Aug 072016
 

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte memperoleh reputasi sebagai anggota parlemen yang keras saat ia menjabat Walikota Davao City selama dua periode. Bahkan majalah Time edisi Asia dalam sampul tertanggal 23 Mei 2016 menyebut Duterte sebagai “The Punisher”. Duterte resmi menjabat sebagai Presiden Filipina pada 30 Juni 2016 lalu.

Selama 2 periode menjabat sebagai Walikota Davao City, ia terkenal dengan menerapkan “Davao Death Squadrons”, warga yang menjadi target buruan adalah para penjahat dan pengedar narkoba. Antara 1998 hingga 2005, setidaknya 300 orang dilaporkan tewas oleh “skuadron kematian” ini.

Sejak awal Duterte dengan jelas akan melancarkan perang habis-habisan melawan pengedar dan pemakai narkoba apabila ia menjadi Presiden. Dia peringatkan semua orang yang terlibat dengan zat ilegal bahwa polisi tidak akan ragu menembak mereka. Dalam salah satu pidatonya, ia mengatakan “Ya Tuhan, saya benci narkoba. Dan saya harus membunuh orang karena saya benci narkoba”.

Presiden Rodrigo Duterte menegaskan ia tidak akan mentolerir pengedar dan pengguna narkoba.

Selama konfrensi pers pada tanggal 31 Mei 2016, Duterte menyerukan kepada warga untuk menegakkan hukum dengan tangan mereka sendiri dan membunuh pengedar narkoba itu sendiri.

“Jika salah satu dari mereka tinggal didekat anda, silahkan hubungi kami atau polisi, dan jika anda memiliki senjata – silahkan bunuh mereka. Bunuhlah pengedar narkoba dan saya akan memberikan medali”, kata Rodrigo Duterte.

Duterte telah bersumpah akan melalukan “perang berdarah” terhadap obat-obatan terlarang dan karena memenangkan pemili pada bulan Mei lalu, lebih dari 100 tersangka telah tewas, konon karena melawan dan menyerang petugas yang bermaksud menangkap.

Rodrigo Duterte dalam sebuah konfrensi pers mengatakan "Bunuh seorang pengedar narkoba dan kamu akan mendapatkan sebuah medali (penghargaan)", Davao City (02/06/2016).

Rodrigo Duterte dalam sebuah konfrensi pers mengatakan “Bunuh seorang pengedar narkoba dan kamu akan mendapatkan sebuah medali (penghargaan)”, Davao City (02/06/2016).

“Perintah saya adalah tembak di tempat untuk membunuh kalian. Saya tak peduli soal hak asasi manusia dan kalian sebaiknya percaya itu,” lanjut Duterte.

“Saya benar-benar akan membunuh mereka. Lihatlah apa yang kalian lakukan terhadap Filipina dan kalian ingin saya memaafkan kalian?” kata Duterte setelah membesuk seorang polisi di Davao yang ditembak tersangka pengedar narkoba.

Ternyata ancaman sengit ini telah berhasil menunjukkan keampuhannya. Baru memasuki minggu pertama bertugas, ribuan pengedar dan pemakai narkoba telah menyerah. Mereka tidak harus ditangkap. Takut akan hidup mereka, akhirnya mereka sendiri datang ke pihak berwenang dan menyerahkan diri secara sukarela.

Baru sebulan berkuasa, sekitar 400 tersangka pengedar dan pemakai narkoba tewas, sebagian besar karena baku tembak dengan polisi. Sementara lebih dari 4.000 tersangka ditahan.

Situasi ini ternyata membuat “ngeri” para pengedar dan pengguna narkoba sehingga sekitar 500.000 orang memilih menyerahkan diri kepada polisi. Di antara mereka yang menyerah karena takut ditembak mati adalah tiga orang wali kota dan seorang mantan wali kota yang berasal dari provinsi Maguindanao, wilayah selatan Filipina.

Dan Duterte mengatakan, dia tengah mempertimbangkan pendirian pusat rehabilitasi di kamp-kamp militer negeri itu untuk menampung para pengguna narkoba yang menyerah.

Sumber: Elite Readers

  32 Responses to “Ribuan Bandar Narkoba Filipina Takut Mati dan Serahkan Diri”

  1. takut ?? aku rasa iya

    • bukan masalah ham jika di Indonesia, berapa banyak yg langsung ditembak mati, kebanyakan malah dipelihara dahulu demi uang berlebih.benahi dahulu penegak hukumnya, selama itu belum terjadi, maka hanya merupakan sebuah mimpi untuk membasmi.

