Mar 112014
 

bangsa bangsa dunia

Sejarah menunjukkan kepada kita kebangkitan dan keruntuhan bangsa-bangsa besar.  Kita masih dapat menyaksikan apa yang tersisa dari perjalanan bangsa-bangsa besar masa lalu di museum dan reruntuhan bangunan kuno. Hal itu menunjukan pada kita bahwa negara-negara besar bangkit dan runtuh sepanjang sejarah. Apa yang bisa kita ambil dari dari pelajaran sejarah?  Berapa lama suatu negara bisa bertahan? Bisakah satu negara bertahan hingga seribu tahun?

Dunia mungkin mengenal Kekaisaran Romawi Barat dan Timur yang menguasai Sebagian eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah hingga Asia. Kekaisaran Romawi Timur mampu bertahan bertahan hingga 1123 tahun (330-1453), atau Kekaisaran Ottoman (Ustmaniyah) yang berkuasa selama 621 tahun (1301- 1922 M). Tapi negara yang paling tua dan masih berdiri adalah San Marino. San Marino didirikan oleh Santo Marinus pada 3 September 301 M, atau negara dengan luas hanya 61 kilometer persegi ini telah berusia 1731 tahun.

Kebudayaan China tercatat sudah dimulai sejak 3500 tahun yang lalu. Hanya saja kebudayaan ini terus menerus berubah bentuk dengan barbagai  Kerajaan besar yang datang dan hilang silih berganti hanya bertahan paling lama 200-300 tahun. Secara resmi Cina menganggap 221 SM sebagai waktu berdirinya bentuk negara modern saat Qin Shi Huang memproklamirkan dirinya sebagai Kaisar Pertama China. Pada abad ketiga, dinasti Han berkembang menghasikan budaya dan tradisi China seperti yang dikenal hingga sekarang. Republik China didirikan pada tahun 1912, dan pada tahun 1949 China berubah menjadi Republik Rakyat China hingga bentuknya seperti sekarang.

Menguatnya indikasi China akan mengejar kejayaan masa lalu dengan mengklaim wilayah-wilayah yang sempat dikuasai kerajaan-kerajaan China kuno menimbulkan kekhawatiran negara-negara yang lebih lemah di kawasan sekeliling mereka saat ini. Sementara negara modern dengan sejarah tua lainnya seperti Mesir, Irak, Iran, Yunani, dan India tidak mengaitkan masalah kedaulatan negara dan wilayah dengan sejarah kuno mereka.  Semua negara-negara tersebut mengaitkan pendirian negara mereka hanya sejauh abad ke19. Iran modern dimulai sejak tahun 1501, tapi nama dan wilayah Iran/Eeran sudah ada sejak 1000 SM. Beberapa negara lain yang menganggap pendirian mereka terjadi lebih tua dari Iran modern adalah Perancis (843 M), Austria (976 M), Denmark (abad ke-10), Hongaria (1001), Portugal (1143), Mongolia (1206), Thailand (1238), Andorra (1278), Swiss (1291), Monaco (1419), dan Spanyol (abad ke-15).

‘Kekaisaran’  Modern.

Kekaisaran di jaman modern adalah kata lain untuk Kolonialisme, Imperialisme, Penjajahan. Kekaisaran modern dimulai dengan perlombaan eksplorasi antara dua kekuatan maritim utama Eropa pada masanya, yaitu Portugal dan Spanyol pada abad 15. Perlombaan memperluas daerah kekuasaan dan kontrol kemudian diikuti oleh negara-negara Eropa lain seperti Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Belanda dan lain-lain.

