Ekspor FC-31 China Akan Tingkatkan Resiko Bagi AS Dalam Perang Di Masa Depan

BEIJING – Militer AS secara tradisional mengandalkan superioritas udara, namun para pengamat Barat mengatakan bahwa jet tempur siluman China tampaknya akan mengimbangi keunggulan AS, menurut laporan BBC News pada tanggal 2 Januari 2017.

Laporan tersebut mengatakan bahwa pesawat tempur siluman terbaru China sudah melakukan terbang perdana, reporter pertahanan Amerika, Davis Axe mengatakan bahwa China mungkin akan mengekspor jet tempur silumannya.

Debut FC-31 nomor dua akan membawa China lebih dekat untuk menjadi eksportir pesawat tempur yang mampu menghindari radar dan menarik Amerika Serikat lebih dekat lagi, mungkin suatu hari nanti, pesawat tempur siluman buatan AS akan menghadapi pesawat tempur siluman buatan China dalam pertempuran, kata Axe.

Davis Axe menulis di situs The Daily Beast bahwa ekspor jet tempur siluman China bisa menghapus salah satu keunggulan tempur utama Amerika di udara.

Di situs China Military mulai beredar video dan gambar dari pesawat tempur siluman FC-31 sedang melakukan penerbangan diatas kota Shenyang di timur laut China pada 23 Desember 2016. Beijing akan mengambil keuntungan dari berkembangnya blog militer China yang secara tidak resmi mengumumkan persenjataan baru.

Laporan itu mengatakan bahwa pesawat tempur itu bermesin ganda, produk dari BUMN Shenyang Aircraft Corporation, tampaknya semakin siluman dan sebentar lagi siap tempur. Salinan pertama jet tersebut berkursi tunggal yang lebih lebar, dengan sirip ekor berbentuk trapesium. Salinan kedua jelas lebih gagah dengan sirip yang berbentuk sudut sehingga lebih cocok dan membantu untuk meminimalkan tandatangan radar, kata analisis.

Analisis pertahanan mengatakan bahwa FC-31 pertama masih mengeluarkan asap mesin yang tebal, sama seperti buatan Rusia yang pertama kali terbang 2 tahun lalu. Pada FC-31 yang baru, tampaknya mesin bebas asap, hal ini terbukti dari indikasi yang tampak pada rekaman video tersebut.

Davis Axe percaya bahwa kemajuan pesat FC-31 ini sejajar dengan upaya China yang bertekad untuk membuat pesawat tempur siluman pertama, J-20 menjadi siap tempur. Angkatan Udara China tampaknya mulai melengkapi skuadron gugus depan dengan pesawat tempur bermesin ganda J-20 pada akhir tahun 2016, tujuh tahun setelah pesawat tempur itu terbang kini hadir pesawat tempur yang jauh lebih besar dimana Shenyang FC-31 melakukan terbang perdana.

Sebagai perbandingan, pesawat tempur siluman F-22 milik Angkatan Udara AS membutuhkan waktu 15 tahun dari prototipe awal tahun 1990 hingga siap tempur pada tahun 2005. Pesawat tempur siluman yang ebih kecil yaitu F-35, dimana prototipe melakukan terbang perdana pada tahun 2000, juga membutuhkan waktu selama 15 tahun sebelum siap tempur, kata Axe.

Departemen Pertahanan AS, dalam laporan tahunan 2016 kepada Kongres mengenai kemampuan militer China, mengklaim bahwa FC-31 memiliki beberapa teknologi yang sama pada J-20. Namun laporan itu tidak menjelaskan secara rinci teknologi apa saja yang terdapat pada kedua pesawat itu.

Media China melaporkan bahwa Beijing telah melarang ekspor untuk J-20. Larangan itu dapat memberikan tekanan pada BUMN industri pesawat terbang untuk menghasilkan pesawat tempur siluman yang cukup modern dalam menarik pelanggan asing, tapi belum cukup canggih sehingga Beijing mungkin melarang mengekspornya.

Industri penerbangan China secara aktif telah memasarkan FC-31 sebagai versi ekspor pesawat multirole generasi kelima untuk bersaing dengan F-35 bagi pelanggan asing, demikiam menurut laporan Pentagon.

Drone dan pesawat tempur non-siluman buatan China secara perlahan-lahan telah menjadi lebih populer di pasar global, terutama di Timur Tengah dan Afrika. AS sejauh ini, masih menjadi eksportir senjata terkemuka di dunia, kata laporan itu.

Departemen Pertahanan AS mengklaim pada tahun 2016, produsen FC-31 China telah melobi Beijing untuk mengakuisisi pesawat tersebut bagi Angkatan Udara Cina. Jika upaya itu gagal, FC-31 akan menjadi pesawat tempur siluman pertama di dunia yang langsung menjadi komoditas ekspor.

Sebagai perbandingan, F-35 adalah barang panas dalam pasar senjata global, akan tetapi jet tempur ini sangat kontroversial terutama sebagai proyek yang didanai oleh pemerintah AS. Saat ini, Pentagon berencana membeli sekitar 2/3 dari total sekitar 3.500 F-35 yang diyakini para analis harus diselesaikan oleh Lockheed Martin sebelum akhirnya mereka bisa mengekspor pesawat itu, menurut laporan tersebut.

Jika FC-31 berhasil disetujui sebagai komoditas ekspor, maka akan sangat bisa melipatgandakan risiko bagi pasukan AS di perang di masa depan, tulis laporan itu.

Pilot pesawat tempur Amerika yang berpatroli zona konflik, sebutlah, Timur Tengah dan Afrika, sudah dipastikan mereka akan bertemu “head to head” dengan para pejuang siluman buatan Cina, tambah laporan tersebut.

Sumber: Defense Aerospace