Dec 302016
 

Image by Chad J. McNeeley (US Navy)

Keputusan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengusir 35 diplomat asal Rusia menunjukkan satu hal, bahwa Washington telah mengaku kalah main sikut pengaruh di panggung dunia dari Moskow.

Kebijakan itu, menurut alasan Obama, adalah balasan atas serangan peretas Moskow terhadap data para petinggi Partai Demokrat yang “bertujuan mengintervensi atau menggerogoti proses pemilihan umum.” Tapi dengan mengusir puluhan wakil Kremlin, Obama secara tidak langsung mengakui kalau Rusia berhasil menjadi dalang di balik kemenangan calon dari Partai Republik, Donald Trump, dalam pemilihan umum presiden Amerika Serikat.

Moskow sukses memainkan pengaruh mereka di negara, yang katanya, paling adidaya dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia. Ibarat sepakbola, mereka menang di kandang juara bertahan. Ini adalah prestasi besar bagi Presiden Vladimir Putin.

Banyak pengamat yang menobatkan China sebagai calon pengganti Amerika Serikat di pentas internasional. Dalam perkara ekonomi, mungkin perkiraan itu benar. Tapi soal pengaruh, Beijing masih harus belajar banyak dari negara tetangganya di utara.

Besarnya pengaruh Rusia pada tahun ini tidak hanya nampak pada kemenangan Donald Trump.

Setidaknya ada tiga prestasi besar diplomasi Rusia pada tahun ini–baik dari saluran resmi maupun yang tidak. Yang pertama, negara ini keluar menjadi broker paling andal di pusat konflik dunia saat ini, Suriah.

Kedua, pengaruh lunak (“soft-power”) Moskow bisa membangkitkan sentimen anti-uni di Eropa.

Sementara yang ketiga, mereka berhasil menggagalkan upaya NATO -sebuah aliansi militer 28 negara yang didirikan dengan tujuan membendung pengaruh Uni Soviet pada masa Perang Dingin- untuk memperluas keanggotaan di wilayah Balkan.

Ketiga performa apik Rusia itu dicapai melalui tiga cara berbeda; (1) dengan jalur diplomatik resmi di Suriah, (2) dengan operasi intelejen rahasia di Balkan, (3) dengan menyebar berita palsu untuk membangkitkan sentimen anti-Uni Eropa.

Rusia di Suriah

Di Suriah, Kremlin adalah cengkau utama gencatan senjata dan rencana perundingan damai antara kubu pemerintah dan oposisi baru-baru ini. Inilah prestasi besar Putin dalam politik percaturan pengaruh melawan Obama di jalur diplomatik resmi.

Capaian ini sebenarnya telah dibangun jauh sejak tahun 2013. Saat itu, Amerika Serikat sudah hampir akan mengirim pasukan darat ke Suriah setelah muncul indikasi bahwa pasukan pemerintah telah menggunakan senjata kimia untuk membunuh lebih dari 1.400 orang.

Namun Putin bertindak cepat. Dia mendesak Presiden Bashar al Assad untuk mengeluarkan pernyataan akan menghancurkan seluruh cadangan senjata kimia di Suriah. Akibatnya, Obama tidak lagi punya legitimasi untuk melakukan gempuran darat dan hanya bisa mengirim pesawat udara.

Putin melengkapi terobosan diplomatik itu dengan strategi militer yang ciamik–meski dengan bencana kemanusiaan yang sangat besar. Dia tidak memilih untuk ikut menghabisi kelompok bersenjata ISIS di kota Raqqa bersama Amerika Serikat.

Putin justru mengkonsentrasikan sumber daya militernya ke Aleppo, tempat di mana gerilyawan moderat dan organisasi radikal turunan Al Qaeda bercampur menjadi satu.

Dengan merebut kota terbesar di Suriah itu, Putin membuat Barat kehilangan sekutu di darat–mengingat daerah lain, seperti Idlib dan Raqqa, dikuasai oleh organisasi yang masuk dalam daftar hitam terorisme.

