Dec 312016
 


WASHINGTON – Sepuluh tahun setelah eksekusi Saddam Hussein, mantan orang kuat Irak tersebut masih menghantui Amerika, muncul sebagai pengingat yang kuat dari ambisi yang hancur untuk membawa stabilitas dan demokrasi ke Timur Tengah.

Ketika Saddam digantung di Baghdad pada tanggal 30 Desember 2007, Presiden George W Bush sudah tahu bahwa invasi ke Irak, yang telah menyebabkan3.000 pasukan AS tewas, namun belum menghasilkan kemajuan yang dicari Washington.

“Banyak pilihan sulit dan pengorbanan lebih lanjut terbentang di depan mata. Namun keselamatan dan keamanan rakyat Amerika mengharuskan kami tidak mengalah dalam memastikan bahwa demokrasi muda Irak harus terus maju”, kata Bush pada saat itu.

Irak demokratis yang Bush bayangkan selama ini ternyata hanya sebuah mimpi, dengan gagalnya Amerika untuk menghentikan lingkaran kekerasan sektarian yang mematikan di negara itu.

Minoritas Sunni yang pernah menguasai Irak tumbuh semakin benci pemerintah yang didominasi kaum Syiah – yang membantu memicu munculnya kelompok ultra-radikal ISIS dan sejumlah mantan pejabat militer era Saddam ke dalam jajarannya.

Lebih dari 5.000 tentara AS masih berada disana memberikan dukungan penting untuk tentara Irak yang masih belum mampu berperang sendirian melawan pejuang kekerasan dan ekstremis.

Publik Amerika, yang pernah memberikan dukungan kuat untuk invasi pimpinan AS tahun 2003, masih belum pulih dari trauma perang.

Kegagalan di Irak sangat mempengaruhi keputusan Presiden AS Barack Obama untuk tidak melakukan intervensi militer terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang saudara di negara itu yang akan segera memasuki tahun keenam.

Sementara itu, pengganti Obama, Donald Trump membangun kampanye presiden dengan janji bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah lagi terlibat dalam “perubahan rezim” atau “pembangunan bangsa”.

Trump juga mengatakan berulang kali menyatakan bahwa tidak seperti lawannya Demokrat Hillary Clinton, ia menentang perang di Irak – meskipun dalam sebuah wawancara radio dengan Howard Stern pada tahun 2002 ternyata ia akan mendukung invasi.

Lebih dari satu dekade kemudian, beberapa pembuat kebijakan Amerika masih mencoba memahami alasan kegagalan tersebut.

John Nixon, analis CIA yang pertama kali menginterogasi Saddam setelah ditangkap pada Desember 2003, mengatakan dalam sebuah buku bahwa pejabat intelijen AS dan Gedung Putih memiliki pandangan keliru atas pemimpin Irak.

Jauh dari menjadi seorang diktator yang berkuasa, Saddam selama tahun terakhir kekuasaannya “tampak mengetahui tentang apa yang telah terjadi di Irak”, tulis Nixon dalam kolom surat kabar baru-baru ini menjelang rilis Kamis (29/12/2016) tentang “Pembekalan Presiden: Interogasi Saddam Hussein”.

“Dia telah melalaikan apa yang dilakukan pemerintahnya, tidak punya rencana nyata untuk membela Irak dan tidak bisa memahami besarnya badai yang mendekat”, kata Nixon. “Saddam sibuk menulis novel pada tahun 2003. Ia tidak lagi menjalankan pemerintahan”.

Namun para pejabat tinggi AS pada waktu itu sangat yakin bahwa menggulingkan rezim Saddam akan mengarah ke perdamaian di Irak, kata Nixon.

Nixon menceritakan pengarahan Bush di Kantor Oval pada tahun 2007, sebuah penggantian yang mungkin menggarisbawahi mengapa AS ditakdirkan untuk gagal di Irak.

Bush pada waktu itu meminta Nixon untuk menggambarkan karakter Saddam.

“Saya katakan kepadanya bahwa ia telah dilucuti sejak awalnya dan menggunakan akalnya untuk mencela diri sendiri dan memudahkan Anda”, katanya.

“Presiden Bush tampak seolah-olah akan kehilangan ketenangannya. Aku dengan cepat menjelaskan bahwa Saddam sebenarnya adalah sarkastik, arogan dan sadis, yang tampaknya ucapanku tersebut menenangkan Bush kembali”.

Bush “menyalahkan lembaga (CIA) untuk segala sesuatu yang tidak beres dan menyebutnya sebagai analisa tebakan, sementara Bush hanya mendengar apa yang ingin didengarnya”, kata Nixon.

Mantan analis tersebut melukiskan gambaran kompleks Saddam sebagai seorang diktator brutal melalui metode seperti pembunuhan, ancaman dan intimidasi itu namun ia tetap mampu menjaga keseimbangan dalam beragam etnis Irak.

“Walaupun saya ketahui bahwa Saddam benar-benar tidak disukai, tapi saya menghormati bagaimana dia mampu mempertahankan bangsa Irak secara keseluruhan seperti yang selama ini dia lakukan”, menurut sebuah kutipan dari buku Nixon diterbitkan oleh Time.

“Mustahil bagi kelompok seperti ISIS akan mampu menikmati suatu keberhasilan di bawah rezim represif seperti Saddam”.

Sumber: Japan Today

Artikel Terkait :

  7 Responses to “Saddam Masih Menghantui Washington Setelah 10 Tahun Kematiannya”

  1. Sejarah Tragis tralala yg tak pernah dibayar AS untuk membangun negeri Irak kembali pulih…dan menciptakan boneka* surban ,Ayo siapa yg huru-hara naik jeep putih aseng…anda bisa tebak sendiri..

  2. kegagaln strategi AS..pecundang…..dan para pecundang ada d negri kita yg menginginkn kekacaun antar etnis..untng tuhan melindungi RI semoga RI tetap damai..amin.. rakyt.y lebih dewasa dlm berfikir dari kaum yg kata.y intelektual..dan menggap diri.y suci..

  3. Selalu sj yg diintervensi oleh usa tdk pernah bs tenang dan damai pemerintahannya,manajemen perang setelah perang penghancuran pemerintah syah terselesaikan,memang disengaja agar pemeri tahan yg baru tdk kuat dan selalu tergantung kpd usa

  4. Amerika dari dulu itu busuk dan pengecut sial. Kesimpulan anak SD di pake buat menintimidasi saddam husein dan langsung main invasi aja, akhirnya ya itu tu jadinya, 4000 serdadu gugur secara konyol demi george bushuk..

    seenaknya menggulingkan pemerintahan suatu negara yg sah dan sekarang di gerilya oleh para bekas tentara irak, selamat menikmati laaah..

  5. Perang yang dilandasi dengan kebohongan dan fitnah tidak akan menuai kemenangan..

  6. Polisi dunia akan berlaih tangan ke rusia
    Penyeimbang ekonomi RI dimpimpin tiongkok
    Kekuatan militer ada di ASIA, sedang AS tetap menjandi perongrong dunia yaa kalaupun tumpul