Jan 072017
 

Kawasaki Heavy Industries (KHI) Jepang menawarkan pesawat patroli maritim (MPA) P-1 dan pesawat angkut C-2 kepada Selandia Baru, para pejabat telah memberi konfirmasi pada IHS Jane.

Perusahaan, bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Jepang (MoD), telah memberikan informasi ke Selandia Baru dalam upaya untuk memenuhi persyaratan Angkatan Udara Selandia Baru (RNZAF) untuk menggantikan kapal patroli maritim P-3K2 Orion buatan Lockheed Martin dan pesawat angkut Hercules C-130, yang keduanya telah dalam pelayanan sejak pertengahan 1960-an.

Surat kabar keuangan Nikkei Jepang sebelumnya telah melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Jepang telah menanggapi permintaan informasi (RFI) dari Selandia Baru tentang kedua persyaratan dan dilanjutkan pembicaraan yang diharapkan dapat menawarkan usulan konkret pada semester pertama 2017.

Kawasaki P-1 adalah pesawat patroli maritim Jepang yang dikembangkan dan diproduksi oleh Kawasaki Aerospace Industries (KHI). Tidak seperti pesawat patroli maritim pada umumnya, yang biasanya merupakan konversi dari desain pesawat sipil, P-1 adalah pesawat maritim yang dibangun dan dirancang khusus dari awal untuk peran patroli maritim. P-1 adalah pesawat patroli maritim pertama di dunia yang operasionalnya memanfaatkan sistem kontrol fly-by-light.

Pesawat patroli maritim Kawasaki P-1 yang berharga US $ 140 jutaan per unit telah memasuki layanan dengan Angkatan Laut Jepang (JMSDF) sebagai pengganti P-3C Orion.

Sedangkan Kawasaki C-2 adalah pesawat angkut ukuran sedang, mesin turbofan ganda, memiliki kecepatan tinggi sebagai pesawat angkut militer yang dikembangkan dan diproduksi oleh Kawasaki Aerospace Industries. Pesawat seharga US $ 136 juta telah secara resmi memasuki layanan dengan Angkatan Udara Jepang (JASDF) pada bulan Maret 2016.

Spesifikasi umum Kawasaki P-1:

  • Kru: Penerbang: 2 orang; Misi: 11 orang
  • Panjang: 38.0 m
  • Bentang Sayap: 35.4 m
  • Tinggi: 12.1 m
  • Berat Maksimum saat takeoff: 79.700 kg
  • Mesin: 4 × IHI Corporation F7 turbofan 13,500 lbs (60 kN)
  • Kecepatan Maksimum: 996 km/jam (538 knots, 619 mph)
  • Kecepatan Jelajah: 833 km/jam (450 knots, 516 mph)
  • Jangkauan: 8.000 km (4.320 nm, 4.970 mi)
  • Ketinggian Operasi: 44.200 kaki (13.520 m)
  • Hardpoint: 8 cantelan pada sayap dan 8 pada bay internal
  • Bomb: 9.000+ kg (20,000+ lb)
  • Rudal: AGM-84 Harpoon, ASM-1C, AGM-65 Maverick
  • Sonobuoy: 30+ terpasang, 70+ dikerahkan dari dalam
  • Persenjataan Lainnya: Senjata MK-46 dan Tipe 97 serta torpedo G-RX5, ranjau, peledak laut dalam
  • Radar: Sistem radar AESA buatan Toshiba
  • Sonar: Sistem navigasi suara multi-statis buatan NEC
  • Sistem Anti-Kapal Selam: Sistem pengatur pertempuran canggih buatan Shinko Electric Co.Ltd.
  • Lainnya: Sistem Penanggulangan Elektronik (CMD, RWR, MWS, ESM) buatan Mitsubishi

Sumber: IHS Jane

  17 Responses to “Kawasaki P-1 dan C-2 Sesuai Persyaratan Selandia Baru”

  1. ini bagus sekali pabila kita akuisisi plus tot tapi harga selangit kwkwkwkwk ( duwite sopo? )

  2. Kalo memang tertarik dan persyaratan maka saya kira Selandia Baru nggak akan kelamaan untuk beli.
    Minat, kaji, cocok, sepakat, bayar, mbungkus bawa pulang.

  3. tes

  4. dunia kita berbeda ha ha ha….
    RI sementara fokus pesawat rakitan sendiri.
    walaupun baling2 tapi masih cukup.
    CN-235 MPA dan CN-295 MPA.

    apa kabar N-245?
    apa kabar N-219?
    apa kabar N-250?
    apa kabar N-2130?

    atau paling tidak NC NC yg baru…
    semoga

  5. cintai ploduk ploduk Indonesia

  6. saingan poisedon amrik serikat khusus al,cn235 itu jarak pendek,kalo ini khusus jarak sedang dan jauh juga multi fungsi

    susah kalo dikeuangan lagi seret penting jarak pendek dan sedang aja diakusisi dulu(cn295)

    kalo mau beli tidak usah banyak cukup 4aja(multi years bayarnya,jgn minta jatah reman+kue fit hatsnya)

    salam damai selalu

    • Ini pasti alasannya, solidaritas ukuran pendek…ga usah kecil hati ya bung, biar pendek juga ada gunanya…

      Sebenarnya utk operasi didalam negri (sampai batas ZEE) cn-235 sudah memadai, apalagi yang versi pake winglet krn konsumsi BBM nya lebih irit 10% shg menambah durasi terbangnya. Nah kalo yang P-8 atau P-1 gt cocoknya utk operasi yang jangkauannya luas, sampe ke luar negri gt

  7. @info abal2 a1

    Sini tante kasi tau…istilahnya bukan “murni” (emangnya susu?), tapi lebih tepat disebut “masih”.

    Kalo mo (cn-235 mpa) dijadikan pesawat asw tinggal ditambahin saja peralatan esm (cn-235 mpa-nya AU sudah punya, tapi AL belum) untuk mendeteksi emisi elektronik (radar kapal selam) dan transmisi komunikasi (radio, hp, datalink), trus diekornya dipasangi MAD utk mendeteksi pola medan magnet yang tidak wajar (tapi katanya tidak cocok utk perairan dangkal krn terlalu banyak “sampah metal” yang bisa mengacaukan pendeteksian)…nah yang terakhir ini yang utama. Dilengkapi dg sonobouy launcher utk mendeteksi jejak akustik kasel…plus didalam pesawat hrs ditambahi 1 konsol operator pemroses sinyal akustik.

    Nah kalo perlengkapan deteksinya sdh komplit, tinggal dipasangi senjata AKS…beres deh.

    Tapi cn-235 punya kekurangan…kabinnya yang tersisa utk menempatkan rak2 sonobuoy terlalu sempit (tante pernah liat cn-235 asw milik turki), shg sonobuoy yang dibawa cm dikit. Kalo mau yang legaan ya pake NC-295

 Leave a Reply