May 232013
 

 

Panser Canon Tarantula

Doosan DST Korea Selatan akhirnya menyelesaikan produksi Panser Tarantula berbobot 18 ton yang dilengkapi canon 90 mm serta senjata mesin 7,62mm/ 12,7mm. Panser Tarantula (Korsel: Black Fox) merupakan kendaraan tempur beroda 6 yang dioperasikan tiga orang (sopir, kkomandan, petembak) yang melaju dengan kecepatan maksimal 100 km/jam serta 8 km/jam di dalam air.

Menurut Doosan DST, Panser Tarantula telah disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia, sehingga dibuat lebih ringan dan memiliki kemampuan amphibi. Dengan senjata meriam 90mm dan senapan mesin, Tarantula didisain untuk bisa menyerang lawan yang memiliki kemampuan penuh ataupun bertempur dengan tank musuh. Panser ini juga memiliki kemampuan operasi gerilya: search and destroy.

Panser Tarantula

Panser Tarantula

Chasis Black Fox dengan turret CSE90 Belgia

Chasis Black Fox dengan turret CSE90 Belgia

Blackfox / Tarantula versi APC

Blackfox / Tarantula versi APC

Tahun 2009, TNI AD memesan Panser Canon Tarantula ke Doosan DST Korea Selatan. Panser 6×6 ini memasuki tes operasional, uji menembak dan uji manuver lapangan sejak November 2011. Setelah lulus inspeksi, panser mulai diproduksi Korea Selatan pada awal tahun 2012. Tanggal 5 Mei 2013, Doosan DST mengumumkan telah menyelesaikan produksinya untuk dikirim ke Indonesia.

Tanpa menyebutkan jumlahnya, pihak Cmenyatakan segera mengirim sejumlah Panser Tarantula ke Angkatan Darat Indonesia. Dalam pembuatan panser ini Doosan DST bertanggung jawab membangun panser dan pemasangan turret meriam. PT Pindad juga akan melakukan perakitan semi-knocked-down (SKD) di Indonesia. Menurut catatan SIPRI 2012, Indonesia memesan 22 Black Fox/ Tarantula ke Korea Selatan dan 11 diantaranya akan dirakit di Indonesia.

Masih menurut SIPRI 2012, turret dari Panser Tarantula adalah CSE 90 mm buatan CMI Defence Belgia. Turret ini mengusung meriam Cockerill MkIII 90 mm, senjata mesin 7,62mm / 12,7mm serta pelontar granat. Meriam utama dikendalikan secara elektronik dan mampu menembak sasaran di malam hari. CSE90 mm dilengkapi penjejak laser jarak jauh untuk menembakkan amunisi APFSDS-T, serta berbagai jenis amunisi lainnya.

Defence-Cockerill-CSE-90LP-01

Dengan munculnya informasi dari Doosan DST Korea Selatan ini, menunjukkan road map kendaraan tempur TNI semakin jelas. Setelah Panser Anoa, akan muncul Panser Canon Tarantula lalu disusul Tank Kerjasama FNSS Turki dan PT Pindad.

Indonesia merupakan pengguna pertama Panser Canon Tarantula Korea Selatan, sehingga belum diketahui sejauh apa ketangguhan dari Panser ini. Diharapkan Indonesia bisa mengembangkan disain dan kualitas panser ini, karena TNI AD hanya memesan 22 Panser Tarantula. (JKGR).

  46 Responses to “Panser Canon Tarantula TNI AD”

  1. luput dr berita blooger kah? mudah2an aja s300/400 ujuk2 dah di pasang….untuk drone us…yg sudah ngacak2 wilayah udara kita…..katanya ada drone yg jatuh di wilayah timur nkri…mohon pencerahan dr blooger bayaran …asing…

  2. mohon pencerahan…..kemarin pagi sampai menjelang siang…udara kota jakarta terhenyak….banyak kendaraan sepeda motor…khususnya…pada berhenti untuk melihat fly pass konvoi helikopter dr berbagai jenis ada mi35, dll….kira2 ada acara apa…tq

  3. ajib desainnya.. modern abis, gahar..

  4. demensinya lebih panjang dari anoa hanya tetap menggunakan roda 6×6, penempatan jarak roda belakang dan tengah sangat unik, menarik..

  5. saya ingin tanya ke admin, apa yang menjadi alasan disebut panser ini punya kemampuan perang grilya? fitur apa yang membuatnya disebut seperti itu?

    • Bisa blusukan ke hutan- hutan / perbukitan serta off road. Mampu bertempur di garis pantai dan sungai. Memiliki kemampuan night vision. Sangat efektif untuk melakukan pengendapan/ pengepungan tanpa harus lagi menghitung rasio infanteri 1: 10 saat menyerang posisi musuh. Konsentrasi lawan yang kuat bisa dipukul dengan meriam 90mm.

