Mar 162017
 

Pesawat F-16 TNI AU. (Dispen TNI AU)


Pesawat F-16 nomor registrasi TS-1603 yang tergelincir di Pangkalan Udara Utama TNI AU Roesmin Noerjadin Pekanbaru pada Selasa (14/3) kemarin, pernah terlibat dalam drama duel udara sejati —bukan skenario latihan tempur— di udara antara TNI AU dengan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Catatan-catatan pada saat itu menunjukkan, peristiwa duel udara kedua flight pesawat tempur beda negara itu terjadi di udara Pulau Bawean, sekitar 150 km arah utara Gresik-Surabaya, Jawa Timur, pada 3 Juli 2003.

Secara koordinat, Pulau Bawean ada pada koordinat 05°48?06.6? Lintang Selatan dan 112°38?53.9? Bujur Timur.

Kisah bermula saat radar Komando Pertahanan Udara Nasional Markas Besar TNI dan Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional menangkap lima titik yang mencurigakan, terbang dalam formasi rapat. Belum ada informasi apapun yang bisa dihasilkan saat itu, kecuali bahwa para penerbangnya masuk wilayah kedaulatan Indonesia tanpa ijin.

Satu flight pesawat tempur TNI AU dikirim ke titik-titik lokasi mencurigakan itu. Namun kelima titik itu seketika menghilang. Berputar-putar mencari objek tanpa identitas, pesawat-pesawat tempur TNI AU itu lalu kembali ke pangkalannya.

Dua jam kemudian, radar Komando Sektor Pertahanan Udara II dari Komando Pertahanan Udara Nasional Markas Besar TNI kembali menangkap manuver-manuver pesawat terbang tanpa identitas itu.

Informasi datang dari pilot-pilot pesawat terbang komersial, Bouraq Indonesia Airlines dan Mandala Airlines (keduanya sudah henti operasi), yang melaporkan bahwa manuver-manuver berkecepatan tinggi pesawat-pesawat (tempur) itu sudah membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan berjadwal.

Mereka juga tidak membuka komunikasi apapun dengan menara pengatur lalu-lintas penerbangan nasional. Saat itu, Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional Markas Besar TNI, Marsekal Muda TNI Teddy Sumarno, memerintahkan dua F-16 B Block 15 OCU dari Skuadron Udara 3 mencegat, mengidentifikasi, dan mengusir mereka.

Para penerbang yang ditugaskan sadar bahwa ini bukan latihan, melainkan misi perang yang sesungguhnya. Mereka juga sadar bahwa pesawat-pesawat terbang yang akan mereka cegat itu adalah pesawat tempur yang pastinya dilengkapi arsenal mematikan.

Maka, Kapten Penerbang Ian Fuadi dan Kapten Fajar Adrianto, duduk di kokpit F-16 B Block 15 OCU yang sama, dengan sandi Falcon 1 sebagai pemimpin flight. Adapun Falcon 2 di F-16 B Block 15 OCU yang lain diterbangkan Kapten Penerbang Tony Heryanto dan Kapten Penerbang Satriyo Utomo. Untuk kemudian, call sign mereka adalah Falcon Flight.

Penerbang tempur dengan pangkat kapten sudah cukup berpengalaman dan mumpuni, mengingat mereka biasanya berkarir tempur sejak pangkat letnan dua senior atau letnan satu dan kenaikan pangkat menuju kapten dari letnan satu saat itu sekitar empat tahun.

Misi kedua F-16 B Block 15 OCU itu adalah identifikasi visual dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi mengingat keselamatan penerbang tempur TNI AU yang utama. Selain itu, para penerbang dari Skuadron Udara 3 TNI AU itu diminta tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam.

Namun begitu, untuk menghadapi hal tidak terduga kedua F-16 B Block 15 OCU itu dibekali masing-masing dua peluru kendali AIM-9 P4 Sidewinder dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

Menjelang petang, Falcon Flight melesat ke udara dari Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi (sekitar 125 kilometer arah barat Surabaya) dan dalam hitungan cepat mereka langsung disambut dua pesawat F-18 Hornet.

