Sep 232016
 

Perencana militer AS yakin bahwa mereka mungkin harus bertempur “hadap-hadapan” dengan musuh dalam lima tahun lagi. Hadap-hadapan dalam hal ini berarti militer Rusia yang telah dimodernisasi mencari cara untuk mendapatkan kembali tanah yang hilang di sepanjang perbatasan Rusia dengan Eropa.

Ada banyak bukti bahwa militer Rusia sedang bergerak di wilayah Baltik, dekat Ukraina, dan di tempat lain. Beberapa pengamat telah salah menyimpulkan bahwa Angkatan Darat AS “hanya” memiliki lima tahun untuk mempersiapkan konflik seperti itu. Bahkan pada kenyataanya mereka tidak memiliki waktu hingga lima tahun.

Merupakan hal umum bagi agresor untuk menantang presiden AS yang baru di awal masa jabatan mereka.

us-army-recruits

Dalam foto yang diambil Rabu, 17 Agustus 2016, calon tentara AS mendengarkan dengan cermat sersan pelatih selama pelatihan menembak di Fort Jackson. Sementara beberapa calon tentara baru Angkatan Darat mungkin telah tumbuh dengan menggunakan senapan untuk berburu atau latihan sasaran, sersan pelatih ditugaskan untuk mengubah 45.000 warga sipil menjadi prajurit setiap tahun yang mana lebih dari setengahnya tidak pernah menyentuh pistol. (AP Photo/Gerry Broome)

 

Jika sampai perang itu terjadi, maka pertempuran Angkatan Darat akan menjadi pertunjukan utama. Pertarungan akan lebih fokus kepada menguasai daratan yang luas dengan beberapa hambatan geografis untuk pergerakan pasukan. Sebagian besar tentara AS kemungkinan akan melakukan pertempuran darat untuk NATO, karena Amerika menyumbang lebih 2/3 dari sumberdaya aliansi itu.

Kekalahan dalam perang tersebut akan secara drastis membentuk keseimbangan geopolitik baru di Eropa, dan mengurangi pengaruh AS di sana hingga pada titik terendah sejak sebelum Perang Dunia II. Namun berusaha untuk tidak kalah merupakan hal yang sedang dilakukan oleh Angkatan Darat AS pada saat ini.

Prospek suram ini muncul terutama karena nasionalisme agresif yang ditunjukkan oleh pemimpin Rusia Vladimir Putin, tetapi juga karena kesalahan penilaian strategis oleh dua presiden terakhir AS.

George W. Bush mengeluarkan dua brigade lapis baja berat dari Eropa selama hari-hari terakhir masa jabatannya, dan kemudian Barack Obama mengusulkan strategi “Poros Pasifik” yang lebih lanjut mengurangi kehadiran militer Amerika di darat. Putin mendapat sinyal bahwa Washington fokus di tempat lain, dan mulai mencaplok Krimea yang menjadi bagian dari Ukraina pada tahun 2014.

Pembuat kebijakan AS saat ini memiliki pandangan yang lebih suram dari niat pemimpin Rusia. Tapi masih ada sedikit bukti bahwa mereka bersedia untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah agresi Rusia di wilayah tersebut.

Tentara yang kekurangan sumber daya, hanya mendapatkan dua hari dari dana federal setiap tahun – sekitar US $22 miliar – untuk peralatan baru. Pada tahun 2010, Rusia memulai program sepuluh tahun, untuk membeli senjata baru senilai US $700 miliar, yang sebagian besar dana dialokasikan pada persenjataan Angkatan Darat dan Angkatan Udara.
Jadi tentara Amerika harus bersiap untuk kalah dalam perang Eropa. Berikut adalah lima alasan terbesar mengapa hal ini terjadi.

eropa-timur-map

Peta Eropa Timur ini menggambarkan kesulitan yang akan dihadapi pasukan AS dalam mencoba untuk memenangkan perang. Daerah yang dikelilingi laut di mana Rusia sering melakukan latihan dominasi udara dan angkatan laut, sedangkan daratan berdekatan dengan konsentrasi terbesar kekuatan militer Rusia serta memiliki beberapa hambatan alam untuk memperlambat pergerakan pasukan.