      Infanteri akan mendorong posisi pasukan musuh untuk masuk jangkauan panser tarantula. Dalam sisi lain, panser tarantula sebagai pelindung bagi infanteri yang melakukan penyekatan/ pendobrakan.

  6. Gila bobotnya 18 ton, kalah donk Tank AMX ama Scorpion?

  7. TNI udah ada konsep kendaraan tempur yang dilengkapi dengan radar dan pertahanan udara nggak? Misalnya seperti SA missile, pelontar flare atau chaff, atau bahkan pakai CIWS? Mungkin ada pemikiran untuk menempatkan sistem pertahanan udara di platform semacam Marder, Anoa atau yang lain?

    • Yang sekarang ada, baru platform kendaraan taktis/ land rover/ truk untuk pertahanan udara jarak pendek.

      Ada Grom ..tapi dari dua ujicoba…kurang memuaskan. TD 2000 buatan China lebih disebut “monkey model”. Ada juga Mistral Atlas, namun masih semi-otomatis.

      Indonesia juga membeli starstreak Inggris yang bisa dipasang di Tank Stormer. Tapi TNI AD beli yang model monopod dan yang dipasang di kendaraan taktis.

      TNI akan mengembangkan brigade mekanis….harusnya ada Pantsyr atau Tunguska ya….

      http://jakartagreater.com/2013/01/next-weapon-tunguska-atau-pantsyr/

      • @pak Diego, jika melihat kebelakang sejarah kepemilikan alutsista RI, selalu ‘low profile’, kecuali diera ’60an’, dimulai dengan pembebasan irian barat, maupun saat ‘konfrontasi’ dgn tetangga serumpun, alutsista kita pada waktu itu sangat ‘high- profile’.
        jadi kemungkinan akuisisi pantsir atawa tunguska untuk air defense oleh RI saat ini
        kecil, paling paling ya..yang tipe monopod itu, dari inggris, eropa atau china…..
        very sad…indeed…….

        • Emang pantsyr doang bs dianggap high profile ya? Wong cm medium range SAM kok. Kl S-300 yg long range SAM boleh deh dibilang high profile.

          • @Roger, pantsir atau tunguska bukan kategori medium range
            sam system, tetapi short range sam system, adalah sifatnya
            yang ‘mobile dan presisi (lethal)’ yang menjadikannya ‘kategori high’, berbeda dengan mlrs yang roketnya jenis ‘unguided’..
            yang bereaksi dalam setiap pembelian alutsista canggih bukan
            sg ttp kl. salam.

      • mas diego maksudx monkey model apa.?maaf klu pertanyaannya oon..hehehe

      • Monkey model: peralatan militer (lapis baja, pesawat, misil) yang kemampuannya secara signifikan jauh di bawah desain orsinil dan hanya ditujukan untuk versi eksport

        • Betoel, alias “Banci”, rudal C-802 yang kita beli dari China, jangan harap sama persis dengan C-802 milik China Army, Jauh mas.

          Maka dari itu C-802 milik Iran, mau bekerja sama dengan Korut, untuk mengobrak-abrik rudal agar didapat semirip mungkin bahkan lebih canggih dari disain awal, bahkan sekarang bisa produksi sendiri.

          inilah yang wajib ditiru oleh Indonesia, jangan ragu untuk mengobrak abrik rudal atau persenjataan lainnya yang sudah kita beli.

          • Menarik untuk membahas monkey model ini, kalau banyak alutsista yang kita impor merupakan monkey model apakah itu berarti kita mengakuisis alutsista KW 2 (bahkan KW 3)??? Jika betul demikian sungguh disayangkan karena deterent efect-nya pun kecil, bahkan mungkin juga menjadi bahan tertawaan (besar tapi tidak bisa tegak..hemmm).

            Untuk kasus Rudal Yakhont, MLRS Astros, Meriam Caesar, dan Tank Leopard, gimana? apakah ini jg masuk kategori monkey model? sejauh apa downgradenya?

            lalu apa ada alutsista kita yang tidak monkey model? jangan2 alutsista kita kategori itu semua.

            Mohon2 pencerahan suhu2 semua. Mksh.

          • Tergantung “kemurahan hati” penjualnya, kalau Eropa terutama Jerman sangat bermurah hati dengan negara lainnya, dibandingkan AS dan Jepang, Kalau Rusia senang sekali dengan Uang (banyak mafia).

            YANG PARAH ADALAH NEGARA CHINA !!!
            mana ada “Maling” khok “Dimalingi” ????
            Jeruk khok makan Jeruk ???

        • owww..gitu ya..klu menurut mas-mas sekalian apa kalau kita membeli alutsista dari rusky juga akan dikasihkan yang monkey model.? trus diantara AS,Rusky ama china mana yg kualitas produk alutsistax antara yg di ekspor ama yg di pke sendiri tidak terlalu jomplang.?
          krna menurut sy semua negara yg swasembada alutsista pasti melakukan downspeak terhadap produk yg mau diekspor..