Inilah yang membuat Rusia berada di atas angin dan mampu menjadi broker “perdamaian” di Suriah. Sementara Amerika Serikat, karena tidak lagi punya sekutu darat selain kelompok Kurdi yang juga diserang oleh Turki, terpaksa gigit jari dan mengalihkan kekuatan militer mereka ke Irak, terutama Mosul.

Rusia di Balkan

Jika Moskow mengalahkan Amerika Serikat dengan strategi formal di Suriah, cara yang jauh berbeda digunakan oleh Putin untuk membendung NATO di negara-negara Balkan seperti Montenegro.

Pada bulan lalu, majalah Foreign Policy, menulis berita dugaan keterlibatan Rusia dalam upaya asasinasi terhadap Perdana Menteri Montenegro, Milo Dukanovic, yang ingin menggabungkan diri dengan NATO.

Menjelang pemilihan umum di Montenegro, Rusia dikabarkan membiayai kampanye kelompok oposisi anti-NATO untuk mengalahkan Dukanovic. Saat upaya itu gagal, sekelompok preman berpakaian polisi berupaya menyusup ke kantor perdana menteri untuk membunuh Dukanovic.

Beruntung upaya itu gagal. Setelah pihak keamanan melakukan penyelidikan, tersangka utamanya adalah seorang warga Serbia yang turut berperang bersama kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina bagian timur. Selain itu, pemerintah Serbia juga mengusir sejumlah warga Rusia karena diduga ikut terlibat dalam persenkongkolan di Montenegro.

Operasi rahasia itu tentu saja mengingatkan orang pada badan intelejen Amerika Serikat, CIA, yang juga sering melakukan hal yang sama pada masa Perang Dingin.

CIA, oleh parlemen negara sendiri, dianggap terbukti melakukan upaya pembunuhan terhadap tokoh-tokoh di Amerika Latin yang berafiliasi dengan komunisme seperti, Salvador Allende, Fidel Castro, dan Hugo Chavez.

Tapi kedigdayaan CIA itu kini telah beralih tangan ke Rusia. Meski gagal di Montenegro, mereka menunjukkan tanda keberhasilan di Bosnia dan Herzegovina. Moskow kabarnya berhasil mendesak pemimpin wilayah otonom Republika Srpska untuk memerdekakan diri, sehingga menghancurkan ambisi Bosnia dan Herzegovina untuk bergabung dengan NATO.

Rusia di Uni Eropa

Dalam dua kasus di Suriah dan Balkan di atas, terbukti bahwa Rusia memang berhasil menandingi kekuatan diplomatik dan intelejen dari Washington.

Namun Amerika Serikat punya perangkat lunak lain yang membuat negara itu sangat berpengaruh: Hollywood. Industri film terbesar di dunia ini, pada masa Perang Dingin, menjadi alat propaganda Washington untuk menyebar persepsi negatif terhadap komunisme dan Uni Soviet.

Rusia kini punya tandingan yang jauh lebih efisien karena berbiaya murah: berita palsu.

Dalam satu laporan panjang pada Agustus lalu, surat kabar The New York Times menyebut berita palsu sebagai “senjata Rusia yang ampuh.” Di Uni Eropa, Rusia kabarnya menjadi penggerak maraknya berita-berita palsu yang bertujuan untuk mendelegitimasi pemerintahan di blok beranggotakan 28 negara tersebut.

Di Jerman misalnya, media-media pro-Moskow menyebar berita yang terbukti palsu, yang menyatakan bahwa seorang anak gadis berusia 13 tahun telah diperkosa oleh beberapa pengungsi.

Berita-berita palsu yang menggambarkan sisi negatif para pengungsi itu kemudian harus dibayar mahal oleh kubu konservatif pimpinan Kanselir Angela Merkel yang kalah telah dalam pemilihan umum regional tahun ini.

Merkel dianggap bertanggung jawab karena menerapkan politik pintu terbuka terhadap jutaan pengungsi asal Suriah.

Persoalan yang sama juga dihadapi oleh Ceko. Menurut The New York Times ada lebih dari 40 laman berita pro-Moskow yang secara aktif menciptakan citra jahat Uni Eropa. Akibatnya, sekitar 52 persen penduduk negara itu kini memandang negatif otoritas di Brussel.

