Feb 032017
 


BAE Systems dan Turkey Aerospace Industries (TAI) telah berkolaborasi pada proyek jet tempur generasi kelima TF-X milik Ankara. Perjanjian telah ditandatangani oleh Perdana Menteri Turki dan Inggris, pakta kesepakatan baru pada kontrak senilai lebih dari USD 127 juta, kata BAE. (Flight Global, 02/02/2017)

Pada bulan Desember 2015, Turki menggandeng BAE untuk bekerjasama dengan TAI pada tahap studi pra-kontrak untuk kegiatan TF-X, yang berusaha untuk mengembangkan jet tempur dalam negeri sebagai penerus untuk menggantikan F-16 milik Angkatan Udara Turki.

Lembaga Pengadaan Pertahanan (SSM) Turki telah mengeksplorasi tiga konfigurasi pesawat untuk platform masa depan, termasuk desain bermesin tunggal dan bermesin ganda.

“BAE Systems dalam posisi yang sangat baik untuk menyumbangkan keahlian teknis dan pengalaman rekayasa dalam mengelola proyek-proyek kompleks pada program TF-X Turki ini”, kata kepala eksekutif BAE Systems Ian King, mengacu pada keterlibatannya dalam proyek Eurofighter Typhoon dan Lockheed F-35.

“Perjanjian tersebut menegaskan bahwa kolaborasi kerjasama saat ini sedang berlangsung pada desain dan pengembangan pesawat tempur”.

Catatan Flight Fleets Analyzer, Angkatan Udara Turki saat ini mengoperasikan sejumlah 245 unit F-16C/D, dimana armada pesawat yang tertua telah digunakan sejak 29 tahun lalu.

JakartaGreater

Artikel Terkait :

  22 Responses to “Turki dan Inggris Sepakat Berkolaborasi Pada Jet Tempur TF-X”

  1. LFX dan IFX indonesia progresnya gmn ya? Mantap banyak negara berlomba2 mengembangkan Pespur generasi ke5.

  2. Petamax!!
    KF-X/IF-X gmna kabarnya?

  3. Turki mendapatkan patner lebih baik setelah meninggalkan korea…
    langsung sama negara pembuat pesawat secara lengkap.

    • Korea juga, korea telah mendapat partner yg lebih baik dari turkey, bahkan jika tdk ada halangan KFX akan mulai diproduksi masal sebelum 2023 πŸ˜€ lalu TFX?

      • begini bung,, hanya beberapa negara di dunia yg mandiri membuat pesawat seutuhnya..

        dan Inggris salah satunya,,
        ketika korea membuat T50 ge bekerjasama dengan LM US,,
        mereka di support ilmu oleh US.

        Turki berhasil mendapat dukungan Inggris dalam proyek TFX
        itu adalah salah satu lompatan besar, karena langsung bisa belajar dari empunya…

        Dalam kasus IFX/KFX, seandainya Indonesia langsung kerjasama dg USA akan memuluskan pengembangan, tidak seperti sekarang 4 teknologi kunci ditahan.. atau segera membuat perjanjian dg USA dengan membeli F16V dengan TOT 25 teknologi kunci program IFX. Bukankah korea melakukannya dg membeli 40 F 35 dari USA. Dalam program KFX/IFX posisi indonesia sampai saat ini sebagai investor dan dalam teknologinya bergantung pada team DAPA korea.

        • Komen saya di atas itu cuma optimisme berlebihan yg tdk diikuti oleh fakta πŸ˜€ wkwkwk
          Kalo dipikir-pikir ya Korea Cukup apes, Karna Yg paling bnyk keluar duit dan tenaga adalah korea, sedangkan partnernya, yaitu RI, cuma modal duit kurang dari 20T bisa Belajar dan mempelajari 100% Komponen pesawat KFX yg merupakan Pespur Hightech πŸ˜€ bahkan pembuatan unit KFX yg pertama nanti RI cuma nyumbang tenaga 20%, πŸ˜€

          • Mungkin ini yg sebabkan pelaksana kebijakan jadi keblinger… krn dgn investasi 20% bisa belajar 100%, lalu menganggap dengan beli eceran bisa dapat ToT yg diinginkan, jujur saja bung @Jfs, saya sangat pesimis dengan pola pikir pelaksana kebijakan saat ini… karena dengan pola pikir tersebut yg bisa dibilang “pelit” maka para pemilik teknologi sudah pasti “pelit” berbagi ilmu…

            Sebagai contoh mengutip ide bung @Bhisma untuk beli F-16V agar dapat ToT pelengkap IF-X, klo seandainya nih kita jadi beli F-16V tapi gak banyak, cuma 8-10 unit aja, apa dikira AS mau berikan ToT?! πŸ˜€ saya yakin rekan-rekan disini mengerti dan sudah pasti tahu gmna jawabannya πŸ˜›

          • Bung lingkar,
            Malah menurut saya strategi tot ifx kuta dengan korea adalah langkah cerdik du tengah kesulitan dana dan akses teknologi.
            kita harus flashback tahun 2010 saat keputusan dibuat.
            1. Diawali penolakan korea terhadap opsi 50:50 turki, dan indonesia masuk.
            2. Kesulitas akses teknologi tinggi, dimana semua produsen pespur di dunia saat itu baru saja dalam program pengembangan atau memasarkan produknya. LM masih berkutat dengan F35, rafale blum ada order sama sekali, gripen ng masih blum konkrit.
            3. Faktor 20 itu sangat menguntungkan bagi kita dimana akses teknologi tinggi yg sulit kita dapatkan bisa kita dapatkan dengan cost relatif rendah. Bargaining dengan korea pun relatif lebih enak dibandingkan jika kita dengan negara barat /rusia yg selalu cenderung kita dikalahkan krn faktor bergaining kita di bawah mereka.

