Mar 092017
 

Konflik antara pemerintah pusat Ukraina dan separatis yang didukung oleh Rusia di wilayah timur Ukraina, Donetsk dan Luhansk telah efektif menempatkan industri pertahanan Ukraina sebagai pijakan perang. (Sumber Forecast International Weapons Group)

Kendaraan lapis baja pengangkut personel BTR-3 8×8 angkatan bersenjata Ukraina

Meskipun kendaraan BTR-3 awalnya ditujukan sebagai produk ekspor, urgensi untuk menyediakan sebagian besar peralatan untuk pasukan Angkatan Darat dan Garda Nasional Ukraina serta batalion relawan dengan kendaraan lapis baja modern telah menjadi faktor utama.

Militer Ukraina sebagian besar telah memprioritaskan pengadaan APC BTR-4, serta retrofit dan modernisasi stok kendaraan yang lebih tua dibandigkan pengadaan seri kendaraan BTR-3.

Namun, pernyataan dan dokumentasi dari kontraktor Ukraina yang relevan serta badan-badan pertahanan menyarankan bahwa militer Ukraina juga berencana untuk mempercepat pengadaan seri BTR-3 baru.

Pada tahun-tahun sebelum krisis politik Ukraina dan inisiasi konflik bersenjata di tahun 2014, seri BTR-3 telah muncul sebagai produk yang menjanjikan dan sukses besar di pasar ekspor internasional, khususnya di wilayah Asia.

BTR-4 sepenuhnya dirancang dan diproduksi di Ukraina, kendaraan ini ada dalam pelayanan dengan Indonesia, Irak, Nigeria dan Ukraina. Btr-3 adalah kendaraan lapis baja pengangkut personel 8×8 yang diproduksi di Ukraina dalam versi yang berbeda.

BTR-3 saat ini digunakan oleh angkatan bersenjata Azerbaijan, Chad, Ekuador, Kazakhstan, Myanmar, Nigeria, Thailand, Uni Emirat Arab dan Ukraina.

Selain itu, kontraktor pertahanan Ukraina terus mempromosikan dagangan mereka untuk pelanggan asing dengan harapan berbunga di masa depan dan permintaan untuk produk pertahanan Ukraina saat kembali ke kondisi damai.

Namun demikian, tuntutan perang di dalam negeri sekarang ini melebihi kebutuhan produksi industri pertahanan ekspor yang sebenarnya sangat menguntungkan Ukraina.

BTR-3 adalah kendaraan lapis baja 8×8 pengangkut personel yang dirancang dan diproduksi oleh Perusahaan Morozov Ukraina. Perkembangan BTR-3 dimulai pada awal tahun 2000-an sebagai perusahaan swasta.

Kendaraan lapis baja pengangkut personel BTR-4 8×8 angkatan bersenjata Ukraina

BTR-4 adalah kendaraan pengangkut personel lapis baja 8×8 yang juga dirancang di Ukraina oleh Biro Rancang Bangun Mesin Kharkiv Morozov sebagai perusahaan swasta. Prototipe ini diresmikan dalam pameran Aviasvit 2006 yang diadakan di Ukraina pada bulan Juni 2006.

Dalam konfigurasi dasar, BTR-4 dipersenjatai dengan RCWS Grom 30 mm, peluncur granat otomatis, senapan mesin 7,62 mm dan 4 (empat) peluncur rudal anti-tank.

BTR-4 memberikan perlindungan balistik standar terhadap tembakan senjata kecil dan serpihan granat, tetapi dapat dilengkapi dengan pelindung lapis baja tambahan untuk melindungi dari tembakan meriam 30 mm.

Army Recognition

Artikel Terkait :

  27 Responses to “Ukraina Terus Promosikan BTR-3 dan BTR-4”

  1. tdk lolos uji marinir

    • Lebih sangar versi lama BTR3 dari bada BTR4 yg lagi di minati indonesia dan “akan” di beli “ketengan” plus TOT, bikin bete’…..

