Dec 022012
 

Frgate KRI Oswald SIahaan, Van Speijk Class

TNI AL terus berbenah memperbaiki armada kapal perang mereka agar semakin disegani dan berwibawa. TNI AL harus memutar otak di tengah keterbatasan anggaran dan dominasi kapal tua yang mereka miliki. Alhasil ditemukan sebuah proyeksi yang dianggap mumpuni, walau dalam keterbatasan anggaran.

Saat ini TNI AL terus menguji coba kemampuan rudal yakhont berdaya jangkau 300 km di frigate KRI Van Speijk Class. Rudal Yakhont ini baru dipasang di satu KRI Van Speijk Class, KRI Oswald Siahaan.

Dalam  ujicoba pertama, rudal yakhont sedikit oveshot dari sasaran. Setelah dilakukan evaluasi, satu tahun kemudian dilakukan ujitembak yang kedua. Hasilnya sangat memuaskan.  Banyak yang tidak mengangka, satu tembakan yakhont langsung menenggelamkan KRI Teluk Berau.  Hal ini menyebabkan rudal exocet, C-705 dan Torpedo SUT, tidak jadi diujicoba, karena target langsung tenggelam setelah dihantam Yakhont.

Ujicoba Rudal Yakhont 1

Ujicoba Yakhont 2012

Dengan suksesnya ujicoba ini, semua Frigate KRI Van Speijk class akan dilengkapi rudal yakhont yang dipesan Indonesia ke Rusia sebanyak 50 unit .

Heli OTHT

KRI kelas Van Speijk  juga akan dilengkapi helikopter over the horizon target (OTHT) untuk memandu rudal yakhont menuju sasaran yang berada di luar cakrawala. Jarak pandang visual ataupun kemampuan radar hanya 20 hingga 40 kilometer karena pengaruh lengkungan bumi.

Dengan datangnya helikopter OTHT nanti, masih diperlukan ujicoba rudal yakhont untuk sasaran bergerak, sekaligus menguji moda mid course update dari rudal yakhont. Helikopter itu akan menjadi datalink antara kapal dan rudal, sehingga kapal petembak bisa terus mengupdate arah rudal  menuju sasaran.

Helikopter OTHT mutlak dibutuhkan kapal perang open sea. Dengan adanya datalink antara kapal dan helikopter, maka kemampuan penginderaan kapal perang akan bertambah menjadi ratusan kilometer.

Selain bisa menembak sasaran dari jauh, dia juga bisa mendeteksi ancaman musuh secara dini, seperti ancaman rudal jarak jauh ataupun pesawat tempur.

Jika rudal yakhont dan sistem datalink Frigate KRI Van Speijk class sudah bekerja dengan baik, maka kemampuan sistem persenjataan anti-udara perlu ditingkatkan.

Dengan demikian ke depannya TNI AL akan memposisikan frigate KRI Van Speijk  Class sebagai  sebagai kekuatan  strategis  TNI AL di lautan.

Kualitas Kapal Perang

Untuk urusan kualitas kapal perang, TNI AL mengandalkan armada: Korvet Sigma Class, Frigate PKR 10514, dan Light Frigat Nakhoda Ragam Class. Kapal kapal perang ini akan dilengkapi peralatan militer mutakhir,  antara lain mengusung Exocet Block  Block III dari Perancis, Stingray dari Inggris, serta piranti perang elektronik terbaru.

Disain Light Frigate Sigma10514

Karena jumlah kapal frigate dan korvet Indonesia masih sedikit dibandingkan luas laut Indonesia, maka dibutuhkan banyak kapal kecil/ fast boat namun mampu bertempur melawan kapal yang lebih besar.

Posisi ini ditempati oleh berbagai kapal cepat rudal yang mengusung  missile C-705 China . Kapal-kapal ini antara lain: KCR 40 seperti Clurit Class, KCR 60, Trimaran Class, Mandau class, Todak Class dan sebagainya. Rudal-rudal jenis Harpoon maupun C-802 akan digantikan rudal C-705 produksi bersama China dan Indonesia.

Fast attack missile boat KCR 60

Dengan demikian frigate Van Speijk Class akan berfungsi sebagai kapal perang laut bebas/ ocean target untuk sasaran jarak jauh. Sementara untuk littoral target atau anti-access tactic, dibebankan kepada Kapal Cepat Rudal C-705.

Adapun Korvet Sigma Class, Frigate PKR 10514 dan Light Frigate Nakhoda Ragam Class, akan berada diantara  ocean target dan litoral target.

Missile C-705

Rudal C-705 dianggap tepat untuk dipasang di kapal-kapal cepat rudal  (KCR), yang jumlahnya memang sedang diperbanyak oleh TNI AL.  Dari segi ukuran rudal ini lebih kecil dari rudal C-802, namun teknologi C-705 lebih mutahir.

Berkat  bobot hulu ledak C-705 sebesar 110 kilogram, membuat kapal patroli cepat TNI AL yang relatif kecil (250-300 ton) ,memiliki kemampuan menghancurkan kapal yang lebih besar (up to 1500 ton) .

Selain itu, harga rudal C-705 jauh lebih murah dibandingkan rudal Exocet dan sejenisnya. Dengan harga yang lebih murah ini, TNI AL memiliki anggaran yang mencukupi untuk memiliki rudal C-705 dalam jumlah banyak. Hal ini bisa terjadi karena rudal C-705 sebagian akan diproduksi di Indonesia.

Rudal C-705

Rudal C-705 memiliki jangkauan  75-80 kilometer. Jika ditambah roket booster jangkauan terdongkrak hingga 170 Km, sehingga bisa juga disebut rudal lintas cakrawala (over the horizon target) atau memiliki kemampuan tempur di open sea/ ocean target.

Kemampuan armada kapal cepat rudal ini akan semakin maut, dengan hadirnya KCR jenis Trimaran yang sedang dibangun kembali, setelah terjadinya tragedi terbakarnya KRI Klewang yang berkemampuan stealth.

Untuk urusan kapal selam,  TNI AL telah meng-overhaul dan retrofit KRI Cakra serta Nanggala di Korea Selatan.  PT. PAL Indonesia juga bekerjasama dengan DSME Daewoo dalam pelatihan 200 insinyur Indonesia. Selama tiga hingga empat tahun, mereka akan berada di Korea Selatan untuk terlibat dalam pembangunan 3 kapal selam Changbogo. Dua kapal selam akan dibangun di Korea Selatan, sekaligus proses alih teknologi. Satu kapal selam lainnya  dibangun di PT PAL Indonesia (JKGR).

  89 Responses to “Strategi Armada Perang TNI AL”

  1. yg membingungkan cuma missil C 802…
    Apa missil ini memang sudah resmi dipakai TNI AL….sejak kapan? Lalu, kalau memang sudah dipakai, kok singkat sekali….dan itupun akan diganti dgn C 705 pd tahun depan….apa ini cuma sekedar produk sample produk dari RRC utk TNI AL?
    Juga saya dengar, katanya C 802 ini juga dipasang di van speijk class….bagaimana cara menginstallnya itu barang?
    Pakai kotak peluncur model harpoon atau pakai sistem VLS ?
    Rasanya soal ini, benar2 minim info….apalagi foto,,,,

    • Rudal anti kapal permukaan sudah mantab, tapi penangkal dari serangan udaranya masih minim,malaysia,thailand,australia sudah pakai RIM (50km),singapura punya Aster 30/60km, kita masih mengandalkan canon & VSHORAD (6km), bagaimana kalau lawan merudal duluan, semoga ada perubahan, mumpung AS/Eropa lagi mengobral alutsista ke RI, Apache,Leopard & Javelin saja dikasih, apalagi hanya rudal anti udara jarak menengah untuk KRI. VIVA TNI-AL.