Salah satu yang paling sukses adalah Kekaisaran Inggris. The British Empire terdiri wilayah kekuasaan, koloni, protektorat, mandat dan wilayah lainnya yang berada dibawah pemerintahan dan pengelolaan pemerintah Inggris. Wilayah ini ‘dikumpulkan’ sejak abad 16 dan hingga awal abad 18. Pada puncak kejayaannya, Kekaisaran Inggris adalah negara dengan wilayah terluas dalam sejarah, dan selama lebih dari satu abad mereka merupakan kekuatan global utama dunia. Saking luasnya wilayah Kekaisaran Inggris, ada phrase yang mengatakan “matahari tidak pernah tenggelam di kekaisaran Inggris”, hal ini benar adanya, karena ketika matahari terbenam di satu wilayahnya bersamaan dengan terbit di wilayah mereka yang lain.

British empire 1583–1815

Bahkan ketika Kekaisaran Inggris ini berakhir mereka masih menguasai wilayah-wilayah yang berjauhan dengan negara asal mereka di Eropa. Dalam sejarah modern, dunia melihat bagaimana Inggris masih mempertahankan kepentingan strategis mereka di belahan dunia yang lain melawan Argentina dalam perang Malvinas. Dalam hal ini, dibandingkan Inggris, China masih lebih masuk akal terhadap klaim wilayah mereka.

Amerika Serikat adalah negara mantan kolonial Kekaisaran Inggris yang kemudian menggantikan mantan penguasa mereka menjadi pemilik hegemoni dunia. Imperialisme Amerika dilakukan lewat pengaruh ekonomi, militer, dan budaya pada negara-negara lain. Pengaruh tersebut seringnya terjadi bersamaan dengan ekspansi ke wilayah asing. Ekspansi skala besar adalah tujuan utama dari sebuah negara besar, contoh yang menonjol adalah penguasa sebelumnya yaitu Kekaisaran Inggris.

Pada tahun 1790-an, Thomas Jefferson menunggu jatuhnya kekuasaan Spanyol hingga “penduduk kita cukup maju untuk merebut wilayah dari mereka sepotong demi sepotong.”. Kemudian, sejarawan Sidney Lens mencatat bahwa “dorongan untuk ekspansi dengan mengorbankan orang lain. bisa dilacak hingga ke awal sejarah Amerika Serikat sendiri”. Paul Kennedy juga sempat mengatakan mengatakan, “semenjak pemukim pertama tiba dari Inggris dan bergerak ke arah barat, bangsa ini adalah bangsa kekaisaran, bangsa penakluk.” Presiden James K. Polk yang memimpin Amerika Serikat dalam Perang Meksiko-Amerika tahun 1846, yang berakhir dengan aneksasi California menjadi wilayah AS dari Mexico.

Salah satu bentuk kolonialisme Amerika Serikat adalah keberadaan pangkalan militer. Contohnya keberadaan permanen pangkalan militer AS di Irak menunjukkan visi “Irak sebagai koloni”, memastikan keuntungan geografis serta arah dan kebijakan negara itu sesuai dengan kepentingan AS. Sementara wilayah seperti Guam, Kepulauan Virgina, Kepulauan Mariana Utara, Samoa, dan Puerto Rico tetap berada di bawah kontrol AS. AS juga mengijinkan beberapa wilayah seberang lautan yang berada dibawah kekuasaan mereka untuk memerdekakan diri pasca Perang Dunia II. Contohnya termasuk Filipina (1946), zona kanal Panama (1979), Palau (1981), Negara Federasi Mikronesia (1986), dan Kepulauan Marshall (1986). Sebagian besar dari mereka masih memiliki pangkalan militer AS di dalam wilayah mereka. NATO Watch Committee, suatu jaringan internasional untuk penghapusan Pangkalan Militer Asing mengungkapkan bahwa AS beroperasi dan/atau kontrol antara 700 hingga 800 pangkalan militer di seluruh dunia. Sumber lain menegaskan kehadiran personel militer AS ada di 156 negara di seluruh dunia.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, praktis AS adalah satu-satunya negara adi daya dunia. Saat ini AS telah berdiri selama lebih dari 200 tahun. Apakah AS kan mampu menyamai kejayaan Kekaisaran Romawi yang berkuasa lebih dari 1000 tahun? Saat ini beberapa hal yang dianggap penyebab keruntuhan Romawi mulai tampak dan tumbuh di dalam Amerika Serikat.

