadi sangat melunak terhadap Indonesia, berbagai program kerjasama dan penawaran strategis tiba-tiba saja mengalir deras dari Amerika dan Eropa. Amerika dan Inggris yang sebelumnya selalu menyenggol isu Papua tiba-tiba saja menyatakan dukungannya atas kesatuan Papua dengan NKRI. Hasilnya berbagai bentuk gerakan Papua merdeka di Amerika, Eropa dan Australia perlahan lahan meredup dan menghilang gaungnya. Semua itu karena mereka membutuhkan “peran” Indonesia terkait konflik LCS, hal ini semakin terbukti dengan kian bersemangatnya AS dalam mendukung program maritim Jokowi sebab secara tidak langsung program ini membantu kepentingan AS di ASEAN. Secara tersirat Indonesia menegaskan klaimnya atas wilayah dan garis perbatasannya termasuk segala nilai ekonomi yang terkandung didalamnya. Sikap Indonesia ini secara tidak langsung seperti mendirikan pagar pembatas di tepi LCS, yang mana dengan sedikit akal-akalan AS dapat memanfaatkan Indonesia seolah menjadi sekutu/kepanjangan tangan kepentingan AS. Dalam bahasa halusnya barat membutuhkan Indonesia sebagai “stabilisator kawasan” namun aslinya mereka hanya membutuhkan jongos untuk melindungi kepentingannya.

    Namun semua itu tidak akan berguna jika Indonesia tidak kuat, oleh karenanya AS dan sekutunya perlu membantu Indonesia untuk menjadi kuat (kebalikan dari tahun 97-98). Hibah F16 juga merupakan bagian dari bantuan khusus itu, pada intinya tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia politik, semua ada imbalannya. Dan karena alasan politik internal dan masih belum yakinnya AS terhadap Indonesia menyebabkan AS tidak dapat membuka lebar-lebar kran FMS-nya. Namun mereka masih memiliki kepanjangan tangan dimana mana, salah satunya SAAB Swedia melalui JAS-39 Gripen-nya. Ingat, kandungan komponen buatan AS ada banyak di Gripen bahkan salah satu komponen vitalnya yaitu mesin adalah buatan AS. Karena Indonesia gigih mempertahankan sikap netralnya, dengan mendorong dari belakang pembelian Gripen, AS secara tidak langsung juga membantu menjaga “image sikap netral Indonesia” sembari melancarkan tujuannya sendiri. Dan bila Indonesia jadi mengoperasikan Gripen bersama Thailand dan Malaysia, maka akan tercipta rantai pertahanan udara yang kuat di selatan LCS dan inilah yang menjadi tujuan paling utamanya.

    Bagaimana dengan Sukhoi? Jika Indonesia memutuskan untuk menambah dan mengembangkan armada Sukhoi-nya maka Indonesia harus merubah dan menyesuaikan sebagian besar sistem pertahanan udaranya agar Sukhoi tersebut mampu beroperasi secara efektif dan optimal. Namun itu membutuhkan biaya investasi yang sangat besar, sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi dan dilakukan Indonesia pada masa sekarang ini. Adalah sangat tidak mungkin bagi Indonesia untuk memulai membangun kembali dari awal (walaupun itu hanya sebagian) pada saat dan situasi saat ini! Bila melihat perjalanan Sukhoi di Indonesia dari awal hingga kini, nampaknya pada akhirnya Sukhoi hanya akan dipelihara agar tetap hidup sekedar agar tidak mati biar pemerintah dan TNI tidak dituduh menghambur hamburkan uang rakyat, sekedar menjadi mainan mahal para jenderal pada saat parade udara, sekedar biar tampak efek busa deterjennya ditelivisi, sekedar dan sekedar,..