          • @faadhil, baik AS, Rusia, China dan negara2 eropa sebagai produsen senjata (mungkin tidak semua) akan membedakan antara alutsista yang dipakai sendiri dan versi ekspor, kecuali untuk negara sahabatnya (sahabaaat banget…;), agar teknologi
            canggih yang terkandung di dalamnya aman (tidak dicopy)
            dan tentu saja lebih murah, bahkan kadang2 alutsista tsb
            diproduksi hanya untuk digunakan sendiri, contoh Raptor yang
            hanya digunakan AS sendiri. salam.

        • * Istilah monkey model dicetuskan tentara uni soviet, untuk alutsista versi impor USSR yang banyak rontok di timur tengah.

          * Monkey model, produk alutsista yang tidak dipakai oleh negara pembuatnya.

          * Istilah ini akhirnya berkembang di dunia militer untuk alutsista yang gagal/ cacat pembuatan.

          * Alutsista tertentu, seperti rudal, pesawat tempur dan alutsista strategis, ada versi import dan non-import. Rudal Yakhont = versi import. Versi dalam negeri/ federasi Russia = Oniks. Sudah pasti ada perbedaan kualitas. Begitu juga dengan F-16..ada tipe-tipedan block-nya.
          Sama seperti komputer, chasing boleh sama..tp jeroan processor beda-beda. Kebijakan dari negara pembuat alutsista agar tidak menjadi senjata makan tuan.

          Untuk itu -seperti kata om Melektech-, Israel, India, China, Iran, rajin oprek/obok-obok alutsista yang dibeli untuk meningkatkan kualitas.

  8. Era Tank sudah berakhir………
    Amerika secara rahasia sedang mengembangkan robot-robot yang digunakan untuk bertempur yang operatornya ada di dalamnya. (Seperti Avatar)

  9. Om Diego, satu hal yang sangat strategis sampi kini makin belum jelas, ToT rudal C-705 sekarang sampai dimana yah? Kabar paling akhir China maunya ngajari dari awal, tapi kitanya nggak mau dari awal … Jadikah China bangun pabrik rudal di sini?

    • Kita emang harus sangat hati-hati dengan China, pengalaman masa lalu dari jaman bung karno sampai sekarang, mereka tidak mau win-win solution, tapi mereka selalu minta porsi yang jauh lebih besar.
      boleh dikatakan mereka lebih parah dari AS dan Rusia dalam alih teknologi.

      kita minta alih teknologi C-705, tapi mereka pasti minta macam-macam, selain sekitar rudal C-705 itu sendiri (murni bisnis), bisa politik, tambang, minyak, gas, dll

      • bukannya kemaren syaratnya pembelian 3000 kapal laut buatan china ya mas, pembelian secara bertahap selama 20-30 tahun.?????

        • itu yang lihatan mas, yang “bisik-bisik” alias “off the record” dan lainnya, mana kita tahu mas ????,
          hal itu bisa kita ketahui dari membaca (bukan hanya melihat) situasi yang terjadi di sekitar kita dan HISTORY

        • iya ‘hal’ itulah salah satunya yang bikin mumet ‘mindef’…keliatannya
          dekat tapi kenyataanya juaauuuhh….

      • Parah …

    • Sejauh ini belum ada pembatalan kontrak yang sudah ditandatangani. Rudal C 705 diharapkan tiba di Indonesia tahun 2014, untuk melengkapi persenjataan 16 unit KCR 40 yang dipesan TNI AL ke Pelindo Batam.

      PT DI / Pindad menargetkan rudal C 705 diproduksi di Indonesia tahun 2017/2018.

      Langkah yang ditempuh Indonesia menyerupai Iran yang juga memproduksi rudal C 701 dan C 704 di bawah lisensi China. Iran akhirnya memproduksi rudal tersebut di dalam negeri dengan nama Kowsar dan Nasr-1

      Mungkin persoalannya dalam skema penjualan. Indonesia maunya langsung tahap (1) semi knock down (SKD), (2) produksi di Indonesia dan (3) joint research and development. Sementara China maunya dari tahap paling awal yakni complete knock-down (CKD).

      Kalau kerjasama mulai dari CKD, dikhawatrikan pembuatan pabrik C 705 di Indonesia juga akan tertunda. Semoga persoalan ini bisa segera diatasi.