Angkatan Udara Amerika Serikat tidak mungkin mengerahkan F-18 Hornet dari pangkalan aju terdekatnya tanpa dukungan tanker udara untuk bisa masuk ke perairan dan udara kedaulatan nasional Indonesia. Pihak lain yang mungkin mengerahkan unsur kekuatan udara serupa itu adalah Angkatan Laut Amerika Serikat, karena mereka juga memiliki F-18 Hornet versi AL dalam daftar arsenalnya.

Pula, di dekat perairan Pulau Bawean-Selat Bali-Selat Lombok-Laut Jawa-Selat Sulawesi itu terdapat Alur Laut Kepulauan Indonesia II.

Radar Falcon Flight segera menangkap kehadiran dua F-18 Hornet terbang cepat dalam posisi siap tempur. Mereka lalu terlibat perang radar atau radar jamming yang kemudian dilaporkan berlangsung seru.

Keempat penerbang tempur TNI AU itu menjadi tegang, terkhusus karena satu F-16 TNI AU lebih dulu dikunci oleh salah satu F-18 Hornet. F-16 kedua sebagai pendukung (Falcon 2) dikejar dalam dog fight cukup ketat oleh F-18 kedua.

Dalam berbagai silabus sekolah penerbang tempur, manuver-manuver membuyarkan kejaran pesawat tempur lawan pasti diajarkan. Ini juga yang dipraktekkan keempat penerbang tempur TNI AU saat itu. Manuver hard break (berbelok tajam hampir 90 derajat ke arah kanan-kiri serta zig-zag dipraktekkan).

Bukan cuma F-16 TNI AU ternyata yang melakukan manuver-manuver itu, karena kedua F-18 Hornet juga. Ketat saling menempel dan ketat pula manuver melepaskan diri dari tempelan musuh terus terjadi sampai akhirnya disadari ini bisa berujung pada pemusnahan pihak yang dianggap musuh.

Inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) sebagai tanda kedua pesawat F-16 TNI AU tidak mempunyai maksud mengancam diambil.

Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua F-18 Hornet yang mereka coba sergap dan identifikasi. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui, kedua F-18 Hornet itu mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional.

“We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship”. F-16 B Block 15 OCU pertama TNI AU lalu menjelaskan, mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah kedaulatan Indonesia.

Sejak 1957, Indonesia mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dan tidak ada lagi istilah “laut dalam” sehingga semua wilayah perairan dan udara nasional adalah wilayah kedaulatan nasional. Inilah hasil dari Deklarasi Djuanda.

Kedua F-18 Hornet itu juga diminta mengontak ke ATC setempat, karena ATC terdekat, Bali Control, belum mengetahui status mereka.

Usai kontak radio itu, kedua F-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat itu terbang menjauh sedang Falcon Flight kembali ke Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi.

“Menegangkan sekali. Mereka sudah mengunci (lock-on) pesawat kami, tinggal menembak saja. Itu dapat dilihat pada layar (display) ada tanda dan alarm bahaya bahwa kami sudah di-lock on,” ujar Fuadi bersama Kapten Satriyo, Sabtu silam (5/7/2003). Mereka menceritakan kisahnya di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahjudi, Madiun.

Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI AU juga melihat sebuah kapal perang Frigat yang sedang berlayar ke arah timur.

“We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on international water, stay away from our warship,” kata pilot Angkatan Laut Amerika Serikat itu sebagaimana dituturkan ulang. Ternyata, lima titik tanpa identitas pesawat tempur yang semula dilacak radar Komando Pertahanan Udara Nasional Markas Besar TNI itu berasal dari kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Carl Vinson (CVN-70) yang berlayar diam-diam di dalam perairan nasional di Laut Jawa.

Setelah kedua F-16 TNI AU itu mendarat selamat, mereka menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa mereka bagian dari armada Angkatan Laut Amerika Serikat yang tengah berlalu di Laut Jawa.

Dengan semua ketegangan dan taktik yang diterapkan, Falcon Flight menuai keberhasilan dalam hal memaksa F-18 Hornet melaporkan keberadaan dirinya kepada ATC di Bandara Internasional Ngurah Rai di frekuensi 118,1 atau 118,5 UHF.

F-16 A/B Block 15 OCU nomor registrasi TS-1603 menunaikan tugasnya secara baik saat itu.

Pesawat Dalam Kondisi Laik Terbang

Komandan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Marsekal Pertama Henri Alfiandi menjelaskan pesawat tempur F16 yang tergelincir hingga menyebabkan badan pesawat terbalik di Pekanbaru, Riau, dalam kondisi laik terbang.