      • Lho Rudal Anti serangan Udara di Nahkoda Ragam kan Bagus,… pake Sea Wolf,.. yang tinggal diperhatiin adalah CIWS utk kelas KCR 40 & 60,… sampe sekarang masih Manual masih menggunakan Vektor G12 buatan Denel dari Afsel,.. ada yang bilang akan diinstal CIWS Phalanx dari Belanda sampe CIWS dari Cina,… tapi yang bikin bingung CIWS PKR yang baru akan dibuat konon akan menggunakan CIWS Oerlikon Millenium itu artinya ada peningkatan System,… selama ini hampir semua KRI menggunakan Mistral Simbad,… kecuali untuk kelas Korvet Parchim menggunakan AK-725 dari Papa Bear,,…. nah yang hibah dari Brunei KRI Sawaluku dan Badau menggunakan Kanon Oerlikon 30mm Twin Cannon,… Semoga Sedikit Ulasan Saya menambah Wawasan kita,.. Saya juga butuh tambahan masukan,.. Silahkan di Koreksi,..

        • Seawolf hanya -/+ 6km, Fregate & Korvet adalah aset yang mahal, wajib hukumnya punya penangkal jarak menengah, banyak type rudalnya yang canggih dan tidak memakan tempat, hanya soal kemauan, Yakhont segede gaban aja dibeli & muat,jadi kebanggaan TNI-AL.

          • loh ngga jadi masalah, yang penting akurat menghadang rudal anti kapal, kan KCR bukan difungsikan untuk menghadang pesawat atau rudal jarak jauh yang di tembakkan kedaratan indonesia atau bukan kapal yang difungiskan masuk jauh ke perairan bebas atau menyerang ke perairan lawan tapi untuk menghadang kapal2 lawan yang akan masuk. Jadi yang penting dia punya kemapuan menghancurkan kapal yang mendekatin pantai dan memiliki kemampuan mempertahankan diri. Menurut saya segera yang harus di bangun system pertahanan titik disetiap kapal yang berbasiskan otomasi komputer yaitu yang sering di dengar CWIS. Pesan saya pergunakan uang dengan baik yaitu dengan peralatan yang efektif dan efesien.

        • kalau pertahanan kapal korvet dan frigat untuk apa jarak menengah ? karena yang bisa dibawa maksimal hanya 4 unit, tanpa ada kemampuan reload.

          Lebih bagus Mistral, dengan fitur auto-reload seperti di korvet SIGMA, apabila ada rudal datang akan dicegat Mistral secara salvo, dan direload lagi. Murah Meriah dan sangat Efektif, korvet Sigma mampu membawa 60 unit Mistral, Woow !!!

          kalau Yakhont beda, karena bersifat Attack bukan pertahanan, jadi Hit and Run

          Destroyer pun belum tentu membawa SAM menengah, kecuali difungsikan khusus

          • Itu hanya masalah tekhnis, sebagai AL negara paling besar di ASEAN, pastilah menginginkan yang terbaik bagi KRI nya, kalau negara yang lebih kecil seperti malaysia,thailand & singapura mampu membelinya, pastilah TNI-AL juga bisa, hanya soal niat, mau main penangkis udara di SHORT terus atau naik ke MEDIUM, semoga ada harapan di MEF II.

          • Mau naik MEDIUM ? ya jelas om, tapi untuk di darat bukan KRI.

            mau yang terbaik di KRI ? ya jelas om, tapi jangan ngawur, tak ada gunanya alias mubadzir, buang-buang uang, mending uangnya beli S-300 untuk TNI-AU atau TNI-AD

          • Pengetahuan anda tinggi tapi menghambat & menyesatkan, apakah anda temannya ramlee?

          • menghambat & menyesatkan ?

            tolong dong diperjelas, agar lainnya tahu ?

          • Om Melektech: Mistral bisa mencegat rudal anti kapal nggak? Gimana kl musuh yang duluan nembak rudal anti kapal dr jarak over the horizon? Bagaimana kl KRI kita disalvo sama pesawat udara atau helikopter Malaysia misalnya, dengan menggunakan Sea Skua, Kh-31, atau bahkan Maverick sekalipun yang jelas-jelas jarak jangkauannya jauh melebihi maximum range Mistral yg cuma 6 km. Ketiganya udh resmi masuk inventory mereka lho. Pesawat-pesawat mereka bakal dengan bebas menembaki KRI-KRI kita dgn rudal yg mereka bawa dari jarak aman, dimana KRI kita nggak bs balas menembaki pesawat-pesawat tsb. Sedangkan kl dilengkapi SAM jarak menengah kan at least KRI kita punya kesempatan menembak jatuh pesawat musuh sebelum pesawat tsb bisa menembakkan rudalnya ke KRI yg bersangkutan.

          • 1. kalau Malaysia menyerang seperti anda sebutkan, berarti kita dalam kondisi perang, maka malaysia tidak bisa seenaknnya menyerang seperti anda sebutkan diatas
            2. kondisi diatas HANYA ada di GAME strategi anak SMP-SMA.
            3. dalam kondisi perang, maka KRI tidak sendirian, Sukhoi dan F-16 kita telah siap sedia DHUBUNGI KRI. apabila diserang. paling banter mereka hanya meluncurkan 2 – 4 rudal OTH, sama kasusnya seperti perang malvinas, maka dengan mudah ditangkis MISTRAL.
            4. sebelum rudal mencapai KRI, Sukhoi yang sudah dihubungi KRI udah mencegat dan Fight dengan pesawat musuh yang meluncurkan rudal tersebut, dan menjatuhkannya
            5. bersamaan dengan itu armada sukhoi lainnya melakukan serangan balik seperti yang mereka lakukan dengan dahsyat
            6. dengan KEPIAWAIAN pilot kita, semuanya kembali ke base dengan selamat
            7. Panglima Malaysia dicopot dari jabatannya, karena kebodohanya, kemungkinan karena kecanduan bermain game strategi…he…he..he

          • 1. Justru itu skenario kalau terjadi perang, kalau dalam kondisi damai mana ada cerita tembak-tembakan rudal? Trs siapa bilang Malaysia tidak bisa seenaknya berbuat spt itu? Lah mereka punya 18 Su-30 MKM, 8 F-18 Hornet, dan 15 Mig-29 kok. Om yakin semua itu bisa ditangkis dan diusir sekaligus sm 10 Su-27/30, dan 10 F-16 Block 15 kita?
            2. Mistral bisa nangkis rudal anti kapal, itu yang justru cuma ada di khayalan anak-anak SD. Produsennya aja nggak pernah mengklaim Mistral bs mengintercept antiship missile kok, lah ini malah ada yang sesumbar dengan pedenya. Mistral itu buat menembak jatuh pesawat tempur dan helikopter, bukan rudal anti kapal.
            3. Satu pesawat Su-30 MKM punya 12 hardpoints yang bisa diisi beragam rudal sedangkan mereka punya 16 pesawat, jadi jangan bilang “paling banter mereka hanya meluncurkan 2 – 4 rudal”. Lagipula perang Malvinas sudah itu contoh tahun berapa sih? Masih valid nggak sedangkan teknologi sudah jauh berkembang sekarang? Contoh yang lebih fresh mgkn bisa diambil bagaimana sekutu menghancurkan hampir seluruh armada AL Iraq waktu Perang Teluk I, sebagian besar dihancurkan oleh rudal yang diluncurkan dari helikopter atau pesawat tempur. Sekali lagi, coba tunjukkan literatur atau link manapun yang menyatakan bahwa mistral bisa menangkis rudal anti kapal.
            4. Pertama, “sebelum rudal mencapai KRI, Sukhoi yang sudah dihubungi KRI udah mencegat dan Fight dengan pesawat musuh yang meluncurkan rudal tersebut, dan menjatuhkannya” emang om pikir berapa jam sih yang dibutuhkan bagi rudal antikapal buat mencapai sasarannya? Yakhont kita aja cuma butuh waktu 8 menit untuk mencapai sasaran sejauh 182 km, itu pun dalam situasi perang paling rudal baru bisa dideteksi oleh musuh ketika sudah berjarak 100 km yang artinya waktu reaksi mereka cuma sekitar 5 menit. Apa dalam hitungan menit itu cukup buat Sukhoi dan F-16 kita melakukan pencegatan?