Indonesia.

Indonesia baru berusia 69 tahun. Negara kita ini adalah pewaris wilayah yang dulu merupakan bagian dari wilayah  kerajaan-kerajaan besar Nusantara di masa lalu.  Nusantara dipecah belah kaum kolonialis, dan berkat para founding fathers negara maka Indonesia masih menguasai sebagian besar wilayah yang dulu merupakan wilayah Srivijaya dan Majapahit. Ruang dan waktu keberadaan Indonesia saat ini ada di tengah kebangkitan China yang menyaingi pemilik hegemoni yang sedang memudar yaitu AS.

Akankah Indonesia bangkit dan muncul sebagai peserta atau hanya akan jadi korban persaingan sepenuhnya tergantung pada sikap kita sebagai bangsa dan negara. Kita bisa mengambil pelajaran dari runtuhnya kekaisaran Romawi atau bangkitnya Kekaisaran Ottoman di tengah himpitan persaingan negara adi daya pada masanya. Atau menjaga diri agar selamat bertahan dalam keterbatasan seperti San Marino, mengejar kebesaran masa lalu seperti yang dilakukan China lewat dukungan kemajuan ekonomi dan militer, atau bahkan meniru British Empire. Karena pada akhirnya, sejarah akan ditulis oleh pemenang. –  (NYD)

  56 Responses to “Keruntuhan dan Kebangkitan Bangsa-Bangsa Dunia”

  1.  

    Pertamax

  2.  

    kedua….

  3.  

    Ketiga. Hehehe..!

  4.  

    Juara Harapan Satu !

  5.  

    Editorial yg keren bung Nowyou..
    izin share di Facebook ya..

  6.  

    Juara harapan Dua haha
    malah pada rebutin beginian

  7.  

    Hehehe..! Selamat kepada semua pemenang. Mohon kepada bung Jalo, bung Wedus atau bung-bung lain yang bergerak di sektor media massa, untuk turut membantu mengumumkan nama-nama tersebut di atas. Kalau saya turut bahagia aja, sambil menunggu kesempatan meraih pertamax…! Hehehe..! Just kidding. Intermezo Bung..! Salam hangat untuk semua. Bung Nowyoudont, thanks to your new article. Very nice one..!

  8.  

    malam sobat smua, ga kebayang ya gmna sedihnya klo generasi yad bepergian dr bali ke banyuwangi harus nunjukin paspor … smoga langgeng dah NKRI.

    •  

      Sekarang teman saya mengalami hal itu. Dulu ayahnya kepala gereja di daerah Soe-Lorosae, NTT. Kemudian sebelum penjajakan pendapat, ditugaskan ke Dili. Sesudah jajak pendapat, dengan alasan kekurangan pastor, pemerintah Timor Leste meminta beliau untuk menetap di Dili. Sekarang sekeluarga memiliki dua kewarganegaraan. Tapi kerabat yang lainnya wajib nunjukin pasport saat menemuinya di Dili.

      •  

        Bung Yayan, apa aturan nya sudah di ubah? Setahu saya, kewarganegaraan ganda itu tidak boleh kecuali untuk anak dibawah 17 tahun.

        •  

          Maaf Bung, saya kurang mengerti soal aturannya. Tapi yang jelas begitulah kenyataan yang ada pada keluarga teman saya ini. Saya jadi yakin, bahwa di Indonesia banyak yang sudah memiliki dua kewarganegaraan. Yang memberikan kan negara lain, sebagai warga Indonesia, kita cuma mau terima atau tidak. Apalagi tidak ada kewajiban untuk melapor.

  9.  

    ane panitia aja dech.. numpang absen

  10.  

