Jun 262012
 

Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Timur Tengah untuk mencegah kawasan ini jatuh ke konflik yang lebih dalam yang bisa berujung dengan peperangan dan kehancuran. Situasi Timur Tengah semakin memanas setelah Suriah menembak pesawat tempur F 4 Turki yang nota bene anggota NATO. Turki pun mendesak NATO untuk membahas penembakan pesawatnya oleh Suriah. Apakah pesawat tempur tua Turki dikorbankan untuk tujuan yang sangat besar ?.

Israel yang terus berkoar-koar akan menyerang Iran, membuat Vladimir Putin pusing, karena Israel seakan tidak perdulu konsekuensinya. Sebelumnya Putin sudah pernah mengingatkan, jika Israel menyerang Iran maka keputusan itu akan menyebabkan kehancuran.

Vladimir Putin melakukan pembicaraan dengan Menlu Avignor Lieberman, Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Setelah itu Putin akan berkunjung ke negara-negara Timur Tengah lainnya.

Menlu Israel Lieberman sambut Putin di Ben Guryon Airport 25/06/ 2012

Permainan politik tingkat tinggi sedang dimainkan oleh Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah tampaknya telah diendus oleh Vladimir Putin.

Israel dan AS sedang merencanakan latihan perang terbesar sepanjang sejarah kerja sama militer kedua negara. Latihan bersama itu akan digelar Oktober mendatang dengan melibatkan ribuan tentara.

The Times of Israel, Senin (25/06) melansir, seorang petinggi militer AS, Letjen Craig A Franklin, telah membentuk Komite Representatif untuk membahas lebih lanjut rencana latihan militer itu dalam kunjungannya ke Israel beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, AS disebut setuju untuk melibatkan 3.000 personel militer mereka.

Salah satu kegiatan yang dijadwalkan dalam latihan adalah, simulasi serangan dari pihak luar ke wilayah Israel. Dalam simulasi, Israel akan diserang ratusan roket dari Iran dan Suriah pada waktu yang bersamaan. Israel akan mempertunjukkan versi terbaru sistem pertahanan Arrow 2. Sedangkan AS akan membawa sistem pertahanan anti-roket balistik Aegis dan pertahanan anti-serangan udara PAC-3 Patriot. Latihan bersama ini memberi sinyal kepada Iran bahwa AS dan Israel akan segera menerapkan tindakan militer setelah sanksi ekonomi atas program nuklirnya tidak digubris.

Mari kita kilas balik, bagaiamana Michel Chossudovsky membedah skenario penyerangan AS ke Iran, yang melibatkan NATO dan Israel. Menurut Chossudovsky, penimbunan dan penyebaran sistem senjata canggih yang diarahkan terhadap Iran dimulai setelah pengeboman dan invasi ke Irak tahun 2003. Sejak awal, rencana perang ini dipimpin oleh AS bekerjasama dengan NATO dan Israel.

Setelah invasi Irak tahun 2003, pemerintahan Bush mengidentifikasi Iran dan Suriah sebagai tahapan berikutnya dari “peta jalan untuk perang”. Sumber-sumber militer AS mengisyaratkan serangan udara terhadap Iran bisa melibatkan penyerangan berskala besar sebanding dengan serangan AS “shock and awe” di Irak tahun 2003.

Operasi Militer Shock and Awe, Baghdad 2003.

“Serangan udara Amerika terhadap Iran akan jauh melebihi jangkauan serangan Israel tahun 1981 ke pusat nuklir Irak di Osiraq dan lebih menyerupai hari pertama serangan udara tahun 2003 melawan Irak (See Globalsecurity). “Theater Iran Near Term” (TIRRANT).

Nama kode yang diberikan perencana militer AS adalah TIRANNT, “Theater Iran Near Term”, simulasi serangan terhadap Iran telah dimulai pada Mei tahun 2003 “ketika pemodel dan spesialis intelijen mengumpulkan data yang diperlukan untuk tingkat-medan perang berskala besar (analisis skenario bagi Iran).” ((William Arkin, Washington Post, 16 April 2006).

