Nov 162016
 
Helikopter Panther ASW (foto: Jiwa Bening)

Helikopter Panther ASW (foto: Jiwa Bening)

Bandung – Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan sedang menyiapkan pengembangan helikopter pesanan TNI Angkatan Laut dengan kemampuan anti-kapal selam. “Tahun depan kami mulai membuat pesanan TNI Angkatan Laut untuk helikopter anti-kapal selam,” ujarnya di Bandung, 15 November 2016.

Budi mengatakan helikopter anti-kapal selam itu dibangun bersama Airbus Helicopters Prancis. Fisik helikopter Panther mirip dengan helikopter operasional yang dipergunakan Basarnas, yakni AS365 N3+ Dauphin. “Kalau Dauphin itu versi sipil, helikopter Panther versi militernya,” ujarnya.

PT Dirgantara Indonesia mendapat pesanan dari TNI Angkatan Laut untuk membangun 11 unit helikopter anti-kapal selam. “Angkatan Laut memesan 11 unit, sudah 2 tahun lalu. Tinggal delivery mulai tahun depan,” ujar Budi.

Budi Santoso mengatakan pengerjaan helikopter Dauphin menjadi modal PT Dirgantara Indonesia untuk mengembangkan helikopter anti-kapal selam Panther. Helikopter pesanan Basarnas, misalnya, diserahkan hari ini. “Dengan mengerjakan pesanan Basarnas, menjadi pengetahuan dasar kami untuk mengembangkan pesawat ini,” tuturnya.

Tipe militer Panther menjadi pilihan TNI Angkatan Laut karena kemampuannya mendarat di kapal yang berukuran relatif kecil, yakni kapal laut dengan tipe sigma class ship. “Trennya bagus, karena semakin lama kapal Angkatan Laut di mana pun, semakin kecil, enggak pakai kapal-kapal besar. Meriam sudah enggak ada yang gede-gede lagi di kapal itu, juga makin kecil, sehingga semua peralatan yang dibutuhkan semakin kecil,” ujarnya.

Kendati belum rampung, rencana PT Dirgantara mengembangkan helikopter anti-kapal selam telah menarik minat sejumlah negara. “Beberepa negara Timur Tengah yang punya kapal kecil juga tertarik menggunakan hal yang sama, tapi kami selesaikan dulu pesanan Angkatan Laut. Kalau selesai, baru kita ke negara lain,” ujarnya.

Helikopter Panther Bulgarian Navy (Anton Balakchiev)

Helikopter Panther Bulgarian Navy (Anton Balakchiev)

PT Dirgantara berencana memperbanyak konten lokal untuk helikopter Panther anti-kapal selam pesanan TNI Angkatan Laut itu. Sejumlah sistem akan ditanam di helikopter anti-kapal selam pesanan TNI Angkatan Laut, di antaranya peralatan sonar yang bisa diturunkan dalam laut hingga persenjataan torpedo anti-kapal selam. “Panther untuk Angkatan Laut ini kita bongkar habis karena harus diisi peralatan sonar, torpedo, dan lain-lain.”

Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia Budiman Saleh mengatakan PT Dirgantara menggandeng sejumlah vendor untuk memasok peralatan mendukung sistem helikopter hingga persenjataan. “Contohnya torpedo, roket, kemudian sensor-sensor macam-macam, ada juga FLIR, serta sonar yang dicelupkan ke laut. Yang merakit dan mendesain itu PT Dirgantara Indonesia, bukan domainnya Airbuss,” ujarnya.

Lewat produk tersebut, PT Dirgantara memegang property right atau license mission helikopter itu. “Nah, yang memegang paten, property right, intellectual property right helikopter anti-kapal selam itu kami. Kalau Airbuss mau jualan itu monggo, tapi dia jualan platform saja.”

Harga pesawat yang telah dipasangi berbagai sistem mission itu bisa lebih mahal ketimbang penjualan platform dasar pesawatnya. Budiman mencontohkan penjualan pesawat CN235 yang kosong berkisar US$ 26–28 juta. Tapi, dengan tambahan berbagai sistem mission, seperti untuk kebutuhan patroli maritim, harganya bisa melonjak menjadi US$ 45–60 juta.

