Anti Submarine Warfare

Kapal Selam Changbogo (Applen.or.kr)

Penggunaan kata sulit dideteksi adalah suatu istilah yang lajim dilekatkan pada kapal selam. Dikarenakan kemampuannya untuk diam di dasar laut selama berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk melakukan suatu operasi. Tetapi, sebenarnya predikat tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena ada faktor-faktor yang sebenarnya jarang diketahui dan mustahil untuk dipublikasikan mengingat kapal selam adalah aset yang selain berbahaya bagi musuh tetapi juga rentan terhadap serangan.

Kita tidak akan membahas deteil changbogo dan kelemahannya. Tetapi, uraian di bawah ini semoga bisa membuat kita sekalian paham sebenarnya seberapa rentan kapal selam itu.

Dalam ranah ASW ada beberapa cara yang di gunakan untuk mendeteksi kapal selam:

– Kerjasama. Pemburuan kapal selam memerlukan kerja sama. Tidak ada ceritanya memburu kapal selam dengan satu kapal saja. Hal ini meliputi satuan tugas yg terdiri dari platform yang memiliki sonar pasif (kapal selam, pesawat, helikopter dengan sonobuoys, kapal perang permukaan yang memiliki towed pasif sonar dan juga yang aktif)

– Pesawat. kapal permukaan dapat membawa banyak sensor dan senjata dan dapat melawan banyak ancaman, namun kapal selam dapat melacak mereka dan menghilang begitu saja. Tetapi, tidak bagi di hadapan Pesawat ASW dan Helikopter yang merupakan ancaman bagi kapal selam, mengapa pesawat ASW dan heli menjadi ancaman bagi kapal selam? Karena pesawat ASW dan heli dapat “melihat” kapal selam sedangkan kapal selam tidak akan mampu melihat mereka.

– Berada dalam jarak jangkau.
Artinya, si kapal selam sendiri harus sedang dalam tindakan mengikuti, memata-matai atau pun berada di dekat kapal permukaan.

Bila ada yang bertanya, kenapa harus demikian? Mengapa harus berada pada jarak jangkau? Karena kapal selam sendiri memiliki keterbatasan. Yaitu, mereka juga harus berada jarak yang cukup untuk mengintai (juga perhitungan terhadap jarak jangkau torpedo, atau jarak aman menaikkan priscope untuk melakukan observasi.

Walaupun kapal selam memiliki sonar pasif, hal tersebut tidak membantu 100 % keakuratan dalam melakukan observasi. Terlebih pengenalan terhadap sekeliling atau high valueble target. Ibarat menggunakan radar, sonar pasif hanya bisa mengetahui baringan, altitude, longitude, kecepatan dan lain-lain. Tetap saja priscope adalah mata bagi kapal selam).

Jadi tidak ada ceritanya kalau kapal selam bisa menjadi ancaman jika jaraknya tidak cukup. Apalagi jarak angkau torpedo kapal selam sendiri terbatas.

Itulah yang terjadi beberapa waktu lalu saat kapal selam kilo kepergok sedang mengintip kapal induk charles de gaule milik prancis. Jadi, sebenarnya bisa dikatakan kapal kilo itu sendiri terdeteksi oleh armada yang melindungi kapal induk tadi.

Adapun kapal selam dapat dideteksi oleh sejumlah sensor yang berbeda:
– Pasif sonar (sound).
– Sonar Aktif (hull refleksi).
– Magnetic Anomaly Detection (magnet).
– Infrared (panas).
– Green Laser (hull refleksi).
– Radar (hull refleksi).
– Electronic caunter measure (radio dan sinyal radar).
– Hidrodinamik Tekanan Detection (tekanan air).

1. Perangkat Sonar pasif : sudah saya jelaskan di atas.

2.Perangkat Sonar Aktif: sonar aktif seperti radar bawah air, mengirimkan gelombang suara (SONAR = sound navigation and ranging) bukan radio (RADAR: Radio Detection And Ranging).
Penggunaan sonar aktif bisa di gunakan saat sedang melakukan pengepungan terhadap objek seperti kapal selam yang juga sedang bergerak.

3.Perangkat Magnetic Anomaly Detection: Semua kapal selam memiliki beberapa tingkatan magnet, dan ini dapat dideteksi oleh pesawat atau helikopter jika kapal selam berada dekat dengan posisi pesawat ataupun di sedang berada di permukaan laut. Tetapi, perangkat ini kurang dapat di andalkan. Karena Rusia telah membangun kapal selam dari titanium bukan magnetik, dan Swedia kelas A26 sebagian dibangun dari serat karbon yang diperkuat vinil. Yang berarti bersifat non-magnetik (dan 5x lebih kuat dari baja).

4. FLIR: infra red (panas)
Infra red dapat memberikan posisi kapal selam dengan tiga cara:
– Emisi panas dari snorkling (cara paling mudah mendeteksi SSK).
– Baling-baling kapal selam yang menendang air di belakangnya hingga mencapai permukaan (jika tidak terlalu jauh dari permukaan). Air yang naik tadi memiliki suhu yang berbeda dari air permukaan. Hal ini menciptakan “efek ” di belakang kapal selam berupa panas yang dapat dideteksi dengan FLIR (Forward Looking InfraRed).
– Periskop dan tiang kapal selam juga memiliki tanda panas yang berbeda dari air sekitarnya dan dapat dideteksi denganperangkat pendeteksi infra red.

5. Perangkat Green laser: dapat memberikan gambaran yang sangat akurat dari dasar laut (di perairan dangkal), dan juga dapat mendeteksi kapal selam. Namun, terbatas dalam rentang yang sangat pendek. Biasanya platformnya adalah heli dan pesawat ASW.

6.Radar: snorkeling, tiang radio, periskop memiliki radar cross section dan radar dapat menangkap itu semua di layar.

7.ECM : Satu sapuan radarnya saja dapat memberikan posisi dari kapal selam. Tidak itu saja, ECM dapat memberitahu tentang jenis kapal selam, baringan, bahkan kecepatannya. Dan hebatnya setiap gelombang electro magnetik walau yang terinskripsi sekalipun yang keluar dari kapal selam dapat menjadi petaka. Karena ECM dapat mengendus dan langsung menunjukkan di mana posisi kapal selam tersebut.

8. Pemantau Hidrodinamik Tekanan Air: Kapal selam menekan banyak air ketika bergerak melalui air. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan, pergerakan, gelombang di permukaan dibanding sekeliling air pada saat melintas.

Jadi, intinya kapal selam bisa dideteksi.

Tidak perduli dia kilo class, dia scorpane class, gotland class, jin class, virginia class dan lain-lain, dia masih bisa di deteksi. Walaupun berdinding non magnetik, dinding berlapis-lapis, punya AIP dan lain- lain tetap dia masih bisa di deteksi berdasarkan hal-hal yang saya uraikan di atas.

Sekurang-kurangnya di butuhkan 1 pesawat ASW, 3 korvet berkemampuan ASW beserta helinya, 2 frigat berkemampuan ASW beserta helinya dan 1 kapal selam pemburu untuk memburu sebuah Kapal selam. Adapun pola yang di lakukan adalah, deteksi, pembatasan gerak, pemojokan, dan penghancuran.

Sekian.

oleh : B Stepanus

Tinggalkan komentar