Jan 172017
 

Kepala Staf Gabungan Pakistan, Jenderal Zubair Mahmood Hayat memeriksa salah satu pesawat baru yaitu JF-17 Blok II. (Foto: Inter Services Public Relations)

Dilansir dari Quwa, foto terbaru dari Pakistan Aeronautical Complex (PAC) menunjukkan bahwa produksi JF-17 Block II telah mencapai 33 unit pesawat (2P-33), berarti produksi ini telah lebih dari setengahnya.

Selain itu, tampak bahwa produksi JF-17 Blok II untuk Angkatan Udara Pakistan (PAF) dapat diselesaikan pada tahun 2017. Produksi unit pada batch kedua (yaitu 2P-25 / 26-50) juga dikonfigurasi dengan kemampuan pengisian bahan bakar diudara, meskipun masih melalui probe yang dapat dilepas dan terdapat disisi kanan dari pesawat tempur.

Pada bulan Desember 2016, PAC mengumumkan bahwa mereka mengirimkan total sebanyak 70 unit JF-17 kepada Angkatan Udara Pakistan (PAF) sejak jet tempur itu dilantik pada 2010-2011. Ini berarti bahwa 20 unit JF-17 Block II telah dilantik pada tahun 2016, tetapi angka ini jelas belum termasuk jumlah total jet pejuang Blok-II yang diproduksi. Menimbang bahwa 16 unit JF-17 dibangun pada tahun 2015, PAC harus memproduksi setidaknya 17 unit JF-17 pada tahun 2016.

PAC mungkin juga memproduksi pesawat ini untuk ekspor. Hal ini masih belum jelas apakah unit ini dihitung dalam braket “2P-XX”. PAC bermaksud untuk secara bertahap meningkatkan produksi tahunan menjadi 20-24 unit pesawat.

Namun, jika kebutuhan JF-17 Block II PAF terpenuhi pada tahun 2017, maka PAC akan mampu memanfaatkan sisa waktu untuk memproduksi jet tempur yang akan ekspor hingga JF-17 Block III.

PAC bisa aktif mengejar pelanggan baru, seperti Azerbaijan, dan diikuti menyelesaikan pesanan dari pelanggan saat ini di tahun 2017-2018. Ini adalah asumsi apabila PAF tidak memilih untuk menambah pesanan JF-17 Block II.

Variabel lain adalah JF-17B dengan kursi ganda. JF-17B seharusnya telah uji terbang pada akhir 2016. PAF bisa memperoleh JF-17B sebagai sistem unit konversi operasional (OCU) dan berpotensi dipergunakan sebagai jet tempur latih (LIFT).

Namun tidak diketahui apakah pesanan 50 unit JF-17B akan berasal dari Block II. Pesanan tambahan JF-17 Block II PAF bisa dalam bentuk JF-17B, meskipun pada tingkat produksi yang lebih rendah.

JakartaGreater

Artikel Terkait :

  34 Responses to “Produksi Jet Tempur JF-17 Blok II Telah Melewati 30 Unit”

  1. JF sulfur?

  2. Añtiseptic

  3. Walaupun Pesawat jadul tapi pasti. . dibuat dan dikembangkan terus. .
    Daripada berhayal high tech tapi cuman Cangkeman wae. . .
    Sok. Nasionalis. . sok TOT. . sok sok an . . untuk kepentingan pertahanan bela bangsa seretnya minta ampoen. . kalo buat jalan tol dan kereta cepat yg makan ribuan trilyun mangga wae. . . kalo emang sama2 bisa ngutang, bukankah alutsista juga bisa ngutang . . ?
    Hadeuuuwhbhh. . .liyeur aing mah. .

    • Nah loh? Apa yg salah dengan pembangunan jalan tol dan kereta?
      Lalu ngapain ngutang alutsista? Yg untung siapa?Produsen lah, karna itulah pemerintah selalu minta T.O.T agar konsumen(kita) tdk dirugikan, karna setiap alutsista yg kita beli kemungkinan besar kgk akan dipake perang alias akan hancur dimakan waktu dan kemudian harus beli lagi yg baru, lalu yg untung siapa? Produsen lagi kan?

      • TOT hanya alat prajurit Proxy negara lain supaya Indonesia tidak bisa sekuat saat jaman sukarno dulu.
        TOT memang bagus tapi jangan sampai melemahkan Alutsista Deterren.
        Herannya TOT sangat ketat apabila bertransaksi Alutsista dengan pihak Blok Timur contohnya Rusia tetapi apabila pembelian utk blok barat terutama dari USA/ASU tidak ada persyaratan TOT, contoh pembelian F16 bekas.

