Feb 152017
 

WASHINGTON – Angkatan Udara AS (US Air Force) bisa segera menghapus pembatasan bobot pilot F-35 pada awal April 2017, setelah dilakukannya perbaikan pada kursi lontar pesawat dan helm.

Tetapi kursi lontar US16E Martin-Baker belum sepenuhnya aman. Bahkan jika sistem peluncur kursi lontar baru dimodifikasi sesuai persyaratan, angkatan udara masih akan tetap memberi sertifikasi kursi lontar kedua sebagai tameng (perisai) melawan potensi risiko di masa depan, kata Brigjend Scott Pleus, Kepala kantor integrasi F-35 Angkatan Udara.

Pada 2015, Angkatan Udara telah mengungkap bahwa pilot F-35 yang memiliki bobot kurang dari 136 pon (62 kg) berisiko mengalami cedera leher berat atau fatal pada saat dilontarkan dari pesawat. US Air Force kemudian melarang seluruh pilot yang memiliki berat badan dibawah 62 kg untuk menerbangkan F-35. Sementara itu Martin-Baker memproduksi kursi lontar US16E di semua varian F-35 dan Rockwell Collins yang memproduksi helm, telah melakukan penyesuaian pada produk mereka.

“Saat ini, pengujian sistem peluncur kursi lontar yang telah dimodifikasi hampir selesai, dan Kantor Program Bersama F-35 (JPO) telah memberikan data kepada Lifecycle Management Center, yang bertugas sebagai otoritas kelaikan Angkatan Udara”, kata Brigjend Scott Pleus kepada Defense News tanggal 10 Februari.

Tinggal sebuah tes lagi, sebuah demonstrasi “medan elektro” dijadwalkan pada bulan Maret 2017 yang akan memvalidasi bahwa sistem peluncur kursi lontar hanya akan bekerja apabila dipicu. Setelah meninjau data, insinyur Angkatan Udara dan ahli kelaikan udara akan memberikan laporan akhir, katanya.

“Dengan asumsi bahwa kursi lontar memenuhi persyaratan khusus dan mampu menyediakan parameter lontar yang aman untuk pilot berbobot 47 – 111 kg, setelah Angkatan Udara memberi sertifikat bahwa kursi lontar aman untuk digunakan di berbagai operasi, kami akan menghapus pembatasan berat badan saat itu juga”, kata Brigjend Scott Pleus.

Martin-Baker dan Rockwell Collins telah membuat tiga perubahan besar pada produk mereka untuk membuat sistem peluncur lursi lontar aman bagi pilot berbobot ringan.

Sebuah switch (saklar) baru di kursi lontar US16E dapat mengubah beban parasut untuk mengakomodasi pilot dengan bobot yang berbeda, dan dukungan panel kepala membantu melindungi kepala dan leher dari tekanan pada saat terlontar. Berat helm Rockwell Collins juga telah diturunkan dari 2,3 kg menjadi 2 kg.

Beberapa pimpinan US Air Force telah skeptis pada perbaikan sistem peluncur kursi lontar dan telah menganjurkan beralih ke kursi lontar kedua. Musim panas lalu, Letjend Arnold Bunch, meminta agar JPO melakukan studi pada kualifikasi Model ACES 5 buatan United Technologies akan mempengaruhi biaya dan jadwal program F-35.

Laporan itu akan diberikan pada bulan Maret dan akan membantu untuk menginformasikan keputusan akhir tentang apakah akan menghapus pembatasan berat badan, kata Brigjend Scott Pleus. Meskipun pembatasan dihapus, Angkatan Udara dapat memutuskan bahwa ACES 5 tetap memenuhi syarat.

Mengingat jumlah F-35 yang akan dibeli oleh Angkatan Udara (total 1763), Brigjend Scott Pleus yakin bahwa akan ada manfaat untuk kualifikasi kursi lontar kedua, apabila ditemukan masalah lebih lanjut pada kursi lontar US16E di kemudian hari. Tetapi para pimpinan US Air Force harus mempertimbangkan juga terhadap biaya dan kemampuan kursi lontar UT, tambahnya lagi.

Defense News

  6 Responses to “US Air Force Berencana Hapus Pembatasan Bobot Pilot F-35 di Bulan April”

  1. Awas patah leher 😛

  2. sadis kursi lontarnya..
    bisa matahin leher…

    ?????????????????

  3. Klu postur Asia yg sedang bs sekitaran sgt apalagi bila pilot cewek jauh dibawah itu, lah jarang ada postur Bulu segitu beratnya. Asal jangan kursi lontar eject kat hanggar kayak pilot jaguh tetangga!he3

  4. pasti menyesuaikan dgn berat rata2 pilot AU singapore
    kan diantara calon pemakai F-35, pilot2 mereka yg paling ringan

 Leave a Reply