Dec 312016
 

Konsep Tanggul Raksasa Maasvlakte Seawall di Rotterdam, Belanda (photo credit : dredgingtoday.com)

Jakarta – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pembangunan tanggul raksasa di Jakarta bertujuan agar wilayah ibukota negara tersebut, tidak tenggelam.

“Kami menyampaikan, bahwa National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau tanggul raksasa itu sebenarnya bukan sesuatu yang harus heboh-hebohan. Tetapi, itu suatu kebutuhan untuk menjaga Jakarta agar tidak tenggelam,” ujar Bambang PS Brodjonegoro dalam diskusi Evaluasi Akhir Tahun 2016 dan Harapan 2017 di Kantor Bappenas, Jakarta, Sabtu, 31/12/2016.

Bambang menjelaskan, Bappenas telah memberikan laporan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait perhitungan dan analisis komprehensif dari rencana proyek tersebut.

Menurutnya, proyek tersebut sangat terkait dengan kondisi permukaan Jakarta yang mengalami penurunan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Kita berhadapan dengan permukaan Jakarta yang turunnya lebih cepat daripada yang diperkirakan. Jadi, secara geologi, permukaan tanah di Pantai Jawa itu cenderung turun. Tidak hanya di Jakarta, tapi semua (Pulau) Jawa,” ujarnya.

Bambang mengatakan, awalnya penurunan terjadi di Semarang lebih dahulu bahkan berakibat banjir. Namun, ternyata penurunan permukaan tanah di Jakarta mengalami percepatan di luar perkiraan.

“Penurunan Jakarta jauh lebih cepat dari perkiraan, karena pemakaian air tanah yang luar biasa. Jadi kita menyampaikan bahwa kita harus menjaga Jakarta supaya tidak tenggelam,” ujarnya.

Ia mengatakan, pembangunan tanggul raksasa tahap pertama ditujukan untuk menjaga Jakarta agar tidak tenggelam hingga tahun 2025. Yaitu, dengan membangun tanggul di sepanjang pantai Jakarta, dengan alokasi biaya sebesar Rp 10 triliun.

“Pendanaannya bisa dikelola oleh Pemda DKI dengan APBD-nya. Namun, setelah Jakarta aman sampai tahun 2025, bagaimana selanjutnya? Karena masalahnya, kita tidak cukup hanya dengan membangun tanggul, tetapi juga kita harus mengendalikan penggunaan air tanah di kalangan masyarakat,” ujar Kepala Bappenas.

Cara pengendalian air tanah bisa dilakukan dengan melakukan perbaikan sistem pelayanan air minum, katanya. Sehingga tanggul raksasa di pinggir pantai Jakarta itu, tidak akan cukup lagi setelah tahun 2025.

“Nah di situlah kita perlu membangun tanggul bukan yang di pantai, tapi di laut lepas. Itu butuh dana yang mahal mencapai Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun. Karenanya, perlu perencanaan yang matang dan teknologinya juga tidak mudah. Tapi itu bisa menjaga hingga 2040 mendatang atau bisa lebih lama, kalau dibangun,” papar Bambang.

Artinya, menurut Bambang, tanggul di pinggir pantai Jakarta harus segera dibangun utamanya di tempat-tempat yang rawan penurunan air muka tanah, karena sangat mendesak. Setelah itu, pada tahun 2020 atau 2021, pemerintah harus segera memutuskan untuk membangun tanggul raksasa di lepas pantai atau tidak.

Antara

Bagikan Artikel:

  14 Responses to “Jakarta Butuh Tanggul Raksasa Agar Tidak Tenggelam”

  1. Sirius neh….bukan wayang…?!!!

  2. buahaha,…. warjag pada trauma ma link wayang,……

  3. Iya buat lah tanggul jadikan taman nasional hutan bakau kalo jadi pulau tanami pohon pohon yg banyak jangan dibuat gedung yg sama seperti jakarta.

  4. mungkin penurunan tanah di jawa adalah jawaban dari ramalan joyoboyo(jawa kari separo)

  5. pengambilan air tanah berlebihan membuat penurunan tanah, karena pori2nya kekurangan air.
    pembuangan limbah berlebihan membuat tanah menjadi terkontaminasi racun.

    jawabannya menghambat arus air tawar dari dataran tinggi ke laut
    pembuatan bendungan, embung, dll
    reboisasi, biovori, dan pengurangan betonisasi.
    sesudah itu,, maksimalkan penggunaan air tawar permukaan.
    jangan sia siakan terbuang ke laut.

    untuk kota yg sudah parah seperti jakarta.
    infastruktur pengolahan air sungai dimaksimalkan.
    setelah itu maksimalkan distribusi ke masyarakat.
    jika tercapai, layak dilakukan pelarangan sumur dan sumur bor.

    itu hanya dapat mengurangi penurunan tanah.
    selanjutnya memang terpaksa dilakukan pembuatan tanggul raksasa laut lepas.
    pertama dapat menampung air tawar dari sungai, kedua mencegah penyerapan air laut lebih jauh di dasar tanah. konsekuensinya biota laut rusak pada daerah yg terkena penanggulan.
    tapi untuk kasus jakarta. itu layak dilakukan.

  6. Kejadian ini bukan saja terjadi di Indonesia (Pulau Jawa), kejadian ini sudah meluas di seluruh dunia dan yang sebenarnya secara global adalah menipisnya lapisan es di kutub Utara dan meluasnya kerusakan lapisan ozone serta di tunjang oleh prilaku manusia, yang diantaranya adalah pengambilan air tanah yang berlebihan.
    Secara teknologi mungkin saja kita dapat berguru kepada Belanda (Amsterdam) dan secara alamiah kita juga dapat mereboisasi lahan kosong, akan tetapi semua itu harus di dukung dengan pola hidup masyarakat yang bersifat “Ramah Lingkungan.”
    Jika tidak, tanggul setinggi dan sepanjang apapun sifatnya hanya sementara.

  7. pindahkan ibukota di kalimantan aja. mnurutku jakarta sangat gak layak jadi ibukota indonesia.

  8. pindahkan saja ke kalimantan pak jadikan jakarta hanya pusat bisnis
    balikpapan kyaknya cocok biar ada keseimbangan antara indonesia barat dan timur

  9. Kalau daratan utama Jakarta makin turun lalu bisa tenggelam berarti daratan buatan hasil reklamasi bisa dijadikan tempat hunian baru yg aman. Atau mungkin daratan reklamasinya juga ikut turun dan tenggelam.

  10. Jakarta butuh mereboisasikan dirinya sendiri. banjir sampah, krisis air bersih, dan tanah tenggelam krn tdk mau menjaga lingkungan dan menata struktur kota dg baik. dari sisi policy, mngkn sungai diperbesar dan diperbanyak sodetannya , rumah atas kali dipindah, PAM atau PDAM perlu memperbesar diri secara mutlak dg segala cara sehingga pengambilan air tanah dihentikan scr total. untuk mengurangi jumlah air dihulu sungai hutan serapan/hutan lindung diperbanyak, pemukiman dilarang/dibatasi. kota hujan cocoknya buat kota hijau flora fauna langka, bukan hunian manusia. terakhir setiap daerah/pulau harus ada kota besarnya sendiri sbg pusat gula gula baru yg menurunkan pamor Jakarta sbg tempat tujuan utama para imigran lokal. itu..! jangan salahkan semut mendatangi sarang gula karena urusan perut tdk bs ditunda-tunda. bener pora..???? mikiiirrr…!!!

  11. PINDAHKAN IBUKOTA…………

 Leave a Reply