Skenarionya mengidentifikasikan beberapa ribu sasaran di wilayah Iran sebagai bagian dari “Shock and Awe” Blitzkrieg:

“Analisis yang disebut TIRANNT “Theater Iran Near Term,” masih ditambah dengan skenario tiruan invasi Korps Marinir dan simulasi kekuatan rudal Iran. Dalam waktu yang bersamaan para perencana AS dan Inggris melakukan sebuah permainan perang Laut Kaspia. Bush mengarahkan Komando Strategis AS untuk menyusun rencana serangan perang global untuk menyerang lokasi senjata pemusnah massal Iran. Semua ini akhirnya akan menjadi masukan berupa rencana perang baru untuk “major combat operations” terhadap Iran yang sudah dikonfirmasikan oleh sumber militer [April 2006] dalam bentuk draft.

“Di bawah TIRANNT, Angkatan Darat dan Perencana Pusat Komando AS telah melakukan pemeriksaan, baik skenario jangka pendek maupun jangka panjang perang dengan Iran, termasuk semua aspek operasi tempur utama, dari mobilisasi dan pengerahan pasukan melalui operasi stabilitas pasca perang setelah terjadi perubahan rezim. ” (William Arkin, Washington Post, 16 April 2006).

Perbedaan “Skenario medan perang” dalam menyerang Iran secara maksimal telah dipikirkan: “Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Marinir Amerika Serikat telah memiliki semua rencana pertempuran yang disusun selama empat tahun, membangun pangkalan-pangkalan dan pelatihan untuk melaksanakan “Operasi Pembebasan Iran.” Laksamana Fallon, Kepala Pusat Komando Amerika Serikat yang baru telah menerima rencana komputerisasi TIRANNT (Teater Iran Near Term).” (New Statesman, 19 Februari 2007).

Pada tahun 2004, dirumuskan skenario perang awal di bawah TIRANNT, Wakil Presiden Dick Cheney menginstruksikan USSTRATCOM untuk menyusun sebuah “rencana darurat” operasi militer berskala besar yang diarahkan terhadap Iran “digunakan dalam merespon terhadap serangan teroris sejenis 9/11 di Amerika Serikat” dengan anggapan bahwa pemerintah Teheran berada di belakang persekongkolan teroris. Rencana tersebut termasuk penggunaan pre-emptive senjata nuklir terhadap negara non-nuklir.

“Rencana ini termasuk serangan udara besar-besaran terhadap Iran baik menggunakan senjata nuklir maupun konvensional dan taktis. Di Iran terdapat 450 lebih sasaran strategis penting, termasuk sejumlah sasaran yang dicurigai tempat pengembangan program-senjata-nuklir. Banyak target keras atau jauh berada di bawah tanah dan tidak bisa dihancurkan oleh senjata konvensional, akan dihancurkan dengan opsi nuklir. Seperti dalam kasus Irak, respon ini kurang penting apakah Iran yang sesungguhnya terlibat dalam tindakan terorisme yang ditujukan terhadap AS. Beberapa pejabat senior Angkatan Udara yang terlibat dalam perencanaan dilaporkan terkejut terhadap implikasi dari apa yang akan mereka lakukan – bahwa Iran sedang disiapkan untuk sebuah serangan nuklir yang tak beralasan – namun tidak seorangpun siap untuk merusak karirnya dengan mengajukan keberatan.” (Philip Giraldi, Deep Background,The American Conservative August 2005).

Markas Militer Parchin dekat Teheran

The Military Road Map: Pertama Irak, kemudian Iran”
Keputusan untuk menargetkan Iran di bawah TIRANNT adalah bagian dari proses perencanaan militer yang lebih luas dari urutan operasi militer. Hal ini sudah dilakukan di bawah pemerintahan Clinton, Pusat Komando AS (USCENTCOM) telah menyusun “rencana medan perang”, untuk menyerang Irak dan kemudian Iran. Akses terhadap minyak Timur Tengah merupakan tujuan strategis lain.

