Dec 302016
 

Seorang penduduk Rohingya berdiri di depan rumahnya yang terbakar (photo credit: Reuters)

New York – Puluhan peraih hadiah Nobel, termasuk Uskup Desmod Tutu dan Malala Yousafzai, pada Kamis mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk menghentikan “pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan” di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, yang bergejolak.

Sudah 86 orang tewas dalam tindakan militer di Negara Bagian Rakhine, yang dilancarkan setelah erjadinya serangan ke kantor-kantor polisi di dekat perbatasan dengan Bangladesh pada 9 Oktober.

Pemerintah Myanmar, negara yang sebagian besar penduduknya beragama Budha, selama ini menuding etnis muslim Rohing dengan dukungan milisi asing mengkoordinasikan serangan-serangan yang menewaskan sembilan personel kepolisian.

Lebih dari 30.000 orang mengungsikan diri ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan. Peristiwa itu mengundang kritik dunia internasional bahwa pemerintahan Aung San Suu Kyi tidak berbuat banyak dalam membantu para warga Rohingya. Etnis tersebut tidak diberi kewarganegaraan di Myanmar.

Dalam surat terbuka kepada Dewan Keamanan, Desmond Tutu dan 22 sosok terkemuka lainnya, termasuk peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos Horta dan Muhammad Yunus, mengatakan “tragedi kemanusiaan yang menjadi pembersihan etnis serta kejahatan terhadap kemanusiaa sedang bergulir di Myanmar”.

“Jika kita tidak mengambil tindakan, orang-orang bisa mati kelaparan kalau tidak mati terbunuh peluru,” demikian bunyi surat itu.

Surat itu memperingatkan bahwa kekerasan seperti itu pernah terjadi saat pembersihan etnis di Rwanda pada 1994 serta di Darfur-Sudan barat, Bosnia dan Kosovo.

Para penandatangan surat mengatakan bahkan jika sekelompok etnis Rohingya berada di balik serangan 9 Oktober, tindakan yang dilancarkan militer Myanmar “sangat tidak seimbang”.

“Adalah hal yang bisa (dimengerti) jika (petugas) mengumpulkan para tersangka, memeriksa mereka dan membawa mereka ke pengadilan,” kata surat tersebut.

“Tapi lain halnya jika (petugas) mengerahkan helikopter bersenjata untuk menangani ribuan warga sipil dan memerkosa para perempuan serta melemparkan bayi-bayi ke dalam api.” Pemerintah Myanmar membantah tuduhan bahwa militer mengerahkan kekuatan berlebihan dalam menangani serangan Oktober.

Surat kepada Dewan Keamanan –yang beranggotakan 15 negara– diprakarsai oleh Ramos Horta, menurut juru bicara mantan presiden Timor Leste itu, serta oleh Muhammad Yunus, yang membantu revolusi pendanaan bagi kaum miskin di Bangladesh.

Juru bicara kepresidenan Dewan Keamanan PBB, yang saat ini dijabat Spanyol, memastikan bahwa Dewan sudah menerima surat tersebut, yang juga menungkapkan rasa frustrasi para penanda tangan bahwa Suu Kyi, sang penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1991, tidak memberikan jaminan hak-hak kewarganegaraan bagi masyarakat Rohingya.

Surat juga berisi desakan agar pemerintah Myanmar mencabut semua pembatasan bagi bantuan kemanusiaan ke Negara Bagian Rakhine.

Antara/Reuters

Artikel Terkait :

  11 Responses to “Hentikan Pembersihan Etnis dan Kejahatan Kemanusiaan di Rakhine”

  1. Biadab….Harusnya TNI diturunkan Jaga etnis Rohinya (Pasukan Perdamaian). Hukum Keluarkan Saja Myanmar dari ASEAN yang sebenernya memang sudah tidak solid dan relevan menurut Saya.

    • Kalo ane lebih suka ASEAN dibubarkan saja, ASEAN kontra produktif dgn tujuan semula….. tiap negara punya kepentingan politik yg berbeda2.

      Kucingpura2 dan malingsia jelas2 jongos british. Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand jelas jadi anak buah China……. negara ASEAN itu cuma 4 negara, Indonesia, Timor Leste, Vietnam dan Brunai.

      Bubarkan juga MEA, negara punya basis produksi yg hampir sama ko musti bersatu….. yg ada juga bakal cakar2an sendiri.

  2. kalau terus tertindas suatu saat akan tumbuh mujahid di sana,,

  3. Myanmar menjadi duri dalam daging kepada ASEAN. Tidak menghairankan jika mereka lebih cenderung berpihak kepada China soal Laut China Selatan kerana berharap dukungan balik daripada China berkaitan isu Rohingya. Kuasa Veto yang dipunyai China mampu menghalang tekanan daripada PBB. Semoga negara2 didunia mampu membantu Rohingya seperti mana yang berlaku kepada Bosnia-Herzergovina. Aminn…

  4. Kira2 di Myanmar Sumber Daya ALamnya Apa yaaaa………….kalau Ada SDA yang Berjiiibuuun saya RASA NEGARA RAKSASA ikut2 AN dengaaan meeenjuuaaall Namaaa HAK ASASI MANUSiA……jadi Ingat IRAK, SURIAH, LiBYA dan YAMAN tuuuuuh?!!!!

  5. negara kampret pejuang HAM kok gak ada suaranya sama sekali. padahal jikalau misalnya hal tsb terjadi di negara mayoritas ###### pasti pedang HAM dikeluarkan spontan. ibaratnya kalo disini semut keinjek saja mereka tahu, lha ini orang sipil disembelih kok mendadak buta berjamaah. pasukan PBB kok gak ada kemana, khususnya yg dari negara negara jiran terdekat ASEAN..?

  6. STOP! Hentikan berita dan komentar rasis terhadap saudara-saudara kita etnis Tionghoa dan saudara-saudaranya dari negeri leluhur Tiongkok. Ini akan berakibat sentimen negatif “pribumi vs pendatang” di kalangan masyarakat bawah. Jangan mau jadi provokator, bukankah etnis Tionghoa sudah resmi diakui sebagai bagian dari Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI harga mati? Toh orang-orang Timur Tengah yang katanya Habib-Habib itu juga bukan keturunan asli NKRI? Mikir yang adil dong, jangan berat sebelah!

  7. orang arab indonesia, yg dikejar ujung2nya adalah ibadah. orang aseng indonesia, yg dikejar ujung2nya uang, harta, kekayaan, kebanggaan, kekuasaan. cara mengejar untuk meraih tujuannya dari keduanya sangat jauh berbeda. ada yg dg cara culas, menindas, menipu, dll. silahkan warjager bisa menyimpulkan sendiri.

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)