Aug 222013
 
Indonesia bekerjasama dengan China membuat Rudal C-705 (photo:istimewa)

Indonesia bekerjasama dengan China membuat Rudal C-705 (photo:istimewa)

Indonesia dan China menggelar pertemuan lanjutan di Beijing, China, untuk membahas mekanisme transfer teknologi Rudal C-705 yang akan digunakan oleh Angkatan Laut Indonesia. Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan  Pos M Hutabarat mengatakan kedua pihak  harus memenuhi persyaratan hukum negara masing-masing, agar transfer teknologi rudal itu bisa dilakukan.

Pernyataan ini disampaikan Pos M Hutabarat setelah melakukan pertemuan putaran kedua,  Kerjasama Industri Pertahanan Indonesia- China di Beijing, Selasa 21 Agustus 2013.

Undang Undang RI Nomer 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, memiliki aturan yang harus dipenuhi dalam pengadaan alutsista dari luar negeri, termasuk perihal: transfer teknologi, perdagangan (imbal dagang, kandungan lokal) serta pembelian lisensi untuk senjata teknologi tinggi dan medium. Semua aturan itu harus jelas, sebelum kesepakatan dilakukan.

Ada sedikit kendala yang dirasakan Kementerian Pertahanan tentang aturan transfer teknologi di China yang didasarkan hak cipta intelektual. Indonesia harus membayar spesial fee untuk transfer teknologi tersebut dan  kedua negara belum mencapai kata sepakat.

Kerjasama Pertahanan Indonesia – China
Hubungan pertahanan antar kedua negara semakin kuat sejak ditandatanganinya kesepahaman bersama (MoU) antara Kementerian Pertahanan dengan Badan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Pertahanan Negara (SASTIND) China, 22 Maret 2011 di Jakarta. Kerjasama terus ditingkatkan dengan digelarnya Pertemuan Kerjasama Industri Pertahanan (DICM) di Jakarta ,24-25 Juli 2012 dan dilanjutkan dengan pertemuan di Beijing pada 19-20 Agustus 2013 ini.

Pertemuan di Beijing ini telah membuka jalan bagi peningkatan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan China, termasuk penandatanganan Letter of Intent untuk pembuatan bersama rudal anti-kapal C-705, antara Kementerian Pertahanan Indonesia dan SASTIND.

Proses manufaktur untuk rudal C-705 akan melibatkan empat tahap. “Kami belum setuju pada tahap mana transfer teknologi akan dilakukan. Namun, kedua pihak telah sepakat bahwa proses transfer teknologi harus dilaksanakan secepatnya dalam pembuatan rudal tersebut”, ujar Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan  Pos M Hutabarat.

Rudal C-705 China

Rudal C-705 China

Kerjasama Rudal C-705
Proses transfer teknologi rudal C-705 akan dimulai dengan perakitan Rudal secara semi knock down oleh PT DI dengan rentang waktu sekitar 2- 3 tahun, dalam artian sebagian besar modul roket didatangkan dari China. Tahap kedua mulai melakukan perakitan Completed Knock Down oleh PT DI. Pada tahap ini komponen-komponen rudal dikirim secara terurai dan diharapkan mulai terjadi transfer teknologi secara nyata, terutama tentang guidance dari peluru kendali, karena Indonesia pun telah memiliki kemampuan membuat airframe serta propelan rudal.

Jika tahapan itu dilampaui dengan mulus maka pada tahapan ketiga, Indonesia diharapkan sudah bisa mulai memproduksi rudal C-705 secara mandiri dan dilanjutkan dengan ke tahap riset and development, untuk pengembangan rudal. Ditargetkan Indonesia mampu membuat rudal secara mandiri dalam rentang waktu 5 hingga 10 tahun, tergantung kemampuan teknisi Indonesia dalam mengembangkan teknologi rudal tersebut. Kerjasama pembuatan Rudal C-705 teknologi digital dengan Lembaga SASTIND China ini, akan melibatkan PT DI, PT Pindad dan PT LEN. (JKGR/Antara).