“Kepentingan dan tujuan keamanan nasional yang luas dinyatakan Presiden dalam Strategi Keamanan Nasional – National Security Strategy (NSS) dan Ketua Strategi Militer Nasional – National Military Strategy (NMS) membentuk dasar strategi medan perang Pusat Komando AS (NSS) mengarahkan pelaksanaan strategi penahanan ganda dari negara-negara nakal seperti Irak dan Iran selama negara-negara tersebut menjadi ancaman terhadap kepentingan AS, kepada negara-negara lain di wilayah ini, dan termasuk warganegaranya. Penahanan ganda dirancang untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di wilayah itu tanpa tergantung baik kepada Iraq atau Iran. Strategi medan perang terhadap Iran yaitu USCENTCOM merupakan interest-based dan threat-focused. Tujuan dari keterlibatan AS seperti yang dianut NSS, untuk melindungi kepentingan vital AS di Timur Tengah agar tidak terganggu. Amerika Serikat aman demikian pula akses Sekutu kepada minyak Teluk.” (USCENTCOM, http://www.milnet.com/milnet/pentagon/centcom/chap1/stratgic.htm#USPolicy, link no longer active, archived at http://tinyurl.com/37gafu9).

Perang di Iran dipandang sebagai bagian dari suksesi operasi militer. Menurut (mantan) Panglima NATO Jenderal Wesley Clark, peta-jalan militer Pentagon terdiri dari urutan negara-negara: “Rencana operasi militer lima tahun [termasuk] … total tujuh negara, dimulai dengan Irak, kemudian Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan.” Dalam “Winning Modern Wars” (halaman 130) Jenderal Clark menyatakan sebagai berikut:

“Ketika saya kembali ke Pentagon pada bulan November 2001, salah seorang staf petugas senior militer menyediakan waktu untuk bercakap-cakap. Ya, kami masih berada dalam jalur melawan Irak. Tapi masih ada lagi. Katanya hal ini sedang dibahas sebagai bagian dari rencana operasi militer lima tahun, dan jumlahnya ada tujuh negara, dimulai dengan Irak, lalu Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan (See Secret 2001 Pentagon Plan to Attack Lebanon, Global Research, July 23, 2006).

Perang di Suriah sudah dimulai 26/06/2012

Perang di Suriah sudah dimulai 26/06/2012

Peran Israel
Terdapat banyak perdebatan mengenai peranan Israel dalam memulai serangan terhadap Iran. Israel merupakan bagian dari sebuah aliansi militer. Tel Aviv bukanlah penggerak utama. Israel tidak memiliki agenda militer yang terpisah dan berbeda.

Israel terintegrasi ke dalam “rencana perang untuk operasi tempur besar” terhadap Iran yang dirumuskan pada tahun 2006 oleh Komando Strategis AS (USSTRATCOM). Dalam konteks operasi militer skala besar, tindakan militer sepihak yang tidak terkoordinasi oleh salah satu mitra koalisi (Israel), hampir mustahil (dari sudut pandang militer dan strategis). Israel secara de facto anggota NATO. Setiap tindakan Israel akan membutuhkan “lampu hijau” dari Washington.

Sebuah serangan oleh Israel bisa digunakan sebagai “mekanisme pemicu” yang akan melancarkan perang habis-habisan terhadap Iran, serta pembalasan oleh Iran yang diarahkan kepada Israel.

Dalam hal ini, ada indikasi Washington mempertimbangkan pilihan serangan awal Israel dengan (dukungan AS) dan bukan sebuah operasi militer pimpinan AS langsung diarahkan ke Iran. Serangan Israel – meskipun hubungannya dekat dengan Pentagon dan NATO – akan disampaikan kepada opini publik sebagai keputusan sepihak oleh Tel Aviv. Hal ini kemudian akan digunakan oleh Washington untuk membenarkan di mata opini dunia, berupa intervensi militer AS dan NATO dengan maksud untuk “mempertahankan Israel”, daripada menyerang Iran. Dalam perjanjian kerja sama militer yang ada, baik AS maupun NATO “diwajibkan” untuk “membela Israel” bila diserang Iran dan Suriah.

Perlu dicatat, pada awal masa jabatan kedua Bush, Mantan Wakil Presiden Dick Cheney mengisyaratkan, dengan tegas, bahwa Iran berada “paling atas dalam daftar” dari “musuh nakal” Amerika, dan Israel menyatakan “melakukan pemboman untuk kita”, tanpa keterlibatan militer AS dan tanpa kita menekan mereka “untuk melakukannya” (See Michel Chossudovsky, Planned US-Israeli Attack on Iran, Global Research, May 1, 2005): Menurut Cheney:

“Salah satu kekhawatiran orang adalah Israel mungkin melakukannya tanpa diminta … Mengingat fakta bahwa Iran memiliki kebijakan yang menyatakan tujuan mereka adalah menghancurkan Israel. Israel mungkin memutuskan untuk bertindak lebih awal, dan membiarkan seluruh dunia khawatir mengenai penyelesaian kekacauan diplomatik setelah itu, “(Dick Cheney, dikutip dari Wawancara MSNBC, Januari 2005).

