Mar 162017
 

PTDI kirim Fuselage dan Tailboom Helikopter ke Airbus (Dirgantara Indonesia @officialptdi)

Jakarta – PT Dirgantara Indonesia menyerahkan komponen “rear fuselage” Helikopter 225 yang ke-50 kepada perusahaan aviasi global, Airbus yang mengindikasikan bahwa BUMN tersebut merupakan bagian penting sebagai pemasuk peralatan aviasi global.

“Kami sangat senang menjadi mitra terpercaya serta salah satu pemasok kunci bagi Airbus Helicopter untuk produk rangka pesawat,” ujar Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu, 15/3/2017.

Menurut Budi Santoso, kemitraan produksi yang kuat itu dinilai juga telah memicu perkembangan pesat dalam hal industrialisasi produksi komponen-komponen penting ini di Indonesia, dalam sebuah praktik yang berkelanjutan.

Dia memaparkan, keberhasilan kerja sama industri antara Airbus Helicopters dan PTDI dimulai lebih dari empat dekade yang lalu. Hingga saat ini, kedua perusahaan telah secara kolektif menyerahkan hampir 200 helikopter kepada pelanggan di Indonesia.

Khususnya untuk H225, PTDI menjadi pemasok kunci untuk rear fuselage dan rangka utama helikopter tersebut pada tahun 2008, dan telah melaksanakan kegiatan produksi secara penuh sejak 2011.

“Hal ini dicapai setelah serangkaian proses yang komprehensif dan menyeluruh, yang mencakup alih teknologi, pelatihan mendalam, serta implementasi sistem produksi yang berkualitas,” ucapnya.

Hanya dalam rentang waktu enam tahun, PTDI telah sukses memproduksi 50 rear fuselage untuk keluarga Super Puma ini, di samping enam rangka utama yang telah diserahkan pada Airbus Helicopters.

Dengan lebih dari 4.000 bagian untuk rangka tengah dan belakang yang diproduksi dan dirakit di dalam negeri, program H225 telah turut mentransformasi kemampuan produksi mitra industrinya di Indonesia ini.

“Sebagai hasil dari kerja sama dengan Airbus, lebih dari 4.000 orang telah dipekerjakan di industri kedirgantaraan Indonesia, di mana mereka dapat mempraktikkan kemampuan mereka dalam fungsi desain yang bernilai tambah tinggi, serta keahlian teknik dan produksi.

Sementara itu, Managing Director of Airbus Helicopter Indonesia Ludovic Boistot mengemukakan, pihaknya memiliki mandat yang jelas sejak awal yaitu turut mengembangkan industri kedirgantaraan Indonesia melalui kemitraan industri lokal yang kuat.

“Indonesia akan terus menjadi salah satu pemasok kunci bagi rantai pasokan kami, didukung oleh PTDI yang memiliki komitmen yang sejalan dengan kami untuk membangun industri kedirgantaraan yang kokoh dan progresif di negara ini,” kata Ludovic Boistot.

Antara

https://web.facebook.com/JakartaGreater

Artikel Terkait :

  21 Responses to “PTDI Pasok Fuselage H225 ke Airbus”

  1. loh… dlm hal ini brarti status PT. DI subkontraktor???
    saya lagi kurang bisa mencerna, kebetulan akhir2 kurang nasfu makan

  2. maju terus pt di

  3. sukses deh buat PTDI

  4. Sekilas info:

    Deputi Senior Kementerian Keamanan Afghanistan, Jenderal Abdul Rahman mengirimkan surat khusus kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait permintaan bantuan untuk mendukung perlawanan anti terorisme.

    Dalam surat tersebut, Afganistan meminta bantuan pakaian seragam, rompi, alat komunikasi serta pelatihan bagi anggota pasukan khusus anti teror Afghanistan. Sementara, permintaan itu dikabulkan oleh Wakapolri Komjen Pol Syafruddin.

    “Kita penuhi permintaan dari pemerintah Afghanistan untuk membantu memerangi terorisme,” kata Syafruddin melalui rilisnya, Rabu (15/3/2017).

  5. Wow ga cuma “ngecet” to….

  6. Assalamu’alaikum wr. wb.
    hal itu menjawab pertanyaannya sodara sodara sekalian tentang kasus tergelincirnya f 16.
    bahwa helikopter ataupun pesawat terbang khususnya spek militer dibuat dengan moduler atau perbagian serta dengan cita rasa tinggi alias kokoh kuat dan mantab.
    Tinggal di lihat bagian mana yang rusak.

  7. Waalsikumsalam…wr.wb.

  8. gak berani ya itu memproduksi mesin sama baling balingnya dimari kayak motor dan mobil jepang. kita cm dikasih rakitan chasing fuselage doang. kalo gini terus walau 10.000 tahun pun kita gak bisa punya produk sendiri yg semua unit part nya utuh buatan 100% lokal. bandingkan dg india, dg tata motornya, HAL tejasnya, heli serbunya yg TKDNnya lbh besar dari kita. knpa kita terus berkutat dg wacana AKAN. butuh pemimpin yg berani merevolusi mental inhan dan TNI sbg penggunanya. khususnya di matra udara.

    • Tejas itu mesinnya dari GE alias buatan US. Banyak kandungan dari luar juga.
      Mereka hanya bisa bikin rangka fuselage pesawat dan sayap, serta merakitnya dengan mesin GE dan peralatan inti lain dari luar.

      Jadi tidak ada negara selain US yang pesawatnya 100% komponennya buatan dalam negeri.

    • @inhan

      fuselage helicopter yg dibuat DI bukan merakit,
      DI membuat dan memproduksi sendiri mulai dari bikin jig & fixture, potong plat/slab material, bubut CNC, treatment, assembling, rivet, test dll.
      plis jgn komen dulu sebelum berkunjung ke Div. Produksi DI
      salam

  9. Semoga aja kedepan dapat order pembuatan spare part mesinnya jg, sehingga kita dapat TOT metalurginya jg! Klu jiplak seperti China PT.DI pasti bisa hanya dimasalah Metalurgi untuk mesin blm kita kuasai!

  10. gak pentinglah mesin secara keseluruhan! yg penting bisa bikin platform pesawat / helikopter dulu..mesin tinggal beli dan cangkok. kalo minta tot minta bagian seperpart mesin yg paling mudah haus dan rutin diganti, sehingga tersedianya sukucadang utk perawatan. kita harus tiru india

  11. berapa duit lgi ntuch…kalo impor mulu dari luar.bisa2 kita jadi bangsa komsumerisme.seharusnya pemerintah mendirikan lembaga nasional R&D.hak produksinya lalu dijual hanya kepada investor lokal.ane yakin bangsa kita 10 taon lagi bakal sejajar dengan jepang & jerman dalam penguasaan dibidang rekayasa enginering produksi barang.imo

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)