Jan 172017
 

(Foto: Lockheed Martin)

WASHINGTON – Dirundung masalah karena tertundanya pengiriman perangkat lunak penting dan kelemahan pada sistem pemeliharaan otomatis, Joint Strike Fighter (JSF) F-35 Lockheed Martin akan mulai lakukan tes operasional awal dan evaluasi sesuai rencana pada bulan Agustus 2017.

Dalam laporan terakhirnya yang pedas pada F-35, Kepala pengujian senjata Pentagon, Michael Gilmore menyebut bahwa awal 2019 adalah sebagai target optimistis untuk tes operasional awal dan evaluasi program F-35 tersebut, seperti dilansir Flight Global.

Bahkan saat Kantor Program Bersama (JPO) F-35 berencana untuk mengurangi lamanya waktu uji pengembangan dengan maksud untuk berlanjut pada IOT&E, Gilmore memperingatkan bahwa ratusan kekurangan yang ada saat ini akan mendorong tes kemampuan tempur penuh hingga akhir 2018 atau awal 2019.

Para ilmuwan penguji penerbangan mengidentifikasi masalah yang akan menunda IOT&E, seperti adanya kekerasan osilasi vertikal dan berlebihan yang dialami pada F-35C selama peluncuran dari kapal induk. Angkatan Laut menilai masalah itu “harus diperbaiki” dan meminta JPO harus mengatasinya sebelum IOT&E.

“Pilot armada melaporkan adanya osilasi yang begitu parah sehingga mereka tidak bisa membaca data penting penerbangan”, tulis Gilmore. “Sebagian besar pilot terkunci oleh perlengkapan terbang mereka selama F-35 ditembakan melalui ketapel yang membuat tombol darurat sulit dijangkau, menurut mereka, ini tidak dapat diterima dan menyebabkan situasi yang tidak aman”.

Ini jelas-jelas memberikan banyak masalah pada pesawat, termasuk 270 kelemahan prioritas tinggi dalam kinerja perangkat lunak Blok 3F yang teridentifikasi dalam review terbaru. F-35 batch 10 akan dikirimkan tanpa kemampuan penuh dari perangkat lunak Blok 3F, tulis Gilmore.

Sperti direncanakan bahwa perangkat lunak Blok 3F akan membawa kemampuan tempur penuh pada F-35, yang memungkinkan dilakukan manuver pada beban 9G dibandingkan perangkat lunak Blok 3i saat ini hanya mampu bermanuver pada beban 7G dan pengujian tembak.

Kemampuan penting lainnya dari Blok 3F telah mengalami kemunduran termasuk dalam hal integrasi Bom Diameter Kecil (SDB), kemampuan MADL untuk berbagi citra dan basil Link 16 yang memungkinkan pesawat untuk mengirim dan menerima pesan.

Ketika Angkatan Udara AS mengumumkan kemampuan operasional awal untuk F-35A pada bulan Agustus 2016 lalu, Komandan Angkatan Udara dari Komando Tempur Udara, Jenderal Herbert Carlisle kepada wartawan mengatakan bahaw Blok 3F dan Blok 4, masing-masing tidak akan tersedia hingga 2018 dan 2021. Meskipun banyak tantangan selama penilaian kesiapan interim, Carlisle meyakinkan bahwa software Block 3F akan memperbaiki masalah yang sebelumnya ditemukan pada pesawat F-35A.

Dalam sebuah memo yang diberikan pada bulan Agustus 2016, Gilmore meragukan status kesiapan tempur awal pada F-35A ini. Konfigurasi Blok 3i, dengan kemampuan membawa senjata terbatas pada Blok 2B, akan membutuhkan dukungan dalam mencari dan menghindari ancaman modern, memperoleh target dan menyerang pesawat musuh, tulisnya.

Gilmore menggaungkan kritikan tersebut dalam laporan terakhirnya, mengatakan bahwa F-35 dengan software Blok 3i bahkan tidak cocok pada lingkungan yang permisif bagi pesawat F-18 dan A-10. Dia juga menegaskan bahwa pilot penguji melaporkan kemampuan sistem penargetan F-35 dalam mengidentifikasi target ternyata lebih buruk daripada pesawat pendahulunya.

“Efek lingkungan, seperti kelembaban tinggi, sering memaksa pilot F-35 untuk terbang lebih dekat kepada target yang diinginkan untuk membedakan fitur target sebelum mereka memilih senjata yang akan digunakan, bahkan harus lebih dekat dibandingkan menggunakan sistem yang ada pada F-18, hal ini justru berpotensi memperingatkan musuh, mengungkap keberadaan F-35 dan memperbesar ancaman terhadap F-35 di sekitar area target atau membutuhkan penundaan serangan hingga F-35 dapat mencapai kembali jarak yang cukup untuk mengatur serangan”, katanya.

Versi terbaru dari sistem pemeliharaan F-35 ini tidak akan selesai pada akhir pengembangan sistem dan fase demonstrasi. ALIS 3.0 tidak akan dikirimkan hingga pertengahan 2018 dan bahkan beberapa fitur yang ada pada versi itu akan ditunda penggunaannya sampai musim panas, lanjut Gilmore.