Mengomentari pernyataan Wakil Presiden, mantan penasehat Keamanan Nasional, Zbigniew Brzezinski dalam sebuah wawancara di PBS, menegaskan sambil khawatir akan terjadi: Ya, Cheney menginginkan Perdana Menteri Ariel Sharon untuk bertindak atas nama Amerika dan “melakukannya” untuk kita.

“Saya pikir Iran lebih ambigu. Dan ada masalah disana, tentu bukan tirani;.. itu adalah senjata nuklir. Dan Wakil Presiden dalam pernyataan paralel yang aneh mengisyaratkan bahwa Israel mungkin melakukannya, namun kenyataannya menggunakan bahasa yang terdengar seperti pembenaran atau bahkan suatu dorongan bagi Israel untuk melakukannya.”

Apa yang berurusan dengan kita adalah operasi militer bersama AS-NATO-Israel untuk membom Iran, yang telah dalam tahap perencanaan aktif sejak tahun 2004. Pejabat Departemen Pertahanan, di bawah Bush dan Obama, telah bekerja tekun dengan militer Israel dan mitra-mitra intelijennya mengidentifikasi dengan hati-hati sasaran di wilayah Iran. Dalam istilah praktis militer, setiap tindakan Israel harus direncanakan dan dikoordinasikan di tingkat tertinggi koalisi yang dipimpin AS.

Serangan oleh Israel juga memerlukan koordinasi dukungan logistik ASt–NATO, khususnya berkaitan dengan sistem pertahanan udara Israel, yang sejak Januari 2009 sepenuhnya terintegrasi ke dalam AS dan NATO. (Michel Chossudovsky, Unusually Large U.S. Weapons Shipment to Israel: Are the US and Israel Planning a Broader Middle East War? Global Research, January 11,2009).

Sistem radar X band Israel dibangun awal tahun 2009 dengan dukungan teknis AS telah “mengintegrasikan sistem pertahanan rudal Israel dengan jaringan deteksi rudal global AS [Pangkalan-Ruang Angkasa], yang meliputi satelit, kapal Aegis di Mediterania, Teluk Persia dan Laut Merah serta Patriot radar dan yang berpangkalan di darat.” (Defense Talk.com, January 6, 2009).

Apakah ini berarti Washington akhirnya memutuskan apa yang seharusnya dilakukan. Lebih baik AS daripada Israel yang mengendalikan sistem pertahanan udara:’Ini artinya tetap dengan menggunakan sistem radar AS,’ “kata juru bicara Pentagon, Geoff Morrell. “Jadi ini bukan sesuatu yang kita berikan atau menjualnya kepada Israel dan hal itu adalah sesuatu yang wajar akan memerlukan personel AS untuk mengoperasikannya.'” (Dikutip dari Israel National News, 9 Januari 2009).

Angkatan Udara AS mengawasi sistem Pertahanan Udara Israel, yang terintegrasi ke dalam sistem global Pentagon. Dengan kata lain, Israel tidak dapat melancarkan perang terhadap Iran tanpa persetujuan Washington. Oleh karena pentingnya undang-undang yang disebut “Green Light” di Kongres AS yang disponsori partai Republik di bawah Resolusi House 1553, yang secara eksplisit mendukung serangan Israel terhadap Iran:

“Undang-undang diajukan Louie Gohmert, partai Republik dari Texas dan 46 rekannya, mendukung penggunaan “semua sarana yang diperlukan Israel” terhadap Iran “termasuk penggunaan kekuatan militer….”Kita harus melakukan ini. Kami perlu menunjukkan dukungan kepada Israel. Kita harus berhenti bermain game dengan Sekutu penting di tengah wilayah yang sulit”’ (See Webster Tarpley, Fidel Castro Warns of Imminent Nuclear War; Admiral Mullen Threatens Iran; US-Israel Vs. Iran-Hezbollah Confrontation Builds On, Global Research, August 10, 2010).