    Adakah diantara kita yang bertanya, kemanah keempat Sukhoi yang lama menghilang itu? Info dari bung Jalo mengatakan mereka saat ini menjadi pasien sekarat dihangarnya, statusnya yang tidak kunjung terbang dan tidak pula segera diperbaiki menjadi bukti nyata ketidak mampuan Indonesia mengoperasikan/menjaga kesiapan operasi Su-familiy. Atau ini juga menjadi menjadi bukti betapa ruwetnya after service Rusia, tidak heran jika kemudian dubes dan menhan Rusia buru-buru menawarkan layanan after service yang ditempatkan di Indonesia. Namun jika sparepart-nya masih diproduksi di Rusia, maka tawaran itu sama saja bohong, hanya isapan jempol belaka toh selama ini kita juga sudah mendatangkan mekanik dari Rusia langsung lalu apa bedanya?!

    Suatu sistem pertahanan dikatakan kuat jika sistem tersebut mampu memenuhi poin strategis yang ditetapkan, bukan sekedar untuk memenuhi gengsi, efek busa melimpah deterjen, fanatik buta atau ambisi sesaat. Suatu perencanaan sistem pertahanan harus mempertimbangkan aspek dimasa depan, bukan sekedar apa yang terjadi pada saat ini saja. Bila melihat pada kemampuan, kekurangan dan kelemahan, kelebihan yang dapat di ekspos serta tujuan dan kebutuhan Indonesia. Bila kita melihat secara realistis tanpa berhalusinasi, maka jawabannya sudah pasti bukan Sukhoi (tapi Rafale, hehe). Badan Sukhoi yang besar dan gripen yang kecil bukanlah tolak ukur kemampuan mereka yang sesungguhnya, tampang bukanlah acuan. Sekedar perumpamaan, jika Bruce Lee bertanding dengan The Rock/ Stalone/ Arnold/ Tyson dll yang berbadan besar dan bermuka sangar,,,saya masih memegang Bruce Lee + fur 10.

    Apa yang terpenting saat ini adalah bagaimana mensukseskan tujuan kemandirian pertahanan nasional sembari membuat sistem pertahanan yang kuat secara jangka panjang. Jangka panjang disini berarti berkesinambungan yang salah satunya juga berarti dapat dan mampu mengoperasikan alutsista yang dibeli secara konstan dan efektif hingga ke masa depan. Hal ini menuntut lebih dari sekedar efek deterjen sabun colek tapi juga unsur operasionalitas yang meliputi reliabilitas, efektifitas, efisiensi, kompatibilitas, readiness dan availability. Dengan menggandeng Rafale, Gripen dan Typhoon dapat memberikan semua/sebagian dari aspek tersebut. Dan diantara ketiganya Gripen-lah yang paling memenuhi kriteria ideal yang sesuai bagi kebutuhan “rasional” Indonesia. Seperti menyelam sambil minum air dan sekali dayung 3 pulau terlampaui, kebutuhan pertahanan udara efektif jangka panjang terpenuhi dan tujuan kemandirian pertahanan nasional pun ikut sampai melalui ToT yang menyertainya. Lagi pula saat ini secara politik dalam kerjasama industri pertahanan, setelah Korea Selatan Indonesia kini juga mulai dekat dengan Swedia. Di darat dan laut aroma Swedia sudah mulai kental terasa, apakah di udara akan ikut menyusul? Who knows, kita lihat saja nanti.

    Btw, saya penggemar Rafale.

    Salam

    • Like it..

      • opini yang bagus dari bung STMJ maslah strategi penggunaan alutsista matra udara yang didasari latar belakang masalah LCS..

        oya bung.. bukankah latar belakang pembelian sukhoi itu setelah terjadinya embargo sucad F16 dan insiden manufer F18 di bawean??

        • Benar bung E-Kafa, Sukhoi dibeli karena pertahanan udara kita hampir mati pada saat itu. Tapi insiden Bawean terjadi tepat setelah pembelian Sukhoi diteken oleh Presiden. cmiiw

    • opini bagus.

      dari kemarin saya terngiang-ngiang dengan frasa “lone wolf” terkait keberadaan sukhoi ini. ternyata kemudian anda mengulasnya dengan cerdas.

      imho, pertahanan adalah sebuah sistem besar dan rumit yang dibangun untuk saling mendukung dan bahu-membahu untuk menangkal dan melumpuhkan ancaman. daya tangkalnya terletak pada sinergi yang dihasilkan oleh integrasi unsur-unsur pendukungnya.

      segahar dan secanggih apapun sebuah alutsista jika tidak dapat diintegrasikan kepada sistem tersebut maka daya tangkalnya akan jauh berkurang.
      cmiiw

      • Saya tidak membenci Sukhoi, saya menyukai pesawat ini karena tampangnya yang gagah dan kemampuannya menari di udara. Namun ketika saya melihat pada gambar yang lebih besar tentang sistem pertahanan Indonesia yang ideal, Sukhoi tidak ada disana. Keberadaannya saat ini persis seperti memelihara preman, ketika masih muda memakan banyak biaya dan ketika telah menua tidak berguna.

