Simulasi Pesawat Tempur KFX Korea

Simulasi virtual grafik pesawat tempur KFX C103 Korea Selatan oleh DD Destroyer.

Simulasi virtual grafik 2 oleh DD Destroyer.

https://www.youtube.com/watch?v=z24jefv5f5Q

KFX C103 twin engine
KFX C103 twin engine by Korea Aerospace Industries (KAI)
KFX E Single Engine
KFX E Single Engine by Agency for Defense Development (ADD)
KF-X Alternatives
KFX-E by KAI KFX C103 by ADD
Weight, empty 9.3 metric tons (20,500 lb.) 10.9 metric tons (24,000 lb.)
Weight, max. 20.9 metric tons (46,000 lb.) 24 metric tons (53,000 lb.)
Internal fuel 3.6 metric tons (8,000 lb.) 5.4 metric tons (12,000 lb.)
Span 9.8 meters (32 ft.) 10.7 meters (35.2 ft.)
Length 15.2 meters (50 ft.) 15.7 meters (51.3 ft.)
Wing area 37.1 sq. meters (400 sq. ft.) 42.7 sq. meters (460 sq. ft.)
Engine 1 X P&W F100 or GE F110 2 X EJ200 or GE F414
Hardpoints 9 10
Weapons bay None Space provided

Korean Aerospace Industries (KAI) has developed a single-engined version of the Korean Fighter Xperiment (KFX) indigenous stealth fighter prototype in an effort to get the stalled programme back on track.

Officials at the Seoul Aerospace and Defence Exhibition (ADEX 2013) told IHS Jane’s that the single-engined version, dubbed the C501, was a low-cost option that combined elements of the in-production FA-50 light fighter and the twin-engine KFX technology demonstrator, called the C103, that completed its technical development in 2013.

The KFX programme was announced in 2001 and originally conceived as a twin-engine stealth multirole fighter with stealth characteristics. Technical development of the first prototype, dubbed C103, was completed in 2013 and South Korea entered an agreement with Indonesia in 2011 to share the cost of developing the platform. (janes.com/KAI)

Diego

Alutsista militer indonesia, teknologi, politik

31 thoughts on “Simulasi Pesawat Tempur KFX Korea

  • November 24, 2013 at 10:19 pm
    Permalink

    Mantap, sayang susah mendarat 😀 di video ini KFX kelihatannya sd h dilengkapi thrust vector control, mudah2an aslinya juga sama

    Reply
  • November 25, 2013 at 1:10 am
    Permalink

    Dapat komentar dari artikel aviationweek.com:

    SlowMan / 11:14 AM on 11/22/2013:

    The KFX is an air-defense fighter. The F-35 is an attack jet. The ROKAF explained that they would use the F-35 only for F/A-117 style missions, namely striking on critical targets(such as Kim Jong Un) in the opening hour of war and needed only 20 for this role. The ROKAF insists the F-35 would not do anything else, nor is the F-35 Block 3F even capable of doing SEAD, naval strike, air-defense, bunkerbusting, etc.

    As for the KFX program, its survival prospect is now raised to 90%+ because the military brass appears to be very determined to make it happen. People never heard the military officials sounding this much determined before, going from speaking of KFX as something that “may happen” to “will happen”.

    The reality is that they have some 200 fighter jets to replace and they cannot replace them with the F-35s. Putting the KFX on fast track was done to appease the local aerospace industry which strongly backed Boeing’s bid, that they would still have a new project to work on.

    So this is at least one positive outcome of this fiasco, that the uncertainty surrounding the KFX has been removed and the KFX is being promoted as the most realistic means to fill the fighter gap left open by this decision, and that it’s going to be a twin engine jet. The single engine one proposed by KAI(and Lockheed) was given the boot. Interesting thing is now what Lockheed will do to deal with its “KFX problem”.

    The “latest” model was an unofficial private proposal with no code name. Already tossed out because the defense ministry spokesman announced they were going for a twin-engine design because of the thrust requiremet.

    The KFX approved for full scale development yesterday is not the F-50 ADV model that Lockheed Martin was hoping to sell; it is a twin engine jet with at least 40,000 lbs+ thrust, possibly more. Lockheed is offering to work as a subcontractor/consultant on a jet intended to outrun, out climb, and out turn an F-35, and sell for less than an F-35 too.

