Dec 212016
 

Hercules C-130 TNI AU (Foto :c2.staticflickr.com)

19 Desember 1948, pagi itu tiba-tiba langit di atas kota Yogyakarta dipenuhi oleh pasukan payung Belanda. pagi itu, tepatnya pukul 06.45 pasukan para Belanda, mulai diterjunkan di atas Maguwo. Belanda memulai Kraai Operation atas Yogyakarta dengan tujuan untuk menghabisi Republik Indonesia. Serangan Belanda yang mendadak dari udara ini sangat mengejutkan, dan mampu melumpuhkan pertahanan RI di Yogyakarta hanya dalam hitungan jam. Pasukan para Belanda sendiri dibawa menuju ke medan pertempuran menggunakan 23 pesaawat angkut Douglas C-47 yang didukung oleh beberapa pesawatP-40 Kittyhawk dan P-51 Mustang fighters, serta B-25 Mitchell bombers plane.

Belajar dari hal tersebut, Konsep pertempuraan pada zaman modern ini adalah terletak pada kemampuan air superiority dan mobilitasnya. Siapa yang unggul di udara maka dia akan memenangkan suatu pertempuran itu. Dan Siapa yang cepat dalam pergerakan pasukan sehingga dapat mengejutkan lawan maka dia akan memenangkan suau pertempuran itu.

Melihat konsep tersebut, menurut saya, selain pengadaan pesawat tempur, pengadaan alutsista untuk TNI AU disektor pesawat transport harus diperhatikan karena selain mempunyai peran strategis dalam pertempuran, pesawat angkut militer juga mempunya peran penting dalam pembangunan dan juga disektor bantuan kemanusiaan. Untuk pesawat angkut kelas berat, TNI AU menjadikan C-130 Hercules yang hadir sejak operasi Trikora era Orde Lama, sebagai kuda bebannya.

Setelah itu, TNI menerima banyak pesawat Hercules hibah pesawat bekas yang telah di”modernisasi” dari negeri sahabat, termasuk pesawat hercules yang jatuh kemarin di Wamena. Pesawat Hercules A-1334 sendiri baru tiba di tanah air 10 bulan lalu setelah dihibahkan dari RAAF, Australia. Memang walaupun terhitung “baru” dimiliki oleh Indonesia, hampir semua pesawat angkut tipe C-130 Hercules Indonesia sudah cukup berumur meski masih laik operasi. Namun, sampai kapan mereka akan terus layak operasi? karena itu, langkah peremajaan dan pembaharuan armada angkut kelas berat haruslah diambil sejak dini sehingga ketika armada lama mencapai akhir usia pakai, tidak terjadi stop gap yang mengakibatkan operasional TNI terganggu.

Untuk peremajaan pesawat angkut sendiri memang TNI sudah memiliki program untuk meretrofit dan upgrade untuk sebagian pesawatnya. Terbaru, TNI berhasil meretrofit Pesawat angkut C-130B TNI Angkatan Udara nomor registrasi A-1303. Telah mengabdi dalam angkatan udara Indonesia selama 56 tahun, Hercules A-1303 ini dinyatakan laik terbang dan siap beroperasi kembali. Teman-teman satu angkatannya pun direncanakan akan mendapatkan program yang sama di Depohar 10 Lanud Husein.

Walau begitu, usia tetaplah usia. Tidak mungkin selamanya setiap pesawat bisa terus diretrofit dan diupgrade. Suatu saat nanti, tetaplah TNI harus mempersiapkan penerus dari sang legenda C-130 Hercules yang sudah beroperasi di berbagai area konflik mulai dari operasi Trikora, Seroja, hingga Aceh dan Sulawesi. Bahkan, beberapa pesawatpun pernah mengemban misi ke luar negeri, baik misi militer maupun kemanusiaan.

Untuk mengganti C-130 Hercules yang merupakan pesawat heavy lifter yang dapat digunakan dalam misi strategis, ada beberapa kandidat pengganti yang cocok untuk TNI. TNI bisa kembali membeli Hercules tipe terbaru yaitu Lockheed Martin C-130J Super Hercules, bisa juga membeli Boeing C-17 Globemaster, atau produk Eropa seperti Airbus A-400M / A-330 MRTT. Heavy lifter ini dapat mengangkut jumlah personel dan peralatan tempur dalam jumlah besar secara cepat ke daerah yang terancam oleh pergerakan musuh atau konflik. Selain itu pesawat angkut kelas berat ini juga dapat menunjang misi SAR, Paradrops, hingga Air Refulling terhadap pesawat tempur kawan di udara.