  2. Ukraina butuh dana buat perang panjang nih 😀 hihihi

  3. Jangan diborong..Bagusan pandur

    • Pandur buat AD sedangkan batagor eh salah BTR buat AL (marinir) kalo gk salah……

      • Ente gak salah bung@Jomblo heppy

        “Positif, Pandur FSV TNI AD Pakai Kubah CT-CV 105”

        [?IMG]
        Korps Kavaleri TNI AD memiliki panser kanon generasi pertama, Alvis FV601 Saladin yang mengandalkan kanon L5A1 76 mm. Jasa panser lawas ini cukup banyak, termasuk mengamankan ibu kota Jakarta dari amukan massa perusuh Malari 1974.

        Hari-hari kejayaan Saladin jelas sudah berlalu. Walaupun sejumlah Saladin pernah menjalani retrofit di Bengpuspalad, Bandung, Jawa /Barat, namun sudah tentu dari segi teknologi dan persenjataan sudah pasti ketinggalan.

        Sebagai penggantinya, Kementerian Pertahanan sudah memesan panser kanon Badak 90 mm buatan Pindad. Namun baru-baru ini terbetik kabar bahwa TNI AD juga mengincar panser 8×8 Pandur II buatan Austria, Ceko, atau Portugal.

        Ada tiga negara yang disebutkan karena memang ketiga negara tersebut membuat Pandur II di negaranya berdasar lisensi Steyr-Puch Austria. TNI AD sendiri memesan Pandur II dari Excalibur Army yang merupakan agen pemasaran General Dynamics Land Systems.

        Dari 4 unit Pandur II yang dipinang TNI AD, dua unit dikabarkan merupakan panser kanon kaliber 105 mm NATO dan sisanya menggunakan kanon 30mm.

        Pandur II didesain selayaknya kendaraan tempur 8×8 pada umumnya, dengan hull terbuat dari baja dengan proteksi dasar berupa kemampuan untuk menahan hantaman proyektil 7,62 mm NATO.

        Desain hull milik Pandur II memiliki siluet yang ramping dan ketinggian yang rendah. Untuk dapat diangkut oleh pesawat sekelas C-130 Hercules, seluruh sistem senjata dan add on armor Pandur II harus dilepas terlebih dahulu. Jika tidak, jangan harap varian 105mm Pandur II bisa dibawa oleh Herky.

        Pandur II sendiri menggunakan mesin diesel Cummins ISC350 yang menyemburkan daya sebesar 285 tenaga kuda. Mesin ini dikawinkan dengan sistem transmisi ZF 6HP 602C dengan transfer box dua langkah.

        Mesin tersebut didesain sudah dalam power pack bersama sistem transmisi sehingga dapat diganti dalam waktu hanya 30 menit.

        Suspensi pada Pandur II didesain independen untuk dapat memberikan kenyamanan maksimal bagi penumpangnya. Dua sumbu terdepan dapat dibelokkan dan ditambah dengan sistem auxiliary control brake yang memperlambat putaran roda di sisi dalam ketika berbelok. Sistem ini juga dapat memperkecil radius putaran kendaraann untuk bermanuver di jalanan sempit.

        Sejatinya, Pandur II varian kanon 105 mm dikawinkan dengan kubah OTO Melara HITFACT 105 mm bagi kebutuhan AD Portugal. Siapa nyana, ternyata terjadi masalah dengan kemampuan mitigasi recoil dari hull. Akhirnya Portugal tidak jadi mengakuisisi varian kanon Pandur II.

        Pilihan berikutnya untuk integrasi kubah dijatuhkan kepada CMI Defence, Belgia dengan produknya CT-CV 105. Kubah ini juga sudah dipilih untuk proyek medium tank PT. Pindad-FNSS sehingga seharusnya tidak menjadi masalah apabila nantinya Pandur II versi kanon akan diakuisisi dalam jumlah besar.

        Menurut sumber Angkasa, ranpur kanon Pandur II sudah dipastikan akan mengusung kubah CT-CV dengan kanon 105mm beralur (rifled).

        Untuk konfigurasi kubahnya, CMI memutuskan menggunakan dua awak saja, plus sistem autoloader untuk CT-CV 105 sehingga beban awak bisa berkurang.