“Pesawat ini (F16) dinyatakan laik terbang,” kata Henri di Pekanbaru, Rabu (15/3).

Marsma Henri menuturkan pesawat F16 tipe Block 15 dengan tempat duduk ganda itu mulai beroperasi di Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin sejak April 2016. Sebelumnya, pesawat tempur buatan Negeri Paman Sam itu beroperasi di Pangkalan Udara Iswahyudi, Jawa Timur.

Lebih jauh, ia mengatakan pesawat tersebut dibeli dari kondisi baru oleh TNI AU pada tahun 1991-1992 silam. “Pesawat merupakan produk dari Lockheed Martin, dengan kode TS1603, pesawat dibeli baru oleh TNI AU,” jelasnya.

Meski berusia 26 tahun, pesawat tersebut dipastikan mendapat perawatan sesuai standar dan dinyatakan laik terbang.

“Jadi kalau ditanyakan masalah pesawat, pesawat itu bukan tua, atau muda, atau baru, tetapi laik terbang,” tuturnya.

Pesawat tempur F16 dari Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin pada Selasa petang (14/3) tergelincir diujung landasan Lanud Roesmin Nurjdin, yang juga merupakan landasan yang sama Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Dua pilot yakni Mayor Pnb Andri Setiawan dan Lettu Pnb Marco Anderson dipastikan selamat dan tidak mengalami luka akibat peristiwa tersebut.

Badan pesawat yang tegelincir, kata Danlanud, dalam kondisi terbalik. Bagian ekor pesawat diketahui patah sementara hidung pesawat mengalami benturan.

Danlanud menjelaskan dirinya tidak bisa menguraikan secara rinci penyebab kecelakaan itu. Namun, dia mengatakan bahwa pesawat diduga mengalami kerusakan pada sistem pengereman pada saat mendarat hingga menyebabkan pesawat tergelincir dan terbalik.

Peristiwa kecelakaan pesawat itu saat ini masih dalam penyelidikan oleh tim Panitia Penyidik Kecelakaan Pesawat Udara (PPKPU) Mabes TNI AU.

Sumber: Antara

Artikel Terkait :

  69 Responses to “Pesawat F-16 Nomor Registrasi TS-1603 Berjasa pada Insiden Pulau Bawean”

  1. mungkin karena tuwir jadi mudah lelah. nunggu yang lebih muda untuk menggantikannya

  2. Patut jadi pelajaran, bahwa teknologi juga memegang peran penting dalam pertempuran…

  3. kirain tni yg lock

    • Biar lebih greget lagi..Indonesia harus nambah lagi F16 viper 12 biji biar menutup kekurangan akibat kecelakaan…Dlm beberapa tahun ini..NKRI sdh kehilangan 2 F16 nya..

  4. base of true story to the cinema, coming soon….

  5. yang baru blum datang
    yg lama udah jdi pnghuni musium

  6. dulu gak ajak2 saya yg punya keahlian buka2 gembok kalau dikunci duluan kan saya bisa ngoprek2 biar kebuka

  7. HEROIK

  8. pahlawan….???

  9. Tumpang tindih klaim dng super power . Yg satu menganggap wilayah teritorial, yg satu lagi ngotot di wilayah internasional. Ini akibat AU dan AL yg lemah. Begitulah Faktanya !!! USA ga berani main2 sama Rusia karena Rusia kuat. Simple.

    • Bener Rini. Indonesia ini negara kepaulauan, ya tentunya angkatan udara dan lautnya yang harus kuat. Namun bukan berarti kita mengabaikan angkatan darat. Kalau musuh nggak mampu kita hancurkan di perjalanan, ya kita harus bisa hancurkan di dalam. Walaupun risikonya dedel duwel.

      Lambat banget kerja Kemhan sekarang. SU 35 dan Kilo class submarinenya cuma AKAN… AKAN MELULU.

    • Kata siapa Amerika tdk berani dengan Rusia? AS memasang perisai rudal di halaman rumahnya Rusia kok seperti Polandia dan Rumania yaitu sistem peluncur Deveselu MK 41 yang dilengkapi dengan rudal jelajah ofensif. AS juga berani mengembargo Rusia dan juga akan menghukum setiap bank yg menjalankan transaksi dagang / ekonomi dengan rusia. AS juga berani mengambil negara2 satelit pecahan Uni Sovyet yg nota bene afiliasinya Rusia.

