Mar 142015
 
 Sistem radar  Erieye di pesawat Saab S-100 Argus (photo : Taringa)


Sistem radar Erieye di pesawat Saab S-100 Argus (photo : Taringa)

Gothenburg — Perusahaan sistem pertahanan Swedia, Saab Group, menjelaskan, sistem peringatan dini dan kendali terbang (airborne early warning and control/AEW&C) Erieye buatannya bisa dipasang di pesawat-pesawat jarak menengah buatan PT Dirgantara Indonesia, seperti CN-235 dan CN-295.

Selama ini, sistem radar canggih AESA (active electronically scanned array) tersebut dipasang di atas platform tiga pesawat sipil, Saab 340 dan Saab 2000 yang bermesin turboprop serta Embraer E145 yang bermesin jet (turbofan).

Erieye berbasis Saab 340, misalnya, dipakai Angkatan Udara (AU) Swedia, Thailand, dan Pakistan. Sementara Erieye berbasis Embraer E145 dipakai AU Brasil dan Meksiko.

Lars Ekstrom, mantan perwira AU Swedia yang kini menjadi pejabat di bagian Pengembangan Bisnis Sistem Pengawasan Udara Saab, Senin (9/3), mengatakan, secara prinsip radar Erieye yang berbentuk seperti papan yang dipasang di atas badan pesawat tersebut bisa dipasang di platform CN-235 atau CN-295.

“Kami bersedia memasangnya di platform-platform baru, termasuk pesawat CN-235 atau CN-295,” ujar Ekstrom kepada enam wartawan Indonesia, termasuk Kompas, di Gothenburg, Swedia.

Akan tetapi, Wakil Presiden dan Kepala Bagian Sistem Pengawasan Udara Saab Lars Tossman mengingatkan, proses pemasangan radar sistem Erieye di platform pesawat baru bukanlah proses yang bisa mudah dan cepat dilakukan. Bentuk radar yang besar dan dipasang di atas badan pesawat akan memengaruhi aerodinamika pesawat dan perlu dilakukan modifikasi desain sayap vertikal pesawat.

“Dan, itu membutuhkan tambahan dana hingga ratusan juta dollar AS, belum ditambah proses sertifikasi kelaikan udaranya yang bisa memakan waktu dan biaya lagi,” papar Ekstrom.

Sistem AEW&C Erieye saat ini menjadi sistem peringatan dini udara yang paling laris di luar produk buatan AS. Sistem ini serupa dengan sistem AEW&C semacam E-2 Hawkeye yang digunakan, antara lain, oleh AS, Jepang, dan Singapura; atau Boeing E7A Wedgetail yang dipakai Australia. (Kompas).

Artikel Terkait :

  45 Responses to “Radar AEW&C Erieye Bisa Dipasang di Pesawat PT DI”

  1. Wow

  2. Mantap…lanjut kan

  3. Indonesia kayaknya butuh yang platform bermesin jet seperti EMB-145i AEW&C India Brasil.
    Saya pernah terbang pakai c295 dan bila dibandingkan dengan pesawat jet beechcraft 2000, pesawat c295 terasa lamban. Bagaimana nantinya bisa mengimbangi kecepatan SU 27/30/35, untuk cover nusantara.

    Jet EMB-145i AEW&C

    • sya seperti kepincut bung, tolong pesankan dua biji saja 🙂

    • pt di harus berani memodifikasi pesawat terutama mesin dan aerodinamis. belajar dari rusia lebih ok. aq lihat pesawat antonov rusia bs mengangkut gerbong kereta dan dimodifikasi mengangkut pesawat ulang alik….gile memang rusia teknologinya.

      • antonov sedang libur beroprasi bung, karna dibuatnya di uk
        kalo bisa sih sya lebih suka antonov jumbo bermesin 6

    • Harusnya memang pakai platform pesawat bermesin jet seperti boeing 737 atau sekelasnya bung Diego, karena bentuk radarnya batang panjang bukan seperti payung bulat, maka perlu pesawat bodi panjang agar modifikasinya tidak banyak kendala..

