Dec 212016
 

EFVS instrument

Suasana duka kembali menyelimuti keluarga besar TNI AU pada khususnya dan bangsa Indonesia sebagai dampak kecelakaan pesawat Hercules C-130 seri H dengan nomor penerbangan A-1334. Pesawat ini merupakan salah satu dari sembilan pesawat Hercules hibah/beli bekas dari Australia yang telah dilakukan retrofit. Saat ini tengah berlangsung penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan yang merenggut nyawa 13 penumpang didalamnya. Sebagian pihak secara serta merta menyalahkan program pembelian alutsista bekas namun ada juga yang menduga kemungkinan disebabkan faktor cuaca hingga Human Error yang konon disebabkan Copilot sedang dalam masa pelatihan menjadi kapten atau calon pilot pesawat naas tersebut.

Kabut menyelimuti Ekor pesawat Hercules A-1334

Memperhatikan bukti awal dari foto yang dilansir di media massa menurut penulis penyebab kecelakaan dimaksud lebih disebabkan karena faktor cuaca yang menciptakan kondisi Poor Visibillity. Pesawat berangkat dari bandara Mozez Kilangin – Timika pukul 05:35 WIT dan rencana tiba di bandara Wamena pukul 06:13 WIT. Kontak terakhir dengan tower bandara wamena pukul 06:02 WIT dan pukul 06:08 tower sudah melihat pesawat sudah mau mendarat namun satu menit kemudian pesawat Lost Contact. Bandara Wamena terletak dilembah dari pegunungan yang mengitarinya. Ada kepercayaan yang dianut masyarakat bahwa apabila banyak kumpulan awan diatas pegunungan Cycloop (Bandara Sentani – Jayapura) maka para pilot tidak akan berani menerbangkan pesawat ke daerah pegunungan termasuk wamena. Hal ini disebabkan ketinggian pegunungan Cycloop hampir sama dengan ketinggian rata-rata pegunungan di daerah pegunungan Papua. Pegunungan Cycloop memiliki 6 puncak tertingginya yakni Butefon 1.450 Mdpl, Adunama 1.560 Mdpl, Dabonsoro 1.580 Mdpl, Robhong 1.970 Mdpl, Haelufoi 1.960 Mdpl, Rafeni 1.700 Mdpl. Sementara bandara Wamena yang berada di lembah baliem berada diketinggian 1.560 Mdpl dan diapit oleh pegunungan Jayawijaya yang memiliki ketinggian hingga 1.800 Mdpl dan puncak tertingginga Cartenzs Pyramid memiliki ketinggian 4.884 Mdpl.

Pegunungan Cycloop di balik Bandara Sentani

Dengan kondisi cuaca yang mudah berubah hingga tercipta kondisi Poor Visibility maka sesungguhnya para pilot yang berani terbang ke wamena atau daerah pegunungan Papua tergolong pemberani atau boleh dibilang nekat sebab didalam cocpit pesawat Hercules belum ada instrument yang dapat membantu pilot untuk melihat dalam situasi Poor Visibility. Instrument yang terpasang di pesawat pada umumnya hanya berupa alat bantu yang menunjukkan ketinggian badan pesawat dengan daratan. Maka tidaklah heran pada saat kejadian kecelakaan pesawat Super Jet Sukhoi yang menabrak gunung Salak sekalipun dikemudikan oleh pilot yang konon mantan kosmonot dan dengan sistem auto pilot hingga muncul peringatan otomatis “Terrain….Terrain….Pull Up…Pull….Up….” sang pilot terlambat menaikkan pesawat maka akibatnya pesawat menabrak gunung.

Bandara Wamena

Dengan analisa sederhana ini maka menurut penulis untuk menjaga keamanan penerbangan menghadapi Poor Visibiliy maka tidaklah cukup dilakukan retrofit pada alat gerak/pendorong semata dan upgrade instrument pendukung namun juga mutlak dilengkapi minimal “Night Vision Google” atau yang lebih canggih instrument EFVS yang memungkinkan pilot dapat melihat dalam kondisi “Poor Visibility.”