      So What?
      Tidak terdengar disini krn banyak penganut paham rusian strong..

      • marpuah tra la la@ baca lagi kalimat @ tante rini diatas bang, … dia ga bilang usa ga berani dg rusia tapi gak berani MAIN2 dg rusia dan itu artinya berbeda…coba aja suruh pespur usa main2 ( bukan berani ) ke wilayah udara rusia sambil geber2 knalpot racing ntu pesawat, kalo ga berubah nama nya jadi pespur bakar wkwkwkwk

      • Mami Rika berani pasang rudal d tetangga Rusia….??? coba suruh sendirian…. selama ini untuk melegalkan infasi mami rika terhadap negara kecil sekelas irak pun maennya kroyokan… coba sebutkan perang mami rika yg bergerak sendiri tanpa sekutu NATOnya…. apalagi dg Rusia… sendirian…

        • Itu karena skr sdh tdk ada aliansinya bro. Jaman dahulu ketika ada Warsaw Pact yah sama saja.. Perang itu tdk ada yang adil..

          Tidak ada teman abadi disini yang ada hanyalah kepentingan abadi

      • amerika pernah ada perjanjian untuk tidak mengusik alias memposisikan netral negara2 bekas soviet dan penempatan rudal2 anti balistik di sekeliling rusia.
        termasuk pengurangan senjata strategis icbm di dekade 90an
        semuanya berubah di dekade awal 2000an seiring 11 september
        dgn amrik mengambil kebijakan unilateral alias seenaknya sendiri.
        termasuk kecurigaan rusia dgn revolusi warna(color revolution) utk menjauhkan negara2 bekas soviet yg tergabung dalam commonwealth of independent states dari pengaruh rusia dan memasukkan mereka ke dalam pengaruh nato dimulai dgn revolusi mawar georgia 2003 dan revolusi orange ukraine 2004

        politik amerika gak sesimpel baca2 artikel dari media luar negeri
        ironis nya mereka tidak pernah menyentuh “deep state cabal”
        sekelompok elit perusahaan multinasional yg mendanai lsm2 di barat yg mempermainkan SARA.

  10. menunjukan bahwa kita mampu..

