Mar 262015
 

Pesawat Bravo Pensiun, Sekbang A 89 Pertama Gunakan Pesawat Grob

 

LANUD ADISUTJIPTO (26/3),-  Penerbang Militer adalah  identik dengan penerbang tempur. Dan untuk  membentuk calon penerbang militer yang memiliki kualifikasi handal, memerlukan pendidikan dengan waktu yang panjang dan beresiko tinggi.  Agar program tersebut dapat berjalan lancar dan aman, diperlukan suatu proses yang konsisten dan berlanjut, dengan tahapan-tahapan yang sistematis, ketat dan tanpa kompromi. Hal ini ditempuh karena bakat dan kemampuan terbang bagi setiap siswa, tidaklah sama.   Sementara kemampuan terbang tidak bisa ditawar-tawar. Toleransi sekecil apapun terhadap kekurangmampuan dari setiap siswa, mengandung resiko potensi yang membahayakan, tidak saja bagi diri calon penerbang itu sendiri, namun juga bagi orang lain dan Alutsista yang digunakannya.  Dengan kriteria demikian, secara jelas tersurat bahwa TNI AU, tidak akan mengambil resiko yang mungkin dapat terjadi akibat dari kekurangmampuan para siswa.

 Demikian Sambutan Komandan Pangkalan TNI AU Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Yadi I Sutanandika, M.S.S, pada upacara tradisi Terbang solo Siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan 89 di Shelter pesawat Grob Lanud Adisutjipto, Kamis (26/3)

Lebih lanjut Marsma TNI Yadi mengatakan “kalian patut bersyukur, karena tahapan bersejarah ini kalian telah mengunakan Alutsista terbaru yaitu pesawat G 120 TP-A Grob yang pertama kali digunakan Sekbang baru Angkatan ke-89 ini.” Kalian merupakan generasi baru bagi TNI AU dan telah menjadi bagian penting dari proses modernisasi Alutsista TNI AU.

Berhasil meraih predikat Terbang Solo Pertama adalah Letda Adm Hendra Zainuddin, sedang Letda Cpn Rizki Yudistira  memperoleh predikat terbang Solo Terakhir. Namun demikian Komandan Lanud Adisutjipto juga menambahkan “bagi yang telah mendapat predikat itu bukanlah segalanya, karena masih banyak waktu lagi untuk membuktikan terbaik “, imbuhnya.

Tradisi yang dikemas dalam upacara militer ini ditandai upacara tambahan berupa pemotongan rambut yang diartikan (perubahan status) pemecahan telur diatas kepala perwakilan siswa sebagai tanda telah berhasilnya mereka “(menetas) menjadi burung yang bisa terbang. Selanjutnya pemberian kapas diartikan (mulai tumbuhnya sayap terbang) penyiraman kembang (penyucian dari segala yang buruk). Upacara dipimpin langsung oleh Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI Yadi I. Sutanandika, M.SS, Kadispers, Komandan Satuan, para instruktur penerbang, siswa serta Ground Crew yang terlibat langsung selama latihan.

Komandan Lanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Yadi I Sutanandika, M.S.S, juga menambahkan bahwa di setiap tahapan bina terbang sangat terbuka kemungkinan untuk menjadi penghalang yang menyebabkan kegagalan. Untuk itu Komandan Lanud menekankan kepada seluruh siswa Sekbang Angkatan ke-89 agar memelihara semangat belajar dan lebih mengedepankan konsentrasi pada setiap latihan terbang selanjutnya.

4 Pesawat Latih Grob G120TP-A, tiba di Lanud Adisucipto (photo:Kemhan)

“Latihan terbang tahap awal ini dilaksanakan di Lanud  Adisutjipto  selama kurang lebih 4 bulan. Siswa Sekbang Angkatan ke-89 ini terdiri dari  48 orang siswa.   Selama latihan, siswa Sekbang Angkatan ke-89 menggunakan Pesawat Latih G 120 TP-A Grob dan sudah tidak lagi mengunakan pesawat latih Bravo seperti pendahulunya. Pesawat bravo sendiri telah dilikuidasi dan dinyatakan purna tugas terhitung tahun 2014, namun masih menunggu kelengkapan proses administrasi.” (tni.mil.id)

Artikel Terkait :

 Posted by at 5:59 pm

  15 Responses to “Pesawat Bravo Pensiun, Sekbang A 89 Pertama Gunakan Pesawat Grob”

  1. pertamax lagi kah ?

  2. Terbang

  3. Hadir.

  4. Mantap….

  5. Masih muda muda siswanya, contoh generasi penerus yang membanggakan..selamat..

  6. bangga padamu negri

  7. ada berita bagus dari rafale :

    France ready to give RI
    technology transfer

    Novan Iman Santosa, The Jakarta Post, Jakarta | World | Thu, March 26 2015, 7:35 AM

    France asserted on Wednesday that it was willing to provide an industrial cooperation with Indonesia should the Dassault Rafale jet fighter be selected to modernize the Indonesian Air Force.