            Walapun pesawat kita bisa berusaha mencegat sorti pesawat musuh yang akan menyerang armada KRI kita, ada 2 faktor yang harus dipertimbangkan:
            – Kl sortie musuh itu terbang rendah di bawah garis horizon (untuk melakukan surprise attack), bisa saja mereka baru terdeteksi oleh radar ketika sudah dekat sekali, jadi jet tempur kita terlambat untuk bisa mencegat mereka.
            – Kalau mereka memecah kekuatan mereka menjadi dua: 1 flight untuk mencegat pesawat kita yang berusaha mengintercept dan 1 lagi tetap menuju sasaran, apalagi mereka punya kuantitas pesawat yang melebih yang dimiliki oleh TNI-AU. Mustahil dengan jumlah pesawat kita yang ada sekarang bisa mencegat semuanya, pasti ada yang lolos. 1 saja yang lolos, maka pesawat itu bisa meluncurkan rudal anti kapal dalam jumlah lumayan banyak (mengingat Su-30 MKM punya 12 hardpoints buat membawa rudal). Dan jangan bilang rudal-rudal musuh bisa ditangkis dgn mistral, karena itu tidak benar (buktikan dengan literatur yang valid kl memang klaim anda benar). Kalaupun mistral misalnya bisa menangkis rudal musuh, dengan jarak maksimal 6 km berarti kru KRI kita cuma punya waktu reaksi belasan detik sebelum rudal lawan menghantam kapal. Dan bagaimana pula kalau salvo rudal musuh jumlahnya lebih dari 4?
            5. Serangan balik? Wong menghalau serangan awal mereka aja mungkin kita kewalahan kok kalau cuma punya 10 Sukhoi. Selain itu, untuk misi pencegatan thd pesawat tempur lawan tentu Sukhoi kita bakal dioptimalkan loadout tempurnya dgn rudal anti pesawat dalam jumlah banyak. Sy nggak yakin setelah itu mereka bisa langsung nyerang balik, pasti harus return to base dulu buat isi ulang bahan bakar dan persenjataan. Skenario anda justru menunjukkan skenario perang seperti dalam game anak SMP-SMA.
            6. Kepiawaian pilot kita segimana sih? Ada ukuran pastinya nggak? Udah pernah belom dibandingkan dengan kepiawaian pilot malaysia? Sok yakin bahwa pilot kita super duper jago dan pilot mereka goblok-goblok semua itu namanya chauvinisme, dan chauvinisme buta nggak pernah memenangkan pertempuran. Justru sejarah menunjukkan pihak yang sok yakin dan kepedeean sebelum bertempur hampir selalu kalah dalam perang. Perancis dulu yakin banget Jerman nggak bakal bs melewati Maginot Line, akhirnya terkejut ketika Jerman melakukan Blitzkrieg lewat Belgia dan Belanda. Amerika dulu yakin banget Jepang nggak bakal bisa melakukan serangan udara jarak jauh, akhirnya terkejut ketika terjadi serangan thd Pearl Harbor. Kepedean dan menganggap remeh lawan itu selalu mengakibatkan kekalahan.
            7. KASAL kita dan Panglima TNI dicopot dari jabatannya karena menganggap remeh lawan dan akhirnya menyebabkan belasan KRI kita ditenggelamkan dalam jam-jam pertama peperangan.

          • Pak Melek Tech, saya paham Anda bisa menjabarkan lebih dari itu. Sejauh ini sih umumnya simpel tapi sebetulnya banyak yang Anda keep, dan saya juga yakin Anda tidak akan terpancing untuk obral the truth di forum bebas ini. So bagi saya yang Anda sampaikan 50% pendapat pribadi dan 50% kontra intelijen. Thanks.

          • bung roger ini sangat meremehkan dan melecehkan martabat bangsa Indonesia, terutama TNI-AL !!!

            saya sangat setuju pendapat mr. Melektech !!!

            MAN BEHIND GUN bung.

            yang sok-sok an siapa ??? anda ???
            kalau mistral ndak bisa cegat rudal, kenapa dijual ??? padahal mistral itu laris manis di dunia

          • @ Yuhuuuu: iya Mistral memang laris, tapi fungsinya sebagai senjata anti serangan udara dari pesawat dan helikopter, bukan sebagai senjata anti rudal lawan. Coba cari mana link yang bisa membuktikan bahwa Mistral itu efektif utk mencegat rudal anti kapal?

          • CK…CK…ROGER…GANTI….

            http://www.mbda-systems.com

            MBDA : ” MISTRAL provides an extremely effective defence capability against all threats
            including anti-ship missiles, combat aircraft, UAVs, helicopters, as well as small surface
            threats……”.

          • @ Roger…..
            Dalam peperangan laut yg menggunakan kapal kombatan yang tentunya tergabung dalam 1 Gugus tugas ( task force) yanbg tentunya masing2 unsur sudah dibagi tugas sesuai dengan kemampuan tempur unsur tsb. contoh (kord. Sergapan Udara, Kord Sergapan Permukaan sampai Bawah permukaan dsb..dsb..) pada unsur/ kapal sendiri memiliki CIC(PIT) yg terdiri dari beberapoa personil yang mengawaki dan expert pada Console nya masing2. siapa yang mengawaki ESM, ECM, FC1,FC2 dst… siapa yang bertindak sebagai PWO (Principal Warfare Officer) perwira yang mengendalikan peperangan. ini sudah diaksanakan sangat terpadu untuk unsur2 AL kita selama bertahun2 melaksanakan latihan dan semuanya excpert pada bidangnya masing2. so jangan kuatir.

      • kabarnya PKR Light Frigate Sigma10514 akan menggunakan CIWS Oerlikon Millenium dari Jerman. seperti kita ketahui Oerlikon Millenium 35mm aslinya merupakan pengembangan dari sistem arhanud Oerlikon 35mm yang berbasis di darat. teknologi dan kemampuannya juga cukup tangguh, Pemasangan CIWS ini juga terbilang mudah, unutk memeasangnya tak perlu melubangi Hull kapal.

        • memasang CIWS harus disesuikan dengan besar kapalnya, dan peruntukan kapal untuk apa ?
          kalau KCR40 saya setuju dengan rencana semula, namun mungkin ada hambatan dalam mengakuisisi gatling canon 30mm dari rusia (politik), maka untuk “sementara”memakai Vector

          kalau KCR60, sama, lebih bagus pakai rudal sejenis Mistral, kalau terlalu berat akan kehilangan kelincahan dan jelajah

          baru sekelas korvet ke atas silahkan memakai rudal macam-macam, tentunya disesuikan dengan daya tampungnya

  2. numpang tanya .. gimana kabar TOT rudal C705? adakah perkembangannya?? mohon share infonya dong…

  3. C-802 : Indonesia mengakuisisi 20 unit (SIPRI) tahun 2008, dipakai di FAB-57 KRI Hiu (804) dan KRI Layang (805) dan sebagian kapal Light Fregat Van Speijk, namun versi ekspor C-802 sudah di down-grade sama China, nah TNI-AL berusaha mengembalikan down-grade itu, namun susah, maka program dialihkan ke C-705 yang merupakan proyek kerjasama.