        • @Aliantiusa/asu
          Waajarlah kalo kita beda pikiran 😀 menurut saya kalo kita beli alutsista banyak2 dan tanpa T.O.T maka kita cuman jadi sapi peras produsen senjata, tapi yasudahlah

          • @jfs

            Lagipula kalo mo nanyain tot f-16 langsung aja sama “kanjeng papi” ya bung…xixixi

            Lha wong beli bekas kok nanyain TOT…

    • emangnya rakyat disuruh ngemil rudal?

    • Jalan tol dan kereta cepat itu bakal cepet balik modalnya.

      Tapi kalo untuk alutsista mana ada balik modal. Yang untung siapa ? Produsen.

      Namun bagi RI, belanja alutsista itu adalah belanja modal. Mengapa bisa disebut belanja modal dan mengapa itu dimungkinkan ? Sebab ada UU nomor 16 tahun 2012.

      Belanja modal. Ada modal berarti diharapkan ada laba atau untung atau profit.

      Apa keuntungan atau laba atau profitnya ?

      Offset + imbal dagang + kandungan lokal minimal 85%, di mana offset atau kandungan lokalnya minimal 35% dan ditingkatkan setiap 5 tahun 10%.

      Jadi berdasar ini jika offsetnya hanya sanggup 35% maka imbal dagangnya minimal harus 50% supaya 35% + 50% = 85%.

      Jika ada kandungan lokal 35% + offset 35% + imbal dagang 15% itu berarti sudah mencapai angka minimal 85%.

      Atau jika nggak ada imbal dagang dan kandungan lokal berarti offsetnya minimal full 85%.

      Tapi apakah harus 85% saja ? Khan disebutkan 85% dari nilai kontrak itu minimal.

      Kalau ada produsen yang tawarkan lebih bagaimana ?

      Justru itu yang dicari.

      Produsen atau negara pemasok yang berani menawarkan offset paling besar itulah yang akan memenangkan kontrak.

      • Nah, betul bung @Tukang Ngitung, PhD. dan pastinya mereka juga tetap ingin untung, bukan hanya saat menawarkan offset tersebut tetapi juga setelahnya.

  4. sip deh… lanjut

  5. Pakis terus berusaha segala daya untuk meningkatkan kemampuan teknologi alutsistanya karena punya musuh besar Indi.
    Beda dengan negara yang merasa tidak punya musuh.

  6. Betul bung @Patih Pragota, adanya tekanan menjadikan pemerintah dan industrinya menjadi “kreatif”, liat aja “Pakistan”, liat juga “Iran”…

    • Setiap ada kelebihan pasti ada juga kekurangan, walopun industri militer lebih baik dari kita, tapi dalam urusan ekonomi mereka “K.O”

      • –> K.O.
        itu klo kita baca dari kiri ke kanan, lha mereka kan bacanya dari kanan ke kiri 😀 hahahaha… just kidding bung @Jfs

      • apalagi dengan baiknya urusan ekonomi kita, kita seharusnya lebih maju dalam industri militer dibanding pakistan 😀 karena ekonomi dan militer itu harus sejalan (idealnya) liat aja AS, China, Rusia, juga Eropa. Ekonomi mereka “baik” sehingga “militer” juga baik 😀 silahkan koreksi klo pendapat saya salah..

        • Tapi keknya bentar lagi si chino bakalan kena krisis pangan, kalo gk salah kata pak gatot,

          • nah, betul bung @Jfs… apalagi melihat jumlah populasi mereka saat ini… namun dengan catatan apabila mereka tidak bertindak apa-apa…

        • Tapi bung, ada perbedaan antara ekonomi yg terbaik dan yg terbesar, si chino dan AS itu ekonomi terbesar di dunia, jd gk heran mereka dapat membangun militer yg fantastis, sedangkan ekonomi kita tak sebeesar chino dan AS, walopun ekonomi kita Masuk top 10 ekonomi terbaik dunia tapi kita tdk masuk top 10 ekonomi terbesar di dunia, jd gk heran jika militer kita pas2an

          • ya setidaknya saat ini sudah ada niat pemerintah buat melangkah kepada kemandirian militer kita. bila kita mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi kedepannya, smua pasti tercapai, selama tidak aja perubahan kebijakan yang krusial

        • hahaha jendgatot kok didengerin
          fakta indonesia impor beras berpuluh tahun, salah satunya dari cino
          jadi yg mana yg krisi pangan? yg impor atau yg ekspor?

  7. OT hanya alat prajurit Proxy negara lain supaya Indonesia tidak bisa sekuat saat jaman sukarno dulu.
    TOT memang bagus tapi jangan sampai melemahkan Alutsista Deterren.
    Herannya TOT sangat ketat apabila bertransaksi Alutsista dengan pihak Blok Timur contohnya Rusia tetapi apabila pembelian utk blok barat terutama dari USA/ASU tidak ada persyaratan TOT, contoh pembelian F16 bekas.

  8. Sukses untuk JF17

  9. Tes lagi

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)