Undang-undang yang diusulkan adalah “Green Light” kepada Gedung Putih dan Pentagon daripada kepada Israel. Ini merupakan persetujuan untuk perang yang disponsori AS melawan Iran yang menggunakan Israel sebagai landasan melancarkan gerakan militer yang sesuai. Hal ini juga berfungsi sebagai pembenar untuk berperang dengan tujuan untuk membela Israel.

Serangan Israel ke Gaza

Dalam konteks ini, Israel memang bisa memberikan alasan palsu untuk berperang, sebagai tanggapan terhadap dugaan serangan Hamas atau serangan Hizbullah atau memicu permusuhan di perbatasan Israel dengan Lebanon. Apa yang penting untuk dipahami adalah sebuah “insiden” kecil dapat digunakan sebagai alasan untuk memicu operasi militer besar terhadap Iran.

Perencana militer AS memperkirakan, Israel akan menjadi sasaran pertama pembalasan militer Iran (bukan AS). Secara umum, bangsa Israel akan menjadi korban dari intrik Washington maupun pemerintah mereka sendiri. Ya, dalam hal ini, sangat penting bahwa Israel tegas menentang setiap tindakan oleh pemerintah Netanyahu untuk menyerang Iran.

Peperangan Global: Peran Komando Strategis AS (USSTRATCOM)
Operasi militer global dikoordinasikan dari Markas Komando Strategis AS (USSTRATCOM) dari pangkalan Angkatan Udara Offutt di Nebraska, berkerja sama dengan komando regional, Komando Pejuang Terpadu. Yakni, Komando Sentral AS di Florida, yang bertanggung jawab untuk Timur Tengah -Tengah dan kawasan Asia, serta unit komando koalisi di Israel, Turki, Teluk Persia dan Diego Garcia, yaitu pangkalan militer AS di Samudera Hindia. Perencanaan Militer dan pengambilan keputusan di tingkat negara sekutu AS-NATO diintegrasikan ke dalam desain militer global termasuk mempersenjatai ruang angkasa.

Di bawah mandat baru, USSTRATCOM memiliki tanggung jawab untuk “mengawasi rencana serangan global” yang terdiri dari senjata konvensional dan nuklir. Dalam jargon militer, yang dijadwalkan untuk memainkan peran adalah “sebuah integrator global dengan beban misi Operasi Ruang Angkasa; Operasi Informasi; Pertahanan Rudal Terpadu; Komando Global & Pengendalian; Intelijen, Surveillance dan Reconnaissance; Global Strike; dan Strategic Deterrence… “.

Tanggung jawab USSTRATCOM meliputi: “Memimpin, perencanaan, pelaksanaan strategis & operasi pencegahan ” di tingkat global, “sinkronisasi rencana operasi dan pertahanan rudal global”, “sinkronisasi rencana perang regional”, dll. USSTRATCOM merupakan lembaga utama dalam mengkoordinasikan peperangan modern .

Pada bulan Januari 2005, awal pengerahan dan pembangunan militer yang ditujukan kepada Iran, USSTRATCOM dijadikan sebagai “Komando Perang untuk integrasi dan sinkronisasi Departemen Pertahanan AS, dalam upaya memerangi senjata pemusnah massal.” (Michel Chossudovsky, Nuclear War against Iran, Global Research, January 3, 2006).

Apakah ini berarti koordinasi serangan yang berskala besar terhadap Iran, termasuk berbagai skenario eskalasi di dalam dan di luar wilayah Timur Tengah serta yang lebih luas Asia Tengah akan dikoordinasikan oleh USSTRATCOM ?.

Senjata Nuklir Taktis Diarahkan Ke Iran
Dikonfirmasi dengan dokumen militer serta laporan resmi, baik AS maupun Israel memikirkan penggunaan senjata nuklir yang diarahkan terhadap Iran. Pada tahun 2006, Komando Strategis AS (USSTRATCOM) mengumumkan pihaknya telah mencapai kemampuan operasional untuk mentargetkan sasaran secara cepat dengan menggunakan senjata nuklir atau senjata konvensional ke seluruh dunia. Pengumuman ini dibuat setelah melakukan simulasi militer yang berkaitan dengan serangan nuklir yang dipimpin AS terhadap negara fiktif. (David Ruppe, Preemptive Nuclear War in a State of Readiness: U.S. Command Declares Global Strike Capability, Global Security Newswire, December 2, 2005).