      • Imho. Kalau aew lebih cocoknya pakai Turboproop atau baling2. Karena tugas pesawat ini bukan ngejar pesawat tp buat patroli, jd lebih ke long endurance dan jangkauan terbang yg jauh. Pesawat bisa muter2 di spott patroli lebih lama daripada pakai jet.

        • Setuju Bung,untuk Indonesia yang luas butuh pesawat AEW&C turboprop karena wilayah luas ,bisa terbang lama. Pesawat AEW&C tidak harus terbang berdampingan dengan pespur seperti pesawat electric walfare aircraf F18G. Dia cukup mutar mutar di menjaga kedalamam sebagai dirigen udara. Saya kita tak perlu banyak perubahan untuk C295 ,karena pesawat ini pernah di coba pakai menggendong radome radar tanpa perubahan pada ekor pesawat. Kalo berhasil bisa juga kita jual kenegara lain.Malaysia juga butuh AEW&C.

        • berarti harus punya 2 jenis ya bung? baling2 untuk patroli, jet untuk operasi militer

        • Lah…kalau ada pesawat tempur(bkn sipil) masuk indo…apalagi teknologi stealth….nah…nyari nya klw lambat keburu kabur.jgn hanya patroli…tapi membantu mencari n koordinir pesawat tempur.gunanya kan itu.. bayangin aja tuh klw baling2… k TKP.sukhoi n f-16 bete nungguin dsekitar TKP.

          Mesin jet yes… 😀

        • PlatForm TurboJet Dan TurboProp Dua2nya Di butuhkan.
          Keduanya Mempunyai Advantage dan Disadvantage nya sendiri.

          IMHO, TurboJet sangat cocok untuk Geografis Area Yg luas Spt Indonesia dan Gerak reaksi Cepat, seperti Interceptor Support ataupun Attack / Air Strike support(Future). dan all Operation.
          disadvantagenya nya: BBM lbh banyak karena mesinnya.

          Kalau PlatForm TurboProp biasanya untuk Defence dan patrol Support, tapi kalau untuk attack/strike support, spt yg di bilang sebelumnya, pesawat Aew Turboprop ini Ketinggalan, speed nya kan cuma 576 km/h. sedangkan Jet Fighternya rata2 1500Km/h , jadi tidak efektif bila digunakan untuk attack/ Close Air Strike Support.

          Juga perlu di ketahui, Walaupun namanya AEW, Radarnya Tetap ada Batasnya. Dia Tetap harus Approach/Mendekat ke sasaran si target Agar si Target masuk ke dlm range deteksi Radar nya.
          ilustrasi saja, Su-30 sudah berada di NTT tapi AEW nya masih di laut jawa, maka Si Aew ini blom bisa mendeteksi Intruder di selatan NTT, menjadi tidak efektif bila ada gangguan dari selatan.
          Just IMHO.

          • Pesawat jet pengendongnya juga tidak mungkin mencapai kecepatan supersonic,dia juga akan berada dikisaran sub sonic 900 km/jam.Apalagi menggendong radar ,kecepatannya juga bakal melorot jauh. Keluarga EMB Brazil juga sering kecelakaan.Bukan pesawat yang tangguh apalagi untuk militer.

    • Iya nampaknya memang TNI tertarik dengan Paket AEW yg dr India, yg mirip dengan erieye dengan menggunakan pesawat jet turbofan…mungkin bisa jd pake pesawat Boeing Parmar Survillance 737 tni au..kalo seluas negara kita kira kira butuh berapa banysk yah Bung Diego? Lima biji atau mungkin Tujuh?

      Semoga dapet yg terbaik

    • bung diego bagus saranya,tapi kurang nasionalisme, bisa nga c295 diganti mesinnya pakek jet,,biar produk indonesia 100% buatan negeri dimodif.,

    • TNI AU sebenernya tertarik dng pemasangan eriaye di pesawat jet EMB Brasil..tp krn kita sedang bermasalah dng Brasil akhirnya di belokin ke CN 235 & 295..btw perkembangan Pesawat COIN Super Tucano jadi gimana bung kelanjutannya..??