  11. Saya pernah baca buku tentang aksi diatas pulau Bawean tersebut. 1 F16 kita bertindak sebagai umpan dan menarik perhatian kedua F-18 US Navy. sedangkan F-16 yang kedua TNI bertindak membuntuti kedua F-18 dari belakang. Skenarionya jika F-16 yg didepan ditembak maka F-16 kita yg dibelakang akan menembak F-18 US. Ternyata yg dibelakang juga ketahuan karena salah satu F-18 itu balik badan ditambah lagi ada sekitar 5 pespur lain yg terbang dari Carl Vinson kearah mereka. Makanya F-16 yg ada di depan melakukan rock wing. Setelah F-18 lapor ke ATC Bali baru kemudian Boing 737 Surveilance TNI AU mendekati dan memotret rombongan Kapal Induk AS yg pergi lewat selat Lombok ke Selatan. Awalnya AS membantah tuduhan Indonesia yg dianggap telah melanggar kedaulatan RI dan keselamatan penerbangn sipil. Hal ini karena mereka menganggap RI takkan tahu karena AS mengira jangkauan radar Thomson kita Takkan mampu menjangkau area Bawean ( Radar militer kita yg ada di Pulau Jawa kebanyakan diarahkan ke Selatan/Australia & Pulau Cristmast) ternyata oleh pihak TNI, radar Thomson kita sudah dimodifikasi sehingga bisa menjangkau lebih jauh. Motif AS melakukan itu belum diketahui karena sebelumnya hingga masa Orba, AS belum pernah melakukan itu. Bisa jadi itu adalah cara AS untuk mengukur kekuatan khususnya kekuatan udara kita karena kita tahu waktu itu masih ada GAM, OPM, dan RMS yg sedang giat2nya memberontak dan melakukan makar terhadap RI. 2 F-16 TNI yg dikerahkan untuk misi mengintai penerbangan gelap AS itu juga baru saja pulang patroli dari Aceh untuk menghadapi GAM. Pada akhirnya AS mengakui kesalahan mereka setelah kita bisa memberikan bukti bahwa mereka telah melanggar batas. Dan kesalahan AS inilah yang memicu Indonesia dibawah Bu Mega untuk segera mendapatkan pespur canggih Sukhoi Su-27/30 gimanapun caranya, bahkan barter dg sawit sekalipun. Om Putin yg waktu itu menjabat Presiden Rusia setelah Boris Yeltsin mundur, menangkap rencana Indonesia itu sebagai awal kebangkitan Rusia sebagai Superpower dunia dan keluar dari bayang2 AS sejak Uni Soviet runtuh. Makanya Rusia dg senang hati mau menjual Sukhoi terbaik mereka hanya ditukar sawit. Buktinya, Malaysia dan Vietnam meniru kita untuk membeli Sukhoi rame2 bahkan peralatan militer lainnya. Sekarang Kapal Induk AS kalo mau masuk ALKI harus permisi dulu karena pespur dan kekuatan udara kita sudah tambah kuat ditambah aksi cilukba kapal induk AS dg kasel misterius kita. Mungkin dari Bawean itulah awal hegemoni dan kekuatan AS mulai memudar. Rusia (dan China) mulai kuat, Indonesia dan negara kawasan ASEAN pada umumnya mulai kuat. Indonesia juga akhirnya membangun MEF dengan ToTnya agar ketika perang atau mininal kejadian macam Bawean tidak terulang lagi. Australia yg sejak perang teluk kedua mengaku sebagai polisi Asia dibawah AS sebagai polisi dunia menjadi kuatir dan tak berdaya. Jangankan lawan China, lawan Indonesia yg udah ada sukhoinya mereka mikir2. Makanya Indonesia diajak latihan. di Pitch Black 2012 mau saja sekalian ngasih psy war ke Australia lewat Sukhoi paling canggih kita, Su 27 SKM dan Su 30 MK2. Kenapa RI percaya diri dg ngirim arsenal terbaik kita yg notabene harusnya rahasia? Pertama karena kita tau, Australia kebanyakan pake F-18 blok A/B dan beberapa Superhornet yg ternyata kalah kelas dari kita disemua aspek kalo gak ada bantuan dari AWACS mereka. Kedua, karena kita lagi nyiapin pespur yg lebih canggih dari Sukhoi kita sekarang yaitu IFX dan yg mau datang 2022 dari Rusia itu. You-Know-Who lah.

    • @putra

      Cerita tinggal cerita bung….F-16 yang terbang elemen/saling melindungi depan-belakang gitu sdh taktik dasar yang dikuasai penerbang tempur ketika mencari sasaran yang tidak dikenal.

      Justru karena radar kita yang diploso/jombang tidak menjangkau ruang udara bawean, maka AU baru tau ada penerbangan ilegal setelah dilapori oleh pesawat sipil yang melintas disana.

      Banyak yang suka bikin cerita “heboh” tapi jauh dari kenyataan…kalo alutsista kita masih serba terbatas (waktu itu)

    • ane membayangkan bung@putra…seandainya masa itu kita sudah memiliki jet tempur sukhoi.apa kira2 yg akan dilakukan oleh para pilot kita ketika diancam seperti itu????kalau hanya sekedar rocking wing,nggak mungkin.

  12. Kenapa tidak belajar dari peristiwa bawean ini, ……….. ???
    Kenapa susah banget mau beli pespur yang gahar, ……… apa mau yang lebih buruk dr peristiwa bawean terulang kembali, ………… ???

  13. Mbuh lah kesuen…

  14. Klu soal nyali dan skil Pilot TNI AU jgn ditanya, yg jd masalah adalah pespurnya sementara Australia sudah ada F35 dan F22 AS dikita antidotnya blm jelas kedatangannya!

    • jadel@ emang nya skill pilot kite sehebat apasih bang??? emang udah berapa banyak pesawat tempur musuh di tembak jatuh ama pilot kita???? BENERAN NANYA

      • Salah satunya disaat latihan bersama dgn Australia pilot2 Kita mengalahkan pilot2 Australia. Bgt jg dgn pilot USA

      • ” Salah satunya disaat latihan bersama
        dgn Australia pilot2 Kita mengalahkan
        pilot2 Australia. Bgt jg dgn pilot USA ”

        wkwkwkwk…ane langsung keselek biji cempedak bang baca tulisan ente yg bilang pilot usa kalah ama pilot kita…ente sadar bang ????

