Sep 262016
 

Kesepakatan India untuk membeli 36 unit jet tempur Rafale dari Perancis tidak diragukan lagi akan membawa keuntungan besar bagi industri penerbangan dalam negeri selain menciptakan lowongan pekerjaan bagi rakyat India.

Menteri Pertahanan Manohar Parrikar mengatakan, “Dalam kesepakatan asing, ada 3-4 hal yang harus diurus. Pertama adalah biaya, yang telah kami rundingkan dimana harganya jauh lebih rendah dari harga sebelumnya yang diminta oleh tim Perancis”.

Ada yang perlu dicatat di sini bahwa kesepakatan € 7,878 miliar (US $8,846 miliar) telah turun sebesar € 750 juta (US $ 842 juta) dari permintaan tim Perancis pada Januari 2016.

“Kedua adalah persentase offset, dalam hal ini jauh lebih tinggi daripada penjualan militer asing lain sejauh. Hal ini menciptakan potensi yang sangat besar untuk industri penerbangan dan ini sejalan dengan Perdana Menteri dalam inisiatif Make in India”, kata Menteri Pertahanan.

Dapat disebutkan di sini bahwa kesepakatan datang dengan diimbangi klausul 50% yang berarti bahwa perusahaan-perusahaan India akan mendapatkan bisnis senilai € 3,939 miliar (US $4,4 miliar).

Parrikar mengatakan fitur yang paling signifikan dari kontrak ini adalah adanya perangkat tambahan untuk jet tempur Rafale India yang bahkan pesawat Perancis tidak memiliki.

Pertama, jet tempur ini datang bersama dengan persenjataan rudal tercanggih yang menambah kemampuan serangan IAF dengan peningkatan besar. Ini termasuk rudal BVR udara-ke-udara Meteor yang memiliki jangkauan lebih dari 100 km. Kemudian juga ada rudal jelajah udara-ke-permukaan Scalp dengan jangkauan lebih dari dari 300 km.

Selanjutnya, jet tempur ini akan disesuaikan sejalan dengan persyaratan IAF dan mencakup Helmet Mounted Display, radar penerima peringatan, pencarian dan pelacak inframerah.

“Jadi dari semua aspek itu adalah kesepakatan yang menguntungkan bagi India. Rafale adalah pesawat yang potensial dan akan menambah kemampuan IAF”, tambah Menteri Pertahanan.

Para ahli mengatakan bahwa Rafale akan dilengkapi dengan rudal Meteor dan Sculp yang akan mengguncang Angkatan Udara Pakistan dan Angkatan Udara China.

2-2012-3-rafale

Mereka juga menambahkan bahwa perangkat tambahan yang dinegosiasikan di bawah kesepakatan pembelian 36 unit Rafale berarti bahwa lawan India akan membutuhkan 4 jet tempur modern untuk melawan 1 jet tempur Rafale India.

“Rasio 1:4 jelas akan memberikan India keunggulan atas lawan dan kesepakatan untuk 36 unit jet tempur Rafale adalah setara dengan pengadaan 144 unit jet tempur modern”, kata seorang pejabat yang tak menyebut namanya.

Pengiriman awal jet tempur akan di mulai 3 tahun lagi dan akan selesai pada 18 bulan setelahnya. Sesuai dengan kontrak, produsen Dassault Perancis harus memastikan bahwa 75% dari armada atau 27 unit jet tempur harus tersedia secara operasional pada waktu yang ditentukan.

Rafale terpilih setelah sebelumnya dilakukan banyak penelitian secara mendalam dan pengujian oleh IAF termasuk Grippen Swedia, F-16 dan F-18 Amerika, MiG-35 Rusia, Eurofighter Typhoon dan Rafale Perancis.

Sumber: Defense News India

© JakartaGreater.com

  11 Responses to “Rafale India Lebih Canggih Daripada Milik Perancis?”

  1. Nehi nehii

  2. Kok bisa 1:4 ya

  3. Wow……….

  4. Cuma teori saja..

  5. Bisa tukeran presiden ga ya?

  6. India sedang bersitegang dengan China dan Pakistan, semua alutista India di persiapkan untuk kemungkinan perang.
    Mulai dari armada darat, laut dan udara di remajakan dan di perbanyak untuk situasi perang dengan negara tetangganya.
    Mengenai rasio 1:4 itu hanya prediksi pejabat militer India untuk meredam protes warga negaranya yang di akibatkan biaya pengeluaran yang besar.
    Jika pihak militer India mendapatkan pesawat yang lebih canggih dari ngara produsennya (Prancis) itu sendiri kemungkinan ada 3 hal, yaitu :
    1. TOT
    2. Upgrade sistem radar, avionik, helm pilot dan amunisi (rudal)
    3. Prancis membutuhkan dana extra dari penjualan pesawat Rafale ini unruk riset pesawat yang gennya lebih tinggi dari pesawat Rafale itu sendiri.

    Karena menurut logika tidak akan mungkin negara Prancis memberikan lebih kepada negara luar untuk tingkat aluista, semua itu dikarenakan pesawat Rafale adalah pesawat joint dengan negara Eropa lainnya.
    Mereka (negara user pesawat Rafale) akan takut jika suatu saat nanti akan menjadi bumerang atau senjata makan tuan jika terjadi persoalan antara India dengan negara-negara joint venture pesawat Rafale.

    Setidaknya saya beranggapan seperti itu jika memperhatikan kebiasaan negara sekutunya USA terhadap negara user pesawat USA itu sendiri.

  7. india stroooooong!!!!

  8. @noname : Rafale memang pure 100 persen Prancis.
    Dalam mengembangkan pesawat ini Prancis juga ikut andil dalam pengembangan Eurofight.. hingga Prancis kehabisan dana dan berhenti melanjutkan pengembangan pesawat joint dengan negara sekawasan Eropanya dan memilih fokus ke pengembangan Rafale.
    Untuk itu Prancis mencari tendem dengan cara menjual pesawat ini untuk membiayai pengembangan pesawat Rafale tersebut.
    Ada bebedapa negara seperti Libia, Brasil, Swis, Inggris dan kawasan Timur Tengah di ajak menjadi rekanan dengan cara menjual pesawat ini untuk berkesinambungannya pengembangan pesawat Rafale ini.
    Dari sumber berita wikipedia hanya negara di daerah Timur Tengah yang di buged nominal untuk upgrade pesawat Rafale ini.
    Perlu di ketahui ada sebagian dari komponen dari pesawat ini yang menggunakan made in USA (Boing) untuk di cangkok di bagian mesin Rafale.
    Mungkin hanya sebatas itu baru saya dapat informasikan karena saya masih harus buka contekan untuk pesawat yang kurang sold out di antara negara di Eropa.
    Maaf jika penjelasannya kurang memuaskan, Insya Allah akan saya cari dari nara sumber lainnya.
    Wassalam…

  9. @noname : Sedikit koreksi mengenai bagian komponen pesawat Rafale yang menggunakan product mamarika bukan dari Boing, melainkan dari General Electric.
    Maaf dan terimakasih…

 Leave a Reply