    C-705 : China sudah OK, namun syarat politik yang diajukan China memberatkan Indonesia, makanya molor terus, karena dibutuhkan pemikiran yang lebih mendalam

  4. OWA 354 bener2 tua tua keladi..!!
    moga segera diduplikasi ke saudara2nya yang lain..
    Jalesveva Jayamahe!!

  5. Saya suka analis JKGR ini, tulisannya bagus , analis JKGR byk dipake blog 2 militer lainnya.
    Soal CIWS saya suka sistem CIWS yang dipakai itu adalah Oerlikon Millennium 35mm Naval Gun System. Bobot total Millenium 35mm hanya sekitar 3,2 ton, Millenium 35mm hanya membutuhkan ruangan seluas 6 meter persegi. . Memasang Millenium bahkan tak perlu melubangi Hull kapal, karena sistem ini bekerja secara mandiri. Klo soal rudal pertahanan udara, semua fregat dan light frgat harusnya sedah mendapat rudal pertahanan udara jarak sedang (wajib hukumnya), klo KCR atau korvet parchim cukup mistral atau sekelasnya.

  6. Betul kata “GUE”…
    SHORAD…wajib hukumnya dikapal2 yg “berharga”….harga vshorad tidak lebih worthed dibanding harga kapal baik fregat dan corvette.

    Kalo menurut ane…CWIS juga wajib hukumnya di kapal KRI kita…untuk yang kapal taktis cukup 1 diinsatll unit CWIS
    OErlikon milineum contraves sudah cukup mumpuni….

    Untuk kapal strategis (seharusnya) 2 CWIS….dengan maksud bisa melindungi kapal pada 360 derajat ancaman rudal musuh. Mungkin biaya lebih…tapi dibanding harga kapalnya…? :D

  7. sensor KCR 40 tu pake apa sih ,,,,
    tolong kasih tau selengkap lengkapnya,,,makasih,,

    • KCR-40 yang sekarang, perkiraan memakai Furuno FAR2127, biasanya untuk navigasi kapal sipil

      Sedang Radar Utama masih belum terpasang, perkiraan setali tiga uang dengan kapal FAB-57 yaitu : Thales Variant atau versi yang terbaru

  8. Artikel bagus, namun masih menyisakan pertanyaan. Apa iya fregat kelas Van Speijk masih akan efektif s.d. 2024 mengingat usianya sudah tua? Pilihan rudal Yakhont sudah tepat tetapi AL kita kekurangan platform unt mengusungnya. Apa mungkin PKR 10514 menggantikannya, mengingat rencana pembuatannya yg serba misterius, proses yg lama, harganya yg lebih mahal, dibuat per blok kemudian dikirim ke PT PAL utk dirakit/ selesaikan?
    Setahu saya, KRI Oswald Siahaan adalah kapal perang pertama yang beroperasi menggunakan rudal Yakhont dengan sistem VLS. Rusia sendiri sebagai negara pembuat rudal baru membangun kapal perang fregat kelas Admiral Gorshkov dengan senjata 2 x 8 VLS cells Oniks (versi Rusia SS-N-26). Kabar terakhir fregat ini baru akan masuk jajaran AL Rusia pada bulan Nopember 2013.
    Rudal Yakhont dibuat dalam 3 versi platform peluncuran yaitu dari kapal perang seperti punya TNI AL, dari darat seperti punya Vietnam, dan dari pesawat terbang (Sukhoi seri Flanker). Alternatif lain yg pasti lebih murah ada yaitu beli Yakhont versi darat. Beberapa batere bisa dipasang utk mengcover ALKI seperti selat Sunda, selat Makasar, dan perairan Natuna. Ini adalah sistem defensif seperti dipunyai Vietnam. Rudal Yakhont versi land based system P-800 Oniks / Bastion-P inilah yang harus dibeli. Sistem ini sifatnya defensif, karena itu tidak memberikan alasan bagi negara tetangga untuk umpamanya komplain dan protes.
    Dalam insiden Bawean di laut Jawa pada September 2008, gugus tugas kapal induk AL AS yang terdiri dari kapal induk USS Carl Vinson, dua fregat dan satu destroyer sedang melintas dan seenaknya menerbangkan F/A 18 Hornet mengganggu lalu lintas udara sipil. Mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional. Dua pesawat F-16 TNI AU yang dikirim untuk memeriksa dicegat oleh F/A 18 Hornet dan tidak bisa berbuat banyak kecuali meminta AL AS untuk menghubungi ATC terdekat. Untungnya insiden ini berakhir dengan selamat tanpa konfrontasi fisik. Insiden ini mengungkapkan ketidakmampuan Indonesia untuk menjaga “pekarangannya” (baca ALKI) dari pihak luar yang mengancam kedaulatan. Sepertinya ini disengaja oleh pihak AS untuk menekan Indonesia. Seandainya Indonesia telah mempunyai rudal Yakhont versi land based system P-800 Oniks / Bastion-P, apalagi ditambah dengan rudal SAM S-300/400, maka pasti AL AS maupun AL negara lain akan lebih menghormati kedaulatan maritim Indonesia. Dengan bergesernya kekuatan AS dan sekutunya ke Asia-Pasific, maka ke depan akan sangat sering gugus tugas AL mereka bolak balik melewati ALKI I dan II karena sudah padatnya lalu lintas kapal di selat Malaka.
    Satu batere P-800 Oniks / Bastion-P terdiri dari :
    ? 4 self-propelled TEL (Transportation Erector Launcher) K-340P dengan 2 rudal “Yakhont” (awak 3 orang)
    ? 1-2 Command and Control vehicles (ASBU) PBRK (awak 5 orang)
    ? 1 security alert vehicle (MOBD)
    ? 4 TLV (Transportation Loading Vehicle)(TLV K342P) (awak 2 orang)
    Berapa yang dibeli? Diusulkan 3 batere, satu diposisikan untuk pertahanan Selat Sunda ALKI I, satu lagi untuk Selat Makasar ALKI II, dan satu sebagai cadangan merangkap pertahanan Laut Jawa. Posisi ini adalah murni defensif. Karena mobilitas yang cukup tinggi maka dapat didorong untuk ofensif defensif misalnya ke Pulau Bintan, Natuna, Sangata, Palu atau Nusatenggara, sesuai keperluan. Negara pengguna di luar Rusia adalah Vietnam dan Siria, kemungkinan juga Venezuela.

  9. manstabs antonov, klo perlu pake platform dek kri banjarmasin, makassar ato surabaya

  10. Rudal mistral terbukt sanggup dan bisa menahan rudal yang mnyerang KRI kita.
    Karena kalau cermat menganalisa dlm rlelease dispenal dilatihan Armada jaya selalu mistral KRI sigma bisa menembak jatuh rudal seawolf yg ditembakkan sbg target simulasi rudal lawan atapun pesawat lawan..
    Karena kecpatan mistral lebih cepat darii seawolf ataupun harpon yang subsonik.
    Jadii itu bukti tuk mr roger.
    Pola strategi peperangan terbuka selalu diperbarui dan di padukan trimatra. Kekuatan TNI..dan dipraktekan dalam LATGAB TNI tiap 4 -5 tahun. .tuk polanya jelas rahasia TNI..
    Dan pastinya KRI dann TNI AL tdk akan sendirian..
    Man Behind ther Gun prajurit kita memang diatas negarara tetangga kita..karena ada jiwa militansi (Bonek) dan survival yg lebih unggul..dan itu diakui amerika maupun rusia setiap pelatihan pembelian senjata ataupun latihan bersama..
    Jadi janganlah meremehkan kekuatan bangsa kita ???????
    Ada pepatah latin :Animis Opibusque Parati – persiapkan segenap pikiran,upaya dan sumber daya untuk menghadapi kemungkinan apa pun.

