Jul 132016
 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini dibuka menguat setelah kemarin ditutup sedikit lesu. Rupiah menguat pada saat USD mengalami tekanan terhadap yen.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah pagi dibuka pada level Rp13.093/USD. Posisi ini tercatat menguat dari posisi sebelumnya di level Rp13.151/USD.

Sementara menurut data Bloomberg, rupiah dibuka berada pada posisi Rp13.106/USD dengan kisaran harian Rp13.081-Rp13.113/USD. Posisi ini memperlihatkan perbaikan rupiah dibandingkan penutupan kemarin yang berada di level Rp13.120/USD, dan pada pukul 09.55 WIB pagi ini berada di level Rp13.104/USD.

Berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah mengawali hari ini menguat tipis di level Rp13.130/USD dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp13.132/USD.

Namun posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance dibuka pada level Rp12.115/USD dengan kisaran harian Rp13.047-Rp13.115/USD. Namun, pada pukul 10.00 WIB rupiah tercatat menguat ke level Rp13.080/USD.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (13/7/2016) USD sedikit menurun terhadap yen meski tetap mendekati posisi tertinggi dalam dua pekan sebagai prospek untuk stimulus ekonomi yang lebih di Jepang membantu meningkatkan sentimen risiko.

USD terhadap yen melemah 0,2% ke level 104,46. Kemarin, greenback menyentuh level 104,98 per yen, level tertinggi sejak 24 Juni. Untuk pekan ini, USD naik sekitar 3,8% terhadap yen.

Selain USD, euro juga tercatat jatuh 0,3% terhadap yen ke posisi 115,46, namun masih naik sekitar 3,9% sejauh pekan ini. Terhadap USD, euro tetap stabil di level 1,1057.

Sebuah rebound di pasar ekuitas telah menyebabkan investor mengurangi kepemilikan mereka atas aset safe-haven seperti yen, yang telah melonjak pasca Inggris shock setelah keluar dari Uni Eropa.

Sementara, yen dapat meringankan lebih lanjut dalam waktu dekat, penurunan berkelanjutan terhadap USD tampaknya tidak mungkin. “Saya pikir langkah ini tidak lebih dari posisi mengkuadratkan dan akan membuktikan sementara,” kata Daisuke Karakama, kepala ekonom pasar di Mizuho Bank.

Ekspektasi stimulus ekonomi lainnya di Jepang telah memberikan kontribusi untuk pemulihan sentimen risiko. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe kemarin mengatakan untuk mengkompilasi paket stimulus ekonomi pada akhir bulan ini untuk menghidupkan kembali ekonomi lesu.

Selain pengeluaran fiskal, ada juga fokus pada apakah Bank of Japan akan memperluas stimulus moneter pada pertemuan kebijakan akhir bulan ini, terutama setelah mantan Ketua AS Federal Reserve Ben Bernanke mengatakan kepada Abe bahwa BOJ telah melakukan langkah untuk mendukung perekonomian.

Poundsterling sendiri terhadap USD mereda 0,1% menjadi 1,3233, setelah kemarin sempat naik 1,9%. Sterling telah menikmati beberapa bantuan pekan ini, di mana menteri dalam negeri Theresa Mei sebagai perdana menteri Inggris membantu investor tetap tenang atas Brexit dan kekacauan politik.

  39 Responses to “Rupiah kembali menguat, pasca USD dikalahkan oleh Yuan”

  1. Kapan ya rupiah kembali ke posisi Rp. 8 ribu.?

  2. Yuan apa yen..?

  3. mungkinkah bisa bung ruskye..?

    • Maunya sih gitu. Agar barang2 dipasar lebih murah terutama elektronik. Industri otomotif bisa jual produknya dng murah, suku cadang murah, akibatnya tarif transportasi jg murah. Efek berantai yg menguntungkan bagi rakyat tp merugikan bg importir krn harga barang mereka jd mahal jatuhnya dan tdk kompetitif lg…he..he..he…dilema

      • Saya kok malah kurang setuju y bang dengan pendapat anda. Kalau rupiah ditekan ke level 5rb sampap 8rb, apa ya ndak tambah konsumtif aka doyan barang luar?? Saya sih mikir positifnya aja, ini justru jadi moment dan pelecut bagi para pelaku industri lokal untuk meningkatkan produksi dan daya saing mereka. Ujungnya, kita akan jadi negara produktif berbasis ekspor,menjadi negara yang berdaulat secara ekonomi. Maaf pandangan awam

        • tergantung sikon juga bung Garu.