        Jika Indonesia memang mempertimbangkan membangun sistem pertahanan, maka seharusnya perencanaan tersebut mempertimbangkan pada gambar yang lebih besar untuk menjaga kesinambungan sistem pertahanan Indonesia di masa depan. Jangan lagi kejadian seperti pada era pak Karno terulang lagi, membeli peralatan perang mahal hanya untuk sekali pakai tanpa memiliki manfaat lebih/efek kedalam negeri dan tidak pula memiliki kesinambungan di masa depan (selain hutang). Hanya untuk gagah gagahan dan membangkitkan euforia sesaat, terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk membeli mainan kesenangan jenderal itu.

        Seperti menempatkan orang yang tepat dikursi yang tepat, begitu pula penting bagi Indonesia untuk membeli alut sista yang tepat sesuai kebutuhannya. Demi masa depan negara, bukan demi euforia sesaat atau untuk memberikan mainan kesenangan jenderal. Karena negeri ini bukan untuk 5-10 tahun, tapi untuk sepanjang masa.

        Kira-kira seperti itu esensi pemikiran saya bung xtrada

        • Bung STMJ staf Kemhan atau Unhan ya? 🙂

          Cerdas, bernas, lugas. Analoginya sangat pas. Cara penulisannya juga memakai Bahasa Indonesia baku.

          Mohon dibuatkan artikel tentang sistem pertahanan udara nasional, Bung.

          Mungkin kita bisa berguru kepada Brazil. Meski hanya mengandalkan kekuatan pemukul terdiri Super Tucano, AMX dan F5-Tiger akan tetapi terintegrasi penuh dan didukung dengan jaringan radar, penginderaan dan peringatan yang mumpuni.

          Setelah mereka berhasil mendapatkan tot dan memproduksi masal Gripen saya yakin mereka akan menjadi salah satu kekuatan udara terkuat di belahan bumi selatan

          • Lho kok tau? ahahahah

          • Bukan keduanya bung xtrada, saya hanya militery fansboy biasa. Mohon maaf sebelumnya, artikel dalam tema tersebut diluar bidang pemahaman saya dan saya bukanlah orang yang kredibel untuk mengulasnya. Terima kasih atas apresiasinya bung xtrada.

    • Untuk bisa gigih mempertahankan sikap netralnya, Indonesia harus memiliki senjata pamungkas yg bisa membuat musuh gentar dan bisa membuat kawan segan. Untuk bisa memiliki senjata/jurus pamungkas memang diperlukan usaha yg sangat keras, tirakat yg sangat berat, ketekunan dan kesabaran yg luar biasa serta waktu dan biaya yg tidak sedikit. Kalau belum2 sudah pasrah dan menyerah krn pingin yg mudah, yg hemat, yg cepat, hasilnya lumayan hebat, ya ikut blok barat saja beres. xixixixi. hanya pendapat oot pedagang ayam di pasar.

      • Nilai suatu buku tidak dapat dilihat dari sampulnya bung Pitik dan dunia ini besok insya’Allah belum kiamat, begitu pula perjalanan negara ini insya’Allah masih panjang hingga masa depan nanti, bukan hanya hari ini, besok atau 5-10 tahun lagi. Lihatlah pada gambar yang lebih besar, masa depan dengan pandangan yang bijak dan rasional. Jika pertimbangan itu dibuat berdasar kesenangan pribadi, saya akan fanatik milih Rafale hehe

        Dan sekali lagi ini bukan masalah mencari yang lebih mudah, murah, hemat, dan cepat, sebaliknya ini masalah mencari mana yang terbaik bagi negara ini untuk saat ini dan dimasa depan nanti. Bayangkan diri anda naik keatas gunung, seberapa luas dan jauh pandangan anda dibandingkan dengan saat anda berada didataran rendah. Seperti itulah perencanaan dan pertimbangan yang baik seharusnya.