    • Terbukti sanggup? Mana buktinya? Wong itu cuma omongan sampeyan doang kok dibilang bukti. Kalau memang ada buktinya mana kutipan atau link rilis Dispenalnya? Lagian sampeyan lupa ya kalau kita itu NGGAK punya rudal Seawolf, kalau nggak punya terus apa yg ditembakin? Yang kita punya itu rudal Seacat, itu juga rudal anti pesawat bukan rudal anti kapal. Kecepatan Mistral memang lebih cepat daripada Harpoon misalnya, tapi itu bukan bukti bahwa Mistral efektif buat mencegat rudal anti kapal. Yang paling penting itu sensitifitas seeker head nya alias sensor pendeteksinya, apakah emang didesain untuk bisa mencegat rudal anti kapal? Karena karakteristik terbang rudal anti kapal dan pesawat tempur itu beda lho, belum ngomong ukurannya yang juga berbeda. Pertanyaan kedua, gimana kalau rudal yang ditembakkan musuh itu rudal kategori supersonic spt Brahmos yg punya top speed mach 2,5 (bahkan lagi dikembangkan Brahmos versi baru yg bisa mencapai kecepatan mach 6)? Kl udah seperti itu otomatis rudal penangkalnya yang harus dipilih yang punya jarak jangkau jauh, spy KRI kita punya waktu reaksi yg lebih panjang untuk merespon serangan.

      Oke, oke memang ada yang namanya strategi trimatra yada yada yada, tapi kalau worst case scenario terjadi, misalnya AU musuh melakukan serangan dadakan ke pangkalan AU kita dan menghancurkan hampir semua armada AU kita (seperti waktu AU Israel melakukan hal yang sama terhadap AU Mesir waktu Perang Enam Hari dulu) misalnya, nah siapa yang bakal menjaga KRI-KRI kita? Benar kan walaupun KRI bisa dicover oleh jet tempur AU tapi dalam kondisi tertentu tetap harus mampu melakukan bela diri yang efektif secara mandiri toh? Lagipula kalau terus-terusan dikawal jet AU, ntar AU kita nggak bisa melakukan serangan balasan dong karena harus selalu standby mengawal armada KRI kita.

      Man behind the gun? Sejago apapun man-nya kalau gun-nya cuma make senapan angin pasti kalah lawan musuh yang make sniper rifle atau assault rifle dgn under barrel grenade launcher.

      Kata Sun Tzu kenalilah dirimu sendiri, kenalilah musuhmu.

      • Benar sampean MR Roger seacat maksutnya sering dibuat target tembakan tuk mistral..
        Buka aja link yangg mengabarkan ujicoba yakhont di latihan armada jaya tahun lalu pasti ada tentang itu,,,
        Dengan anggaran TNI AL yg terbatas diperlukan improvisasi dlm penggunaan alutsista ..seacat yg kecil bisaa disergap ama mistrall..mungkin TNI AL lagi bereksperimen,,misal dgn menembakan mistral dgn salvo..tuk sementara menghadapi rudal yg menyerang
        Saya setuju saja dengan mr roger penempatan anti pesawat jarak menengah ke semua KRI .semogaa ada anggarannya..tapi saya lebih setuju bila adaa anggaran diprioritaskan tuk membeli s-300 tuk melindungi dulu ARMATIM.yang banyak KRI (lebih darii 25 KRI) parkir disana karena kurangnya anggaran ??? tuk patroli,
        Juga melindungi ibukota Jakarta dan Lanud Iswahyudi..

        Mengenali musuh dan diri sendirii itu betul bangett.
        Kita kenali dan benahi diri sndiri dulu sampai kuat sesuai prioritas kebutuhan dan anggaran Sambil menjaga Atitude kita dlm pergaulan international. Jgn cari musuh dulu
        Bila anggaran sdh cukup baruu melengkapi yang blm ada..
        Banyak rahasia .yang kita tdk ketahui dlm speck sistim persenjataan kita..
        Tinggal kita rakyat yg harus pandai memilih pemimpin kita kedepan

      • mistral bisa difungsikan sebagai pertahanan titik anti misil, yang tercatat adalah tipe sadral tapi menurut saya versi tetral juga psti sudah bisa karena sama mengunakan radar sebagai penjejak target dan radar sebagai pengendali tembakan hanya perbedaan jumlah tabung misil, kalo dari segi kecepatan dan kemampuan rudal bermonuverdan akurasinya tidak di ragukan lagi
        ini linknya: http://www.army-technology.com/projects/mistral-missile/

    • Setuju, rudal hanud jarak menengah di KRI bisa digunakan untuk berbagai kemungkinan.
      Pilihan range rudal hanud kapal juga tergantung dari karakter AL pemiliknya. Yang agresif seperti US Navy gak mau repot`menghadapi Su-30 MKM dengan 12 hardpoints yang bisa diisi beragam rudal seperti ditulis bung Roger , prinsip mereka “shoot the archer before an arrow was launched”. Gak heran arsenal rudal merekapun hanya mengenal istilah medium dan extended range. Yang medium berjangkauan hingga 160km, yang extended range, SM-2 Block IV hingga 240km.
      Kalau masih ada rudal yang lolos, ya jatahnya CIWS Vulcan Phalanx.

      Rudal medium juga berfungsi menciptakan area air defense umbrella dalam skala gugus tugas, yang jarak berlayar antar kapal2nya cukup jauh, dan mungkin saja ada kapal tanker, LPD/LST tidak bersenjata dan perlu dilindungi.

      Dalam konteks konflik RI-Malaysia, salah satu tujuan TNI saya duga adalah melakukan manuver militer standard, penyekatan/interdiction dan memutus jalur suplai antara Malaysia semenanjung dengan Sabah-Sarawak. Dalam situasi seperti ini sejumlah KRI dengan rudal medium akan berperan strategis jika ditempatkan di sekitar Natuna, menutup jalur udara antara kedua wilayah yang terpisah laut tsb (diikuti beraksinya pasukan Kostrad / Marinir yang telah merapat ke perbatasan di Kalimantan, infiltrasi Kopassus dst).

      Peran lain KRI dengan rudal medium adalah menyediakan hanud bagi satuan pendarat marinir ketika mereka sedang memindahkan dan menyiapkan alutsista di

      beach-head (tank, howitzer, MLRS, manpads). Bahkam tetap mampu memberi perlindungan ketika marinir bergerak lebih jauh ke dalam karena jangkauan rudal masih memungkinkan.
      Bisa juga mencegat pesawat tempur lawan dalam fase paling rentan yi. takeoff, jika diposisikan di area lepas pantai sementara lanud musuh berada di wilayah pesisir (untuk TNI-AU misalnya Makasar). F-15 Singapura-pun tidak berkutik jika dihadang seperti ini, salah satu alasan AL mereka perlu dibangun sangat kuat.

      Jika KRI hanya dilengkapi rudal jarak pendek sementara kapal lawan mengusung rudal menengah, bisa2 malah Sukhoi TNI-AU yang kena tembak duluan ketika akan memberikan perlindungan udara.
      Studi kasus perang Malvinas; gugus tugas Royal Navy diperkuat dua kapal induk, HMS Hermes dan HMS Invincible, keduanya total membawa 28 Sea Harrier (selain heli Sea King).
      Dengan 28 pesawat tempur yang ‘melekat’ pada armada ini masih dikatakan; the small number of Harriers in the task force meant they weren’t always able to maintain a CAP (combat air patrol), but as much as possible, the patrol was maintained during daylight hours.
      Apalagi bagi pesawat TNI-AU yang berpangkalan di darat. Armada KRI bisa mengambil posisi beberapa hari di suatu perairan, ‘gak janji’ dan terlalu melelahkan bagi pesawat tempur TNI-AU untuk terus menerus pulang pergi darat-laut, bergantian setiap beberapa jam.