    Lockheed may have offered to the help based on their past T-50 experiences where they were able to guide then-inexperienced Korean industries to certain design targets, but things do not work like that this time around; the basic airframe design is already set to a twin-engine 40,000 lbs class thrust jet, and Lockheed will only be working as a subcontractor/consultant.

    Mantap. pilihannya kayaknya jatuh ke twin-engine, bukan upgrade dari T-50

    Reply
    • November 25, 2013 at 5:17 am
      Permalink

      Kedua jenis mesin di atas EJ200 dan F414 belum supercruise yah.. Masih after burner untuk supersonic nya. Tapi not too bad lah untuk negara pemula yg ingin membuat pesawat stealth semacam Korea dan Indonesia. Bertahap juga bagus.

      Reply
    • November 25, 2013 at 9:12 am
      Permalink

      Sudah bung WH, EJ200 dan F414 udah didisain supercruise, sangat kuat………….
      Supercruise adalah kemampuan “Disain” pesawat untuk menuju kecepatan Supersonic (mach 1 keatas) tanpa Afterburner, namun tetap Afterburner dibutuhkan untuk mencapai Mach 2

      tidak diharamkan mesin AL-31F (yang dipakai Sukhoi) digunakan untuk Supercruise, ASAL Disain pesawat dapat memenuhi untuk Supercruise

      Reply
      • November 25, 2013 at 10:09 am
        Permalink

        Apa ada peluang dalam kerjasama ini untuk menggunakan mesin yang berbeda?

        Reply
      • November 25, 2013 at 11:14 am
        Permalink

        Nikmatnya kita disain sendiri adalah kita bisa utak-atik disain semaunya, termasuk ganti mesin Rusia……
        Beda dengan kita beli jadi karena kita tidak diperbolehkan mengutak-atik bahkan mau upgrade pun harus ijin dulu…………

        Proyek KFX kalau tidak salah perjanjiannya mirip dengan CN-235, yaitu bila telah selesai (pesawat sudah produksi) maka selanjutnya kita akan berjalan sendiri-sendiri dalam meneruskan versi berikutya A/B/C/D…..

        Namun itu kalau tidak berubah,
        ditakutkan AS berupaya “mendikte” Korsel dalam proyek KFX, karena AS jadi “Assisten”, sama dengan kasus T-50 yang apabila Korsel mau merubahnya harus seijin AS

        Reply
        • November 25, 2013 at 11:37 am
          Permalink

          IFX dengan mesin AL-31F akan superior terhadap KFX dari segi perfoma, dalam wawancara video dikatakan KFX mempunyai kecepatan 1.8 mach, jauh dibawah Su-30/27.
          mudah2an memang seperti skema CN-235 itu dengan pilihan2 luas. Pesawat tempur indigenous Indonesia akan kehilangan “arti” jika jeroan elektroniknya dipasok dan diawasi USA

          Reply
        • November 25, 2013 at 12:58 pm
          Permalink

          pake mesin dong feng aja bro hehe

          Reply
          • November 25, 2013 at 2:00 pm
            Permalink

            Wkwkwk… klo ane lebih suka pakai mesin Yuchai atau Wechai. Sasis pakai Golden Dragon atau ZhongTong

    • November 25, 2013 at 10:04 am
      Permalink

      Dengan negara asal GE F414 RI pernah merasakan getirnya embargo.

      Sementara EJ200 adalah buatan EuroJet Turbo GmbH, negara bude Merkel, yang kemarin bersikap manis terhadap RI ketika sebuah negara smurf sotoy.

      ‘Our interests are eternal and perpetual’ kata Henry John Temple, demi kepentingan nasional RI ke depan sebaiknya diusahakan max agar setiap kebutuhan alutsista ketiga angkatan dari Eropa Barat diprioritaskan ke Jerman dulu, sehingga hubungan kedua negara semakin dekat.
      (Just kick the smurf country out of equation…)

      Tentunya alternatif mesin Rusia akan sangat bagus sepanjang dimensi2nya cocok dengan airframe IFX…

      Reply
      • November 25, 2013 at 3:34 pm
        Permalink

        Sekedar catatan: negara frau Merkel ini adalah yang pertama menggelar pespur jet , Messerschmitt Me 262 Schwalbe. Dengan sendirinya mesin Junkers Jumo 004 adalah mesin jet pertama yang operasional. Proses perancangan Me 262 dimulai sebelum PD II.