      • Daripada RI obral murah jiwa raganya ke China (gas Tangguh, impor ribuan kapal, impor buah-buahan, “impor” barang2 bajakan KW2 dari China, dst …;) sementara ToT C-705 alotnya setengah mati, mendingan LAPAN dan lembaga riset lainnya dikaruniai dana jauh lebih besar untuk mempercepat litbang RX-530 dan rudal jelajahnya …

        Kalau saya lihat rudal jelajah yang telah dirintis LAPAN lebih besar dari C-705. Hulu ledak dan jangkauan C-705 “hanya” 130kg dan 170km, sedangkan LAPAN mengejar hulu ledak 300kg dengan jangkauan 1000km. Spesifikasi LAPAN ini akan terpenuhi oleh roket RX-530 (diameter 530 mm). LAPAN rupanya memakai spesifikasi rudal jelajah Tomahawk (diameter 520 mm) sebagai benchmark misil jelajahnya, bukan C-705, dimana sekarang sudah cukup banyak yang dipelajari:
        – RX100 (diameter 100 mm) untuk mempelajari kestabilan rudal jelajah
        – RX150 untuk pengujian sistem sayap, penanganan turbojet untuk terbang mendatar, autopilot, dst.
        – RX320 untuk pengujian seeker optik (pasang TV dihidungnya) dan hulu ledak.
        – Disamping itu LAPAN juga sudah mengembangkan INS (inertia navigation system). INS adalah sensor utama pada rudal jelajah, sementara GPS hanya berfungsi sebagai kalibrasi INS — bila suatu saat sinyal dari satelit GPS diblokir maka tidak akan mengacaukan misi rudal secara keseluruhan.
        – …dst.

        Mudah-mudahan pemerintahan berikutnya setelah 2014 jauh lebih peduli untuk mengembangkan litbang-litbang hitech … Lidah Naga China sekarang adalah buah dari investasi litbang besar-besaran 50an tahun yang lalu hingga saat ini …

  10. jarak roda belakang kok jauh ya tidak sama sperti anoa, klo kondisi seperti itu bukannya malah roda belakang lebih terbebani ( rawan terperosok), du pasang roda didepan kayaknya untuk menopang mesin

  11. Klo dibanding canon 105 mm (Striker-US) ama 120 mm (B1 Centauro- Itali) kanon 90 mm Tarantula masih efektif menjebol armor?

    • Sangat bisa:

      (Amunisi APFSDS-T) = 90mm F4 APFSDS-T M669 to defeat armoured targets, including
      multi plate spaced armour. It can defeat the NATO single heavy tank target at ranges of 1,000 metres.

      Amunisi 90mm Cockerill MKIII:

      90mm MK3 HE-T M616A1 to provide blast and fragmentation for
      use against light structures and material targets, personnel or for
      general demolition.
      • 90mm MK3 SMK-T M618A1 for screening, signalling or target
      spotting purposes.
      • 90mm MK3 HEAT-T M620A1 to defeat armoured targets and
      structures by means of its shaped charge effect.
      • 90mm MK3 HEAT-TP-T M623A1 for gunnery training.
      • 90mm MK3 HEP-T M625A1 to defeat reinforced concrete
      structures, bunkers, light armoured vehicles and personnel targets.
      • 90mm MK3 HE-TP-T M637A1 for gunnery training.
      • 90mm Training Device MK3 20-90 M640 sub-calibre system for
      gunnery training.
      • 90mm MK3 APFSDS-T M652A1 to defeat armoured targets,
      including multi plate spaced armour, using the kinetic energy of the
      tungsten alloy long rod penetrator.
      • 90mm MK3 TPFSDS-T M663 for gunnery training.

  12. Ada kabar menggembirakan agan2 semua, 22 panser canon tarantula sudah tiba di indonesia, 11 dalam kondisi jadi, sedang 11 lainnya dirakit oleh PT Pindad, dan sekarang sudah ready to go..tinggal menunggu kapan serah terima dan satuan mana yang mengoperasikannya..cihuy..

    rasanya sudah tidak sabar melihat bagaimana performansi ini panser di medan tempur bumi pertiwi..bagaimana tampilan n gendongan senjatanya yaaaa..hemmm..

    http://arc.web.id/berita/51-bumnis/540-pindad-selesai-rakit-tarantula.html

  13. kelihatannya tarantula kanon banci, kurang menakutkan dimedan palagan dan Malay akan ketawa tawa. terbahak bahak kweekekek………………kweekekek…………kweekekek………….tarantula buncit…….

  14. Hahaha… malingsia bisanya cuma gertek aja

  15. Aku selalu mendukung PT. Pindad & Lapan, mudah-mudahan di tahun berikutnya apa pun yang mereka buat bisa mengharum kan INDONESIA di tingkat internasional, Semoga pemerintah mendukung dan memberikan bantuan dana untuk mempercepat selesainya roket pengorbit SATLIT milik kita sendiri, Jadi tidak perlu numpang ma Negara lain.

  16. Mereka yang komen menjelek-jelekan itu tidak patut di tiru, Lebih baik orang seperti itu Tangkap aja.

 Leave a Reply

(wajib isi)

(wajib isi)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons