Aug 302016
 

Ditengah kesibukannya sebagai anggota polisi, sejumlah personel polwan Polresta Mojokerto meluangkan kesempatan mengajar mengaji di taman pendidikan alquran (TPQ) sebuah masjid yang terletak di eks lokalisasi balong cangkring, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Puluhan santri cilik anak gelendangan dan penggemis yang tinggal di eks lokalisasi Balong Cangkring Kota Mojokerto antusias belajar ngaji dibimbing Polwan. (foto:jakartagreater/marksman)

Puluhan santri cilik anak gelendangan dan penggemis yang tinggal di eks lokalisasi Balong Cangkring Kota Mojokerto antusias belajar ngaji dibimbing Polwan. (foto:jakartagreater/marksman)

Mayoritas para santri yang menimba ilmu di TPQ tersebut adalah anak dari para gelandangan dan pengemis yang dikelola yayasan mojopahit, Lingkungan Cakar Ayam Baru, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Puluhan santri cilik di taman pendidikan alquran masjid Addarojah di kelurahan mentikan kota mojokerto, Jawa Timur ini terlihat sangat ceria dan bersemangat. Tak seperti hari biasanya yang diajar ustadz dan ustadzah, kali ini yang menjadi pengajar adalah para personel polwan dari Polresta Mojokerto.

Seperti halnya para ustadzah yang memberikan ilmu alquran kepada para santrinya, sejumlah polwan ini juga memberikan pengetahuan membaca alquran yang baik dan benar disertai ilmu tajwid di TPQ yang terletak di kawasan eks lokalisasi balong cangring Kota Mojokerto ini, Senin (29/08).

Menurut kepala satuan lalu lintas polresta mojokerto, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Selfi Meidianti, mayoritas para santri yang menimba ilmu di TPQ tersebut adalah anak dari gelandangan dan pengemis yang dikelola yayasan mojopahit.

Santri cilik antusias mendengarkan arahan para polwan yang mengajar ngaji. (foto:jakartagreater/marksman)

Santri cilik antusias mendengarkan arahan para polwan yang mengajar ngaji. (foto:jakartagreater/marksman)

“Sebagian besar dari mereka itu (anak-anak) tak pernah mengenyam pendidikan formal dan hanya pendidikan diniyah atau keagamaan saja, untuk itu polwan polresta mojokerto tergugah menjadi pengajar di masjid Addarojah,” papar AKP Selfi kepada jakartagreater (29/08)

Tujuannya, selain para Polwan Polres Mojokerto Kota ingin mengenalkan mereka tentang agama, juga agar mereka lebih dekat dengan polisi.

“Polisi tidak hanya mengenalkan tentang hukum saja namun juga polisi bisa mengajarkan mereka tentang agama. Kami ada dan bersahabat dengan mereka. Meskipun mereka masih kecil tapi semangat mereka untuk belajar agama cukup tinggi. Kita berharap, jika mereka taat dengan agama maka mereka akan lebih taat dengan peraturan,” ungkap Kasat Lantas Polres Mojokerto Kota, AKP Selfi Meidiyanti, Senin (29/8/2016).

Tasya misalnya santri perempuan yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak ini mengaku gembira saat polwan mengajar mengaji. Ia pun merasa tak takut kepada polisi dan justru merasa senang diajar oleh ustadzah Polwan.

Santri cilik senang diajar ngaji puluhan polwan. (foto:jakartagreater/ marksman)

Santri cilik senang diajar ngaji puluhan polwan. (foto:jakartagreater/ marksman)

“Senang..asyik bu guru ngaji polisi, jadi cepat bisa,” aku tasya Santri perempuan dari keluarga pemulung.

Selain memberikan pengetahuan tentang hukum dan moral, kegiatan mengajar mengaji tersebut rencananya akan terus dilakukan secara bergantian. Terlebih anak-anak tersebut tinggal di kawasan eks lokalisasi balong cangkring yang butuh benteng agama sebagai pondasi iman kelak saat mereka dewasa.

Salah satu ustad TPQ Addarojah, Eko Misdiantoro mengatakan, santri yang belajar mengaji di TPQ Al Darojah ada sebanyak 132 santri yang terdiri dari 87 santri putri dan 55 santri putra. “Semua berasal dari lingkungan Yayasan Mojopahit, hanya tiga santri yang berasal dari luar Yayasan Mojopahit. Rata-rata umur 4 tahun sampai usia SMA,” ujarnya.

Eko menambahkan, sebelumnya di TPQ Addarojah hanya ada 80 santri, sekarang sudah terkumpul 132 santri. Kawasan Balong Cangkring dikelola Yayasan Mojopahit sejak tahun 1969 menjadi tempat tinggal dan rehabilitasi penyandang masalah kesejahteraan sosial seperti gelandangan, anak jalanan, pemulung, pengemis dan lanjut usia.

Namun kemudian Yayasan Mojopahit yang menempati lahan seluas 5 hektar tersebut berdiri sejumlah wisma yang menyediakan Wanita Tuna Susila (WTS) yang dikenal dengan Lokalisasi Balong Cangkring (BC). Meski pihak yayasan.menepis ada lokalisasi didalamnya, namun akhirnya Pemkot Mojokerto menutupnya pada 29 Mei 2016 lalu. (marksman)

 Posted by on August 30, 2016

  4 Responses to “Polwan Ajar Ngaji Puluhan Anak Gelandangan dan Pengemis di Eks Lokalisasi”

  1. petromax dulu ah

  2. siraman rohani biar jalan kehidupannya terang…

  3. Waaahhhhh….gagal pertamax maning. Kalah cepat sama Pak Raden yg pake jalus poros maritim dunia…xixixi

  4. siraman rohani biar jalan kehidupan terang…

 Leave a Reply