    • Di tunggu ulasannya tentang rafale bung stmj

    • cerdas.

    • “Sukhoi dan kawan-kawannya tidak dapat diintegrasikan dengan jaringan radar kohanudnas yang notabene sebagian besar buatan barat dan sudah pasti tidak akan bisa di integrasikan dengan AWACS barat”

      kenyataannya su-30mki india dengan awacs phalcon bisa bertukar datanya. selama ada dana, pihak ketiga seperti thales, saab atau negara timur tengah bisa menyatukan datanya.

      • Avionik Su-30 MKI India buatan mana bung Alugoro? Dan kenapa mereka memilih custom dari luar, kenapa tidak ori dari pabrikannya saja? Bicara dana, apakah kemampuan pendanaan Indonesia sekuat India sehingga bisa santai saja menghamburkan uang untuk coba-coba? cmiiw

      • Avionic untuk Su-30MKI buatan Perancis. Kabarnya ini menjadi template untuk setiap Sukhoi Su-30 Canards yang lain.

        Su-30MKM, Su-30MKA, dan Su-30SM (60 unit dibeli sendiri oleh AU Russia), semuanya memakai avionics yg sama.

    • Setuju dengan bung @STMJ.

      Terima kasih banyak atas pencerahannya!
      Bung STMJ sudah memberikan banyak informasi yang menambah pengetahuan semua pembaca.

      SAAB Gripen akan menjadi pilihan yang terbaik untuk Indonesia.
      Pembelian Gripen berarti 100% kedaulatan dan kemandirian pertahanan Indonesia akhirnya akan berada di tangan kita sendiri.

      Sepuluh tahun setelah Gripen pertama mendarat di tanah air, seluruh rakyat Indonesia akhirnya akan menyebut kalau ini adalah “pesawat kita”.
      Ini adalah “Gripen Indonesia”,
      bukan lagi pesawat “buatan Swedia”, “buatan Amerika”, “buatan Korea”, atau “buatan Russia”.

      Kenapa harus takut dengan sehebat apapun pesawat yang dipakai negara tetangga (seperti skenario di artikel ini)?

      Gripen-E/F di tangan pilot Indonesia yang sudah terlatih baik, dan didukung oleh sistem pertahanan yang cerdas, dan terpadu, akan dengan mudah dapat mengalahkan semua ancaman dari luar.

      Salam

    • Stlh membaca semua di laman ini, mnrt saya komentar bung STMJ adalah ‘tulisan’ yg TERBAIK

  79. lagi ngomongin SU 35 jadi diambil 4 sk.

  80. Bung gue,tlg diskusi gripen vs su35 ini diedit dan dijadkan buku bung, kasih ilustrasi dan foto2 menarik, kasih ulasan dari pakar militer dan ahli pesawat tempur, trus terbitkan utk kado para warjager dan NKRI

  81. Saya mau menambahkan untuk selalu menyeimbangkan kekuatan tempur kita baik dari Barat dan Timur terlepas dari pengintegrasian sistem pertahanan darat, laut dan udara. Memang pengintegrasian kekuatan pertahanan secara terpadu adalah hebat. Namun, apabila rasa kekuatan tempur kita hanya rasa satu blok saja, maka akan cukup riskan di masa depan bila situasi politik kawasan maupun global telah berubah. Terutama menyangkut wilayah ujung timur negara kita jika di masa depan kemampuan produksi mesin tempur kita belum berdikari secara sempurna.