    • Boeing 737-700/800 Wedgetail..
      Tapi lumayan ‘nendang’ harganya..Korsel aja beli 4 Wedgetail harga totalnya US$ 1,6 Milyar..

  4. SAYA SARANKAN TARUH RADAR AEWC INI DI SU 35.. PASTI GAHAR

  5. teruskan……….mantabkan……………….jalankan………….gandakan……………

  6. Mending beli k spanyol..swedia jd teringat hasan

  7. Radar EL/W 2090 lbh top :mrgreen: ToT
    pasang deh di IL-76 :mrgreen: kalo bisa pasang jg di C295 lbh pas keknya

    Erieye cocoknya pasang d R-80, :mrgreen:

  8. perlu diujicoba dipasang diatas puncak gunung tertinggi juga itu ha3x

    • “We are not afraid of Singaporean control. But it would be dangerous for flight safety [to take over] without proper preparation,” Jonan said.

      Singapore has been controlling part of Indonesia’s airspace since 1946, or a year after Indonesia gained its independence. Singapore controls an airspace of up to 110 nautical miles in radius, encompassing Batam, Natuna and Dumai in Riau. – See more at:

      ========
      komeng ane

      no problem mister, If you feel that The Indonesian Resources is still not ready to take over ,
      but I recomended you not ” sale” anything said all resources minus In Indonesia something kind like that people, English languange, or fund development to any pers abroad ,
      It looks like ridiculous you open the secret defensive self to enemy …

      Better Please go back to your banners , work , work , and work ….

      I think you are capable tho handle the big Job as a Ministry of transportation , not NATO only ( no action talk only )

      you are make me dissapoint as your coming From Arek surabaya ,
      you are ministry not public enemy ,
      supposed you control your comment , not only press release issue

      Kesimpulan : jangan ikut-ikutan koment ranah FIR bila indonesia memang belum siap , hal ini bisa ditertawakan oleh negara tetanggamu yang se -upil,
      Siramilah jiwa anda dengan NKRI ….

      dorong bilamana emmang kurang resourcesnya , perbaiki mana yang kurang ,
      Jangan kegampangan anda marah tanpa hasil di jajaran anda

    • Prihatin dengan pernyataan Mentri ini.Kita di bilang belum siap.Dari dulu itu saja alasan Indonesia.Kalau memang belum siap,maka tugas anda sebagai mentri menyiapkannya .Bikin planning yang benar,baik sumberdaya manusia atau perangkat kerasnya. Punya target berapa tahun misalnya. Ajukan pembelian peralatan navigasi yang canggih,didik operatornya keluar negri.Kalau masih kurang yakin juga dengan tenaga lokal,pakai saja perusahaan asing untuk menggelolanya.Jangan cuma ngomong belum siap. Kerja kerja kerja .

  9. Nek aku sih..Sembarang..pokoke duwe

  10. Wah sayangnya kita hanya punya pesawat turboprop padahal luas banget wilayah yg akan dicover

  11. Apakah sebegitu urgentnya kita membutuhkan aew&c? padahal unit ini digunakan untuk air engagement, melihat jumlah skuadron tempur kita yang masih 6 squadron. lebih baik dilengkapi dulu radar daratnya setelah airspace kita tercover oleh radar darat baru aew&c dibutuhkan.

  12. Tenaga ahli pt.di pasti mampu nengotak atik cn295 dng tambahan radar diatasnya. utk kebutuhan mendesak, kan sdh ada cn 295 yang pakai konde. itu saja diambil dulu, baru berikutnya len kembangkan sendiri. ANDA PERCAYA KAMI BISA.

    • Yang pakai konde piring terbang itu rewel bung.Karena harus berputar terus makanya sering rusak,juga tehnologi lama belum AESA.