        Reply
        • November 25, 2013 at 4:37 pm
          Permalink

          Luar biasa memang.
          pesawat jet, roket semua warisan Jerman. tanpa blunder politik partai Nazi bahasa internasioal dunia bisa2 adalah bahasa Jerman. Russia dan USA sama2 hanya menjiplak dan kemudian mengembangkan warisan teknologi Nazi Jerman

          Reply
          • November 25, 2013 at 5:46 pm
            Permalink

            Iya bro, Amerika dengan Operation Papperclip. Rusia malah lebih sadis lagi, langsung menawan ilmuwan2 tsb ditempatkan di fasilitas2 laboratorium militer mereka.

        • November 25, 2013 at 5:17 pm
          Permalink

          Iya, kalau kita dekat dengan Jerman, siapa tahu dikasih bonus arsip gambar2 bulukan roket V2, lumayan 68 tahun lalu diameternya udah 1,500mm, sementara RX-550 kita entah kapan akan terbang…

          Roket V2 juga telah menerapkan thrust-vectoring dengan sirip/vane grafit.

          The Germans, who had developed the V2, used graphite vanes in the rocket jet to provide thrust vector control.

          Reply
          • November 25, 2013 at 5:25 pm
            Permalink

            Technischen Universität Berlin, one of the largest and most prestigious research and education institutions in Germany, telah berbaik hati berbagi ilmu rekayasa satelit mikro dengan Lapan.

    • November 25, 2013 at 1:29 pm
      Permalink

      EJ200 aja, versi yg dilengkapi dgn thrust vectoring. Jika pesawat memiliki aerodinamika yg tepat, bisa seperti eurofighter yg dpt langsung menanjak tegak lurus sesaat setelah tinggal landas, mirip2 F22

      Reply
    • November 25, 2013 at 9:12 pm
      Permalink

      KFX DAN KFX-E
      Indonesia ikut bekerja sama dengan KorSel dalam pengembangan pesawat siluman KFX melalui Agency for Defense Development (ADD), dengan prototipe terakhir yg diusulkan adalah C-103. Dalam perkembangan terakhir seperti diberitakan sumber http://www.aviationweek.com/Article.aspx?id=/article-xml/AW_10_28_2013_p24-629700.xml : Korea Aerospace Industries (KAI) mengusulkan prototype yg lebih kecil KFX-E. Perbandingan spesifikasinya seperti yg Bung Diego sampaikan.
      Menarik bahwa wing loading keduanya persis sama, 563 kg/m2 (pada berat max), lebih tinggi dari F-16 kira2 430 kg/m2, dan seri Flanker kira2 400 kg/m2. Artinya baik KAI KFX-E maupun ADD C-103 akan kurang lincah dibandingkan dengan F-16 dan Flanker. Jarak tempuh ataupun radius tempurnya (clean) kira2 akan sama atau sedikit di atas F-16, namun tetap akan dibawah Flanker. Kalau bawa drop tanks nanti hilang sifat silumannya. Kecepatan maksimum dan ketinggian terbangnya begitu pula. Singkatnya kinematikanya akan tetap kalah dari Flanker.
      Mengenai persenjataan, KFX-E tidak mempunyai indoor weapons bay, total hardpoints 9, sedangkan C-103 rencananya akan punya indoor weapons bay total hardpoints 10. Bandingkan dengan Flanker dengan 12 total hardpoints. Kalau KFX-E dan C-103 mau bawa di cantolan, maka sifat silumannya hilang berubah jadi pesawat biasa sekelas F-16.
      Akhirnya kelebihan duo KorSel ini hanya pada sifat silumannya dan peralatan deteksinya radar (lihat komentar saya di Proyek Pesawat Tempur KFX Dipercepat). Pertanyaannya apakah teknologi siluman dan radar akan diberikan oleh Amerika seutuhnya? Pendapat saya tidak, karena nanti akan bersaing dengan F-35, dikuatirkan bahwa KFX-E dan C-103 akan menjadi semacam poor man’s copy dari F-35.
      Semua jeroannya KFX-E dan C-103 berasal dari Amerika, apa kita tidak kapok diembargo? Apakah tidak lebih baik bila kita bekerja sama dengan Rusia (seperti India) untuk urusan ini, mumpung belum terlambat.

