Rudal Pesawat Tempur TNI AU 2014

F-16C Fighting Falcon, 4th Fighter Squadron "Fighting Fuujins," Hill Air Force Base, Utah, menembakkan AIM-120 Advanced Medium Range Air-to-Air missile
F-16C Fighting Falcon, 4th Fighter Squadron  Hill Air Force Base, Utah, menembakkan AIM-120 Advanced Medium Range Air-to-Air missile

Kejutan penguatan alutsista TNI terus berlangsung dan salah satu yang cukup menonjol adalah pengadaan rudal udara ke udara jarak pendek, menengah hingga bom pintar, untuk pesawat tempur TNI AU.

Rudal yang dimaksud adalah AIM-9X untuk jarak pendek, serta AIM-120C untuk jarak menengah. Dari data yang ARC dapatkan, pengadaan AIM-9X sebanyak 30 unit aktif dan 20 unit captive senilai Rp 150 miliar. Untuk rudal jarak menengah, AIM-120C ada 20 unit rudal aktif dan 20 unit rudal latihan, dengan nilai pembelian Rp 460 miliar.

Rudal AIM 120 AMRAAM akan dipindahkan ke pesawat tempur di Aviano Air Base, Italia
Rudal AIM 120 AMRAAM akan dipindahkan ke pesawat tempur di Aviano Air Base, Italia

Kementerian Pertahanan juga hendak membeli 100 unit kit JDAM senilai Rp 220 miliar. Tidak kalah penting rencana pembelian Pod Lantirn, Sniper, Flare dan lain sebagainya.

Lantirn Pods memungkinkan pilot menerbangkan F-16 siang dan malam dalam kondisi cuaca yang buruk, menyediakan  Terrain-Following Radar (TFR), Forward-Looking Infra-Red (FLIR),  target laser illumination, serta targeting information for the aircraft's on-board fire control system
Lantirn Pods memungkinkan pilot menerbangkan F-16 siang dan malam dalam kondisi cuaca yang buruk, menyediakan Terrain-Following Radar (TFR), Forward-Looking Infra-Red (FLIR), target laser illumination, serta targeting information for the aircraft’s on-board fire control system

Bisa ditebak, semua pengadaan ini terkait pengadaan F-16 hibah dari Amerika Serikat:

Alutsista-2014
arc.web.id

Selain untuk TNI-AU, pengadaan yang cetar membahana terjadi untuk TNI-AD, dengan Helikopter Apache, Blackhawk hingga Chinook yang semuanya telah dianggarkan.

TNI AD akan membeli 8 helikopter Apache, 17 Blackhawk serta 3 unit Chinook. Tidak ketinggalan tambahan 80 Tank Marder untuk memperkuat satuan lapis baja TNI-AD.

arc.web.id
arc.web.id

Sementara untuk TNI-AL, rencana pengadaan terkait kelanjutan yang sebelumnya, seperti Kapal PKR, rudal Mica, serta lainnya. Kado akhir tahun yang manis. (ARC.WEB.ID).

Diego

Alutsista militer indonesia, teknologi, politik

48 thoughts on “Rudal Pesawat Tempur TNI AU 2014

  • December 26, 2013 at 12:01 am
    Permalink

    mas apa g ada kabar kapan penandatangan pembuatan PKR yg ke 3.?

    Reply
  • December 26, 2013 at 12:25 am
    Permalink

    Ada yang tau AIM-120D yang terpasang pada F16 atau F15?
    RSAF juga pake AIM-120C. Kita mau ada 34 pesawat F16 tapi cuma pesan 20 unit AIM-120C ini. Liat gambar di f-16.net F16 mempunyai 6 harpoints yg bisa dipasangi AMRAAM. Namun jika hanya dipasangi 2 tiap pesawat hanya ada 10 pesawat yang punya gigi sementara 24 unit lainnya ompong 😈 Sementara RSAF punya 20 unit pesawat tempur F15SG (Mesin dan radar hi end) didukung 100 unit rudal AIM-120C7

    “April 4/13. The US DSCA announces Singapore’s request to buy 100 AIM-120C7 Advanced Medium Range Air-to-Air Missiles (AMRAAM)” link

    Reply
    • December 26, 2013 at 1:07 pm
      Permalink

      F-16-nya singapore nggak diitung bro, ada 60-an itu. Sebenarnya nggak masalah beli segitu, asal rutin tiap 1-2tahun ditambah, jadi berkelanjutan. Kebanyakan klo nggak dipake juga sayang, tapi ane yakin pengadaannya akan berkelanjutan..