          Jika BI melihat ekonomi masih kuat ditunjang konsumsi domestik, maka penguatan rupiah berdampak memperkuat konsumsi tersebut. Sebaliknya jika Investasi sudah berjalan dan sudah menemukan ritme ekspornya (supply yang tetap dan teratur/rutin ke negara-negara yang juga rutin mengimpor barang Indonesia), maka penguatan rupiah bisa menekan margin ekspor.

        • tepat sekali bung @GL, dan harga produk2 ekspor kita semakin mahal di luar, alias menjadi tidak kompetitif, devisa semakin seret..

          makanya BI selalu keseimbangan kurs Rp, jangan sampai merugikan kinerja ekspor juga

        • Benar bung Garu Langit.
          Saya sedikit koreksi komen saya diatas. Disitu saya sebutkan importir yg merugi yg benar adalah eksportir yg merugi karena barang mereka jd mahal.

          Pendapat anda benar bung, saya sepakat. Namun diera perdagangan bebas dan disaat barang impor terasa murah dan berkualitas maka gaya hidup konsumtif akan tinggi. Sebenarnya juatru momen menguatnya rupiah jika benar bisa kembali ke posisi 8 rb hrs diciptakan daya saing bagi industri lokal sehingga kualitas bisa ditingkatkan dan hrg bisa ditekan.
          Bukan berarti kualitas bersaing namun harga jg kompetitif, ini yg salah dng produk dlm negeri. Seharusnya kualitas bersaing namun harga jauh lebih murah. Agar masyrakat lebih memilih produk dalam negeri. Contohnya saja produk elektronik rumah tangga asli buatan dlm negeri yg sudah punya nama, kualitas jg sudah diakui handal dan bersaing namun harga jg ikut bersaing bahkan lebih mahal dr buatan luar. Bagaimana mungkin masyarakat kita mau mencintai produk dalam negeri jika harga tdk kompetitif, sementara masyarakat inginnya murah dan kualitas bagus. Berarti ada yg salah disini bukan.?

          • panjang tuh koreksinya, bukan sedikit, asal njeplak sih…

            kekekkkeeehhhhh..

          • ubed…ubed….mbok yo dipake sedikit aja otaknya, jng dianggurin.
            Makanya kalo komen pake dipikir, jng asal jeplak. Otaknya difungsikan, jng dengkulnya tong. Malulah dng negara tetangga klo komen mu ora mutu asal mangap doank.
            Ingat thn 1996-1998 saat krismon gak.? Rupiah anjlok, industri pada gulung tikar karena mahalnya bahan baku impor. Akibatnya PHK, pengangguran meningkat. Hanya sebagian kecil masyarakat yg menikmati menguatnya dolar yaitu petani cengkeh, coklat dan rempah2 lainnya sehingga membuat gaya hidup petani jd konsumtif. Ingat bung, kita ini masih bergantung sangat besar dng impor. Barang yg jd kebutuhan hidup masyarakat kecil aja masih impor. Contohnya kedele yg buat harga tahu dan tempe mahal. Pakan ternak masih impor yg buat hrg telur dan ayam meningkat.
            Devisa dr mana tong.? Kalo dolar tinggi, sedangkan perusahan yg mengekspor hasil produknya aja masih bergantung bahan impor, maka secara otomatis hrg barang ekspornya dinaikan ini justru berimbas pada daya saing dng produk negara lain.

            Coba jelaskan teori kamu penyebab devisa seret jika rupiah menguat.? Brp nilai rupiah yg terbaik terhadap dolar menurut anda.?
            Semoga jawaban anda bukan asal njeplak doank. Saya tunggu jawaban kamu tong.

          • ubed…ubed…emang ente doyan ngeyel. Biar salah asal ngotot…its ok

            … klo lihat grafik di atas, kontribusi ekspor produk manufaktur justru tumbuh di tahun krismon 97-98, setelah trend menurun sejak 1992…

            itu grafik buatan ente.? Saya gak perlu grafiklah. Saya bicara realita saat krismon. Kalo mau memahami jng setengah2. Baca dulu dng tuntas apa yg saya maksud pada komen kedua saya.