Sumber : Tempo.co.id

https://web.facebook.com/JakartaGreater

  52 Responses to “PT DI Kembangkan 11 Helikopter Anti-Kapal Selam TNI AL”

  1. INDONESIA DARURAT CUCIAN TYPE DESTROYER

  2. @patih pragota

    Kayaknya cuma pak supriyatna, bu connie& al arraf yang gak bangga dengan PT. DI….kenapa ya?

    • Kalo saya bangga PT. DI sudah bisa rakit heli.. walau telat melulu pengirimannya, mudahan selanjutnya bisa bikin sendiri

      • PTDI walaupun sempat terseok-seok puluhan tahun ternyata nggak ada tetangga yang bisa menyalipnya. Ini menunjukkan bahwa teknologi dirgantara memang masih jauh dari jangkauan negara kawasan sini.
        Beda dengan Cina, Korsel dan Jepang yang sudah meningkat pesat. Eh, juga India.

    • @Uling Putih
      Hanya bisa berharap kritikan Bu Connie objektif demi kemajuan PTDI dan bukan karena beliau berteman dengan si Leo.
      Pak Agus sebagai seorang prajurit tentunya mendambakan PTDI lebih moncer. Maka beliau harus mendukung agar PTDI makin mampu menyokong pertahanan Indonesia.
      Al Araf entahlah.

    • dalian liaonan shipyard ini kalau gak salah yg dulu pernah sukses meretrofit kapal induk liaoning. kayaknya fasilitas ini mirip dgn pt pal yg banyak mengerjakan proyek rahasia, walaupun pengerjaan kapal sebesar kapal induk secara outdoor saja masih bisa dirahasiakan. anehnya disitu….

    • maaf bung saya salah koment, jari saya masih meninggalkan sisa sidik jari bekas copas komen tadi malam sampai tertempel disini.
      maaf bung… maaf…

      • Alat navigasi yang anda pakai itu buatan mana bung?
        Kok bisa-bisanya kapal anda berlabuh di pangkalan udara.
        Hi hi hii…

  3. Harus diberikan kepercayaan penuh kpd PT. DI, walau agak sedikit ragu DI bs ga ya melaksanakannya ? Krn baru PT. Pindad dan PT. PAL yg betul2 terbukti hasil karyanya dlm memajukan industri pertahanan kita

  4. P>

  5. di industri penerbangan dimanapun didunia tidak pernah produsen membuat sendiri produk dari A sampai Z, biasanya body sendiri, elektronik dari tempat lain, mesin beli dari pabrik mesin, senjata dari produsen senjata, variabel itu semua yang membuat PT. DI sepertinya kedodoran belum lagi kalau anggaran cumpen, para produsen kelengkapan kadang juga harus antri kirim, tapi kedepan kalau industri dalam negeri makin lengkap dan mumpuni variabel kendala pasti berkurang dan PT. DI bisa on time schedule delivery

    • Tepat bung.
      PTDI nggak perlu bikin sendiri A sampai Z.
      Tapi pemerintah wajib berobsesi INDONESIA bikin sendiri A sampai Z. Artinya PTDI tetap fokus di manufaktur pesawatnya, sedangkan komponen lain dipasok oleh vendor item domestik. Termasuk, suatu saat, mesin buatan Indonesia. Kemandirian sangat penting.
      Tuh Iran sudah bisa bikin mesin jet. Indonesia juga harus mampu.

    • Kita perlu terus dukung DI semakain banyak pesanan akan semakin banyak macam-macam ilmu di serap .DI tentu butuh juga partner dalam negri sebagai sub kontraktor untuk penyediaan suku cadang kalau perlu dengan kandungan local . Dengan desain sendiri maka DI akan bebas memasangkan apa yang diperlukan klien maka di harapkan industri pendukung akan juga berkembang .