      Reply
      • December 26, 2013 at 3:56 pm
        Permalink

        Kayaknya 100 unit rudal AMRAAM Singapur memang untuk mempersenjatai F15 plus F16nya ya?.

        Memang jika dipikir lagi ini suatu langkah maju bagi TNI AU, setelah lama terpuruk langkah mengejar ketinggalan tampaknya tidak bisa sekaligus. Saat ini 34 F16 blok 32 dan 20 unit AIM-120C alhamdulillah, tidak ada rotan Ram Punjabi

        Reply
      • December 26, 2013 at 4:55 pm
        Permalink

        RSAF punya 74 F16 C/D Block 52/52+.
        Pak Pur yang baru pulang dari AS mengatakan akan ada batch 2 hibah/beli (?) F16, jumlahnya belum disebutkan karena baru akan dibicarakan dulu. Mudah-mudahan opsi Gripen sebagai pengganti F5 tidak akan tergeser oleh hujan hibah F16 pada batch 2 nanti (jika jadi diambil)

        Reply
        • December 26, 2013 at 6:28 pm
          Permalink

          sy sepakat bung newyoudont moga hibah batch 2 ini tidak menghilangkan kesempatan mengakuisisi grippen. kalau memang tawaran TOT grippen sprti pembahasan sblmx maka akan sangat mengutungkan bagi industri dirgantara indonesia. dengan mengakuisi 44 grippen saya juga merasa akan menjadi lompatan yg cukup signifikan bagi penguatan armada pespur Indonesia.

          semoga saja tawaran dari amerika ini bukan bermaksud untuk menghalangi Indonesia memiliki pespur baru, seperti isu hibah batch 1 lalu

        • December 26, 2013 at 7:13 pm
          Permalink

          Amin. Mudah2an saja begitu gan. Hanya saja Gripen bukan satu2nya kekhawatiran saya yg akan terhambat dengan rencana batch2 F16 nanti, saya juga khawatir squadron Sukhoi tidak akan ditambah karena tekanan AS demi menyenangkan Australia. Bukan rahasia lagi Australia sangat khawatir dengan kedatangan Sukhoi di angkatan udara negara2 Asia Tenggara. Artikel dibawah ini sudah lama, tapi tetap relevan selama modernisasi TNI AU belum jelas bentuknya.

          quote: Jarak yang jauh dan tidak adanya kehadiran pesawat tempur jarak jauh di angkatan udara Asia Tenggara selama beberapa dekade terakhir menawarkan rasa aman bagi Australia. Tapi saat ini rasa aman itu terkikis oleh hadirnya pesawat berkemampuan manuver super seperti Su27 dan Su30. Jet tempur ini telah masuk dalam jumlah besar di angkatan udara China, Indonesia, Malaysia dan Vietnam.

          Kedatangan pesawat tempur Sukhoi telah menyeimbangkan kekuatan di Asia Pasifik . Pilot Australia, yang selama ini menganggap diri mereka Top Guns yg terbang dgn pesawat tempur F18 Hornet dan pembom F111 Aardvark sekarang yang harus berhadapan dengan kehadiran Flankers yang unggul di hampir setiap aspek . Menurut Air Power Australia , ” Akuisisi pesawat tempur Sukhoi Su27SK dan Su30MK oleh negara-negara regional menyajikan lingkungan di mana F/A-18A/B/F kalah dalam semua parameter kinerja utama.”
          Majalah Defence Today Australia mengatakan , ” Dari perspektif analisis strategis akuisisi senjata canggih oleh negara-negara stabil seperti Indonesia atau pemain regional lainnya harus menjadi perhatian penuh” – “Kedatangan pesawat tempur jarak jauh seperti Sukhoi dan persenjataan rudalnya yang modern yang bertepatan dengan perkembangan ekonomi yang penting dan strategis di Australia utara membawa konteks strategis baru untuk dipertimbangkan.”