      Reply
  • November 25, 2013 at 1:18 am
    Permalink

    Pelajaran dari pembuatan KFX ini menunjukkan bahwa untuk membuat alutsista yang baru, memang membutuhkan asistensi. Lirik —> roket Lapan

    Reply
    • November 25, 2013 at 9:27 am
      Permalink

      Semuanya bung Diego, Kalau ingin Cepat bisa dan lebih murah harus ada Asistensi atau ToT………..
      Kalau tidak, kita butuh waktu yang lama untuk Trial and Error dan butuh waktu yang sangat lama……

      Kita butuh Pijakan atau Basic Step untuk menuju kemandirian

      Ilustrasinya seperti BIMBINGAN BELAJAR untuk Tes UMPTN
      Kalau belajar sendiri, selama Otaknya “Kuat” dan “Sabar” ya ngak papa……………….

      Reply
    • November 25, 2013 at 1:44 pm
      Permalink

      untuk masalah roket apakah LAPAN yg tidak mengiginkan asistensi atau negara yg tdk berusaha mencari asisten yg tepat untuk LAPAN.?
      trus apakah hnya cina yg menawarkan TOT untuk rudal atau sebenarnya masih ada negara lain yg bersedia transfer tekhnology rudalx untuk indonesia.?

      Reply
      • November 25, 2013 at 9:07 pm
        Permalink

        ada bung, sebuah negara pecahan di eropa. china just talk only..

        Reply
      • November 26, 2013 at 2:24 pm
        Permalink

        Setau ane lapan juga dpt asistensi dr ruski tp bersifat rahasia n tetep aja ilmuan itu pelit untuk urusan detail proses/formula yg dia lakukan. Jd ToT itu memang hrs dicuri.

        Reply
  • November 25, 2013 at 1:38 am
    Permalink

    TVC untuk twin engine? more 40,000 lbs trust..kok kesannya lockheed setengah-setengah ya bung?..segan sekali. dengan misi terukur untuk pesawat ini sebagai air defense?..untuk menutup Gap 200 pesawat di kelasnya sekaligus merangkul kelompok pesawat yang harus digantikannya adalah wajar kalangan militer korsel menghendaki setipe F-35. Tapi rasanya militer kita tidak melihatnya di kelas yang sama bila disepadankan dengan “kemungkinan” akuisisi tipe pakfa.

    Reply
  • November 25, 2013 at 2:34 am
    Permalink

    Kenapa indonesia gak ikut proyek ini gan…
    Padahal pesawat masa depan RI..

    Reply
    • November 25, 2013 at 11:45 am
      Permalink

      rencana pemilihan dan pembelian pesawat tempur baru ini adalah urusan dalam negeri Korea gan, memang ada hubungan dengan upaya mendapatkan teknologi bagi proyek KFX Korea. pada proyek KFX/IFX itu baru ada sangkut paut dengan Indonesia.

      kenapa kita ribut ngomongin urusan dalam negeri Korea ini adalah karena jika KFX menggunakan teknologi USA maka ada kekhawatiran mengenai kualitas ToT untuk Indonesia nantinya, mengingat teknologi generasi 5 sangat ditutupi USA bahkan kepada sekutu2 terdekatnya (F22-F35). Padahal ada ToT itu seluruh makna krjasama dengan Korea, jika asal pesawat 4++ sudah banyak tawaran yang datang, namun kemudian kita akan tetap menjadi konsumen pesawat tempur yang akan selalu berada di bawah tekanan politik asing

      Reply
  • November 25, 2013 at 9:40 am
    Permalink

    @Bung Diego, berita dan artikelnya mulai kurang nih, usul ya, gimana kalau mulai dimuat, ttg R&D dan pemutakhiran berbagai alutsista dunia. supaya dapat pencerahan nih.

    Thanks.

    Reply
  • November 25, 2013 at 10:06 am
    Permalink

    “a jet intended to outrun, out climb, and out turn an F-35 for less price” sounds like Sukhoi isn’t it?.

    Reply
  • November 25, 2013 at 11:54 am
    Permalink

    dari perkembangan berita diperoleh kesan KFX akan langsung mengejar kemampuan 5th G daripada 4++, dan 5th G parameter utamanya adalah kemampuan siluman. Tapi design masih mempunyai hardpoints pada semua type walau versi ADD mempunyai weapons bay

    Reply
  • November 26, 2013 at 4:52 pm
    Permalink

    @anak johor…

    mesmerized?

    lost for words?

    would love to hear from you…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *