Rusia Siap Kirim S-300 untuk Iran

Destroyes USS Mahan, Arleigh Burke-class dengan rudal jelajah Tomahawk (photo:Mate 2nd Class Greg Roberts)
Destroyes USS Mahan, Arleigh Burke-class dengan rudal jelajah Tomahawk (photo:Mate 2nd Class Greg Roberts)

Sikap AS yang seringkali melangkahi lembaga Dewan Keamanan PBB, dianggap Vladimir Putin telah keterlaluan. Presiden Rusia ini, habis-habisan mempertahankan agar Suriah tidak diserang secara sepiahk oleh AS, tanpa persetujuan PBB. Rusia terus mengirim kapal perangnya ke perairan Mediterania, bahkan melebihi armada kapal perang AS yang berjumlah 5 destroyer. Putin pun mengancam Obama, bahwa Rusia akan terlibat langsung dalam peperangan jika Suriah diserang oleh AS.

Ancaman Putin ternyata cukup manjur. AS berpikir ulang karena khawatir perang tidak terkendali dan berakhir dengan nuklir. Rakyat AS juga semakin khawatir. Mereka takut dengan kemungkinan serangan nuklir. Hasil polling menunjukkan warga AS semakin banyak yang menentang serangan militer ke Suriah, mencapai sekitar 60 persen. Suara Senat AS akhirnya terpecah. Bahkan suara-suara untuk melakukan impeachment terhadap Obama, mulai disuarakan rakyat. Barack Obama akhirnya menunda voting di senat yang hendak memutuskan apakah Suriah jadi diserang atau dibatalkan. Obama menyetujui pembatalan serangn militer ke Suriah, dengan syarat pemusnahan senjata kimianya Suriah oleh PBB. Inisiatif pemusnahan ini disampaikan oleh Rusia. Ketegangan di Suriah sedikit mereda.

Kasus Suriah ini, membuat Putin mengevaluasi kembali kebijakan Rusia tentang ekspor alutsista. Rusia yang selama ini menuruti permintaan AS untuk tidak menjual alutsista strategis, ternyata kena getah sendiri.

Dalam perhitungan geopolitik dan ekonomi, jika pemerintahan Suriah jatuh dan menjadi pro-barat, maka jalur perdagangan Rusia- Suriah – Timur Tengah akan berantakan. Negara-negara Timur Tengah tidak akan ada lagi yang mau bersekutu dengan Rusia, karena tidak berguna. Begitu pula dengan negara-negara di belahan dunia lainnya. Seperti halnya AS, Rusia baru sadar, bahwa dia akan berguna, jika bisa melindungi sekutunya. Dengan melindungi sekutu, maka Rusia dengan sendirinya memperluas “lebensraum” alias ruang hidup.

S-300 air defense system (RIA Novosti / Valeriy Melnikov)
S-300 air defense system (RIA Novosti / Valeriy Melnikov)

Jika AS menempatkan dan membangun sistem pertahanan udara yang canggih untuk negara Nato dan Sekutu, mengapa Rusia tidak ?. Apalagi AS terlihat suka bertindak di luar ketentuan PBB.

Untuk itu, Vladimir Putin mengatakan, Rusia akan menyuplai Iran dengan senjata anti-serangan udara S-300 yang akan ditempatkan di reaktor nuklir Bushehr. Demikian laporan koran bisnis Kommersant, Rabu, 11 September 2013. Putin akan memperbarui perjanjian pengiriman lima misil anti-serangan udara canggih. “Hal itu akan disampaikan Putin dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Iran Hassan Rowhani pada Jumat, 13 September 2013,” tulis Kommersant mengutip sumber yang dekat dengan Kremlin.

Integrasi sitem pertahanan anti-udara S-300
Integrasi sitem pertahanan anti-udara S-300

Putin dijadwalkan berjumpa dengan Rowhani dalam sebuah pertemuan Organisasi Kerjasama Shanghai yang digelar di Kyrgystan, Jumat, 13 September 2013.

Pada tahun 2007, Rusia meneken kontrak dengan Iran untuk pengiriman senjata darat ke udara (misil anti-serangan udara) yang dapat digunakan menembak jet tempur musuh atau sebagai penuntun misil senilai US$ 800 juta (sekitar Rp 9,2 triliun). Namun kontrak tersebut dibatalkan oleh Presiden Dmitry Medvedev pada 2010 lantaran mendapatkan tekanan kuat dari ASt dan Israel agar tak melanjutkan penjualan senjata anti-serangan udara ke Iran. Pembatalan ini menuai protes Iran.

Vladimir Putin menyatakan bersedia mengirim senjata pesanan tersebut, jika Iran menarik gugatannya senilai US$ 4 milyar (Rp 46 triliun) yang diajukan ke pengadilan internasional di Jenewa terhadap eksportir senjata Rusia. Kommersent menulis, Putin siap menyuplai Teheran dengan modifikasi versi ekspor S-300 dengan model S-300VM Antey-2500.

Rusia juga mendesak Barat agar memperlunak sanksi terhadap Iran setelah terpilihynya Rowhani, seorang ulama moderat, menjadi Presiden Iran pada Juni 2013. Selain pengiriman senjata, Putin siap menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk membangun reaktor nuklir kedua di Bushehr.

“Kesepakatan ini sesungguhnya secara ekonomi tidak menguntungkan, namun harus dipandang dari sudut politik,” kata sumber itu. Rusia mulai menghitung , untung rugi jika membiarkan negara Sekutunya jatuh satu persatu. (JKGR).

Tinggalkan komentar