        • ada pilihan lain yaitu jika fret-fort diperpanjang…dijamin.

        • Bung Bhisma,
          Kata siapa kita beli viper trus hadiahnya dikasih teknologi kunci dari USA?

          • bukan hadiah,,
            Maksud saya, patner kita korea selatan melakukan pembelian 40 F35 untuk memuluskan program KFX/IFX.
            http://jakartagreater.com/korea-selatan-bentuk-gugus-tugas-kfx/
            dan walau sudah membuat kesepakatan mahal,, 4 tekhnologi kunci masih ditahan.
            http://jakartagreater.com/pentagon-menyatakan-tetap-tidak-untuk-4-teknologi-inti-kfxifx/

            patnernya korea yaitu Indonesia bisa berperan untuk ikut memuluskan transfer tekhnologi itu,, yaitu dengan melakukan negosiasi pembelian juga ke US… agar US mau memberikan 25 tekhnologi untuk pengembangan KFX/IFX. itu pendapat saya,, bukankah itu wilayah bisnis yg bisa di negosiasikan.( jual beli)

            nah,, sesuai harapan saya agar bisa membeli SU35BM (sebagai tempur heavy air superiority) tanpa tentangan dan tidak membuat gaduh dan kemarahan pihak barat,,, saya berharap RI juga membeli pesawat workhorse multirole,,, yang bagus menurut saya, gripen NG dan F16 versi terakhir yaitu viper.. bisakah/ boleh dibeli? bisa dan boleh karena US dalam hal ini LM menawarkannya ke RI. kenapa tidak gripen,, karena part gripen masih tergantung dari US dan Inggris,,,, sekalian saja kita bekerjasama dg US yaitu membeli F16 viper.

            kenapa harus viper?
            keuntungannya banyak, pertama tidak membuat pembelian SU35BM merusak geopolitik kita. kedua memuluskan pengembangan IFX, ketiga penawaran Lm memberikan offset dan TOT yg sesuai UU. dan yg keempat kita butuh pesawat jenis ini..

          • Bukannya sudah clear penyebab tot 4 teknologi kunci itu masalah politis/ideologis bahwa usa tidak setuju krn faktor indonesia sebagai negara mayoritas muslim? Apalagi trump sekarang ini.
            urusan tot kfx ini tidak segampang yg anda sampaikan dng nogosiasi bisnis pembelian viper, secara bagi LM sendiri untuk pembelian viper juga sangat tinggi saat ini.. .

          • Indonesia memang bukan negara Islam tetapi mayoritas Islam itu komen saya di atas. Dari forum diskusi kami di forum lain, itulah satu-satunya penyebab kegagalan TOT 4 teknologi itu ke Korsel.
            Bagi saya, menaruhkan harapan lebih tinggi ke USA adalah kebodohan. (jika tidak mau dikibuli kedua kalinya)

            Korsel yang mengeluarkan uang demikian banyak utk F35 saja diinkar oleh USA, apalagi kita dengan viper ?
            Yang sangat lucunya dari logika ini adalah : Apakah Korsel tidak marah kepada LM/USA karena dengan Indonesia “hanya” membeli segelintir viper , USA/LM bisa memberikan 4 teknologi kunci itu ?

            Diskusi ini sudah berkali-kali kami lakukan di JKGR bung Bhisma, silakan tracking di artikel sekitar 2 tahun lalu.

  4. turki dah punya lisensi mesin kah??

  5. Kalau kerjasama sama Inggris pasti akan lebih cepat keluar prototype-nya dari pada KFX/IFX sekalipun sudah lebih duluan dalam pengembangannya . Goodluck Turk ……

  6. KFX/IFX lebih dulu dimulai, kebangetan klo kesalip TFX jika sukses test flight duluan..

    • KFX/IFX pasti duluan, kenapa? Karna RI dan Korsel saling melengkapi, contohnya saja kek drama dan sinetron, Sinetron RI itu akting, plot dan storyline-nya jelek, tapi episodenya bisa sampe ribuan πŸ˜€ sedangkan Drama Korsel Itu Akting, plot dan Storyline-nya sangat bagus, tapi episodenya pendek, paling cuma 20an πŸ˜€ hehehehe

      • Maklum bung @Jfs, klo sinetron/drama Korsel produsernya merujuk gaya Eropa dan AS, sementara sinetron Indonesia produsernya kan mengekor India πŸ˜€ (dilihat dari nama-nama yg ada disana) ya jelas panjang episodenya… liat aja tuh proyek HAL Tejas, berapa tahun mereka baru bisa kelar… πŸ˜› hahaha

  7. Sukses buat Turki deh, tapi kami juga akan melakukan yg terbaik!! (dengan expresi serius, tapi dlm hati penuh keraguan yang mendalam)…

  8. hmmmm

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)