  13. Akan smp kpn lg Singapur dbiarkn kelola FIR?
    Pikiranmu kok kerdil skl, mnganggap kt ga mmpu kelolanya.
    Singapur aja yg cm seupil mmpu. Masa kt yg bsr & berlimpah SDM tdk.
    Persoalannya bkn mmpu/ga mmpu, tp pmerintah mau ga mngambil alihnya ssuai khendak mayoritas rakyat RI.
    Jaga dong gengsi rakyat kt, jgn mlh km anggap kt ga mmpu mngelolanya.
    Dsr ga peka.
    Rakyat ingin kt sgera mngambil alih, krn rakyat punya kmmpuan, nasionalisme, & gengsi.
    Klu pmerintah mrs pro rakyat, mk sgrlah ambil alih.

    • Prihatin, kalau ingat pengorbanan pendiri bangsa betupa jiwa dan raga, koq wilayah udaranya dikuasai asing malah bilang sdm belum mampulah, peralatan belum memadai lah. koq enteng banget. sekali lagi prihatin.com

  14. Indonesia kayaknya butuh yang platform bermesin jet seperti EMB-145i AEW&C India Brasil.
    Saya pernah terbang pakai c295 dan bila dibandingkan dengan pesawat jet beechcraft 2000, pesawat c295 terasa lamban. Bagaimana nantinya bisa mengimbangi kecepatan SU 27/30/35, untuk cover nusantara.

    Bung diego, sepertinya pesawat AEW&C itu tidak terbang mengikuti pesawat tempur secara langsung.

    Tugasnya jelas bagi AEWC dan AWACS yaitu pengawasan dan pengelolaan daerah operasi. Jadi pesawat ini harus ada di titik tertentu, bukan mendampingi secara dekat fisik dengan pesawat tempur secara langsung dalam suatu operasi.

    Kalau tugas mendampingi dekat secara fisik itu adalah pesawat elektronika yang berbasis struktur pesawat tempur, seperti E-6B Prowler dan yang baru2 ini diakuisisi RAAF yaitu EF/A-18G Growler yang berbasis pada pesawat F/A-18F Rhino / Super Hornet. Sehingga pesawat tempur elektronika ini mampu mendampingi pesawat2 tempur / serang dan menjadi mata dan pelindung dari serangan elektronik.

    Contoh lain, US Navy sampai sekarang masih mengandalkan E-2 Hawkeye AEWC (saat ini sampai versi D) yang notabene bermesin turboprop bukan turbofan apalagi turbojet. Padahal salah satu yang dilayani afalah pesawat2 tempur cepat,misalnya dulu F-4 Panthom, bahkan F-14 Tomcat dan sekarang F/A-18 Rhino / Super Hornet.

    Saya pikir, kalau USAF menggunakan AWACS dengan platform boeing-707 itu lebih kepada mengejar ketinggian (untuk jangkauan radar lebih luas) dan kapasistas personel dan prosesor (untuk kemampuan lebih tinggi dalam menghadapi ancaman dan mengelolanya) serta jangkauan dan daya tahan terbang lebih jauh dan lama.

    Bahkan ada wacana USAF membuat radar besar pada balon udara besar seperti Zeppelin dengan kemamouan ketinggian yang besar sehingga dgn balon ini (yg notabene paling lambat dibanding bahkan turboprop, kan?) memberikan kemampuan pengawasan lebih luas dan lebih lama (24 jam sepekan : 24/7).

    Jadi, saya pikir, kalau TNI-AU pilih platform turbofan seperti Boering 737, itu mengejar ketinggian, jangkauan, daya angkut, dan daya tahan.
    Nah tinggal dibandingkan dgn platform turboprop yang ada.

    Soal keinginan user, ingat tidak? Mengenai pengadaan pengganti F-27 Troopship, di mana user bilang bahwa C-27J Spartan adalah yang terbaik (tent user ingin yang terbaik sesuai dengan perkataannya, kan?) tetapi seperti yang kita lihat sekarang adalah yang datang itu C-295.
    Bagaimana pendapat anda?

  15. Rebut FIR dari singa pura2. payah ni menteri perhubungan. masa kalah semangatnya sama menteri susi. Lalu KAPAN SIAP nya PAK! bisa dimaklum kalo sponsor Kampanye nyapres nya dari Singa pura.

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)