            Jika rupiah menguat maka eksportir yg merugi. Mengapa.? Karena barang mereka jd mahal. Betul apa nda ini.?
            Contoh hrg roti produk sari roti dijual 40 rb dng kurs 10 rb, berarti $4, begitu kurs turun 8 rb maka rotinya jd mahal seharga $5. Betul nda nih.?

            Mengapa saya katakan jika bahan baku banyak diimpor maka produknya ekspornya sudah tdk kompetitif lg, karena bersaing dng negara lain. Contohnya bersaing dng produk China maupun negara tetangga.
            Contoh, baju batik dari china cuma seharga 20 rb ditanah abang, baju batik kita yg kualitas renda sekalipun harganya 40 rb, krn bahan baku banyak impor. Ekspor tekstil kita pun kalah dng China.

            …hehe, menurut pengusaha tekstil aja deh, yang buruhnya banyak..

            kalo saya gak usah ambil rujukan dr blog lain kalo urusan semudah itu. Tanya aja ke pengusaha tempe dan peternak ayam, brp kurs dolar yg layak…fair kan.

            bukannya ente yg emosian.? sdh dpt blom jawaban knp indonesia pilih T-50i bukan T-50.?….hehehe…
            Salam damai bung.

            nb. gak perlu dilanjut bung debatnya. karena ente berkeras dng pendapat ente tanpa liat realita lapangan…hehehe…salam

          • paling muaaales debat dengan orang model ruskye ini, tapi ini hak jawab berhubung ente yang buka perdebatan,

            ..itu grafik buatan ente?..
            ini paling norak, klo orang kasih grafik, ente kasih grafik tandingan, jangan tuding asal njeplak
            fyi, ini paper / presentasi lengkapnya,
            http://slideplayer.info/slide/2968888/

            (1)..Jika rupiah menguat maka eksportir yg merugi. Mengapa? Karena barang mereka jd mahal. Betul apa nda ini?..

            sableng nih, dari awal saya udah tulis menyambung @Garu Langit (..Kalau rupiah ditekan ke level 5rb sampai 8rb, apa ya ndak tambah konsumtif / doyan barang luar??) :
            tepat sekali bung @GL, dan harga produk2 ekspor kita semakin mahal di luar, alias menjadi tidak kompetitif, devisa semakin seret..
            makanya BI selalu [menjaga] keseimbangan kurs Rp, jangan sampai merugikan kinerja ekspor juga

            (2)…Ngomong opo kowe bocah…asal njeplak doank…

            bandingin komen ente no (1) dan (2), apa gak sableng dan malu2in?

            ..kalo saya gak usah ambil rujukan dr blog lain kalo urusan semudah itu..

            itu portal berita resmi dan yang ngomong Wakil Ketua Umum Kadin yang juga praktisi ekspor, Presiden Direktur perusahaan tekstil PT Apac Inti Corpora, Benny Soetrisno; bila rupiah menguat, misalnya ke titik Rp 10.000/US$, maka industri lokal justru terancam. Barang-barang konsumtif seperti gula, beras, kedelai, ponsel, pakaian dan lain-lain memang akan makin murah, namun industri di dalam negeri yang akan tertekan.

            dari awal pendapat Garu Langit, saya dan Benny Soetrisno udah sejalan, ente yang salah dan udah ngaku sendiri,

            ..Benar bung Garu Langit.
            Saya sedikit koreksi komen saya diatas. Disitu saya sebutkan importir yg merugi yg benar adalah eksportir yg merugi karena barang mereka jd mahal..

            udah salah ya mingkem, jangan malah nyerocos teruus..

            merdeka dan selalu siap mempertahankan kemerdekaan bung !..

            kkeekkeeh###hhhhh

        • ”Saya sih mikir positifnya aja, ini justru jadi moment dan pelecut bagi para pelaku industri lokal untuk meningkatkan produksi dan daya saing mereka. Ujungnya, kita akan jadi negara produktif berbasis ekspor,menjadi negara yang berdaulat secara ekonomi.”