Tidak heran jika kemudian seorang jenderal Rusia memuji cara-cara nonmiliter itu.

“Penggunaan cara-cara nonmiliter untuk meraih sasaran strategis dan politis telah berkembang, bahkan dalam banyak kasus lebih efektif dibanding kekuatan senjata,” kata mantan kepala staf umum angkatan bersenjata Rusia, Jenderal Valery Gerasimov, sebagaimana dikutip dari The New York Times.

Begitulah Rusia yang mencapai puncak pengaruhnya di dunia pada tahun 2016 di bawah kepemimpinan Putin.

Negara ini berhasil mengalahkan kekuatan diplomatik Amerika Serikat untuk kasus Suriah. Mereka membendung NATO dengan meniru gerak rahasia operasi intelejen CIA. Mereka juga menemukan metode yang jauh lebih efisien dari Hollywood untuk propaganda: berita palsu.

Atas kegemilangan itu–yang ironisnya diraih di atas bencana kemanusiaan–Putin layak mendapat gelar “Pria Tahun Ini” pada 2016. Sementara Rusia berhak menggantikan Amerika Serikat sebagai polisi dunia yang baru.

Artikel Terkait :

  21 Responses to “Rusia Singkirkan Amerika Serikat dari Panggung Dunia”

  1. amerika gondok rusia ikut ngatur pemilihan presiden ya?wkwkwkwk

  2. seandainya si putin menjadi presiden indonesia, bakal habis diserang isu2 dalam negri tuh si puting, untung masyarakat yg di pimpinya berpikiran maju bedah dengan indonesia.

  3. Indonesia Harus belajar ilmu diplomatik dan intelejen pada Russia biar gak Terlalu mengharap kedatangan alutsista gahar bin ghoib.

    Eh…tunggu dulu, coba dibandingkan Indonesia vs Russia, kalau dilihat dari sisi diplomatik, intelejen, dan alutsista kira2 skor nya Indonesia vs Russia berapa ya? 3-0 cukup?

    Keep on learning 😉

  4. hheee.. kalah saweran kang obama.. ya apa boleh buat kini duet goyang kang putin dan bro jimping semakin solid…

  5. Cocok di tiru nih cara kerjanya supaya sabah dan sarawak bisa merdeka

  6. No imigran china……

  7. Di indonesia kena berita hoak aja, lansuung percaaya masyarakatnya, liat aja issu tka asal china yg katanya mencapai 20 juta, sebahagin kecil orang indonesia percaya, tanpa berpikir logis

  8. Mgkn kedpn dibawah trump,usa akan byk kerjasama utk kedamaian dunia.
    Banyak pengamat yg memperkiran usa-china akan semakin membara terutama ekonomi dan lcs.

    Peran rusia di timur khusus utk indonesia tergantikan oleh china.
    Dg china kita tak boleh biasa apalagi menjauh..hrs sahabat.

    Utk itu hrs dikawal jokowi 2 pereode estafet 2 periode ke ahok.
    Kuncinya di pemilu.
    Pitnah tenaga ilegal (komunis) jg sampai tertanam kebencian thd chna/etnis china—> pemilu… Kl ini terjadi 10-20th kedpn proxi balasan bisa membuat indonesia mundur jauh keblkg.
    Ini yg penting..

    50 th bersama barat kemajuan yg di capai berbanding terbalik dg terkurasnya SDA

    Tim pembersih pitnahker dan penghasutker telah terbentuk.
    Khusus jkgr sebagai ketua saudara Ubed bendahara saudara Tkg itung PHD
    Tim kontraintelegen Saudara Askar power dan colibri
    Tim penyapu pocong merem dan nyinyir.