Kesinambungan dalam hubungannya dengan era Bush-Cheney: Presiden Obama telah mendukung sebagian besar doktrin pre-emptive penggunaan senjata nuklir yang dirumuskan oleh pemerintahan sebelumnya. Di bawah the 2010 Nuclear Posture Review, pemerintahan Obama menegaskan “bahwa itu merupakan pesan berupa hak untuk menggunakan senjata nuklir terhadap Iran” sebagai risiko ketidak-kepatuhan Iran terhadap tuntutan AS mengenai program dugaan (tidak ada) senjata nuklir.
(U.S. Nuclear Option on Iran Linked to Israeli Attack Threat – IPS ipsnews.net, April 23, 2010).

Pemerintahan Obama juga mengisyaratkan akan menggunakan nuklir dalam hal Iran merespon atas serangan Israel kepada Iran. (Ibid). Israel juga membuat sendiri “rencana rahasia” untuk membom Iran dengan senjata nuklir taktis.

Sumber-sumber senior mengatakan “”Komandan militer Israel yakin serangan konvensional mungkin tidak lagi cukup untuk memusnahkan fasilitas pengayaan yang semakin baik dipertahankan. Beberapa telah dibangun di bawah tanah minimal 70 kaki dari beton dan batu. Namun, the nuclear-tipped bunker-busters akan digunakan hanya jika serangan konvensional dikesampingkan dan jika AS menolak untuk campur tangan.”(Revealed: Israel plans nuclear strike on Iran – Times Online, January 7, 2007).

Pernyataan Obama tentang penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dan Korea Utara konsisten dengan doktrin senjata nuklir AS pasca 9/11 yang memungkinkan untuk penggunaan senjata nuklir taktis di medan perang konvensional.

Melalui kampanye propaganda yang telah meminta dukungan dari “otoritatif” ilmuwan nuklir, senjata nuklir mini itu didukung sebagai instrumen perdamaian, yaitu sarana untuk memerangi “terorisme Islam” dan mengukuhkan “demokrasi” gaya Barat di Iran. Nuklir low-yield telah dibersihkan untuk “digunakan di medan perang”. Senjata nuklir tersebut dijadwalkan akan digunakan Amerika terhadap Iran dan Suriah dalam tahap berikutnya, disamping senjata konvensional dalam “perang melawan Terorisme”.

“Para pejabat pemerintah menyatakana senjata nuklir low-yield diperlukan sebagai pencegah yang kredibel terhadap negara-negara nakal (Iran, Suriah, Korea Utara). Logika mereka adalah, senjata nuklir yang ada, terlalu destruktif untuk digunakan kecuali dalam perang nuklir yang berskala penuh. Musuh-musuh potensial menyadari hal ini, sehingga mereka tidak memperhitungkan ancaman pembalasan nuklir dapat dipercaya. Namun, senjata-senjata low-yield kurang daya merusaknya, sehingga dapat dipikirkan untuk digunakan. Dengan demikian akan menjadikan mereka lebih efektif sebagai senjata penangkal.” (Opponents Surprised By Elimination of Nuke Research Funds Defense News November 29, 2004).

Pemilihan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran berupa senjata nuklir taktis (buatan Amerika), yaitu bunker buster bom dengan hulu ledak nuklir (misalnya B61-11), dengan kapasitas peledak antara sepertiga sampai enam kali bom Hiroshima. The B61-11 adalah “versi nuklir” dari “konvensional” BLU 113 atau Unit Pemandu Bom GBU-28.. Bom ini dapat dibawa dengan cara yang sama seperti bunker buster bom konvensional. (http://www.globalresearch.ca/articles/CHO112C.html, see also http://www.thebulletin.org/article_nn.php?art_ofn=jf03norris).

Bom B61-11 “earth penetrator” di Pesawat B-2

AS tidak menggunakan senjata termonuklir strategis terhadap Iran, namun Israel bisa saja menggunakan bom termonuklir dalam perang dengan Iran. Dengan sistem rudal Jericho-III Israel yang jangkauannya berkisar antara 4.800 km sampai 6.500 km, maka semua wilayah Iran berada dalam jangkauan.