    “Karena pada akhirnya, sejarah akan ditulis oleh pemenang”.
    dan satu lagi bang
    “sejarah biasanya akan terulang” 😀

    •  

      Pengulangan sejarah amat bergantung pd seperti apa kita mendidik generasi penerus bung bangjo.kalau mendidiknya lemah gemulai seperti italia maka mustahil kedepannya mereka akan menghasilkan sejarah seperti romawi.mussolini pernah mencoba menjadi romawi dan gagal karena rakyat italia sdh bertransformasi dr rakyat petarung menjadi rakyat seniman….

      Indonesia blm terlambat mewarisi kejayaan nusantara.kita msh menguasai sbagian besar nusantara dan akan membereskan sisanya cepat atau lambat.kecuali kita membiarkan anak2 alay trs berkembang biak maka lupakan saja nusantara yg jaya…

      Maaa depan nusantara ditentukan oleh generasi sekarang…

      •  

        Nusantara dulu memang jaya Bung, tapi menurut saya Nusantara sekarang, jauh lebih jaya. Seandainya kita harus kembali pada kejayaan Nusantara masa lalu, kejayaan Nusantara versi mana? Pada kenyataannya, Nusantara tidak pernah terbentuk sebagai sebuah wilayah kekuasaan yang utuh. Nusantara hanyalah gugusan wilayah yang pernah mengalami kejayaannya sendiri di bawah pimpinan raja-rajanya sendiri, bukan jaya di bawah kekuasaan satu raja. Yang perlu kita pelihara mungkin semangat Nusantaranya itu. Kagum akan semangat Gajah Mada adalah hal yang syah-syah saja. Tapi kekaguman kita pada pahlawan nasional yang telah berjuang mewujudkan NKRI akan jauh lebih berarti.

        •  

          bung yayan ada benarnya, persepsi kejayaan untuk masa lalu dengan zaman sekarang memang beda, mungkin dahulu suatu negara/kerajaan disebut jaya jika sudah menaklukan banyak wilayah shingga kekuasaan raja sangat luas, sedangkan saat ini mungkin bisa disebut berjaya jika suatu negara dapat berdikari tanpa telalu bergantung negara lain

        •  

          termasuk kejayaan armada laut masa lampau ya bung…kita bisa dibilang jaya bukan hanya dari meniru semangat kejayaan masa lalu, tetapi meniru sejarah masa lalu dimana bangsa kita ini dibutuhkan oleh bangsa2 lainnya..salam

  11.  

    Semua tergantung dengan semangat hidup bernegara,mempunyai jiwa dan rasa tentang “Nasionalisme dan Patriotisme” Kami mengakui bahwa kami adalah insan manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal.

    Globalisasi dan berkembangnya teknologi informasi telah mengakibatkan kaburnya batas-batas antar negara (baik secara politik, ekonomi, maupun sosial), masalah nasionalisme dan patriotisme tidak lagi dapat dilihat sebagai masalah sederhana yang dapat dilihat dari satu perspektif saja. Dalam dunia yang oleh sebagian orang disifatkan sebagai dunia yang semakin borderless di jaman modern ini.

    Indonesia saat ini memerlukan genre baru untuk mereinterpretasikan ide nasionalisme yang secara fundamental telah dibangun oleh founding father seperti Soekarno. Soekarno kita akui sebagai individu yang mampu membentuk nasionalisme Indonesia dengan membangun satu sistem berantai melalui penyatuan kepentingan.

