Dec 312016
 

Pulau Rubiah, NAD (photo credit : Indonesia Travelers)

Banda Aceh – Sepertinya belum pas rasanya apabila berwisata ke Kota Sabang, Aceh tidak menyempatkan diri datang ke Pulau Rubiah di Desa Iboih, untuk bermain dengan ikan hias (snorkling) dan menikmati taman laut (diving).

Oleh karenanya, setiap wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang datang ke wilayah paling ujung barat Indonesia itu selalu datang ke Pulau Rubiah.

Siapa saja yang datang ke Pulau Rubiah merasa senang dan puas, karena selain pantainya berpasir putih, juga lautnya tenang, sehingga mereka sangat menikmati dan bercanda ria dengan beranekaragam ikan hias.

“Wisatawan asing maupun lokal yang sudah menyelam di Pulau Rubiah, mengagumi keindahan taman bawah laut pulau kita,” kata Keuchik Gampong (Kepala desa) Iboih, Iskandar.

Luas Pulau Rubiah sekira 35,79 hektare dan luas taman bawah laut Pulau Rubiah dan sekitarnya sekira 2.600 hektare, hutannya pun masih sangat asri, pantainya juga bersih.

Keasrian Pulau Rubiah tampak jelas dari lepas pantai Teupin Layee, Iboih, Kecamatan Sukakarya. Lautnya yang bersih nan kebiru-biruan terlihat sampai kedasar laut pada kedalam 5-20 meter.

Kumudian, di kedalaman 2-10 meter ratusan jenis ikan hias sangat mudah dijumpai di sekitar Pulau Rubiah, tidak hanya itu para wisatawan juga bisa menyaksikan langsung berbagai jenis terumbu karang sambil bermain dengan ikan hias tersebut layaknya di kolam renang.

Puluhan speed boat dan boat kaca pun stanby di dermaga Teupin Layee Iboih dan siap membawa keliling setiap wisatawan yang ingin mengelilingi Pulau Rubiah sembari menikmati keindahan taman bawah laut dan berbagai jenis ikan hias di atas boat kaca.

Boat kaca kapasitasnya 12 orang dan pertrip biayanya Rp300.000 dan speed boat Rp200.000. Itu keliling Pulau Rubiah dan wisatawan bisa menikmati keindahan taman bawah sepanjang Pulau Rubiah diatas boat kaca tersebut.

Pulau Rubiah (photo credit : Arraziibrahim.com)

Untuk snorkling, pedagang sudah menyediakan perlengkapan lengkap, yakni baju pelampung, kaca mata dan sepatu renang dengan tarif Rp40.000 per orang.

Jarak Pulau Rubiah dari pantai Teupin Layee, sekira 200 meter dan membutuhkan waktu sekira 5-10 menit dengan menggunakan jasa penyeberangan speed boat atau boat kaca. Untuk mengeliligi Pulau Rubiah sendiri membutuhkan waktu sekira 30-40 menit.

Jika dari pusat Kota Sabang dengan menggunakan sepeda motor roda dua maupun roda empat membutuhkan waktu sekira 25-30 menit dengan jarak temput sekitar 28-30 Km.

Selain Pulau Rubiah, di Sabang juga terdapat objek wisata yang tidak kalah menariknya, yakni Kilometer 0 Indonesia yang letaknya tidak jauh dari Pantai Iboih. Kalu naik kenderaan sekitar 15 menit.

Pemerintah Kota Sabang telah merenovasi tugu Km 0 dan juga memperlebar jalan menuju daerah itu, sehingga wisatawan yang ke sana lebih nyaman lagi.

Yang lebih menariknya lagi, setiap wisatawan yang ke sana diberi sertifikat dari Dinas Pariwisata Sabang. Pada sertifikat tersebut ditulis yang bersangkutan merupakan pengunjung yang kesekian datang ke Km 0.

Pulau sejarah Kembali ke Pulau Rubiah yang ternyata tidak saja dikenal sebagai objek wisata menarik, tapi memiliki nilai sejarah, karena daerah itu untuk pertama kali dibangun Asrama Haji.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sabang Zulfi Purnawati, para tahun 1920-an pulau itu menjadi tempat karantina jamaah haji Indonesia sebelum diberangkatkan dengan kapal ke Tanah Suci.

Jadi, oleh Pemerintah Belanda pada waktu itu, setiap jamaah haji Indonesia, baik yang mau berangkat dan pulang, harus singgah dulu di Pulau Rubiah.

Sepertinya, Pulau Rubiah sebagai tempat bersejarah ini belum mendapatkan perhatian, sehingga bangunannya tidak ada lagi, hanya tinggal pondasinya saja.

Sebenarnya, ada bangunan asrama haji yang dibangun pemerintah, tapi kurang perawatan, sehingga wisatawan yang ingin berkunjung merasa kurang nyaman.

Pada waktu liburan, khususnya menjelang akhir tahun, kunjungan wisatawan domestik ke Sabang meningkat 25 persen dari hari biasanya.

“Pada libur akhir tahun kunjungan wisatawan meningkat sekitar 25 persen,” kata Kepala UPTD Pelabuhan Balohan, Sabang, Abdurrani.

Kawasan Pulau Sabang di Jaman Kolonial Belanda

Wisatawan domestik yang berkunjung ke kawasan strategis pariwisata nasional Sabang, dominan berasal dari Sumatera Utara dan Pulau Jawa.

Dikatakan, dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan tersebut di mana jadwal pelayaran pun bertambah satu trip dari Sabang-Banda Aceh dan sebaliknya.

“Hari-hari biasanya, Kapal KMP BRR (kapal lambat) hanya berlayar dua kali pulang pergi (PP) dari Sabang-Banda Aceh dan sebaliknya, karena terjadi lonjakan wisatawan kami menambahkan trip pelayarak tiga kali PP,” jelas Abdurrani.

Ada pun jadwal pelayaran Kapal KMP BRR dari Pelabuhan Balohan, Sabang menuju Pelabuhan Ulee-Lheue, Banda Aceh pukul 07.00, 13.00 dan pukul 19.00 WIB, kemudian sebaliknya pukul 10.00, 16.00, 22.00 WIB.

Kapal Cepat Express Bahari berlayar dari Sabang – Banda Aceh pukul 08.00, 14.30 dan 16.00 WIB, lalu dan sebaliknya pukul 09.30 dan 16.00 WIB.

Selain transportasi laut, untuk ke Sabang juga bisa melalui udara dengan menggunakan Maskapai Garuda Indonesia jenis ATR 72-600 dan PT Lion Group jenis Wings Air.

Kawasan Pulau Sabang di Jaman Kolonial Belanda

Pelaksana tugas Wali Kota Sabang T Aznal Zahri menyatakan dua maskapai penerbangan (Garuda ATR 72-600 dan Wings Air) melayani rute Kualanamu, Sumatera Utara – Sabang.

“Biasanya libur akhir tahun kunjungan wisatawan meningkat drastis ke Sabang dan untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan tersebut dua maskapai sudah siap melayani wisatawan dari Bandara Kualanamu tujuan Sabang,” kata Aznal.

Guruda Indonesia jenis ATR 72-600 kapasitasnya 76 penumpang rutin melayani rute penerbagan Kualanamu – Sabang dalam sepekan dua kali yakni, Jumat dan Minggu.

Sedangkan PT Lion Air Group jenis penerbangan Wings Air berkapasitas 78 penumpang dijadwalkan melayani penerbangan perdananya 8 Desember 2016 dari Bandara Kualanamu – Sabang.

“Sebelumnya andalah kita hanya pelayaran dari Ulee-Lheue Banda Aceh-Sabang dan sekarang wisatawan domestik maupun internasional bisa terbang langsung ke Sabang dari Bandara Kualanamu tujuan Sabang,” ujar Walikota Aznal.

Artikel Terkait :

  10 Responses to “Pulau Rubiah, antara Sejarah dan Wisata”

  1. Indah sekali

  2. Kyk nama mata uang semoga disana duit lancar

  3. keren indonesiaku
    Rubiah kalo dalam bahasa sunda
    Rubiah = Istri

  4. Sudah jadi rahasia umum kalo di sabang spot snorkling nya banyak dan sangat keren2, cuman fasilitas sarana dan prasarananya serta bangunan sejarahnya sangat tidak di rawat oleh pemerintah setempat..

  5. Sudah jadi rahasia umum kalo di sabang spot snorkling nya banyak dan sangat keren2, cuman fasilitas sarana dan prasarananya serta bangunan sejarahnya sangat tidak di rawat oleh pemerintah setempat..

    Hmmmmmm….jadi pengen Mie ACEH.

    • berarti harus diganti kalimatnya, “Seperti diketahui bersama…”, jadi jangan menggunakan “Sudah jadi rahasia umum..”

      😀

  6. Indahnya negeri ini

  7. Serasa b lengkap menjadi warga negara RI jika blm pernah mengunjungi pulau ini…mimpi blm terbeli

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)