        • bung@ anu…ane sependapat ma ente bang…jangan berlebihan, fakta nya sekarang ini pilot kita masih jauuuuuuuuh di bandingkan dengan pilot amerika yg audah kenyang pengalaman maupun jam terbang…

        • hati-hati bung, klo pilot mereka kalah, mereka akan keluarkan drone QF-16 yang lebih unggul dari para pilot AS lho 😆 kwak kwak kwak kwak

          ingat ya, drone QF-16 gak takut semua-mua apalagi ditembak 😆 😆 😆

  15. Kapal Induk segede itu kok bisa nyusup??? Berarti radar dan pertahanan laut wilayah timur perlu di tingkatkan

  16. Alur kepulauan indonesia sdh saat nya ditongkrongkan rudal Yakhont..dari lepas pantai seperti negara tetangga.

    • Yakhont? Rudal besar yg menembak pertama kali tapi ga kena sasaran itu? Buat apa’an?

      Pasang dulu data link-nya baru bicara tentang Yakhont. Memangnya Glonass buatan Rusia menyediakan complete data untuk wilayah Indonesia seperti GPS?

      • Memadukan data link barat dgn timur itu susah lho ibarat langit dgn bumi dan saat uji coba yakhont itu radar KRI OWA gk sampai 300 Km dah gitu pakai arahan dari helikopter .makannya produk saya gagal. Exocet aja yg pake GPS aja masih bisa gagal

        • Maaf pak tolong di paste disini link-nya yg menceritakan tentang TNI AL gagal menembak Exocet.

          Tapi yg jelas 150% pasti anda menggunakan GPS dong di HP anda dan bukannya GLONASS

          • Tergantung HP yg saya pake saya punya 3 HP jika saya pake xiaomi bisa pake glonas tapi kalau saya pake samsung cuma bisa pake GPS

      • emang glonass bukan gps ya?

        • Glonass itu sejenis GPS tapi dari rusia bung Lingkar

          • Coba buka Glonassnya dan bandingkan dengan yg menggunakan GPS lebih akurat mana kah?

          • ya saya tahu itu, secara fungsional glonass dan gps sama-sama menggunakan satelit untuk menentukan posisi. cuma kebetulan glonass adalah satelit navigasi rusia, sementara gps adalah satelit navigasi amerika.

            sama seperti Google Maps dan Apple Maps, memang sama-sama aplikasi peta menggunakan citra satelit, tapi jelas ada perbedaan, mengenai database peta yang ada

          • Ya memang lebih akurat GPS karena GLONASS gk ada di langit indonesia

          • sebenarnya masalah optimalisasi saja, hp android dengan chip buatan china umumnya tidak menggunakan gps sbg satelit pemandunya, karena mereka lebih mengandalkan glonass, tapi dengan beberapa trik sederhana, bisa memiliki kecepatan lock area sama seperti dengan menggunakan GPS koq, cuma saja hp harus di “root” terlebih dahulu…

          • Ane kapok root HP dulu HP ane pernah ane root setelah itu gagal langsung eror gk bisa di apa apain.. ane buang dah tu HP

          • waduh… emang hp apa bung? kenapa gak di flash ulang bung? tinggal comot aja firmware orinya

          • Samsung J1…Udah ane flashin tapi layar masih gk keluar gambar

          • J1 (J100H) ya? saya pernah kejadian juga, tapi sampe skrg masih bisa bung 😀 mestinya gak susah untuk hp dengan brand yg umum digunakan banyak orang… udah coba dengan firmware downgrade atau upgrade nya?

        • Alhamdulillah…ada counter Hp dsini.

  17. itu karena NKRI terlambat beli pesawatX tempur & rudalX.maaf dana alutsista banyak buat kampanye partai

  18. perang radar atau radar jamming…saling mencoba lock on mungkin ya maksudnya? mohon penjelasan…

  19. Kita sudah punya pespur baru jenisnya AK & An yg merupakan pesawat sluman slumun slamet

  20. “We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship”. F-16 B Block 15 OCU pertama TNI AU lalu menjelaskan, mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah kedaulatan Indonesia.