    Maka dari itu untuk menjaga beribu-ribu tahun dan supaya kokoh sebagai negara Republik Indonesia yg merupakan laboratorium sosial yang sangat kaya karena pluralitasnya, baik dari aspek ras dan etnis, bahasa, agama dan lainnya. Itu pun ditambah status geografis sebagai negara maritim yang terdiri dari setidaknya 13.000 pulau. Bahwa pluralitas di satu pihak adalah aset bangsa jika dikelola secara tepat, di pihak lain ia juga membawa bibit ancaman disintegrasi. Karakter pluralistik itu hanya suatu pressing factor dalam realitas ikatan negara. Di tengah situasi bangsa Indonesia yang seperti itu, nasionalisme sangat di butuhkan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan kita dan membangkitkan rasa Nasionalisme dan Patriotisme sebagai warga negara Indonesia yang taat dan baik untuk mengemban amanah* leluhur kita yg telah mendirikan dari suatu pondasi* kerajaan samapai berdirinya “Republik Indonesia”.

    •  

      Nice comment Bung..! Smart banget, idealnya hal ini perlu dipikirkan oleh para pemimpin kita. Gak apa-apa, mari kita mulai dari diri kita dulu.

  12.  

    Wow…mantap bung nowyoudont. Tambah pengetahuan neh…

  13.  

    waah brarti yg sekarang terjadi adalah kolonialisme modern. dengan penempatan pasukan dinegara secara permanen artinya mengiyakan untuk jadi undercontrolnya. wah wah negara mana saja yah disekitar kita..wkwk..:D.

  14.  

    saatnya tumbuhin jiwa bangga terhadap RI…seperti motto TNI “Bersama rakyat TNI kuat” itu yg menurut ane senjata yg paling ampuh,
    saatnya anggota dewan+stakeholder memberi contoh/panutan yg baik untuk rakyat.biar kepercayaan rakyat tumbuh lg…

  15.  

    no urutq 99.9 he he he dah tlat yg penting ttp setia jgkr. AQ nyimak trus thanks ya bung

  16.  

    indonesia bisa maju asal para pejabat bisa mengurangi korupsi dan presiden indonesia bukan boneka asing

  17.  

    ada yang lupa kang : Rd. Wijaya itu merupakan pangeran dari Galuh yang dikenal dengan nama Jaka Susuruh.

    •  

      Sunda dan Jawa, adalah ras yg cukup tua,
      bahasa sunda kuno = jawa kuno, bisa dibuktikan dlm narasi wayang golek dan wayang kulit, persis sama.
      Begitu juga dalam olah pikir dan nasehat2 para leluhur, sangat banyak kemiripan.
      gue berani bertaruh, selama sunda dan jawa rukun, Insya Allah nusantara pun demikian, juga sebaliknya.

      cerita lain nya, Ibukota negara ini pernah pindah2 ke wilayah lain, tapi tetap kembali ke tanah sunda, knapa ya.??

  18.  

    Bangsa ini memang sudah disegani dan ditakuti oleh bangsa bangsa lain
    Apalagi kelak bila kita bisa mandiri disegala bidang teknologi
    Pemimpin dan rakyatnya saling bahu membahu membangun negeri
    Menjadi mercusuar dunia

  19.  

    selamat pagi semua
    mau tanya barangkali banyak yg lebih tahu, apa benar tahun 2010 ada insiden antara kapal pengawal nelayan cina vs KRI Todak?

    saya baca disini: http://www.aspistrategist.org.au/shaping-the-narrative-new-chinese-documentary-revisits-indonesia-and-the-south-china-sea/

    Shaping the narrative: new Chinese documentary revisits Indonesia and the South China Sea
    By Scott Bentley

    Several months ago I wrote on The Strategist about a March 2013 incident between Indonesian and Chinese maritime law enforcement vessels in the South China Sea. Local Indonesian news sources confirmed the incident but Indonesian Defense Ministry officials reportedly ‘claimed that the fishing boat incident never took place’. Several weeks after my post was published, Commander Agus Heryana, commander of the Indonesian naval base in Tanjung Pinang, stated that the situation in the South China Sea remained safe despite ‘efforts blowing it out of proportion’, noting that ‘the navies deployed in the area are not operating aggressively’.

