Kenapa Filipina Beralih Ke Persenjataan Rusia?

Kekecewaan Filipina terhadap Amerika Serikat membuka peluang besar bagi produsen senjata Rusia.

Salah satu kekuatan militer terlemah di Asia Tenggara melihat ke arah Rusia untuk memperkuat pertahanannya. Setelah menolak senjata AS, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengindikasikan kemungkinan beralih ke Moskow untuk menyediakan senjata bagi negaranya.

Bulan lalu setelah pemerintah AS dilaporkan memblokir penjualan 26.000 pucuk senapan serbu untuk digunakan polisi, Duterte mengatakan: “Saya ingat apa kata diplomat Rusia: Ayo ke Rusia, kita memiliki apa pun yang Anda butuhkan di sini”.

Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) memerlukan suntikan mendesak persenjataan modern, akan tetapi AFP tidak perlu mainan mahal. Kinerja tinggi pesawat tempur seperti F-16 (yang ditawarkan oleh AS) atau FA-50 Golden Eagle Korea Selatan terlalu berlebihan karena dua alasan.

Pertama, Filipina tidak memiliki musuh eksternal. Kedua, Manila tidak akan mampu membayar jet ini dalam jumlah yang cukup untuk dapat menyajikan pertahanan yang kredibel. “Mari kita isi dengan pesawat berbaling-baling yang dapat kita gunakan secara luas dalam melawan pemberontak”, kata Duterte pada pertemuan publik awal tahun ini. “Saya tidak perlu jet tempur F-16 yang tidak berguna bagi kami, kami tidak berniat untuk melawan negara manapun”.

Tentang FA-50 ia berkata: “Mengapa Anda membeli itu? Hanya membuang-buang uang saja. Anda tidak boleh menggunakannya untuk menyerang pemberontak, yang merupakan masalah pada saat ini. Anda hanya dapat menggunakan pesawat itu untuk upacara penerbangan saja”.

Yang Dibutuhkan Filipina

Jelas, ancaman keamanan utama Filipina berbasis darat – pemberontak komunis dan kelompok-kelompok separatis selama beberapa dekade. Apa yang dibutuhkan Angkatan Udara Filipina adalah pesawat serang darat yang dapat digunakan terhadap teroris di hutan lebat di Asia Tenggara.

Pesawat murah dan telah teruji di Suriah yaitu Su-25 (Frogfoot) cocok untuk peran ini. Ini adalah pesawat berat lapis baja yang akan memberikan pasukan Filipina dukungan udara dekat dan hampir kebal terhadap tembakan senjata kecil dari darat.

Jika Moskow tidak dapat menyediakan jumlah yang cukup dari kebutuhan Su-25 untuk Filipina, penggantian masa depan sudah ada di sini dalam bentuk Yakolev Yak-130. Dengan harga cuma US $ 15 juta per unit, jet tempur subsonik ini adalah pejuang yang ramah bagi negara-negara dengan anggaran terbatas.

Kemampuan multi-misi dari Yak-130 sebagai jet latih, untuk kepolisian udara, dan kontra pemberontakan membuatnya sebagai pilihan yang menarik untuk beberapa pelanggan di luar Rusia”, kata pejabat Industri Pertahanan.

Efektivitas operasional Angkatan Laut dan Patroli Penjaga Pantai Filipina telah menderita, meninggalkan jalur laut negara itu sebagian besar tidak terlindungi. Memiliki garis pantai terpanjang kedelapan di dunia (36.000 km), negara ini tunduk pada kapal patroli perbatasan keropos.

Pemerintah Filipina juga telah disetujui untuk pembelian helikopter serang, pesawat patroli jarak jauh dan radar. Rusia memiliki berbagai helikopter pendukung medan perang seperti Mi-17 dan helikopter tempur Mi-35, yang sedang digunakan oleh Afghanistan melawan teroris Taliban.

Rusia juga telah mengembangkan berbagai jenis radar secara besar-besaran dari platform untuk melacak segala sesuatu mulai dari rudal jelajah hingga pesawat siluman. Kebutuhan yang mendesak Filipina untuk senapan serbu dapat dengan mudah dipenuhi.

Untuk kebutuhan kontra-pemberontakan yang lebih khusus, dapat menggunakan senapan mesin 12,7 mm, yang sangat efektif terhadap armor ringan serta helikopter dengan jangkauan tembak 1.500 meter.

Sumber: Manila News

Sharing

Tinggalkan komentar