Beban data misi, kompilasi file data misi yang membantu mengidentifikasi sinyal radar “friend or foe”, untuk beberapa wilayah geografis tertentu tidak akan diverifikasi hingga awal 2019. Setelah dikirimkan, beban data misi tidak akan siap menghadapi ancaman dalam pengujian, sehingga akan membuat pilot dan F-35 bertempur sendirian, tulis Gilmore lagi.

Gilmore juga mendorong kembali pernyataan JPO baru-baru ini, bahwa biaya tak terkendali dari SDD dapat diperoleh kembali melalui dana program yang ada. Kekurangan pesawat itu akan meningkatkan biaya SDD lebih dari yang diprediksi dan JPO harus melihat dalam anggaran yang ada atau pendanaan yang disisihkan untuk modernisasi, katanya.

Dengan melanjutkan pengejaran pada blok pembelian sejumlah 12 – 14 unit sebelum menyelesaikan IOT&E, Gilmore berpendapat bahwa JPO telah menganggap remeh melalui pendekatan “terbangkan dulu sebelum dibeli”.

Pembelian Blok akan memberikan sejumlah 452 unit pesawat di samping 490 unit yang diperoleh melalui kontrak batch 1 hingga batch 11, sejumlah pengadaan yang lumayan besar sebelum tingkat produksi penuh.

JakartaGreater

Peminat manga, anime, gadget, sains & teknologi, sosial-politik dan militer
Link medsos ada dibawah
– Facebook
– Google Plus
– Twitter

Artikel Terkait :

  13 Responses to “Ratusan Kekurangan F-35 Bisa Sebabkan Mundurnya Pengujian Hingga 2019”

  1. Gw kate juga ape
    SU35 top

    • Bukan cuma program F-35 yang dihadapkan pada permasalahan, program Boeing KC-46 juga menghadapi kendala koq. Klo menurut saya, AS merasa sebagai negara super power dan memiliki teknologi paling canggih, wajar mereka menjadi lupa diri dan pongah, sehingga gegabah dan terburu-buru.

      Terbukti bahwa kesombongan akan mengarah pada kehancuran, nah semoga Indonesia bisa belajar dari semuanya, agar tidak menjadi sombong karena kekuatan, harus tetap santun dan menghormati negara lain, meskipun negara musuh.

      Bukan berarti kita takut pada mereka.

    • F35 pesawat gagal maning…

    • F-35 Terbaik

  2. Wehh gue bilang juga apa, SU 35 gitu lohh..

  3. Lhah inyong ngomong apa.
    Su-35 pancen apik pisan.

  4. Gripen aj sungkem am su 27 di latgab antar negara asia pasifik. Ap lg am su 35. Omong yg lain aj deh

  5. Pesawat ini masih terus di kembangkan, meskipun banyak di rundung masalah, namun jika berhasil di sempurnakan. Pesawat ini bisa menjadi pesawat yg paling mematikan seperti f22 raptor.

  6. Untuk gripen jikalau TOT 100% harap dilihat
    100% dari SAAB hanya sekian persen dari pesawat utuh.
    banyak bagian yg masih berupa rakitan dari negara lain

    Control stick/ Throttle Lever dari Inggris
    Escape System dari Inggris
    Environmental Control System dari Inggris
    Hydraulic System dari Inggris
    Auxiliary Power System dari Inggris dan Amerika
    Telescopic In Flight Probe dari Inggris
    Landing Gear dari Inggris
    weel Brake and Brake control System dari Inggris

    Gun dari Jerman

    Audio Management System dari Afrika selatan

    Air data computer dari USA
    Engine atau mesin dari USA

    Untuk program gripen NG kerjasama SWEDIA DAN BRAZIL
    Saab dan Embraer bersama dengan partner industri serta
    instansi Brazil: AEL Sistemas, Atech, Akaer dan Angkatan Udara Brazil
    mengembangkan sendiri bagian gripen NG sesuai kemampuan
    perusahaan pendukung Brazil sehingga mengurangi ketergantungan
    dg negara lain. kecuali pada airframe, mesin, dan
    weapon and mission equipment.
    kualitas embraer dan perusahaan pendukung di brazil jelas kualitasnya
    kurang dari kualitas produk Inggris dan amerika. Tapi brazil
    mengurangi ketergantungannya walau part pesawatnya di bawah
    jas39 gripen di beberapa bagian.

    Di Indonesia masalahnya apakah Industri pendukungnya siap???
    jelas tidak siap dalam hal teknologinya!!! jadi jika mengambil gripen
    tot 100% hanya didapat dari bagian yg di produksi SAAB. dan itu jauh dari
    100 persen Gripen secara utuh.

    • Darpada gripen, lebih baik beli F16V, pernah baca artikel, pihak martin juga siap memberikan T.O.T yg menggiurkan

      • yup, itu yg saya maksud, jika mau beli dg tot
        langsung pada negara produsen yg 100% bisa produksi semua partnya. bung jfs memang memahami saya.. ha ha ha

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)