Dec 282016
 

Pada ujicoba pertama dari pelaksanaan kebijakan blacklist baru dari pemerintah untuk perusahaan senjata yang terlibat dalam praktik yang tidak etis, perusahaan besar persenjataan Rheinmetall yang terkena sanksi tersebut telah menulis permohonan ke Kementerian Pertahanan, meminta untuk dicabut dari blacklist karena ingin berpartisipasi dalam “make in India” prakarsa PM Narendra Modi.

Kasus Rheinmetall secara khusus dinilai rumit karena perusahaan telah dituntut karena menyewa seorang perantara dalam upaya mencabut blaklist yang diberikan Kementerian Pertahanan pada tahun 2012.

Dalam sidang pengadilan yang sedang berlangsung, perusahaan telah dijelaskan oleh penasihat pemerintah apa yang dilakukan akan menjadi kebiasaan menawarkan gratifikasi ilegal untuk mempengaruhi Pemerintah dalam keputusan bisnis India dalam hal yang berkaitan dengan pertahanan yang merupakan keprihatinan keamanan nasional yang serius.

Permintaan dari perusahaan Jerman tersebut kemungkinan akan dipertimbangkan oleh kementerian di bawah kebijakan baru yang telah mengurangi lamanya waktu blacklist dari 10 tahun menjadi 5 tahun, dengan sementara tetap mempertahankan fleksibilitas untuk mengambil tindakan apapun yang diputuskan oleh menteri pertahanan.

Bisnis dengan Rheinmetall pertama kali dihentikan setelah didakwa oleh CBI dalam kasus 2009 karena diduga membayar suap untuk sejumlah pesanan Revolver Pertahanan Udara 35 mm dari dari Ordnance Factory Board (OFB).

Namun, hal tersebut diperumit setelah perusahaan didakwa sekali lagi pada tahun 2012 telah melakukan konspirasi kriminal melalui konsultan Abhishek Verma untuk pencabutan blacklist di Kementerian Pertahanan. CBI meminta perusahaan untuk membayar agen sebesar US $ 5,3 juta untuk menyingkirkan statusnya blacklistnya. Verma kebetulan mendapat jaminan bebas bersyarat pada bulan Oktober 2016 setelah menghabiskan 4 tahun penjara atas beberapa tuduhan, termasuk konspirasi dalam kasus Rheinmetall.

Menanggapi kuesioner rinci oleh ET, Rheinmetall mengatakan bahwa perusahaan mencari peluang ke depan agar statusnya dikembalikan sebagai pemasok ke India.

“Rheinmetall tetap berkomitmen untuk berdialog dengan pemerintah India dan berharap agar keputusan pemerintah India dapat mengembalikan peran kami sebagai mitra terpercaya dan pemasok ke India”, kata juru bicara Rheinmetall, Oliver Hoffmann.

Sementara Kementerian Pertahanan dengan kebijakan blacklist terbaru pada bulan November 2016 setelah merevisi selama lebih dari setahun, ada sedikit titik terang tentang bagaimana hal itu akan memperlakukan kasus rumit Rheinmetall yang sudah ada di daftar terlarang.

Kebijakan baru memberikan kekuasaan kepada Menteri Pertahanan untuk memutuskan hukuman dan tindakan terhadap perusahaan yang dituduh melakukan praktek korupsi.

Peminat manga, anime, gadget, sains & teknologi, sosial-politik dan militer
Link medsos ada dibawah
– Facebook
– Google Plus
– Twitter

  10 Responses to “Rheinmetall Ajukan Permohonan Pencabutan Blacklist Dari Pemerintah India”

  1. Siii ARJUUN MOO Dipermak Kaayaaknyaa??

  2. ” make in Indonesia “, ………. !!!

  3. widih ngemis ngemis ke tuan takur…..

    kenapa gak lobi sini aja, di sini lebih gampang di lobi betul gak Tedd….

  4. Rehimental hanya cari pasar karna banyaknya belanja militer india…karna india kalo beli gk nanggung nanggung…lah kita

  5. kalau indonesia kebalikannya yaitu Indonesia Ajukan Permohonan Pencabutan Embargo krn Pelanggaran HAM Dari Rheinmetall

  6. Bagus juga sistem pengadaan alutsista india,indonesia wajib belajar jg ke india.

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)