        Meriamnya menggunakan ulir dan sudah mengikuti standarisasi NATO, sehingga mampu melontarkan seluruh munisi 105mm NATO. Sistem kubahnya sendiri dibuat secara modular, dengan kemampuan standar proteksi NATO 4569 STANAG 3 (7,62x51mm AP, 150 meter).

        Ada opsi applique plate yang dapat dipasang sesuai kebutuhan untuk meningkatkan proteksinya sampai ke level STANAG 4 dan bahkan ke STANAG 5 (25mm NATO AP) sehingga mampu bertahan dari serangan kendaraan tempur dengan kanon tembak cepat.

        Kanon Cockerill 105HP (High Pressure) pada kubah CT-CV memiliki tahanan tekanan maksimal sebesar 120% dari yang dimiliki oleh meriam L7 standar. Artinya, CT-CV 105HP dapat digunakan untuk melontarkan munisi yang menghasilkan tekanan lebih besar (dengan mesiu khusus), untuk menghasilkan kecepatan luncur proyektil yang lebih besar pula.

        Kecepatan yang lebih besar akan bermanfaat untuk meningkatkan daya penetrasi, khususnya pada munisi APFSDS. Efeknya tentu saja adalah performa munisi 105 mm yang mendekati kinerja munisi 120 mm generasi awal.

        Excalibur Army sendiri kabarnya sudah menggandeng PT. Pindad untuk skema joint production apabila TNI AD menyatakan puas terhadap performanya dan akan melanjutkan pembelian.

        Sejumlah opsi seperti pembuatan dalam bentuk assembly CKD kit sampai dengan full assembly atau pembuatan penuh di PT. Pindad bisa saja dilakukan. Syaratnya, jumlah yang dibeli memenuhi kriteria dan jumlah minimum. Kita tunggu saja perkembangannya.

        Angkasa.co.id

        TNI AD suka mainan yg kebarat2an.. TNI AL suka mainan ketimur2an.. kecuali utk memenuhi kuota persyaratan pembelian biar dpt TOT,, kemungkinan TNI AD sama AL bisa jadi sama mainannya..xixixixixi

        Yg bikin beda kaliber yg digotongb ya aja paling…

  4. pelontar granat lebih efisien ketimbang meriam kaliber besar ketika dalam perang di lapangan, kecuali jika penyerangan nya utk menghancurkan banteng pertahanan lawan maka lebih maksimal dgn meriam.

  5. andai saja tidak dgn hierarki kekorupsian mereka yg menurunkan kualitas

  6. Pertamax kah?

  7. Pertamax kah?

  8. Berita tdk lulus uji BTR-4 ini buat saya sedikit membingungkan…
    Bisa jd di setop pesanannya..
    Dan bisa jadi ditambah pesanannya..
    Hehehe…hanya mereka yg tau

    • Semua masih “akan” bung @Blackdevil 😛 “akan” ditambah, boleh… “akan” di stop, boleh…

  9. Gk lolos uji coba marinir mending beli pandur 2 aja

  10. lebih baik punya Malaysia…

  11. Masih ragu barang ini

  12. BTR-3 ny lebih enak dilihat ketimbang BTR-4 nya. 😀

  13. masih mending Anoa amphibious….sdh teruji….malah TNI-AD yg gemar beli produk PINDAD…lah Marinir gimana??? BTR banyak asap pas nyemplung ke laut, mudah ketahuan lawan….beda dengan Anoa….senyap dan tidak berasap….

  14. Btr4..?? Untuk marinir…pandur2 untuk AD…oc ok..

  15. TNI tau mana yg baik digunakan dan sesuai kantong jg TOT tuk PINDAD.

  16. komennya keren keren pada kerja di mana sih ? Pindad, wartawan janes Defence weekly atau Army Technology, Kemhan, Rheinmetall..soalnya pada paham banget tentang alutsista…heheh

  17. komennya keren keren pada kerja di mana sih ? wartawan janes Defence weekly atau Army Technology, Kemhan, Rheinmetall..soalnya pada paham banget tentang alutsista…heheh

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)