  40 Responses to “Perkembangan Kerjasama Rudal C-705 China – Indonesia”

  1. Bung Diego, ternyata lama juga proses transfer teknology untuk rudal ini pakae acara knock down 2 th blom yg di urai urai..baru masuk ke TOT beneran artinya TOT beserta guidance nya trus R&D nya, lha apa ini tidak bisa diakselerasi dengan program RHan 122 kita, masak main2 puzzle duluan kan itu bikin lama..rentang sampai kita dapet TOTnya, trus untuk Special Fee buat teknology inti rudal apakah kira2 kita mo beli apa tidak? trus bagaimana kinerja rencana penempatan varian Rudal C-705 ini nantinya di KCR dan kapal2 yg lain apakah efektif? untuk kerja sama rudal dengan china apakah cuma rudal2 antiship saja apa lanjut juga ke rudal SAM, melihat perkembangan malaysia yg katanya mo akuisisi rudal Brahmos versi antiship yg di gotong pake Shukoi…dengernya Ngeri-ngeri pedas juga klo kita ga punya counter attack rudal tsb,

    • Setuju bung Edi, saya lebih memilih kalau kolaborasi antara beberapa lembaga dan kampus yang terlibat dalam project R-HAN 122 itu yang ditingkatkan. Pemberintah seharusnya lebih memperhatikan hal ini (R & D) R-HAN. Kucurkan dana khusus untuk penelitian di bidang RHAN ini kalau kita benar2 mau mandiri. Sy kok rasa kalau kita lebih memilih kerja sama ini kokk malah kita lebih banyak ruginya. bisa2 juga project RHAN gak akan lanjut. lbih baik RHAN ini yang dikembangkan terus. kan detterent effectnya lebih tinggi.

      • Nah ntuuh yg gw maksud bung Lamberth, apalagi kita mo ganti pemerintah skrg gmna neeh, klo DPR ma pemerintah yg baru ga komit lanjutin apa ga amburadul TOT..TOT kita dr Kapal, Pesawat, Rudal dll. klo untuk rudal ini pabrik propelan kita dah bangun biar ga trgantung ma luar lg, agak seneng dengernya, klo guidance itu lhooh.. padahal katanya kita mo luncurin satelit sendiri 2025. trus klo kerja sama India ma rusky buat rudal brahmos itu gmna ya apa skenarionya sama sperti kita dengan china…

        • KALAU PEMIMPIN YG AKAN DATANG MENGABAIKAN HAL2 YG MENYANGKUT PERTAHANAN, KITA TENDANG RAMAI2 DARI KURSINYA……..DI LEMPAR KE ANTARTIKA

      • bung kalu kolaborasi antara lembaga dan kampus sudah lama bejalan bung, terutama untuk R HAN 122 sudah dikembangkan terutama untuk air frame, dari lapan mengadakan penelitian bersama mulia dari airframe Rhan terbuat dari komposit hingga paduan aluminuim. tetapi yang kurang adalah dukungan pemerintah terhadap program ini…

        menurut saya jika memang pemeritah ingin segera memiliki keiinginan bisa mambuat rudal sendiri akan sangat mudah… tapi karena pemerintah tidak punya keinginan.. sehingga dana pun terbatas.. dan ga bisa all out.. jd hasilnya stengah2… NANGGUNG….

  2. Menurut saya perlu ada rencana B yaitu kerja sama dengan negara lain misalnya pecahan Uni soviet yg memang lagi butuh duit, beli blue print salah satu guide rudal yang ada dan minta sekalian untuk di aplikasikan ke rudal RHan, masak beli satu lisensi saja gak sanggup, harga lisensi itu pasti tidak semahal Kilo class. klo rudal diatas 300Km memang dibatasi tp utk rudal pandu jarak dibawah 80 km boleh di jual-belikan

    Tinggal keinginan dan kemauan MenHan saja mau gak mengajukan alokasi dana buat teknologi rudal tsb.DPR pasti mendukung kok krn ini jangka panjang dan sangat dibutuhkan utk pengembangan rudal-rudal bahkan peluncur satelit sendiri

  3. Itulah sebabnya, mereka seolah-olah menganggap kita ndak bisa apa-apa, bersifat merendahkan,
    adalah sangat lucu buat NGRAKIT rudal kecil aja ngalahin riset and develop segede IFX/KFX.

    karena seolah-olah, maka pasti ada batu dibalik udang, mulutnya aja mereka minta dipercepat, tapi kenyataan di olor-olor, sambil mengeruk sebesar-besarnya kekayaan kita.

    Banyak perusahaan cina yang invest di Indonesia bukan dibidang Hi-Tech, namun dalam pertambangan atau sumber alam, beda jauh dengan Korsel

    • Betul, tampaknya 11-12 dgn AS dlm hal tertentu tampaknya lebih buruk. Menambahkan saja, peta LCS versi China juga tampak mencurigakan, jika konflik meletus bisa jadi RI akan terseret.

    • hehehe…
      urusan sama cina, korea mana ada yg gratis..
      pengusaha2nya aja licinnya minta ampun kalo nego bisnis, seperak dua perak aja diperhitungkan apalagi kita urusan sama pemerintahnya..

      makanya dari awal tiap kali baca seolah2 kita menyanjung2 cina, korea, rusia yg lebih ‘tulus’, ‘tanpa pamrih’ dalam kerjasama militer… ditunggu aja, nanti pas ketauan belangnya mah sama aja kok semuanya.

      benar kata2 KSAL Slamet Subiyanto dulu, kalau perlu kita curi yg namanya teknologi itu.
      gak selamanya harus lakuin seperti ‘good boy’ lewat TOT, belajar, nuntut ilmu, beli lisensi.. prek!
      yg penting adalah bagaimana kita bisa mengejar ketinggalan, walaupun itu artinya BIN kita kudu kerja lebih keras mencuri blueprint2 di luar, kenapa tidak?

      Tidak ada yg gratis di hubungan antar negara.
      Selalu ada udang di balik rempeyek. Tinggal siapa yg bisa liat itu udang atau nggak aja…

      • percaya deh bentar lagi intel kita bakal mengadakan pencurian teknologi tinggi militer besar-besaran, selama ini, pura-pura jadi good boy. Karena klu dulu kita mencuri, dana utk ngembanginnya jg ngg ada.
        Sekarang dgn postur anggaran yg segede gajah. hukumnya kudu tuh mencuri teknologi, apa lagi anggaran makin gede, ancaman makin nyata. 30 th dari sekarang Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan militer no. lima di dunia. bahkan lebih.

  4. Permasalahan besar untuk teknologi rudal di Indonesia ini, hanya soal fokus dan keseriusan yang minim dari para stake holder. Masalah-masalah tekhnis seperti pencapaian range, guidance dan lain-lain sebenarnya bisa cepat dikuasai, karena SDM Indonesia inikan banyak yang berkualitas.

  5. Pertengahan Th. 2013 : Kemhan, PT. DI , LAPAN, PT. Pindad, PT. PAL , BPPT dan para Pejabat terkait bekerjasama dgn PT. infoglobal Teknologi Semesta, dgn maksud mendengarkan paparan yang disampaikan oleh Direktur dari PT. Infoglobal Teknologi Semesta. Pembuatan Missile Guidance bertujuan untuk pengendalian Rudal RHAN-122 dan pengendalian ground to ground. Keunggulan dari aplikasi tersebuat antara lain : aplikasi mempunyai peta Indonesia beserta contour, dapat menghitung kemampuan daya dorong Missile untuk mencapai target dan membuat simulasi perjalanan Missile.

    • info dari situs kemhan, yg menarik bahwa kemhan dan instansi terkait lainnya itu tetap berusaha untuk mewujudkan rhan-122 untuk menjadi rudal/roket kendali nasional. Data perkembangan litbang mulai th 2008 s/d 2013 terlihat bisa dilihat.

  6. Udah kembangin aja dulu deh RX generasi terakhirnya
    tinggal nanti TOT Guide nya dari negara yang lain .. (cari alternatif)
    walau ga murah tapi nanti sebanding dengan apa yang akan didapat

    Roket RX juga Oke
    Rudal Sangat oke

    dua2nya memiliki tingkat deterent yang cukup dahsyat…
    Go go go ….!!!!

  7. Dah, lebih baik kerjasama dgn Iran saja.
    Cina, Rusia, Korea, AMerika, dan Eropa tuh negeri-negeri penipu yang ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya dari Indonesia..

    Kita tidak pernah berbicara tentang Iran, mungkin karena kita menyepelakannya kali yah.
    Sudah saatnya bagi petinggi2 militer Indo untuk menoleh ke Iran dalam hal kerjasama militer.

    • Sudah siap dengan resiko-nya ?

      dicubit Amerika sedikiiiiit aja, Rupiah udah anjlok Rp.11.500,-

      Perusahaan TEMPE udah ancang-ancang menaikkan harga, kalau tempe saja udah mahal, terus wong mis-mis ini makan apa ? akhirnya timbul CHAOS (bukan saos bakso he..he..) seperti di Mesir, Suriah. dst…

      Mau……..???

  8. Kenapa ngga mau belajar dari Israel?…

  9. itulah jadinya kalau bangsa kita terlalu bergantung pada satu negara..
    TOT Dipermainkan …
    EKONOMI mudah diguncang…

    Nanti tunggu aja GUNCANGAN yang lainnya !!!

    bersatulah bangsaku. ..!!!

  10. lhoo pie iki om diego says..
    Bethul kata para senopati” di atas lebih baik kita beli buku salinan tentang rudal dari pecahan soviet,,china saja rela menggelontorkan uangnya demi kemajuan membuat pespur,lontong, , kenapa kita tidak tiru cara china tersebut,,
    ukraina,kazakhstan siap lho mereka jual beli lesyen nd kopi an ttg rudal ..nunggu semi knock down kelamaan keburu para antek” amerika di cocos merajalela meluncurkan seranganya…

    Kapan rudal indonesia terealisasi. toT NYA KOG PADA MLENCA MLENCE…DARI PKR, IFX,C705,KS CHANBEGO,, YANG GAK CUMA lPD AJA. . . . .

    Sampai kapan indonesia harus berhalusinansi tentang mimpi dari tOt.. Nyaanya smuanya butuh waktu 10th up.. Padhal dana kita sudah mengalir derasss…

    Tolong om diego says bilang ma sama raja kita es-beye,sama punggawa”ne khususnya pak menhan,menristek,, kelamaan mikir keburu di smack down sama tetangga…

    Lapan gimana lapan ,, butuh guidance brapa.. Ntar tak pretelin dari s-400 pasa di Rx122…

    • Memang Indonesia telah lama berurusan dengan teknologi cruise missile dan masih menemukan kendala. Teknologi Guidance roket sempat diujicoba ke roket Rhan, tapi hasilnya belum memuaskan.

      Kayaknya tidak ada negara pecahan Uni Soviet yang memiliki teknologi guidance roket. Dibandingkan dengan Brasil dan Turki, teknologi guidance roket China jauh lebih mapan. Brazil dan Turki, juga baru belajar.

      • dengernya dr th 2010an bikin c-705,,sampe gini hari lom kelar juga..
        Gimana skrg dg perkembang c-705,,ada sampai tahapan apa,
        atau masih tahap ngecatt nulisin rx-1000…
        Bsoknya tinggal nglemparin ke muka nya petinggi dpr yg korup

  11. rudal guide nya pakai asap kemenyan aja……tanya ki Joko

  12. orang pintar akan belajar dari israel ( hi-class) bukan iran (low class), yang nyuruh belajar sama iran pasti berideologi onta…

  13. TERLALU LAMA & SEMUANYA SAMA SAJA

  14. Kumpulkan seluruh pakar,akademisi,praktisi baik dari militer maupun sipil yang berhubungan dengan penerbangan peluru kendali yang meliputi teknologi bahan, sistem propulsi, dan sistem elektronika, kasih dana riset besar-besaran dengan target yang realistis dan terukur maka saya kok yakin kita tidak perlu terlalu mengemis-ngemis teknologi rudal dari cina ………..

    sebab tidak ada yang rela 100% untuk berbagi teknologi peluru kendali, harus dikuasai sendiri secara mandiri

    kalau mau teknologi dari luar maka curilah atau belilah lisensinya ………..