    The latter part of this statement is undoubtedly accurate: the incident didn’t directly involve any naval vessels from either nation. But one’s left wondering about the veracity of, and rationale behind, the Defense Ministry’s denials about the incident. Taken together, the comments suggest a possible effort to downplay such incidents or to limit their exposure in the media. Like its neighbour Malaysia, Indonesia has preferred to employ quiet diplomacy in regard to the South China Sea disputes more broadly, keeping any confrontations or encounters at sea out of the press for fear of needlessly stoking tensions or damaging its image of neutrality.

    If this is official Indonesian government policy, it has now become abundantly clear that this isn’t the same for the Chinese government. China’s state run news media outlet CCTV4 recently released an eight-part documentary on China’s activities in the South China Sea. Two of the episodes include footage of patrols by Chinese maritime law enforcement vessels in disputed waters off the Natuna Islands, as well as a previous incident that occurred there on 12 May 2010. Many of the details contained in the documentary, including geo-location coordinates of the Chinese vessels on particular dates, hadn’t been publicly available before the documentary aired.

    Unlike the March 2013 incident, the 2010 incident directly involved Indonesian naval vessels. The vessels were threatened at gunpoint by two Chinese ships from the Bureau of Fisheries and Law Enforcement Command (FLEC or CFLE) and eventually forced to relinquish a Chinese fishing vessel that they’d attempted to apprehend. The FLEC vessels, numbered 301 and 302, had been ordered by their higher command to ‘rescue the fishing boat immediately’. Such action is in keeping with FLEC’s tasking to ‘safeguard maritime sovereignty’ and its ‘accompanying fishery protection strategy’. According to the video, this strategy had shifted in recent years from one of merely patrolling disputed areas to conducting direct escorts. ‘Wherever the fishing boats go, the FLEC ships follow them there’, the narrator says, referring to them at one point as their ‘guardian angels’.

    When FLEC vessels arrived on the scene, they observed a ‘foreign frigate’ undertaking what’s portrayed by the narrator as a ‘harassment attack’ on the Chinese fishing vessel. The narrator erroneously describes this ‘frigate’ as about 80 meters in length and displacing 1800 tons, as well as being armed with ‘rocket guns and automatic cannons’.

    Based on the CCTV4 footage, this vessel isn’t a frigate but a much smaller Todak class Patrol Boat (PB) of the Indonesian Navy. While it doesn’t possess ‘rocket guns’, the 454 ton Todak PB does have two Bofors naval cannons (57 and 40mm), which are capable of rapid fire rates accurate to a distance of several kilometers, according to Jane’s Fighting Ships. Though physically much smaller, had the Todak decided to engage, it almost certainly could have defeated the two larger FLEC vessels with its superior weaponry and range of fire.

    But it didn’t. Instead, the Indonesian sailors could only watch on as the FLEC crew moved to battle stations dressed in full combat gear then threatened them with what appear to be 12.7mm deck guns. After Liu Tanrong, the Deputy Director of FLEC’s South China Sea regional division, declares over bridge to bridge communications that the waters are part of ‘the Exclusive Economic Zone (EEZ) of the People’s Republic of China’, and that ‘the FLEC ships have a right to undertake normal fishery management here’, the FLEC ships begin offensive maneuvers, ostensibly to ‘prevent the attack from the foreign frigate’. These coercive actions included the Yuzheng 301 cutting in front of the Todak PB to position itself between it and the Chinese fishing boat, directing the latter to draw closer to the 302 for protection as it confronted the Indonesian vessel. The result, according to the narrator: ‘Without any further plan, the foreign frigate had no choice but to leave’.

    What the Chinese documentary proudly displays as ‘normal fishery management’, is in reality the very same ‘gunboat diplomacy’ China has berated foreign powers for practicing against it during China’s own ‘century of national humiliation’. Contrary to the statements by the narrator, the Indonesian patrol boat did have a choice, and fortunately for all parties involved it chose not to engage. That this choice was influenced by Chinese coercive actions is however a distinct possibility, and the incident could easily be regarded by the Chinese side as successful in that the Indonesian ‘frigate’ was compelled to cease its ‘harassment attack’ against the Chinese fishing boat. The documentary certainly presents it as such.