Selain Operasi Militer Perang, pesawat angkut militer juga dapat membantu tugas TNI dalam melaksanakan berbagai Operasi Militer Selain Perang yaitu membantu pergerakan pasukan dalam mengatasi ancaman taktis yang mungkin dihadapi dan memerlukan kekuatan yang cukup banyak untuk upaya penganggulangan mengatasi pemberontak atau separatis bersenjata, melakukan kegiatan patroli dalam mengawal daerah perbatasan (parameter terluar pertahanan negara) dan area obyek vital nasional yang strategis, dan juga dapat melakukan pengiriman bantuan dalam penanggulangan bencana alam / non alam yang bersifat massif atau kolosal yang juga menjadi bagian tugas TNI.

Namun tetap, pesawat mana yang akan dipilih haruslah tetap mengacu kepada UU no 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Pembelian alutsista tetap harus disertai proses ToT terhadap Industri Pertahanan Dalam Negeri. Menurut pasal 43 UU nomor 16 tahun 2012, apabila pemerintah ingin mengimport produk alutsista dari luar negeri, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain ;

1. Prosesnya langsung antar pemerintah atau kepada pabrikan.
2. Mengikut sertakan partisipasi industrti pertahanan dalam negeri terhadapt proses pembuatan alutsista yang dimaksud.
3. Wajib melakukan alih teknologi.
4. Harus disertai jaminan tidak ada potensi embargo serta hambatan penggunaan alutsista dalam upaya mempertahankan negara.
5. Ada imbal dagang, kandungan lokal, atau offset paling rendah 35%, dengan peningkatan 10 persen setiap tahun.

Pada dasarnya peraturan ini mengandung spirit untuk memberdayakan industri pertahanan dalam negeri. Diharapkan kedepannya, dengan proses alih teknologi yang semakin banyak, Indonesia dapat memproduksi alutsista nya secara mandiri sehingga tidak terlalu bergantung kepada negara lain. Pertahanan yang kuat haruslah ditunjang oleh kemampuan industri pertahanan yang kuat pula karena menyiapkan industri pertahanan yang maju adlaah salah satu cara terbaik menghadapi perang. Jika terciptanya kemandirian bidang pertahanan, maka akan banyak keuntungan yang bisa didapat oleh negara.

Dari sisi ekonomi, industri pertahanan yang maju akan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Industri pertahanan yang sehat dapat mendorong cluster-cluster industri yang bisa memberikan efek domino pada pertumbuhan ekonomi. Efek positif dari lainya cluster industri di daerah-daerah akan menyebabkan terjadinya penyebaran potensi ekonomi secara merata dan mendalam di daerah-daerah Indonesia. Selain itu, keuntungan dari adanya industri pertahanan yang kuat adalah terbukanya lahan ekpost produk alutsista.Saat ini pasar senjata dan peralatan pertahanan di dunia masih terbuka luas. Dengan komitmen serius untuk mencari dan memiliki keunggulan kompetitif tertentu, Indonesia bisa memanfaatkan industri pertahanan sebagai salah satu komoditas ekspor yang bisa menyumbanglan devisa bagi negara.

Penulis : Prasta Kusuma, S.IP
Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD

Artikel Terkait :

  26 Responses to “Harga penting si Heavy Lifter!”

  1. Kode buat PT. DI

  2. Payaaaaahhhhh…mosok yang tukang insinyur gak malu sama tukang sospol

    #mana tulisannya???

  3. Bisa bisa umur pesawat dua kali lipat umur tentara yg menaikinya., shg dipanggil mbah herkules..

  4. Om su 35 telolet om

  5. saat ini klo infiltrasi pasukan via udara sangat berat apalagi negara yg mlek akan pertahanan udaranya jika mau nyusup ke jantung negara tsb dan sangat mustahil. sejarah dl dengan sekarang pasti blm tentu bisa diulang sprti TU-16 yg sempet nyamperin australi, tp klo mobilitas itu hal mutlak!

    tentang musibah kmaren dlm pandangan ane sih masalah beban yg dibawa belasan ton (semen dan sembako), medan dan usia pesawat saling berkaitan dan mendekati menjadi salah satu pemicunya, kita g tau juga data manifest yg dibawa kan? sementara dari searching “om google om” payload C130 lebih kurang sekitar 19ton. untuk pengadaan pesawat angkut itu wajib apa lagi Su35 Om Borong OM!!

