Sep 182016
 

BANGKOK – Angkatan Udara Thailand sedang mencari untuk mendapatkan armada pesawat angkut baru dalam waktu dekat, menurut sumber Angkatan Udara pada hari Jumat, 16 September 2016.

Kompetisi untuk pengadaan pesawat transport baru mungkin antara Y-9 Shaanxi Aircraft Corporation dan C-130J Super Hercules Lockheed Martin, kata sumber yang tak ingin disebut namanya.

Namun, persaingan mungkin juga timbul dari negara manufaktur ketiga selain China dan Amerika Serikat, sedangkan rincian rencana pengadaan masih belum dirumuskan, katanya.

Pensiunan Kepala Angkatan Udara Trithod Sonchaeng menegaskan sebelumnya bahwa Angkatan Udara saat ini sedang melihat untuk membeli armada pesawat angkut baru bermesin turboprop untuk menggantikan 12 pesawat transportasi C-130H Hercules, yang digunakan oleh Angkatan Udara Thailand sejak tahun 1980.

Penggantinya, Kepala Angkatan Udara yang baru, Jom Roongsawang yang dijadwalkan untuk menempati posnya bulan depan, kemungkinan akan mempertimbangkan rencana pengadaan pesawat tersebut, kata sumber itu.

Selama beberapa tahun terakhir, 15 negara telah menempatkan pesanan sekitar 300 pesawat angkut C-130J, di lini produksi Lockheed Martin sejak tahun 1996. Shaanxi Aircraft Corporation menawarkan varian Shaanxi Y-8 yang telah dimodernisasi sebagai Shaanxi Y-9 dengan teknologi avionik dan sistem penanganan kargo diperbarui.

Myanmar, tetangga disebelah barat Thailand, saat ini menggunakan 10 pesawat transport Shaanxi Y-8, versi pendahulu dari Shaanxi Y-9.

Meskipun dana dan tenggat waktu untuk pengadaan yang direncanakan dari pesawat angkut baru belum ditentukan, armada C-130H Hercules tua sudah hampir pasti akan dinonaktifkan dalam beberapa tahun ke depan, kata sumber itu.

C-130J Super Hercules dilaporkan menelan biaya sekitar US $100 juta – $120 juta per unit sedangkan harga jual untuk Shaanxi Y-9 belum tersedia. Awal bulan ini, pesawat angkut Shaanxi Y-9 bergabung multi-nasional, latihan non-tempur dengan kode nama AM-Hex 2016 di pangkalan Angkatan Udara U-Tapao di Thailand timur.

Angkatan Udara Cina ambil bagian dalam latihan bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana bersama Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Dianggap sebagai turunan dari Antonov An-12, Shaanxi Y-9 dapat membawa 25 ton kargo dan 106 penumpang atau 132 pasukan terjun payung.

Akhir bulan lalu, dua pesawat transport buatan Rusia yang dikirim ke Angkatan Udara Thailand. Pesawat transportasi Sukhoi Superjet 100LR, yang masing-masing dijual seharga US $34 juta, akan terbang sebagai pesawat penumpang untuk anggota dari Kerajaan Thailand dan penumpang VIP lainnya. Mereka dimaksudkan untuk bergabung dengan Boeing 737 dan pesawat Airbus Angkatan Udara yang saat ini digunakan pada tujuan yang sama.

Sementara itu, Kepala Angkatan Udara Thailang yang baru diharapkan mempertimbangkan membeli 4 (empat) pesawat tempur Saab JAS 39 Gripen untuk menambah jumlah pesawat di skuadron yang ada.

Angkatan Udara Thailang memiliki 12 pesawat tempur Gripen pada Skuadron Air Wing 7 di provinsi Surat Thani selatan. Skuadron Gripen itu diperoleh pada tahun 2008 untuk menggantikan pesawat tempur F-5E Tiger AS buatan.

Jet tempur buatan Swedia, Saab JAS 39 Gripen dilaporkan memiliki harga sekitar US $69 juta per unit.

Sumber: Defense Aerospace

Artikel Terkait :

  19 Responses to “Thailand Cari Pengganti C-130H dan Tambah Gripen”

  1. PERTAMAX RACING

  2. C 130 gnti chinox aj jgn cilok..
    Dari pada tambah gripen mnding tambah eurofighter..

  3. Ayo PT DI kalian pasti bisa… tawarkan CN295 ke thailand……

  4. Wahh thailand dapat TOT gak ya dari pembelian gripen ??

    • tanpa tot mereka sudah beli dan berencana menambah… dengan tawaran tot indonesia gak beli-beli… yang ada malah pemotongan anggaran ? hahaha…

  5. #Jet tempur buatan Swedia, Saab JAS 39 Gripen dilaporkan memiliki harga sekitar US $69 juta per unit.#

    harga segitu untuk serie NG…? apa seri c/d..?
    kalau serie NG..mendingan beli ini dari pada beli SU 35….si pesawat kaleng krupuk

  6. malon masih belum sanggup sewa griphennya sampe sekarang ?? hihihihi keciaan deh lo miskin

  7. Thailand saja hercules c-130H mo diganti…TNI-AU malah baru mendapatkan C-130H Hibah dan beli second dari Aussie serta meretrofit C-130B agar tetap bisa terbang krn TNI-AU tidak memiliki lagi Pesawat Air Refueling

  8. Nkri hanya merana menyaksikan Negara lain beli pespur.. Sementara nkri malah dipotong anggarannya sama pejabat koplak..

  9. PT. DI langsung gerak cepat ajakin tuker tambah CN 295 gress sama C130H seken ex RTAF…lumayan buat naikin posisi tawar kl mau maju lawan Y9 ama C130J….hihihi…

    • C130H RTAF buatan 80an udah mau dipensiunin, C130B TNI AU buatan 60an masih operasi ngangkutin karung beras…hehehe…yg haibat siapa ayoo..??

  10. Wah thailand mau borong pesawat,kt di sini cuman nonton sambil ngiler liat tetangga borong pesawat ha..ha..ha……..

  11. Semoga Setelah Sukhoi 27/30/35 ditambah….
    TNI AU memilih Grippen…sebagai pengganti Hawk 100/200 ….
    Saya kira itu lebih baik daripada beli F/A 50….tanggung …
    Tapi itu terserah kepada Bapenas…
    Sebagai pembagi anggaran belanja negara …

  12. Setuju, Gripen NG aja sbg pengganti Hawk 200. Sama2 single engine, opr cost nya murah juga multi role (bisa fighter, serang darat & maritim).

  13. Miris bacanya… C130H milik au thailand akan dipensiunkan krn sdh uzur,sdg milik au negeriku malah beli second refurbish,pa lagi C130B ex era presiden sukarno yg jg ikutan direpair???
    1 nyawa pilot TNI AU jauh lebih berharga ketimbang alutsista yg dibawanya.

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)