  82. ada hal janggal yang saya rasakan,
    1. mesin tunggal dibandingkan dengan mesin ganda?
    2. membandingkan embargo rusia yg belum pasti dengan embargo barat yang sudah kita alami dan mungkin akan ada jilid selanjutnya?
    3.dll, dll, dll
    percuma dong beli grippen yang katanya aman embargo suku cadangnya ada sampai berapa ratus tahun kalo pesawat tetangga lebih gahar. bisa jadi sebelum di upgrade udah jatuh kelaut duluan.hahaha
    sedikit beralih kalo rusia rawan embargo, gimana nasib lontong ghaib kita? maaf cuma pecinta indonesia

  83. Mohon pencerahaan? Apakah mutlak setiap pembelian alutsista harus disertai TOT? Jika kita mau beli pespur yg tiga klas, semuannya apa harus dengan TOT? Apa kita sudah punya blue frame teknologi dari alutsista yg perlu di TOT kan? Mohon maaf jika salah kata

  84. percaya ga indonesia bisa beli SU35 ,minimal 12 tyap tahun?? jumlah penduduk =250 juta,,,,okelah itungannya 200 juta saja dg menyampingkan manula dan ABU ,jika tyap miggu semua rakyatnya memenuhi kewajiban menyumbang 2000 rupiah saja?? ,200 juta X 2000=200.000.000.000 X4= 800.000.000.000. . . . .kalo ini dijadikam kebijakan pemerintah,indonesia bisa menyaingi india..india berhasil dg sistem ini,,yakni pajaknya dilebihkan sedikit,tapi karna penduduknya banyak sedikit itu jadi besar,,dan dilebihkannya pajak itu khusus untuk anggaran militer mereka..

  85. LAUT CHINA SELATAN ADALAH ARENA TEMPUR PARA SHUKOI, JANGAN COBA2 IKUT! :mrgreen:

  86. sukhoi itu fighters serbu ,,percuma ada pesawat peringatan dini,percuma ada s400 jika tak memiliki petempur,,kayaknya artikel ini salesman nya grippen ya?? percaya lah jika f35 ausi atau singapur menghadapi grippen??? apa pula pikiran anda jika super hornet menghadapi grippen?? grippen tuh ibarat tikus…lawan2 nya kucing dan anjing..mau apa lagi pilot indonesia??

  87. The world has changed a bit. Operation Allied Force in 1999 presaged the air campaigns of the 2000s, when targets were soft but hard to find, and harder yet to pick out of the civilian environment. We can say little for certain about the nature of future conflict, except that it is likely to be led by, and revolve around, intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR). For the individual pilot, sailor or soldier, that translates into situational awareness.

    Demographics and economics are squeezing the size of the world’s militaries—nations with more than 100 combat aircraft are few and becoming fewer. There are no blank checks for overruns.

    Much of the technology of 1995, let alone 1985, has a Flintstones look from today’s perspective. (My 1985 computer boasted 310 kb. of storage and communicated at a screaming 300 bits per second.) Software is no longer what makes machines work; an iPhone is hardware that is valued because of the apps that it supports. This technology is characterized by development and deployment cycles measured in months. In aerospace, the lead in materials and manufacturing has gone to the commercial side.

    The conundrum facing fighter planners is that, however smart your engineering, these aircraft are expensive to design and build and have a cradle-to-grave product life that is far beyond either the political or technological horizon.

    The reason that the JAS 39E may earn a Gen 6 tag is that it has been designed with these issues in mind. Software comes first: The new hardware runs Mission System 21 software, the latest roughly biennial release in the series that started with the JAS 39A/B.

    Long life requires adaptability, both across missions and through-life. Like Ed Heinemann’s A-4 Skyhawk, the Gripen was designed as a small aircraft with a relatively large payload. And by porting most of the software to the new version, the idea is that all C/D weapons and capabilities, and then some, are ready to go on the E.

    The Swedes have invested in state-of-the-art sensors for ISR and situational awareness (AW&ST March 17, p. 28), including what may be the first in-service electronic warfare system using gallium-nitride technology. It’s significant that a lot of space is devoted to the identification friend-or-foe system. Good IFF is most important in a confused situation where civilian, friendly, neutral, questionable and hostile actors are sharing the same airspace.

    Sweden’s ability to develop its own state-of-the-art fighters has long depended on blending home-grown and imported technology. Harvesting technology rather than inventing it becomes more important as commercial technology takes a leading role and becomes more global. The JAS 39E engine is from the U.S., the radar from Britain, and the infrared search and track system is Italian. Much of the airframe may be built in Brazil.