Jatuhan Radioaktif
Persoalan jatuhan radioaktif dan kontaminasi (meski dikesampingkan oleh analis militer AS-NATO), dampaknya bisa menghancurkan dan berpotensi merusak wilayah yang luas di Timur Tengah termasuk Israel dan Asia Tengah.

namun dengan logika yang diplintir, senjata nuklir akan dinyatakan sebagai sarana untuk membangun perdamaian dan mencegah “kerusakan kolateral”. Tidak ada senjata nuklir Iran apalagi merupakan ancaman bagi keamanan global, sebaliknya AS dan Israel adalah instrumen perdamaian yang “tidak membahayakan bagi penduduk sipil di sekitarnya”.

“The Mother of All Bombs” (MOAB) untuk Iran”
Signifikansi militer senjata konvensional dalam angkatan bersenjata Amerika adalah 21.500-pon “senjata rakasa” dijuluki GBU-43/B or Massive Ordnance Air Blast bomb (MOAB) dikategorikan “sebagai senjata non-nuklir paling kuat yang pernah dirancang” sebagai arsenal konvensional terbesar di AS. MOAB diuji awal Maret 2003 sebelum dikirim ke medan perang Irak. Menurut sumber-sumber militer AS, Kepala Staf Gabungan telah memberitahu pemerintah Saddam Hussein sebelum diluncurkan tahun 2003 bahwa “The Mother of All Bombs” (MOAB)” akan digunakan terhadap Irak. (Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa MOAB telah digunakan di Irak).

Departemen Pertahanan AS telah mengkonfirmasi pada bulan Oktober 2009, bermaksud untuk menggunakan MOAB/GBU-43/B terhadap Iran. Dikatakannya MOAB “ideal untuk mengubur fasilitas nuklir seperti Natanz atau Qom di Iran” (Jonathan Karl, Is the U.S. Preparing to Bomb Iran? ABC News, October 9, 2009). MOAB dengan daya ledaknya yang dasyat, akan mengakibatkan korban sipil yang sangat besar. Ini adalah “mesin pembunuh” konvensional dengan jenis awan jamur nuklir.

Pengadaan empat MOAB ditugaskan pada bulan Oktober 2009 dengan biaya yang cukup besar sejumlah US$,58,4 juta ($ 14,6 juta untuk masing-masing bom). Jumlah ini termasuk untuk membiaya pengembangan dan pengujian serta integrasi bom MOAB ke pembom siluman B-2. (ibid). pengadaan ini berkaitan langsung dengan persiapan perang dalam hubungannya dengan Iran. Pemberitahuan dimuat dalam sebuah “reprogramming memo” setebal 93 halaman termasuk instruksi berikut ini:

“Departemen memiliki sebuah Urgent Operational Need (UON) yang berkemampuan menyerang sasaran keras di daerah yang tinggi tingkat ancamannya dan sekaligus menguburkannya. Massive Ordnance Penetrator (MOP) adalah senjata pilihan yang memenuhi persyaratan UON [Urgent Operational Need]”. Permintaan tersebut didukung oleh Komando Pasifik (yang memiliki tanggung jawab atas Korea Utara) dan Komando Sentral (yang memiliki tanggung jawab atas Iran). (ABC News, op cit, emphasis added).

Pentagon merencanakan sebuah proses kehancuran infrastruktur Iran dan korban massal sipil melalui penggunaan gabungan nuklir taktis dan bom konvensional rakasa awan jamur, termasuk MOAB dan yang lebih besar lagi yaitu GBU-57a/B atau Massive Ordnance Penetrator (MOP), yang melampaui MOAB dalam hal kapasitas daya ledaknya.

MOP digambarkan sebagai “sebuah bom baru yang kuat dan tepat sasaran untuk menghantam fasilitas nuklir bawah tanah Iran dan Korea Utara. Bom raksasa yang ukuran panjangnya lebih dari 11 orang duduk berdempetan bahu-ke-bahu atau lebih dari 20 kaki dari lantai ke hidung” (See Edwin Black, “Super Bunker-Buster Bombs Fast-Tracked for Possible Use Against Iran and North Korea Nuclear Programs).

Mother Of All Bombs – MOAB

Ini adalah WMD dalam artian yang sebenarnya. Tujuannya tidak begitu tersembunyi dari MOAB dan MOP, termasuk