          Selengkapnya: klik disini

        • December 26, 2013 at 9:16 pm
          Permalink

          bener bnget mas..sy dngr isunya hibah batch 1 F16 untuk menggagalkan pembelian 1 sku SU30 mk2.

          sebenarnya pembelian Grippen sudah cukup mengguncang kawasan dan membuat sekutu amerika cenat-cenut, apalagi jika bener klaim Grippen bisa mengakomodir rudal Rusia jelas menjadi ketakutan sendiri bagi negara yg berpikir paranoid (tolong dikoreksi klu sy salah). selain itu jika pembelian Grippen terpenuhi bisa saja pengembangan mandiri IFX akan menjadi lebih mudah..

          untuk sukhoi jelas akan meningkatkan efek gentar yg luar biasa bagi kawasan apalagi kalau bener indonesia tengah bernegosisasi untuk membeli 1/2 sku SU 35.

        • April 14, 2014 at 12:57 pm
          Permalink

          kok grippen naik lagi nih … bukannya ef2000 dan rafale yah pilihan khalayak ramai? atau dua jenis pesawat delta yg akan mengisi angkasa nusantara itu sudah determined yah? satu EF2000 dan satunya lagi Grippen?

          Mohon pencerahannya dong para warjager.

  • December 26, 2013 at 12:35 am
    Permalink

    AIM-9P masih panjang umur ya ?…..
    Untuk jaga-jaga, mending TNI-AU ditambah beli rudal AAM MICA dari Eropa……

    Reply
  • December 26, 2013 at 1:06 am
    Permalink

    Menurut list di atas, AIM-9P nya mau direfurbish lho. Mgkn propelannya diisi ulang, hehe..

    Reply
  • December 26, 2013 at 6:36 am
    Permalink

    Kit JDAM adalah bagian dari sebuah bom yang mejadikannya pintar. Pilihan yang tepat, bom nya nggak dibeli karena Pindad sudah bisa membuat. Kit JDAM adalah bagian paling belakang dari sebuah bom yang terdiri dari GPS, controller, dan empat sirip. Fungsinya untuk mengarahkan bom menuju koordinat yg ditentukan dgn cara menggerakkan ke empat bilah siripnya. JDAM sudah battle proven yang hanya meleset 1-2 meter.

    Selain dipasangi kit JDAM, Pindad sebetulnya bisa mengembangkan kit bom untuk terbang gliding yakni dengan memasangi sayap. Jadi bom bisa dilepas dari jarak cukup jauh dari sasaran yg kemudian akan melayang sendiri (glider). Setelah dekat dgn sasaran, kit glider dilepas dan sisanya akan diselesaikan oleh kit JDAM. CN-295 bisa menjadi bomber, terbang tinggi dan dari kejauhan bisa melepas bom yang dipasangi kit glider dan JDAM.

    Bom JDAM Pindad di F-16 cocok untuk menghajar sarang radar, SAM, landasan udara, bunker, dst, dalam serangan terintegrasi dengan Apache. Demikian juga Apache Guardian akan kirim data koordinat target2 yang belum bisa dieksekusi ke F-16. Kapal laut juga bisa disasar secara tepat.

    HIMARS nya untuk target titik kok belum dibeli ya? Kalau cuman ASTROS II dan CAESAR (target wilayah) masih sama dong dengan tetangga sebelah. Sayang kalau untuk menghancurkan target titik hanya mengandalkan fighter, Apache, dan Blackhawk+pasukan khusus.

    Reply
    • December 26, 2013 at 1:42 pm
      Permalink

      HMARS mahal om, nggak cukup buat kantong cekak. Sebenarnya prospeknya bagus kok om. Sekarang sedang dikembangkan yg GPS guide kode SS-AV dan peluncurnyapun nanti kompatibel dengan missile yang lagi dikembangkan AVMT-300. Jadi menurut ane pembelian Astross sudah tepat karena performanya sebentar lagi bakal menyamai HIMARS.. CMIIW

      Reply
    • April 14, 2014 at 1:03 pm
      Permalink

      Guided yg tempelan seperti ini apakah efektif yah? mengingat rudal pertahanan udara yg sekarang ada seperti pantsyr, pasti akan mudah merontokkan bom2 jenis ini, kecuali kalau kecepatannya di atas 5 mach.