    However, what should qualify the JAS 39E for a Gen 6 tag is what suits it most for a post-Cold War environment. It is not the world’s fastest, most agile or stealthiest fighter. That is not a bug, it is a feature. The requirements were deliberately constrained because the JAS 39E is intended to cost less to develop, build and operate than the JAS 39C, despite doing almost everything better. As one engineer says: “The Swedish air force could not afford to do this the traditional way”—and neither can many others.

    It’s an ambitious goal, and it is the first time that Sweden has undertaken such a project in the international spotlight. But if it is successful, it will teach lessons that nobody can afford not to learn.

  88. Royal Thai Air Force (RTAF) Wing Commander Nattavut Duangsungnaen briefs Jessee Dorset of ABC Channel2 about Gripen and talks about his experience at Exercise Pitch Black 2014.

    “We have to fly very far and we have to stay in the air for quite a long time. Without the three fuel tanks, we cannot fly that long,” explains Commander Duangsungnaen while giving a rundown of Gripen parts to the ABC journalist.

    http://www.gripenblogs.com/Lists/Posts/Post.aspx?ID=983

  89. salesman grippen…kenapa ga dicoba aja su35 vs grippen di adu?? atau paling tdak su30 dehh…diatas kertas sukoi unggul.. jangan lupa,,BUAT apa beli burung pipit hanya untuk dijadikan sarapan F35 ..

  90. ok, eforia orde lama, saat barisan alutsista tni buatan uni soviet “gentarkan dunia” …
    tapi segera benturkan kepala anda dan segera sadari duit negara bukan untuk berboros boros ria.
    dengan tekonologinya (Barat, yah mau ga mau baca lagi benturkan kepala anda dan bilang kiblat teknologi kita mmg dari barat, lu suka pa ga! apa lu yang siap maintenance pesawat rusia dengan teknologinya??) dan opsi ToT, Gripen pilihan terbaik kita.

  91. Sebagai penutup trit ini saya copy kan kalimat indah dari Pak Haji Jagpane :

    “Sesungguhnya teknologi Sukhoi adalah “mata rantai” yang terputus yang tidak bisa masuk dalam bingkai pantauan dan remote barat. Contoh dekatnya ketika kita diundang untuk membawa Sukhoi ke Pitch Black di Australia beberapa tahun lalu, pesta penyambutan khusus untuk tamu yang bernama Sukhoi sangat luar biasa, diikuti “rekam jejaknya” sejak masuk perairan Darwin. Mereka haus dengan informasi dan postur Sukhoi. Segala manuver diamati ketat termasuk dalam seri-seri latihan tempur di even yang diikuti AS dan Singapura itu. Jangan lupa mesti sifatnya latihan sesungguhnya shohibul bait sedang mengintip ketangguhan sekaligus kelemahan pesawat tempur Sukhoi untuk kemudian disimpan dalam bank data militer Australia. 💡

    Makanya mata rantai yang terputus itu justru menjadi kelebihan jika kita memilih Sukhoi. Paling tidak membuat rasa penasaran dan menebak-nebak kehebatan dan kelemahan teknologi Sukhoi terkini, sudah menjadi beban pikiran ahli strategi militer negara sekutu. Sebaliknya jika kita memilih F16 atau teknologi barat jelas “rekam jejaknya” bahkan remotenya sudah tersimpan di bank data militer AS. Kita perlu menambah kuantitas dan kualitas jet tempur Sukhoi, kalau hanya berharap dari 1 skuadron yang dimiliki saat ini jelas masih kurang”. 😎

    http://analisisalutsista.blogspot.com/2015/02/detik-detik-memilih-jet-tempur.html

  92. Testing

  93. Testing 2

  94. testing 3

  95. INDONESIA DARURAT GRIPEN VS SU35 TYPE DESTROYER !!!!
    #400KOMEN !!!! HANYA UNTUK MEMBAHAS GRIPEN !!!!! WHAT THE HELL !!!!!! ?????
    #masaJayaJktgr

 Leave a Reply