          saya tanggapi ya bang Guru Langit..
          gini loh bang, realistis aja.. kita mau produksi yang kayak apa.. misal nih, bikin hp.. gak semua komponen bisa bikin sendiri.. ada beberapa yg masih import. misal lagi nih, bikin mobil listrik, lha wong mesin ama batrei masih import kok. oh ada berira berita kita bisa bikin juga yak? ada bukti fisiknya? palingan juga mandek di kementrian terkait. itulah yg bikin cost barang produksi dalam negeri jadi mahal. lebih tepatnya kita ini bukan produksi sendiri, tapi merakit sendiri.. wkwkwk asumsi pribadi yah.
          di cina, bikin pabrik tuh murah, birokrasi juga mudah, sumber daya pendukung jg tersedia, yen juga murah.. itulah sebabnya banyak perusahaan dalam negeri terutama yg bergerak pada teknologi tinggi bikin proyek di sana. meski diimport oleh Indonesia pun harga jual masih bisa dikatakan murah. itupun mereka juga udah dpt untung loh. pertanyaannya adalah kalau di Indonesia gmn? wkwkwk
          mungkin pejabat Indonesia perlu dibina atau mungkin dibinasakan.. sebab pemerintah maupun DPR menurutku masih bingung dengan urusan mereka sendiri. mereka tidak idealis membangun bangsa. saya tidak bilang keseluruhan, tapi mayoritas (saya kira kaum terdidik tidak perlu dijelaskan seperti ini). dimana negara maju sudah licik mengekspansi tetek bengek mereka, entah itu budaya, politik, ekonomi, dll ke negara inferior (termasuk kita), eh sedangkan kita… hmm cerdas aja belum, bijimane mau licik.. yg bener malah kita dikadalin. yg jelas kita masih suka ribut sendiri wkwkwk

      • Sedikit urun diskusi rekan sekalian, yang intinya sebagai berikut..
        Ada 2 hal yang harus dibedakan:
        Ada lingkup usaha (1)import; (2)semi import/export; (3)export. >>> U-1/2/3
        Ada keadaan (1)Rupiah menguat/Dolar melemah; (2)Rupiah melemah/Dolar menguat. >>> K-1/2

        Untuk U-1; K-1 ini adalah berkah, karena harga pokok penjualan (HPP) bisa jadi menurun, harga jual bisa lebih murah. Contoh kasusnya ada di komen atas. Dengan demikian untuk U-1; K-2 kita bisa simpulkan ini merupakan bencana..

        Untuk U-3; K-1 ini bisa jadi bencana, karena HPP bisa jadi meninggi, harga jual bisa lebih mahal. Namun untuk U-3; K-2 ini merupakan berkah..

        Untuk yang semi2 mungkin rekan2 warjag lain ada yang lebih ahli silakan dibabar.. 😉

        Kesimpulannya yaitu Rupiah menguat memang berpotensi untuk membuat masyarakat cenderung konsumtif karena daya beli yang bagus, lalu maunya beli dan beli. Yang benar yaitu beli mesin produksi dan barang2 produktif lainnya. Produksi di dalam negeri, konsumen dalam dan luar negeri, keren!!
        Sedangkan bagaimana jika sebaliknya? Rupiah melemah akan membuka mata kita terbuka untuk menggiatkan produksi export. Kita bisa undang investor luar negeri untuk buka pabrik di dalam negeri.
        Produksi di dalam negeri, konsumen dalam dan luar negeri, bagus!!

        Saya belum mengaitkan dengan pertumbuhan ekonomi dan lainnya lho..
        Silakan dikoreksi jika ada yg salah dan tolong juga dilengkapi..

    • Produk diekspor keluar negeri dgn patokan dollar as bkn rupiah..
      Rupiah menang jumlah tapi kalah nilainya,orang luar negeri bisa borong produk indonesia tapi indonesia cuma sedikit beli produk luar negeri terutama dalam hal alutsista..

      Naikkan gaji buruh Rp.5jt perbulan..:D

  4. 8tahun lagi

  5. Anjirr.. yg nulis nih artikel sapa sih ??!! Yuan tuh mata uang China, Yen tuh mata uang Jepang. Kalo yg dimaksud mata uang dunia ya artikelnya bahasnya Nilai Tukar Dollar(Greenback) melemah terhadap Yen (Yen/USD). Parah banget yg nulis nih.