      Bagaimana ulasan para warjager mengenai hal ini?

      Reply
  • December 26, 2013 at 10:49 am
    Permalink

    “Sementara untuk TNI-AL, rencana pengadaan terkait kelanjutan yang sebelumnya, seperti Kapal PKR, rudal Mica, serta lainnya”

    “SERTA LAINNYA” itu loh bikin penasaraaaan???? kira2 ada seKILO seMur ga ya disitu…

    Reply
  • December 26, 2013 at 3:05 pm
    Permalink

    Rudal R-77 (RVV-AE) punya kita dan sama calon rudal F-16 c/d rudal AIM-120C, lebih superior mana ya ????
    Entar waktu latgab bisa di test bareng dong …….

    Reply
    • December 26, 2013 at 4:24 pm
      Permalink

      Ada kelebihan dan kekurangan masing2 tergantung type, persaingan teknologi persenjataan tidak ada akhirnya. Sempertinya sementara ini R77 masih sedikit unggul dibandingkan AIM-120C.

      “Kelebihan utama The R-77 dari AIM-120 AMRAAM adalah dalam jangkauan dan kemampuan manuver. Kelebihan dalam jangkauan ini adalah karena R-77 mempunyai dimensi lebih besar: diameter 200 mm vs 178 mm, berat 175 kg vs 150 kg dan membawa lebih banyak propelan.

      Versi pengembangan terbaru dari AIM-120 AMRAAM memiliki jangkauan yang lebih jauh daripada R-77. AIM-120D memiliki jangkauan hingga 120 km. Namun Dr.Carlo Kopp dari Air Power Australia menyatakan bahwa perkembangan terbaru dari R-77 yakni R-77M Ramjet, akan memiliki jangkauan 160 km” wiki

      dan sudah dibahas juga di Jakartagreater.com mengenai R-77 TNI AU dibandingkan dengan AIM-120C, ternyata sekarang TNI AU menggunakan dua-duanya, R-77 di Su-30/27 dan AIM-120C di F16

      Reply
      • December 26, 2013 at 8:00 pm
        Permalink

        Betul bung nowyoudont, dgn adanya rudal tsb di inventory TNI AU, maka Sbg user mk TNI AU akan menguji coba 2 rudal andalan kita tsb. Akan tau kehebatan dan kelemahannya. Apakah sesuai dgn promosi iklan dari kehebatan rudal tsb……
        Dgn memadukan tehnologi barat dan timur mk itulah adl salah satu keuntungan untuk pengembangan taktik dan strategi untuk TNI ke depannya……..

        Reply
    • December 26, 2013 at 9:14 pm
      Permalink

      Di dalam perang sesungguhnya tidak mengenal istilah “RESET’, “PAUSE”, “PLAY AGAIN”, “NEW GAME”

      Jadi 80% pertimbangan alutsista di dunia manapun adalah “BATTLE PROVEN”

      untuk hal ini USA lah yang jadi pemenang mutlak, meski secara TEORI mereka sedikit kurang

      Reply
      • December 26, 2013 at 11:03 pm
        Permalink

        untuk hal ini USA lah yang
        jadi pemenang mutlak,
        meski secara TEORI
        mereka sedikit kurang
        ————–
        USA bukan kalah/kurang secara teori tapi kalah di atas kertas. Saya bandingkan duel F16 dgn Mig29, spec Mig29 + radar + rudalnya lebih hebat dibanding F16. Tapi ini utk pesawat ya, utk yg lain belum tentu demikian.

        Reply
        • December 27, 2013 at 1:24 am
          Permalink

          Olala ternyata “Teori” tidak sama dengan “diatas kertas” Ya ? trims atas koreksinya

        • December 27, 2013 at 2:13 am
          Permalink

          hehehe
          Nggarai ngakak ae sampen cak

        • December 27, 2013 at 6:28 am
          Permalink

          Sori terlalu cepat komen: seharusnya ada kata “lebih tepat”. Ni cuma mau menambahkan contoh

        • April 14, 2014 at 10:19 am
          Permalink

          lihat ada berapa pangkalan militer USA yg mengepung negara kita, seharus nya masyarakat indonesia waspada

      • December 27, 2013 at 10:44 pm
        Permalink

        Tapi pameo “battle proven” itu sering disalahgunakan untuk menolak alutsista produksi dan milih impor, padahal sebenarnya bukan cap battle proven yang dituju, tapi komisi alias kickback gede yg bs didapat kl beli dari luar.