Cockpit Herky C-130

Enhanced Flight Vision System (EFVS) merupakan alat bantu yang memungkinkan pilot “melihat” dalam situasi Low/Poor Visibility. EFVS menggunakan kamera infra merah yang diinstal di hidung pesawat untuk menyediakan gambar bagi pilot dengan kualitas yang jauh lebih baik dibanding mata biasa. Gambar (image) dapat dilihat melalui Head Up Display (HUD) atau melalui video screen yang dipasang pada panel instrument cockpit. Pihak FAA berencana mengupdate aturan penerbangan section-part 91.176 dimana penggunaan EFVS diharapkan dapat diterapkan di operator penerbangan. Aturan baru FAA ini dijadwalkan berlaku mulai 13 Maret 2017. Penulis berharap semua alutsista udara (pesawat & helikopter) dapat dilengkapi dengan EFVS. Semoga tulisan ini dapat memberikan masukan baik bagi Pemerintah, DPR, TNI bahkan operator penerbangan sipil demi kenyamanan dan keselamatan penerbangan di masa mendatang.

Diposkan : Wahju Indrawan

Artikel Terkait :

  23 Responses to “Uprade Alutsista Udara – Garuda Asia VII”

  1. Pertamax

  2. Ikut berduka juga

  3. KLO£

  4. Apa bedanya Enhanced Flight Vision System (EFVS) dengan FLIR…??

  5. klo fokus antar provinsi cepet dapat untung jadi gampang TELOLET,,,
    TE’lol’ET ya bukan TETE’ lol :v

  6. Bung diego tumben ngetiknya gk perfect. Tp gpp krn pembaca dah nangkep maksudnya. Judulnya itu looh

    Alutsista udara hrs diperkuat krn peperangan modern butuh alutsista udara yg mumpuni

    Terrain terrain pull up pull up

  7. Untuk sensor ketinggian pesawat dari permukaan daratan ketika cuaca berkabut bisa gak yah pake sensor parkir mobil, mungkin jangkauannya bisa ditingkatkan diatas 10 km.

  8. betul tu..!

  9. Ide yang bagus dan semoga pemerintah dan tni mau menggunakan peralatan spt tsb diatas utk keselamatan penerbangan,terutama daerah papua yg paling extrim cuacanya.

  10. Kata pabrikan kalau barangnya awet kalian gak akan beli yang baru xixixi..

  11. ..Dengan kondisi cuaca yang mudah berubah hingga tercipta kondisi Poor Visibility maka sesungguhnya para pilot yang berani terbang ke wamena atau daerah pegunungan Papua tergolong pemberani atau boleh dibilang nekat..

    setuju, dan penerbangan latihan bagi co-pilot ke wamena tergolong ugal2an, khususnya bila si co-pilot baru pertamakali terbang ke wamena.

    semoga tni-au menghentikan selamanya program latihan co-pilot dengan tujuan wamena.
    bagi pilot berpengalaman sekalipun terbang ke wamena beresiko tinggi !

  12. hm…kalo ada peta pemetaan topografi jalur terbang yg sejalan dengan GPS serta pemakaian sensor ultrasonik buat mengetahui posisi tinggi pesawat (taruh moncong pesawat sama bawah/ yg bisa 180 derajat) atau sebagai radar posisi

    masukan buat PT.DI untuk pesawat2 buatannya, biar makin keren

    kalau untuk Hercules moga bisa diupgrade sendiri di dalam negeri, untuk avioniknya……kecuali kalau gagal mesin ane kagak ikut2 xixixi……

    yg penting ikhtiar & ber do’a

  13. Pasang flir sama aja pak fungsinya

  14. Seharusnya bandara2 beresiko tinggi dipasang alat instrument landing system (ILS) yang bisa membantu dalam auto landing..imho

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)