 

Letak Geografis Menguntungkan Musuh

Pertempuran di Eropa Timur tidak seperti melancarkan perang di Hutan Ardennes atau Fulda. Itu lebih jauh dari titik masuk utama dimana pasukan darat AS akan mencapai Eropa, dan akan ada berminggu-minggu keterlambatan logistik untuk mendapatkan alat berat ke garis depan.

Peta yang disertakan dalam artikel ini menunjukkan, wilayah ini dikurung oleh lautan yang hanya bisa masuk melalui celah sempit, dan Rusia bisa dengan mudah menjalankan dominasi militer atas kedua wilayah melalui pangkalan Angkatan Laut di dekatnya.

Karena konsentrasi terbesar dari kekuatan militer Rusia berada dekat dengan perbatasan dan dengan demikian dapat bergerak dengan hambatan minimal, Moskow kemungkinan akan mencapai tujuan sebelum pasukan AS tiba.

Tentara AS Sangat Tidak Siap

Tentara AS hanya memiliki dua brigade yang ditempatkan secara permanen di Eropa, pertama adalah unit udara ringan dan kedua adalah unit yang berpusat pada pengangkut pasukan Stryker. Jika Strykers tidak dilengkapi senjata dan perlindungan secepatnya, pasukan Rusia dipastikan akan menggulung mereka.

Pemerintahan Obama baru-baru ini memutuskan menambahkan brigade “rotasi” ketiga dan bersama dengan sekutu lainnya menyebarkan pertahanan “tripwire” (ranjau) dari dimana masing-masing sekitar 1.000 tentara dari tiga negara Baltik dan Polandia.

Namun, akibat pertempuran dengan musuh seperti Taliban selama 15 tahun terakhir, Angkatan Darat AS mengalami banyak kekurangan pertahanan udara, peperangan elektronik, senjata presisi dan kendaraan lapis baja. Semua itu tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dimiliki Rusia saat ini.

Sebagian Besar Pasukan Koalisi Akan Absen

Letak geografi yang luas dan sebagian besar adalah daratan tidak memungkinkan Angkatan Laut AS untuk ikut dalam pertempuran. Pangkalan Rusia di Kaliningrad yang ada didaerah kantong Baltik dan pelabuhan Laut Hitam Sevastopol akan sangat berbahaya bagi kapal perang AS apabila berdekatan.

Sementara itu, Angkatan Udara AS – sebagai teman dekat Angkatan Darat AS dalam pertempuran apapun – bisa diusir dari langit dengan pertahanan udara Rusia yang tersebar diseluruh negara Baltik, sebagian Polandia dan terutama Ukraina. Dengan cepat, sistem rudal anti-pesawat mobile (lebih dari 150 peluncur telah disebarkan) yang memiliki jangkauan 250 mil dan radarnya mampu menanggulangi serta mencegah jamming.

Pesawat tempur F-35 mampu bertahan dalam kondisi seperti itu namun pemerintahan Obama telah berulang kali melakukan pemangkasan anggaran sehingga memperlambat program pengadaannya.

Sekutu NATO Tidak Memiliki Komitmen

Perbandingan antara jumlah militer NATO dan jumlah militer Rusia biasanya mencerminkan keunggulan bagi aliansi dalam hal personil maupun peralatan.

Namun semuanya sangat tidak jelas apakah sebagian besar pasukan sekutu akan muncul untuk bertempur di negara-negara Baltik atau Ukraina (yang bukan anggota NATO). Selain dari tantangan logistik untuk bisa sampai ke sana, kesediaan masyarakat Eropa Barat untuk membela tetangga timur mereka terlihat sangat lemah dalam sebuah jajak pendapat.

Tentang komitmen menyediakan dan menyiapkan anggota aliansi sebagai pertahanan kolektif, tidak benar-benar memberi mandat untuk melakukan agresi.

Dengan pemungutan suara yang dilakukan Inggris baru-baru ini untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit), akan sangat sulit untuk mengatakan apakah pertempuran nyata akan sama seperti latihan perang yang baru-baru ini dilaksanakan.