    The CCTV4 documentary also includes footage of a patrol conducted in the South China Sea on 1 May 2013 by FLEC vessel Yuzheng 310. This is the exact same vessel, patrolling the exact same waters, where the incident reportedly denied by the Indonesian Ministry of Defense had occurred only a little over one month previously. Only this time there’s no incident, just the FLEC vessel and a Chinese fishing boat using the exact same trawling technique in those exact same waters that had led to the incident in March.

    The Yuzheng 310 takes the CCTV4 camera crew aboard the Chinese fishing vessel, where they film the boat’s catch before returning. There’s no mention in the documentary that these are disputed waters, or that these actions are regarded by Indonesian officials as illegal. There’s no Indonesian naval or coast guard presence this time to enforce any alternative position. There’s only a Chinese fishing boat, escorted by their FLEC ‘guardian angels’, fishing within China’s EEZ. Together they’re working to ensure that these ‘normal’ operations are conducted safely, without interference from foreign rivals and competing narratives in the world news. China’s efforts to shape the narrative in this way have so far proceeded largely unopposed, though the question now arises whether or not countries like Indonesia can afford to maintain a low profile on these issues when China has so clearly chosen otherwise.

    Scott Bentley is currently a PhD candidate at the Australian Defence Force Academy, UNSW. His research focuses on security strategies in maritime Southeast Asia. Image is screenshot from CCTV4 documentary.

    ————–

    bung satrio / bung nowyoudont / bung diego barangkali tahu bagaimana aturan pelibatan TNI AL saat ini jika menghadapi situasi yg sama?

    imho, cina bukanlah teman. malah lebih besar kemungkinan menjadi musuh.
    cina sangat mengagungkan ‘face value’, permainan yg mereka pahami adalah zero sum game.
    either lu menang, gw kalah atau gw menang, lu kalah.

    tidak ada bahasa yg bisa dipahami oleh pemain zero sum game selain bahasa kekuatan.
    yg dicari tentu bukanlah konfliknya, tetapi ketika kita kuat dan tegas, pihak cina akan berpikir ulang untuk mencoba2 bermain dengan kita.

    mohon pencerahannya

    •  

      Saya kurang tau sop pastinya, tapi yang jelas kapal asing masuk tanpa ijin harus diusir keluar.

      Saya juga baca artikel ini beberapa waktu yang lalu dan memang agak menjengkelkan. CCTV menjadikan footage kegiatan pamer otot mereka di LCS ketika berhadapan dengan kapal Todak TNI sebagai ajang propaganda dalam negeri

    •  

      Menurut saya, kita harus melihat maksud yang mau diinginkan oleh penulis. jangan terpancing krn tulisan tsb, tapi harus melihat kedepan. Biarkan negara2 blok barat dan timur berperang, yang pasti kita cukup duduk manis di layar komputer, memperhatikan gerak2 mereka secara pintar tanpa terpancing melalui radar, intelejen, dan satelit nanti, sambil memperkuat barisan kita di semua lini, dan memanfaatkan situasi ini seperti layaknya pedagang dimana kita berteman kepada semuanya untuk diambil manfaatnya baik secara militer, teknologi, maupun ekonomi. “Yang waspada pasti selamat, yang pintar pasti sukses”

  20.  

    cerita bagus dari bung@alugoro

    jadi berkhayal jaman keemasan majapahit dan sriwijaya menjadi REPUBLIK INDONESIA…kapan yah..??

  21.  

