Pengujian F-35B dengan AEGIS oleh Angkatan Laut AS

11
4

Dalam keterlibatan pertama dari jenisnya, Standar Missile 6 (SM-6) buatan Raytheon dihubungkan dengan pesawat tempur F-35 menghancurkan sasaran subsonik jarak menengah. USS Desert Ship (LLS-1), sebuah Sistem Tempur Angkatan Laut AS berbasis darat dilengkapi dengan jajaran AEGIS terbaru, menembakkan rudal SM-6 untuk mencegat sasaran dibatas cakrawala, diluar batas pandangan operatornya.

Misi tersebut adalah serangkaian tes terbaru Naval Integrated Fire Control Anti-Udara (NIFC-CA), sebuah program yang dirancang untuk menghubungkan kapal Angkatan Laut AS dan berbagai sensor udara, seperti F-35, ke jaringan sensor tunggal yang terintegrasi. Selama demonstrasi kemampuan ini, rudal SM-6 menerima update terus-menerus dari jaringan, termasuk pesawat tempur, yang mengarahkan untuk mencegat target.

“Tes ini sekali lagi menunjukkan kemampuan multi-dimensi yang disediakan oleh kombinasi sistem NIFC-CA dan rudal SM-6 multi-misi”, kata Mike Campisi, Direktur Senior program SM-6. “Dengan menghubungkan SM-6 bersama sensor udara di F-35 atau pesawat lainnya melalui NIFC-CA, kami membantu untuk mendominasi lingkungan tempur dan mengalahkan ancaman”.

Rudal SM-6 menyediakan jangkauan perlindungan tambahan kapal Angkatan Laut AS terhadap pesawat, kendaraan udara nirawak, rudal jelajah dan rudal balistik dalam fase terminal dari penerbangan, serta kemampuan ofensif terhadap sasaran permukaan.

Pada bulan April 2015, Raytheon mengirimkan pesanan senilai US $75 juta untuk rudal SM-6 dan SM-3. Raytheon saat ini telah mengirim lebih dari 300 unit rudal SM-6 dan masih terus melanjutkan produksi.

 

 

Standard Missile-6

Rudal SM-6 telah terbukti sebagai pertahanan udara dibatas cakrawala, melalui keuntungan pengujian waktu dari airframe dan propulsi rudal standar ini.

  • Rudal SM-6 menggunakan mode bimbingan aktif dan semi-aktif serta teknik fuzing canggih.
  • Rudal Ini menggabungkan pemrosesan sinyal canggih dan kemampuan kontrol bimbingan rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih dari Raytheon.
  • Rudal SM-6 memberikan kemampuan multi-misi untuk Armada Pertahanan Udara jarak jauh, Terminal Pertahanan Berbasis Laut, dan Pertempuran Anti-Permukaan.

Raytheon Company, dengan penjualan sebesar US $23 miliar pada tahun 2015 dan memiliki 61.000 karyawan, adalah pemimpin teknologi dan inovasi yang mengkhususkan diri dalam pertahanan, pemerintahan sipil dan solusi cybersecurity. Raytheon berkantor pusat di Waltham, Massachusetts.

Sumber: Raytheon Company

11 COMMENTS

  1. Secanggih apapun senjata US masih bisa diimbangi oleh rusia. Bahkan kecanggihan sistem aegis us navy yg disuport data dari f35 akan usang bila berhadapan dengan sistem icbm hipersonik rs28 sarmat milik rusia. Sistem aegis cuma baru bisa menghadapi s400 aja. US dan nato masih belum bisa temukan cara menghadapi rudal iskander rusia. Apalagi rudal icbm sarmat.. Aegis maupun Thaad jadi usang semua.

  2. Sistem peperangan seperti ini memang yg di adobsi tni , namun sayangnya anggaran terbatas dan kemandirian menguasai teknologi masih slogan ,walau pemerintah beye dan pak jokowi mengarah jalan menuju kesana tapi masih lamban , ini karena anggaran yg minim dan sdm indonesia yg masih rendah

    Manusia indonesia masih berpikir belajar menuntut ilmu untuk duit bukan menciptakan atau melakukan sesuatu yg bermanfaat
    Sekolah tinggi s123 sampai teler ..ujung2nya jd kuli pemerintah atau swuasta, bisa cuma terima gaji telat dikit langsung pusing..
    S123 dst sama saja dgn orang tak tamat sd alias jadi kuli makan gaji bukan menghasilkan tapi menghabiskan..hehe

LEAVE A REPLY