Sumber: Forbes

Artikel Terkait :

  32 Responses to “Mungkinkah Militer AS Kalah Perang di Eropa?”

  1. Auk ahh..

  2. kapan mulai nih. negara2 sok jago mau perang. siap2 indo nampung pengungsi bule2 cakep wkwk

  3. Mental banci kayak ASU mau perang, AD ASU mau perang, pasukan paling takut dengan hutan mau perang, pasukan yang sangat tergantung pada teknologi mau perang di hutan, pasukan yang kalah perang dengan vietkong mau perang?

    • Secara taktis sebenarnya amerika memenangkan perang vietnam, secara taktis operasi search and destroy yang dilancarkan amerika memang berhasil menghancurkan beberapa fasilitas vietnam utara. itu bisa dilihat dari jumlah korban jiwa dan alutsista yang rusak. tapi secara strategis amerika memang kalah karena tujuan utamanya untuk mencegah vietnam menjadi negara komunis tidak tercapai. itu dikarenakan dukungan dari dalam negeri yang menurun dikarenakan wartawan perang amerika yang memberikan liputan langsung yang membuat para keluarga tentara dan demonstran anti perang menolak untuk mendukung rencana penambahan pasukan.
      Nah kalo soal agresifitas rusia di eropa timur, mungkin jika hillary clinton yang terpilih dia akan melanjutkan program-program obama dan memperkuat posisi US di eropa timur. nah kalo donald trump yang terpilih mungkin negara-negara di eropa timur cuma dikasih bantuan dana tanpa dukungan pasukan. donald trump pasti akan menyalahkan NATO dan membiarkan NATO dan EU yang menurunkan pasukannya.

    • Pasukan GAY, LESBI, BENCONG, mau perang??? yang ada maen kongkek-kongkek sama temennya dilapangan… su… asu….

  4. Semenjak ASU kalah perang di Vietnam dah ga berani perang sendirian (main keroyokan/koalisi) seperti di perang -Irak dan Kuwait…minimal proxy war..pakai negara perantara..

  5. pabila dunia ini tidak ada yg namanya kata konflik mau perang, mana mungkin peralatan perang laku terjual.. dan pabila 2 negara bsar ini perang, mana mungkin 100 tahun akan selesai, toh kita tahu past klu sama2 lelah past ujung2nya genjatan senjata.. hemm lagu lama..

  6. Ujungnya sama2 hancur..

  7. dilihat dari catatan perang dunia,
    hanya 1 rusia yg tak terkalahkan…
    mulai jerman dan jepang perang dunia 1 dan 2 peran penting kemenangan dikarnakan adanya kemampuan rusia yg tak pernah kehabisan energi tanpa harus menjajah negara lain…
    dan skarang mustahil untuk bisa menjajah sebuah negara karna struktur kesukuan sudah menghilang…

    #versi hanya aku yg tahu*.

  8. kalo rusia doang sepertinya juga berat kalo melawan negara2 nato,emang pasukan rusia sekarang ada sampai 4,5juta pasukan(10juta lebih pasukan pakta warsawa dan milisi jaman dulu)sedangkan pasukan rusia sekarang tidak lebih dr 1juta bandingkan dengan nato

    lain perang bukan konvensional,cm sama2 kalahlah perang ini tidak ada baik bagi nato(eropa khususnya)dan rusia

    rusia membikin eropa menjadi dua block,sedangkan amrik membelah eropa menjadi dua(sekutu amrik vs rusia dan sekutunya)

    amrik serikat lagi sibuk global war of terror dan siap2 war dilcs/pasifik,sepertinya males kalo perang didaratan eropa xixxixixi biarpun terjadi pasti KEPENTINGAN LEBIH TINGGI LAGI.(kalo perang konvesional lagi ntar pengeluaran bikin cekak)

    opini pribadi saja,kalo salah dimaafkan saja

    salam damai selalu:)

    • @bukek siansu…asal rusia tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan napoleon bonaparte atau Hitler ..yang ofensif ke rusia. dan asal rusia masih dalam taraf defensif dalam perang konvensional …mungkin rusia masih menang di atas angin. sekalipun dikeroyok oleh NATO. maslahnya kan logistik bagi pasukan pendudukan…itu yang payah.

      resikonya terlalu besar.

    • @bukek

      Anda selalu minta maaf….kali ini, maaf anda tidak dimaafkan (stoknya lagi kosong bung….xixixixi)

  9. Episode war super power vs super power…waoo kerenn..

    Smoga ada orang gila yg nombol nuklir ke new york..kwakk kwakk kwakk…

    Kim kah ?? Vladimir kah ?? Khomeini kah ?? China kah ??

    Kalo saya punya tombolnya udah saya pencet sekarang…kwakk kwakk..ngawurr aja sego jagung…

  10. Episode war super power vs super power…waoo kerenn..

    Smoga ada orang gi..laaa yg nombol nuklir ke new york..kwakk kwakk kwakk…

    Kim kah ?? Vladimir kah ?? Khomeini kah ?? China kah ??

    Kalo saya punya tombolnya udah saya pencet sekarang…kwakk kwakk..ngawurr aja sego jagung…

  11. Pencet aja tombol nuklirnya biar rame..

  12. Setahu aku…militer USA sudah kalah dalam segalah hal tentang inovasi teknologi dibandingkan rusia..terutama teknologi militer konvesional dan realistik (bukan teknologi konsep).

    bagaimanapun juga USA tak punya missile2 penghancur massal berpressisi tinggi sekelas balistik missile (menengah dan jarak pendek)…macam scud, toshka, dll (500-800 km). Dg warhead konvesional atau thermo nuke. itu aja sudah mengubah peta pertempuran dalam skala luas. bahkan dengan teknologi TOS-1A termobarik yg mampu membakar 8 blok kota, aja mereka sudah tak punya harapan.
    USA memang berusaha mengejar ketinggalan dg berencana membuat tandingannya…tapi kapan?

    belum…teknologi yang lain, seperti:

    1. Torpedo kilat skhval….belum ada tandingnya di USA.
    2. Tank sprud SDM1 yg mampu menembakkan peluru berpandu dg meriam 125 mm dan bisa mengejar target dg heat seeker, tank, helikopter dan drone…dan mampu menjebol baja setebal 900mm, untuk airborne. sedangkan usa masih dalam taraf berusaha untuk mencari tank utk airborne nya.

    3. Rusia punya banyak varian missile anti kapal misal yakhont, dan KH32 supersonic semua, yang belum ada tandingannya dipihak USA. USA masih mengandalkan harpoon yang subsonic. memang USA sudah berusaha mengembangkan teknologi Ashm baru LRASM , tapi tetap subsonic dan masih berapa lama?

    4. Rusia sudah punya senjata anti elektronik penembak dg gelombang mikro wave…sehingga mampu membakar perangkat keras CPU. sedangkan pakar2 USA masih mempertanyakan apa mungkin sudah ada teknologi semacam itu?

    5. USA masih mengandalkan tank Abram meski versi mutakhir…tapi bukan terbaru sama sekali. beda dg rusia yg berhasil mengembangkan dan telah memproduksi massal tank dg teknologi dan rancangan terbaru. T 14 Armata.

  13. Itu membuktikan bahwa secara “skill individu” amerika tidak ada apa-apanya, bahkan para perancang strategi militernya kurang terampil dibandingkan negara-negara yang memiliki sejarah pertempuran yang cukup banyak. China, India, Jepang, Indonesia, Turki, adalah sebagian contohnya – merujuk pada sejarah sebelum abad 19 – karena telah kenyang dengan banyak pertempuran pada masa kerajaan dulu.

    Saya cuma mengingatkan, teknologi paling canggih sekalipun masih dapat dikalahkan dengan sebuah trik sederhana. Sudah ada banyak contoh kasus koq, jadi tak perlu saya jelaskan disini.

    Jadi buat teman-teman yang terlalu mengandalkan “teknologi” dan “kecanggihan” sebagai deterrent effect – meski dalam skala tertentu berhasil menakuti lawan – pertimbangkan juga bahwa hal kecil dapat membuat semua itu tak berarti.