    Sorry bung alugoro, anda sebaiknya pelajari juga bahwa prasasti dipulau Jawa itu yg tertua berbahasa melayu kuna. Sriwijaya, Dharmasraya selalu membuat prasasti didaerah yg mereka pengaruhi, Keluarga Syailendra itu cabang keturunan mereka juga yg di Malaka, Johor, Tasik Malaya ( Siliwangi)
    Anda jangan meninggikan yang satu dan merendahkan yg lain. Karena intinya Nusantara itu satu keluarga.
    Salam.

    •  

      KARENA INTINYA JUGA MANUSIA SEISI DUNIA INI ADALAH SATU KELUARGA ..
      DARI ADAM DAN HAWA……..
      kecuali yang jahatin dan ngebully saya disini….!! mereka turunan teori DARWIN

  22.  

    china modern sudah berumur 100 tahun lebih. indonesia baru masuk 70 tahun, kalo parameter waktunya sama seperti apa kemajuan indonesia di usia 100 tahun pada 2045 mendatang? pastinya sangat hebat dan luar biasa.

    •  

      Langkah upaya maju mereka baru dimulai pada rentang waktu 1966-1976-an, saat itu hampir semua kebutuhan dasar sehari hari sudah bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri. Sebagai perbandingan, saat ini Indonesia masih import payung 🙁

  23.  

    mantaff….

  24.  

    Giiaahh, Si MALON beneran jadi negara pesemakmuran ELIZAbeddh..

  25.  

    Sayang sekali ya sejarah kita terputus. Banyak Kebenaran yg disembunyikan.
    Contohnya : hindu dan ramayana berasal dari india, apa benar?
    Kita coba ulas ya, tokoh2 dalam ramayana semisal bima dan karna/karno.
    Apa ada nama orang india karno? Apa ada yg namanya bima?
    Terus bisakah aksara india nulis ramayana?
    Bisakah aksara india menyebut rahwana?

  26.  

    Lanjut budha.
    Budha katanya disebarkan dari china?
    Apa benar?
    Sidharta gautama… Coba tulis dengan aksara china.
    Dan gak ada satupun orang cina yg namanya darta atau darto.

  27.  

    Tahu gak kalau raja dari segala raja adalah Nabi Sulaiman AS.
    Nabi sulaiman itu hidup diindonesia loh dan menguasai dunia.
    Buktinya bahasa sangsekerta adalah bahasa dunia.
    Semisal, bahasa sangsekerta dari pintu adalah duo oroh atau dua arah. Dan coba lihat bahasa inggris, pintu adalah Door. Dan coba lihat bahasa rusia….

    Bangsa jin adalah bangsa Indonesia.
    Nabi Nuh juga hidup di Indonesia, dibuktikan dgn kapal Nabi Nuh yg terbuat dr pohon jati.

  28.  

    Dimana letak kerajaan sulaiman?
    Ya di sleman.

  29.  

    Majapahit itu lebih luas lagi kekuasaannya. Suku indian dan aborigin adalah saudara kita.
    Colombus masuk amerika itu setelah runtuhnya majapahit, sebelumnya gak ada kapal eropa yg berani mendekat karena armada perang majapahit sangat tangguh. Dengan kapal2 perang yg canggih dan modern dimasanya.

  30.  

    Sayang sekali sejarah kita di putus oleh barat, karena mereka takut kalo bangsa Indonesia akan bangkit lagi.
    Mereka menggunakan segala cara agar bangsa kita tetap pesimis tetap menganggap bahwa kita semua ini bukan apa-apa.
    Saatnya kita bangkit.
    Saatnya kita menguasai dunia dan memenuhi keadilan dan kedamaian didunia.

  31.  

    Sayang sekali sejarah kita di putus oleh barat, karena mereka takut kalo bangsa Indonesia akan bangkit lagi.
    Mereka menggunakan segala cara agar bangsa kita tetap pesimis tetap menganggap bahwa kita semua ini bukan apa-apa. Kita ini dikerdilkan.
    Saatnya kita bangkit.
    Saatnya kita menguasai dunia dan memenuhi keadilan dan kedamaian didunia.

 Leave a Reply