  6. perlahan tapi pasti PT. DI akan menghasilkan pundi-pundi provit finansial, saya sdh mencium aroma itu

  7. buat yang lebih kecil dan perbanyak yg lebih besar,

  8. Saya meramalkan 10 tahun lagi akan di produksi Apache rasa lokal so… Tunggu saja waktunya…. jangan di percaya Loh yah…wkwkwkkkk

  9. past bisa berkembang sampai di kanan kiri ada sayap kecil buat nyantelin berbagai jenis rudal.. ayo jgn kalah pt DI..

  10. tes

  11. di indonesia banyak pantai bertebing tinggi knp takde pangkalan kapal selan atau angkatan laut ya..

    Takde duitkah bangunnya ?

    Laut indonesia lebar harus di pasang sonar pasif dlm laut atau bikin pangkalan dlm air..

    Blm bisa kah ?

    • Ngapain juga ente ngurusin pangkalan kasel TNI AU. Itu urusan mereka, mau bikin dimanapun. Kok mau tau aja ente….xixixi

      Entekan lg nguli di Malon, tolong aja tanyakan, apa sdh bisa nyilem tuh scorpene.? Masak tiap nyilem nabrak karang mulu.? Itu kasel malah diperbaiki mulu….xixixi
      Kalo udah bisa nyilem, tolong videonya kirim ke bung Diego biar ditayangin dimari. Ok tong.!!

  12. Saya Tidak mengerti …
    Bukan nya kontrak pengadaan11 helicopter anti submarines ini sudah dilakukan sejak SBY …
    Saya pikir Tinggal dikirim saja tahun depan ..Utah … setelah nya ..PTDI yang buat helicopter yang Ke 12,Dan seterusnya …
    ..ijo belum dibuat sama sekali ..?
    Masih dirancang? Aduh …jadi selama ini anda kemana Pak RR …? Konsolidasi kemana mana? Lambat sekali …

    • Hamdan…hamdan….

      Heli panther yang dipake AL ini varian terbarunya….jadi kalo mo dimodifikasi dg penambahan beban dipping sonar dll harus melewati uji struktur, uji kestabilan heli ketika dipping sonar sdg dioperasikan, uji perawatan heli dikapal perang dll….hal-hal ini yang bikin lama, termasuk juga menunggu berbagai perlengkapan yang disuplai dari multivendor

    • Anda ini seperti tidak mengerti saja . Hely apache malah lebih duluan di pesan TNI tapi baru sekarang dikerjakan pabriknya di AS .Pabrikan itu punya schedule dalam memproduksi .Ada pesanan baru di kerjakan dan itu juga tergantung siap yang pesan lebih dahulu itu yang di kerjakan . Jangan dikira seperti jualan pisang goreng ,di buat dulu baru dipasarkan tapi sebaliknya ada yang pesan baru di kerjakan .

  13. Fotonya mantap kayak bang Otto Melara mau tusbol si kucing Panther, edisi otak ngeres

  14. Kurang banyak masa lautnya luas cuma 11 unit..harusnya NKRi pesen 300 unit berbagai macam type…beli torpedo blackshark 800 biji..buat menghancurkan kapal selam singaporno yg suka nakal nyelonong ke laut NKRi…

  15. Bukannya dri kemaren kemaren ni…. apakah ini utk mengelabui tetangga, padahal kita sudah ada barangnya…. cantelin juga pak Rudal anti Kapal beserta roket….. goooooooooddddd

  16. lanjutkan

  17. @hamdan

    11 Heli AKS Panther lebih tepatnya adalah :

    PROGRAM MEF 1 (Alokasi dana dari MEF 1) yang ditandatangani di ERA JOKOWI

    (lebih tepatnya 16 hari setelah JOKOWI dilantik menjadi presiden RI)

    untuk program MEF 2 nya berupa softwarenya :

    adalah pengadaan FULL MISSION SYSTEM untuk 11 HELI AKS PANTHER tsb …

    kalau salah ya maaf … wkwkwkwk …

  18. wizzz.. keliatan balaknya mbah

  19. *Mantap*

  20. Pesen 2 thn lalu kok baru diserahkan thn depan? Iki piye toh??

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)