Feb 152017
 

NEW DELHI – Perusahaan kedirgantaraan Swedia, Saab telah menawarkan kepada India sebuah pabrik jet tempur baru jika DRDO mampu mengamankan kesepakatan untuk memasok lebih dari 200 jet tempur militer, seperti dilansir dari Sputnik News.

Sebuah jet tempur JAS 39 Gripen buatan Saab Swedia (© AFP 2016)

Saab Swedia saat ini sedang bersaing ketat dengan perusahaan AS Lockheed Martin untuk memasok 250 unit jet tempur bermesin tunggal kepada Angkatan Udara India.

Dengan pabrik “termodern di dunia” untuk pesawat militer, Saab mengklaim bahwa mereka akan mampu memproduksi jet tempur Gripen E untuk pasar di seluruh dunia serta India.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Jumat, Pimpinan Saab India Jan Widerstrom mengatakan bahwa “usulan tersebut adalah tawaran tak tertandingi yang akan menetapkan standar baru dalam keunggulan teknik penerbangan selama beberapa dekade mendatang, India harus mendapatkan Gripen”.

Tawaran pabrik dari Lockheed Martin kepada India sedang menunggu persetujuan dari Presiden Donald Trump guna mendirikan jalur produksi jet tempur F-16 di India.

Juru bicara Lockheed menyebut dalam sebuah pernyataan, “Kami telah memberitahu pemerintah mengenai usulan ini, yang mana telah didukung oleh pemerintah Obama sebagai bagian dari dialog kerjasama yang lebih luas dengan pemerintah India… Kami paham bahwa pemerintah Trump akan memperbaharui beberapa program ini dan kita siap mendukung upaya untuk memastikan bahwa setiap kesepakatan penting ini sejalan dengan prioritas kebijakan AS”.

Penawaran Saab juga muncul berdasarkan dorongan dari Perdana Menteri India, Narendra Modi untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi pertahanan yang mahal dari luar negeri.

India telah menerapkan kampanye “Make in India”, yang bertujuan untuk membuat negara itu menjadi “pusat manufaktur global”, dengan mendorong kemitraan asing dan lokal serta membatasi investasi asing di bidang pertahanan.

Widerstrom mengatakan, “Saab menawarkan fasilitas industri yang akan menjadi pusat gravitasi untuk Gripen Made in India”.

Tahun lalu, setelah mengalami beberapa kesulitan dan penundaan untuk menghimpun Rafale di India, negara itu akhirnya menandatangani kontrak senilai 8,8 milyar dolar untuk membeli 36 unit jet tempur bermesin ganda tersebut.

Sputnik News

Bagikan Artikel:

  13 Responses to “Saab Tawarkan Bangun Pabrik Gripen di India Sebagai Bonus”

  1. Coba pabriknya bangun di Indonesia saja,pasti keten tuh,dengan catatan pembelian harus sebanyak rencana India.tapi ya sudahlah.kayaknya gak mungkin.

    • Sungguh tidak mengerti kenapa tejas ditinggalkan semudah itu.
      pengorbanan dan kegaguman semangat india yg luar biasa untuk tejas menjadi sia sia.
      smoga ifx tidak bernasib yg sama.
      Smoga kita selalu sadar, penawaran ading sebaiknya selalu dlm kerangka memperkuat ifx bukan meniadakan

  2. Nah begini klo beli banyak, ga diminta Tot malah ditawari bangun pabriknya sekalian

  3. Sebenernya Indonesia mau tawar menawar sm produsen dg harga terendah….
    setelah Shukoi hampir deal, pindah kelain hati biar om beruang turunin harga
    dan dilihatlah gripen dan f16… setelah terlihat lampu hijau, dilihatlah korea
    sebagai produsen pesawat golden eagle….. nah kira kira kurang minat, makanya parlemen korea dateng di akhir tahun lalu karena dirasa tawarannya mahal, Indomesia mulai melirik tejas…
    paling klo beli tejas cuma untuk pemuas hasrat beli sayap delta…. drpd beli rafale yg muahal…
    yang pasti menghindari sukhoi hadir di media sebagai shock therapy…
    Pas shukoi dateng bersama dengan pesawat gripen/tejas, jadi shukoinya ga kelihatan bro….

    (ngayal dot com)

    • Klo $$$ gak cukup, saya mending sarankan ambil MiG-35 aja bung, harga cuma $18.000.000, sudah dengan teknologi mutakhir di kelasnya.

      Klo pengen sayap delta mending JF-17 aja, radius tempur 1.300 km sedangkan Tejas cuma 500 km dan Gripen cuma 800 km

  4. duit indihe koq gak abis-abis ya…beli pespur gak kira-kira 250…
    berharap indonesia juga seperti itu boronggggggg

  5. India aja banyak menerima pengembangan dan produksi bersam Pespur dari berbagai negara, pilotnya ogah2an pake Tejas. Nah Indonesia kok bisa2nya melirik Tejas jd bingung lihat logikanya! Mending contoh India dgn pembelian pespur banyak joint produksi dan pengembangan bersama bersanding dengan Ifx agar terjadinya penyerapan Teknologi dan kemandirian InHan kita!

  6. 250 ????? banyak betul orderan si sarukhan.

  7. 250 unit ?

    Berapa tahun selesainya ?

    Jika line productionnya maksimal 24 unit per tahun, maka butuh lebih dari 10 tahun hanya untuk produksi saja.

    Pencarian plus Pembebasan lahan 1 tahun.
    Pembangunan infrastruktur hangar produksi plus pembangunan infrastruktur landasan dekat hangar produksi 1 tahun.
    Pendidikan karyawan untuk merakit 1 tahun.

    Total waktu yg diperlukan minimal 13 tahun.

    Jika harganya USD 50 juta per unit.

    250 x 50 = 12500 juta dolar.

    Tambah biaya infrastruktur 500 juta lagi total USD 13 milyar.

    13000 juta / 13 tahun = USD 1 milyar per tahun.

    Kurs 13500 per 1 USD.

    13500 x 1 milyar = 13,5 ribu x 1 milyar = 13,5 ribu milyar = 13,5 trilyun rupiah per tahun.

    Jika RI anggaran pertahanannya 200 trilyun per tahun, 13,5 trilyun per tahun untuk beli pespur saja bisa nggak ?

Orang Bijak Isi Komentar :