        Reply
        • December 27, 2013 at 10:46 pm
          Permalink

          *menolak alutsista produksi dalam negeri

        • April 14, 2014 at 10:22 am
          Permalink

          menolak produk dalam negri dan ambi produk emak elo

      • April 14, 2014 at 10:17 am
        Permalink

        apapun alasan nya USA itu punya tujuan menghancur kan NKRI

        Reply
  • December 26, 2013 at 4:18 pm
    Permalink

    Harganya pada tidak manusiawi,…….Teeeerlaaluu…!!! 😡

    Reply
    • December 26, 2013 at 9:03 pm
      Permalink

      Beli bajakan aja bang, jauh lebih murah, bahkan ada yang gratis

      Reply
    • December 26, 2013 at 10:00 pm
      Permalink

      Di sini klo nggak markup nggak rame, apalagi kickback-nya, MAKNYOSS. Itu DPR klo nggak kecipratan apa ya mau ACC. Apalagi mau pemilu, lagi gencar nyari obyekan gan. Klo ane sih maklum, yang penting jangan kebanyakan aja, sumprit ane do’ain mencret setaun..

      Reply
      • December 27, 2013 at 9:59 am
        Permalink

        1 APACHE = 738 MILYAR
        1 MARDER = 4 MILYAR
        1 APACHE = 184 MARDER
        8 APACHE = 1.472 MARDER
        BERAPA BANYAK HELLFIRENYA BUAT NEMBAK MARDER?

        Reply
        • April 14, 2014 at 10:13 am
          Permalink

          apa sih kesaktian APACHE ?, ya mbok di kuata kan yg untuk defensif saja…..

  • December 26, 2013 at 6:46 pm
    Permalink

    Loh…ini pengadaan rudal mica apa cuma dipakai kapal laut. Bagaimana kalau plus pespurnya?..misal dasault rafale?… siapa tahu program ifx kita banting setir kemitraan bersamanya. ?

    Reply
    • December 26, 2013 at 10:06 pm
      Permalink

      Denger Rafale pada merinding duluan gan, merinding harganya maksudnya. Pesawat moncer yg bisa ngalahin F-22 waktu dogfight tapi kalah tender dimana-mana. Lagian udah mahal masih pelit juga masalah ToT, divisi salesnya keknya perlu belajar ama sales Gripen…

      Reply
      • December 27, 2013 at 10:58 am
        Permalink

        Harga 120 juta euro memang…ngeri-ngeri sedap bung wie. Untuk nutup penurunan harganya minimal pesanan 10 sqd mirip india. Memang jadi pertanyaan sebanyak itu cuma jadi 4++ atau 4,5++ ya?

        Reply
      • December 27, 2013 at 2:23 pm
        Permalink

        4+, 4.5, 4++ cuman istilah doang gan. Cuman menandai bahwa pespur tersebut sebenarnya Gen 4 tapi punya fitur Gen 5 antara lain punya radar AESA, RCS kecil atau RAM yg bagus tapi belum stealth.

        Ane rasa kedepan Rafale masih mahal karena masih kecilnya angka produksi dan yg akan diproduksi. Prinsipnya klo development cost belum tertutupi maka harga akuisisi akan tetep mahal. Untuk Indonesia kecil kemungkinan akan ngambil nih barang. Dengan jatah anggaran pertahanan yg mepet dan dibagi-bagi seluruh kebutuhan masing2 angkatan, peluang Rafale mampir di mari hampir tertutup.. CMIIW

        Reply
  • December 27, 2013 at 9:30 am
    Permalink

    Sebaik hati hati kita sudah beli alutsista besar besaran dari barat dg biaya besar pas mau di pake kena EMBARGO. dg alasan pelanggaran HAM papua ..langsung deh klepek klepek ..