  2. tegas sekali

  3. TOBAT TOBAT

  4. gmna ya klo di sini diterapkan hukuman yang sama, tembak ditempat untuk para pengedar dan pemakai yang “bandel”…

    • presiden josss pilipin tidak seperti indonesia, dulu besar tak punya ketegasan sekarang kurus juga sama takut sama bandar besar. kalo pemimpin kayak tai bawahannyapun kayak tai seperti sudah tidak berharap sama pimpinan dan pejabat negri ini perlu ada revolosi darah.

  5. Betul ini, menghukum org yang melanggar ham seluruh masyarakat sudah pasti tidak melanggar ham

  6. wah klo praesiden kaya gini bisa bisa di sembah…klo di Indonesia…xixixi…

  7. kl di indonesia uda ditangkep diajak damai brp duit pak rodrigo, presidenya dr dulu soeharto sampe yg hr ini banyak yg setengah2 kl soal hukuman mati pak rodrigo.

  8. Kalau dilakukan di Indonesia pasti Komnas Ham akan kampanye ke negara barat dan mereka dapat duit banyak dari negara sponsor. Di Philipina tak ada yang bersuara ,bahkan dunia seperti tidur saja. Mana yang hebat Indonesia atau Philipina ?.

  9. Indonesia kapan pakde…kok iso tetangga wae membuat gebrakan…bener tetangga memang pancen oye

  10. Hahaha…orang ketangkep basah polda bayar 1M ya lolos hahahaha….

  11. Lahhh beberapa waktu lalu kan ada hukuman mati..cuma ya begitu dah ada yg kontra,LSM KOMNAS HAM duri dalam selimut

  12. D sana ap g ada komnas at LSM ya ???
    Koq pd adem ayem aja di sana…

    Di sini menghukum mati terpidana yg sdh melalui pengadilan berkali2…sdh inkrah…koq y bengak-bengok…

    Nooohh LSM am komnas kl mw teriak2 di philipina bny tempat…bny panggung…
    Jng usik Pemberantasan dlm negeri sendiri..

    • yang menyoroti HAM pasti ada, tapi Duterte berani TANGGUNGJAWAB, yang CUAP-CUAP, apabila ditemukan bukti pelanggaran juga BAKAL di DOR, Polisi maupun Militer, dari Prajurit sampai Jenderal, Politikus, Wartawan, LSM semua digulung bila bersalah. itu janji Duterte, bahkan waktu masih jadi Walikota sudah bentuk “pasukan kematian” apalagi sekarang jadi Presiden…

  13. Pasti Bandar narkoba di filipina pindah ke indonesia, krna lebih aman dan bisa diajak kerjasama mengenai hukum….wkwkwkwkwk

  14. Hebat Rodrigo.

    Disini baru menghukum mati beberapa orang saja itu org2 yg kyknya pernah merasakan manisnya uang narkoba mencoba menghambat.

    Duterte tdk takut dgn tuduhan ham yg memang sebetulnya ham itu kan ada batasannya dan harus sesuai dgn hukum.

    AYO INDONESIAKU! EKSEKUSILAH TERUS PARA GEMBONG NARKOBA!

  15. suka ama petikan kalimat di atas…setelah apa yg mereka buat ke negara saya,mereka mau saya memaafkan mereka?dn saya tidak peduli dengan HAM, kalian percayalah itu…..
    Lha kl di sini ketut aja para munyuk lsm udh ngoceh nggak karu”an apalagi sampek ada perintah tembak di tempat,nggak bs bayangin deh gmn para munyuk lsm tu ngoceh soal HAM…..

    • wkkwkkwkkwkk… betul bro, soalnya para eksekutif, pns, tni dan polri serta anggota DPR yang banyak pakai narkoba, sudah tentu mereka bakal keberatan…

      (banyak bukan berarti semua lho)…

  16. setuju bung

  17. Salute buat philipine

  18. Salute buat philipine….

  19. sulit di terapkan di indonesia, terlalu banyak aktivis HAM tai l*so…!!!

  20. semua ada plus minusnya, andai suharto tidak terlalu lama berkuasa mungkin imejnya akan bagus…. duterte juga begitu… klo terlalu lama bisa bahaya…

    boleh diadopsi sistem duterte oleh pemangku kebijakan negara kita, bila sudah berjalan dan terbukti bagus ya cukup sistemnya yang diteruskan, tapi pemimpinnya tidak boleh berkuasa terus… 😉

  21. Pengguna nrkoba di rehab klo pengedar mang cocok di hukum mati diproses di pengadilan.kecuali klo mereka lawan lngsung tembak ditmpt baru bner.

 Leave a Reply