Mar 062017
 

Mortir gerak otomatis (self-propelled) 2S4 Tyulpan (Tulip) adalah mortar terberat yang ada di dunia saat ini. Senjata yang aktif digunakan selama konflik Afganistan dan Chechnya ini dirancang pada tahun 1975.

Diperlukan 5 (lima) orang awak untuk mengerahkan mortir ini hingga ke posisi siaga. Mortir ini dapat dipindahkan dengan cepat setelah melakukan serangan terhadap musuh.

Mortir gerak otomatis (self-propelled) 2S4 Tyulpan (Tulip) dalam posisi siaga.

Mortir 240 mm ini mampu menghancurkan benteng pertahanan dan pasukan serta kendaraan lapis baja musuh pada jarak hingga 20 km. Mortir 2S4 dapat menembak proyektil Smel’chak (bahasa Rusia: pemberani) seberat 125 kg, dengan pemandu laser (sebuah teknik sistem pemandu peluru kendali yang menggunakan laser untuk memandu sebuah peluru kendali -red.) yang terpisah.

Rusia saat ini memiliki lebih dari 400 unit mortir 2S4 yang secara bertahap dimasukkan kembali ke dalam layanan Angkatan Bersenjata setelah sebelumnya sempat dinonaktifkan untuk waktu yang lama.

Puluhan mortir jenis 2S4 saat ini tengah digunakan oleh tentara Suriah dalam konflik yang sedang berlangsung di negara itu.

RBTH Indonesia

Artikel Terkait :

  23 Responses to “Tulip: Mortir Terberat di Dunia warisan Soviet”

  1. Saya kira itu robot transformer πŸ˜›

  2. indonesia..udah bisa bikin mortir n pelontarnya belum ya…

    mungkin ada info dari rekan2.. penasaran.. walo alutsista jadul..mortir tetap diperlukan dan lebih murah pengoperasian n perawatannya… ya minimal bisa nembak 5-10km udah top….

  3. Info
    -TNI tertarik dengan MMS mobile mortir system EIMOS spanyol.
    -Penerbab sedang mempertimbangkan pembelian roket SKYFIRE avibras untuk HSR.

  4. Bisa coment maning…

  5. untuk tucano bisa saja. tapi, informasi yang ada yang membutuhkan adalah penerbad
    untuk heli serang ringan/ HLS.
    SKYFIRE adalah folding fin aerial rocket/ FFAR. bukan peluncur. pembelian ini untuk memenuhi kuota saja. karena rocket ini memiliki karakter yang sama dengan rocket yang di buat PT. DI. alasan kenapa membeli dari Brasil walaupun sudah bisa buat ya saya kurang tau. mungkin ada kaitannya dengan isu-isu keterlambatan PT. DI dalam memenuhi setiap pesanan yang ada. contoh, beberapa heli pesanan TNI masih saja teronggok di hangar PT. DI belum juga di selesaikan.
    sedangkan untuk tabung a.k.a rocket pod kita sudah bisa bikin.

    • Hm… berarti terlambat ya… apakah berhubungan dengan kapasitas produksi atau mungkin berhubungan dengan rupiah… πŸ˜€ anehnya disini… katanya mau mandiri, akan tetapi pada pelaksanaanya antara niat dan tidak πŸ˜€

      (cukup mengelus dada saja @nelangsa)

      • berhubungan dengan SDM saya kira,,
        investasi karyawan yg mempunyai skill terampil dan terdidik ..
        biayanya sangat besar ditambah waktu pendidikan.
        sebenarnya dulu sudah punya di era IPTN,, tetapi begitulah
        akhirnya pada mencari kehidupan yg lebih baik di perusahaan lain atau bahkan di luar negeri.

    • Mungkin beli peluncurnya dan systemnya saja..Kalo reloadnya..Bisa buat..

  6. Kebetulan kemaren saya ke Musium Satria Mandala Jakarta, disalah satu ruangan ada tulisan : alutsista buatan Indonesia kerjasama dengan negara lain, disana ada fregat 10514, kfx/ifx dan helikopter Gandiwa (gambar ), mungkin pa warjager ada yang punya info ttg helikopter gandiwa tsb…….tks sebelumnya

  7. Setelah bertahun2 jadi pembaca pasif akhir nya nongol juga komen…salam hormat dan salam kenal abang2 semua yang nda sempat di sebutkan satu per saru

  8. Soalnya utk fregat 10514 sdh jadi , kf/ifx sedang proses…nah gandiwa ga ada kabarnya….tks bung JS atas infonya…

  9. Ini kunci atas apa yang terjadi di dalam tubuh PT. DI.
    hampir semua produk PT.DI hasil TOT dalam skema lisensi. pesawat, heli,torpedo, roket dan modul-modul tertentu adalah hasil dari lisensi.
    Sedangkan Pembatasan-pembatasan dalam lisensi tentu saja ada.
    Semua itu tergantung bagaimana awal perjanjian itu di buat.

    Penjabarannya kira-kira begini,

    “Dalam pembuatan kontrak perjanjian lisensi paten biasanya terdapat pembatasan-pembatasan dan atau larangan-larangan yang pada prinsipnya tidak boleh dicantumkan dalam klausula-klausula perjanjian lisensi paten”
    Dalam artian PT. DI mungkin saja terikat perjanjian tertentu dengan pemberi lisensi yang tidak di sebutkan dalam kalusa-klausa perjanjiannya yang bertujuan untuk tidak hanya memberikan PT. DI kemampuan untuk memproduksi (merangkai,merakit) tetapi juga mengikat perseroan ini menjadi sales dari pemberi lisensi.
    Artinya secara tak langsung PT. DI tetap masih saja bergantung pada pemberi lisensi tentang jumlah, pembagian pegerjaan, spek, tahap pengerjaan dan tenggat waktu pengerjaan.
    Makanya tidak heran beberapa kalangan menyebut ini perakitan. sebenarnya tidak juga. karena di mana-mana TOT sendiri mememasukkan perakitan sebagai disiplin ilmu. walaupun ada penjelasan bahwa beberapa komponen memang dapat di produksi tetapi LINGKUP DISIGN DAN PRODUKSI UTUH bukan bagian dari PT. DI

    • Berarti PT. DI tidak bisa sembarangan melakukan Copy/Paste dari beberapa sistem yang ada untuk dijadikan sebuah produk baru secara utuh karena batasan-batasan tersebut diatas dong… πŸ˜₯

  10. Rusia joooooooossssss

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)