  6. Komen untuk xi jinping : semoga china hancur bersama malaysia.

  7. kabar baik bagi siapa yaaa….nyatanya diri ini tetap saja sama dari dulu..selalu saja menjadi -kuli rayap aspal-…meski doa dan usaha telah menjadi kewajiban diri………heheheee

    • sabar bung T, di negri unik ini konon segalanya sering berjalan di luar dugaan krn banyak campur tanganNya. iya krn Nya sangat mencintai mahluk2 kusunya yg disini. Cukup berdoa saja dan serahkan sisanya pada usaha anda yg wajar, segalanya bisa berubah buat anda dan kita.

  8. kalau mau sukses jangan kerja sama orang mas, mending ente dagang dipasar, insyaallah nasib berubah…

  9. Butuh editor nih admin, bener2 gak sinkron antara judul sm isi berita. Hadeh…. 😮

  10. @yuan opo yen bukan butuh editor bung tapi di door wkkk

  11. Yaelah cuma berbah seupil doank, kirain berubahnya 500 atau 1000,lain kali tak usah di beritakan kalau cuma secuil berubahnya

  12. Kebijakan tax amnesty mulai membuahkan hasil…

  13. ish ish ish…kasihan kasihan kasihan…

  14. 2 singgit 2 singgit… Mari beli- mari beli.. 2 melon 1 ringgit..

  15. 1 US$ = Rp 1,- asoy geboy

  16. kenapa semua barang mahal, karena hampir separoh bahan baku import, salah satunya biji plastik

  17. kalo rupiah menguat lebih bagus dan lebih terasa dampaknya kita bisa membeli mesin produksi yg berqualitas dari luar utk pabrik pabrik otpmatis menambah lapangan kerja bahan produksi bisa diimpor dalam jumlah banyak dgn begitu harga jual bisa ditekan dan kita bisa beli sukoi 35 satu skuadron pull senjatanya kalo perlu tambah beli kilo.kan asik.

  18. Ni yg coment berlomba2 jadi yg paling pinter di mari….saling mencaci saling sikut saling mencari2 kesalahan orang…….gua mh ketawa ketiwi aja d balik layar sambil minum kopi sianida…gluk gluk gluk…ahhh

  19. YUAN AKAN MENJADI MATA UANG TREND INTERNASIONAL DEK DOLAR AKAN TERSINGKIR DEK….PLA ITU BISA KAYA MEREKA MAKAN BUBUR DEK KADANG KALA KALO TIDAK ADA LAUK BAYI PUN MEREKA MAKAN DEK

  20. Dimasa arus masuk investasi seperti saat ini, setiap dolar yg masuk harus memberi manfaat (dapat membeli bahan baku) sebesar2nya/ sebanyak2nya, untuk itu rupiah sengaja dilemahkan (ditahan 13.000-an). Begitu pula nanti saat masanya Indonesia banyak meng-export hasil2 produksi (tetap dilemahkan) agar dapat bersaing dengan produk negara lain.
    Adapun agar barang2 technologi & konsumsi bisa dibeli dg harga murah, mulailah sebanyak2nya membuat semua produk elektronik & kilang bbm di dalam negri.
    Untuk mengangkat derajat rupiah, jalankan strategi yg dulu pernah direncanakan: “Redenominasi Rupiah” menghilangkan 3 angka 0 (nol) dari alat pembayaran (uang) yaitu: dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1.

  21. Comment:

    iya mau bagaimana lagi komoditas eksport indonesia kebanyakan barang mentah. di saat dolar naik patokan harga pasar dunia cenderung menurun. import barang pun kebanyakan non komoditi berupa komponen/bahan baku yang cenderung jarang mengikuti patokan harga pasar dunia. untuk menarik investor jangan selalu berpusat di industri assembling dan pengolahan sumber daya alam.

  22. Dimana2 negara industri melemahkan mata uangnya terhadap mata uang negara2 industri lain utk meningkatkan daya saing, sehingga ekspor lbh perkasa sdgkn konsumsi barang import menurun, nah disitulah letak kesempatan produsen lokal untuk membuat produk serupa dr produk impor dg harga murah untuk konsumsi domestik….diman2 negara yg brilian mengekspor dialah yg menguasai ekonomi dunia jd bukan negara yg tinggi konsumsi domestikx

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)