      Jika dalam pertempuran USAF, USN, USMC dan US Army sudah terintegrasi dalam theater air defense melalui JTIDS / Joint Tactical Information Distribution System, sangat wajar jika TNI-AL mulai sekedar mencicipi rasa rudal jarak menengah…

      • Mimpi yang menarik, saya setuju…….

        kapal terbesar Indonesia adalah Van Speijk (menunggu pensiun) dan PKR (kalau lancar), keduanya hanya sekelas 1.800 ton ~ 2.200 ton
        kalau PKR dipaksakan dengan rudal Aster-15 atau Standard, akan penuh sesak, bisa-bisa PKR kita tenggelam karena keberatan.
        jalan satu-satunya adalah menghapus fungsinya sebagai multirole menjadi air defence, dan rencana ini akan jelas-jelas ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin kita karena sangat pemborosan

        kecuali PT. PAL bisa mengembangkan PKR kita jadi lebih besar lagi jadi diatas 3.000 ton (mungkin bisa, tapi TNI-AL tak bisa beli)

        Singapura baru bisa makai SAM kelas menengah di RSS Formidable Class dengan berat 3.200 ton yaitu SAM Aster-15.

        Arab saudi dengan Al Riyadh class, 4.000 ton

        Oliver Hazard Perry Class, 4.200 ton

        Saya senang Mistral atau seawolf atau sekelasnya, karena emang kita mampu-nya segitu atau setidaknya sekelas barak lah

        saya lebih suka menginjakkan kaki di tanah Indonesia, daripada menginjakkan kaki di negeri di atas awan

        • Amaca?
          Ribet amat ya dunia anda?

          Ini foto rudal mid-range Iran, Mehrab (range 75km) ditembakkan dari ‘frigate’ Gorz.

          http://english.farsnews.com/newstext.php?nn=9007279794

          Gorz sendiri sesungguhnya dari kelas Kaman (Combattante II type or Sina class) missile boats.
          Displacementnya lumayan besar: 275 tons full load! Ulangi, 275 ton!.
          Dimensions: 47 x 7.1 x 1.9 meters

          Apakah terlihat seperti dalam mimpi?

          • itu bisa mengarungi dari sabang sampai merauke mas ???
            kalau disebar ke tiap titik butuh berapa kapal ??? 100 ???

            BISA BANGKRUT NEGARA INI…

            TNI mau nambah MISTRAL aja mikir 7 keliling….

            makanya jangan main game aja……………….

          • Sabar, sabar, sportif dan ngaku salah dulu bahwa rudal hanud mid-range tidak butuh kapal ribuan ton!

            Kalau mau melebar, OK nanti disambung…

          • Si Melekete, emangnya perlu ya disebar ke tiap titik? Trus kl kapalnya dipasang mistral apa bisa disebar ke tiap titik seperti masud anda? Emang nggak bakal bokek kl gitu? Koplak kok diperihara. Udh koplak, sotoy, ngeyel lg..

          • OK saya ladeni, anda baca pendapat saya ngak komplit :

            “jalan satu-satunya adalah menghapus fungsinya sebagai multirole menjadi air defence”

            missile boats termasuk didalamnya.

            sportif dan ngaku salah dulu bahwa, anda ndak bisa baca ???

            @Budiman : hmmmm

          • Pernyataan anda komplitnya: kalau PKR (kelas 1.800 ton ~ 2.200 ton) dipaksakan dengan rudal Aster-15 atau Standard, akan penuh sesak, jalan satu-satunya adalah menghapus fungsinya sebagai multirole menjadi air defence.

            Silakan simak gambar missile boat kelas Kaman ini:

            http://img116.imageshack.us/img116/3809/kamansinabb7.jpg

            Meriam Bofors 40mm di buritan bisa diganti dengan launcher Mark 26 punya rudal SM-2. Kemampuan multi role tetap dipertahankan dengan 4 launcher asli untuk Exocet MM38 atau Harpoon, plus kanon OTO Melara 76mm di depan.

            Kalau mau lebih mantap, bagian superstruktur / kabin di-stretch 5m sehingga bisa menampung modul VLS Sylver berisi 8 Aster-15. Di belakang sekali untuk launcher Mistral.
            Penambahan displacement anggap 20%, menjadi 330 ton saja (jauh dari PKR 3,000 ton versi anda).

            “mengarungi dari sabang sampai merauke”
            Ini kriteria dadakan dari mana? KCR-40 juga lebih difokuskan untuk perairan barat RI.

            “kalau disebar ke tiap titik butuh berapa kapal-100?”
            Ini juga kriteria dadakan, baru denger. Titik mana dan tujuan penyebaran untuk apa?. Yang pasti kapal seperti ini murah-meriah, akan lebih bangkrut jika yang disebar kapal kelas 1.800 ton ~ 2.200 ton?.

          • itulah loe, mbacanya ngak mikir dulu langsung ditelen mentah mentah kalau baca itu yang bener, ngak asal cuap.

            “KCR-40 juga lebih difokuskan untuk perairan barat RI”, bagaimana dengan perairan lainnya ????

            jadi butuh berapa ????

            1 KCR butuh 4 rudal menengah X jumlah kapal = duit’e mak’mu

            1 rudal aja belum kebeli, anda mau mborong rudal = makanya anda itu suka jual MIMPI di siang bolong

            kalau PKR ditambah rudal medium, berarti ada yang yang dikorbankan untuk mengurangi berat dan dimensi rudal beserta SISTEM-nya.
            biasanya jatah tampung BBM, daya tampung AMUNISI atau lainnya dikurangi, yang berarti daya jelajahnya berkurang……………

            ini hitung-hitungan sederhana, tapi anda ngak bisa ????

            anda itu tidak ada apa-apanya dibandingkan para perwira TNI yang sudah memikirkan dengan matang tentang PKR.

            mungkin anda dulu mau masuk TNI ngak lulus, akhirnya stress berat….ha..ha.ha

          • Keliatannya melektech ini kalau gagasannya di-challenge pasti ujung2nya ngata2in orang lain, tipikal orang arogan yang nggak pede dengan ilmunya (yang keliatannya masih cetek) sampai merasa perlu ngeledek (personal insult) orang lain hanya untuk “memenangkan” argumen. Orang intelek nggak perlu menggunakan kata2 ledekan untuk menjustifikasi pemikirannya, hanya orang cemen dan miskin ilmu yang kerjanya ledek2an. Mungkin dia merasa udh melektech tapi nyatanya belum melekilmu apalagi meleketika.

          • kalau begitu sama dengan anda dong …….

          • :) Hmm, bukannya situ yang nelen mentah2 artikel Dan Arhanud?
            Garbage in, garbage out. Garbage out-nya pake distempel 1,000% akurat lagi.

            Ngaku ITS, kemampuan analisa kuantitatif nol, feeling engineering idem, cuma hafalan doang modalnya. ITS jurusan sastra kali?

            “Bagaimana dengan perairan lainnya ?”
            Udah dibuktikan dengan gambar rancangan bahwa rudal mid-range bisa masuk di kapal kelas 300+ ton kan?
            Laut bagian timur RI butuh ukuran kapal lebih besar, setuju? Berarti lebih mampu lagi membawa rudal midrange!. Yang gini kok masih ditanya?.

            “Jadi butuh berapa?”

            Ya tanya emakmu!

            Yang mikir matang2 itu para naval architects di PAL / ITS bung. Para perwira TNI end-user paling ngasih general requirements doang.

  11. http://www.mbda-systems.com

    MBDA : ” MISTRAL provides an extremely effective defence capability against all threats
    including anti-ship missiles, combat aircraft, UAVs, helicopters, as well as small surface
    threats……”.