    SANGAT SANGAT MELECEHKAN NKRI

  21. http://www.defensenews.com/articles/pivot-to-the-pacific-is-over-state-official-says

    Just last September, Carter spoke of launching a new phase of the “rebalance,” one that would involve increasing spending in two key areas — funding for the U.S. Coast Guard and increasing Foreign Military Financing for the 10 nations that form the ASEAN security collective.

  22. sekarang di selatan di taruh raptor loh yaa, jadi jangan main main kalau beli pesawat. Jangan nanti raptor dilawan ama 16 atau tejas.

  23. untung aja MEGA KARTI beli Sukhoi 12 buah (4 + 8) (pepo baru berkuasa 2 bulan, jadi boleh dong kalau MEGA KARTI ngaku-ngaku “yang 8 itu juga layangan gua”) …

    opsss … rupanya itu cuma mimpi … kikikikikih …

    • bukan tante…pak kasau kaga bakalan mau beli pesawat tempur mahal yg masih pake radar pesa jaman baheula…kihkihkih

  24. Laik terbang tapi tidak laik ngerem wkwkwk….

  25. Sialan nih amerika….sudah merasa di atas angin, seenaknya mengukur kekuatan kita..

    kesalahan masa orba, jadi tergantung sangat dengan amerika hampir di segala bidang, terutama alutsista..

  26. Kenapa daerah Indonesia bagian Barat hanya di jaga oleh pespur bekas dan tdk strategic atau punya daya gentar?
    Padahal dulu f16 Block 15 ini dibeli dengan uang minyak dari Pekanbaru. Tp setelah 2 dekade lebih baru kembali ke Pekanbaru.
    Sedangkan shukoi yg di beli dengan uang sawit…(lagi2 uang dari tanah Sumatera), tdk ada satu pun yg di tempatkan di Sumatera.
    Ada yg bisa jelaskan strategi nya?

  27. Hadeh…itulah knapa si asu agak panas dingin saat mndengar tni akan mengakusisi su 35, krn mreka gk lagi bisa mengobok obok perairan kita dengan kornet mreka, yg mampu cm f15,f35 ato si raptor untk duel dgn si sukro, tp sjauh ini yg bsa masuk lyanan tempur berbasis kapal induk masih si kornet, untk si tambun f 35 msh dgn masalah teknisny.

  28. Jawabannya adl s500, objek udara apapun yg slonong boy bakal mikir kalo indonesia punya S500
    faktanya kalo pesawat F16 lawan super hornet full arsenal ya koit..apalagi F16 indonesia cuma dilengkapi sidewinder opooo…rudal ra mutu..kalah tabokk jelas …lain kali beli senjata ecek ecek dilarang..
    Di lock super hornet..wakakaka..asemmm..nggateli..

  29. Sekedar meluruskan bagi kawan kawan yang belum mengerti.

    Insiden bawean ini dilihat dari beberapa sumber kok berlainan ya. 🙂

    Saya sudah lihat rekamannya bahkan saya kenal dengan salah satu pelaku dari Naval Aviator yang menerbangkan F18 tersebut adalah seorang Marinir USMC dari sebuah VMFA tertentu yang diputar ulang dari targeting podnya. Areal contact yang terjadi diatas Green-7.

    Perlu dilihat bahwa kapal kapal international sudah ada ijin “Innocent passage” sesuai dengan hukum international UNCLOS. Dimana celah timor dapat dikatakan memiliki koridor yang dapat dikatagorikan sebagai celah “international”.
    Apalagi sebagai kapal perang dan kapal induk wajib melakukan manuver penerbangan yang disebut VPD (military vessels protection detail). Juga sudah diatur dalam UNCLOS.

    Perlu diingat Indonesia juga sudah meratifikasi UNCLOS tahun 1982.

    Kedua belah pihak penerbang merasa tidak bersalah, Jadi bisa saja terdapat salah tafsir maupun blunder politis antara kedutaan amerika dengan Jakarta mengenai ijin lewatnya kapal perang amerika segede gaban tersebut.

    Maklumlah… birokrasi waktu itu masih carut marut 🙂

    Jadi kalau bisa kita jangan terlalu bombastis menanggapi masalah ini.

    Tabik.

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)