    • klo dilihat dari faktor2 5M, justru pesawat (machine) paling kecil kemungkinan jadi penyebab.

      man – co-pilot, akan jadi pilot
      medium – lingkungan, pegunungan, cuaca, kabut
      mission – pelatihan, mencakup man dan medium, + muatan
      managemenrt – atasan, yang memutuskan mission ke bandara wamena

      pesawat gres baru keluar pabrik sekalipun jika man kurang pengalaman, medium tidak bersahabat bahkan berbahaya, poor visibility dsb, mission + management terlalu ambil resiko,
      bisa saja terkena musibah..

      klo pesawat rongsok, dalam penerbangan jawa – papua mungkin udah rontok dari udara, gak perlu tunggu sampai wamena..

  6. INDONESIA HARUS MANDIRI INDUSTRI PERTAHANAN,DAN JUGA INDUSTRI YANG LAINNYA

  7. INDONESIA HARUS MANDIRI PRODUKSI SEMUA JENIS PESAWAT

  8. Pesawat baru juga bisa jatuh (maaf)… yg penting itu SDM dan Maintenance…. unt misi papua mutlak dipasang flir,night vision etc.. ni coment gue dibaca dephan gak atau lewat ajah dibuang ke laut teloleet

  9. Beli 1skuadron , komandan….
    G boleh beli satuan ( pesawat angkut berat )

  10. A400 atau A330NRTT menurutku lebih mudah dapat ToT karena PTDI dan Airbus sudah lama bekerja sama hingga saat ini.

  11. emang boeing masih produksi C-17 setau ane dah berenti produksinya, A 400 okelah

  12. Sing penting punya…
    beli bekas juga gpp…
    msh bisa di’service….
    ng’gak bakalan ada yg berani dgn Indonesia Kita…
    Yg ada cuma pulau kcl” di’rampas paksa negara lain…
    tp gpp’lah…
    anggapa hitung” ber’sedekah utk yg mem’butuh’kan…..

    Sing penting lg, perut gue tetap kenyang & selamat…

    Ini bentuk” pemikiran org yg tdk punya niat & tdk punya nasionalisme….

    • wah berarti USAF tdk punya niat & tdk punya nasionalisme..

      mereka mikirnya juga “msh bisa di’service….” shg b-52 diproyeksikan bertugas hingga usia 100 tahun !,

      The US Air Force Global Strike Command, which maintains the bombers at Barksdale Air Force Base in Louisiana and Minot AFB in North Dakota (with a few at Edwards Air Force Base in California) expects them to keep flying through the 2040s. That’s not a hard ceiling, though, and continued combat success and budgetary factors could keep the B-52 in action until it turns 100 years old.

      (How on God’s Green Earth Is the B-52 Still in Service? -Wired magazine)

  13. kalo mi-26 jd dibeli gak

  14. pilihannya adalah j hercules dan a400m,alternatif lainya dr ruskie dan y20 china(kalo ini dijual)kalo produ c17 globemaster sepertinya berat,kalo waktu lalu ada kelebihan 3-4unit harus bole diambil,nah tergantung produksinya masih jalan atau tidak.

    kalo sudah terbiasa dengan hercky jenis super j harusnya diambil itu untuk jarak menengah dan jauh,kalo dekat sudah ada cn295

    salam damai selalu 🙂

  15. Yang penting beli pesawat yang baru, bukan yang bekas seperti yang sudah2..

  16. Minta ToT Blue Print Hercules, biar PT.DI bikin sendiri pake lisensi

  17. Anak sospol menceramahi teknik penerbangan, tentang umur airframe pesawat, wkwkwkw. Sok tau. Emangnya pernah memeriksa airframe dan fuselage pesawat tiap centimeter apa?

  18. CN295 dengan 4 mesin turbopropeler kurasa bagus untuk pengembangan dalam negeri.