Dec 242016
 

WASHINGTON – Presiden terpilih Donald Trump kembali mencuit melalui akun Twitternya pada hari Kamis (22/12/2016) mempertanyakan biaya jet tempur F-35, menganjurkan untuk modernisasi pesawat tempur generasi keempat Boeing sebagai alternatif yang mana para ahli katakan tidak akan mungkin.

“Berdasarkan biaya yang dahsyat dan luar biasa membengkaknya dana pengadaan F-35 Lockheed Martin, saya telah meminta kepada Boeing untuk menawarkan harga F-18 Super Hornet yang sebanding!”, isi cuitan Trump pada hari Jumat, 23 Desember 2016.

Saham Lockheed Martin, yang dibuka pada kisaran US $252,80 jatuh ke posisi US $ 247,75 per lembar pada penutupan pukul 19:00 waktu setempat, terjadi penurunan sebesar 2 persen. Pada saat yang sama, saham Boeing melonjak sekitar 1,49 persen, meningkat meningkat dari US $ 157,46 menjadi US $ 158,95 per lembar saham.

Apa arti semua ini bagi Lockheed Martin dan pesaing utamanya Boeing dalam jangka panjang masih belum jelas. Meskipun F-35 telah terganggu dengan masalah kelebihan biaya dan masalah teknis, F/A-18E/F Super Hornet adalah pesawat generasi keempat yang tidak memiliki banyak kemampuan untuk mendefinisikan sebuah pesawat generasi kelima, seperti kemampuan siluman dan sensor fusi. Mendesain ulang Super Hornet untuk memenuhi persyaratan yang sama dengan F-35 akan memerlukan waktu tahunan dalam rekayasa dan pengembangan serta mungkin menghabiskan milyaran dolar.

“Kami telah berkomitmen untuk bekerja dengan presiden terpilih dan pemerintahannya untuk memberikan kemampuan terbaik, pengiriman dan keterjangkauan seluruh produk dan layanan Boeing untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional kita”, kata juru bicara Boeing, Todd Blecher.

Berbicara kepada Defense News dalam Konferensi Pertahanan Nasional Reagan pada 3 Desember silam, kepala Boeing Defense, Leanne Caret menyatakan keyakinannya bahwa jajaran F/A-18 diekspansi “hingga 2020-an dan seterusnya… Saya merasa sangat nyaman pada jajaran ini”.

Seorang juru bicara Lockheed Martin menolak untuk mengomentari tweet seperti yang dilakukan oleh juru bicara produsen mesin F-35 Pratt & Whitney.

Richard Aboulafia, analis kedirgantaraan dari Grup Teal, isi cuitan Trump dalam Twitter mencerminkan “perdebatan yang menarik”. “Setidaknya bagi Angkatan Laut (US Navy), dia (Trump) tidak salah tentang rencana itu”, katanya.

Angkatan Laut telah membatasi pembelian F-35C sambil terus menambahkan anggaran untuk membeli Super Hornet dan kemampuan perang elektronik, E/A-18 Growler, yang diproduksi pada lini produksi yang sama.

Aboulafia juga mengakui sulitnya mengubah sebuah pesawat seperti F/A-18 menjadi pesawat tempur generasi kelima. Super Hornets adalah “pesawat tempur untuk kapal induk. Pesawat tempur ini berguna untuk kapal induk besar, namun secara fundamental bahwa pesawat ini berbeda. Anda tidak bisa semudah itu menjadikannya siluman”, katanya.

Awal pekan ini, Letjen Christopher Bogdan, Kepala Program Kantor Bersama F-35, memetakan kemajuan program sejak terkena pelanggaran Nunn McCurdy tahun 2011. Sejak itu, menurut Bogdan pada hari Senin (19/12/2016), sebagian besar Program F-35 telah beroperasi sesuai jadwal dan biaya, meskipun ia mengakui bahwa perkembangan akhir ujicoba penerbangan tertunda hingga 7 bulan. Program ini mungkin juga akan perlu tambahan dana sebesar US $ 532 juta untuk menyelesaikan pengembangan.

“Jika saja ada yang bisa memberitahu kita pada tahun 2011 bahwa kita akan berada dalam beberapa bulan dan tambahan beberapa ratus juta dolar dari program pesawat US 13 milyar, kita akan memukul meja dan berkata, kami terima!”, kata Bogdan.

“Program ini tidak berada diluar kendali”, tambahnya, merujuk sebuah cuitan Trump awal bulan ini.

Bogdan kemudian bertemu dengan Trump pada Rabu (21/12/2016) untuk membicarakan program F-35. Kepala Boeing Dennis Muilenburg dan CEO Lockheed Marillyn Hewson juga mengadakan pertemuan sendiri dengan presiden terpilih.

Muilenburg mengatakan bahwa mereka “sangat produktif” dan bahwa dia “benar-benar diberi semangat” oleh “diskusi yang baik, terbuka”, menurut sebuah laporan. Sedangkan Hewson menolak memberikan pernyataan, tapi menurut Trump “Kita baru saja mulai, ini sebuah dansa. Walau cuma goyang sedikit. Tapi kita akan menurunkan biaya dan kita akan menyelesaikannya dengan indah.

Komentar Facebook :
Bagikan Artikel:

  18 Responses to “Trump Inginkan Super Hornet Dengan Kemampuan F-35”

  1. test

  2. Bisa2 program F35 distop Trump. Kalau distop kesempatan Israel ngajak lockheed martin lanjutkan di negaranya.

  3. Gilak ni org… sekali cuit aja saham langsung turun… beeeeugh..!!

  4. memang banyak masalah f35 dgn biaya yg ga..masuk akal wajar trum..mengkritik krn d liat dari sisi bisnisman

  5. Belum botol pulpenl, hadapi dulu pesawat2 NATO kalo sudah terbukti baru ngomong kayak gitu..

  6. Tiru gaya sukhoi…su 35 rasa pakfa hehehe

  7. Tidak ada salahnya bila Trump menginginkan hal tersebut, lagian kan cuma “dengan kemampuan” F-35, bukan harus sama persis, ini agar para ahli dan insinyur memikirkan solusinya, supaya mereka lebih pintar lagi… masa kalah sama China 😀

  8. jika kemauan trump disahkan coba tawarkan ke insinyur RI baik yg didalam negeri atau yg berdiaspora siapa tau banyak yg minat meretrovit super hornet besar2an. yg penting dpt share yg adil.
    kelak bisa jadi super hornet rasa SU-35

    • Cuma yang ada 1 kata bung jakatarub… MIMPI… tidak akan pernah negara US mau menawarkan retrovit pesawat tempurnya ke indo..

      • RI bikin “black companies” ijin SIUP nya di Panama atau Kep. Marshal. direksi dan staf nya di isi dari warga New Macedonia dan Suriname.
        ngimpi enak gak apa lah bung. hehehe…

  9. wajar TRUMP merasa biaya pengembangan F35 kemahalan, sebagian besar rakyat amerika juga berpikir begitu. memang kontraktor swasta musti ditekan agar kerjanya benar. nggak disana saja, disini juga harus begitu

  10. Ada yg memanfaatkan posisi utk “open sale” saham Locheed Martin & “open buy” saham Boeing. Wah, ngeri nich…

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)