  12. Maaf, klo diskusi soal alutsista, teknik dan strategi militer (indonesia) lebih baik dengan tataran keilmuan dan santun, koq saya lihat disini menampakkan egonya masing2, saya tahu bahwa disini banyak yang mempunyai ilmu disiplin soal alutsista/militer, tapi klo debat kusir dan saling mengolok menjadi kurang santun klo dibaca banyak orang. Saya yakin bahwa yang disini tujuannya sama akan kecintaannya terhadap NKRI dan menginginkan TNI kuat dan siap menjaga dan melindungi NKRI sampai kapanpun.

    • betul, kan masalahna yang ditanya apakah Mistral mampu menjadi rudal air defence untuk rudal, dan itu memungkinkan, tapi bukan berarti tidak bisa mencari alternatif laen. nah masalah iran mungkin karena iran juga memiliki laut yang sangat sedikit jadi sifat persenjataannya untuk menagkal serangan ke darat dengan cepat. mereka tidak butuh kapal2 untuk sifatnya menjaga lautnya tapi lebih menjaga serangan yang tiba2 ke daratannyaa. kalau kita tidak seperi itu..

    • jawaban yang sangat bagus, dan betul, dan masuk akal

  13. betul sekali, namun ilmu itu harus yang masuk akal, contohnya ini : saya ambil dari garudamiliter.blogspot.com. inilah jawaban pelakunya sendiri dari ARHANUD :

    PENUTUP

    Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya adalah diperlukan modernisasi angkatan perang guna menghadapi era perang generasi keempat, namun modernisasi angkatan perang perlu memperhatikan kemampuan anggaran negara yang cukup terbatas. Bagi satuan Arhanud sendiri tidak hanya anggaran yang menjadi kendala, tetapi kondisi geografis, pengaturan tata ruang wilayah oleh Pemerintah daerah tidak dapat menunjang optimalisasi perlindungan udara yang menjadi tugas pokok satuan Arhanud. Dengan kondisi tersebut maka disarankan pengadaan Alut Sista satuan Arhanud secara umum haruslah memiliki kriteria umum diantaranya ringan, portable, memiliki flesibilias tinggi, mandiri, mobile, serta dapat dioperasionalkan dalam segala bentuk medan dan tidak merugikan satuan baik dari segi organisasi maupun taktis dan tehnis. Hal tersebut dapat diakomodir pada Alut Sista yang berbentuk Manpads. Saran berikutnya adalah menghilangkan katagori satuan Arhanud ringan maupun sedang, bila satuan Arhanud telah didukung oleh system senjata yang manpads tersebut, sehingga penggunaannya akan lebih fleksibel oleh tiap Kotama.

    Demikian tulisan ini dibuat, semoga bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan sumbang saran dalam penentuan kebijakan oleh Pussenarhanud Kodiklat TNI AD.

    Penulis:
    Letkol Arh Hari Arif Wibowo
    Danyonarhanudri-3 Dam III/Slw

    1000% akurat karena pelakunya sendiri

    • Iya deh manpads setrooooong! Orang lain udh jaman ICBM dan jet tempur stealth anda malah bangga sama doktrin VSHORAD. Sampai kapanpun nggak bakal ada deteren kl cm make manpads, pilot-pilot musuh paling ketawa-ketawa aja dengar negara yg ngandalin manpads. Kita cuma bakal jadi bahan lelucon, persis seperti anda yg dari dulu udh jd bahan lelucon di website ini ;P

      Emang user nggak bs salah ya? Oooo pantesan negara kt skrg udh jadi negara superpower dunia krn usernya nggak pernah salah!

    • Menurut saya saran letkol H kurang/tidak tepat. Harus dibedakan antara menilai perlu tapi terkendala anggaran, dengan menilai samasekali tidak perlu.
      Jika dinilai perlu tapi ada kendala dana minimal sarannya agar diusahakan pengadaan ketengan -analoginya Sukhoi, sangat disadari kebutuhan air superiority fighter, tapi kuatnya hanya beli 4 unit dulu, ya sudah beli 4 daripada tidak ada samasekali. Sebaliknya saran pak letkol justru agar menghilangkan kategori satuan Arhanud ringan dan sedang, artinya memang tidak menilai perlu adanya jenis hanud lain selain manpads.

      Homing system manpads menggunakan infra red, mencari panas gas buang pesawat tempur. Dengan penggunaan bom tipe JDAM-ER yang bisa dilepas pesawat dari jarak 110km maka manpads harus ditempatkan dalam lingkaran 110+ km untuk mencegat pesawat pembawa JDAM-ER, karena bomnya sendiri tidak menghasilkan jejak panas, hanya gliding menuju sasaran, beda dari rudal.

      Sehingga untuk melindungi Pindad misalnya, dibutuhkan lingkaran radius pengamanan 110km atau keliling 690.8 km, dibagi range manpads 6 km, dibutuhkan 115 unit. Lingkaran kedua untuk melindungi PTDI yang berjarak kl 15 km dari Pindad, kedua lingkaran akan berpotongan. Total mungkin akan dibutuhkan 150-160 unit manpads!.

      • Kan kalau kata si melekete manpads setrooong sakti mandraguna bisa mencegat semuanya. Trus user nggak pernah salah dooong.

      • sorry saya tidak mau debat lagi, ngak ada gunanya ……

        itulah perbedaan kita (orang awam = penonton) dengan TNI (pemain)
        kita hanya menampilkan data statistik dsb…. , tapi ketika dilapangan tidak demikian
        sama dengan kita berteori bisa renang, namun ketika sudah di air, bisa renang ?
        pengalaman negara lain, jelas berbeda dengan kita apabila diterapkan.
        saya ngomong gini karena keseringan CANGKRUKAN dengan para pemain (TNI), sehingga tahu betul apa itu medan perang sesungguhnya. jauuuuh beda dengan itung-itungan kita.

        ok, saya tidak mau debat dengan itung-itungan anda, silahkan…….

        Manpad sekarang jauh beda dengan dulu, kalau jaman dulu(misal SA-7 milik TNI), mencari panas gas buang, kalau sekarang sudah memakai IR-Imaging, hampir sama dengan Night-Google, jadi gambar utuh target(pesawat atau lainnya), makanya Manpad sekarang bersifat bisa ditembakkan di semua sisi atau sudut target, jadi sangat amat mematikan.

        ada pertanyaan gini, apakah ada rudal didunia ini yang berhasil menjatuhkan pesawat siluman pada perang sesungguhnya???

        ada !!! menurut data saya bukan satu, tapi 3 pesawat siluman

        bukan rudal medium, bukan rudal jarak jauh, atau lainnya yang mahal…
        tapi semuannya dengan MANPAD. cari sendiri di google pasti ketemu..

        pasti negara pembuat pesawat sangat malu, dan mencari-cari alibi

        salam,

      • Best answer mr.danu.

  14. Good This really is likely one of the most informative web sites I’ve ever come across on this subject.

  15. Setuju….., memang harus begitu….., makanya pemerintah + DPR memberikan target lewat MEF krn kepentok dengan anggaran, coba aja bisa dilihat anggaran APBN 2012 cuma sekitar 1400 trilyun, nah dari situ seberapa layak anggaran dibelikan alutsista baru, dibuat perawatan, dibuat operasional, dibuat retrofit dll dan paling banyak dibuat gaji tentara (dari jatah anggaran untuk militer). Coba bisa dilihat anggaran militer di dunia menurut SIPRI th 2010, indonesia diurutan 33, http://divisi.blogspot.com/2012/01/daftar-anggaran-belanja-militer-negara.html. Melihat ini semua sebenarnya klo pingin jujur, alutsista khusus pertahanan udara dari semua matra jelas menginginkan paling hebat kelas missile jarak jauh, minimal kelas menengah/medium . Apabila ada ancaman dari udara dari pesawat lawan yang mempunyai rudal kelas menengah misalnya kripton, jelas sebelum pesawat lawan menembakkan missilenya, TNI harus melihat dulu dengan radarnya dan mengunci terus menembal duluuan. Apabila pesawat lawan mampu menghindar, dan terus menuju pertahanan kita dan meluncurkan rudalnya, baru TNI menggunakan pertahanan diri dengan rudal jarak pendek dan sistem CIWSnya, Coba lihat india, baca majalah Angkasa edisi desember 2012, AU india menyediakan dana 1,2 milyars dollar buat membeli rudal Brahmos lebih dari 200 rudal jelajah untuk dintregasikan pada pesawat tempur sukhoi SU-30 MKI (dengan bantuan rusia) dan kemungkinan diujicobakan bulan desember 2012. Coba bayangkan klo ujicoba itu sukses dan wlo 1 sukhoi cuma kuat 1 Brahmos dengan jarak 300 km dengan kecepatan 2,5-3 mach. Dan jelas melihat itu China, pakistan akan berusaha mengimbanginya. Klo china juga membuat pasti Jepang dan KOrsel serta Taiwan jelas berusaha mengimbanginya. Gimana dengan Indonesia, apa cukup dengan Manpadsnya????? Saya kira jelas tidak, itu pasti jelas sudah dipikirkan para petinggi TNI dan Kemhan, mungkin MEF 1, TNI AD sementara manpads dulu , kemungkinan TNI AU mengakusisinya (kunjungan ke china bersama kemhan dulu) rudal jarak menengah, dan TNI AL mungkin sama dengan TNI AD dengan manpads dulu tapi rudal pemukaan ke permukaan pake rudal jarak jauh (yakhont). TNI AU thn 2013 (menurut angkasa community readers) kebagian kedatangan rudal sukhoi, jadi untuk menangkis serangan dari udara dari lawan maka tugas TNI AU mengusirnya dengan rudalnya. Nah klo MEF 1 lancar, MEF 2 saya kira rudal sekelas S-300, atau minimal kelas HQ-16missile (china) untuk darat atau sekelas untuk matra laut

    • Sangat logis dan betul, dan masuk akal. Tp tetap aja menurut si melekete s*ntoloyo nggak perlu make medium range SAM segala, manpads cukup kok untuk menangkis apapun termasuk ICBM, pesawat siluman, sampe laser sekalipun. S-300 atau Patriot? Buat apa? Kan udah ada mistral!!!

    • maaf mas Budiman, yang ternyata ngak Budiman….
      saya ndak pernah mengatakan “nggak perlu make medium range SAM”
      mohon dibaca dengan seksama tulisan saya…………
      kalau masalah “user nggak pernah salah”, itu jelas karena di manusia
      masalahnya user (TNI) aja salah, apalagi anda…………

      salam,

  16. di abad 21, jumlah armada laut yang besar tidak terlalu ambil bagian dalam menentukan jalannya pertempuran. Yg mengambil bagian justru adalah air superiority! kekuatan udara menyajikan kecepatan dan ketepatan dalam menjalankan tiap misinya, jadi menurut sya pribadi,armada kri tni-al saat ini adalah armada yang rapuh terhadap serangan musuh karena tidak dilindungi oleh payung udara yang kuat….trims

  17. ane orang bodo, tp ane ikut pemikiran Alm Gus Dur…ga usah dibuat repot..!! tar klo kita uda punya 30an caesar & 36 astros II, disalvokan dr batam, apa ada F15 negara kota bisa airborne????
    ga usah brantem, isroil aja butuh “ribuan” shorty utk membunuh “puluhan” orang diGaza… sanggupkah f15 negara kota membuat ribuan shorty ke jakarta… apa ga lucu jg klo uda ada taifibmar yg nembakin apache negara kota pake the old lady strella dr garis pantai deket2 changi sana?? (skenario bodo2an ini khusus buat negara kota)

  18. Ngebayangin ICBM ditangkis pake mandpads itu cetar banget wuahahahaha

  19. Petinggi TNI jauh lebih paham akan kebutuhan alitsistanya.
    Juga kebiasaan TNI selalu merelease alutsista yang ringan aja yang sudah dibeli.
    Untuk yang gahar dan secrett weapon yaa gak perlu di beritakan dan diumumkan ditempatkan dimanaa.
    Mangkanya terjadi debat kusir disini
    Harusnya kita sadari bhw tdk mungkin petinggi TNI membiarkan pangkalan strategisnya tdk dikawal dengan aman.
    S300 itu berapa sih ? Masuk akal tdk kalau kita tdk punya??
    wiss penonton tugasnya menonton theater bila ada kejadian dan siap siap terpesona dgn secret weapon yg tiba tiba muncul,,biar pemain memainkan perannya mengagetkan musuh dan penonton (kita)

  20. salah om dari pada beli pesawat tempur sukhoi ama s-300 lebih baik kita beli kapal induk
    dulu om kan sekarang Inggris menawarkan kapal induk HMS ark royal Kepada Indonesia
    dengan harga 3 juta pounds blum termasuk pesawat harrier

  21. Betul tuh, ntar dibeli buat sasaran tembak rudal ye…

  22. Bli sukhoi aja ngeteng sih yah, macem bli rokok. 10 taon cm 16 biji… Aplg s-300 yg 4x harga sukhoi… Yuk lah pake triple gun ajah, msh bisa dipake koq…

  23. udahh mendingan akuisisi rudal SM 2MR/ER untuk PKR yahh minimal aster 15 atau RIM 162 ESSM

  24. sekarang gini aja…tetangga ada yg usil gak sekarang ini……..klo gak ada…..!!!
    dia dah tau tuh..tni punya apa…semangat gan

  25. kalau boleh tau maksud dari armada perang itu sendiri apa ya? ada tugas nih….

  26. Good , lebih baik berperang “gerilya modern”, sedikit alat tempur, kemampuan pofesional, MERDEKA

  27. SDM nya juga perlu ditingkatkan.. diceritain saudara saya yg ketemu kapal TNI AL yang membungkuk karena kesalahan penempatan beban yang berlangsung lama…
    trus ada juga beberapa kejadian yg mengindikasikan kurangnya TNI AL menggendalikan kapal…
    jgn main okol aja, karena sekarang udah jamannya teknologi

  28. saya berharap indonesia memperbanyak kapal fregate dan kapal korvete serta kapal rudal cepat, kapal penyapu ranjau, LPD, LST, Kapal logistik, Kapal Angkut Laut Militer yang seluruhnya dilengkapi rudal stratreak, rudal C 802, rudal Yakhont, rudal mistral, rudal C 705, meriam oerlikon, senapan dengan RCWS dan 2 meriam di bagian samping kapal serta 2 meriam di bagian belakang, del utk heli OTHT, heli anti kapal selam dan anti kapal permukaan, heli angkut

  29. saya berharap indonesia memperbanyak ratusan kapal fregate dan kapal korvete serta kapal rudal cepat, kapal penyapu ranjau, LPD, LST, Kapal logistik, Kapal Angkut Laut Militer yang seluruhnya dilengkapi rudal stratreak, rudal C 802, rudal Yakhont, rudal mistral, rudal C 705, rudal exocet blok III, meriam oerlikon, senapan dengan RCWS dan 2 meriam di bagian samping kapal serta 2 meriam di bagian belakang, del utk heli OTHT, heli anti kapal selam dan anti kapal permukaan, heli angkut

  30. DAMAI ITU INDAH…..sudah jangan bertengkar !

  31. DAMAI ITU INDAH

 Leave a Reply