Jul 142015
 
Wakil Presiden Jusuf Kalla (photo: Icha Rastika/ KOMPAS)

Wakil Presiden Jusuf Kalla (photo: Icha Rastika/ KOMPAS)

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla mendorong Tentara Nasional Indonesia untuk membeli amunisi kaliber besar yang diproduksi PT Pindad (Persero). Kalla akan memanggil Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo untuk membicarakan masalah ini.

Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Senin (13/7/2015), seusai bertemu dengan Kalla.

“Saya juga laporkan bahwa Pindad sudah membuat amunisi kaliber besar. Beliau (Wapres) tanya ‘sudah ada yang pesan atau belum’, (saya jawab) belum. Dia bilang ‘saya akan dorong pengguna, TNI, gunakan amunisi kaliber besar,'” kata Silmy.

Menurut dia, pemerintah tidak ingin anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan senjata hanya mengalir ke pihak asing tanpa adanya manfaat bagi industri pertahanan nasional.

Menurut Silmy, Wapres sangat menaruh perhatian terhadap pengembangan industri pertahanan nasional. Wapres adalah orang yang menginisasikan pembuatan panser Anoa. Pada 2007, Kalla meminta Pindad memproduksi Panser Anoa 6×6 untuk TNI.

Ia juga menyampaikan bahwa Pindad sebenarnya mampu menyediakan alat utama sistem senjata (alutsista) bagi TNI maupun Polri. Sejauh mana kemampuan Pindad bisa dikembangkan, kata dia, hal itu tergantung kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada Pindad.

“Selama kesempatan dikasih, kontrak diberikan, enggak ada yang enggak mungkin, kan ada kerja sama. Bagaimana bangkitnya Korea Selatan, bangkitnya Turki dalam alutsista karena pemerintah memberi penugasan,” ujar Silmy.

Kepada Pindad, Kalla berjanji akan mengawal agar proses pengadaan alusista oleh TNI turut meningkatkan partisipasi lokal. Di samping membahas pemasaran amunisi kaliber besar, Silmy melaporkan kepada Kalla data pembelian amunisi oleh Kepolisian.

Ia juga berdiskusi dengan Wapres bagaimana pembelian alutsista luar negeri bisa memberikan manfaat maksimal kepada dalam negeri, baik dari segi produksi maupun dari segi transfer teknologi.

Menurut Silmy, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan program offset. Dengan program ini, Indonesia memperoleh nilai tambah dari kerja sama dengan luar negeri. Ia mencontohkan pembelian helikopter Apache kepada Boeing.

“Misalnya pemerintah membeli helikopter Apache, itu kan yang membuat Boeing, nah Boeing itu kan juga bikin pesawat komersial. Kalau kontrak 100 juta dollar AS Apache, ini angka asal ya bukan berita, 35 persennya offset berarti 35 juta dollar AS itu bisa untuk PT DI produksi sayap 737 atau Dreamliner sehingga Indonesia bisa dapat tambahan ekspor, pajak, dan lapangan kerja,” tutur Silmy.

KOMPAS.com

  25 Responses to “TNI Didorong Beli Amunisi Kaliber Besar PT Pindad”

  1. Mantapppp….. Semoga pindad bikin yg lebih gahar….

  2. HEHEHHEEEEE…. belum baca…

  3. Amunisi kaliber apa saja dan dimana pengaplikasiannya? Yg tau silahkan jawab

  4. Ada baik nya juga beli Tank Leo sama Marder

  5. Rheinmetal makin romantis aza nih ama Pindad.

    • ….ada yg pernah bilang bahwa leo2 akan diproduksi di pindad dimana jerman akan menerima royalty dan komisi setiap leo2 yg diproduksi pindad. hal ini karena jerman bakal produksi leo3.

      ….semoga kemandirian Indonesia via pindad bisa menstimulus produk alutsista yang sekelas leo2 yang sudah mutant.