    Salam

  14. Ajang unjuk kekuatan
    Dalang proxy vs dalang proxy
    Xixxxixixi

  15. satu hal yang ga diketahui dari penulis. uni eropa dan nato itu dua persekutuan yang berbeda. uni eropa ke perdagangan sedangkan nato pertahanan. trus knpa kq brexit inggris di bawa2 ? kocak.. inggris di brexit kluar dari uni eropa dan bukan nato. nato juga bukan hanya ttng amerika. disana ada negara spanyol, italia, inggris, german, denmark, norwegia, prancis dan negara2 nato lain yg punya kekuatan untuk membuat senjata secara mandiri. apakah us akan bertarung sndrian ? ga lah. nato lebih kuat dibandingkan yang ditulis sama pengamat2 kebanyakn. entah ini strategi untuk ngebuat rusia jadi terlena / bukan ya gatau. cuma nato itu sekumpulan negara yg udh mandiri untuk ngebuat alutsista.

  16. @TS yang mengutip tulisan.
    Saya kenal dengan penulis resensi tersebut yang di rilis oleh majalah Forbes. Dia adalah Dr. Loren B. Thompson dari Lexington Institute. Ketemu di Georgetown Univ dulu.

    Yang akan saya kemukakan adalah mengenai tulisan tersebut memang bisa saja terjadi. Tulisan tersebut adalah kontemplasi internal oleh seorang akademisi terhadap situasi di Eropa.

    Sebagai seorang yang bergelut di Industri strategis, saya melihat beberapa flaw (kekeliruan) pandang dari paparan Dr. Loren. Yang mungkin luput dari penilaiannya saat menulis resensi tersebut.

    1. Russia bukan USSR. Dana USSR dan pakta Warsawa waktu itu sudah menyaingi NATO, sehingga memungkinkan perlombaan senjata disemua bidang. Juga support negara negara Eastern Europe blok Soviet merupakan kekuatan man power yang cukup disegani.
    Tetapi saat ini sudah terpecah dan beberapa bagian negara kecil tersebut membentuk negara federasi Russia yang memiliki GDP dan GNP jauh lebih kecil dibanding USSR.

    2. Russia sekarang justru dikelilingi oleh negara satelit yang sangat paham pertahanan Russia tetapi menjadi anggota NATO. Sebut saja Poland, Ukraine dan sebagainya. Sehingga negara negara satelit ini jika ketempatan pasukan Amerika seperti di Polandia sekarang, apalagi menempatkan Rudal Patriot dan semua radar canggih peringatan dini akan sangat merugikan posisi pergerakan militer Russia sebelum bergerak ke perbatasan.

    3. Sejarah juga sudah mencatat bahwa Soviet dan kroninya sudah pernah dihancurkan oleh koalisi NATO jadi skor saat ini adalah 1:0 untuk pihak Barat.

    4. Lihat peta diatas, saat ini mulai dari utara yang berbatasan langsung dengan Russia seperti Estonia hingga kebawah Latvia, Belarus, Ukraine semuanya sudah berhubungan dengan NATO dan ketempatan tentara serta peralatan militer US-NATO.

    Ini bagi Russia sama halnya dengan musuh sudah didepan pagarnya sendiri.

    Tentang komitmen… saya kira loyalist ke militer Amerika adalah negara negara Polandia, England dan Ukrine sudah lebih dari cukup jika agresi militer terjadi.

    Jadi kesimpulannya, pak Loren tidak melihat hal hal tersebut diatas dalam analisanya. Yang mana hal tersebut justru menjadi faktor utama yang menyanggah teorinya.

    Tabik.
    Tabik.

  17. @TS yang mengutip tulisan.
    Saya kenal dengan penulis resensi tersebut yang di rilis oleh majalah Forbes. Dia adalah Dr. Loren B. Thompson dari Lexington Institute. Ketemu di Georgetown Univ dulu.

    Yang akan saya kemukakan adalah mengenai tulisan tersebut memang bisa saja terjadi. Tulisan tersebut adalah kontemplasi internal oleh seorang akademisi terhadap situasi di Eropa.

    Sebagai seorang yang bergelut di Industri strategis, saya melihat beberapa flaw (kekeliruan) pandang dari paparan Dr. Loren. Yang mungkin luput dari penilaiannya saat menulis resensi tersebut.

    1. Russia bukan USSR. Dana USSR dan pakta Warsawa waktu itu sudah menyaingi NATO, sehingga memungkinkan perlombaan senjata disemua bidang. Juga support negara negara Eastern Europe blok Soviet merupakan kekuatan man power yang cukup disegani.
    Tetapi saat ini sudah terpecah dan beberapa bagian negara kecil tersebut membentuk negara federasi Russia yang memiliki GDP dan GNP jauh lebih kecil dibanding USSR.

    2. Russia sekarang justru dikelilingi oleh negara satelit yang sangat paham pertahanan Russia tetapi menjadi anggota NATO. Sebut saja Poland, Ukraine dan sebagainya. Sehingga negara negara satelit ini jika ketempatan pasukan Amerika seperti di Polandia sekarang, apalagi menempatkan Rudal Patriot dan semua radar canggih peringatan dini akan sangat merugikan posisi pergerakan militer Russia sebelum bergerak ke perbatasan.

    3. Sejarah juga sudah mencatat bahwa Soviet dan kroninya sudah pernah dihancurkan oleh koalisi NATO jadi skor saat ini adalah 1:0 untuk pihak Barat.

    4. Lihat peta diatas, saat ini mulai dari utara yang berbatasan langsung dengan Russia seperti Estonia hingga kebawah Latvia, Belarus, Ukraine semuanya sudah berhubungan dengan NATO dan ketempatan tentara serta peralatan militer US-NATO.

    Ini bagi Russia sama halnya dengan musuh sudah didepan pagarnya sendiri.

    Tentang komitmen… saya kira loyalist ke militer Amerika adalah negara negara Polandia, England dan Ukrine sudah lebih dari cukup jika agresi militer terjadi.

    Jadi kesimpulannya, pak Loren tidak melihat hal hal tersebut diatas dalam analisanya. Yang mana hal tersebut justru menjadi faktor utama yang menyanggah teorinya.

    Tabik.

  18. @brotosemedi……sejak kapan uni soviet berhasil dihancurkan oleh NATO secara militer?
    kayaknya belum pernah tuh…..yg dibicarakan disini kan masalah militer. bukan politik.
    Uni soviet bubar arena peran gorbachev sebagai pemimipn tertenggi malah berkhianat dg perestroika dan glasnot nya.

    Sovyet dan rusia sangat beda. Kalau sovyet dulu dominasi yahudi di KGB, majelis tinggi (MPR) dan politbiro sangat terasa.
    Sekarang rusia zaman putin telah menghabisi yahudi2 di berbagai perannya. yg masih ada mah di kaum oligarksy saja.

    Jadi jangan harap kalau terjadi perang…ada permainan belakang layar seperti kejadian perang jerman di PDII. jerman timur, ukraina dll.

    • Jawab baron semedi….jawab, jangan diam aja !!!

    • @aryajawa tukan pelintir !!
      Saya tidak mengatakan pakta Warsawa dihancurkan oleh NATO secara militer. Baca lagi lebih seksama dan dipikir secara mendalam, jangan asal main comot ya. 🙂

      Kamu terlalu membuat analogi oversimplified. Memangnya Gorbachev dengan Glasnost seenaknya langsung merubah nomenklatur USSR saat itu? Memang benar dalam jangka 6 tahun Gorbachev memperkenalkan perestroika, semacam pembaharuan secara idealis. Seperti halnya Ir. Soekarno dulu yang mengharapkan NASAKOM bersatu dibawah satu panji. Padahal hal demikian adalah tidak mungkin.
      Tetapi lebih banyak kepada 2 faktor yang mengusung ke desentralisasi USSR akibat ulah Boris Yeltsin yang menginginkan White Russia lepas dari USSR. Juga karena kekalahan Strategic Technological race antara USSR dengan USA yang mendorong kepanikan yang sudah tajam akibat economic imbalance, turunnya harga minyak dunia.
      Secara GDP dan GNP antara USSR vs US sudah timpang, itu sebabnya US lebih banyak dapat menyerap Weapon Race dibanding USSR yang kehilangan momentum karena kurangnya dana on military spending.

      Ah masak sih? gara gara yahudi? 🙂
      You’d better expand to widen them horizons for you will be fallen not toward unwarranted hearsay.

      Tabik,

      • @baronsemedi

        Hmmmm….si aryajawa ini memang tukang plintir bung baron, kemarin saya lihat dia lagi mlintirin kabel PLN

  19. Tnggal nunggu perang

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)