Dec 292014
 
Submarine-Launched Ballistic Missiles (SLBM) Nuclear, Trident II D5, AS (kiri) dan Submarine-Lauched Ballistic Missiles JL-2,  Nuclear, China (kanan).

Submarine-Launched Ballistic Missiles (SLBM) Nuclear, Trident II D5, AS (kiri) dan Submarine-Lauched Ballistic Missiles, Nuclear JL-2, China (kanan).

Pembahasan, Deskripsi, dan Analisis

1. Perbandingan Kekuatan Nuklir Amerika dan China (ICBM dan SLBM)

Mengacu kepada simulasi perang yang akan diskenariokan, kelompok ini memakai data kekuatan nuklir Amerika dan China pada saat tahun 2006. Skenario pertama adalah Amerika akan menyerang China dengan memakai Submarine-Launched Ballistic Missiles (SLBM) Trident II D5 dari Pangkalan Militer Bangor, Washington DC ke pangkalan Inter-Continental Ballistic Missiles (ICBM) dengan tipe (DF-5A).[1] Untuk memulai suatu simulasi perang, diperlukan kalkulasi perbandingan kekuatan persenjataan antar kedua pihak. Dengan kondisi pada tahun 2006, ketika Amerika dan China masih dipengaruhi sindrom pasca Perang Dingin dan isu Teluk Taiwan, terjadi sebuah fenomena security dilemma antar dua belah pihak negara.

Dari jumlah hulu ledak nuklir, Amerika menang jauh dari Cina yang hanya memiliki 200 hulu ledak, Amerika mempunyai hampir 10.000 buah hulu ledak dengan jenis andalan yang akan dipakai di simulasi ini adalah W76 dan W88. Selain itu, dari segi ICBM, Amerika Serikat memiliki 11 jenis yaitu Snark, Navaho, Goose, Atlas, Titan, Titan II, Minuteman I, Minuteman II, Minuteman III, Peacekeeper, Midgetman. [2] Untuk SLBM, Amerika memiliki 4 jenis yaitu UGM-27 Polaris, UGM-73 Poseidon, UGM-96 Trident I (C4), UGM-133 Trident II (D5).[3] Dua jenis yang terbaru yaitu Trident I C4 dan Trident II D5 yang dipakai dalam simulasi perang ini. Modernisasi ini dilakukan bersamaan dengan perkembangan hululedak nuklir yang dipakai yaitu W76 dan W88. Trident II D5 SLBM sengaja diperbaharui dari Triden I C4 untuk tujuan implikasi target penyerangan ke Cina yang lebih akurat dan berkapabilitas di medan Asia Pasifik. D5 akan membawa hululedak jenis W88 yang merupakan misil terkuat yang dipunyai Amerika Serikat dengan daya jangkau 455 kT dan W76 untuk tingkat akurasi yang lebih baik dengan efek destruksi yang lebih lemah.

China muncul sebagai orientasi baru strategi pengembangan senjata nuklir Amerika karena potensinya sebagai ancaman pesaing baru bagi Amerika dengan pergerakan modernisasi nuklirnya. Pada Juli 2006, pengakuan internasional akan perkembangan progresif nuklir Cina dilontarkan oleh Mayor Jenderal Rusia, Vladimir Belous bahwa Cina hampir mendekati jumlah hululedak nuklir yang dimiliki Prancis dan Inggris. Menurut sumber dari media negara barat, sumber persediaan hulu ledak nuklir Cina mencapai 200, melampaui Inggris dan Prancis sebagai dua dari lima negara pemilik senjata nuklir dibawah Non-Proliferation Treaty dengan jumlah hululedak nuklir 225 dan 300.[4] Beralih ke rudal peluncur misil, China dalam segi Submarine-Lauched Ballistic Missiles hanya mempunyai dua jenis yaitu JL-1 dan JL-2, dimana hanya JL-1 yang sudah siap dioperasikan sedangkan total jenis Inter-Continental Ballistice Missile yang dimiliki oleh Cina ada 3 macam yaitu DF-31, DF-31A, dan DF-5A dengan total jumlah keseluruhan 20 yang mampu mencapai wilayah Amerika. Untuk simulasi ini DF-5A diskenariokan ditempatkan di pegunungan Cina bagian Tengah dengan kemampuang meluncurkan hulu ledak nuklir sebanyak 20 buah.[5]

Dengan status sebagai negara yang sedang melakukan modernisasi senjata nuklir khususnya dalam bentuk MIRV atau miniaturisasi hululedak nuklir[6], tindakan China dilihat sebagai bentuk dari keadaan security dilemma dimana China berada dalam posisi revisionist interest yang berusaha mengubah status quo arm-race untuk menjadi pesaing dari Amerika Serikat di sektor persenjataan nuklir. Selain itu, hal ini merupakan respon dari military capability spectacle Amerika dalam berbagai peperangan seperti Perang Teluk 1991, Pemboman Yugoslavia tahun 1995, dan Invasi Irak tahun 2003. [7]Hal ini pula yang disebut oleh Barry Buzan sebagai massive momentum of arm dynamic, terdapat siklus inovasi dan perkembangan senjata berkelanjutan yang menstimulasi sebuah permintaan akan senjata dan mengakselerasi dinamika arm-race tersebut.[8] Militer Cina yang tergabung dalam People Liberation Army menuntut kapabilitas nuklir Cina harus mampu bersaing dengan tekhnologi persenjataan Amerika yang canggih, akurat dan terintegrasi.

Tendensi untuk melakukan first strike oleh Amerika pun bisa terlihat dari penyusunan strategi perang Amerika yang mulai mengacu kepada perkembangan-perkembangan nuklir China yang mulai meresahkan. Terdapat ketakutan berlebih sehingga proses maximizing power terlihat dari semakin diperkuatnya efek deterrent pangkalan-pangkalan militer yang berada di sekitar Asia Pasifik misalnya di Guam dan Pearl Harbor. Lebih jauh lagi, Amerika mulai mempersepsikan Cina sebagai potensi ancaman keamanan yang berbahaya ketika prinsip penggunaan senjata nuklir Cina no-first-use policy yang terbaru dalam kasus ini yaitu di Buku Putih Pertahanannnya tahun 2005, tidak dijalankan secara konsisten dengan kesimpulan para ahli dari Kementrian Pertahanan Amerika Serikat menyimpulkan adanya perubahan tendensi menjadi limited deterrent action bahkan sampai ke nuclear balance shift.

2. Serangan I: Preemptive Strike dari Amerika sebagai Aplikasi Nuclear Utilization Target Selection Theory

Walaupun kekuatan nuklir Amerika Serikat sangat besar dibandingkan Cina, dengan security dilemma yang dialami oleh Amerika Serikat dan anggapan terhadap Cina yang dilihat sebagai sumber ancaman, Amerika Seriat dapat melakukan serangan pre emptive dengan sebagian kecil senjata nuklirnya dengan target pusat kendali dan fasilitas-fasilitas militer Cina.

Skenario serangan nuklir Amerika Serikat melibatkan serangan menggunakan SLBM (Submarine Launched Ballistic Missile), lebih tepatnya Trident II D5 yang ditempatkan dalam kapal selam SSBN Trident di samudra Pasifik. Opsi penggunaan Trident II D5 dipilih karena, jika menggunakan peluncuran misil balistik dari darat akan memakan waktu lebih lama dan tentunya resiko yang lebih besar pula, karena jika menggunakan misil balistik berbasis darat, yang dipusatkan di silo-silo kawasan Midwest, maka misil balistik Amerika Serikat harus melewati Rusia dan beresiko memicu sistem peringatan dini Rusia. Berkaitan dengan pemusatan senjata nuklir Amerika Serikat di Pasifik pasca Perang Dingin, maka skenario yang dipilih adalah penyerangandengan menggunakan kapal selam SSBN Trident, terhadap sistem peluncuran senjata nuklir Dong Feng 5A (DF-5A), ICBM Cina yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan mencapai target continental United States (CONUS). Kapal-kapal SSBN Trident yang ditempatkan di pangkalan kapal selam Bangor di Washington memiliki kapasitas 24 misil yang berisi lebih dari 6 hulu ledak di tiap misil, dan terdapat 8 kapal selam SSSBN Trident di pangkalan Bangor. [9]

Dalam skenario penyerangan kapal-kapal Trident melakukan patroli di Samudra Pasifik, kemudian mencapai hawaii dan ditempatkan menyebar disekitar hawaii, setelah mencapai jangkauan target, misil-misil di kapal dipersiapkan dan kemudian diluncurkan. Lokasi silo-silo ICBM DF-5A Cina dipekirakan berada 240 km dari timur Xian, jarak antara target dan peluncuran misil balistik dari SSBN Trident diperkirakan sejauh 7000 km, sehingga butuh sekitar 30 menit untuk misil-misil Trident II D5 Amerika Serikat untuk mencapai target, dengan asumsi Amerika Serikat telah mengetahui lokasi pasti silo-silo DF-5A. Untuk dapat menghancurkan silo-silo DF-5A Cina, maka diperkirakan dibutuhkan 20 hulu ledak W88 yang memiliki kekuatan ledakan sebesar 455kiloton/hulu ledak.

Skenario yang telah dibahas sebelumnya, sesuai dengan pendekatan NUTS (Nuclear Utilization Target Selection) dalam strategi nuklir, pendekatan ini mempercayai bahwa perang nuklir dalam skala tertentu dapat dilakukan dan dimenangkan. Perang yang dimaksud adalah dengan melakukan penyerangan ke fasilitas sistem peluncuran senjata nuklir, dan memusnahkan senjata nuklir lawan, dengan kata lain tujuan kemenangan penyerangan adalah pelumpuhan kemampuan senjata nuklir ofensif lawan. Pendekatan NUTS menekankan pada pemusnahan fasilitas penyimpanan senjata nuklir (counterforce) dibandingkan penyerangan wilayah sipil (countervalue), dan untuk dapat memusnahkan target-target tersebut maka diperlukan senjata nuklir dengan tingkat akurasi yang memadai, agar fasilitas penyimpanan senajata nuklir lawan dapat benar-benar dimusnahkan. [10]

Setelah membaca paparan singkat mengenai pendekatan NUTS, maka dapat dilihat bahwa Amerika Serikat menggunakan pendekatan NUTS dalam penyerangan silo-silo DF- 5A Cina. Sesuai dengan pendekatan NUTS yang mengutamakan akurasi serangan, Amerika Serikat memiliki senjata yang tepat untuk melakukan serangan ini. Trident II memiliki akurasi yang sangat baik (90m CEP) untuk mencapai target yang dimaksud, dan dengan kemampuan membawa lebih dari 6 hulu ledak berkekuatan 475 kiloton, persenjataan Amerika Serikat dinilai cukup untuk melakukan serangan pertama ke silo DF-5A.[11]

Penyerangan yang dilakukan Amerika Serikat, bertujuan untuk memusnahkan hulu ledak dan ICBM yang dimiliki Cina, sehingga Cina tidak lagi memiliki kemampuan untuk melakukan serangan nuklir ke Amerika Serikat melalui silo DF-5A, dengan asumsi serangan Amerika Serikat berhasil memusnahkan seluruh hulu ledak dan ICBM Cina. Sesuai dengan pendekatan NUTS, Amerika Serikat tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatan nuklirnya untuk menyelesaikan misi dalam skenario, hanya sebagian misil Trident II yang perlu diluncurkan, karena target penyerangan dibatasi pada silo-silo ICBM DF-5A Cina.

3. Serangan II sebagai Respon dari China : Penyerangan Kota-Kota di Amerika

Berbagai analisis terhadap spesifikasi dan karakteristik dari kekuatan nuklir strategis China yang ada dalam skenario ini memunculkan pertanyaan, seberapa besarkah kapabilitas senjata nuklir strategis China untuk menjangkau target-targetnya di daratan Amerika Serikat? Dari perbandingan kekuatan senjata nuklir antara China dan Amerika Serikat secara kasar memang jelas terlihat bahwa Amerika Serikat lah yang memenangkan superioritas senjata nuklir strategis, seperti yang sudah dijelaskan di bagian-bagian sebelumnya. Namun apakah kemudian superioritas senjata nuklir Amerika Serikat dapat menghancurkan dan meredam semua kapabilitas nuklir yang dimiliki China?

Seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya, China memiliki kurang lebih 20 Inter-Continental Ballistic Missile (ICBM) tipe DF-5A yang mempunyai kapabilitas untuk menyerang kota-kota besar di Amerika Serikat. Setelah serangan pertama yang dijalankan Amerika Serikat, seperti yang dijelaskan pada skenario satu, terhadap instalasi silo China yang terletak di Luoning, fakta di lapangan kemudian menunjukkan bahwa China memasang beberapa “decoy” silos yang ternyata kosong untuk mengelabui serangan Amerika Serikat. Berkat strategi China tersebut, beberapa DF-5A berhasil selamat dari serangan nuklir Amerika Serikat dan masih mempunyai kapabilitas untuk menyerang daratan Amerika Serikat.

Kekuatan deterrence nuklir China terhadap Amerika Serikat memang sangat berbeda jauh, karena tidak terlepas dari doktrin nuklir China yang mengatakan bahwa senjata nuklir China is one of no-first-use, dan China sangat konsisten dengan kebijakannya tersebut.[12] Kapabilitas senjata nuklir China untuk mengancam kekuatan nuklir Amerika Serikat memang tidak mencukupi dalam hal kuantitas dan akurasi, tetapi hal ini juga merupakan sebuah “keuntungan” bagi China karena dapat dengan mudah mengenai target-target yang berpopulasi tinggi, seperti perkotaan di Amerika Serikat.

Sebagai gambaran, jarak maksimal yang dapat ditempuh dari DF-5A China adalah sejauh 13000 km.[13] Jika diluncurkan dari silo yang terletak di Luoning, dan menghitung pula lintasan circumpolar yang menjadi ciri khas ICBM, maka hanya dibutuhkan sekitar 11000 km untuk menghancurkan kota-kota yang terletak di bagian West Coast dan wilayah utara hingga tengah dari daratan Amerika Serikat. Jarak 12000 km sudah cukup untuk mencapai bagian East Coast, termasuk di dalamnya kota New York dan Washington DC. Dan jika DF-5A berhasil mencapai jarak maksimalnya, yaitu 13000 km,[14] maka seluruh daratan Amerika Serikat dapat menjadi target. Tetapi hal ini kemudian akan menjadi dilema karena lintasan tersebut akan melalui wilayah udara Rusia dan dapat mengaktifkan early warning system yang dimiliki Rusia. Sebagai catatan, Rusia bersama Suriah dan China serta Amerika Serikat sendiri merupakan negara dengan sistem pertahanan udara yang tercanggih di dunia. Butuh rudal berkecepatan hipersonik yang terbang dengan kecepatan Mach 5 (6125 km/jam) sampai Mach 10 (12250 km/jam) untuk dapat melewati sistem pertahanan udara Rusia tanpa terdeteksi sedikitpun.[15] Namun DF-5A milik China belum memiliki spesifikasi hipersonik tersebut, dan jika memlilih jalur lintasan tanpa melewati wilayah udara Rusia, yang berarti harus melalui Samudera Pasifik, maka akan memakan jarak lebih dari 17000 km, jauh melampaui jarak maksimal DF-5A.

Hulu ledak nuklir yang dibawa oleh DF-5A dipercaya dapat mencapai 3 megaton hingga 5 megaton,[16] lebih tinggi dari hulu ledak nuklir yang dimiliki Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, hulu ledak nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada masa perang dunia kedua hanya sebesar 15 kiloton, dan sudah menimbulkan dampak yang sangat luar biasa bagi Jepang pada masa itu. Berdasarkan simulasi komputer yang mengkalkulasi seberapa parah dampak hulu ledak nuklir DF-5A, pada ground zero hingga sejauh 10 km akan terjadi kehancuran total, dan blast effect akan menghancurkan lebih dari radius 35 km, jika hal ini terjadi terjadi pada kota New York maka seluruh kota akan hancur dengan seketika dan membunuh 2 juta jiwa di dalamnya.[17] Seluruh skenario di atas terlepas dari peranan sistem pertahanan udara Amerika Serikat.

Terlepas pula dari skenario-skenario di atas, dalam kenyataan saat ini memang hubungan kedua negara tersebut mulai memanas seiring dengan berpindahnya counter-hegemony ke kawasan Asia Pasifik, terutama China dengan berbagai sengketanya. John Mearsheimer mengatakan bahwa kemungkinan Amerika Serikat dan China berperang di masa depan lebih besar daripada konflik Uni Soviet dan NATO selama perang dingin. Dia mengatakan bahwa pusat gravitasi dari Perang Dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah di daratan Eropa tengah. Hal ini menciptakan situasi yang cukup stabil, menurut Mearsheimer, siapapun di seluruh Eropa Tengah akan paham bahwa perang dingin akan cepat berubah menjadi perang nuklir yang akan menghancurkan semuanya. Hal ini memberikan kesadaran kuat pada kedua belah pihak untuk menghindari konflik nuklir di Eropa Tengah. Berbeda dengan persaingan strategis Amerika Serikat dengan China, Mearsheimer mengidentifikasi beberapa titik potensial di mana ia percaya bahwa Amerika Serikat dan China bisa terlibat perang, yaitu Semenanjung Korea, Selat Taiwan dan Laut Cina Timur dan Selatan.[18]

4. Kalkulasi Kemungkinan Kerusakan dari Serangan I dan Serangan II

Terkait dengan penghitungan secara kuantitatif atas dampak negatif dari senjata nuklir secara mendalam, kombinasi antara Geographical Information System (GIS) software, termasuk Google Earth dan U.S Government Computer Code menciptakan sebuah aplikasi yang disebut dengan Hazard Prediction Assesment Capability (HPAC versi 3.2.1 dan 4.04). Efek dari senjata nuklir dibagi menjadi “Prompt” (seketika) efek dan “Fallout” (radiasi) efek. Prompt efek yakni gelombang ledakan (termasuk hembusan anginnya), radiasi thermal (panas) dan initial yakni efek dari retakan neutron serta sinar gamma, di menit-menit awal ledakan nuklir. Sedangkan Fallout efek dirasakan 24 jam pasca ledakan, potensi daerah yang terkena dampak lebih luas. HPAC mengkalkulasikan secara terpisah, Prompt efek, Fallout efek sampai pengasumsian terkait jumlah korban baik yang berada di dalam bangunan (terlindung) maupun di tempat terbuka. Ditinjau dari Prompt efek, korban yang berada di dalam gedung lebih parah kondisinya di banding perkiraan korban yang berada di ruang terbuka yang disebabkan oleh Fallout efek.

Berikut prediksi kerugian yang disebabkan serangan senjata nuklir dari beberapa aspek yakni jumlah korban tewas, jangkauan daerah yang terkena efek nuklir, efek radiasi dan kesehaatan, serta efek lingkungan.

  • Scenario One: U.S. Nuclear Strike Against Chinese Long-Range ICBMs

Sekitar 100,000 korban dari Prompt efek diperkirakan mengenai populasi sekitar 6.2 – 12.4 mil (10 –20 km) dari sasaran utama. Untuk orang yang berada di luar ruangan saat terjadi serangan diperkirakan mengalami sekitar 75% kefatalan, sedangkan yang berada di dalam ruangan sekitar 40% kefatalan yang dialaminya. Tapi bagaimanapun Fallout efek cakupannya lebih luas karena ditentukan oleh jumlah bahan radiokatif yang dihasilkan dalam ledakan dan kecepatan angin yang juga mempengaruhi arah dari awan-awan yang terbentuk dan mengandung bahan-bahan berbahaya dari ledakan awal. Seperti yang diketahui bahwa ada bulan-bulan tertentu di mana kecepatan angin akan lebih besar. Mengingat bahwa krisis yang mengarah pada serangan nuklir ke China pada prinsipnya bisa terjadi kapan saja, pola tersebut bisa relevan dengan analisis korban.

Output dari perhitungan HPAC dalam dosis untuk orang selama 48 jam pertama setelah serangan. Sebagian besar dosis radiasi kepada korban akan turun menjadi satu persen dari nilai awal setelah dua hari (tentu saja untuk zona yang paling intens kejatuhan-lebih dari 100 kali dari ambang batas untuk kesehatan-pancaran radiasi lanjutan akan berbahaya). Efek jangka panjang dari kejatuhan termasuk pencemaran lingkungan dan pertanian, perpindahan pengungsi – banyak di antaranya akan memerlukan perhatian medis dan akses makanan dan air yang tidak terkontaminasi, dan tidak lupa istilah “hot spot” (curah hujan).

Dalam kasus 20 W88, ditemukan bahwa gabungan Fallout Pattern akan menciptakan kondisi berbahaya mencapai lebih dari 620 mil (1.000 km) dari ground zero. Zona kejatuhan di mana 48 jam dosis untuk orang yang terkena melebihi 150 REM akan mencakup 12.360 sampai 21.620mil2 (32.000 sampai 56.000km2). Di zona tersebut, korban akan mengalami penyakit radiasi parah dalam beberapa jam atau hari setelah ledakan, bahkan kematian. Zona kejatuhan untuk 48 jam pancaran melebihi 450 REM (kematian 50 persen) mencakup 6.950 sampai 14.670 mil persegi (18.000 sampai 38.000 km2), dan zona paling intens dari kejatuhan melebihi 600 REM (kemungkinan punah) akan meliputi area seluas 4.633 sampai 5.405 mil persegi (12.000 sampai 14.000 km2). Kedua jenis pola kejatuhan (Juni dan Desember atau bulan lainnya) dihitung untuk 20 W88 ditunjukkan pada gambar.

Fallout Patters For Hypothetical U.S. Strike On Chinese DF-5A Silos

Calculated fallout patterns from the 20 W88 warhead strike on the DF-5A (CSS-4 Mod 2) silos at Luoning for winds typical of December (left) and June (right). Note: The precise locations of Chinese DF-5A silos are not known.

Calculated fallout patterns from the 20 W88 warhead strike on the DF-5A (CSS-4 Mod 2) silos at Luoning for winds typical of December (left) and June (right). Note: The precise locations of Chinese DF-5A silos are not known.

Jumlah rata-rata korban yang -diasumsikan tidak dalam wilayah Sheltering- mencapai 18jt, 2/3 korbannya meninggal, sedangkan jumlah yang -jika seluruhnya dalam wilayah Sheltering- mencapai 4,7jt, hanya 20% dari korban yang meninggal. Dan dirata-rata dari kedua kemungkinan tadi, maka kematian dari serangan 20W88 sekitar 3.5jt dan korban cedera (penyakit radiasi) sebanyak 7.7jt.

  • Scenario Two: Chinese Nuclear Strikes Against U.S. Cities

Menggunakan HPAC dapat diketahui efek gabungan dari ledakan nuklir 4Mt pada 20 kota terpadat di AS, termasuk WashingtonDC menyebabkan 13.8j -26.1jt kematian dan 40.6jt–41.3jt korban luka-luka. Juga dketahui bahwa rata-rata jumlah kematian per serangan senjata adalah 800.000, dan rata-rata jumlah korban per senjata adalah 2jt untuk nuklir airburst ini. Hasilnya serangan senjata ini juga relatif, tidak seakurat yang diperkirakan (Circular Eror Probable atau CEP). Mereka (AS) juga mengeksplor efek dari kejatuhan, akan hulu ledak dari nuklir China yang tipe ledakannya ‘ground bursts’. Ledakan tersebut secara sgnifikan meningkatkan dampak radioaktif, dan ini merupakan scenario terburuk. Jumlah kerusakan dan korban mencapai dua sampai empat kali lebih tinggi dibandingkan ‘air bursts’, dan kontaminasi yang sangat luas akan terjadi di seluruh United States dan Easter Canada.

Fallout From Attack On 20 US Cities With 20 DF-5A 4-Mt Ground Burst Warheads

 image006-horzKomunitas intelijen AS memperkirakan bahwa pada tahun 2015 China akan mengerahkan 75-100 hulu ledak “primarily targeted” melawan Amerika Serikat. Pangkal dari perkiraan ini membayangkan campuran dari 20 hulu ledak 4Mt pada DF-5As dan 55 hulu ledak 250kt pada DF-31As. Dengan menambahkan 55 hulu ledak 250kt dan 20 hulu ledak 4 Mt yang ada dalam gudang senjatanya, China berpotensi dapat menggunakan hulu ledak 250kt untuk memegang kendali di tambahan 55 kota AS dengan populasi berkisar antara 250.000-750.000 (Austin, Memphis, Tucson, Atlanta, dll) seiring dengan memegang kendali terbesar di daerah metropolitan AS dengan hulu ledak 4Mt (New York, Los Angeles, Chicago, dll -kota dengan populasi di kisaran 750.000 sampai beberapa juta-). Serangan balasan yang imbang ini dengan 75 hulu ledaknya (93,75Mt air burst) akan mencapai korban lebih dari 50 juta, atau lebih dari 16 persen dari penduduk AS saat ini.

Ada kemungkinan kesalahan atas proyeksi komunitas intelijen AS yang menyebutkan 75-100 hulu ledak Cina “primarily targeted” melawan AS pada tahun 2015, juga bahwa China malah memutuskan untuk mengganti DF-5A dengan DF-31A. Untuk menguji skenario dan efeknya pada deterrent China, AS dengan HPACnya (memasukan data) menggunakan target yang sama yakni kota AS di skenario serangan dari China menggunakan DF-5A masih dapat diimbangi oleh mereka. Ketinggian optimal ledakan 250kt hulu ledak (16 kali lebih kecil dari hulu ledak 4 Mt pada DF-5A) memaksimalkan area sampai 10 psi atau tekanan yg lebih besar adalah 4.593 kaki (1.400 meter). Untuk airbursts, ditemukan bahwa akan ada sekitar 12jt korban dari penggunaan 20 hulu ledak 250kt pada 20 kota di AS, termasuk 3-6jt korban. Jika hulu ledak 250kt diledakkan sebagai semburan tanah, pola kejatuhan yang ada dikombinasikan dengan efek nuklir yang cepat akan menghasilkan 6-8 juta korban.

Fallout From Attack On 20 US Cities With DF-31A Ground Bursts Warheads

image008-horz5. Konsekuensi Preemptive Strike dari Amerika Serikat

      A.Keamanan Kawasan Asia Pasifik

Kiblat yang digunakan untuk menelaah konsekuensi dari preemptive strike Amerika Serikat terhadap Cina menghadap kepada teori lebensraum yang dikemukakan oleh Friederich Ratzel. Asia-Pasifik adalah kawasan dengan daya persaingan yang tinggi, insekuritas, dan negara-negara kawasan Asia Pasifik memiliki basis yang mampu saling mencurigai satu sama lain. Meski stabilitas dalam kawasan dapat terjaga karena aktor regional lebih membahas kerjasama ekonomi daripada aspek keamanan kawasan dan politik internasional, namun ancaman terhadap batas-batas ruang akan meningkat seiring dengan probabilitas hilangnya keseimbangan antara dua negara adidaya. Ruang geografi utama kawasan Asia Pasifik umumnya bersifat landlocked[19] dan sisanya adalah maritim. Luasnya ruang gerak yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Asia Pasifik sangat menentukan pembentukan kubu negara-negara berseteru, sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan hilangnya stabilitas keamanan kawasan apabila negara-negara di kawasan Asia Pasifik kerap menunjukkan sikap provokatif. Kondisi keamanan yang tidak merata juga akan meningkatkan terjadinya isu kejahatan di negara-negara maritim.

Apa yang mampu memicu hilangnya keseimbangan keamanan dalam kawasan juga diakibatkan oleh tidak setaranya kapabilitas tiap negara dalam pemenuhan kepentingan nasional.[20] Terciptanya konflik yang bersifat geopolitik akan langsung berimplikasi pada terganggunya batas-batas negara baik dalam segi politik, ekonomi, ataupun militer. Kondisi akan semakin parah dengan posisi mayoritas negara yang merupakan wilayah maritime dan pasokan sumberdaya utama serta aktivitas militer lain berada dalam sektor lepas pantai. Ini nantinya akan berpengaruh juga terhadap keberpihakan negara dalam konflik. Pada tahap selanjutnya, setelah munculnya konflik-konflik baru yang bersifat internal maupun eksternal menjadi tidak terelakkan. Hubungan historis pada masa kolonialisme juga sangat berpengaruh dalam hubungan multilateral pascakonflik. Setiap negara dalam kawasan akan berusaha untuk tetap mencapai kepentingan nasionalnya sehingga memungkinkan satu dan negara lainnya untuk menciptakan atau bahkan memecah hubungan yang telahdibangun sebelumnya.

        B.Konstelasi Politik Internasional

Cina memiliki wilayah darat yang berbatasan langsung dengan 14 negara, yaitu: Burma, India, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Mongolia, Nepal, North Korea, Pakistan, Russia, Tajikistan, Vietnam, Afghanistan, dan Bhutan. Sementara, perbatasan lautnya berhubungan langsung dengan Jepang, Taiwan, Filipina, dan beberapa negara Asia Tenggara lain di laut Cina Selatan. Dari sini sudah mampu disimpulkan bahwa hampir sebagian wilayah yang berbatasan dengan Cina telah berada di bawah pengaruhAmerika Serikat, seperti India, Kazakhstan, Korea Selatan, Jepang, danTaiwan. Namun, apa yang dimiliki Cina adalah kepentingan secara geopolitik dan geokultur. Yang dapat diambil dari fakta ini adalah bahwa hubungan antar Amerika Serikat dan Cina jelas berada dalam ambiguitas. Cina dalam upaya untuk memenuhi kepentingan negaranya, sedang mencari kerjasama dengan Amerika Serikat karena berbagai alasan, termasuk kebutuhan untuk menutup kesenjangan antardaerah maju dan berkembang, keharusan menyesuaikan institusi politik terhadap revolusi ekonomi, dan perkembangan teknologi. Ini menjadikan preemption strike bukanlah suatu kebijakan yang layak diberlakukan kepada negara besar seperti China.[21] Terlepas dari ancaman keamanan terhadap Amerika Serikat, namun secara jelas dapat dikatakan bahwa preemptive strike dapat menjatuhkan keseimbangan politik internasional secara serta merta yang sudah semestinya disadari oleh AmerikaSerikat.

Jika bicara mengenai konsepsi politik tradisional, maka konflik yang akan diakibatkan oleh kebijakan ini tidak akan jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada masa Perang Dunia I merangkap juga kepada humanitarian intervention, namun apa yang akan memperburuk kesejarahan konflik dunia dewasa ini adalah timbulnya suatu ruang gerak baru yang melibatkan peran individu dalam roda baru masyarakat dunia. Belum lagi kondisi di Timur Tengah yang tidak stabil, konflik ini akan semakin memperkeruh kondisi politik internasional.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak awal diberlakukannya kebijakan preemptive strike, memunculkan banyak gerakan-gerakan radikal yang menggunakannya sebagai ajang untuk melawan dominasi Amerika Serikat. Tidak hanya negara, pengaruh preemptive strike juga akan mempengaruhi konstelasi politik internasional hingga memungkinkan munculnya gerakan terorisme baru yang bersifat multidimensional, seperti munculnya rezim baru dan lahirnya operasi militer ekstrim lain yang bersifat lintas negara. Kecenderungan radikalisme ini didukung oleh pesatnya teknologi yang menyokong pembentukan reaksi aktor, serta pesatnya hubungan antara dua negara berkonflik pada lingkup internasional sehingga mampu menyeret dinamika internasional ke dalam kondisi chaotic.

    C. Interdependensi Ekonomi

Meletusnya konflik antara Amerika Serikat dan Cina akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap hubungan ekonomi dunia. Hal ini tidak hanya berdampak dari segi saham atau lonjakan hebat dalam kurs, permasalahan ekonomi akan juga berdampak kepada masalah sosial. Amerika Serikat sebagai negara adidaya tak bisa menampik jika interdependensi telahmenjalar di hampir seluruh sektor industri dalam negerinya. Kemunculan berbagai embrio kekuatan baru dengan ragam ideologi yang dibawanya seolah menabuh genderang perang abad baru. Embrio kekuatan baru ini lahir sebagai indikasi kejenuhan terhadap monopoli kebijakan internasional yang banyak dimainkan oleh Amerika Serikat yang dianggap merugikan banyak negara pemasok bahan baku. Sedangkan apabila perekonomian Amerika Serikat mengalami kemunduran, maka telah dapat dipastikan bahwa pemutusan hubungan ekonomi pertama adalah terhadap Cina. Sedangkan dampaknya terhadap Cina sendiri, pemutusan kerjasama ekspor sumber daya kepada Amerika Serikat pula yang akan menjadi salah satu faktor dari kemunduran ekonomi Cina.

Di sinilah titik awal dari interdependensi ekonomi pascakonflik. Seperti telah dikatakan sebelumnya, keberadaan ruang multidimensional baru bernama globalisasi ternyata ikut pula mempercepat aktivitas ekonomi dunia. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, konsep globalisasi ekonomi mengacu kepada kepemilikan otoritas suatu negara dalam menjadi core pemegang stabilitas ekonomi internasional. Dan apabila konflik terjadi serta terjadi kemunduran pada kedua negara, dapat dipastikan sistem ekonomi internasional yang sarat globalisasi seperti saat ini akan mengalami signifikansi fatal apabila variabel ekonomi internasional masih dipengaruhi oleh dinamika politik. (oleh: Risky Febrian, JKGR Biro Bandung).


Footnote:

[1]Hans Kristensen, et al. 2006. Simulated US and Chinese Nuclear Strikes, http://www.nukestrat.com/china/Book-173-196.pdf, diunduh pada 7 April 2013 pukul 16:47:21.

[2]Federation of American Scientist, 2005, Intercontinental Ballistic and Cruises Missiles, http://www.fas.org/nuke/guide/usa/icbm/index.html, diunduh pada 7 April 2013.

[3]McKinzie, et all. 2001. The U.S. Nuclear War Plan: A Time for Change, http://holtz.org/Library/Social%20Science/Political%20Science/US%20Nuclear%20War%20Plan%20-%20NRDC%202001.pdf, diunduh pada 3 April 2014 pada pukul 15:43:29.

[4] Daryl Kimbal, 2013, Nuclear Weapons: Who Has What at a Glance dari

,http://www.armscontrol.org/factsheets/Nuclearweaponswhohaswhat, diunduh pada tanggal 5 April 2014, pukul 14:59:35.

[5]Office of the Secretary of Defense, 2008, Military Power of the People’s Republic of China, http://www.defenselink.mil/pubs/pdfs/China_Military_Report_08.pdf, diunduh pada tanggal 8 April 2014 pukul 19:40:56.

[6]Center for Nonproliferation studies, 1998, China Nuclear Warhead Modernization, http://cns.miis.edu/archive/country_china/coxrep/wwhmdat.htm, diunduh pada tanggal 8 April 2014 pada pukul 04:58:31.

[7]Hans Kristensen, 2006, Chinese Nuclear Forces and U.S. Nuclear War Planning, http://www.fas.org/nuke/guide/china/Book2006.pdf, diunduh pada tanggal 4 April 2014 pukul 12:58:20

[8]Barry Buzan, 1983, People, State and Fear, United Kingdom: Wheatsheaf Books.

[9]PSR. Trident Facts and Figures. Dari http://www.psr.org/chapters/washington/energy-and-peace/trident.html pada 8 April 2014.

[10]Cosma, Maria. 2012. MAD and NUTS About Nuclear Weapons. diakses dari http://sites.psu.edu/mariacosma/2012/12/06/mad-and-nuts-about-nuclear-weapons/ pada 8 April 2014.

[11]Anonim. 2012. UGM-133 TRIDENT D-5. Dari http://missilethreat.com/missiles/ugm-133-trident-d-5/, diakses pada 8 April 2014.

[12]Ibid. hal 186

[13]Ibid. Hal 187

[14]Ibid.

[15]Pentagon Butuh Senjata Hipersonik untuk Mengalahkan Sistem Pertahanan Udara Rusia. Dari http://www.artileri.org/2014/03/pentagon-butuh-senjata-hipersonik-untuk-kalahkan-rusia.html, diakses pada 8 April pukul 21.00.

[16]Op. Cit. Hal 187

[17]Ibid. Hal 189

[18]Rivalitas AS-China Lebih Berbahaya dari Perang Dingin. Dari http://www.artileri.org/2014/01/ rivalitas-as-china-lebih-berbahaya-dari-perang-dingin.html, diakses pada 8 April pukul 23.00.

[19]APEC. Mongolia dan Laos. Dari http://www.apec.org/. Faye mengidentifikasikan landlocked countries sebagai negara-negara yang keseluruhan bagian wilayahnya tidak memiliki garis pantai, atau dalam artian lain keseluruhan batas-batas wilayahnya berupa daratan.

[20]Faye, M., Mc Arthur, J., Sachs, J., Snow, T. 2004. The Challenges Facing Landlocked Developing Countries,  Journal of Human Development, 05/01. Dari http://www. unmillenniumproject.org/documents/JHD051P003TP.pdf, diakses tanggal 9 April 2014.

[21]Robert J Art dalam The United States and The Rise of China juga berpendapat bahwa Amerika Serikat bisa saja menyerang China terlebih dahulu karena China belum mempunyai senjata nuklir yang dapat menyaingi AmerikaSerikat. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah kepentingan Amerika Serikat karena para pembuat kebijakan Amerika Serikat percaya bahwa penyerangan senjata nuklir berakibat sangat buruk dan mempunyai resiko yang sangat tinggi.

Artikel Terkait :

  30 Responses to “Perbandingan Kekuatan Nuklir Amerika dan China”

  1. Yg jelas ga ada yg menang klo perang nuklir..!!!

    …NKRI HARGA MATI…

  2. absen dulu baru baca..

  3. Wah wah, ngeri banget analisa nya bung.

  4. 2020 Indonesia menyusul

  5. Nyimak dulu aja…

  6. Mantabs tulisannya bung Risky..

  7. Nitip sendal

  8. Kalo indonesia akan menggetarkan dunia tanpa senjata model begini, saya percaya itu. Artikel yang menarik bung diego

  9. negara yg memiliki senjata nuklir akan d segani oleh negara lain,tetapi amerika tak akan berhenti mengganggu sampai negara itu takluk (korut,iran),krn amerika kuatir kepentingannya dan sekutunya trganggu,kecuali negara pemilik nuklir itu memiliki ekonomi yg kuat(cina),atau memiliki genk,brazil,india,cina&rusia.
    Andai indo memiliki nuklir walaupun tujuan damai akan selalu d ganggu oleh amerika,krn indo tidak punya genk,jd rusia pun tak akan memberi TOT sperti kpda india/cina ,

  10. Jangan sampe terjadi perang nuklir deh… apalagi di kawasan ASIA. Mau tidak mau RI pasti akan terlibat, minimal terkena Imbasnya …..

  11. Perang nuklir = kiamat…

  12. kayak skripsi ada kakinya, jadi kapan brics mo ninggalin $, kalo ga gitu ga mulai2 perangnya, kemarin bikin bank baru aja modalnya masih pake $, dah lah pake emas biar langsung mulai perang

  13. perang nuklir…
    mending tk ngungsi ke kutub selatan ae wes..ben aman

    • Wu’iih! dingiiin!! tdk ikutan lah.aq ydk tahan ama yg dingin2.(enakan yg hangat hangat bung…) Awas! tdk porn loh!..xi.xi.xi.. Piss…

  14. Pasti ini… pasti terjadi perang nuklir… PD 3 (nuklir) sebagai pembuka untuk dan PD 4 adalah perang akhir zaman sesungguhnya (Yang di gambarkan di hadist2 shahih oleh Rasul)… pake tombak, panah dll..kembali ke masa lalu..gara2nya SDA sdh habis
    Maaf analisa orang awam.

  15. Artikel KEREN , MANTAP… baru liat artikelnya byk amat segitu referensinya di JKGR.. hehehe… noh sapa mau debat tuh penulis silahkan..hehehe..kalau saya sepakat itu sama penulisnya… tinggal di tambahin aja Laut CIna selatan awal2 artikelnya terus posisis NKRI dimana gitu kira2 akhirnya..hhehehehe… kalau analisa saya sih yakin akhirnya NKRI berpihak blok barat karena bersikerasnya Cina merebut LCS secara invasi militer dan memerangi negara2 di ASEAN, tapi kayaknya masih lama.. nunggu Cina bikin Kapal Induk lagi puluhan unit hehehehe.. ini artikel bisa di joinkan dengan artikel2 sebelumnya tentang LCS, tentang Ular Naga musuh Garuda..dll… kalau menurut saya. Kalau di gabungin semua mungkin lebih asik bang Risky jadi satu artikel utuh.
    Benar2 kaget saya, ada saja di JKGR “kejutan” bikin tambah betah aja baca2 artikel + komen2nya gak,gak,gak… di tunggu lagi artikel hebohnya hehehehe….salam..

  16. Smoga Indonesia juga dapat membuat senjata nuklir dgn cepat bila memang dibutuhkan.
    Melawan negara yg mempunyai senjata nuklir tanpa menggunakan senjata nuklir pula, tdk ada kesempatan buat memenangkan perang.

  17. isu Teluk Taiwan??

  18. KLO INDONESIA MASIH JAUH UNTUK BISA MEMILIKI RUDAL BALISTIK NUKLIR…….BUAT ROKET2AN BUAT MAINAN ANAK2 AJA MASIH KEBINGUNGAN…………………HAHAHA
    (NGKONG KTAWA)

    KLO SI NAGA GAK USA DIRAGUKAN LAGI DAH……

  19. Indonesia perlu senjata nuklir

  20. Ternyata koar2nya mbah bowo tentang hebatnya pla bukan omong kosong “Jangan meragukan kewibawaan mbah bowo” hahahaha.

  21. Wah referensinya mantap, tapi ada yang saya lihat belum disampaikan: Bagaimana peran senjata penangkis ICBM dari masing-masing negara?
    Setahu saya USA mempunyai program “Star Wars” yang dimulai awal 80’an. Melalui serangkaian ujicoba yang gagal, akhirnya mereka meraih beberapa kesuksesan, terakhir mampu mencegat 5 rudal dari berbagai tipe dalam satu ujicoba http://en.wikipedia.org/wiki/Terminal_High_Altitude_Area_Defense. Salah satu bentuk implementasi “Star Wars”, USA sudah menggelar Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). China, sejauh ini belum diketahui memiliki program sejenis.

    • Pernah saya berdiskusi dgn seorang Indonesia yg mengaku tinggal dan bekerja di vendor pembuat alutsista dan militer teknologi tinggi dan pertahanan amerika saya ingat namanya bung brotosemedi. doi mengatakan proyek starwars di jalankan kembali, stlh sempat bbrp lm vakum. tp utk saat sampai 2 tahun kedepan ini amerika sdg dlm tahap mengembangkan senjata LaWS (laser weapon system) dan senjata meriam elekromagnetik RAILGUN (navalgun).
      railgun dimulai dgn:
      -fhase 1 pd thn 2005 dgn kekuatan 32 mega joule dgn jrk jangkau 100nm.
      -fhase 2 pd thn 2012 dgn kekuatan 40 mega joule. dgn jarak jangkau -/ 110nm.
      -fhase 3 pd thn 2014 sdh rampung dan sdh ditempatkan di kapal DDG1000 vessels class zumwalt dgn kekuatan lontaran elekromagnetik sekitar 50 mega joule. dan dgn jarak jangkau sekitar 200nm. dan dengan dgn kecepatan lontaran proyektil 5,600 mil/jam, atw lbh dari 10 km/detik.

      Sedang utk Laser weapon system (LaWS)
      amerika sdh menempatkan laser berjenis ciws di USS Ponce dgn kekuatan laser yg bisa setting mulai dari 30kw s/d 100kw. dan msh akan ditingkatkan kemungkinan dlm 2 thn kedepan sdh kekuatan 100s/d200kw. yg mana dgn kekuatan segitu, jk cuaca dlm keadaan cerah dan tdk berkabut maka dpt merontokan rudal jelajah, balistik, pespur, drone, mortir dan peluru meriam.

      Jd menurut saya amerika msh menjaga jarak utk bergesekan dgn negara2 selevel Rusia dan china sebelum kedua senjata pertahanan diri itu belum final. dan melihat perkembangan terakhir, kemungkinan pada dua tahun kedepan senjata tsb sdh rampung dan jg pespur F35 versi kapal induk teknologinya jg sdh fix dan sdh masuk dlm pelayanan di angkatan laut amerika. dan jk saat itu tiba, baru seluruh umat pantas kuatir, krn PD3 kemungkinan besar akan terjadi. kalau senjata tsb blm rampung. amerika hny msh menggunakan cara2 gertak sambal belaka. dan itu kenapa bbrp tahun belakangan ini, amerika seperti kurang tertarik mengembangkan persenjataan pertahanan berbasis rudal sprt mengembangkan patriot ke versi yg lbh tinggi, seperti halnya rusia yg intens mengembangkan rudal pertahanan udara sprt S300-S400-S500. krn amerika mempunyai konsep berbeda tdk dgn model rudal tp laser dan railgun yg lbh hemat dan peluru yg simple dan tdk habis2 serta mempunyai kecepatan yg jauh lbh cpt dibandingkan rudal tercepat saat ini.
      Salam..

  22. 10.000 lawan 200? Tidak imbang, apalagi yang 10.000 memiliki penangkal ICBM. Salah satu akan kembali ke jaman batu.

  23. Pluru kendali dulu ina ya……

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)