  15. Jika pemerintah menggelontorkan dana khusus, let say $1 milyar untuk dana R&D renstra misal : “Percepatan Penguasaan Teknologi Roket” pasti akan ada hasil yang significant. Manfaatnya tidak hanya untuk program ruang angkasa RI tapi juga pertahanan. Mampu membuat rocket angkut satelit sendiri artinya RI juga mampu membuat rudal balistik buatan dalam negri.
    Kita punya banyak tenaga ahli, yang kurang adalah dukungan nyata pemerintah. Saat ini dana untuk LAPAN hanya hitungan milyar rupiah per tahun, kalah jauh dengan dana “study banding” yang dihabiskan para anggota dewan yang terhormat

  16. Bentul banged indo kebanyakan jjs pejabatnya ?ª?>:/ mkirin pertahanan soalnya klo perang milih ngungsi sambil bawa tabungan hasil colek sana sini

  17. Jika semua sudah dicoba, yah satu2 nya tinggal israel yang belum diajak ngajarin bikin Rudal ke kita, untuk kepentingan bangsa kalo memang harus ke Israel kenapa tidak, tapi secara intelejen harus di monitor dulu kira2 apa mereka bersedia tidak? jual lisensi atau ToT , seharus nya technologi dan komunikasi sudah terbuka rasa nya dengan operasi intelejen bidang technologi bukan sesuatu yang mustahil lagi bisa didapat atau kita belum punya intelejen tecknologi dan ekonomi? , atau kirim mahasiswa program doctoral s2, s3 ke Amerika, German, France, atau Israel dan Korut, pergunakan hubungan persahabatan Indonesia dengan negara2 EX Block Timur termasuk rusia untuk pelajari system rudal guidance dan propelan. manjadawajad mansarowasol. bravo NKRI.

  18. beli sedikit+ngeteng+cicilan dengan syarat mesti tot. ga bisa ngomong deh.ampyun.

  19. KITA SUDAH BANYAK MEMBELI RUDAL DARI NEGARA LAIN, BONGKAR SATU UNTUK DI TELITI BERES DEH !

  20. Inilah kalau tdk peryaca sesama anggota/saudara kita yg mempunyai keahlian dibidang apapun, akhirnya dipermainkan oleh ToT dr negara2 luar dan dipecah belah sptnya tdk ada akan kemampuan Anak2 Bangsa thd teknologi syarat tinggi. Siapa yg senang orang2 luar musuh NKRI, yg ada di NKRI maupun diluar NKRI ketawa hek….hek….kek……kek……yg sdh menerima dolar/rupiah termasuk para koruptor yg merusak tatanan pemerintahan yg baik dan dlm pemilihan pres yg akan datang pilihlah pemimpin yg amanah. Agar tdk terulang spt sejarah mengajarkan akan tetulandan para pemimpin dunia yg berhasil dan tdk berhasil memimpin bangsanya. Salam NKRI……………….

  21. boss apa nggak pake ilmuan lampung saja yang sudah lebih 30 thn mempelajari bahan2 utk pembuatan rou..s saya rasa lebih baik ilmuan indonesia saja yang lebih produktif kalo bekerja dibanding ilmuan luar negri.thank’s.saat ini ilmuan lampung sedang mengumpulkan bahan baku untuk rou lebih banyak…

  22. kapan realisasi rudal indonesia bung?

  23. Belajar ke Israel boleh aja, soal teknologi belajar ke musuh itu boleh aja, tapi masalahnya apa iya Israel mau ngasih? Dulu kita pernah punya sejarah beli pesawat Hawk bekas mereka (pake operasi intelijen lagi) sekarang kita juga beli UAV Heron dari mereka cuma lewat pihak ketiga perusahaan Filipina, kalo dilihat dari geopolitiknya sangat mustahil Israel mau ngasih teknologi itu. Tapi teknologi Guided Missile ini super duper penting bwt kita tanpa itu teknologi roket pertahanan kita hanya satu tingkat di atas Hamas yang bikin roket buatan tangan.

 Leave a Reply

(wajib isi)

(wajib isi)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>