    Kah kah kah

  9. Zuzu@ Klo kata orang betawi “ngomong lu tong”…

  10. Hal yang sama apakah sedang terjadi di kita,lalu dari blok mana otaknya kl memang kita sedang under attack…

    • Dari Amerika… Rusia dan China masih hati2 di Indonesia.. Kalo China punya pengaruh kuat harusnya Ahok gak masuk pengadilan. Tapi kalo Ahok bisa bebas tak bersyarat berarti China lagi main cantik. China-Rusia tidak menginginkan SDA kita, beda dg AS dan sekutunya yg punya doktrin: SDA sendiri disimpan, SDA negara lain dikeruk abis2an. Ntar 100 tahun lagi AS lah yg paling kaya dan yg paling maju serta SDAnya paling melimpah ruah. Asal tau saja, cadangan minyak mentah AS itu 1 milyar barrel, cukup buat 150 tahun lagi. Sedangkan Arab Saudi yg dikatakan punya cadangan minyak terbesar hanya punya 600 juta barrel. Hanya cukup kurang dari 100 tahun. AS pake cara, sedot minyak orang lalu timbun di negara sendiri. Sedangkan minyak di negara sendiri diambil sedikit2 aja. Pengaruh AS masih terlalu kuat di Indonesia dan AS serta sekutunya main proxy war disini. HAM di Maluku dan Papua, membiayai OPM, RMS & GAM, Isu SARA, berita hoax dan bahkan korupsi di negara ini. Mereka main cantik dg menyogok pejabat kita agar kebijakan pemerintah kita menguntungkan mereka seperti smelter dan ekapor bahan tambang mentah-> freeport dan dilain pihak seolah2 mendukung & menyuport MDG (Millenium Development Goal) serta komisi anti rasuah aka KPK. Kalo KPK emang jujur, jangankan BLBI, Korupsi kroni2 mbah Harto yg mencapai 30 milyar dollar harus diusut dulu. Belum kebijakan ecek2 SBY buat beli alutsista bekas yg ternyata harganya mahal buat upgrade tapi masih banyak yg kurang. Korupsi seorang Brigjen senilai 12 juta dollar buat beli Apache dan upgrade hibah F16 dari AS contohnya, belum yg lainnya.

  11. ANALOG YANG SAMA; Mungkin issue yang berkembang di masyarakat kini, terkait pekerja Cina, mungkin upaya negara lain yang kuatir Indonesia terlalu dekat dengan Cina. Apakah AS? (terkait LCS), Malaysia kah? (terkait potensi kemajuan Indonesia di masa depan).

    • Asu kalo kata saya.. Dengan menggunakan pion mereka Aushit..

      Isu Siapa yg mulai coba itu TKA smp 20jt..mbok ya bohong jgn ketahuan bgt jugalah, bohong ttp harus ada logikanya juga..

      Tp bersiap siap aja, kalo kita masih senang dengan Indonesia yg tentram dan hidup saling berdampingan, mari jaga kebaikan yg sudah ada dan ditingkatkan.. Buang jauh jauh rasa curiga.. Fb, twitter, IG, Path, semua dibentuk untuk alat propaganda dr ASU.. Pion yg akan memainkan jd tentara keamanannya nanti Aushit.. Remember Timor Leste

  12. Putin itu James Bond versi KGB

  13. judul bikin ekkeekekeke

    tahun 2016 mungkin tahun rusia,tapi secara geopolitik masih dipegang amrik serikat(nah perlu analisa tajam lagi mengapa amrik serikat sepertinya menarik diri dr timteng,biarpun ada pasukan kecilnya disana)

    secara pengaruh amrik ditimteng sepertinya kalah dengan rusia,dengan kekalahan pemberontakan diallepo,secara gradual amrik tidak mempunyai pengaruh ke pemberontak/fraksi elemen perlawan dengan rezim suriah(punya pengaruh adalah aqatar,arabsaudi dan turki inilah mempunyai pengaruh langsung kesana)

    pembelian alussita milyaran us dollar oleh negara2 teluk,sepertinya amrik tidak terlalu berkutat terlalu dalam,terlalu masuk kedalam intervensi akan membawah korban jiwa sdm amrik sendiri,inilah sengaja dijauhkan sementara waktu dr perang disana(dipakai cara proksi)

    rezim obama sudah mau pensiun,sekarang rezim trump awal tahun gemana geopolitik amrik serikat secara keseluruhanya untuk akan datang masih dilihat

    opini pribadi saja

    salam damai selalu

  14. hidup di dunia hanya sementara jangan di bikin ribet , pikirkan akhirat yang utama