  6. Masa begitu harus diperintah wapres, baru dilaksanakan. Move on “wani piro”, “Anda Percaya kami Bisa”.

  7. mungkin enggak cuma beli 8 Apache bisa dapat offset ? kecuali jumlahnya … xixixi …

  8. Adakah yang tahu. untuk amunisi skysield apakah PT Pindad sudah bisa memproduksinya?

  9. Mungkin bung ardi. Tergantung pesanan (macem glodok) tapi mengurangi kecepatan tembaknya berhubung komponen asli mahal. Tanya sesepuh dah.

  10. Wapres josss……!!!! Presidenx,,,,??? Sibuk sungkeman sama ibu suri tiap ambil keputusan ^_^

  11. Mmg hrs dorong. Bhkn
    shrsnya pemerintah punya inisiatif utk mmbuat alutsista tertentu, mslnya mmbuat kpl induk nuklir sndiri.
    Sbb dgn inisiatif tsb pemerintah akan bs mmbangkitkn semangat & kmampuan industri dlm negeri.
    PT Pal, mslnya pst akan mrs tertantang bila disuruh mmbuat kpl induk nuklir. Bgtpun Batan, pst akan tertantang bila disuruh mmbuat reaktornya, dst.
    Ayo skrg mana inisiatifmu, pemerintah!
    Sggh, km mrs sdh tdk sabar lg ingin sgr lihat bangsaku bs mmbuat snjata apapun.
    Hidup NKR

  12. JK,

    adalah orang yg berjasa menjadikan produk PINDAD panser Anoa MPV 6×6 menjadi tuan rumah di negara sendiri……

    hari Sabtu di thn 2008, JK mendatangi PINDAD Bandung utk melihat produk panser Anoa 6×6
    saat itu justru digadang2 panser buatan Perancis yg akan dibeli TNI AD, tetapi setelah diberi penjelasan & PINDAD menyatakan sanggup memenuhi kebutuhan TNI AD dlm jumlah & waktu (155 unit, 150 unit standar & 5 unit bisa operasi malam menggunakan infra merah), JK
    memutuskan TNI AD harus membeli dari PINDAD bukan dari Perancis, dgn harga yg jauh LEBIH MURAH.

    semoga langkah JK di thn 2008 itu sbg ttik awal kemadirian alutsista Indonesia.

  13. Beli aphace beli f16 tp mana tranfernya, f16 banyak, rongsokan lagi, hadech parah parah

  14. Kebiasaan buruk tni, tidak ada nasionalisme pruduk dalam negri!@

  15. Untuk mandiri di bidang alutsista, harus ada dukungan undang-undang dan kepres ttg pengadaan alutsista, seperti di brazil ada undang-undang substitusi alutsista dimana pemerintah wajib membeli alutsista produksi dalam negeri, jika blm mampu membuat sendiri makq hrs ada substitusi, misal pemerintah membeli 18 unit Gripen, maka AU wajib membeli pesawat angkut bikinan embraer dan AD membeli munisi dari pabrikan lokal yg nilainya setara pembelian gripen,tdk boleh import. Tiongkok juga menerapkqn hukum perlindungan industri aluteista dalam negri, setiap pembelian alutsista impor maka 40% sparepart-nya musti diproduksi oleh pabrikan lokal dengan mekanisme joint production,jika syarat ini tdk terpenuhi maka import batal. Di India juga ada ‘military act’ dimana pembelian alutsista import harus disertai pendirian pabrik alutsista yg memenangkan tender di India dlm bentuk investment dan joint production. Di jerman ada ‘defense act’ yg mewajibkan impor alutsista harus sebanding dg ekspor alutsista, shg kemenhan jerman akan berhitung teliti ketika akan mengimpor alutsista yg nilainya besar krn hrs menunggu nilai ekspor alutsista seimbang dulu. Langkah jk cukup strategis menuju kemandirian alutsista, untuk kualitas, learning by doing adalah guru yg paling bijak,ahli senjata di pindad bukanlah anak kemaren sore yg blm paham asam garam produksi senjata tp memang masih harus banyak meramu formula utk mendapat kualitas prima dan pesanan tni merupakan ajang pembuktian kualitas.

 Leave a Reply