    French Ambassador to Indonesia Corinne Breuzé said that France was open to all cooperation possibilities involving French aircraft maker Dassault Aviation and state-owned aircraft maker PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

    “With the support of the French government, Dassault is open to any possibility of partnerships and transfer technology,” she said in a prepared statement.

    Other than technology transfer, she said that being 100 percent French, the Rafale would allow its users independence. “It is designed with Safran/Snecma for the engine, Thales for the avionics and MBDA for the armament,” she said.

    Breuzé was speaking at an event to introduce the French jet fighter to the Indonesian public, at the Halim Perdanakusuma Air Force Base in East Jakarta.

    She said that the decision to bring the Rafale to Jakarta, despite a high level of operational engagement especially in Iraq, was made by the French defense minister and air force following a courtesy call from Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu, who met his French counterpart Jean-Yves Le Drian on March 10.

    Ryamizard also visited the Rafale’s assembly line in Bordeaux-Merignac during the March visit.

    Two Rafale jet fighters, a Rafale B double-seater and a Rafale C single-seater, arrived on Monday from the just-concluded 2015 Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) exhibition in Malaysia.

    On Tuesday, the jet fighters performed three flights for Indonesian Air Force pilots who flew on the Rafale B, taking the back seat.

    There was also a solo aerobatic display performed by Capt. Benoit Blanche of the French Air Force.

    The Rafale is a latecomer in the competition to replace the aging American-made F-5 E/F Tiger II operated by the Indonesian Air Force.

    The French jet fighter is facing tough competition, locking horns with a stable of other contenders including the Russian-made Sukhoi Su-35, American-made F-16 Block 60, Swedish-made Saab JAS-39 Gripen and the Eurofighter Typhoon, a collaboration between Germany, Italy, Spain and the UK.

    The Indonesian Air Force has repeatedly said it prefers the Su-35, the latest iteration of the Flanker family of jet fighters, although the final decision will be made by the Defense Ministry.

    Meanwhile, Dassault Aviation executive vice president for America, Africa and Asia military sales JPHP Chabriol told The Jakarta Post that the best example of French will to transfer technology was India, which selected the Rafale.

    He said that from an order of 126 units, 18 were supposed to be produced in France and the rest to be produced locally by Indian industries through progressive transfer of technology.

    “From French authorities’ point of view as well as from French industry, there is no limitation to transfer technologies of the Rafale to friendly foreign countries,” he said.

    “The only constraints we have are linked to the budgetary aspect, good sense and cost efficiency.”

    He said Dassault and all associated French companies were quite open to discussions with Indonesian actors to set up a program that suited Indonesian requirements.

    “We are not imposing anything; we are ready for discussion to define what is the optimized scheme of transfer of technology in the framework of the Rafale bid,” Chabriol said.

    Other than technology transfer, Chabriol emphasized that Indonesia would get total independence if it selected the Rafale because, as it is a 100-percent French product, Indonesia would not have to deal with a third party.

    Another advantage of buying the Rafale, he added, was that it could be deployed with very minimal logistical support.

    http://www.thejakartapost.com/news/2015/03/26/france-ready-give-ri-technology-transfer.html

    wah setuju juga kalau beli rafale dan su-35

    • wuih…idem dito bung alugoro…jeroannya ini yang penting, kalau menggantung kerjasama dengan elbit, serta pihak amerika rasanya lebih menyulitkan.
      lagi, kerjasama dengan earospatiale,renault vab memberikan reputasi yang baik dengan indonesia. thales, snecma, merupakan pilihan yang sangat potensial. patut digarisbawahi, dassault sudah memproposisikan pt.di jika kesepakatan terjadi. sesuatu yang tidak dimunculkan saab misalnya…
      imho, salam tabik bung alugoro…

  8. kalau tidak salah pesawat grob dengan huruf b beta. huruf b beta pada ejaan jerman menggantikan dua huruf s. penggunaan ss ini diindikasikan stigma nazi. dapat di lihat contoh striker leverkusen stefan kiessling, maka tulisan nama kaosnya ialah stefan kiebling.
    ada pun pesawat grob semestinya dibaca gross, alias great atawa agung.
    demikian imho…salam tabik…

  9. Pesawat kitir2..jadi inget pesawat Super Tucano…gmn lelanjutannya y..

  10. Lanjutken…DUKUNG MODERNISASI ALUTSISTA TNI.

    DEMI KEDAULATAN NKRI

  11. Berharap suatu saat kita bisa buat sendiri pesawat latih yg beginian….

  12. Bagaimana dengan penambahan besar2an pesawat2 SAR ………… ???

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)