    Reply
  • December 27, 2013 at 9:43 am
    Permalink

    meski rawan embargo tp indonesia masih membelinya,
    dari 24 f-16 cuma beberapa saja yg akan bertaring, kalo di liat dari list pemmbelian rudal AIM-9X untuk jarak pendek, serta AIM-120C
    untuk jarak menengah. Dari data yang ARC dapatkan, pengadaan AIM-9X
    sebanyak 30 unit aktif dan 20 unit captive senilai Rp 150 miliar. Untuk
    rudal jarak menengah, AIM-120C ada 20 unit rudal aktif dan 20 unit rudal
    latihan, dengan nilai pembelian Rp 460 miliar.
    Apa kekurangan dr rudal” itu untuk di pasang di f-16 akan menambahkan dari Eropa spt kata bung melektech, kita belom tau,,

    tapi yg pasti untuk bom pintar indonesia sudah bisa membuatnya spt yg di pasang di sukhoi buatan pindad,spt kata bung WH,,
    untuk pOD sendiri bagusnya ambil eropa juga spt yg sudah terpasang di Hawk-200,,

    mohon maaf kalao ada yg kurang pas

    Reply
    • December 27, 2013 at 1:47 pm
      Permalink

      Bom pintar belum lah mas, kita buatnya yg bom bodo, belum pinter. Makanya dibeliin JDAM kit biar bom-nya jadi pinter…

      Reply
      • December 27, 2013 at 6:56 pm
        Permalink

        mathur nuwun mas abimmanyu ,
        trimakasih banyak atas koreksinya..

        Reply
      • January 2, 2014 at 6:28 pm
        Permalink

        Sayang yah, yang bisa dibuat pinter dari bodo cuman bom doank, coba semua alutsista dan usernya bisa ditambahin kit yang bikin pinter….

        Reply
  • December 27, 2013 at 5:01 pm
    Permalink

    Semoga kejadian di bawah tidak terulang pada 3 jenis heli Amrik yang akan didatangkan;

    21 September 2011, Jakarta (VIVAnews): Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Tubagus Hasanuddin mengungkapkan enam heli MI-17 yang baru didatangkan dari Rusia ternyata peralatannya tidak lengkap (Global Positioning System/GPS, peredam kebisingan (damper), alat komunikasi, transponder).

    Reply
    • December 27, 2013 at 9:43 pm
      Permalink

      Klo dari Amrik sih nggak bang. Mereka sangat menjaga citra barang mereka. Klo beli unsur2 keselamatan termasuk pelatihan sangat diperhatikan, tujuannya meminimalisir kecelakaan yg bisa berakibat pandangan negatif terhadap barang mereka. Mereka klo masalah keselamatan bilang A ya harus A, klo konsumen menolak ya nggak bakalan dikasih tuh barang. Klo Rusia nggak, makanya sering dimanfaatkan oknum buat down spec barang..

      Reply
    • December 28, 2013 at 1:09 pm
      Permalink

      Sebenernya sih mau nanya: sampai jatuh 2 biji kemarin udah dilengkapin belum ya?

      (Alutsista kok mirip metromini, dashboard kosong melompong…)

      Reply
  • February 1, 2014 at 6:52 pm
    Permalink

    mudah-mudahan indonesia bisa bandrek f16 yang rusak dengan mesin t50 dari Korsel
    lumayan usia pakainya jadi panjang

    Reply
  • March 14, 2014 at 3:52 am
    Permalink

    kapan ya indonesia bisa bikin pesawat tempur hebat, rudal rudal hebat dan lainnya..??? insinyur asli indonesia banyak, cuma selalu dihalang-halangi ekonom-ekonom pemerintah, alasannya pengeluaran dana banyak..

    Reply
  • January 12, 2015 at 8:54 am
    Permalink

    Jika Negara ini bisa maju…so pasti ASU mencari daya upaya untuk menjadikankannya IRAK ala Indonesia….

    Makanya segera beli tuch S300 Atau apak keg.

    Kalau Negara ini bilang ga ada guit……ya ga tau dah.duit pada kemana aja tuch tiap hari bergulir.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

trinix.systems